'Kurasa sudah saatnya membalas perasaannya…'
.
.
.
AFFAIRS
Rate: M
Genre: Romance, Drama, Angst, Family
.
.
Disclaimer: Kuroko no Basuke (黒子のバスケ) – Fujimaki Tadatoshi
Pairing: Akashi Seijuurou X OC, Slight Mayuzumi Chihiro X OC
Warning: Little OOC
.
.
.
Chapter 5
Dekorasi putih terdapat diseluruh penjuru ruangan gereja tersebut. Suasana bahagia terlihat di wajah orang-orang yang ada disitu. Lain halnya dengan Haruka, dia berada di ruang gantinya sambil menatap cermin besar dihadapannya yang memperlihatkan betapa cantiknya dia sekarang dalam balutan wedding dress putih, perlahan wajahnya menyunggingkan senyuman kecil. Tiba-tiba sebuah ketukan membuatnya menoleh.
"Haruka, sudah waktunya." Ah, rupanya ayahnya. Haruka pun tersenyum pada sosok tersebut.
"Baik." Jawab gadis itu singkat. Dia langsung menuju ayahnya dan menggandeng lengannya.
"Kau terlihat cantik, Haruka. Seperti ibumu dulu…" Puji ayahnya.
"Terima kasih ayah." Haruka mengucapkan itu diiringi senyumnya. Namun tanpa ayahnya sadari, selanjutnya Haruka menatapnya sedih.
'Maaf ayah, aku akan mengecewakanmu.'
Keduanyapun memasuki ruangan sakral tempat dilaksanakannya upacara pernikahan itu. Dan terlihatlah sosok Akashi dengan tuxedo putihnya, dia benar-benar terlihat tampan. Seluruh hadirin melihat sepasang calon pengantin itu dengan tatapan yang berbinar. Mereka benar-benar serasi. Keduanyapun sekarang berhadapan dengan pendeta didepannya untuk mengucap janji setia.
"Sebelum dimulai, apakah ada dari hadirin yang keberatan dengan pernikahan keduanya?" Tanya sang pendeta pada hadirin yang ada disitu. Semuanya terdiam, namun seketika pandangan mereka berubah terkejut karena melihat sang pengantin perempuan mengangkat tangannya.
"Aku keberatan. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang tidak mencintaiku." Kata Haruka tegas sambil tersenyum kecil ke arah Akashi. Pria itu menatapnya terkejut sekilas, lalu ia juga tersenyum kecil padanya dan ikut mengangkat tangannya.
"Aku juga keberatan. Aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak kucintai." Seluruh orang yang ada disitu menatap keduanya bingung sekaligus terkejut. Berbeda dengan ayah Haruka, dia marah dan menuju ke arah keduanya, tanpa segan-segan ia menampar wajah Haruka. Berbeda dengan ayah Akashi, ia hanya memicingkan matanya ke arah keduanya, namun aura kemarahan sangat terlihat jelas di matanya.
"Apa yang kalian katakan?! Lanjutkan pernikahan ini!" Perintahnya, Haruka hanya memegang pipi yang baru saja menjadi korban tamparan ayahnya, sambil memberanikan diri menatap pria tua dihadapannya tersebut.
"… Aku tidak bisa ayah. Pernikahan hanya dilakukan oleh kedua orang yang saling mencintai, sementara kami tidak… Karena itu, pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan ayah…" Jawab Haruka pelan. Mendengar itu ayahnya semakin marah dan berniat menampar Haruka kembali, untunglah Akashi segera menahan tangannya dan melindungi Haruka.
"Kau sudah melakukan lebih dari cukup Haruka." Kata Akashi dengan senyum kecil di wajahnya, lalu ia menatap lurus pada ayah Haruka dan ayahnya."Maaf ayah, paman. Kami tidak bisa menjalankan pernikahan ini. Dan ingatlah, kami anak kalian, bukan alat penerus kekayaan. Kami berhak menentukan kebahagiaan kami sendiri." Mendengar itu ayah Akashi dan ayah Haruka pun terdiam, namun ayah Haruka langsung beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
"Ayah!" Panggil Haruka, diapun berniat mengejarnya. Namun panggilan Akashi menghentikannya sesaat.
"Haruka." Akashi tersenyum dengan tulus dari lubuk hatinya, senyuman yang sangat disukai Haruka. "Terima kasih." Haruka pun tersenyum mendengarnya. Dia hanya menjawab 'Ya' dan pergi meninggalkan pria itu untuk mengejar ayahnya, entah hukuman apa yang akan diterimanya, tapi ia sudah siap dengan itu semua.
'Tuhan… Berikanlah kebahagiaan untuknya…'
.
.
.
Di mansion Akashi, terlihatlah kedua orang yang memiliki warna surai yang sama saling duduk berhadapan, aura yang menyelubungi keduanya sangat tegang dan panas, hingga salah satunya memutuskan untuk bicara.
