'Aku tahu aku tidak akan memilikimu seutuhnya. Namun walaupun begitu, aku menolak untuk melepasmu..'

.

.

.

AFFAIRS

Rate: M

Genre: Romance, Drama, Angst, Family

.

.

.

Disclaimer: Kuroko no Basuke (黒子のバスケ) – Fujimaki Tadatoshi

Pairing: Akashi Seijuurou X OC, Slight Mayuzumi Chihiro X OC

Warning: Little OOC

.

.

.

Chapter 2

"… Seijuurou-kun? Apa kau mendengarku?" tegur sosok cantik bersurai pendek berwarna coklat muda pada pria di depannya. Pria di depannya itu pun menatap gadis tersebut dengan pandangan kikuk.

"Maaf aku tidak dengar, bisa tolong ulangi?" pinta sosok tersebut. Gadis di depannya hanya menghela napasnya.

"Aku bilang, bagaimana jika resepsi pernikahan kita disini?" ulang Haruka sambil menunjuk gambar di majalah yang memuat foto-foto tempat pernikahan. Akashipun hanya menatap gambar itu dengan pandangan malas.

"… Terserah." jawab Akashi singkat.

"Untuk cincin pernikahan, bagaimana jika pesan ke kenalanku saja? Kita bisa mendesain sendiri di sana!" kata Haruka semangat.

"Terserah." jawab Akashi monoton, dia benar-benar tidak mood untuk membicarakan ini sekarang. Pikirannya ada pada gadis bersurai coklat panjang yang ada di luar kota sana.

"Oia, untuk baju pernikahan…" Harukapun terlihat berpikir sejenak, "Bagaimana jika menggunakan desain buatan Shizuka? Dia jago menggambar kan?" saran Haruka. Akashipun terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Haruka tadi.

"… Terserah." jawab Akashi akhirnya dengan nada yang rendah, lalu ia kembali menyeruput kopinya.

"Hhh… Dan untuk tanggal pernikahan… Bagaimana jika akhir tahun ini? Bertepatan dengan christmass eve?" Perkataan Haruka ini membuat Akashi langsung terlonjak dan hampir tersedak oleh kopi yang diminumnya.

"Tidak." jawab Akashi cepat.

"Eh? Kenapa? Itu moment yang bagus kan?" protes Haruka.

"Aku sibuk." alasan Akashi.

"Itu malam natal Seijuurou-kun!" protes Haruka lagi.

"Tetap saja aku harus bekerja lembur." Harukapun terdiam mendengar alasan Akashi itu. Dia hanya memalingkan wajahnya keluar jendela restoran tempat mereka bertemu saat ini menatap keramaian orang di depan sana.

"Ngomong-ngomong kau mengajakku bertemu hanya untuk membicarakan hal ini?" tanya Akashi dingin.

"Memangnya kenapa kalau iya?" kata Haruka sinis. Dia kesal pada pria di depannya ini, dia selalu memperlakukan Haruka dingin, dan tidak pernah mau menatapnya. Bahkan walaupun Haruka sudah bertindak nekat dengan mengiris nadinya sendiri hanya agar Akashi memperhatikannya dan bersikap lembut padanya. Namun tetap saja gagal.

"Buang-buang waktu." kata Akashi pendek namun sangat menusuk di hati Haruka. Harukapun memilih untuk diam dan membuang pandangannya ke lantai sambil meremas ujung rok yang dipakainya. Hening di antara mereka.

"Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, maka aku akan pulang." kata Akashi sambil bangkit dari tempat duduknya. Harukapun menarik lengan Akashi untuk menghentikannya.

"Kau tidak mengantarku pulang?" tanya Haruka.

"Maaf, aku harus secepatnya kembali ke kantor. Ada dokumen penting yang harus kuambil." kata Akashi beralasan.

"… Baiklah. Kalau begitu." kata Haruka akhirnya, namun tiba-tiba Haruka menarik kerah kemeja Akashi dan menempelkan bibirnya di bibir Akashi dengan paksa. Akashipun langsung mendorong Haruka untuk menjauh darinya.

"Haruka! Sudah kubilang jangan melakukan itu lagi! Apalagi ini tempat umum!" marah Akashi. Namun Haruka hanya membalasnya dengan senyuman.

"Memangnya kenapa? Kau sudah pernah melakukan yang lebih 'kan dengan Shizuka? Kenapa kau marah hanya karena hal ini?" kata Haruka sambil tersenyum penuh kemenangan namun dengan rasa sakit di nada bicaranya. Mendengar itu Akashipun membelalakan matanya kaget.

