'Tidak masalah aku dikatai bodoh atau apapun, yang penting rasa cintaku padamu itu nyata…'
.
.
.
AFFAIRS
Rate: M
Genre: Romance, Drama, Angst, Family
.
.
Disclaimer: Kuroko no Basuke (黒子のバスケ) – Fujimaki Tadatoshi
Pairing: Akashi Seijuurou X OC, Slight Mayuzumi Chihiro X OC
Warning: Little OOC
.
.
.
Chapter 4
Suara muntahan terdengar dari kamar mandi. Setelah mencuci mulutnya, Shizuka memijat kepalanya sendiri, akhir-akhir ini badannya mudah lelah, dia tidak nafsu makan, sering mual, dan moodnya mudah berubah. Pria berambut abu didepannya pun menatap khawatir saat Shizuka kembali ke mejanya. Sekarang mereka sedang makan siang bersama di sebuah restoran.
"Shizuka, apa tidak sebaiknya kita ke dokter?" Kata Chihiro khawatir, Shizuka membalasnya dengan gelengan kepala.
"Tidak, tidak usah, kurasa ini hanya penyakit magh-ku… Minum obat juga sembuh…" Tolak tunangannya itu. Chihiro pun menghela nafasnya lelah.
"Baiklah, tapi kalau semakin parah, aku tidak akan segan-segan menyeretmu ke dokter!"
"Pfft… Ha'i-ha'i…" Jawab Shizuka sambil menahan tawanya. Chihiro pun tersenyum melihatnya, dia bersyukur tunangannya itu bisa tersenyum kembali walaupun gurat kesedihan masih tersirat di wajahnya. Semenjak 2 bulan yang lalu, Shizuka selalu murung, dan susah makan, dan tentu saja Chihiro tahu penyebab utamanya, Akashi. Ingin rasanya Chihiro menanyakan apa yang sebetulnya terjadi, namun ia takut malah akan melukai perasaan tunangannya, jadi dia memilih diam dan menunggu hingga Shizuka menceritakan dengan mulutnya sendiri.
"Ara? Kalian juga makan disini?" Ucap sebuah suara yang sangat keduanya kenal.
"Haruka?" Kata Chihiro menatapnya kaget, apalagi saat melihat orang yang disamping Haruka. Shizuka memilih untuk tidak bertatap mata dengan Haruka maupun Akashi.
"Boleh bergabung? Kebetulan tempat duduknya sudah penuh semua." Pinta gadis itu. Chihiro menatap Shizuka ragu, namun Shizuka membalasnya dengan anggukan kecil.
"Ah, silahkan." Setelah itu Akashi dan Haruka duduk bersama mereka, suasana dingin dan kaku tercipta diantara keempatnya. Hanya ada suara peralatan makan yang beradu dengan piring.
"Ngomong-ngomong Shizuka…" Kata Haruka tiba-tiba memecahkan keheningan diantara mereka. "Terima kasih atas desain gaunnya, aku suka, Seijuurou-kun juga…" Akashi hanya membuang pandangannya, Chihiro menatap Haruka tidak suka, dan Shizuka hanya tersenyum pahit.
"Ah? Un, sama-sama…" Jawab Shizuka pelan. Kembali suasana hening menghampiri mereka, Chihiro yang sudah muak dengan suasana itu memutuskan untuk mengajak Shizuka segera pergi dari situ.
"Maaf Haruka, Akashi, kami ada keperluan, jadi kami harus pergi sekarang. Ayo, Shizuka." Kata Chihiro tiba-tiba sambil berdiri dari tempat duduknya. Shizuka membelalakan matanya kaget, namun ia mengerti maksud Chihiro.
"Eh? Baiklah." Jawab Shizuka kemudian.
"Ara? Sudah mau pergi? Baiklah, hati-hati di jalan ya…" Kata Haruka, setelah mereka berdua pergi, dia tersenyum ke arah Akashi. "Fufu… Sepertinya mereka akrab sekali ya, Seijuurou-kun?"
"Hm." Gumam Akashi berusaha tidak peduli padahal hatinya panas.
"Ngomong-ngomong tumben sekali kau mengajakku makan siang…" Kata Haruka lagi, memang hal yang langka Akashi mengajaknya makan bersama duluan, biasanya dialah yang harus mengajaknya dahulu.
"Memangnya salah mengajak tunanganku makan siang?" Mendengar jawaban dari Akashi, Harukapun membelalakan matanya.
"Ke-kenapa tiba-tiba?" Tanya gadis itu, Akashi hanya tersenyum, namun senyum itu bukan senyum Akashi yang biasa, ini terlihat dingin dan tanpa perasaan.
"Ini maumu kan? Karena itu kuturuti keinginanmu." Kata Akashi dengan nada suara yang kosong, emotionless. Haruka menatap tunangannya dengan ekspresi tidak percaya dan… takut? Karena baginya, itu bukanlah Akashi. Pria didepannya benar-benar terlihat kosong dan tanpa emosi, pandangan matanya juga terlihat lebih dingin dari biasanya, seolah-olah tidak ada kehangatan lagi yang tersisa.