"Ayah… Aku…" Kata Akashi yang lebih muda.
"Jelaskan." Perintah ayahnya singkat. Akashi pun memberanikan dirinya.
"Aku mencintai perempuan lain."
"'Perempuan lain'?" Ulang ayahnya.
"Ya. Aku mencintai Shizuka." Jawab Akashi, ia akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya pada ayahnya.
"Shizuka? Maksudmu adik calon istrimu?" Akashi hanya menganggukan kepalanya. Ayahnya menatap putranya itu dengan pandangan merendahkan.
"Seijuurou… Aku tidak menyangka kau memiliki 'hobi' seperti itu."
"Aku sudah sejak lama mencintainya, ayah!" Kata Akashi dengan nada yang tinggi membuat ayahnya menatapnya tidak suka.
"Jaga nada suaramu, Seijuurou!" Perintah ayahnya. Akashi pun menarik nafasnya untuk menenangkan dirinya. Namun ucapan ayahnya selanjutnya membuatnya tidak percaya.
"Begini lebih baik." Kata ayahnya, entah apa maksud dari ucapannya. "Seijuurou, sebetulnya aku tidak peduli kau menikah dengan siapa asal bisa memajukan perusahaan kita."
"… Apa itu artinya kau mengizinkanku menikah dengan Shizuka?" Tanya Akashi ragu. Ayahnya pun tersenyum pada putra tunggalnya itu.
"Kau terlalu naïve, Seijuurou. Tidak semudah itu setelah kau mempermalukanku." Kata ayahnya dingin. "Aku akan mengizinkan kau menikah dengan Shizuka atau siapapun, tapi ada syaratnya."
"Apa itu?"
"Naikkan saham perusahaan kita 25% di kalangan internasional, karena karyawan terbaik kita saja hanya bisa menaikkan 10%. Kau pasti bisa kan?" Akashi terdiam mendengar itu, mencoba berpikir keras.
"… Aku ingin pastikan satu hal. Kau bisa pegang janjimu itu kan?" Kata Akashi akhirnya. Ayahnya hanya tersenyum misterius ke arahnya. Akashi menundukkan pandangannya dan mengepalkan tangannya erat.
"Aku terima syarat itu." Jawabnya tegas sambil menatap mata ayahnya. Ayahnyapun tersenyum puas.
'Tunggu aku Shizuka, aku pasti akan menemukanmu dan menjemputmu.' Tekad Akashi.
.
.
.
4 tahun kemudian…
"Papah!" Sambut seorang anak laki-laki berusia 4 tahun riang pada pria berambut abu didepannya, lalu ia merentangkan kedua tangannya sebagai sebuah isyarat. Pria itu pun tersenyum ke arahnya dan menggendongnya.
"Wah… Jagoanku belum tidur rupanya…" Kata Chihiro sambil mengacak rambut coklat kemerahan anak itu. Sementara anak itu hanya tertawa riang. Dibelakangnya berdiri seorang wanita muda dengan surai soft brown tersenyum melihat keduanya.
"Hora, Seiryu! Jangan langsung meminta gendong begitu, papah baru pulang kerja, pasti masih cape!" Omel Shizuka pada anaknya, Seiryu pun cemberut dan menggembungkan kedua pipinya.
"Sudah… Sudah… Tidak apa-apa ko'…" Kata Chihiro sambil mengelus kepala Seiryu.
"Hhh… Chihiro… Jangan terlalu memanjakannya…" Keluh Shizuka, dan Chihiro hanya menanggapinya dengan tertawa. "Nah, papah sudah pulang, ayo, sesuai janji, kau harus tidur!" Sebetulnya sejak tadi Shizuka menyuruh anaknya itu tidur, namun Seiryu menolak, dia bersikeras menunggu 'papah'nya pulang.
"Tidak mau! Aku mau tidur sama papah!" Tolak Seiryu lagi sambil mengeratkan pelukannya pada Chihiro. Shizuka pun menghela nafasnya, anaknya benar-benar keras kepala jika sudah begini, persis seperti Akashi. Chihiro pun terkekeh melihatnya.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar ya… Papah harus mandi dulu…" Kata pria itu akhirnya.
"Oke!" Jawab Seiryu riang. Lalu Chihiro pun menyerahkan Seiryu pada Shizuka, dan ia bergegas mandi karena tidak ingin membuatnya menunggu terlalu lama. Setelah itu, iapun menuju kamar Seiryu untuk menemaninya tidur.
"Papah… Kenapa aku diberi nama Seiryu?" Tanya Seiryu tiba-tiba.
"Ng? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" Kata Chihiro heran. Seiryu pun menggembungkan pipinya lagi sehingga membuat Chihiro ingin mencubitnya gemas.
"Habis… Teman-temanku bilang namaku aneh… Kenapa bukan Rick atau John, atau apapun itu…" Oceh bocah itu, memang diantara teman-temannya yang notabene bukan orang Jepang, namanya itu terdengar aneh. Mendengar itu Chihiro pun tersenyum.
