Hai hai Minna-san~! Kembali lagi sama Miza yang kadang suka nelantarin fic~! #plak

A-ahaha, Miza tahu Miza telat banget buat update, tapi karena ada halangan yaitu UTS yang dua minggu lalu melanda sekolah Miza, jadi idenya digantikan sama materi untuk sementara. Dan setelah UTSnya selesai, idenya malah hinag QAQ kayaknya idenya ngambek sama Miza karena diganti oleh materi pelajaran #gak

Dan tentang pocky milik Blaze yang rasanya matcha itu, Miza emang pernah nyobain dan rasanya itu.. Gimana yah? Kalau dalam bahasa Jawa sih, Miza merasa kalau setelah makan itu rasanya kayak 'blenget' di bahasa Jawa, Miza ga ngerti bahasa Indo nya (?)

Juga, seharusnya fic ini udah selesai beberapa jam yang lalu dan Miza bisa aja updatenya jam 1-2 an kalau Miza ngetik fic ini gak sambil nonton film xD #digampar

Anyway, makasih yang udah nunggu fic ini update loh QAQ Miza sedikit terharu (?), dan daripada lama-lama, Miza langsung balas review aja ya~ XD

Balasan Review :

Nur785 :

gemes ya xD mah, BlIce juga pair favnya Miza~ makasih udah nge review~

nevyandini43 :

sampe senyum-senyum sendiri, awas kerasukan loh #hush. Kayaknya cinta mati sama pair BlIce ya? xD Ice mah selalu Miza buat malu-malu gitu~ (maklum Miza suka uke yang pemalu), yah namanya juga Taufan, tawa sampe ke planet Mars dia juga bakalan mau #digaplok. Yap dugaan anda benar, Taufan lah yang mengajari Gempa untuk menguping~ btw, makasih sama review nya xD

NdAzusa :

Ini udah lanjut kok xD

line aitasbi p :

Okok, ini sekarang udah lanjut xD

alvia :

Makasih udah mau ngetik panjang-panjang buat fic abal inin x'D Ice emang imut, Miza seneng banget sama Ice~! Rapi kah? Miza rasa gak begitu rapi dan masih berantakan :". Yah, kantinnya Miza juga gitu kok, harus desek-desekan kalau mau jajan =w= gpp kok telat reviewnya ^^

.

.

Disclaimer : BoBoiBoy hanya milik Animonsta Studios,

Genre : Romance,

Rated : T

Warning : BxB, Yaoi, Sho-ai, beberapa chapter mengandung Incest, Bromance, GaJe, misstypos, aneh, OOC, no power, 14 y.o (khusus chapter 5, nanti ada warn nya sendiri), Elemental Siblings, yang gak suka yaoi jangan dibaca xD, dll (?).

.

.

Don't like don't read it!

Mind to RnR~?

(A/N: bersiaplah kalian (?)~! Chapter ini udah Miza buat side storynya loh! Kemungkinan bakalan di publish besok kalo nggak hari selasa~! Jadi, tolong bersabar nunggu side storynya yah, pairnya sama kok~!)


Pocky

.

.

.

3. Halilintar x Taufan

.

.

Matahari sekarang berada tepat di atas kepala, sinarnya membuat kulit siapapun merasa panas dan terbakar, suasana yang sangat cocok untuk bermalas-malasan di dalam rumah sambil menyalakan kipas angin atau bermalas-malasan di bawah teduhnya pohon rindang yang besar dekat Kokotiam Tok Aba. Karena itu, di sini lah mereka sekarang, tidur-tiduran di rerumputan hijau yang menyegarkan mata dan dipayungi oleh banyaknya daun-daun yang menghiasi pohon sehingga sinar matahari hanya bisa samar-samar muncul mengenai tubuh mereka. Tidak dapat membuat mereka kepanasan. Ditambah angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah mereka dengan kelembutan, membuat siapa saja bisa mengantuk lalu tertidur.

