My Slave Is My Love

.

.

Uchiha Sasuke, Haruno Sakura

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

©Aomine Sakura

.

.

Dilarang COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!

Don't Like Don't Read

Selamat Membaca!

oOo

Sasuke memandang Sai dengan pandangan tidak suka.

"Hn. Kamu tidak akan bisa mengambilnya, Shimura."

"Aku bisa mengambilnya. Jika aku mendengar Sakura tersakiti, aku akan mengambilnya darimu meski secara paksa."

Sai tersenyum aneh dan berjalan keluar ruangan Sasuke. Pemuda bermata onyx itu tersenyum tipis.

"Coba saja lakukan itu, Shimura."

.

Sakura tidak berkonsentrasi mengerjakan soal di hadapannya. Dan hal itu tidak luput dari pengelihatan Naruto. Mengajar Sakura selama beberapa bulan membuatnya memahami Sakura luar dan dalam.

Dia menyadari jika Sakura mengalami sesuatu yang membuatnya tidak konsentrasi. Sakura termasuk gadis yang pintar, jika hanya sakit sepertinya tidak akan membuatnya kehilangan konsentrasi seperti ini.

"Sakura-chan, ada apa?" tanya Naruto.

"Tidak. Tidak ada." Sakura memaksa tersenyum dan mengerjakan soal dihadapannya.

"Kamu tidak pandai berbohong, Sakura. Pasti ada sesuatu yang mengganggumu. Jangan bilang Sasuke memukulimu lagi."

Sakura membulatkan matanya.

"Ba-bagaimana kau bisa tau?" Sakura bertanya nyaris berbisik.

"Tentu saja aku tahu, melihat luka ditubuhmu membuatku langsung tahu."

Sakura membenahi bajunya.

"Tidak. Sasuke-kun hanya-"

Kata-kata Sakura terpotong ketika mendengar bel pintu rumahnya dibunyikan.

"Aku akan melihat siapa yang datang, Naruto."

Sakura bangkit dari duduknya dan membukakan pintu untuk tamu yang datang. Betapa terkejutnya dirinya ketika melihat siapa yang datang.

"Ohayou, Sakura-san."

Naruto yang mengikuti Sakura lebih terkejut lagi melihat tamu yang datang.

"Shion?!"

.

Sasuke menarik nafas panjang ketika Kakashi datang membawa setumpuk dokumen lagi. Belum selesai dokumen yang dia baca, sudah datang lagi dokumen yang membuat kepalanya terasa ingin pecah. Dia ingin menikmati liburan, tetapi urusan pekerjaan membuatnya tidak bisa melakukan itu.

"Untukmu."

Onyxnya melirik sebuah undangan berwarna perak yang diberikan Kakashi. Membaca tulisan yang tertera di undangan tersebut.

"Suigetsu?" tanya Sasuke memandang Kakashi.

"Dia mengadakan sebuah rapat di salah satu hotel di Surabaya. kamu juga belum pernah berkunjung ke Indonesia, bukan?"

Sasuke menganggukan kepalanya. Mungkin ini saatnya untuk melepas stres dari dokumen-dokumen yang menumpuk dan membuat kepalanya terasa sakit. Dia juga bisa membawa Sakura ke Indonesia.

"Hn. Apa kamu tahu tata letak kota itu?"

"Serahkan padaku, Sasuke."

.

Shion tersenyum dan meneguk ocha hangat yang disuguhkan Sakura. Menyesapinya dalam-dalam dan merasakan betapa enaknya ocha yang dia minum. Rasanya sudah lama sekali dirinya tidak meminum ocha hangat selama berada di luar negeri.

Matanya memandang sekelilingnya. Jadi, ini adalah rumah milik Sasuke? Tidak buruk juga. Tata letak ruangannya simple dan minimalis, dan tidak banyak barang yang ada, sangat melambangkan Sasuke sekali. Dan rasanya, rumah milik Sasuke terasa lebih hangat.

"Terimakasih atas ochanya, Sakura. Ini sangat enak," puji Shion.

Sakura tersenyum canggung. Bertemu dengan Shion seperti ini, jujur saja dia belum memiliki mental yang siap. Apalagi dengan kehadiran bayi dalam perutnya yang membuat perutnya terasa semakin tegang.

"Katakan apa tujuanmu kemari, Shion."

