" Tidak ada yang salah dari sebuah cinta, segalanya adalah buta dan benar. Akan tetapi kenyataan itu sendiri yang menghakimi, mencoba memutar hati dan menenggelamkan logika.
—Too Thumb Tho, Opening.
.
.
.
.
.
.
.
;:;:;:;
.
.
.
.
.
.
Too Thumb Tho
— be better for the best —
.
.
.
©Jo Liyeol
2018!fic || nonsense || rate (idk) || taekook!
drama || family || romance || school-life
deadly typo!so dangerous.
...
"Bocah."
Jungkook mengacuhkan segalanya, tetap fokus pada game konsol persetan bagaimana sebelah kaki mendorong-dorong bahunya dari sofa.
"Hei."
Taehyung merebahkan diri menatap langit-langit ruang tengah, menguap asal ketika menggoyang bahu itu sekali lagi. Hening meranjak sesaat sebelum ia mendesau tempramen, kesal bukan main atas perlakuan Jungkook yang mengacuhkannya. Taehyung memutar bola mata, menoleh sengit sebelum menggerakan kakinya lebih tinggi dan menjejak kepala belakang Jungkook emosi.
"Heh, sialan!"
Sanggup menjadikan tangan Jungkook reflek melepas stik game di tangan.
Sesaat ia menganga, menatap nanar layar televisi yang memunculkan bagaimana karakter yang dimainkannya terkena serangan zombie dan mati. Maka tatkala tulisan game over itu tercetak, Jungkook menggerit graham, menoleh gerah menyaksikan bagaimana sosok itu terlihat tanpa dosa, "Apa-apaan sih?" ia menyalak, ingin sekali memaki-maki atau sekedar meninggikan vokal lebih keras. Akan tetapi memindai ekspresi Taehyung terlihat tidak main-main cukup menjadikan nyalinya menipis.
Tidak! Bukan berarti dia takut! Hanya saja ... mm, rasa hormat ... mungkin.
Taehyung mencibir, kali ini menggerakan kakinya menendang kening Jungkook, "Apanya yang apa-apaan, hm? Sih ya? ... sih!" ia mendecak kemudian. Melempar wajah sosok itu dengan bantal sofa di dekatnya, "Berani padaku?"
Jungkook mengepal jemari; berandai-andai dapat meninju wajah mengesalkan itu sampai mampus, memberondongnya dengan senapan mesin atau sekedar menggeregaji kepalanya hingga putus.
Apapun.
Jungkook ingin melakukan segalanya yang dapat mengenyahkan Kim Taehyung dari muka bumi.
Mungkin perlu ditegaskan sekali lagi ... tolong ya! Bukan berarti dia takut!
Sekembar onixnya memancarkan bara emosi berlebihan, jemarinya mengepal bersiap melakukan serangan pertama. Akan tetapi kelakuan Taehyung yang belagak acuh sambil membalikan tubuh, memposisikan diri dan berucap, "Pijati aku."
—hanya mampu menjadikan Jungkook menghela napas kasar.
"Cepat, sialan!"
"O-oke, Hyung."
.
.
Anak berandalan itu namanya Kim Taehyung, kelahiran 30 Desember dan sekarang menginjak 18. Tumbuh dari keluarga terhormat. Berlimpah kasih sayang dan begitu dimanja.
Kehidupannya sempurna.
Ia selalu merasa bahwa hidup seperti ini adalah surga, cukup membuatnya tetap bersantai dan memiliki ribuan hari yang menyenangkan.
Akan tetapi dahulu kala ketika usia delapan, Taehyung menghadapi fakta menjengkelkan yang sulit diterima.
1 September di musim semi kala itu, keluarga kecil dari sahabat ibunya mengalami kecelakaan lalu lintas pada hari perayaan ulang tahun anak bungsu mereka.
Mobil yang dikendarai itu kehilangan kendali, menabrak mobil lain lalu melompat terbalik di tengah jalan. Api memercik keluar menyalakan korsleting mesin hingga meledak dan terbakar bersama seluruh orang di dalamnya.
Semuanya mati.
Menyisakan bangkai gosong yang menyedihkan.
Keseluruhan dari keluarga kaya itu tidak memiliki sisa, segalanya pupus menjadi mayat menghitam.
—kecuali bocah lima tahun yang terlempar ke sisi jalan sebelum mobil terhempas.