"Apa mak–"

"Aku tahu," potong Haruka. "Aku tahu apa yang kau lakukan dengan Shizuka. Semuanya." lanjutnya dengan nada dingin.

"Kalau kau sudah tahu, lalu kenapa masih mempertahankan pertunangan ini?" tanya Akashi berusaha tetap tenang.

"Makanya kubilang memangnya kenapa? Apapun yang kau lakukan, aku tetap tidak akan memutuskan pertunangan ini." jawab Haruka yang membuat Akashi bungkam.

"Tch… Terserah kau saja. Satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah memberikan hatiku padamu." jelas Akashi dingin. Lalu ia beranjak pergi meninggalkan Haruka yang hanya menatap punggungnya dengan tatapan sendu.

'Aku tahu aku tidak akan memilikimu seutuhnya. Namun walaupun begitu, aku menolak untuk melepasmu.' batin Haruka. Namun perlahan cairan bening turun dari bola matanya.

"Aku pulang." kata Haruka saat memasuki rumahnya.

"Kau baru pulang Haruka? Seijuurou-kun?" tanya ayahnya.

"Iya. Seijuurou-kun ada urusan mendadak di kantornya. Jadi tadi aku pulang sendiri." jawab Haruka.

"Begitukah? Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Seijuurou-kun?" Harukapun terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari ayahnya.

"Kami baik-baik saja ko' ayah. Jangan khawatir." kata Haruka dengan senyum palsu yang tersungging di wajahnya.

"Baguslah. Jagalah hubungan kalian baik-baik demi perusahaan dan keluarga ini. Kau anak pertama, jadi kau harus bertanggung jawab penuh." kata ayahnya.

"… Aku mengerti, ayah." jawab Haruka sebelum memasuki kamarnya.

Di dalam kamarnya Haruka terduduk lemas di depan meja rias sambil menatap wajahnya, lalu pandangannya beralih ke arah lengan kirinya yang masih terpasang perban yang di dalamnya terdapat luka sayatan percobaan bunuh dirinya waktu itu. Diapun mengelus luka tersebut dan tidak sengaja menyentuh cincin tunangan yang tersemat di jari manisnya. Gadis itu melihat cincin tersebut dengan pandangan sendu dan mengecup permata yang terdapat di cincin tersebut.

"Aku tidak akan melepaskanmu… Seijuurou-kun…" bisiknya pada dirinya sendiri.

'Tuhan… Izinkan aku egois hanya untuk hal ini…'

.

.

.

"Okinawa~ pantai dan laut biru~ ah~ senangnya~!" kata Shizuka riang saat dia dan Chihiro tiba di Okinawa. Dia merasa di sini bisa melupakan 'sedikit' beban di kepalanya. Chihiro yang melihat kelakuan Shizuka pun tersenyum kecil dan menepuk kepala Shizuka pelan.

"Hey, kita kemari untuk pekerjaan, bukan liburan!" kata Chihiro mengingatkan. Shizuka langsung cemberut saat Chihiro mengatakan itu.

"Hmph… Kau terlalu serius sen- eh maksudku Chihiro!" kata Shizuka sambil menyilangkan lengannya.

"Kalau tidak serius, nanti ayahmu marah Shizuka…" Jelas Chihiro.

"Ha'iHa;i…" Kata Shizuka malas.

"Jangan begitu… Jika urusan pekerjaan sudah beres, kita bisa jalan-jalan sepuasnya. Sekarang ayo ke hotel untuk menaruh barang, kau juga harus cukup istirahat, besok kita akan bertemu klien." Shizukapun tertawa mendengar ucapan Chihiro yang lebih seperti seorang ayah yang sedang membujuk anaknya agar tidak ngambek.

"Chihiro, kau tidak berubah ya…" kata Shizuka di sela tawanya. Wajah Chihiropun agak memerah mendengar perkataan Shizuka, namun tidak lama kemudian sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya.