Shion tersenyum anggun menanggapi ucapan menusuk dari Naruto. Sejenak Sakura menelan ludahnya, Shion sangat anggun dan juga cantik. Wanita berambut pirang itu juga terlihat memilki intelektual yang tinggi dan juga kaya.

Sakura membandingkan dengan dirinya sendiri. Tidak mungkin Sasuke akan jatuh cinta padanya. Shion seratus kali lebih sempurna darinya. Yang bisa dia banggakan apa? Dia hanya anak dari buruh tani di Hokkaido, tidak memiliki apa-apa dan harus bekerja sebagai pemuas nafsu Sasuke.

Jika Sasuke harus memilih, dia yakin jika Shion yang akan dipilih menjadi istrinya. Apalagi Shion dan Sasuke memiliki hubungan khusus di masa lalu. Itu yang diceritakan Karin padanya waktu itu.

"Aku hanya ingin melihat Sakura, apa itu salah?"

Naruto sudah bertahun-tahun mengenal Shion, sejak mereka berada di bangku sekolah menengah pertama. Dia mengenal watak Shion dan wanita itu tidak mungkin mau meluangkan waktunya untuk datang ke rumah Sasuke jika tidak ada maunya. Apalagi, Shion pasti mengetahui jika Sasuke berada di kantornya sekarang.

"Aku hanya ingin melihat wanita yang dicintai Sasuke."

Sakura memandang Shion. Mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Shion. Cinta? Wanita yang Sasuke cintai?

"Maksud anda Rin?" tanya Sakura tidak paham.

Naruto menepuk dahinya ketika mendengar apa yang Sakura tanyakan. Ternyata gadis disampingnya ini masih polos. Dia saja langsung bisa tahu siapa yang dimaksud Shion. Bisa-bisanya Sakura malah mengiranya Rin.

Shion tidak bisa menahan tawanya. Pantas saja Sasuke betah hanya melakukan seks bersama Sakura. Ternyata gadis berambut pink itu memiliki daya tarik tersendiri.

"Bukan Sakura-chan, kamu itu lucu sekali," ucap Shion disela-sela tawanya.

Sakura hanya tertawa canggung. Masih tidak paham dengan apa yang terjadi disekitarnya.

"Kalaupun ada orang yang dicintai Sasuke-kun, itu pasti anda orangnya, Shion-san."

Shion menghentikan tawanya dan meminum ocha hangatnya. Matanya memandang Sakura yang tersenyum sedih.

"Apa bisa kamu berikan penjelasan, mengapa Sasuke mencintaiku?" tanya Shion.

Naruto melirik Sakura yang sedang meremas tangannya. Dia sendiri ingin tahu bagaimana pandangan Sakura terhadap Shion.

"Anda cantik Shion-san, anda juga terlihat berpendidikan, kaya dan ramah. Pasti banyak pemuda yang jatuh hati pada anda."

"Kamu benar Sakura-chan, benar sekali." Shion tersenyum. "Tapi sayangnya, Sasuke tidak mencintaiku."

"Cukup, Shion! Katakan alasanmu kemari!" Naruto memandang Shion.

"Aku hanya ingin melihat wanita yang dicintai Sasuke-kun. Dan setelah aku melihatnya, aku lega untuk melepasnya."

"Maaf?"

"Kamu polos sekali, Sakura." Shion mengelus rambut Sakura dan bangkit dari duduknya. "Kamu jaga Sasuke ya. Aku harus kembali."

Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi.

.

Sasuke mengusap wajahnya ketika menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Ini sudah pukul satu malam dan dia baru saja selesai rapat dengan kolega-koleganya. Rumahnya sudah sepi, Sakura pasti sudah tidur dan Rin sudah pulang kerumahnya dan Kakashi.

Melepas jas dan dasinya, Sasuke meletakannya ke sembarang tempat. Dia ingin segera berganti pakaian dan tidur di ranjangnya yang empuk. Tidak ada yang dia inginkan selain tidur dan mengistirahatkan pikirannya.

Sakura sedikit membuka matanya ketika merasakan seseorang yang tidur di sampingnya. Dengan mata yang setengah terbuka, dia bisa melihat Sasuke tidur di sampingnya. Pria itu telah berganti pakaian dengan piyama.

"Sasuke-kun, sudah makan?" tanya Sakura lirih.

"Hn. Tidurlah kembali, Sakura." Sasuke memeluk pinggang ramping Sakura.