'Seijuurou-kun…' Batin Haruka. Bukan… Bukan ini yang Haruka mau…
.
.
.
"Chihiro… Terima kasih." Ucap Shizuka tiba-tiba. Pria itupun menatapnya dengan senyum kecil.
"Bukan apa-apa… Ngomong-ngomong kau mau kemana sekarang? Masih ada waktu istirahat setengah jam…" Tawar Chihiro.
"Hmm, keliling saja bagaimana? Aku malas ke kantor…"
"Hmph, dasar… Baiklah, ayo…" Dan mereka berduapun berjalan-jalan mengelilingi taman kota itu. Tapi tiba-tiba wajah Shizuka memucat, Chihiro menatapnya khawatir.
"Shizuka, kau kenapa? Kau pucat…" Tanyanya sambil memegang pundak gadis itu. Namun Shizuka tidak menjawabnya.
"Shizuka?" Ulang Chihiro lagi, tapi tiba-tiba tubuh Shizuka terjatuh di pelukannya, Chihiropun membelalakan matanya.
"Shizuka!" Teriak Chihiro. Diapun segera menggendong Shizuka dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Ngh? Ini dimana?" Tanya Shizuka setelah tersadar dari pingsannya.
"Rumah sakit, kau tadi pingsan di taman…" Jawab Chihiro lega sambil tetap menggenggam tangannya erat. Shizuka pun menghela nafasnya.
"Ah, souka… maaf membuatmu repot…" Kata Shizuka dengan nada bersalah. Chihiro menatap tunangannya itu sendu sambil mengelus surai coklat mudanya.
"Jangan bilang begitu…" Kata Chihiro lembut.
"Ah, anda sudah sadar rupanya…" Sapa seseorang dengan jas putih, keduanyapun menatap pria tersebut.
"Dokter, jadi bagaimana hasil pemeriksaannya?" Tanya Chihiro khawatir jika tunangannya ini terserang penyakit yang berbahaya. Namun sang dokter hanya tersenyum kearah mereka.
"Tenang saja, tidak ada masalah…" Chihiro pun menghela nafasnya lega, namun kelanjutan ucapan dokter itu membuat mata keduanya membelalak. "Selamat, anda positif hamil, dan usianya 7 minggu…"
"Ha-hamil?" Ulang Shizuka, sementara Chihiro menatapnya tidak percaya, rasa sakit berkecamuk di dadanya saat mengetahui tunangannya itu hamil, dan dia tahu calon anak yang ada dalam kandungan Shizuka bukanlah anaknya.
'Kami-sama… Kali ini apa lagi…' Batin Shizuka menahan sakit, dan menatap Chihiro dengan pandangan bersalah.
"Shizuka…" Panggil Chihiro saat mereka sampai didepan pintu kamar apartemen Shizuka. Selama perjalanan keduanya tidak saling bicara.
"Chihiro… Maaf, aku ingin sendirian dulu…" Kata Shizuka lemah, Chihiro menatap tunangannya itu sendu dan menghela nafasnya berat.
"Baiklah, jika kau membutuhkan sesuatu, segera hubungi aku, oke?" Kata pria itu akhirnya dengan senyum yang dipaksakan, lalu ia mengecup dahi tunangannya itu dan pergi dari hadapannya.
Shizuka duduk termenung di kasurnya, inilah hasil dari perbuatannya dan Akashi selama ini. Ia mengelus perutnya yang masih rata. Dia tidak mungkin meminta Akashi bertanggung jawab, dia tidak ingin pernikahan kakaknya dan Akashi berantakkan karenanya, belum lagi ayahnya pun pasti akan sangat murka jika tahu janin milik siapa ini, tapi dirahasiakan juga percuma, cepat atau lambat perutnya akan membesar dan semua orang akan tahu ia hamil.
Aborsi? Cepat-cepat Shizuka menepis pikiran itu, ia tidak mau melakukan dosa yang lebih parah dari ini, dia juga tidak mau membunuh buah cintanya dengan Akashi. Hanya Chihiro yang bisa membantunya, tapi apa dia masih mau bertemu dengan Shizuka? Dia sudah menyakiti hati tunangannya itu, orang yang sangat mencintainya sejak dulu.
'Aku harus bagaimana?' Batin Shizuka sambil terisak putus asa.
.
.
.
Chihiro menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh, tidak peduli dengan makian dan umpatan yang didapatnya dari pengguna mobil lain, yang ia tahu, ia hanya ingin meluapkan emosinya yang tidak terkendali. Dia mengendarai kendaraan beroda empat itu tanpa arah dan tujuan sejak pulang dari apartemen Shizuka, hingga sampailah di tepi sebuah laut. Pria itupun menghentikan kendaraannya dan turun dari benda itu, ia menatap laut malam yang terbentang dihadapannya, dan berteriak meluapkan emosinya disitu, peduli dengan orang lain yang mungkin melihatnya dengan pandangan aneh atau menganggapnya gila, dia hanya ingin meluapkan emosinya.