"Aneh? Tidak ah… Nama itu keren ko'." Kata Chihiro sambil menepuk puncak kepala Seiryu. "Seiryu itu, nama salah satu dewa yang menjaga empat arah mata angin di kota Kyoto, Jepang, dan papah harap, dengan memberi nama itu, Seiryu bisa menjaga mamah. Seiryu mau kan janji pada papah?" Jelas Chihiro sambil mengeluarkan jari kelingkingnya pada Seiryu. Mendengar penjelasan itu, iris scarlet Seiryu pun berbinar senang, segera ia menautkan jari kecilnya pada Chihiro.
"Iya! Aku janji akan menjaga mamah!" Ucapnya. Beberapa menit kemudian Seiryu pun tertidur. Chihiro keluar dari kamarnya dan melihat Shizuka yang masih terjaga di sofa.
"Tidak tidur?" Sapa Chihiro sambil mengelus wajah Shizuka dan memberinya kecupan ringan.
"Aku masih belum ngantuk." Jawab Shizuka singkat diiringi senyuman kecil. "Chihiro, maaf ya, kau pasti lelah, dan malah harus mengurus Seiryu dulu… Kau sudah makan? Mau kubuatkan sesuatu?"
"Tidak apa-apa… Lelahku hilang saat melihat kalian berdua. Tenang saja, aku sudah makan di kantor tadi." Kata Chihiro lembut. Shizuka semakin tidak enak hati mendengar itu, Chihiro sudah terlalu banyak berkorban untuknya.
"… Maaf ya, selama empat tahun ini merepotkanmu terus…" Kata Shizuka dengan nada pelan. Memang selama empat tahun ini mereka berusaha keras. Chihiro selalu disisi Shizuka dan membantunya. Dia juga menganggap Seiryu sebagai putranya sendiri dan benar-benar menyayanginya.
"Jangan bicara seperti itu… Aku senang bisa membantumu."
"Maaf juga karena kau jadi harus mengambil peran sebagai ayah Seiryu…" Ucap Shizuka lagi, Chihiro pun meletakkan jarinya di bibir Shizuka.
"Shh… Kubilang jangan bicara seperti itu… Aku menyayangi Seiryu, dan aku tidak keberatan." Kata Chihiro lembut.
"Chihiro…" Bisik Shizuka, merekapun menempelkan bibirnya lama. Setelah melepaskan pangutan mereka, Chihiro memeluk Shizuka erat.
"Aku menyayangimu Shizuka… Menikahlah denganku… Kurasa empat tahun ini cukup kan?" Kata Chihiro. Shizuka pun membelalakan matanya. Hatinya bimbang, dia ingin menerima lamaran Chihiro, tapi bagaimana dengan perasaannya pada Akashi? Tapi jujur saja bersama Chihiro empat tahun ini, mulai membuat Shizuka mulai menyayanginya, perlahan perasaan Shizuka pada Akashi mulai runtuh, karena yang ia tahu Akashi sudah menikah dengan kakaknya.
"Apa kau yakin, Chihiro?"
"Kenapa aku harus meragukanmu?"
"Maksudku… Aku… Kau tahu kan, aku sudah disentuh oleh orang lain, dan bahkan memiliki anak dengannya… Kau masih mau denganku?" Kata Shizuka ragu.
"Aku sudah mengatakannya bukan dulu? Aku mencintaimu, dan akan kuterima apapun kondisimu." Kata Chihiro tegas. Shizuka tersenyum mendengarnya dan menatap mata pria didepannya.
"…Baiklah, ayo kita menikah…" Jawab perempuan itu.
'Kurasa sudah saatnya membalas perasaannya…'
.
.
.
Dilain tempat dan waktu yang bersamaan Akashi dan Haruka bertemu.
"Lama tidak berjumpa, Seijuurou-kun." Sapa gadis itu dengan senyum di wajahnya.
"Ya. Apa kabar, Haruka?"
"Baik. Kau? Kau hebat sekali. Kudengar kau berhasil menaikan saham perusahaanmu 30%, melebihi perjanjianmu dengan paman." Haruka mengetahui soal itu karena dia selama ini terus berhubungan dengan Akashi sambil membantunya mencari Shizuka. Akashi hanya tersenyum mendengar itu, tapi seketika pandangannya berubah menjadi sendu.
"… Ya, kau benar, tapi apa artinya itu semua?" Kata Akashi nyaris berbisik, Haruka pun menatap pria didepannya dengan pandangan simpatik.
"Aku punya hadiah untukmu." Kata Haruka sambil menyerahkan sebuah kertas kecil pada Akashi. "Alamat Shizuka. Aku akhirnya berhasil membujuk ayah." Jelas perempuan itu lagi saat Akashi menatapnya bingung. Mendengar penjelasan Haruka, Akashi pun membelalakan matanya tidak percaya. Dan refleks memeluk Haruka sehingga membuat wajah gadis itu merona.