Tiga hari setelah Taehyung menyaksikan kejadian itu dari siaran berita di ruang tengah. Ayah ibunya tidak kembali lama sekali. Pergi lebih pagi dari pada dua hari ke belakang dengan ibunya yang masih juga menangisi kepergian sahabatnya. Mereka pulang di pukul sembilan, membawa bocah tambun yang penuh ingus dan air liur.
Taehyung mengerjap, separuh mengernyit jijik tidak mengerti mengapa anak jorok itu dibawa pulang orang tuanya.
Akan tetapi ketika Sang ayah berjongkok di hadapannya, menyugar helaiannya dan berucap sambil menggenggam jemari mungilnya. Taehyung ingin menjerit TIDAK MAU dengan sangat-sangat keras.
"Namanya Jungkook, Taehyungie. Kim Jungkook. Ayah dan mama mengambil hak adopsinya, jadi mulai sekarang dia keluarga kita. Adikmu."
.
.
"Jungkook, kakakmu sudah datang tuh!"
Jungkook memutar bola mata, memberesi buku-bukunya ketika sebagian besar siswi di kelas berlari heboh ke luar, sibuk bergerumul di koridor, memperhatikan siswa sekolah lain yang bersandar di gapura gerbang dengan gaya urakannya.
"Kakakmu hot sekali loh," Mingyu kembali berucap, bersama Junhoe dan Yugyeom mendekat ke arahnya. Mereka berhenti di sisi kanan, Junhoe melompat duduk di meja sebelah lalu mengangguk setuju.
"Kalian beda tiga tahun 'kan?" Yugyeom yang bertanya, membantu Jungkook memasukan buku-bukunya.
Sambil menghela napas kesal Jungkook menutup zipper tas seiring mendecih masa bodoh, "Iya."
Sejenak Yugyeom tertawa ringkas, "Kalau kau kelas satu sekarang, dia kelas berapa?"
"Tiga."
Mingyu terperangah, menganga sekejap sebelum mengernyit tidak paham, "Dia mestinya kuliah 'kan?"
"Itu kalau dia pintar. Sayangnya. Hyungku yang hot ini pernah tidak naik satu tahun," Jungkook menyentak tali tas ke pundak.
"Bagaimana bisa?" Junhoe bersuara.
"Kerjanya bolos-bolosan dan buat masalah terus, jika saja ayah kami bukan Kim Taehee; mungkin sudah lama dia ditendang keluar dari YaGook."
Ketiga kawannya mengangguk sok paham.
Hingga Mingyu bersuara pertama, "Keren."
"Kepalamu keren!"
"Hehe."
Yugyeom di sebelahnya lagi-lagi tertawa, melirik sesaat sebelum merangkul Jungkook gemas, "Kau sendiri yang lebih teladan kenapa tidak masuk YaGook? Itukan sekolah elit."
"Sudah tidak waras kali aku mau satu sekolah sama dia. Duh. Ketemu di rumah saja rasanya ingin sekali mati, apalagi di luar. Kalian tidak tau sih tiap akhir pekan rasanya lebih menderita dibanding ada ulangan matematika dadakan. Aku bersumpah, seharian sama dia tuh seperti neraka terbawah."
"Ei," Junhoe melompat dari meja, tergelak ketika berjalan mendekat dan bersedekap main-main, "Tidak seperti yang terlihat loh, tiap hari dia datang mengantar dan menjemputmu sekolah. Pikirmu orang lain akan percaya kalau kau bilang begitu?"
Maka Jungkook mendesau semakin kesal, "Terserah!" tangannya melepas kasar tangan Yugyeom di bahunya lalu berjalan meninggalkan kawan-kawannya yang tertawa iseng.
.
.
"Lama!" Taehyung menyambut marah.
Jungkook menunduk, menggaruk kupingnya yang gatal, bibirnya mengerucut bergumam pelan, "Maaf."
Di depan gerbang Taehyung meninggalkannya, berjalan lebih dulu ke motor, "Cepat ayo!"
Jungkook hanya membuntuti di belakang.
.
.
"Besok-besok kalau kau lelet seperti tadi demi Tuhan bakal kutinggal, masa bodoh kalau mama marah," Taehyung melepas jaket jinsnya, melempar asal ke kepala Jungkook, "Taruh di kamarku."
Lantas melangkah ke depan televisi menyisakan Jungkook yang menganga.
Jungkook menggemeratakan graham, mengepal sadis jaket Taehyung dan berusaha mencakar sosok itu berkali-kali.
Namun tatkala menyaksikan Taehyung merebahkan diri di sofa tanpa melepas sepatu, mencari posisi nyaman sambil memeluk bantal lalu berujar ketus, "Taruh sana dan ambilkan air. Cepat atau kuhajar kau."