"Kami-sama… Kenapa… Kenapa sebegini sakitnya mencintai seseorang?" Lirih Chihiro sambil meremas dadanya dan mengepalkan tangannya erat, butiran bening mengalir dengan lancarnya dari matanya, namun Chihiro mengabaikannya.
'Biarkan rasa sakit ini mengalir, yang penting besok aku harus terlihat kuat agar bisa mendampingi perempuan yang kucintai…'
Sinar matahari dan suara dering ponselnya membuat Chihiro terbangun, ternyata ia tertidur di mobilnya semalam.
"Moshi-moshi?" Kata Chihiro mengangkat ponsel itu malas.
"Mayuzumi, kau dimana sekarang?" Suara panik diseberang ponsel itu membuat Chihiro tersadar sepenuhnya.
"Haruka? Ada apa meneleponku?" Bukannya menjawab pertanyaan Haruka, Chihiro malah balik bertanya, karena tumben-tumbennya Haruka meneleponnya.
"Ah, sudahlah! Cepatlah ke rumah utama! Aku tidak tahu ada apa, tapi ayah mengamuk setelah kedatangan Shizuka pagi ini!" Mendengar itu, Chihiropun membelalakan matanya.
'Jangan-jangan…'
"Baiklah, aku kesana secepatnya." Kata Chihiro singkat, Setelah memutuskan panggilannya, dia langsung memacu mobilnya secepat mungkin untuk pergi menuju rumah utama keluarga Matsumoto, beruntung tempat itu tidak terlalu jauh dari tempatnya berada sekarang
.
.
.
Pagi tadi di kediaman Matsumoto, Shizuka datang dengan wajah kusut dan mata yang sembab, Haruka yang pertama kali melihatnya menatapnya heran.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Dan ada apa tiba-tiba kemari?" Tanya Haruka yang diabaikan oleh Shizuka.
"Aku ingin bicara berdua dengan ayah. Apa dia ada?" Tanya Shizuka dengan raut wajah dan nada suara yang kosong, Haruka pun menaikan sebelah alisnya bingung.
"Maa, ayah ada di ruang kerjanya." Jawab Haruka. Mendengar jawaban kakaknya, Shizuka langsung pergi menuju ruang kerja ayahnya. Dia mengetuk pintu ruangan tersebut dan masuk setelah mendengar jawaban dari ayahnya.
"Oh, Shizuka? Ada apa kau kemari?" Tanya ayahnya penasaran, karena tumben sekali putri bungsunya kemari, biasanya Shizuka hanya pulang jika ada acara khusus atau dipanggil oleh ayahnya. Shizuka menatap ayahnya lurus, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Ayah… Aku hamil…" Mendengar ucapan Shizuka, ayahnya menatapnya tidak percaya.
"… Bisa kau ulangi?" Shizuka menunduk menatap lantai dibawahnya.
"Seperti yang tadi ayah dengar… Aku hamil…" Ulang Shizuka.
"Siapa..?" Tanya ayahnya dengan suara yang bergetar. Shizuka menatap ayahnya takut, ayahnya sangat murka sekarang.
"SIAPA YANG MENGHAMILIMU, HAH?!" Bentak ayahnya dengan suara yang sangat keras sambil menggebrak meja Shizuka bergetar melihat kemarahan ayahnya, air matanya mulai mengalir.
"JAWAB AKU SHIZUKA! SIAPA YANG MELAKUKAN ITU PADAMU?!" Bentak ayahnya lagi, Shizuka menggelengkan kepalanya keras, menolak untuk menjawab pertanyaan ayahnya. Haruka yang tidak sengaja mendengar teriakan ayahnya itu, buru-buru menelepon Chihiro. Haruka semakin khawatir, apalagi saat mendengar beberapa suara barang yang dibanting dari ruang kerja ayahnya, dia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia juga takut, ayahnya sangat mengerikan saat ia marah.
"SHIZUKA! CEPAT BERI TAHU AKU! BIAR KUSERET DIA KEMARI UNTUK BERTANGGUNG JAWAB!" Kata ayahnya lagi sambil mencengkram pundak anaknya.
"Aku… Tidak bisa… Maaf ayah…" Bisik Shizuka diiringi dengan isakannya. Ayahnya mendorong Shizuka sehingga membuatnya tersungkur dan dia kembali melempar barang disekitarnya. Shizuka pun bersujud dihadapan ayahnya.
"Ayah… Maafkan aku ayah…" Mohon Shizuka. Namun ayahnya tidak mengindahkan ucapan putrinya itu dan tetap mengamuk, bahkan melukai tangannya sendiri karena memecahkan kaca. Namun rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit dan hancur di hatinya. Melihat itu isakan Shizuka semakin keras.