"Terima kasih, Haruka! Aku berhutang padamu!" Kata Akashi dengan senyuman di wajahnya.
"Se-Seijuurou-kun…" Panggil Haruka untuk menyadarkan Akashi atas perbuatannya.
"A-ah… Maaf…" Akashi pun melepaskan pelukannya pada Haruka.
"Hhh… Dasar… Kalau begitu kapan kau akan kesana?"
"Besok. Kau temani aku." Kata Akashi dengan nada perintah khas Akashi Seijuurou. Kali ini Haruka yang membelalakan matanya.
"Chotto Seijuurou-kun! Aku tidak masalah sih menemanimu, tapi, 'besok'?! Aku belum menyiapkan apapun!" Seru Haruka protes.
"Kau tidak perlu menyiapkan apapun, biar aku yang mengurus semuanya. Kau cukup bawa pakaian secukupnya saja." Kata Akashi sambil menepuk puncak kepala Haruka. Haruka pun menghela nafasnya menyerah.
"Baiklah." Kata Haruka akhirnya, Akashi pun tersenyum puas. Empat tahun ini hubungan keduanya bertambah dekat (sebagai teman tentunya). Haruka tidak menyangka, sosok Akashi yang dulunya dia anggap dingin dan kaku ternyata bisa sangat berubah.
"Nah, kalau begitu, aku pulang duluan. Aku harus bersiap-siap untuk besok." Kata Haruka lagi dan beranjak pergi, namun tangan Akashi menahannya.
"Sekali lagi terima kasih, Haruka." Ucap pria itu, dan Haruka hanya membalasnya dengan senyuman.
'Shizuka… Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi…'
.
.
.
Schwerin, sebuah kota di Jerman yang merupakan ibukota Mecklenburg-Vorpommern dan kota terbesar di negara bagian itu setelah Rostock, memiliki pemandangan yang indah dan terdapat kurang lebih 90.000 penduduk di dalamnya. Akashi tidak menyangka Shizuka tinggal disitu, dia melupakan fakta bahwa perusahaan keluarga Shizuka memiliki cabang di Jerman, walaupun bukan di kota itu. Sekarang ia dan Haruka sedang menuju ke kediaman Shizuka menggunakan taxi. Akashi berusaha memasang topeng tenangnya walau jauh didalam hatinya, ia bingung memikirkan apa yang harus ia katakan pada Shizuka nanti dan… anaknya. Selama ini ia selalu memikirkan bagaimana anaknya. Laki-laki atau perempuan kah? Sehatkah? Seperti apa wajahnya? Dan lain-lain. Haruka yang melihat wajah tegang Akashi pun tertawa kecil.
"Tidak perlu setegang itu kan? Seperti akan perang saja…" Kata Haruka. Walaupun ia berkata begitu, dia sendiri juga bingung harus seperti apa saat bertemu adiknya nanti. Tapi yang pasti satu hal, Haruka ingin meminta maaf pada adiknya, karena ini semua terjadi juga gara-gara ulahnya. Seandainya dulu ia menolak saja dan tidak memaksakan kehendaknya… Tanpa disadari Haruka ikut melamun dan Akashi pun menepuk pundaknya.
"Kau juga sama tegangnya."
"Begitukah?" Kata Haruka dengan senyum yang dipaksakan. Tiba-tiba ucapan sang supir taxi membuat mereka menghentikan obrolannya.
"Kita sudah sampai di alamat yang dituju, tuan, nona." Kata sang supir dengan bahasa Jermannya.
"Ah, terima kasih pak." Jawab Akashi dengan bahasa Jerman juga. Diapun membayar ongkos taxi tersebut dan turun dihadapan sebuah rumah dengan gaya minimalis namun begitu sejuk dan ramai oleh bunga di taman kecilnya.
"Ayo." Ajak Haruka. Akashi mengetuk pintu tersebut, dan terdengarlah jawaban dari dalam rumah itu. Suara seorang perempuan yang sangat dirindukan olehnya.
"Sia-" Ucapan Shizuka terhenti saat melihat pemandangan di depannya, pria yang ia cintai dan diam-diam selalu ia harapkan kedatangannya.
"Sei… Juu… Rou?" Bisik Shizuka. Akashi pun langsung memeluknya erat.
"Aku merindukanmu… Sangat…" Lirih Akashi.
"Bagaimana kau bisa-?"
"Haruka yang membantuku menemukanmu." Kata Akashi sambil melepaskan pelukannya, Shizuka pun membelalakan matanya tidak percaya. Diapun menatap sosok dibelakang Akashi yang sedang tersenyum padanya.
"Nee-san..? Tapi kenapa?"
"Kenapa? Karena aku ingin Seijuurou-kun bahagia." Jeda kakaknya, lalu ia menghampiri adiknya itu dan menariknya kedalam pelukannya. "Maafkan aku… Maafkan aku, Shizuka…" Bisik Haruka. Shizuka pun tersenyum dan membalas pelukan kakaknya.