—hanya mampu menjadikan Jungkook menghela napas kasar.
Lalu mengangguk patuh cepat-cepat, "O-oke, Hyung."
Ingat! Bukan berarti dia takut!
.
.
Ketika senja di pukul enam, Jungkook tengah menyusun lego di dekat dapur tatkala Taehyung turun dari kamarnya, memakai setelan rapi dan bergegas ke luar.
"Mau ke mana, Hyung?"
"Main."
"Tapi ayah sama mama sebentar lagi pulang."
Taehyung mengambil sandal dari rak sepatu, memakainya cepat dan berlalu, "Jangan bawel. Bilang saja aku pemotretan di rumah Chimchim."
"Oke, Hyung."
.
.
"Hei!"
Taehyung tersenyum, melambaikan tangan ke segerombolan kawan-kawannya di sisi pojok studio Jimin. Ia mendekat, melompat ke sofa bersebelahan dengan Hoseok. Sejenak memperhatikan Jimin yang sibuk memfoto Seokjin dan Namjoon di tengah pencahayaan lampu sorot.
"Kali ini temanya apa?"
Hoseok merangkul bahunya, bersandar di sisi tubuhnya dan menggedik alis, "Tidak ada, Jimin hanya mau foto asal-asalan buat promosikan baju dari endorse websitenya."
Taehyung mengernyit, "Ei, kupikir dia tidak lagi terima endorse bebas seperti ini?"
Lagi-lagi Hoseok menggedik bahu, tak bersuara, hanya menanggapi lewat bola matanya yang sok berbinar.
Tak lama Jimin berteriak, "Oke!" lalu menoleh ke Joshua memberikan kamera DSLRnya untuk melanjutkan pemotretan di lain model. Sementara Seokjin dan Namjoon menyingkir mengganti pakaian di ruangan lain. Jimin berbalik, berjalan ke arah mereka dan berseru riang menemukan Taehyung di sana.
Ia mengangkat tangan, dibalas high five Taehyung yang menyambutnya.
"Kapan sampai?" Jimin duduk di lantai, meraih gelas di atas nampan; menenggaknya habis dan kembali memperhatikan kawan-kawan baiknya.
"Baru saja."
"Adikmu kau tinggal sendirian lagi?"
Taehyung mengangguk. Ketika Jimin nyaris membuaka mulut untuk kembali bersuara Yoongi yang menghempiri mereka lebih dulu mendengus, "Lihat kelakuanmu, sialan! Mau sampai kapan begini terus?" sedikit keras ia memukul kepala Taehyung, melempar tas selempangnya ke sofa sebelum duduk di sebelah Jimin, mengambil gelas dari nampan yang sama dan meminum isinya separuh, "Kau tidak seharusnya berlaku kasar walaupun dia adik tirimu."
Jimin mengangguk menyetujui, jemarinya menyugar rambut ke belakang, "Yoongi dan Jihoon adik tiri tapi akur sekali sampai sekarang. Bahkan mereka masih beda marga loh."
Taehyung diam, menghela napas kasar dan melepas pangutan Hoseok dari bahunya. Ia mengangkat kaki ke sofa menumpu pergelangannya di atas lutut, "Kalian tidak paham—"
"Yoongi dan Jihoon tidak memiliki perasaan lebih dan mereka sama-sama tau jika tidak satupun dari keduanya mempunyai ikatan darah. Tapi perkara untuk Taehyung beda ... orang tua mereka menutup-nutupi kenyataan, dan Jungkook tidak pernah tau kalau dia bukan dari keluarga Kim."
Tiga remaja dari mereka tersentak, lantas menoleh bersamaan menemukan Seokjin dan Namjoon yang mendekat.
Sembil memeluk erat lengan kekasihnya, Seokjin kembali berucap santai, "—Taehyung jatuh cinta sama Jungkook, dan ini masalahnya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
—tbc.
temanya klasik sekali ya =w=
tapi aku harap kalian bisa suka.
[ Wattpad : joliyeol ]
Ketemu dedek yooo di wattpad!
kita ngobrol-ngobrol di sana ...
PS(1): semua typo yang ada adalah kekhilafan.
PS(2): kucinta kaliaaaan ft. titik dua bintang. (tebar sempak dan kecup basah) =3= mumumu
PS(3): thanks for: follows, favorite, and reviews.
PS(4): see you on chapter one.
— 03.06.2018.