Seperti halnya remaja bernama Ice sekarang, dirinya terlelap nyaman dengan kepala yang dipangku di paha Blaze, sedangkan Blaze hanya mengelus lembut kepala Ice yang tertutup oleh tudung jaket serta topinya.

"Suasana seperti ini memang dapat membuat siapa saja tidur dengan cepat," keluh Solar sambil menyandarkan punggungnya di batang pohon yang kokoh tersebut.

Gempa terkekeh mendengar keluhan Adik kembarnya yang keempat itu, "Apalagi Ice, dia bisa saja seperti ini seharian penuh." Gempa tersenyum tipis melihat wajah damai nan lugu milik Ice saat tertidur.

"Itu tergantung cuacanya, apabila mendadak mendung ya, dia juga pasti akan terbangun," celetuk Taufan sambil membenarkan topinya. Sementara Halilintar hanya mendengus tidak peduli saat Taufan menopang kepalanya di bahunya.

"Kurasa kalau itu terjadi, Ice masih terlelap kecuali gerimis sudah datang." Kali ini Thorn yang berbicara, remaja berpakaian hitam dan hijau itu sedang memainkan beberapa daun yang gugur dari pohon itu.

Blaze menatap bosan ke arah para saudara kembarnya yang sedang membicarakan seseorang yang kini tertidur lelap. "Oh ayolah, lagipula hujan tidak akan datang di siang bolong seperti ini. Dan kalaupun memang akan datang, Ice pasti bangun bila udara sudah menjadi sangat dingin, dia tidak seperti seseorang yang suka hujan-hujanan selebat apapun hujan itu," tanggap Blaze sedikit menyindir sang Kembar Pertama.

Tahu merasa disindir oleh Adiknya, Halilintar dengan kesal menjitak kepala Blaze penuh 'sayang', membuat yang lain sedikit tertawa melihat pertengkaran kecil itu. Tetapi, tiba-tiba Ice sedikit membuka matanya, tidak ada yang tahu kalau dia sudah bangun sejak Blaze berbicara, lalu Ice merubah posisi tidurannya menjadi duduk.

"Eh, Ice, sudah bangun?" pertanyaan polos dari Thorn langsung membuat semuanya facepalm di tempat –kecuali Ice yang mengerjapkan matanya polos.

Solar sedikit membuang napasnya kesal, "Kalau dia membuka matanya berarti apa? Tertidur sambil duduk lalu matanya malah terbuka, bukan terpejam dan menatap kita semua?" balas Solar langsung mengundang gelak tawa dari Taufan dan Blaze, sedangkan Gempa hanya tersenyum kecil.

"Hehe."

"Nah, daripada kalian bersantai tanpa melakukan apapun di sini, lebih baik sekarang kalian membantu Atok di kedai!" Sebuah suara menginstrupsi mereka dari arah belakang Halilintar, langsung membuat Halilintar menoleh ke sumber suara, dan menemukan pria muda berambut Blonde dengan warna hitam di setiap ujungnya memandangi mereka sebal dari iris Sapphirenya tersebut. Dengan wajah yang manis tentunya.

"Ah, Ochobot."

"Sebaiknya kalian membantu Atok di kedai, dia sekarang membutuhkan bantuan mengantarkan pesanan ke meja pelanggan. Sedangkan aku sendiri tidak cukup untuk membantunya, para pelanggan hari ini datang sangat banyak!"

"Kapan kami dapat membantu?" oke, ingin sekali Ochobot melempar nampan yang dipegangnya ke arah kepala Taufan karena pertanyaan yang luar biasa menjengkelkan itu keluar dengan sangat polos dari mulut Taufan.

Ochobot memegang nampan tersebut keras-keras sampai jari tangannya sedikit memutih, seolah menahan perasaan kesalnya yang membuncah itu. Sementara Halilintar hanya berdiri lalu menepuk-nepuk bahu Ochobot dengan prihatin. "Minggu depan!" Jawab Ochobot asal-asalan dibalas tatapan lugu Taufan yang membentuk bibirnya menjadi huruf 'O'. "Ya sekarang lah!"