"Ayah! Kumohon, pukul saja aku! Jangan melukai dirimu sendiri!" Mohon Shizuka, ia tidak tahan melihat ayahnya melukai dirinya sendiri. Mendengar ucapan Shizuka, ayahnya yang sedang dilanda emosi itu langsung bersiap memukulnya, Shizuka sudah pasrah untuk menerima pukulan dari ayahnya itu, untungnya Haruka dan Chihiro datang tepat waktu.
"Ayah, hentikan!" Teriak Haruka sambil menahan lengan ayahnya. Sementara Chihiro langsung mendekap Shizuka yang menangis. Haruka membelalakan matanya, ruangan kerja ayahnya benar-benar kacau.
'Ada apa sebenarnya?' Batin Haruka. Namun ia kesampingkan rasa ingin tahunya, dia melihat kearah adiknya yang sedang terisak dalam dekapan Chihiro, rasa iba muncul di hatinya, bagaimanapun ia membencinya, Shizuka tetaplah adiknya. Haruka pun mengeratkan pegangan ke tangan ayahnya yang sudah agak tenang.
"Mayuzumi, bawa Shizuka ke kamarnya, biar aku yang mengurus disini…" Kata Haruka pada Chihiro, pria itupun mengangguk dan membantu Shizuka untuk bangkit meninggalkan ruangan itu.
"Ayah…" Bisik Haruka pada ayahnya. Namun ayahnya hanya terduduk lemas. Haruka pun mengerti, segera ia mengambil peralatan P3K dan membalut luka ayahnya.
"Ayah… Aku tidak tahu ada apa, tapi…" Haruka menatap ayahnya lembut, "Shizuka anakmu yah… Jangan lakukan hal seperti tadi…" Lanjutnya. Ayahnya hanya terdiam terlihat berpikir. Haruka hanya menghela nafasnya lemah.
"Apa aku salah dalam mendidik kalian?" Bisik ayahnya pelan, Haruka hanya terdiam dan kemudian menarik ayahnya dalam pelukannya. Ayahnya terlihat sangat hancur, sama seperti di hari ibu mereka meninggal dulu.
"Ayah… Aku disini…" Bisik Haruka.
Shizuka masih terisak di kamarnya, dia merasa sangat bersalah membuat ayahnya seperti itu. Chihiro hanya bisa menatap perempuan itu simpatik, dia bingung harus bagaimana. Tiba-tiba ayah Shizuka masuk ke kamarnya. Chihiro pun bangkit dari duduknya dan menatap Shizuka khawatir.
"Shizuka, ini perintah dariku. Gugurkan kandunganmu." Kata ayahnya dingin, mendengar itu Shizuka dan Chihiro pun membelalakan matanya. Refleks Shizuka memeluk perutnya.
"Tidak! Aku tidak mau!" Tolak Shizuka. Ayahnya pun menggeram kesal.
"Lakukan perintahku!" Paksa ayahnya sambil menarik paksa lengan Shizuka. Chihiro pun menghentikannya.
"Hentikan pak! Menggugurkan bisa membahayakan nyawa Shizuka juga!" Cegah Chihiro. Ayahnya pun melirik tajam pada Chihiro.
"Mayuzumi… Apa jangan-jangan kau yang-"
"Bukan! Bukan Chihiro!" Potong Shizuka, saat ayahnya akan mengarahkan tuduhan pada Chihiro.
"Kalau begitu beritahu aku siapa yang melakukannya!"
"Aku tidak bisa ayah! Aku tidak bisa memberitahumu!"
"KALAU BEGITU GUGURKAN KANDUNGANMU!" Bentak ayahnya emosi. Chihiro pun berdiri dihadapan Shizuka untuk melindunginya, Shizuka terisak semakin keras dan tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing, pandangannya menjadi gelap, Shizuka pun jatuh pingsan.
"SHIZUKA!" Teriak ayahnya dan Chihiro panik. Segera mereka memanggilkan dokter.
"Stress yang berlebihan, ini sangat berbahaya untuk janin dan calon ibunya. Sebaiknya Shizuka-sama banyak beristirahat dan tidak boleh banyak pikiran…" Kata sang dokter setelah selesai memeriksa Shizuka. Salah seorang pelayan pun mengantar dokter itu keluar. Ayahnya hanya menatap wajah pucat putrinya itu sendu.
"Pak, apa anda tega menyuruh anak anda menggugurkan kandungannya?" Kata Chihiro pada orang yang sangat di hormatinya itu.
"Aku harus tega, Mayuzumi… Kalau tidak, harga diri dan image keluarga ini akan tercemar dan menjadi aib…" Jawab ayah Shizuka. Chihiro menatap pria dihadapannya tidak percaya.