"Aku sudah memaafkanmu sejak lama, nee-san…" Haruka tersenyum bahagia mendengarnya. Ia mengerti kenapa Akashi begitu mencintai adiknya.
"Terima… Kasih…"
"Mamah..? Ada siapa?" Tanya sebuah suara anak-anak. Rupanya Seiryu yang baru saja bangun. Mata Akashi pun tertuju pada anak itu. Benar-benar seperti kopian dirinya, hanya saja warna rambutnya agak berbeda dengannya. Akashi langsung mendekati anak itu dan memeluknya.
"Paman… Paman siapa?" Tanya Seiryu heran karena ada 'orang asing' yang tiba-tiba memeluknya."Mamah, paman ini siapa?" Tanya anak itu pada Shizuka, dan Shizuka hanya menundukkan pandangannya. Haruka pun menatapnya.
"Apa dia..?" Shizuka menganggukan kepalanya perlahan, dan Haruka hanya memberikan tatapan terkejutnya.
"Aku ayahmu…" Jawab Akashi pelan. Dan Seiryu pun menatapnya tidak percaya.
"Bukan! Papahku cuma Papah Chihiro!" Bantah Seiryu, Akashi membelalakan matanya mendengar jawaban anaknya itu.
"Itu tidak benar! Ayahmu itu aku, bukan dia!" Kata Akashi emosi, mendadak nadanya meninggi sehingga membuat mata Seiryu berkaca-kaca dan mulai menangis.
"Seijuurou!" Bentak Shizuka.
"Ada apa Shizu- Akashi?! Haruka?!" Kata Chihiro terkejut, dia baru saja selesai mandi dan mendengar ramai-ramai di pintu rumahnya. Seiryu yang melihat Chihiro langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Papah… Paman itu bilang ayahku itu dia, bukan papah…" Adu Seiryu sambil menangis di pelukan Chihiro, sementara Akashi hanya menatap Chihiro tidak suka, namun Chihiro memilih mengabaikan pandangan Akashi dan menenangkan Seiryu terlebih dahulu.
"Sudah, sudah jangan menangis… Seiryu masuk dulu ya ke kamar?" Kata Chihiro sambil mengusap kepala Seiryu dan mengantarkannya ke kamar untuk menghindarinya dari Akashi. Akashi yang tidak terima mencoba merebut Seiryu dari gendongan Chihiro, anak itupun menangis semakin keras. Shizuka yang marah melihat kelakuan Akashi langsung menepis tangan pria itu dari Seiryu, sehingga Akashi membelalakan matanya tak percaya dengan perlakuan Shizuka padanya barusan.
"Chihiro, tolong bawa Seiryu ke kamar," Pinta Shizuka pada Chihiro, Chihiro mengangguk dan bergegas membawa Seiryu ke kamarnya dan menenangkannya disana.
"Apa yang kau lakukan?! Seharusnya kau membelaku! Aku ayah kandungnya!" Marah Akashi.
"Jangan egois, Seijuurou! Selama ini yang selalu bersamanya adalah Chihiro! Bagi Seiryu, dialah ayahnya! Dan tolonglah, Seiryu masih berumur 4 tahun, mana mungkin dia mengerti ayah kandung atau bukan?" Akashi pun terdiam mendengarnya.
Chihiro yang telah menenangkan Seiryu kembali ke tempat Shizuka, Akashi, dan Haruka. Tidak ada yang bicara diantara keempatnya, hanya Akashi dan Chihiro saja yang saling menatap tajam.
"Shizuka. Ayo kembali ke Jepang, kali ini ayo kita hadapi bersama. Ayahku sudah tidak akan ikut campur mengenai hidupku lagi." Kata Akashi memecahkan keheningan. Namun justru Chihiro lah yang menjawab.
"Tidak perlu kau suruh, kami memang akan kembali ke Jepang untuk pernikahan kami." Kata Chihiro sambil menekankan kata 'pernikahan kami'. Mendengar itu mata Akashi dan Haruka pun terbelalak, Shizuka juga kaget, karena ia belum mendengar bahwa mereka akan menikah di Jepang.
"Chihiro, maksudmu-"
"Iya. Aku sudah bilang mengenai pernikahan kita pada presdir, dan dia setuju. Dialah yang meminta agar kita menikah disana." Jelas Chihiro, namun Shizuka menundukkan pandangannya.
"Tapi bagaimana dengan Seiryu?" Kata Shizuka khawatir, Chihiro pun memegang tangan Shizuka.
"Jangan khawatir. Aku juga sudah mengatakan tentang Seiryu, dan beliau ingin bertemu dengannya." Kata Chihiro menenangkan, namun Akashi menggertakan giginya marah.