"Sabar-sabar." Halilintar masih senantiasa menepuk bahu Ochobot.

"Memangnya kalau Ochobot sendiri tidak bisa melakukannya?"

Rasanya Ochobot ingin memakan makhluk polos kedua setelah Taufan itu, yang kini mengundang gelak tawa dari semuanya. "Tentu saja tidak! Aku bisa cepat lelah bila bolak-balik berlarian seperti itu!"

"Tidak apalah, sehat buatmu, kau jarang berolahraga 'kan?" ejek Halilintar langsung membuat wajah Ochobot memerah karena kesal. "Jadi karena itu, Thorn, badan Ochobot lebih kecil dari kita." Thorn mengikuti jejak Taufan untuk membulatkan mulutnya.

Ochobot tanpa pikir panjang langsung melayangkan nampannya ke kepala Halilintar yang kebetulan berada di dekatnya dengan sedikit keras. "Kalau kalian tidak ke kedai selama 10 menit, maka aku tidak akan memberi kalian uang saku lagi saat kalian sekolah!"

Wajah semua kembaran itu memucat, Ochobot lah yang memegang uang di rumah mereka, bila dia tidak memberi uang saku pada mereka, maka semuanya pasti akan menderita! Halilintar, Taufan, Gempa, Blaze, Ice, Thorn, dan Solar langsung menggeleng kuat-kuat lalu segera berlari menyusul Ochobot yang telah menjauh.

.

.

"Huuaah! Capeknya!" Keluh Taufan sambil menguap, membuat Halilintar meliriknya dengan sebal.

"Ya ya ya," balas Halilintar memutar kedua bola matanya bosan mendengar keluhan itu. Sementara Gempa hanya mengelap keringat yang turun dari dahinya lalu tersenyum pasrah.

"Sudahlah kalian berdua, jangan bertengkar lagi. Sudah cukup cuaca sekarang sangat panas ditambah pertengkaran tidak bermanfaat kalian itu." Gempa membalas, cukup membuat Taufan menggembungkan pipinya lalu menjulurkan lidahnya pada Halilintar. Dan Halilintar yang diperlakukan seperti itu dari Taufan Cuma mendelik kesal kepada sang Adik.

"Kau tahu sendiri Kak Gempa, tiada hari tanpa bertengkar," timpal Solar saling menyandarkan punggung bersama Thorn. Mereka bertujuh kini berada di tempat awal sebelum mereka membantu Atok mereka.

"Ya persis seperti kau dan Kak Blaze," ujar Ice kembali berbaring di rerumputan. Mendengar namanya disebut-sebut, Blaze hanya melirik Solar sebentar, Solar juga melirik Blaze sebentar pula.

"Hmp!" Lalu Blaze dan Solar saling membuang wajah mereka.

"Aku ingin menyirami tumbuhan di kebun sekarang," gumam Thorn memainkan daun-daun yang tadi dia ambil.

"Di suasana yang panas seperti ini? Thorn, bisa-bisa kulit putih mulusmu itu menjadi gelap!" Canda Taufan disambut gelak tawa semuanya, kecuali Halilintar yang dengan usil membenarkan posisi topi Taufan seperti posisi topi Ice. "Hey! Jangan memainkan topi kesayanganku!" Taufan membetulkan topinya ke posisi semula, lalu menatap Halilintar kesal.

Halilintar hanya tertawa kecil melihatnya, Taufan menjadi lucu bila dia seperti itu! Kini Halilintar Cuma menepuk-nepuk kepala Taufan yang dillindungi oleh topi dino khasnya itu. "Baiklah, baiklah."

Tes!

Setitik air jatuh dari atas langit dan mengenai hidung Taufan, sontak Taufan langsung menoleh ke atas lalu menemukan rintik air mulai berjatuhan. Semuanya mulai sedikit panik ketika cuaca yang tadi panas tiba-tiba menjadi dipenuhi oleh gumpalan awan gelap dan gerimis mulai berjatuhan, membuat baju-baju yang dikenakan oleh mereka sedikit basah.