"Apakah menurutmu harga diri dan image jauh lebih penting dibandingkan nyawa anakmu pak? Bukankah akan lebih menyedihkan jika kau kehilangan putrimu? Harga diri, image, kau bisa membangunnya kembali, tapi nyawa anakmu? Apa kau bisa menghidupkannya kembali jika ia tiada?" Kata Chihiro panjang, mendengar perkataan Chihiro, ayah Shizuka pun terdiam. Hening diantara mereka. Tiba-tiba mata Shizuka terbuka perlahan.
"Shizuka…" Panggil Chihiro lembut. Ayahnya hanya menatap Shizuka dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Ayah…" Panggil Shizuka lemah. "Maafkan aku… Aku mohon jangan menyuruhku menggugurkan kandunganku…" Mohon Shizuka. Mendengar Shizuka yang seperti itu, hati ayahnya pun luluh, namun tetap saja ego yang terlalu kuat membuat ayahnya tetap bersikap dingin.
"… Kau benar-benar tidak mau menggugurkan kandunganmu?" Tanya ayahnya. Shizuka membalasnya dengan anggukan.
"Kalau begitu kau kuijinkan untuk membesarkan anak itu." Kata ayahnya, Shizuka dan Chihiro pun menatap pria itu dengan wajah bersyukur.
"Terima ka-"
"Tapi." Potong ayahnya, "Tapi, kau harus membesarkannya diluar negeri, jangan pulang ataupun menampakkan dirimu di Jepang sampai kusuruh." Lanjutnya. Mata keduanya terbelalak mendengar itu. "Kau akan tinggal di tempat yang tidak ada satupun yang mengenalmu dan bisa mencarimu. Bagaimana? Jika kau setuju, aku akan mengijinkanmu membesarkan anak itu, tapi jika tidak, mau tidak mau, kau harus menggugurkannya." Shizuka terdiam sejenak mendengar itu. Ini resikonya, dan dia harus menerimanya.
"Ya. Aku setuju." Jawab Shizuka tegas.
"Kalau begitu, tolong kirim aku bersamanya juga." Kata Chihiro tiba-tiba. Shizuka menatap pria itu.
"Chihiro, kau tidak perlu-"
"Aku akan menjaganya selama disana pak, lagipula aku masih tunangannya." Kata Chihiro lagi. Ayahnya menatap pria itu sejenak.
"Baiklah. Kau kuijinkan, tapi kau juga harus mematuhi peraturan yang sama dengan Shizuka."
"Aku mengerti." Jawab Chihiro. Shizuka menatap surai abu itu tidak percaya.
"Tiga hari lagi kalian akan berangkat, hanya aku yang tahu tempatnya. Bersiap-siaplah." Kata ayahnya mengakhiri pembicaraan itu dan keluar dari kamar Shizuka. Setelah ayahnya keluar, Shizuka menatap Chihiro marah.
"Kenapa?! Kenapa kau memutuskan untuk pergi bersamaku?!"
"Kau dengar alasannya tadi, aku akan menjagamu selama kau disana."
"Itu tidak perlu! Aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"Aku akan tetap menjagamu. Karena aku mencintaimu." Mendengar jawaban itu Shizuka pun terdiam dan meremas selimutnya.
"Cinta? Kenapa?! Kenapa kau masih tetap mencintaiku?! Kau tahu kan, aku bahkan sudah mengandung anak orang lain, dan kenapa kau masih mengatakan kau mencintaiku?! Apa kau bodoh, hah?!" Shizuka mengatakan itu dengan air mata yang mengalir, Chihiro pun memeluknya erat.
"Bodoh ya? Kau benar, aku memang bodoh… Tapi tidak masalah aku dikatai bodoh atau apapun, yang penting rasa cintaku padamu itu nyata… Aku sudah bilang akan menerima apapun keadaanmu kan? Dan beginilah caraku untuk mencintaimu." Bisik Chihiro lembut, mata Shizuka membelalak mendengar itu, dia mulai membalas pelukan Chihiro, merekapun saling bertatapan dan perlahan bibir mereka bertemu.
Setelah Shizuka tertidur, Chihiro pun meninggalkan kamar Shizuka. Dan dia bertemu dengan Haruka yang sudah berdiri di depan kamarnya.
"Menguping?" Tanya Chihiro, Haruka pun mendelikkan matanya tidak suka.
"Aku tidak hobi melakukan itu!" Chihiro hanya tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
"… Mayuzumi, sebenarnya ada apa?" Tanya Haruka kemudian. Chihiro membuang pandangannya ke arah lain.
"Shizuka hamil." Jawab Chihiro singkat, dan Haruka hanya bisa memasang ekspresi terkejut mendengar itu. "Dan aku yakin kau tahu siapa ayahnya." Lanjut pria itu yang semakin membuat Haruka membatu. Chihiro yang melihat ekspresi Haruka hanya tersenyum kecil.