"Kamu terlihat lelah, Sasuke-kun." Sakura mengusap wajah Sasuke. "Jika kamu belum makan, aku bisa memanaskan makan malam yang aku buat."

"Aku hanya ingin tidur, Sakura."

Sakura menganggukan kepalanya dan menyamankan posisinya. Tetapi sedetik kemudian, Sakura menggigit bibirnya. Menandakan bahwa ada sesuatu yang mengganggunya.

"Hn. Ada apa?" Sasuke bertanya ketika melihat ekspresi di wajah Sakura.

"Bolehkah.. bolehkah aku memelukmu?"

Sasuke mengangkat satu alisnya. Tidak biasanya Sakura seperti ini, biasanya ketika tidur dirinya yang memeluk Sakura. Tumben sekali Sakura ingin memeluknya.

Sakura bukannya tidak tahu jika ini keinginan bayinya. Pheromon yang dikeluarkan Sasuke membuatnya ingin memeluknya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke. Entah mengapa dirinya ingin memeluk Sasuke.

"Hn. Baiklah."

Wanita yang sedang mengandung itu sedikit menggeser tubuhnya. Tangannya dia gunakan untuk memeluk pinggang Sasuke dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sasuke dan itu membuatnya sedikit merasa nyaman.

Tangan besar Sasuke mengelus punggung Sakura kemudian surai merah muda itu dengan lembut.

"Tidurlah, Sakura."

"Oyasumi, Sasuke-kun."

oOo

Sakura membuka matanya ketika matahari masuk melalui celah yang ada di kamarnya. Dia baru menyadari jika tertidur dengan memeluk Sasuke dari semalam. Dan baru beberapa detik membuka mata, rasa mual mulai melanda tubuhnya. Tidak. Jangan bilang jika dia mengalami morning sickness.

Mencoba untuk menahan muntahnya, dia tidak ingin Sasuke menyadari kejanggalan yang terjadi padanya. Namun semakin dirinya menahan, rasa mual yang menyerang semakin hebat. Buru-buru dirinya bangkit untuk memuntahkan isi perutnya.

"Hoeeekk.."

Sasuke membuka matanya ketika mendengar suara muntahan. Menyadari Sakura tidak ada disisinya, membuatnya menyadari bahwa Sakura sedang memuntahkan isi perutnya. Dengan langkah sedikit panik, Sasuke masuk ke dalam kamar mandi yang kebetulan pintunya tidak ditutup, dan menemukan Sakura tengah memuntahkan isi perutnya.

"Sakura, kamu tidak apa-apa?" Sasuke memijat tengkuk Sakura.

Tidak ada muntahan yang dikeluarkan Sakura. Hanya lendir dan Sakura terus menerus mencoba memuntahkan isi perutnya.

"Sakura, apa kamu masuk angin?"

Sakura membasuh mulutnya dengan air sebelum memandang Sasuke. Wajahnya begitu pucat, dan beberapa detik Sasuke menjadi panik.

"Sakura?" Sasuke mendudukan Sakura diatas ranjang dan menyelimuti tubuh mungil Sakura. "Akan aku buatkan coklat hangat, jangan kemana-mana."

Sakura menganggukan kepalanya dengan patuh dan Sasuke berlari secepat kilat menuju dapur. Memang semalam hawanya panas sekali dan Sasuke sengaja menyetel AC pada temperatur yang cukup rendah. Ini semua diluar dugaannya, siapa yang sangka jika Sakura malah menjadi masuk angin seperti ini.

Wanita berambut pink itu menolehkan kepalanya ketika pintu kamarnya dibuka. Sasuke muncul membawa segelas coklat hangat dan memberikannya padanya.

"Minum pelan-pelan, Sakura." Sasuke membantu Sakura untuk meminum coklat hangatnya.

Dia tidak mengerti, mengapa dirinya menjadi panik ketika Sakura muntah-muntah seperti ini. Ini semua diluar kendalinya. Jika yang muntah adalah pelacurnya, dia mungkin tidak akan peduli dan akan meninggalkannya begitu saja. Namun, ketika melihat tubuh mungil Sakura yang berusaha memuntahkan isi perutnya, membuatnya bertindak diluar kendalinya.

Tunggu dulu, bukankah Sakura juga pelacurnya? Tidak mungkin jika dia-

"Sasuke-kun, tidak berangkat kerja?" tanya Sakura dengan suara parau.