Gempa berteriak pada saudara-saudaranya yang malah panik di tempat dan tidak segera pindah ke tempat yang lebih teduh. "Semuanya! Ke rumah sekarang! Jangan berdiam diri saja –dan Ice! Jangan tidur disana!"

Ice tetap tidak bergeming dari tempatnya, yang pada akhirnya dia digendong oleh Blaze di punggung Blaze –dengan paksa tentunya.

"Yah, aku tidak bisa menyiram tanaman dong. Tapi tidak apalah, 'kan ada hujan yang memberi Lily, Rosa, Daisy, Flo, dan yang lain untuk minum!" Ujar Thorn membuat Solar yang panik seperti Taufan meliriknya penasaran.

"Siapa Lily, Rosa, Daisy, dan Flo itu?" tanya Solar sekarang menghiraukan gerimis yang kian lama semakin deras.

"Para tanamanku~!"

Solar sweatdrop mendengarnya, Thorn sampai memberikan nama-nama pada tanaman peliharaannya! Solar tidak habis berpikir dengan kelakuan Thorn itu. "Kalau begitu, kapan-kapan aku mau melihat mereka. Bagaimana bentuk dari mereka?"

"Lily itu bunga yang berwarna putih bersih! Lalu Rosa-"

Belum selesai Thorn menyelesaikan perkataannya, hoodie miliknya dan Solar sudah keburu ditarik oleh Gempa yang sudah gondok karena mereka berdua malah berbincang-bincang di tengah-tengah gerimis itu. Gempa menarik keduanya ke rumah dimana semuanya sudah berkumpul, lalu 'sedikit' menasihati para saudaranya. Membuat gendang telinga yang lain merasa kesakitan sebab Gempa menceramahi mereka habis-habisan.

"Baiklah, baiklah, stop! Kami tidak akan mengulanginya lagi!" Ujar Blaze mulai melepas penutup telinga miliknya, dibalas helaan pasrah dari Gempa. Setelah itu Gempa pun menyuruh mereka mandi karena mereka sudah bau keringat ditambah tadi sedikit kehujanan. Gempa khawatir mereka akan sakit secara massal dan dia tidak mau merawat keenam saudaranya itu secara bergantian.

"Aku akan membuat makan siang dulu," ujar Gempa dibalas anggukan semuanya. "Dan kalian-"

"Membersihkan diri, iya-iya kami tahu kok."

Gempa tersenyum, lalu berjalan menuju dapur. Sedangkan Taufan melirik Halilintar yang sedari tadi menatap hujan yang deras itu. "Kak Hali, jangan coba-coba untuk mandi hujan lagi. Bila kau sakit aku tidak mau merawatmu lagi," ujar Taufan membuyarkan lamunan Halilintar, lalu Halilintar menatap Taufan.

'Aku masih kapok untuk merawat Kak Hali, dia terkadang bisa mesum!'

Seolah-olah mengerti apa yang dipikirkan Taufan, Halilintar tertawa sedikit keras sambil menepuk-nepuk bahu Taufan yang melihat Kakaknya dengan aneh. "Kak Hali? Kau kesambet apaan?"

"A-aduh, Taufan! Kau sungguh lucu!" Tidak menggubris pertanyaan Taufan yang bingung apa yang terjadi padanya, Halilintar mulai beranjak berdiri dari acara duduknya itu.

"Kak Hali mau kemana?"

"Mau terbang! Ya mau mandi lah. Kalau mau ikut mandi bersamaku ayo, aku tidak keberatan." Sebenarnya Halilintar hanya mengatakannya dengan asal-asalan, tapi dirinya malah dapat lemparan bantal sofa oleh Taufan. "Ih apa sih!"