"Menikah katamu? Jangan bercanda!" Kata pria bersurai merah itu, dan Shizuka hanya menundukkan pandangannya, sehingga Akashi mencengkram pundaknya. "Shizuka!"
"Jangan kasar padanya, dia ibu Seiryu dan calon istriku." Chihiro pun menarik Shizuka agar berdiri di belakangnya, sementara Haruka hanya terdiam melihat perdebatan ketiganya. Mendengar kata-kata Chihiro, Akashi pun semakin tersulut emosi.
"Diam! Jangan ikut campur! Calon istri katamu? Jangan harap aku mengakuinya!" Akashi menatap pria itu tajam. "Shizuka, ini perintah, tinggalkan dia dan pergilah bersamaku dan Seiryu, kali ini kita hadapi bersama." Kata si surai merah dingin.
"Perintah? Bagiku itu terdengar egois! Apa kau baru mencintai setelah diperintah?!" Bentak Chihiro yang mulai terpancing.
"Mayuzumi, Seijuurou-kun! Pelankan suara kalian! Kasihan Seiryu!" Kata Haruka mencoba menghentikan mereka.
"Tapi Haruka, tidak sepantasnya dia bicara seolah dia memiliki Shizuka!"
"Seijuurou cukup!" Kata Shizuka, dia sudah tidak tahan mendengar keduanya berseteru. "Aku… Memang setuju akan menikah dengan Chihiro… Maka dari itu… Cukup…" Shizuka mendorong pria bersurai merah itu pelan, dan iris heterokom pria itu hanya bisa menatap tidak percaya.
"Shizuka…" Bisik Chihiro, dan Haruka hanya bisa terdiam mendengar ucapan adiknya itu.
"Maaf, aku mau menemui Seiryu…" Pamit Shizuka, dan ia pun pergi ke kamar Seiryu.
"Kuso!" Geram Akashi, lalu ia langsung pergi meninggalkan rumah Shizuka.
"Seijuurou-kun!" Haruka langsung mengejar pria itu setelah pamit pada Chihiro. Chihiro yang sendirian menarik nafasnya berkali-kali berusaha menenangkan dirinya dan pergi ke tempat Shizuka dan Seiryu. Disana dia melihat Shizuka sedang memeluk Seiryu sambil menangis. Seiryu yang melihat kedatangan Chihiro pun langsung bertanya.
"Papah… Papah tadi kenapa? Ko' papah teriak? Paman tadi itu sebetulnya siapa? Terus kenapa mamah nangis?" Chihiro menatap anak itu bingung, dia tidak tahu bagaimana menjelaskannya ke anak itu, cepat-cepat ia memasang wajah senyumnya.
"Ah, tadi kau mendengarnya ya? Maaf, apa kau takut? Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja." Kata Chihiro mengalihkan pembicaraan, lalu ia mencium kening Seiryu, dan menenangkan Shizuka dengan mengelus rambutnya.
"Papah tidak bohong kan?" Seiryu menatap Chihiro dengan mata polosnya, lalu ia melihat ke arah Shizuka. "Mamah… Mamah jangan nangis…" Kata Seiryu sambil mengusap rambut Shizuka, mencoba meniru papahnya. Shizuka pun tersenyum padanya.
"Iya, maaf ya, Seiryu…" Kata Shizuka sambil menghapus air matanya, lalu ia menatap Chihiro dengan pandangan bersalah. "Maaf lagi-lagi menyeretmu kedalam masalah…"
"Iya, papah janji semua akan baik-baik saja dan melindungi Seiryu dan mamah, apapun yang terjadi." Ucapnya pada Seiryu, lalu ia membantu menghapus air mata Shizuka. "Kalau ini jalan agar kita bertiga bisa hidup bahagia. Aku tidak peduli berapa kali mendapat masalah pun."
"Nah Seiryu, ayo kita bertiga membuat janji akan terus bersama!" Chihiro pun mengulurkan jari kelingkingnya yang langsung disambut oleh Seiryu.
"Oke!" Kata Seiryu riang, sementara Shizuka menatap keduanya dengan senyum pahit.
"Shizuka, jari kelingkingmu mana? Dicuri kucing?" Canda Chihiro diiringi tawa lembut. "Berhenti bersedih. Aku tidak menyalahkanmu…" Wajah Shizuka pun memerah mendengarnya.
"A-apa itu?" Shizuka akhirnya menautkan jari kelingkingnya. "Ha'i… Aku janji…" Lanjutnya dengan tawa kecil.
.
.
.
"Seijuurou-kun! Tunggu!" Panggil Haruka yang lagi-lagi diabaikan Akashi. "Seijuurou-kun!" Haruka yang kesal akhirnya menarik tangan Akashi, dan memaksa pria itu menatapnya, dan terlihatlah raut kecewa, marah, dan kesedihan dari si pemilik mata heterokom itu.