Sasuke meletakan gelasnya di meja nakas dan membantu Sakura tidur. Menyelimuti tubuh ringkih itu dengan selimut yang tebal, Sasuke mengelus rambut Sakura dengan lembut.

"Hn. Kita akan ke Indonesia siang ini."

"Indonesia? Untuk apa kita kesana?" tanya Sakura keheranan.

"Aku diundang Suigetsu untuk rapat, juga beberapa kolegaku kebetulan menginginkan suasana baru untuk rapat. Jadi, kita akan ke Indonesia siang ini."

"Kenapa aku juga diajak?" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan keheranan.

"Kita sekalian liburan. Rapatnya masih diadakan besok siang, jadi kita besok bisa menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sebelum aku rapat."

Sakura tertegun mendengar penjelasan Sasuke. Ini bukan mimipi, kan? Rasanya tidak mungkin Sasuke mau mengajaknya liburan.

"Sekarang, lebih baik kamu istirahat saja. Rin akan menyiapkan semua keperluanmu."

Tubuhnya terasa kaku ketika Sasuke mencium dahinya dan merapatkan selimutnya. Tidak mungkin. Tidak mungkin Uchiha Sasuke bisa semanis ini.

.

Sakura terbangun ketika Rin membangunkannya. Wanita itu telah siap dengan gaun bunga-bunga berwarna putih yang melekat indah di tubuhnya. Ternyata, wanita itu sudah menyiapkan segala keperluannya.

"Aku membawakanmu obat anti mabuk, obat masuk angin, semuanya sudah aku siapkan di tas ini."

Sakura tersenyum.

"Terimakasih, Rin. Apa kamu ikut ke Indonesia juga?" tanya Sakura.

"Sasuke mengajakku dan juga Kakashi. Ini pertama kalinya aku pergi ke luar negeri."

"Ini juga kali pertama aku ke luar negeri," ucap Sakura.

"Hn. Sudah selesai mengobrolnya?"

Mereka menolehkan kepalanya dan memandang Sasuke yang berdiri di depan pintu kamar. Pemuda itu mengenakan sebuah kaos yang dipadukan dengan celana panjang. Dengan tampilan sederhana begitu, mampu membuat wanita manapun bertekuk lutut.

"Sebaiknya kamu segera mandi, Sakura. Pesawat tidak bisa menunggumu."

Menganggukan kepalanya, Sakura berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya. Setelah merasa segar, Sakura mengenakan sebuah blus dan rok mini yang membuatnya sedikit nyaman. Berhubung ini adalah perjalanannya keluar negeri untuk pertama kali, membuatnya sedikit gugup.

"Sakura-chan, aku sudah membuatkanmu roti. Makanlah." Rin menyerahkan setangkup roti dan teh hangat. "Kamu belum makan sedari pagi, jadi makanlah dulu."

"Makan di jalan saja." Sasuke muncul membawa koper milik Sakura. "Pesawat kita take off satu jam lagi. Sebaiknya kita segera berangkat."

Sakura duduk di sebelah Sasuke di dalam mobil milik pria itu. Rin duduk manis di kursi depan. Belum naik pesawat saja perutnya sudah terasa tegang seperti ini, bagaimana jika dia naik pesawat nanti?

"Oh ya, dimana Kakashi-san?" tanya Sakura.

"Kenapa kamu menanyakannya?" Sasuke melirik Sakura dengan tatapan memicing.

"Tidak, Rin ada disini bersama kita tetapi Kakashi-san tidak ada," ucap Sakura.

"Dia sudah berada di bandara, Sakura-chan." Rin tersenyum. "Dia yang mengurus keberangkatan kita serta memastikan keamanan pesawat yang akan kita naiki."

Sakura mengangkat satu alisnya. Gagal paham dengan apa yang dikatakan Rin. Jika mereka ingin berangkat keluar negeri kenapa Kakashi ikut sibuk mengecek pesawat segala? Bukankah sudah ada teknisinya disana?

"Kita memangnya akan naik apa?" tanya Sakura.

"Pesawat." Sasuke melirik Sakura. "Pesawat pribadiku."

Sakura membulatkan emeraldnya dan memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya. Pesawat pribadi? Wow. Sasuke tersenyum tipis ketika melihat kekaguman di mata Sakura. Entah mengapa, dia begitu menyukai ketika Sakura memujanya.

Ketika sampai di bandara, Kakashi sudah menyambut mereka. Sasuke bertanya tentang tetek bengek keperluan mereka sedangkan Rin membantu Sakura masuk ke dalam pesawat dan mengurus keperluan wanita itu.