"Kau juga tidak berubah…" Kata Chihiro sambil menggenggam tangan Shizuka. Shizuka hanya tersenyum mendengar itu dan mengabaikan genggaman tangan Chihiro. Baginya itu hal yang wajar, mereka selalu seperti ini saat SMA, namun hubungan mereka mulai berubah saat Shizuka berpacaran dengan Akashi. Shizuka merasa Chihiro menjaga jarak dan mulai menjauhinya, hingga akhirnya mereka benar-benar lost contact saat Chihiro lulus. Maka dari itu, sekarang Shizuka ingin memperbaiki hubungan mereka lagi. Namun satu hal yang sangat disayangkan, Shizuka tidak pernah menyadari perasaan Chihiro padanya…

Shizuka sedang beristirahat santai di ranjang hotel yang empuk dan nyaman itu. Sampai sebuah suara ketukan pintu mengganggu kegiatan tidur-tidurannya itu. Dengan malas Shizuka membuka pintu tersebut.

"Waktunya makan malam. Ayo." ajak Chihiro pada Shizuka yang langsung dijawab dengan anggukan cepat. Saat ini mereka berada di restoran yang ada di hotel tempat mereka menginap. Sambil makan malam, Shizuka dan Chihiropun membicarakan pekerjaan mereka, dan apa saja yang harus disiapkan untuk bertemu klien mereka.

"… Yah begitulah pokoknya, sebaiknya kita persiapkan saja apapun yang akan kita hadapi besok." kata Chihiro mengakhiri obrolan mereka mengenai pekerjaan. Sementara Shizuka tersenyum memandangnya.

"Kenapa?" tanya Chihiro bingung. Shizukapun menggelengkan kepalanya pelan.

"Kau memang benar-benar tidak berubah ya…" kata Shizuka sambil tersenyum.

"Hey, kau mendengarkan dengan serius tidak apa yang kukatakan tadi, huh?" kata Chihiro sambil menjitak Shizuka pelan.

"Aku dengar ko'! Sesuatu mengenai saham dan kawan-kawannya kan?" kata Shizuka cemberut, Chihiropun menghela nafasnya.

"Dasar kau ini…" gumam Chihiro pelan.

"Chihiro, kalau kau terlalu serius, tidak ada perempuan yang mau bersamamu loh!" kata Shizuka mengingatkan.

"Bagiku tidak masalah jika tidak ada perempuan lain yang mau bersamaku, asalkan aku bisa bersama dengan satu orang," jawab Chihiro tenang.

"Hm? Siapa? Siapa?" tanya Shizuka penasaran. Chihiropun menatap Shizuka dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Dengan perempuan yang berada di hadapanku saat ini." jawab Chihiro dengan senyum lembutnya.

"Eh?" Kata Shizuka bingung berusaha memproses kata-kata lelaki bersurai abu-abu ini. Namun tiba-tiba ponsel Shizuka berbunyi sehingga Shizukapun mengalihkan perhatiannya pada ponselnya, apalagi saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

"Chihiro, maaf, aku permisi dulu." pamit Shizuka, diapun meninggalkan Chihiro untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Tch…" decih Chihiro kesal.

"Moshi-moshi?" sapa Shizuka.

"Hn. Sedang apa?" tanya suara diseberang sana.

"Makan malam sambil membicarakan pekerjaan, kau sudah makan belum?"

"Sudah. Dengan siapa?"

"Chihiro."

"Chihiro?" ulang suara di seberang sana dengan nada cemburu.

"Iya. Jangan berbicara dengan nada seperti itu, kami partner, wajar kan jika kami makan malam bersama." jelas Shizuka.

"Ck, terserahlah," kata Akashi kesal.

"Hhh… Kau ini… Kenapa meneleponku?"

"Tidak apa-apa… Hanya merindukanmu. Cepatlah pulang." kebiasaan Akashi kambuh jika Shizuka keluar kota, dia pasti akan meneleponnya agar cepat kembali.

"Pfft… Apa-apaan itu? Bersabarlah, empat hari lagi aku pulang." kata Shizuka sambil tertawa kecil.

"Itu lama." gerutu Akashi.

"Dasar tidak sabaran," gumam Shizuka, "Sei, apa masih ada yang ingin dibicarakan? Jika tidak, aku tutup ya…" kata Shizuka selanjutnya.

"Hn, baiklah," kata Akashi, "Aishiteru…" bisiknya di akhir kalimat. Shizuka yang mendengar itu wajahnyapun merona, walaupun dia sudah berkali-kali mendengar kalimat itu dari bibir Akashi, tetap saja dia merasa malu.

"Aaishiteru mo…" bisik Shizuka pelan, tidak ada jawaban dari sana, namun Shizuka yakin kalau sekarang Akashi sedang tersenyum. Shizukapun memutuskan panggilan tersebut dan kembali ke meja Chihiro.