"Seijuurou-kun tenanglah dulu…" Kata Haruka berusaha menenangkan pria itu. "Ah, disitu ada kedai kopi, sebaiknya kita kesitu dulu untuk menenangkan diri…" Ajaknya kemudian. Mereka pun menuju kedai kopi tersebut, Haruka langsung memesan sesuatu ke waitress, sementara Akashi hanya diam saja.
"Seijuurou-kun… Kurasa kita tidak bisa menyalahkan keputusan yang adikku ambil…" Kata Haruka sambil menatap pria itu.
"Haruka… Aku harus bagaimana?" Tanya Akashi putus asa. Ini kedua kalinya Haruka melihat pria itu memasang wajah seperti itu, Haruka menghela nafasnya.
"… Aku sendiri tidak tahu, lagipula bagaimana kau bersikap, itu semua tergantung olehmu kan?" Jawab gadis itu. "Tapi Seijuurou-kun, menurutku caramu tadi itu salah, kalau kau seperti itu, kau malah membuat Seiryu takut bahkan…" Haruka menelan ludahnya. "… Membencimu…" Bisiknya. Akashi terdiam mendengarnya, dia juga menyesali tindakannya tadi. Tidak lama kemudian seorang waitress datang mengantarkan pesanan Haruka. Haruka pun meminum kopinya itu.
"Hmm… Ini enak sekali loh, Seijuurou-kun. Cobalah." Kata Haruka sambil menyerahkan cangkir tersebut pada Akashi. Namun Akashi menghela nafasnya melihat wajah Haruka yang disana terdapat krim.
"Hmph, ada krim menempel." Kata Akashi sambil mengusap krim itu dengan tisu, yang membuat wajah Haruka agak memerah.
"A-ah? Ma-Maaf… Hahaha…"
"… Kau benar, ini enak." Komentar Akashi setelah mencicipi kopi tersebut, entah karena kopinya atau apa, tapi dia merasa sudah lebih tenang. "Kurasa aku harus mencoba bicara lagi dengan Shizuka…"
"Un. Kau benar." Dukung Haruka, namun tiba-tiba handphone Akashi bergetar, dan dia buru-buru mengangkatnya.
"Ah, ini aku, ada apa? Begitukah? Aku mengerti, aku akan pulang ke Jepang secepatnya."
"Dari siapa?" Tanya Haruka penasaran.
"Ayahku." Jawab Akashi singkat. "Ada pekerjaan mendadak, dan dia juga tahu Shizuka akan menikah, mungkin dari ayahmu. Hhh… Aku yakin dia menertawakanku sekarang…"
"Seijuurou-kun…" Kata Haruka simpatik. "Kalau ayahku sudah tahu, akupun pasti akan dihubungi juga untuk segera pulang. Jadi mau bagaimana sekarang?" Akashi pun menghela nafasnya.
"Sepertinya kita tidak punya pilihan. Besok kita kembali ke Jepang."
"Baiklah." Kata Haruka dengan senyum yang dipaksakan.
Esok harinya Haruka dan Akashi pun kembali ke Jepang setelah berpamitan dengan Chihiro dan Shizuka, mereka bilang mereka berdua bersama Seiryu juga akan segera menyusul ke Jepang untuk mengurus pernikahan mereka.
.
.
.
Shizuka meremas tangannya sendiri gugup saat memasuki gerbang rumahnya yang sudah sangat lama tidak ia kunjungi, pagi tadi ia baru saja sampai di Jepang, Chihiro yang melihat ekspresi gugup Shizuka pun menggenggam tangannya.
"Jangan tegang begitu. Nanti cantikmu hilang." Bisiknya dengan senyum kecil, sehingga membuat pipi Shizuka merona. Seiryu yang berada di gendongan Chihiro tertawa melihat ekspresi ibunya.
"Huh, kau ini sempat-sempatnya…" Gerutu Shizuka. "Tapi terima kasih…" Lanjutnya lagi dengan senyum tipis. Mereka pun tiba di ruang keluarga kediaman Matsumoto dan duduk disitu. Tidak lama kemudian orang yang dinanti muncul, sosok yang sangat di sayangi sekaligus di takuti oleh Shizuka, ayahnya. Wajahnya terlihat bertambah tua namun tetap gagah dan berwibawa, dia masuk ke ruangan tersebut diikuti oleh Haruka yang berada dibelakangnya. Melihat itu, Chihiro langsung membungkukan badannya hormat, bagaimanapun ia masih atasannya. Shizuka juga ikut membungkukan badannya.
"Selamat siang, pak. Lama tidak berjumpa." Sapa Chihiro dengan senyumnya. "Ayo, kau juga, Seiryu." Suruh Chihiro pada si kecil. Seiryu menatap pria tua didepannya dengan matanya yang besar.
"Selamat siang… Kakek?" Sapa Seiryu ragu. Ayah Shizuka tidak langsung menjawab, dia mengamati Seiryu dari ujung kaki hingga kepala. Melihat anak itu entah kenapa dia mengingat seseorang, tapi cepat-cepat dia singkirkan pikiran itu.