Halilintar melihat Taufan dengan kesal, tapi menemukan wajah Taufan sudah seperti tomat matang yang siap dipetik, membuat Halilintar sekali lagi tertawa. "Astaga! Aku hanya bercanda, Taufan! Jangan dianggap serius begitu!"

"Hmp! Sana cepat mandi! Aku sekarang kesal padamu lagi!"

Halilintar menuruti kata-kata Taufan setelah dia mencubit pipi Taufan dengan gemas, tidak ada siapa-siapa lagi di ruang tamu selain mereka berdua saja.

Beberapa waktu kemudian, Halilintar telah keluar dari kamar mandi, setelah itu Taufan masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah yang tertekuk. Halilintar tersenyum kecil melihatnya dan lalu menjumpai Gempa yang terlihat cemas di dapur. Halilintar lalu menghampiri Gempa untuk menanyakan apa yang dicemaskan oleh Gempa. "Ada apa, Gempa?"

"Kak Halilintar, minyak, telur, gula, dan tepungnya ternyata habis! Bubuk kopi dan garam juga! Aduh bagaimana ini? di luar sedang hujan deras, aku tidak mungkin keluar ke minimarket untuk membeli bahan-bahan itu, bila pun meminta bantuan Fang dia pasti menolak! Apa yang harus kulakukan!?" Gempa terlihat kalut, rasa khawatir, cemas, dan panik tercampur begitu saja di dalam dirinya. Gempa sendiri memang mengakui bahwa dia terkadang bisa menjadi mudah untuk panik serta khawatir dan cemas tentunya. "Mau makan apa kita bila bahan-bahan itu tidak ada?!"

Halilintar mencoba menenangkan Gempa dengan mengelus-elus pundak Gempa, sepertinya elusannya sedikit berhasil untuk menenangkan Gempa. "Jangan khawatir, biar aku saja yang belanja di minimarket."

"Benarkah? Terima kasih, Kak Halilintar! Tapi kau harus ditemani seseorang, aku ragu jika kau pulang nanti kau pasti basah kuyup." Gempa sepertinya dapat membaca pemikiran Halilintar, membuat Halilintar hanya sedikit menarik ujung bibirnya ke atas.

Halilintar lalu menoleh kesana-kemari, dan menemukan Taufan sedang berjalan ke arah dapur, terlihat handuk yang masih melingkar di leher jenjang Taufan. "Tidak apa, aku akan pergi bersama Taufan! Kemarikan uangnya lalu aku pasti pulang dengan pakaian kering karena ada Taufan denganku!"

Taufan yang tidak tahu apa-apa hanya bisa cengo saat Halilintar langsung menarik pergelangan tangannya setelah menerima sejumlah uang dari Gempa. "K-Kak Hali? Kita mau kemana?" tanya Taufan ketika Halilintar mengambil handuk dari lehernya itu lalu mengambil satu payung yang cukup besar.

"Minimarket," jawab Halilintar dengan singkat, padat, dan jelas membuat Taufan memandangnya dengan kesal. "Ayo cepat pakai sepatumu, Gempa sangat membutuhkan bahan-bahan yang dia titipkan ke aku."

.

.

Mereka kini berada di minimarket dengan sedikit perdebatan, karena Taufan protes jika dirinya tidak mau keluar tapi tetap dipaksa oleh Halilintar, membuat Halilintar menghela napas lelah, dengan cara apalagi dia agar Taufan berhenti merasa kesal kepadanya?

"Ayolah Taufan, Gempa sangat membutuhkan ini. Tapi dia khawatir aku akan kembali dalam keadaan basah kuyup lalu sakit lagi. Kau tidak mau aku sakit, 'kan?"

Taufan terdiam mendengarnya, kini Halilintar sedang memilih-milih bahan yang cocok, Taufan hanya memandanginya sebal. Halilintar menyadari pandangan Taufan kepadanya itu, lama-lama dia juga merasa risih. "Baiklah, baiklah! Pilih satu makanan kesukaanmu, biar aku yang bayar!" Wajah Taufan nampak sumringah mendengar itu, membuat Halilintar sedikit tersenyum lega saat keceriaan Taufan kembali lagi. Taufan pun mengangguk dan segera melesat ke rak berisikan makanan kecil.

