Halo semuaaaaaa xD maaf Miza baru kembali sekarang dari hiatus~ *ditabok. Miza baru bisa up karena coretidenyamendadakilangcoret file yang lama ilang gegara harddisk Miza rusak QwQ *sobbing*
Yah, maaf juga kalau pendek, karena Miza bikinnya ngebut xD
Juga, Miza gak mau basa-basi lagi, entar terlalu lama jadinya kadaluarsa. Jadi, ini balasan reviewnya~ xD
Balasan review:
haruka:
Karena biar makin seru, dirahasia-in dong~ xD kecuali untuk chapter ini soalnya chapter selanjutnya adalah chapter terakhir dan kayaknya sia-sia kalau dirahasiakan lagi.
AAHH MAKASIH UDAH BILANG FIC INI SERU QAQ *peluk haruka*
nevyandini:
JANGAN KERASUKAN- *siram air suci* /ditabok. Waduh, samaan udah cinta sama pair BlIce xD
Karena Hali yang dingin, datar, dan kejam sudah gak anti mainstream lagi, makanya digantiin sama Hali yang bisa ngegombal dan mesum 7w7)
Aduh, makasih ya sama semangatnya :"D
.
.
Disclaimer : Animonsta Studios
Genre : Romance
Warning : bxb, yaoi, fluff, misstypos, gaje, bromance, dan banyak lagi!
.
.
Don't Like Don't Read!
Pocky
.
.
.
2. Kaizo x Ochobot
.
.
"Ochobot! Tunggu dulu!"
Lelaki berambut pirang madu dengan setiap ujung berwarna hitam itu tidak menanggapinya, menoleh saja tidak, dan memilih tetap berjalan dengan cepat. Meninggalkan sosok pria berambut biru gelap yang mencoba mengejarnya di lorong kampus.
"Ocho! Ayolah, aku minta maaf, oke?"
"Kau menggodanya, Kaizo! Tepat di depan mataku!"
"Itu hanya permainan yang kumainkan dengan Sai dan Shielda! Aku benar-benar tak bermaksud, dan mana aku tahu kau sedang mencariku?"
Ochobot berbalik arah, menatap Kaizo sebal. "Maksudmu, aku datang pada waktu yang salah? Begitu?"
"Err.." Kaizo tidak bisa membalasnya, sorot mata Ochobot makin menakutkan.
"Sudah kuduga!" Seru Ochobot tanpa aba-aba berlari meninggalkan Kaizo, membiarkan Kaizo menatap kepergiannya dengan jawdrop berat.
"OCHOBOT!" Kaizo mencoba memanggil Ochobot, tapi sayang sekali sang pemilik nama sudah menghilang di keramaian. "Sialan!" Umpatnya mengacak rambutnya frustasi.
Sai dan Shielda muncul dari belakang Kaizo sambil tertawa puas. "Aku tak menyangka bahwa Ochobot akan memergoki Kaizo!" Sai makin tertawa keras, sedangkan Shielda memilih meredakan tawanya.
"Kau tak apa, Kai?" tanya Shielda tersenyum geli sambil menepuk bahu sahabatnya.
"AGH! Ini semua salah kalian! Kenapa juga harus menggoda seseorang?! Mana lagi Ochobot melihatnya!" Kaizo berseru kesal, sangat kesal, hingga suaranya yang selalu menapak di volume terendah bisa naik sampai puncaknya begitu saja.
"Whoa, jangan ngamuk dulu Kai," balas Sai, "kami akan mencari cara biar kalian bisa baikan lagi."
"Yah, dia benar."
"Aku tak perlu bantuan kalian, dan bila aku dengan Ochobot malah putus, maka aku akan menghantui kalian berdua, SE-LA-MA-NYA!" Kaizo mendengus kasar dan meninggalkan kedua orang itu.
Sai dan Shielda saling bertatapan heran, tapi kemudian mengangkat bahu mereka bersamaan karena tak peduli.
"Mau ke pusat taman?"
"Boleh."
