Halo semua~ Miza udah sempetin up buat fic ini~ XD jujur saja, Miza pertamanya untuk pair ini yaitu, Ice meminta Blaze bermain game pocky itu, tapi malah melenceng dari tujuan awalnya
Kayak chapter kemarin, seharusnya Solar yang mengajak Thorn, bukan Thorn yang mengajak Solar, tapi biarkanlah sudah~ dan juga, Miza gak nyangka kalau chap BlIce bisa banyak kayak gini! X3
Miza gak mau buat lama-lama disini karena selalu bingung buat nyampaikan apa xD #dor. Jadi Miza bakalan balas review aja~
Balasan Review
Kagamiko Ai :
Iya ini udah lanjut kok xD
Rra012 :
Wih, Rra-san udah tahu kalau ternyata next pairnya BlIce! Miza beri ucapan selamat yah~ XD
Memangnya Thorn nya kenapa? Yah, menurut Miza, dia itu imut, imut, polos, polos, polos, polos, dan POLOS~! #digampar
Cat :
Hehe, maaf Cat-san, chap ini adalah BlIce~ XD
nevyandini43 :
Solar x Thorn emang manis xD Miza suka pair ini xD
Yah, mereka berlima emang suka kepo sih, jadi wajar~ #dikeroyok
Makasih semangatnya xD
Arigatou buat yang nyempetin ngereview ff ini xD
.
.
Disclaimer : BoBoiBoy hanya milik Animonsta Studios,
Genre : Romance,
Rated : T
Warning : BxB, Yaoi, Sho-ai, beberapa chapter mengandung Incest, Bromance, GaJe, misstypos, aneh, OOC, no power, 14 y.o (khusus chapter 5, nanti ada warn nya sendiri), Elemental Siblings, yang gak suka yaoi jangan dibaca xD, dll (?).
.
.
Don't Like Don't Read!
Mind to RnR~?
Pocky
.
.
.
4. Blaze x Ice
.
.
"Kak Blaze.."
Sebuah suara lembut dan menenangkan menyapa gendang telinga Blaze, membuat remaja yang tak sengaja tertidur saat jam pelajaran membuka matanya. Dan hal pertama yang dilihat dari kedua iris Crimson nya adalah sang Adik Kembar pertamanya sedang tersenyum kecil ke arahnya. "I-Ice?" beo Blaze berusaha memfokuskan pandangannya.
Ice mengangguk kecil, "Kak Blaze tadi ketiduran di dalam kelas sampai bel istirahat berbunyi, lalu tidak ada yang bisa membangunkan Kak Blaze termasuk Kak Halilintar. Kak Blaze begadang lagi?" Ice mulai menatap tajam Blaze yang tertawa gugup sambil menepuk-nepuk pundak Ice.
"Lupakan itu, nah, jam isitrahat tinggal berapa menit lagi?" tanya Blaze sambil celingukan kesana-kemari.
"Umm, kurang sepuluh menit lagi," jawab Ice sedikit menghela napasnya, membuat Blaze langsung berdiri dan menarik pergelangan tangan Ice keluar kelas. Tentunya Ice yang tiba-tiba diseret Kakaknya kaget, dan menatap bingung Blaze.
"K-Kak Blaze? Kita mau kemana?"
"Kantin! Aku tak mau perutku nanti berbunyi saat bel masuk."
Ice memandangnya dengan sweatdrop, sementara Blaze hanya memberikan cengiran lebarnya pada Ice. Juga, Blaze menyadari bahwa pergelangan tangan Ice yang sekarang dia genggam terasa begitu kecil, dan saat Blaze melihat ke arah sang Adik yang sedang menatap sekeliling –tidak sadar bahwa Kakaknya menatap dirinya, barulah Blaze tahu kalau tubuh Ice lebih kecil darinya. Bukan lebih pendek, mereka kembar, jadi identik. Tapi di mata Blaze, tubuh Ice lebih ramping dari tubuhnya sendiri, serta kulit milik Ice lebih halus dan layaknya berwarna putih porselen dibanding kulit Blaze yang sedikit kecoklatan. Lalu saat tatapan Blaze beralih ke wajah Ice, rona merah sedikit merekah di pipinya ketika melihat kedua iris Azure Ice menatap datar sekitar, Ice masih tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan. Wajah Ice ternyata manis! Sangat manis! Apalagi saat bibir plum Ice yang sedikit terbuka, sungguh membuat Blaze ingin menyerang Adiknya itu.