Beberapa saat kemudian, Taufan datang kembali ke Halilintar, membuat Halilintar merasa heran kenapa Taufan sangat cepat dalam memilih makanan. Di tangan Taufan terlihat sebungkus makanan kecil berwarna merah dengan sesuatu berbentuk panjang yang menjadi icon dari bungkus tersebut. "Taufan, kau membeli pocky?"

"Ya! Aku sangat suka dengan ini!"

"Kenapa?"

"Rasanya manis begitu."

"Baiklah, taruh itu di keranjang dan aku akan membayarnya."

.

.

Halilintar dan Taufan telah pulang dengan keadaan kering dan sehat (?), membuat Gempa sedikit menghembuskan napas lega. Gempa pun mengambil sekantong plastik dari tangan Halilintar lalu mulai memasak. Sambil menunggu Gempa selesai memasak, Halilintar dan Taufan menuju ke kamar mereka untuk bersantai. Halilintar membaca buku novel sambil duduk di tempat tidurnya yang berada dekat dengan jendela, sedangkan Taufan hanya memakan pockynya sambil duduk bersila di sofa yang berada di tengah-tengah kamar mereka bertiga (yaitu Halilintar, Taufan, dan Gempa).

Kita kembali ke Gempa untuk sejenak.

Gempa yang sedang santai memasak ditemani dengan Ice yang duduk di kursi meja makan, menolehkan kepalanya saat Ice bertanya sesuatu padanya, pertanyaan yang membuat Gempa sanggup tertawa sangat keras, tapi pastinya tidak akan dia lakukan –kecuali bila Gempa ingin mendapat lemparan sesuatu dari Halilintar.

"Kak Gempa," panggil Ice memainkan topinya yang dia pegang sekarang.

"Ya?"

"Kau dulu pernah mengatakan pada kami, bahwa jangan sampai Kak Hali dan Kak Taufan berada di kamar mereka berduaan saja. Memangnya kenapa?"

Gempa hanya tersenyum mendengarnya meski dia ingin tertawa. "Nanti kau juga tahu Ice, sekarang kembalilah dulu ke kamarmu. Aku akan memanggil kalian setelah makan siang sudah siap, oke?"

"Baiklah."

Sekarang kembali lagi pada Halilintar dan Taufan yang tetap pada kegiatannya masing-masing. Sebenarnya Halilintar sedikit heran kenapa Taufan sangat menyukai pocky, stick panjang yang renyah dan terkadang dibaluti oleh berbagai macam perisa itu. Dia pernah memakan pocky sekali saja, pocky milik Blaze, membuatnya sedikit mual karena rasa pocky itu adalah rasa matcha atau bisa disebut teh hijau. Dan karena itu, Halilintar tidak pernah memakan pocky lagi, tapi kini dia menjadi penasaran dengan pocky itu setelah melihat Taufan sangat senang melahap stick itu.

"Hey, Taufan," panggil Halilintar mulai menutup bukunya dan beranjak berdiri, lalu berjalan menuju ke arah Taufan.

"Ya?"

Halilintar duduk di samping Taufan, tetap memandanginya dengan bingung. "Kenapa kau suka dengan camilan ini?"

"Karena enak!"

"Enak, hm? Kalau begitu, beri aku satu pocky itu."

Taufan terlilhat keberatan, tapi sebelum mengucapkan apapun, bungkus pocky itu telah dirampas dari tangannya. "Kakak! Aku tidak mau membaginya! Sudah tinggal 2 tahuu!" Protes Taufan tidak digubris oleh Halilintar.

Dimakannya satu stick itu, habis dalam dua gigitan, kini hanya tinggal satu pocky di bungkus itu. Tapi bungkusnya diangkat tinggi-tinggi oleh Halilintar. "Kakaaakk! Sekarang sudah tinggal 1! Berikan padaku!" Taufan berusaha menggapai kembali wadah pocky itu, tetapi usahanya sia-sia karena badan Halilintar lebih besar darinya.