=o^o=
Kaizo buru-buru menuju ke Kedai Tok Aba sambil menenteng tas selempangnya, bisa saja Ochobot berada di sana, sedang bekerja untuk melupakan semua hal tentang hari ini di kepalanya. Tapi pria itu tidak menemukan sang kekasih, hanya ada Adiknya dan sepupu Ochobot di Kedai tersebut, sedang mengobrol ringan.
"Oh hai, Kaizo," sapa BoBoiBoy tersenyum manis, "kenapa penampilanmu.. begitu luar biasa?" senyum manisnya luntur setelah melihat keadaannya.
Rambut terlihat kusut dan acak-acakan, baju yang berantakan, napasnya sangat memburu karena berlari marathon, dan aura yang menguar dari tubuh Kaizo benar-benar mengerikan.
Yah, sekarang dia memang 'lumayan' berantakan.
Fang nampak tak peduli sama sekali pada Abangnya tersebut, buktinya dia hanya memainkan ponselnya tanpa menengok sedikitpun padanya. Adik durhaka, memang.
"Ochobot ada di mana sekarang?" tanya Kaizo to the point pada adik ipar–ehem, calon adik iparnya tersebut.
"Kaizo," panggil Fang kemudian, menyela BoBoiBoy yang akan berbicara.
"Ya?"
"Kau buta atau apa?" sindir Fang membuat Kaizo emosi sekali lagi.
"Apa maksudmu?"
BoBoiBoy menghela napasnya pasrah sebelum menatap langit biru, mencoba untuk tak melerai pertengkaran Kakak-Adik di depannya.
"Maksudku," balas Fang berdehem sebentar, "kau memangnya tak melihat Ochobot sedang duduk di sana?" Fang melirik ke arah barat dengan perlahan, Kaizo mengikuti lirikan Fang tersebut, dan menepuk dahinya keras. "Dasar bodoh," ejek Fang membuang napasnya.
Di arah barat, ada Ochobot sedang duduk membelakangi mereka sambil memakai earphone miliknya dan mengerjakan sesuatu yang sepertinya tugas, tapi dengan wajah yang sangat-sangat (dan sangat!) datar bak dinding. Jelas saja dia tidak menyahut, karena volume musik yang dia dengarkan pasti mencapai max –tipikal Ochobot bila marah maupun kesal.
"Astaga," gumam Kaizo yang baru sadar, dia ingin mendekati Ochobot tapi takut ditendang olehnya karena aura kelam yang dikeluarkannya (dia menduga bahwa orang lainpun bisa merasakannya dalam jarak radius 100 meter).
"Takut menyapanya, eh?" BoBoiBoy tergelak melihat raut kesal Kaizo yang mendengar kalimatnya.
"Hanya bingung saja, tahu. Lebih baik aku membawakan sesuatu padanya, mungkin makanan yang dia suka."
"Seperti pocky? Dia suka itu."
Kaizo berpikir sebentar, dia baru saja tahu bahwa Ochobot suka dengan makanan berbentuk stick tersebut. Lalu mengangguk tanpa sebab sebelum berdiri, "Terima kasih masukannya, BoBoiBoy!" Ujarnya menepuk kepala BoBoiBoy sebentar, setelah itu berlari lagi ke suatu tempat.
Fang menatap bosan Abangnya, "Aku bertaruh dia baru tahu kalau Ochobot suka dengan pocky," ucap Fang.
"Yah, kau benar," tanggap BoBoiBoy sedikit sweatdrop.
=o^o=
Kaizo tak mau menghabiskan banyak waktu di minimarket hanya untuk memilih-milih rasa makanan yang akan dia beli, pria itu mengambil sembarangan salah satu bungkus yang terjejer rapi di rak, membayarnya lalu keluar. Rasa yang dia beli ternyata double chocolate, berarti manisnya juga akan bertambah dan Ochobot pasti senang dengan ini.
Pria itu masih melihat kedua remaja tersebut tetap berada di tempat mereka yang semula, dengan tasnya yang tergeletak di atas meja dan dijadikan tumpuan Fang untuk laptopnya.
Tasnya yang malang.
Kaizo menyiapkan mentalnya terlebih dahulu sebelum pergi ke Ochobot, berusaha bersikap sewajarnya meski dia yakin dirinya sekarang terlihat aneh.
"Hey," sapanya kemudian duduk di depan Ochobot.