"Pernikahanmu akan berlangsung beberapa minggu lagi kan? Haruka, aku tahu kau mencintai Akashi, tapi kau yakin kau akan bahagia dengan cinta yang dipaksakan itu?" Haruka pun menggertakan giginya kesal mendengar perkataan Chihiro itu.
"Jangan bicara seolah kau tahu segalanya! Kau juga sama kan sepertiku? Mengemis cinta pada orang yang kau cintai?" Kata Haruka sinis. Chihiro pun tersenyum mendengar itu.
"Yah, mungkin kita sama, sama-sama bertepuk sebelah tangan. Tapi, aku tidak mau memaksakan cintaku pada Shizuka lagi. Dulu aku bersikeras untuk menggantikan posisi Akashi di hatinya, tapi akhirnya aku sadar, ikatan mereka terlalu kuat, sekalipun keduanya sudah memutuskan untuk menyerah dengan perasaan mereka, tapi tetap saja posisi mereka di hati masing-masing tidak akan ada yang bisa menggantikannya. Bohong jika aku bilang aku tidak mengharapkan Shizuka suatu saat akan membalas perasaanku, tapi bagiku, sekarang aku akan selalu berada disampingnya dan menjaganya sudah cukup. Itulah bukti cintaku padanya." Kata Chihiro panjang. Haruka hanya terdiam mendengar perkataan Chihiro itu.
"Makanya, kau juga Haruka…" Chihiro pun menepuk puncak kepala Haruka pelan. "Pikirkanlah kebahagiaan orang yang memang kau cintai, kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu nanti…" Setelah mengatakan itu Chihiro pergi meninggalkan Haruka yang air matanya mulai menetes.
"Shizuka… Kau benar-benar beruntung dicintai sampai sebegitunya…" Bisik Haruka pelan.
.
.
.
Tiga hari kemudian Chihiro dan Shizuka pergi ke tempat dimana hanya ayah Shizuka yang tahu, tempat asing dimana tidak ada seorangpun yang mengenal mereka, dan mereka harus berusaha sendiri untuk hidup disana. Fokus ayahnya pun berpindah pada hari pernikahan Akashi dan Haruka yang semakin dekat.
"Seijuurou-kun, bagaimana menurutmu?" Tanya Haruka saat mengepas baju pernikahan mereka, sementara Akashi hanya menatap datar pada gaun itu. Gaun rancangan Akashi dan Shizuka untuk pernikahan mereka seharusnya. Entah kenapa pria bersurai merah itu malah membayangkan Shizuka yang memakainya. Namun cepat-cepat dia menepis hayalannya itu.
"… Bagus." Jawab Akashi singkat. Haruka hanya menghela nafasnya. Lalu ia kembali menatap cermin, menatap sendu wajahnya.
'Apa ini… Yang aku inginkan? Kenapa tidak ada perasaan bahagia sedikitpun?' Batin perempuan itu sambil mengepalkan tangannya. Tapi ia menggelengkan kepalanya.
'Tidak! Ini yang kupilih! Kenapa aku jadi ragu? Sebentar lagi Seijuurou-kun akan menjadi milikku, dan itulah yang aku inginkan!' Egonya muncul kembali, dia kembali menyunggingkan senyum.
"Haruka, aku tunggu diluar." Kata Akashi singkat, diapun pergi dari ruangan di butik itu setelah mendengar jawaban Haruka. Diluar dia hanya terdiam mematung, menatap kosong ke arah langit.
'Shizuka… Aku merindukanmu…' Batin Akashi, dia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Shizuka, namun nomornya tidak aktif sehingga Akashi mulai merasakan firasat tidak enak.
"Seijuurou-kun." Panggil Haruka. "Selanjutnya, ayo kita cek undangan…" Ajaknya kemudian sambil menggenggam tangan Akashi. Akashi hanya mengangguk dan mengabaikan genggaman tangan Haruka. Pikiran Akashi berkemelut memikirkan Shizuka yang tidak bisa dihubungi, tanpa Akashi sadari Haruka menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
.
.
.
H-1 pernikahan Akashi dan Haruka…
"Seijuurou-kun, ada apa? Tumben sekali kau memanggilku duluan?" Tanya Haruka riang pada Akashi, sementara tunangannya itu tidak menjawab dan hanya menatap taman didepannya. Haruka kembali tersenyum padanya.
"Apa jangan-jangan kau gugup untuk besok? Tenang saja, aku-"
"Haruka." Potong Akashi. "Aku tidak bisa menikah denganmu." Kata Akashi sambil menatap lurus wajah perempuan dihadapannya itu yang menatapnya dengan pandangan terkejut.
"Tidak. Kita tetap akan menikah besok." Tolak Haruka tegas.