Sakura tak henti-hentinya berdecak kagum melihat dekorasi pesawat Sasuke yang begitu mewah. Apalagi pesawat milik Sasuke bisa menampung hampir 150 orang dan hanya ada mereka di pesawat itu.

"Sakura, apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Rin.

"Tidak ada, Rin. Terimakasih." Sakura mendudukan diri di salah satu kursi.

"Sakura, sebenarnya menggunakan pesawat saat kamu sedang hamil begini tidak diperbolehkan. Lebih baik kamu banyak tidur nanti."

Sakura menganggukan kepalanya ketika mendengar saran dari Rin. Perlahan, tangannya terulur untuk mengusap perutnya. Entah apa yang akan terjadi padanya nanti. Dia tidak tahu caranya menyembunyikan bayi dalam perutnya. Jika Sasuke akan mengusirnya karena mengandung bayinya, dia akan pulang ke Hokkaido. Atau, dia bisa tinggal dirumah Sai untuk beberapa waktu.

Sasuke muncul tak berapa lama bersama Kakashi. Pria itu langsung mendudukan diri di sebelah Sakura, sedangkan Kakashi duduk di sebelah Rin yang ada di seberang mereka. Baru pesawat lepas landas, Sakura sudah menggenggam tangannya erat-erat. Dibalik majalah bisnis yang dibacanya, Sasuke bisa melihat wajah Sakura yang pucat.

"Sakura, apa yang terjadi padamu?" tanya Sasuke meletakan majalah yang dibacanya.

"Entahlah, aku mual."

"Mau minum? Apa Rin membawakanmu obat?"

"Ada di tasku."

Sasuke mengambil tas Sakura dan mengeluarkan isinya. Diambilnya obat anti mabuk dan sebotol air mineral. Memberikannya pada Sakura, wanita itu segera meminumnya dan dirasanya perutnya sedikit tenang.

Tidak. Ini bukan karena efek mabuk, ini pasti karena bayi yang ada dalam rahimnya.

"Sasuke-kun, nyanyikan aku lagu nina bobo," pinta Sakura.

"Hn? Kenapa aku harus menyanyikannya?" Sasuke memandang Sakura dengan pandangan tidak terima.

"Aku hanya ingin mendengar suaramu agar aku bisa tidur dengan nyenyak."

Menarik nafas panjang, Sasuke mulai menyiapkan suaranya.

"Jika suaraku jelek dan gendang telingamu pecah, jangan salahkan aku."

Sakura tertawa kecil sebelum menyandarkan kepalanya pada bahu tegap Sasuke.

"Tidak akan, Sasuke-kun."

Sasuke tersenyum tipis.

"Nina bobo.. oh nina bobo.. kalau tidak bobo, digigit nyamuk.

Nina bobo.. oh nina bobo.. kalau tidak bobo, digigit nyamuk."

Sakura tersenyum sebelum memejamkan matanya ketika suara serak dan berat Sasuke terdengar. Dia akui, suara Sasuke tidak semerdu penyanyi-penyanyi diluar sana. Tetapi entah mengapa, mendengar suara Sasuke membuatnya tenang. Perutnya yang tadinya tegang mulai berangsur-angsur berkurang, apalagi mencium pheromon yang dikeluarkan Sasuke.

Pria bermata onyx itu memanggil pramugari untuk membawakannya selimut. Tangan kekar itu segera menyelimuti tubuh mungil Sakura agar tidak kedinginan. Tanpa dia sadari, tangannya kemudian merangkul pundak Sakura dengan lembut.

Kakashi tersenyum di balik maskernya. Sedari tadi dia memang memejamkan matanya, tetapi apa yang dilakukan Sasuke pada Sakura tidak luput dari pengelihatannya. Sebenarnya dia sedikit terkejut melihat bagaimana Sasuke bersikap pada Sakura, namun dia akhirnya mengerti jika Sasuke mulai membuka hatinya yang beku.

"Kashi-kun, ada apa?" tanya Rin.

"Tidak apa." Kakashi tersenyum dan merangkul Rin. "Tidurlah."

Kakashi melirik Sasuke yang merangkul pundak Sakura sembari tertidur. Kakashi memejamkan matanya.

Sasuke, semoga Sakura bisa merubahmu.

.