Ochobot hanya menatapnya sebentar sebelum beralih kembali bukunya, Kaizo meringis.
"Kau masih marah?" tanya Kaizo cuma dibalas dengan anggukan kecil, "maafkan aku?"
Kali ini Ochobot benar-benar menatapnya lama, dan mencopot salah satu earphonenya. "Apa? 'Maafkan aku'? Kau gila," balasnya.
"Yeah, aku memang gila bila berurusan denganmu, sweetie," balas Kaizo tak mau mengalah, dan menyeringai kecil saat rona tipis sedikit terlihat di pipi putih Ochobot.
Ochobot mendengus sebentar, Kaizo membuang napasnya lagi. "Dengar, Ocho," ujar Kaizo mengelus punggung tangan Ochobot pelan, "aku sangat tidak bermaksud untuk menggoda perempuan itu. Aku terpaksa, ini karena Sai dan Shielda, mereka mengancamku bila aku tak melakukan ini maka fotoku ketika masih anak-anak akan tersebar. Itu bisa merusak reputasiku, tahu," jelas Kaizo tersenyum lembut.
Ochobot diam sejenak, dia meletakkan pensil yang sedari tadi dia pegang untuk menulis. "Kau jujur, bukan?"
"Kapan aku membohongimu?"
Ochobot tertawa geli, Kaizo mulai melebarkan senyumannya ketika sang kekasih itu terkekeh. "Baiklah, aku memaafkanmu kalau begitu," ujar Ochobot kemudian membuatnya bersorak kecil.
"Aku mencintaimu!" Kaizo mengacak surai Ochobot dengan sangat gemas.
"Aku tahu," gumam Ochobot lalu memegang tangan Kaizo, "aku tahu." Lalu tersenyum manis padanya.
"Oh, aku hampir lupa," ujar Kaizo kemudian mengeluarkan sekotak pocky dan memberikannya pada Ochobot, "untukmu," lanjutnya.
Iris safir Ochobot berbinar senang, "Thanks!" Serunya girang, tapi saat akan mengambilnya, Kaizo malah menariknya lagi menjauh darinya, Ochobot menatapnya heran dan protes sekaligus.
"Suapan pertama aku yang melakukannya," ucap Kaizo cepat mengambil sebatang pocky, "buka mulutmu," perintahnya.
Ochobot mengangguk bersemangat, dia menuruti perintah Kaizo, membuka mulutnya sedikit. Dia memandang Kaizo lagi dengan bingung kenapa Kaizo malah terdiam saja, padahal dia sudah membuka mulutnya!
"Hey, Ocho! Lihat!" Kaizo mendadak menunjuk ke arah langit, dia reflek mengikuti gerakan Kaizo untuk melihat apa yang terjadi.
Tidak ada apa-apa.
"Huh? Tak ada ap-uhm!" Warna merah menjalar dengan cepat di wajah manis Ochobot ketika Kaizo tiba-tiba mencium bibirnya, dia memberontak, tapi tenaga Kaizo lebih kuat.
Kaizo mencengkram kedua tangannya sambil menyeringai lebar diam-diam, dia mendalami ciuman mereka semampunya. Ochobot sedikit melenguh, lalu Kaizo memutuskan untuk melepas pagutan mereka, membuat Ochobot terengah-engah karena kehabisan napas.
Ochobot menatapnya kesal (lagI), meski dia mengukir senyuman malunya. "You're jerk, Kai, jerk!" Umpatnya malah membuat Kaizo tertawa kepas.
"Maaf-maaf," balas Kaizo meredakan tawanya, "kali ini aku berjanji!" Kaizo kembali tersenyum lebar.
Ochobot merebut kotak pocky tersebut beserta sebatang pocky di genggaman Kaizo, "Kurasa aku bisa sendiri, Kai," ujar Ochobot.
Keduanya kemudian saling melemparkan tawa mereka, kembali berbaikan setelah pertengkaran tadi.
Tanpa tahu bahwa Fang dan BoBoiBoy merekam mereka melalui kamera laptop milik Fang.
.
.
Kaizo x Ochobot : END
.
.
Last pair : Fang x BoBoiBoy