"Kenapa kau tidak mengerti kalau hanya Shizuka yang ada di hatiku?" Tanya Akashi dengan nada getir. Dua bulan ini dia berusaha mati-matian melupakan Shizuka, namun ternyata tidak bisa. Shizuka dan hanya Shizuka yang ada dipikirannya. Dan Akashi juga tidak mau menikah dengan Haruka, karena dia tahu, akan menyakitkan jika menikah tanpa rasa cinta, baik untuk dirinya, maupun Haruka.
"Aku tidak peduli! Sekalipun kau mencintai Shizuka, aku tetap ingin menikah denganmu!" Kata Haruka, diapun memeluk Akashi erat-erat, namun Akashi tidak membalas pelukannya dan hanya menatap tunangannya itu sendu.
"Meski itu artinya kau akan hidup dalam kepalsuan yang kau buat?" Kata Akashi pelan seraya mengusap surai coklat Haruka.
"Bagiku itu tidak masalah… Palsu atau tidak, aku ingin bersamamu…" Haruka pun menatap mata heterokom pria itu. "Seijuurou-kun, apa kau tidak bisa untuk belajar menyayangiku? Apa tidak ada sedikitpun tempat di hatimu untukku? Aku rela dijadikan sebagai pengganti Shizuka asal kau bersamaku…" Lirih perempuan itu. Akashi pun menyentuh wajah Haruka.
"Tidak. Kau terlalu berharga untuk dijadikan sebatas pengganti." Jawab Akashi sambil mencium puncak kepala gadis itu. "Aku menyayangimu, karena itu, jangan rusak dirimu lebih dari ini…" Haruka menatap pria itu, perlahan air matanya menetes karena mendengar ucapannya.
"Seijuurou-kun… Aku menyukaimu… Sangat menyukaimu…" Kata Haruka sambil menangis di dada Akashi.
"Aku tahu… Aku…" Mata Akashi menyipit, "… Tahu…" Perlahan dia mengangkat wajah Shizuka untuk menatapnya. "Tapi diluar sana masih banyak pria lain yang lebih baik dan pantas menerima cintamu…"
"Tapi hanya kau yang aku inginkan!" Haruka pun meremas baju Akashi. "Perasaanku padamu sama seperti perasaanmu pada Shizuka… Karena itu… Kumohon…" Remasan Haruka di baju Akashi pun menguat. "Izinkan aku bersamamu…" Mohonnya.
"Itu… Bohong ya?" Kata Akashi dengan tatapan kosong. "Kalau kau memang memiliki rasa cinta seperti cintaku pada Shizuka…" Akashi menggantungkan kalimatnya. "… Kau pasti tahu betapa besar rasa sakit yang kumiliki…"
"Kalau kau benar-benar menyayangiku, kebahagiaanku pasti jauh lebih penting dari egoismu kan?" Perlahan nada suara Akashi meninggi. "Maaf…" Bisiknya di akhir kalimat. Haruka terdiam mendengar ucapan pria di depannya. Dia teringat ucapan Chihiro.
'…Pikirkanlah kebahagiaan orang yang memang kau cintai, kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu nanti…'
Kebahagiaan Akashi… Dan kebahagiaan dirinya…
'Ah… Benar juga…' Batin Haruka, dia mengingat masa lalunya dimana ia mulai menyukai Akashi adalah saat melihat Akashi tersenyum. Namun dia juga membenci fakta kalau yang bisa membuat pria itu tersenyum hanyalah Shizuka, adiknya. Dan mulailah rasa cemburu mengotori hatinya, dia ingin memiliki pria itu, namun tidak bisa. Maka dari itu, Haruka langsung menyetujui saat ayahnya akan menjodohkannya dengan Akashi, tidak peduli dengan rasa sakit yang dialami oleh Akashi maupun Shizuka. Dan hasilnya? Semuanya berantakan, tidak ada kebahagiaan, yang ada hanyalah rasa sakit yang terus menumpuk diantara mereka.
"A… Ahahaha…" Haruka tertawa putus asa. Dia perlahan melepaskan tangan Akashi. "Ternyata memang tidak mungkin ya…" Katanya. "Tapi kau terlambat Seijuurou-kun… Shizuka sudah pergi bersama Chihiro ke tempat yang bahkan aku ataupun kau tahu… Dan kau tahu?" Haruka tersenyum pahit ke arah Akashi.
"Shizuka sedang mengandung anakmu…" Lanjut Haruka sambil berjalan pergi meninggalkan Akashi yang masih terdiam mencerna kata-katanya tadi.
"Huh? A-anak? Maksudmu Shizuka hamil…" Akashi menatap tanah dibawahnya. "…Milikku?" Segera Akashi menahan tangan Haruka. "Kenapa kau memberitahukan hal ini padaku? Dan apa maksudmu pergi ke tempat yang tidak kita ketahui?!"