Perjalanan yang ditempuh selama delapan jam bukan waktu yang sedikit. Mereka sampai di Surabaya tepat pukul sembilan malam. Kakashi dan Rin membantu mereka memasukan koper dan barang-barang ke dalam mobil yang disewanya. Kakashi yang akan menjadi sopirnya malam ini.

"Welcome to Surabaya, Sakura." Kakashi tersenyum dan menjalankan mobilnya.

"Wow, ini menakjubkan." Sakura tak henti-hentinya terkagum melihat kota Surabaya yang tak pernah sepi.

Sasuke tersenyum tipis melihat betapa polosnya Sakura. Merangkul pundak wanita itu, mereka mendengarkan penjelasan yang dilontarkan Kakashi.

"Apa kalian ingin makan? Atau kita langsung ke hotel saja?" tanya Kakashi.

"Ke hotel saja, Kakashi-san." Sakura tersenyum sumbang. "Aku ingin segera istirahat. Aku lelah."

"Hn. Pesankan makan malam untuk Sakura sesampainya di hotel nanti, Rin. Aku tidak mau Sakura kelaparan."

"Hai'"

Sakura tidak berkedip. Ini pertama kalinya dia keluar negeri dan dia tidak tahu jika Indonesia seindah ini. Dia memang sering mendengar nama Indonesia disebutkan, dia juga sering melihatnya di televisi dan dia tidak tahu jika salah satu kotanya seindah ini.

"Kota ini indah sekali, Kakashi-san," ucap Sakura.

"Tentu saja, Sakura. Kota Surabaya merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia. Banyak wisatawan yang datang juga, tidak kalah dengan kota-kota lainnya yang ada di Indonesia," ucap Kakashi. "Kamu lihat patung disana."

Mereka melihat patung Hiu dan Buaya. Kakashi menghentikan mobil mereka agar mereka bisa melihat lebih dekat patung yang menjulang tinggi itu. Sasuke tidak bisa menahan senyumnya dan mengacak lembut rambut Sakura yang memasang wajah terkagum-kagum itu.

"Sasuke-kun, ayo kita berfoto di patung itu!" ajak Sakura.

"Hn. Tidak. Masih ada waktu besok untuk berfoto."

Sakura menggembungkan pipinya. Rin tersenyum dan mengelus tangan Sakura.

"Besok kita akan berkeliling kota Surabaya, Sakura. Aku janji."

Sakura menganggukan kepalanya dengan semangat. Dan mobil mereka kembali melaju menuju hotel tempat mereka beristirahat.

.

"Leganya~" Sakura mengeringkan rambutnya dan melihat Sasuke yang duduk di ranjang hotel mereka. Suara televisi memang terdengar, tetapi Sasuke terlalu sibuk dengan laptopnya.

"Rin sudah memesankan makan malam untukmu, makanlah," perintah Sasuke.

Sakura mengambil sepiring nasi dengan kuah hitam dan daging diatasnya, juga ada toge dan sambal sebagai teman makannya. Sejenak, emeraldnya memandang Sasuke dengan pandangan tidak mengerti.

"Apa ini, Sasuke-kun?" tanya Sakura.

"Itu namanya rawon. Coba saja."

Sakura memandang makanan yang baru saja dia temukan. Baru kali ini dia menemukan makanan sejenis ini. Dan ketika sesendok rawon dilahap, rasanya begitu lezat.

"Enak sekali! Sasuke-kun mau?" tawar Sakura.

"Hn. Tadi aku sudah makan."

"Ya sudah." Sakura melahap kembali rawonnya dengan lahap. Indonesia memang unik. Dia tidak menyesal ikut ke Indonesia bersama Sasuke.

Meletakan piringnya yang telah kosong. Sakura menepuk perutnya yang terasa kenyang. Rasanya nikmat sekali.

"Kenyang sekali!" Sakura tersenyum.

"Kalau begitu, tidurlah." Sasuke menutup laptopnya dan meletakannya di meja nakas. Pria itu memaksa Sakura untuk tidur dengan memeluk pinggangnya.

"Aku baru saja makan, Sasuke-kun!" protes Sakura.

"Besok kita masih akan jalan-jalan, jadi kumpulkan tenaga dengan beristirahat."

Sakura hanya bisa pasrah ketika Sasuke memeluknya dengan erat. Dan emerald indah itu mulai bersembunyi di balik kelopak mata.

"Oyasumi, Sasuke-kun."