Tanpa sadar, Blaze mengeratkan genggamannya pada Ice dan sedikit mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ice. Seolah melindunginya dari keramaian para murid yang berlalu lalang melewati mereka.
"Kak Blaze, berhenti menatapku seperti itu. Kita sudah sampai di kantin." Ice yang tiba-tiba bersuara membuat Blaze kelabakan karena ditangkap basah memandangi remaja di sampingnya. Dan dengan cepat dia juga melepaskan genggamannya pada Ice, entah kenapa dia terlalu nyaman sampai enggan melepaskan genggaman tersebut.
"B-benarkah?" ujar Blaze berusaha menoleh ke arah lain dengan wajah yang merah. Atas, kanan, bawah, belakang, dia lihat, dan dia tak sengaja menoleh ke arah kiri dimana Adiknya berada, langsung membuat Blaze melihat arah samping kanan.
"Kak Blaze, kau lihat kemana? Kantinnya ada di depanmu."
"E-eh? O-oh, kau benar."
Ice kebingungan melihat Blaze seperti ini, tapi entah kenapa wajahnya ikut memanas melihat wajah Blaze itu. Dengan rona merah yang menghias pipi Blaze, senyum gugup yang dia tunjukkan, dan mata Kakaknya yang sibuk melihat ke arah lain –seperti berusaha tidak menatapnya. "Kak Blaze, kau tidak apa? Wajahmu memerah."
Sontak Blaze menggelengkan kepalanya kencang, "Aku hanya kepanasan saja kok!"
"Tapi, Kak Blaze, kantinnya kan ber-AC sekarang."
Blaze mati kutu mendengar itu.
Dia lupa, kalau ruang kantin terletak di dalam sekolah dan memakai AC pula. Berbeda dengan saat dia di Sekolah Rendah Pulau Rintis, dimana kantinnya berada di luar sekolah –tapi masih tetap berada di area sekolahan. Selepas itu, Blaze kembali tertawa gugup, "S-sudahlah, kau tunggu disini dulu ya, Ice!"
Blaze langsung ngacir pergi, meninggalkan Ice yang cengo dengan sikap Blaze tadi.
.
.
Bel pulang telah berdering, membuat semua murid bersorak kegirangan saat mendengar suara keras dan nyaring bagaikan suara yang sangat indah di telinga mereka. Lalu Blaze dan Ice sudah bersiap-siap pulang dari sekolah bersama saudara mereka yang lain. Tapi entah kenapa keduanya keheranan, saat sampai di gerbang sekolah, tempat yang selalu mereka jadikan sebagai tempat pertemuan bila pulang sekolah –karena Blaze dan Ice berbeda kelas dengan kelima saudara kembarnya yang lain, hanya terlihat Gempa disana.
"Loh? Kak Gempa saja yang disini? Yang lain kemana?" tanya Blaze penasaran, begitu juga Ice –meski Ice hanya diam saja. Gempa tersenyum kecil mendengarnya, remaja dengan iris mata Honey itu mengelus kedua kepala Adiknya.
"Kak Halilintar dan Kak Taufan sedang ada urusan sampai sore, lalu Solar dan Thorn meminta ijin menuju ke pertokoan untuk membeli sesuatu. Mereka baru saja pergi tadi," jawab Gempa tetap memasang senyum kecilnya, membuat Ice langsung menempeli Gempa.
Dia tidak mau melepaskan pelukannya pada tangan kanan Gempa sepanjang perjalanan pulang. Membuat Blaze menatap Ice kesal dan Gempa hanya tersenyum maklum, karena saat Ice ditanya kenapa dia menempeli Gempa terus-terusan, Ice hanya berkata, 'Kak Gempa itu hangat dan lembut, persis seperti Ibu.'
.
.
Akhirnya setelah sampai di rumah, Gempa langsung menyuruh Blaze dan Ice untuk mandi. Lalu dia akan memanggil mereka berdua turun untuk makan siang saat saudara mereka yang lain telah datang. Hanya tinggal Halilintar dan Taufan saja yang belum datang karena setengah jam kemudian, Solar dan Thorn sudah sampai ke rumah.
