Akhirnya Miza dapet ide buat Solar x Thorn nya QAQ

Niatnya sih, ingin buat fic baru xD karena tiba-tiba dapet ide saat Miza keluar kota kemarin (?)

Yah, Miza gak tahu mau bilang apalagi.. #plak. Jadi, Miza bakalan balas review aja~! X3

Balasan Review :

Ai :

Ciee yang berdebar waktu adegan kissunya XD

Whoa.. French kiss? Miza gak habis pikir sama pikirannya Ai-nee xD

Iya, ini udah lanjut kok.

Rra012 :

Fang gitu loh XD, kayaknya Fang cuma bakalan masuk UGD deh (?)

Mungkin segitu aja, makasih buat yang review~ *cium satu-satu* #digampar. Oh ya, mungkin chap ini sedikit lebih panjang dari chap sebelumnya :3 karena itu,

SELAMAT MEMBACA~!

(A/N: Btw, ini Solar jadi seme nya, tapi kenapa malah kayak uke gitu? Karena Miza masih belum tahu sifatnya seperti apa, jadi Miza buat sifat Solar kayak sedikit pemalu dan periang.)

.

.

Disclaimer : BoBoiBoy hanya milik Animonsta Studios,

Genre : Romance,

Rated : T

Warning : BxB, Yaoi, Sho-ai, beberapa chapter mengandung Incest, Bromance, GaJe, misstypos, aneh, OOC, no power, 14 y.o (khusus chapter 5, nanti ada warn nya sendiri), Elemental Siblings, yang gak suka yaoi jangan dibaca xD, dll (?).

.

.

Don't Like Don't Read!

Mind to RnR~?


Pocky

.

.

.

5. Solar x Thorn

.

.

Di suatu pagi yang cerah serta damai–

"SOLAR~! AYO BANGUUUNNNN~!"

Oke, tidak sedamai itu. Terlihat seorang pemuda memakai topi dino berwarna hijau yang dihadapkan miring ke arah kiri sedang mencoba membangunkan sang Adik 'kesayangan' nya. Pemuda bernama Thorn itu menggerutu karena tidak dapat membuat sang Bungsu terbangun, malah semakin menyembunyikan dirinya di dalam selimut lembut berwarna jingga cerah. Karena itu, sekarang Thorn sedang bersiap-siap untuk melompat dan menindih tubuh Adiknya –tapi Thorn mengurungkan niat tersebut saat Solar, Kembar Terakhir, tiba-tiba terbangun lalu menduduk'kan dirinya di pinggiran kasur. Seolah-olah Solar mengerti apa yang akan dilakukan Thorn kepadanya sebentar lagi.

Solar menguap lebar, Thorn tersenyum riang karena berhasil membangunkan Solar yang kadang tertidur seperti Ice, "Nah, kau sudah bangun, sekarang cepatlah mandi lalu sarapan!"

"Malas ah." Solar sangat ingin berbaring di kasur empuknya –jika Thorn tidak menarik (baca : menyeret) dirinya ke kamar mandi yang berada di kamar itu.

"Jangan malas-malasan! Kak Gempa dan yang lain sudah menunggu di ruang makan!"

"Jadi, Kak Ice sudah bangun?"

Thorn tiba-tiba terdiam, dia tidak tahu Ice sudah bangun atau tidak, karena dia tahu kalau Kakaknya yang satu itu hobi tidur, seakan-akan tidak pernah merasakan rasanya tidur. Jika dibangunkan pun, dia hanya menguap lalu duduk, setelah itu berbaring lagi di kasur, kembali tidur. "Sudah!" Thorn hanya menjawab seadanya saja, soalnya dia tidak turun dari kamarnya sama sekali sampai Gempa mengetuk pintu kamar dan bilang kalau sarapan akan selesai serta mereka berdua harus turun saat terdengar seruan (baca : teriakan) Blaze dan Taufan bila sarapan sudah siap, yang bisa membuat kaca rumah mereka terkadang retak (?).