"Dari siapa?" tanya Chihiro.

"Se–Seijuurou…" jawab Shizuka gugup.

"Oh." respon Chihiro singkat. Saat ini muncul perasaan tidak nyaman di dadanya yang di sebut 'cemburu'. Dan entah kenapa atmosfer di sekitar mereka berubah, Shizukapun merasa tidak nyaman dengan atmosfer tersebut. Diapun mulai memakan makanannya kembali.

"Chihi– " kalimat Shizuka terhenti saat merasakan ibu jari Chihiro mengusap ujung bibirnya lembut.

"Ada saus menempel," kata Chihiro. "Dasar, makan saja masih berantakan…" gumam Chihiro.

"Uurusai…" bisik Shizuka, entah kenapa jantungnya berdebar kencang saat di perlakukan seperti itu oleh Chihiro. Setelah itu merekapun menyelesaikan makan malamnya dan kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Shizuka yang lelah, langsung tertidur pulas, lain halnya dengan Chihiro, dia masih tidak bisa berhenti memikirkan kejadian barusan.

'Kapan kau menyadari perasaanku, Shizuka?' batin Chihiro sambil memikirkan Shizuka. Dia lelah menahan perasaannya selama ini. Namun Chihiro tahu di hati Shizuka hanya ada Akashi. Ah… Seandainya dulu dia menyatakan perasaannya lebih dahulu dibanding Akashi, mungkin sekarang dialah yang berada di hatinya. Chihiro hanya bisa menyesali 'keterlambatan'nya sekarang…

.

.

.

Keesokan harinya, Chihiro dan Shizuka bertemu dengan klien mereka, beruntunglah karena kemampuan negosiasi mereka yang baik, mereka dengan cepat membereskan urusan pekerjaannya, namun tetap saja selama dua hari mereka selalu rapat yang benar-benar membuat Shizuka bosan setengah mati, namun setidaknya kesibukan mereka selama dua hari itu tergantikan oleh 'liburan' di Okinawa.

"Chihiro… Ayo kita jalan-jalan…" ajak Shizuka. Dia benar-benar butuh refreshing, rapat dua hari berturut-turut mengenai perusahaannya membuat kepalanya ingin pecah.

"Sebentar ya, aku harus menyelesaikan laporanku dulu." kata Chihiro tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya.

"Ada yang bisa kubantu?" tanya Shizuka, Chihiropun tertawa kecil mendengar pertanyaan Shizuka itu.

"Tidak perlu… Aku tahu kau lelah, kau istirahat saja dulu sana, atau kau mau jalan-jalan sendiri juga tidak apa-apa…" tolak Chihiro.

"Tidak mau. Aku ingin pergi bersamamu," tolak Shizuka, "Ngomong-ngomong kau hebat sekali sih, bisa menghadapi para pak tua itu dengan tenang, aku mati-matian menahan emosiku saat mereka bertanya yang rumit-rumit yang bahkan menurutku tidak penting untuk dijawab." keluh Shizuka sambil mengingat rapat tersebut.

"Yah, lama-lama kau biasa ko' Shizuka… Aku juga awalnya sepertimu…" kata Chihiro. Tidak lama kemudian hening di antara mereka, hanya terdengar suara keyboard yang digunakan oleh Chihiro dan suara ombak karena hotel yang mereka tempati itu dekat dengan laut. Dua jam kemudian, laporan yang diketik oleh Chihiro selesai, Chihiropun merenggangkan badannya sebentar dan melihat kearah Shizuka yang ternyata sudah tertidur di kasurnya. Chihiro tersenyum kecil melihatnya, dan mendekat ke arahnya. Diapun mengusap lembut helaian rambut milik Shizuka dan menatap wajah tidurnya.

"Bagiku, menahan perasaanku saat bersamamu jauh lebih sulit dibandingkan berdebat dengan para pak tua itu." kata Chihiro pelan agar tidak membangunkan Shizuka. Diapun menggenggam tangan Shizuka, dan berniat untuk mengklaim bibir Shizuka. Saat jarak mereka sudah semakin dekat…

"Sei… Juu… Rou…" gumam Shizuka tidak sadar. Chihiropun langsung menarik dirinya sendiri untuk menjauh dari wajah Shizuka.

"Bahkan dalam tidurpun hanya namanya yang kau panggil ya?" kata Chihiro sambil tersenyum sedih. Diapun mendaratkan ciumannya didahi Shizuka.