"Huh, Kak Hali dan Kak Taufan kemana sih? Belum pulang juga! Aku 'kan sudah kelaparan~!" Keluh Blaze di kamar mereka sambil tidur-tiduran di ranjangnya, membuat Ice tersenyum geli melihatnya.
"Mungkin mereka akan datang sebentar lagi, Kak Blaze hanya perlu menunggu." Setelah mengucapkan itu, Ice melihat Blaze mengeluarkan sesuatu dari loker meja belajar sang Kakak, yaitu sebungkus Pocky, membuat mata Ice berbinar melihatnya. Dengan segera, Ice menghampiri Blaze yang asyik memakan Pocky itu.
"Minta pockynya," pinta Ice membuat Blaze sedikit menautkan alisnya bingung, tetapi sesudah itu, timbul niat jahil dipikiran Blaze.
"Nih," balas Blaze tambah membuat Ice berbinar senang, tapi saat akan mengambil sebatang pocky dari tangan Blaze, tiba-tiba Blaze mengangkat pockynya menjauh dari Ice. Membuat Ice cemberut, lalu berusaha menggapai pocky yang diacungkan tinggi-tinggi oleh Blaze.
"B-berikan pockynya!" Ujar Ice masih tetap berusaha mengambil pocky itu dari tangan Blaze, membuat Blaze sedikit tertawa kencang saat dia berhasil mengerjai Adiknya.
Blaze semakin mengangkat tinggi pocky itu, Ice berusaha menggapainya. Sampai akhirnya mereka harus berdiri karena kejahilan Blaze tidak berhenti. Tangan Ice hampir menyentuh pocky itu sambil berjinjit, sedangkan Blaze hanya sedikit menjinjit saja. Hingga sampai keseimbangan Blaze di atas kasur itu terganggu karena Ice tidak sengaja menarik kerah Blaze sedikit keras sebab Ice sendiri tersandung kaki Blaze, yang menyebabkan Blaze terjatuh.
Dengan Ice yang ditindihnya.
Dan bibir mereka juga tak sengaja bersentuhan.
Wajah keduanya sangat memerah, dengan cepat Blaze melepas ciuman itu lalu menatap Ice yang menutupi wajahnya memakai topi milik Blaze yang jatuh tadi. "I-Ice?" panggil Blaze berhati-hati, takut tiba-tiba Ice menamparnya .
"K-KAK BLAZE! KA-KAKAK KELUAR DULU SAJA YA! NANTI AKU MENYUSUL KOK!" Seru Ice dengan nada tinggi dengan wajah yang sangat merah membuat Blaze berjengit kaget karena Ice tiba-tiba mendorongnya ke arah pintu dan..
BLAM!
..dirinya dikunci di luar kamar oleh Adiknya sendiri.
Blaze uring-uringan tidak jelas di ruang tamu, dia mondar-mandir menggumamkan sesuatu, tidak tahu bagaimana caranya untuk meminta maaf pada Ice. "Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini?!" Gumamnya mencak-mencak di atas sofa sambil menjambak rambutnya yang tidak memakai topi –karena topinya tertinggal di kamar.
Lalu terdengar pintu depan terbuka dengan ucapan, 'Kami pulang' yang sangat dikenali Blaze. Itu pasti Halilintar dan Taufan! Blaze langsung melompat dari sofa untuk menuju Taufan dan memeluk Taufan erat saat dia benar bahwa itu merupakan kedua Kakaknya.
"B-Blaze? Kau kenapa?" tanya Taufan yang tidak tahu-menahu dengan sikap Blaze sekarang. Sementara Blaze hanya mengabaikan tatapan tajam Halilintar saat dirinya memeluk Taufan erat.
Akhirnya setelah dibujuk Taufan untuk duduk di sofa, akhirnya Blaze menuruti Taufan dan menceritakan semuanya kepada Taufan –setelah Halilintar diusir oleh Taufan tentunya. Seusai Taufan mendengarnya, dia tergelak kencang, sampai-sampai Gempa melongokkan kepalanya dari dapur untuk melihat apa yang terjadi, dan Solar yang sedang lewat juga heran kepada Kakak Keduanya itu, serta Solar juga sempat berpikir untuk menempelkan punggung tangannya pada dahi Taufan. Sekedar mengecek saja, tapi dia mengurungkan niatnya ketika Thorn memanggilnya untuk naik.