"Baiklah-baiklah, aku bangun," ujar Solar mulai berdiri dan berjalan dengan sempoyongan ke arah kamar mandi. Membuat Thorn merasa sedikit kasihan ke si Bungsu.

"Mau kubantu?" tawar Thorn membuat Solar menoleh ke arah belakang, wajahnya terlihat kusut, rambutnya berantakan, dan matanya sudah seperti mata panda (?) #dibuang. Itu cukup membuat Thorn merinding disko, karena tatapan Solar seolah-olah mau 'menerkamnya'. Wajah tampan Solar benar-benar menyeramkan!

"Tidak usah!" Tolak Solar kembali menatap depan, matanya yang setengah terbuka itu menangkap pintu berwarna putih yang berjarak beberapa meter darinya. Solar berjalan sambil menutup matanya karena masih mengantuk, toh dia juga sudah hapal telak tempat barang-barang miliknya dan Kakaknya itu.

"Solar." Kakaknya memanggil lagi, membuat Solar menoleh ke belakang lagi dengan kesal, tapi dirinya tetap berjalan pelan.

"Apa? Cepat katakan."

"Aku hanya memberitahu, kalau berjalan itu, matamu harus terbuka."

"Memangnya itu penting?"

Dan sepertinya, Solar harus mendengarkan perkataan Thorn, karena dia tadi tidak menggubris Thorn hingga membuat kepalanya membentur pintu kamar mandi yang terbuat dari kayu itu.

Tetapi bukannya menolong Adiknya yang malang, Thorn hanya tertawa lepas melihat itu. Membuat Solar memerah karena malu.

"Kak Thorn berhentilah tertawa!"

.

.

Sesudah Solar membersihkan dirinya, mereka berdua pun langsung turun ke lantai bawah untuk sarapan. Dan ada hal yang membuat Thorn sweatdrop, ternyata Ice memang sudah bangun! Dia melihat Ice sedang bersantai menonton televisi sambil tiduran di sofa. Thorn ingin bertanya kepada Ice, apa yang telah merasuki Kakaknya hingga dia bangun pagi? Tapi, Thorn mengurungkan niatnya lagi karena suara Gempa yang mengatakan bahwa sarapan telah siap membuat perutnya berbunyi.

Seusai sarapan, para saudaranya mulai aktivitas hari minggu mereka. Halilintar sedang memperbaiki skateboard Taufan yang rusak, Taufan sedang membantu Gempa membereskan cucian kotor bekas sarapan tadi, Gempa sedang membereskan dapur, Blaze bermain dengan kameranya, Ice kini duduk santai di sofa sambil melihat berita di televisi, dirinya sedang menyirami tanaman, dan Solar membantunya.

Singkat cerita setelah Thorn dan Solar menyiram tanaman di halaman belakang, mereka sekarang berada di kamar untuk bermain game. Sampai akhirnya Thorn tersadar ada bungkus makanan di tangan Solar saat mereka beristirahat dari bermain game tadi.

"Apa itu?" tanya Thorn dengan raut penasaran, membuatnya semakin imut karena mengedipkan kedua mata bulatnya yang beriris Caramel itu.

"Ini adalah Pocky. Kak Thorn mau?" Thorn mengangguk, diapun mengambil sebatang pocky lalu hanya menatapnya. "Kenapa tidak dimakan?"

"Hey, Solar, kita bermain permainan pocky saja yuk!"

"Eh? Maksudnya?"

"Itu loh, permainan pocky yang terkenal di internet."

Wajah Solar memerah sempurna mendengar itu, kenapa sangat mendadak seperti ini? Dia tahu permainan itu, tapi tak sanggup untuk melakukannya bersama Kakaknya yang unyu-unyu (?) gemesin itu. Satu gigitan mungkin sudah sanggup membuat Solar pingsan. "Apa Solar tidak mau?"