Haruka pun kembali tersenyum pahit. "Hanya 'hadiah' kecil dariku…" Kata Haruka menggantungkan ucapannya. "Seperti yang kau dengar tadi. Ayah mengirim Shizuka ke tempat yang tidak kita ketahui untuk menutupi kehamilannya dan mencegah seorangpun menemuinya sebagai konsekuensi mengandung anakmu. Walaupun aku yakin ayah tidak tahu kalau itu anakmu, karena Shizuka menolak mengatakan siapa ayahnya…" Lanjut Haruka, lalu gadis itu menatap lurus Akashi. "Ingatlah, besok adalah hari pernikahan kita. Ikuti rencanaku nanti kalau kau ingin 'lepas' dari semua ini." Akashi menatap perempuan dihadapannya ini tidak percaya.
"Lalu siapa? Siapa yang ayamu pikir telah menghamili Shizuka? Dan apa maksudmu mengenai pernikahan? Bukannya aku sudah…" Haruka pun menggendikkan bahunya.
"Entahlah? Mayuzumi mungkin? Tapi tenang saja, ayah tidak pernah membicarakan akan menikahkan mereka." Kata Haruka dengan senyum kecil. "Kau ingin lepas kan? Kalau begitu datang dan ikuti rencanaku di pernikahan kita nanti. Aku pastikan ini tidak akan merugikanmu." Lanjutnya berusaha meyakinkan Akashi.
'Aku sudah memutuskan untuk menanggung semuanya.' Batin Haruka. Lalu saat sang gadis melangkah pergi, Akashi merengkuhnya erat dari belakang.
"Maaf, kita bertemu di situasi yang tidak tepat. Maaf, kau pasti sangat terluka, tapi kalau kau bersamaku, kau akan lebih terluka…" Pria itu pun membalikan badan Haruka agar bisa menatapnya.
"Kau cantik, aku akui itu… Kau pintar, dan elegan. Aku yakin banyak pria baik yang menaruh hati padamu," Akashi mengatakan itu dan mencium dahi Haruka. "Bebaskan dirimu. Dunia lebih besar dari apa yang kau pikir, cobalah hal baru dan nikmati hidup…"
Haruka pun memaksakan diri untuk tersenyum mendengar ucapan Akashi dan dia menaruh jari telunjuknya di bibir Akashi.
"Shh… Jangan bicara seperti itu… Itu hanya membuatku semakin sulit melepasmu." Perlahan Haruka melepaskan tangan Akashi. "Terima kasih Seijuurou-kun…" Katanya dengan senyumannya, lalu ia pergi dari hadapan Akashi. Setelah tidak terlihat oleh Akashi, Haruka jatuh terduduk di taman itu dan menangis sepuasnya.
'Selamat tinggal orang yang kucintai… Selamat tinggal aku yang mencintaimu…'
.
.
.
TBC
Author's note:
Un… yeah… well… #apasih
Lebay yah ini chap? Iya-iya… Author juga tau ko' ni chap super lebay nan gajelas! xP
Udah ah, bales review dulu!
ABNORMALholic : ahaha… sejujurnya, author juga masih bingung si Shizuka ini bakal sama siapa… ;A; #punched Yosh! Ini udah update~ :D
Aoi Yukari : Ah,maksudnya Shizuka ya? "^^)a Hhh… entahlah, aku bingung sama Akashi… Gagal paham un… "-3- *dipelototin Akashi*
ShizukiArista : Iya ya… Apa sama Chihiro aja ya? xDa *dilempar gunting sama Akashi* Lempar Akashi kelaut? Ah, douzo~ *Akashi siap-siap bunuh Author* Chara death? Hmm… Entahlah… Mungkin… Ada? ._. *gak kepikiran* Yosh! Ini udah update! xD
Silvia-KI chan : Iya ya… Kasian dia… ;_; *peluk Mayuyu* (Chihiro: Yang bikin gue gini kan lu thor!) Yosh! Ini uda lanjut~ x3
MamyuChi : Hahaha~ Ini sudah lanjut~ xD
Katou Ayumu : Jalan keluar ya? Ah~ Bahkan author pun bingung mikirin jalan keluarnya~ :'D #dibantai
mahanani ilmi : A-ara… Sa-sabar mba… OwO)/ Sipplah! Moga-moga kamu suka chap ini! xD BTW Akashi… Turunin guntingnya dong… "^^) *gemeteran*
nijigengurl : Wkwkwk… Dia kan raja sadis~ XD *tiba-tiba ada gunting melayang* Ini chapter 4-nya~ :3
Udah semua yeiy! Makasih buanyak buat yang review~! Ah bahagianya~ *lebeh* Dan author mau ngucapin special thanks buat otouto-ku tercintah Sirius Daria yang ngasih buanyaaak banget ide di chap ini… Thanks for the role play… Aku banyak ngambil kata-kata dari situ… Kalau gak karna itu, mungkin aku udah kena WB m(_ _)m
Saa, seperti biasa, makasiii banget buat yang udah baca, dan seperti biasa juga, author minta reviewnya yaa~
See you next chap yang kemungkinan adalah last chap… :'3
Sign, Kaito Akahime