"J-jadi, kau sekarang diusir dari kamarmu sendiri, begitu? Buahahaha!" Tawa Taufan tidak bisa menahan dirinya untuk guling-gulingan di atas karpet lembut yang berada di ruang tamu.
Blaze menghela napas pasrah, membuat Taufan memberhentikan tawanya sebentar. "Sebaiknya kau meminta maaf saja padanya, dan bilang juga tentang perasaanmu," saran Taufan dibalas anggukan lesu Blaze, lalu kepalanya ditepuk-tepuk lembut oleh Taufan. "Berjuang ya!" Setelah itu, Taufan langsung ngeloyor gitu saja dari hadapan Blaze, tambah membuat aura suram menguar dari tubuh Blaze.
Akhirnya dia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban dari Ice, akhirnya Blaze menghela napas lagi. Kepalanya dibenturkan secara pelan dan berulang pada pintu. "Sekarang, bagaimana?" dengus Blaze kesal, sampai akhirnya dia ingat bahwa dia mempunyai kunci duplikat kamarnya.
"Astaga, aku benar-benar bodoh!" Rutuknya pada dirinya sendiri saat dia menggenggam sebuah benda kecil bernama kunci di tangannya setelah merogoh sakunya dengan tergesa. Blaze pun membuka pintu kamarnya secara perlahan, tidak menimbulkan suara malah, sampai memperlihatkan Ice sedang bercemin sambil memegangi bibirnya sendiri dengan wajah yang memerah. Hingga Ice sedikit menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu dibuka.
"K-Kak B-Blaze?!" Serunya kaget saat melihat Blaze berdiri di daun pintu dengan senyum gugup.
"Y-yah, Ice, aku hanya.. Ingin meminta maaf soal kejadian tadi, hehe." Blaze menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal dengan kikuk. "Dan juga, aku ingin menyampaikan kalau aku menyukaimu," lanjut Blaze sambil memalingkan wajahnya, dia tidak bisa melihat reaksi Ice.
Tapi ternyata di luar dugaannya Ice langsung memeluknya dengan erat, membuat Blaze kaget.
"I-Ice?"
"A-aku hanya lega, kukira perasaanku pada Kak Blaze tidak akan terbalas. Ternyata Kak Blaze juga menyukaiku, terima kasih. Dan.. Aku juga menyukaimu," balas Ice dengan wajah memerah, membuat Blaze sendiri tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ice. Blaze pun memeluk Ice juga, dan mendaratkan kecupan pada kening Ice.
"N-nah, kalau begitu, a-ayo ke ke bawah! Kak Gempa sudah memanggil!" Ajak Ice mendahului Blaze, membuat wajah Blaze sedikit sumringah.
"Hey, Ice! Tunggu!"
.
.
Suasana ketika semuanya sedang sibuk memakan makanan yang tersaji di dalam piring masing-masing (?), Taufan yang melihat Blaze di sampingnya sangat senang, karena dia dapat melihat bawah Adiknya itu memakan sambil sedikit bersenandung ceria, membuat Taufan penasaran.
Lalu, tidak dapat menahan rasa penasarannya, Taufan pun bertanya sambil berbisik pada Blaze. "Hey, Blaze, bagaimana tadi?"
Blaze menoleh ke arah Taufan lalu tersenyum lebar, tambah membuat Taufan penasaran, "Sukses besar! Ingin sekali aku ceritakan padamu, Kak!"
Taufan yang mendengar itu berbinar-binar, tanpa sadar di sedikit menggebrak meja makan. "WOAH! KAU HARUS SEGERA MENCERITAKANNYA PADAKU!"
"Taufan, Blaze, jangan berbicara saat makan!" Tegur Halilintar langsung membuat Taufan dan Blaze menahan cekikikan mereka, membuat saudaranya yang lain menatap keduanya dengan aneh.
"Ada-ada saja," gumam Gempa sedikit tersenyum kecil, dia sebenarnya mengetahui masalah yang Blaze ceritakan pada Taufan tadi, karena dia menguping semuanya.
"Abaikan saja kedua makhluk itu," balas Halilintar membuang napasnya gusar, tambah membuat Taufan dan Blaze menahan untuk tidak tertawa. Sementara Thorn dan Solar hanya menuruti kata Gempa untuk melanjutkan makan mereka.
.
.
.
Blaze x Ice : END
.
.
Next pair : ?