Tapi, Solar tidak bisa menolak saat melihat wajah kecewa milik Thorn itu. Dengan cepat dia mengangguk, membuat Thorn sedikit kegirangan. Tetapi, Solar juga berpikir, mungkin ini saatnya untuk menyatakan perasaannya pada Kakaknya itu, tidak peduli bahwa nanti dia dibenci.

Lalu mereka pun mulai memulai permainan itu.

Gigitan pertama.

Gigitan kedua.

Gigitan ketiga.

Seterusnya sampai gigitan yang akan mengakhiri permainan tersebut, sebelum bibir mereka bersentuhan, Solar langsung menggigit pocky itu dan langsung menoleh ke arah samping. Tapi bibir mereka tidak bersentuhan, karena masih ada sisa pocky di mulut Thorn.

Tidak sanggup.

Solar sama sekali tidak sanggup!

"Yah, Solar, kenapa dilepas?"

"D-dengar Kak, a-aku tidak bi-bisa melanjutk-kan ini," ujar Solar sambil terbata-bata, wajahnya hampir menyerupai buah tomat.

"Kenapa?"

"Ka-karena, aku m-menyukaimu." Solar menutupi wajah rupawannya yang memerah dengan topinya, volume suaranya dikecilkan. Tapi Thorn tetap bisa mendengar itu, yang membuat Thorn mau tak mau memerah juga.

"Solar, lihat aku," pinta Thorn dituruti oleh Solar yang membelakanginya. Tepat setelah mata Solar melihat wajah Thorn yang memerah imut itu, membuat dirinya membelakangi Thorn lagi. "Solar! Lihat aku! Ka bilang kau menyukaiku 'kan?"

"A-aku memang menyukaimu, t-tapi aku ti-tidak bisa menatapmu sekarang!" Balas Solar.

Akhirnya, Thorn membalikkan (?) tubuh Solar secara paksa, tapi dia sedikit kewalahan karena tubuh sang Adik lebih besar darinya. "Solar," panggil Thorn lagi, dia tersenyum lembut, lalu menyingkirkan topi milik Solar yang menutupi wajah Solar. Hingga memperlihatkan pipi Solar yang merona, membuat Thorn sedikit menggelak geli.

Tapi secara perlahan, wajah Thorn mulai mendekat ke wajah Solar. Sampai membuat bibir mereka bersentuhan, membuat Solar membelalakkan matanya.

"Sebenarnya, aku juga menyukaimu," gumam Thorn melepas ciuman itu langsung memalingkan wajahnya. Membuat Solar tidak dapat menahan senyum gembiranya.

Solar mulai mencium bibir Thorn lagi dengan lembut, kali ini ada sisa pocky di mulutnya.

"Terima kasih."

Thorn menggeleng, wajahnya memerah, dia mengecup lembut kening Solar. "Seharusnya aku yang berkata seperti itu."

Lalu mereka saling bertatapan, lalu tertawa secara bersamaan.

Untung saja tadi Thorn meminta memainkan permainan itu, yang akhirnya berujung manis.

.

.

Di tempat lain, dimana para saudara kembar mereka mengintip. Terlihat wajah sumringah Blaze dan Taufan saat melihat itu, serta di tangan Blaze terdapat handycam. Ice hanya tersenyum kecil, Gempa dan Halilintar tertawa kecil melihat itu.

"Lihat mereka! Astaga astaga astaga astaga astaga! Mereka sangat imut~!" Blaze berusaha tidak menjerit kesenangan melihat kejadian tadi.

"Blaze, tolong diamlah, nanti kita ketahuan oleh mereka. Dan Taufan, berhenti memelukku, aku tidak bisa bernapas!" Balas Halilintar yang wajahnya kini sedikit memerah karena Taufan terus-terusan memeluknya dengan gemas saat melihat adegan Solar dan Thorn tadi. Tapi Taufan tidak menghiraukan sang Sulung itu.

Melihat pertengkaran itu, Gempa hanya tersenyum kecil bersama Ice. Lalu saling memandang dengan Adik keduanya, dan tertawa kecil bersama.

.

.

.

Solar x Thorn : END

.

.

Next Pair : ?