"Tidak." Satu jawaban yang sanggup membuat Taufan menyumpah serapahi orang yang kini duduk bersebelahan dengannya.

Halilintar yang memang iseng sekarang menggigit pocky dengan jarak yang pendek, agar Taufan melihat habisnya pocky itu secara live, tepat di depan matanya sendiri. Menggoda Taufan itu sangat seru menurut Halilintar.

"Jadi, kau mau ini kembali?" Taufan mengangguk kencang mendengar pertanyaan Halilintar, sesaat kemudian Halilintar sedikit menyeringai –namun Taufan tidak menyadari itu. "Kalau begitu, cium aku."

"HAH?!"

"Kau mau ini, 'kan? Cium pipiku, maka aku akan mengembalikannya." Seringai Halilintar melebar ketika wajah Taufan perlahan mulai merona. "Jika tidak, aku akan memakan habis benda ini, untungnya kau memilih rasa coklat."

"B-b-bagaimana bisa a-aku melakukan itu?" protes Taufan lagi dengan wajah yang memerah.

"Kau lebih mencintaiku atau pocky ini?"

"Pockynya!"

"Baiklah, itu maumu, aku akan memakannya saja sampai habis," balas Halilintar mulai menggigit pocky itu sampai tinggal seperempat bagian (?) saja.

Taufan jadi panik seketika. "Baiklah, baiklah! Aku lebih mencintaimu dari pockynya! Aku jujur kok!"

"Kalau begitu, cium pipiku."

Taufan –dengan terpaksa mencium pipi kanan Halilintar dengan cepat (dan juga sedikit tidak ikhlas), sementara Halilintar cuma sedikit merengut kesal. "Kau tidak benar-benar ikhlas melakukan ini, kuhabiskan saja sisanya," ujar Halilintar akan memasukkan sisa pocky itu ke dalam mulutnya. Tapi gerakannya terhenti saat Taufan dengan cepat memegang tangannya.

"A-aku mau saja melakukannya, tapi aku hanya malu saja!" Balas Taufan memalingkan wajah meronanya dari Halilintar.

"Hoo? Begitukah?"

Taufan pun mencium pipi sebelah kiri Halilintar dengan lembut dan juga pelan, kini wajah Halilintar yang sedikit merona akibat perbuatan Taufan itu. "Pu-puas?"

"Oke, oke, ini ku kembalikan untukmu," ujar Halilintar dibalas senyuman senang Taufan. "Nah, buka mulutmu."

Taufan menuruti perkataan Halilintar untuk membuka mulutnya tanpa menyadari ada senyuman janggal di wajah Halilintar. Dimasukkannya sisa pocky itu ke mulut Taufan, lalu menyuruh Taufan menutup mulutnya meski hanya setengah dari pocky itu saja yang masuk. "Tutup mulutmu dulu."

Tatapan Taufan berubah menjadi heran, sementara tatapan tegas Halilintar hanya bisa membuat Taufan menurut saja. Taufan ingin segera mengunyah stick yang kini sudah ada mulutnya. Tapi kejadian berikutnya sungguh tidak dapat Taufan duga, wajahnya kini langsung memerah layaknya tomat.

Sebab Halilintar mengambil kembali pocky itu. Memang tidak ada yang aneh dengan hal tersebut, tapi Halilintar mengambilnya memakai mulutnya sendiri.

Yang berarti, Halilintar mencium bibir milik Taufan!

Taufan sungguh sangat terkejut dengan perlakuan Kakaknya! Kalau boleh, dia mau pingsan karena malu! Mulut Halilintar juga mengambil pocky yang bertengger di mulutnya tadi, sekarang pocky itu telah dimakan oleh Halilintar dengan santai.

"K-K-K-KAKAK?! A-APA YANG KAU LA-LAKUKAN TADI!?" Halilintar hanya tertawa melihat ekspresi wajah Taufan yang sangat menggemaskan.