"Hn."

.

Sasuke memandang ponselnya dengan kesal. Sakura yang melihat kekesalan Sasuke segera membantu pria itu memakai dasinya.

"Ada apa, Sasuke-kun?" tanyanya.

"Suigetsu sialan! Dia memajukan rapat!"

"Oh." Sakura tersenyum. "Tidak apa, pergilah rapat. Itu rapat yang penting bukan? Tidak usah menemaniku jalan-jalan, aku akan jalan-jalan bersama Rin. Kamu bisa menyusulnya."

Sasuke mencium puncak kepala Sakura dengan sayang. Dia bisa melihat luka memar di punggung Sakura yang sedikit terlihat. Sejenak, ada sesuatu yang menohok hatinya ketika melihat luka itu.

"Aku berangkat, Sakura. Katakan pada Rin untuk tidak jauh-jauh dari sini."

"Baik."

.

Sakura menghabiskan sarapannya bersama Rin. Kakashi sudah berangkat bersama Sasuke. Sebagai asisten dari Sasuke, pria berambut perak itu harus selalu mendampingi Sasuke.

"Ah- aku lupa mengambil ponselku." Rin bangkit dari duduknya. "Aku akan mengambil ponselku. Jika kamu ingin menungguku, kamu bisa jalan-jalan di depan hotel saja. Jangan jauh-jauh."

Sakura menganggukan kepalanya. Dia jadi merasa seperti anak lima tahun sekarang. Bangkit dari duduknya, Sakura berjalan keluar dari hotel. Menghirup udara kota Surabaya, Sakura sudah tidak sabar untuk segera jalan-jalan.

"Sakura?"

Sakura menolehkan kepalanya dan terkejut melihat siapa yang memanggilnya.

"Sai?!"

.

Sasuke memandang ponselnya yang bergetar. Suigetsu sedang mempresentasikan tentang rancangan pembangunan yang akan mereka lakukan. Tetapi ketika melihat siapa yang mengirim email padanya, mau tak mau Sasuke membuka ponselnya.

"Sasuke."

Gerakan tangan Sasuke terhenti. Onyxnya melirik Kakashi yang sedang membisikinya.

"Rin tidak menemukan Sakura dimanapun."

Sasuke buru-buru membuka emailnya. Disana, dia bisa melihat foto Sakura yang sedang tersenyum. Tidak hanya itu, dia bisa melihat Sakura sedang tersenyum bersama Sai sembari memakan es krim. Dan yang membuat onyxnya berkilat marah, ketika membaca tulisan yang dikirim Sai.

Kamu bisa melihatnya, Uchiha? Dia bisa tersenyum bahagia, ketika bersamaku. Aku tetap akan merebutnya darimu. Tunggu saja, Uchiha.

Shimura sialan!

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Special's Thank's to :

Lightflower22, dianarndraha, Bang Kise Ganteng, Yhantii378, Jamurlumutan462, Asiyah Firdausi, Uchihaliaharuno, Itsbabygirl13, Ciheelight, Gelanggang, Guest, Dauddolmayan, Williewillydoo, Hanazono Yuri, Wowwoh-geegee, Kritikus, Leni265, Mantika Mochi, Guest (1), Ayuniejung, smilecherry, Zarachan, Frizca A, Luhannieka, Beautigullcreature, Yoriko Yokochidan, 69CoolAndCold69, Deelyekermi, Itavi, Chichak Deth, Yuki Mura, Cherry480, Mustika447, Cherryhamtaro, Genie Luciana, Zahra Haruno Chan, Kurogawa Daichi, Uriana11, Ulfiejiyingjin08, Wanna, ChickenChery, Sakusasulope, gitgit, Uchiha Lady Haruno, Hyuuga Hime, Zoldyk, Nlorenzo, Guest (2), Guest (3), Protect Sakura, 3serangkaiFlufy, Ika710,Ciisiichuabbykireiina454, SasuSaku, Baby niz 137, Caramalizes Coffiesta.

Akemashite omdeteo, Minna! *telat Ah- makasih banyak bagi yang berkenan mereview fict ini. Saku gak akan bicara banyak-banyak dan semoga Reader suka, ya! Dan kenapa Sakura ambil kota Surabaya bukan yang lain? Entahlah, karena Sakura hafal tata letak kota Surabaya dari yang lain :3 Hehehe..

Sampai ketemu di chap depan!

-Aomine Sakura-