"Oyasuminasai, Shizuka…" bisik Chihiro. Lalu ia menyelimuti Shizuka dan meninggalkan kamarnya untuk menghirup udara segar di luar.

.

.

.

"Tunggu, apa maksudnya ini ayah?! Lagi-lagi kau memutuskan seenaknya!" kata pria bermata heterokom marah sambil menatap pria di depannya yang berusia jauh lebih tua darinya. Dia marah setelah melihat contoh undangan pernikahannya dan sang tunangan, apalagi saat melihat tanggalnya.

"Memangnya kenapa? Kalian sudah dewasa dan sudah bertunangan empat bulan, lagipula Haruka dan ayahnya juga menyetujuinya. Jadi apa salahnya jika akhir tahun ini menikah?" kata ayahnya tenang.

'Cih… Perempuan itu…' batin Akashi kesal mengingat Haruka.

"Tapi setidaknya kau harus meminta persetujuanku dulu! Yang akan menikah itu aku, bukan ayah!" bantah Akashi.

"Kalau aku meminta persetujuanmu dulu, kau pasti menolak dan menunda-nundanya dengan berbagai macam alasan, cukup diam dan lakukan apa yang kusuruh!" perintah ayahnya dan berjalan meninggalkan Akashi.

"Tunggu, ayah! Aku-!" belum selesai Akashi menyelesaikan kalimatnya, ayahnya sudah pergi dari hadapannya.

"Sial!" teriak Akashi emosi sambil memukul tembok di sampingnya, mengabaikan rasa sakit yang akan diterimanya.

"Shizuka… Cepatlah kembali…" bisik Akashi sambil mengingat wajah perempuan yang sangat dicintainya itu.

.

.

.

"Huaah… Akhirnya bisa santai juga… Chihiro, nanti ayo cari oleh-oleh, besok kita pulang kan!" Kata Shizuka riang, saat ini dia dan Chihiro sedang berjalan-jalan menelusuri pantai.

"Ha'I ha'i…" jawab Chihiro sambil tersenyum simpul. Tiba-tiba Chihiro melihat sebuah kios yang menjual berbagai accecories yang terbuat dari kayu, diapun pergi ke tempat itu dan melihat sebuah cincin kayu yang bermotif ukiran bunga. Chihiropun membelinya.

"Ng? Kau beli apa?" tanya Shizuka penasaran. Namun bukannya menjawab pertanyaan Shizuka, dia malah tersenyum menatapnya.

"Kemarikan tangan kirimu." perintah Chihiro, Shizukapun menyodorkan tangan kirinya bingung. Namun wajahnya langsung merona saat Chihiro memasukan cincin kayu yang tadi dibelinya di jari manisnya.

"Ternyata memang pas untukmu," kata Chihiro sambil tersenyum.

"Chihiro…" bisik Shizuka malu sambil menatap cincin itu, Chihiropun hanya menatap Shizuka dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.

"Shizuka, aku-" dan lagi-lagi ponsel Shizuka berbunyi dan menghancurkan suasana romantis yang susah payah diciptakan oleh Chihiro.

"Ck…" decak Chihiro kesal.

"A-ah! Maaf, aku angkat dulu ya!" kata Shizuka merasa tidak enak pada pria di depannya ini. Diapun mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama siapa yang meneleponnya.

"Moshi-moshi?" sapa Shizuka.

"Moshi-moshi, Shizuka?" mata Shizukapun membelalak menyadari siapa yang meneleponnya.

"Ne-Nee-san?" kata Shizuka canggung.

"Kenapa nada bicaramu begitu, hm?" walaupun Shizuka tidak melihatnya, dia tahu Haruka sedang tersenyum mengejek di seberang sana.

"Tidak apa-apa, aku hanya kaget kau tiba-tiba meneleponku. Ada apa?" tanya Shizuka berusaha menenangkan dirinya.

"Aku ingin minta tolong padamu untuk membuatkanku desain wedding dress. Kau jago menggambar kan?" pinta Haruka.

"E-eh? Wedding dress?" ulang Shizuka dengan nada terkejut.

"Iya. Aku dan Seijuurou-kun akan menikah akhir tahun ini," kata Haruka riang, sementara Shizuka membelalakan matanya terkejut, dadanya terasa sangat sakit mendengarnya.