Halilintar memberhentikan tawanya, lalu menatap Taufan dengan tatapan lembut, tapi niat iseng juga terlihat di mata Crimson milik sang Kakak. "Sudah kubilang tadi, bukan? Aku tidak mau membagikan pockynya denganmu, jadi kuambil balik saja," balas Halilintar menahan tawanya, kini Taufan menggembungkan pipinya kesal.

"Kak Hali kadang-kadang bisa sangat menyebalkan!"

"Tapi tetap cinta, 'kan?"

"Ish, diam!" Wajah Taufan tambah memerah, Halilintar tidak dapat menahan tawanya lebih lama lagi. Dia pun beranjak berdiri dan mulai berjalan ke tempat tidurnya lagi. Tapi sebelum itu, Taufan berdiri terlebih dahulu dan menarik kerah milik Halilintar dan..

Chu!

Taufan mendaratkan ciumannya ke bibir Halilintar dengan cepat. Membuat Halilintar sedikit kaget apa yang dilakukan oleh Taufan itu, tapi setelah itu Halilintar hanya tersenyum kecil dan mengacak-acak rambut Taufan dengan gemas sebelum kembali memungut buku novelnya untuk dibaca kembali.

Menghiraukan Taufan yang sekarang duduk di sofa sambil menutupi wajahnya yang memerah dengan topi Halilintar yang tergeletak disana.

.

.

Di pintu kamar yang sedikit terbuka itu, terlihat beberapa remaja melihat kejadian HaliTau tadi. Thorn yang melihatnya sedikit takjub bahkan wajahnya ikutan memerah, Solar menahan gelak tawanya saat peristiwa imut itu terjadi dengan sebuah kamera di tangannya mengambil foto-foto tadi, Ice mengangguk-ngangguk melihatnya, dan Gempa cuma tersenyum kecil kepada Ice.

"Nah, Ice, sekarang kau tahu penyebabnya, 'kan? Aku tidak mau Kak Taufan diserang oleh Kak Halilintar bila hanya berdua saja."

"Aku mengerti sekarang, Kak Gempa."

"Oh ya, Solar, Kak Ice, kenapa di tangan kalian ada kamera?" tanya Thorn yang penasaran dengan dua buah kamera di tangan Adik serta Kakaknya itu. "Dan, dimana Kak Blaze?"

"Kak Thorn yang manis, ini untuk Kak Blaze agar dia tahu kejadian tersebut," jawab Solar bersemangat dibalas Thorn yang membulatkan bibirnya.

"Solar bertugas untuk mengambil beberapa foto, dan aku bertugas untuk mengambil video tadi. Lagipula, kejadian itu sangat menggemaskan." Ice menambah perkataan Solar.

Gempa hanya geleng-geleng melihat kelakuan para Adik Kembarnya itu. "Kalau Kak Halilintar tahu ini, dia bisa membunuh kalian loh. Tapi memangnya Blaze kemana sih?"

"Kak Blaze katanya pergi ke Kedai untuk suatu urusan dengan Ochobot, dan rekaman ini akan kutunjukkan padanya nanti, fufufu~!" Jawab Ice menampilkan seringaiannya.

Gempa semakin dibuat sweatdrop melihat perilaku Ice yang ternyata diam-diam tertular oleh Blaze itu. "Dasar fudanshi, kalian berdua sudah tercemar oleh Blaze."

Solar dan Ice hanya saling menatap, lalu menyeringai secara bersamaan. Sementara Thorn hanya memandang bingung, "Fudanshi? Apa itu semacam makanan?"

Solar menepuk-nepuk kepala Thorn dengan lembut. "Kakak masih terlalu polos untuk mengetahu hal ini."

.

Meanwhile in Blaze's place now.

"Kenapa perasaanku menjadi sangat senang tanpa alasan, ya?"

.

.

.

Halilintar x Taufan : END

.

.

Next pair : ?