"Menikah…? Akhir tahun ini…?" gumam Shizuka dengan suara bergetar, Chihiro yang melihat perubahan ekspresi Shizuka yang tiba-tiba seperti itupun menatapnya khawatir.

"Shizuka? Kau mendengarku?" panggil Haruka.

"A-ah, iya aku mendengarmu, nee-san. Baiklah kalau begitu… Akan kubuatkan…" kata Shizuka lemah.

"Benarkah?! Terima kasih Shizuka!"

"Un… Sama-sama…" jawab Shizuka dengan senyum yang dipaksakan.

"Ah, iya, pengumuman resminya akan diadakan di hotel yang waktu itu tiga hari lagi! Pastikan kau datang ya!"

"Iya, pasti…" jawab Shizuka singkat, sebelum memutuskan panggilan. Sekarang, ia berusaha menahan air matanya yang bisa keluar kapan saja, dia merasa tidak enak karena ada Chihiro disisinya. Namun Chihiro sudah menyadari ada yang aneh dengan Shizuka, diapun menggenggam tangan Shizuka dan menatapnya khawatir.

"Ada apa?" tanya Chihiro perhatian.

"Nee-san akan menikah…" jawab Shizuka dengan senyum yang lagi-lagi dipaksakan.

"Haruka? Dengan siapa?" tanya Chihiro lagi. Shizukapun mengumpulkan kekuatan untuk menjawab pertanyaan Chihiro tersebut.

"Seijuurou…" jawab Shizuka pelan dengan nada bergetar. Mendengar jawaban Shizuka, Chihiropun membelalakan matanya terkejut.

"Seijuurou?! Akashi Seijuurou?! Bukannya dia-" ucapan Chihiro terhenti saat melihat air mata menuruni wajah cantik Shizuka.

"Shizuka…" kata Chihiro khawatir sambil mengusap air mata yang menuruni wajah Shizuka. Namun refleks Shizuka mundur agak menjauh dari Chihiro.

"Maaf Chihiro, maaf aku menangis di hadapanmu… Kau pasti kaget ya? Maaf ya?" kata Shizuka sambil menghapus air matanya sendiri dan memaksakan diri untuk tersenyum. Chihiro yang tidak tahan melihat wajah Shizuka yang seperti itu, langsung menarik Shizuka ke pelukannya dan menempelkan bibirnya di bibir Shizuka.

"Chihiro… Kenapa…?" tanya Shizuka setelah Chihiro melepaskan ciumannya.

"Aku mencintaimu Shizuka…" bisik Chihiro di telinga Shizuka, mengatakan perasaan yang selama ini ditahannya. Shizuka hanya bisa terdiam tidak percaya mendengar kata-kata yang tadi diucapkan Chihiro. Chihiropun menatap wajah Shizuka dan mengusap pipinya lembut.

"Izinkan aku menggantikan Akashi di hatimu." tegas Chihiro pada Shizuka. Dan Shizuka hanya bisa menatap pria didepannya dengan pandangan bingung dan terkejut.

.

.

.

TBC

Author's note:

Well, ini chap 2-nya… Maaf kalau mengecewakan… m(_ _)m

Mau balas review dulu yah~ xD

Aoi Yukari : Gehehe… Iya bahkan otak author pun ikut complicated(?)~ xD #apaancoba
Makasih reviewnya~ :D

ABNORMALholic : Ahaha… Me-mesum kah? Well, mesum yang tidak mesum? xDa #gaje
Ini chap 2-nya, semoga suka… QwQd Makasih reviewnya~ XD

Juvia Hanaka : Ha'i~ Ini chap 2-nya~ Makasih udah review~ w

Kumada Chiyu : Iya, aku juga greget! =~= Tau tuh si Akashi! Payah ah! #dilempar gunting (Akashi: Lu yang bikin ni cerita woy! Me: Teheee~ ) Oke, ini chap 2-nya~ Terimakasih reviewnya~ :3

: Cie tsundere~ xD #digetok Ini chap 2-nya~ Makasih reviewnyaaa x3

Kanae Miyuchi : Sipp… Ini lanjutannya~ Semoga kamu suka ya… Makasih reviewnya~ :D

Okeh! Sekali lagi terima kasih buat semua yang sudah baca, baik yang review maupun yang tidak~ Apalagi yang nge fave and follow… Makasih banyak~! *titikduabintang*

Last, seperti biasa, minta review, kritik, saran, dll di kotak review~ Sampai jumpa di chap selanjutnya~! xD

Sign, Kaito Akahime