"Ah, selamat siang." Jawab ayah Shizuka sambil menepuk kepala Seiryu. "Berapa umurmu?" Tanyanya kemudian, terlihat Seiryu berpikir sejenak.
"Emmmpat tahun!" Jawab Seiryu dengan cengiran lebar dan menunjukkan keempat jari tangannya, sehingga membuat ayah Shizuka dan Chihiro tersenyum kecil.
"Begitukah? Namamu Seiryu ya? Nama yang bagus." Puji sang kakek. Seiryu tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih! Nama itu papah yang memberikan!" Jawab Seiryu. Kembali sang kakek menepuk puncak kepala Seiryu.
"Nah, Seiryu, kakek harus bicara pada papah dan mamah. Seiryu main dulu ya dengan tante Haruka?" Ucapnya sambil melihat ke arah Haruka, Seiryu pun ikut melihat ke arah pandang sang kakek.
"Ah! Tante yang waktu itu!" Kata Seiryu mengingat Haruka, lalu pandangannya beralih ke arah Chihiro. "Papah, aku boleh kan main dengan tante itu?"
"Tentu saja boleh, jangan nakal ya." Pesan Chihiro, lalu ia melihat ke arah Haruka. "Haruka, titip Seiryu ya…"
"Iya, tentu saja. Nah Sei-chan, ayo!" Ajak Haruka sambil menggandeng tangan Seiryu, dan keduanya pergi meninggalkan ruangan itu.
"Nah, sekarang…" Sang ayah melihat kearah Shizuka dan Chihiro. "Waktunya pembicaraan serius." Shizuka tertunduk tidak berani menatap mata ayahnya.
"Shizuka, jujur saja, sangat sulit menerima kehadiran anak itu di keluarga kita." Ucap ayahnya yang membuat Shizuka semakin menundukkan pandangannya. "Tapi…" Jeda ayahnya. "Tapi setelah aku berpikir selama empat tahun ini, ternyata seperti ini lebih baik…" Ayahnya tersenyum padanya, dan menariknya kepelukannya.
"Ayah…" Bola mata Shizuka membulat tidak percaya.
"Maafkan ayah Shizuka… Ayah tidak seharusnya melakukan hal itu padamu dulu…" Bisik ayahnya. Air mata Shizuka pun mulai berjatuhan.
"Iya… Ayah… Aku juga… Aku juga minta maaf…" Ucap Shizuka sambil memeluk ayahnya kembali. Chihiro tersenyum menyaksikan ayah-anak itu, mengingat ia yang sudah tidak memiliki keluarga. Perlahan ayah Shizuka melepaskan pelukannya pada Shizuka dan menatap Chihiro.
"Mayuzumi, kau sudah tahu mengenai Shizuka, aku ingin tahu kenapa kau masih ingin menikahinya? Bukankah diluar sana masih banyak perempuan lain yang lebih baik, dan aku yakin mereka pasti mau bersamamu?" Chihiro tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Kau benar pak, diluar sana memang banyak perempuan lain, tapi…" Chihiro menatap lembut Shizuka dan menggenggam tangannya. "Hanya Shizuka yang kucintai sejak dulu, tidak ada rasa menyesal sedikitpun. Saya sangat bahagia bersama Shizuka dan Seiryu. Karena itu…" Chihiro membungkukkan badannya dengan sopan dan hormat. "Izinkan saya menikah dengan Shizuka." Ayahnyapun tersenyum puas mendengar itu.
"Kalian kurestui." Dia menepuk pundak Chihiro. "Bahagiakan Shizuka, dan Shizuka, jadilah istri yang baik." Pesannya.
"Aku janji, pak." Jawab Chihiro tegas, lalu ia menyenggol lengan Shizuka dan tersenyum jahil. "Kau dengar kan tadi? Yoroshiku nee…" Ucapan Chihiro itu lagi-lagi membuat pipi Shizuka merona lagi.
"Jadi, kapan kalian menikah?" Tanya ayahnya.
"Minggu depan, ya kan, Shizuka?" Jawab Chihiro yang membuat Shizuka terkejut, namun ia menganggukkan kepalanya. "Mengingat ini mendadak, jadi kemungkinan tidak bisa menjadi pesta yang besar. Tapi rasanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat saja sudah cukup." Jelas Chihiro, ayahnyapun menganggukan kepalanya setuju.
"Baiklah aku setuju. Lagipula sudah cukup aku trauma dengan empat tahun yang lalu…" Katanya sambil terkekeh pelan.
"Terima kasih atas pengertiannya." Ucap Chihiro, sambil tetap menggenggam tangan Shizuka.
"Empat tahun… Yang lalu?" Tanya Shizuka heran. Ayahnya hanya tersenyum kecil.
"Ya… Pernikahan Seijuurou dengan Haruka yang gagal total karena kedua pengantinnya menolak untuk menikah." Kata ayahnya mengingat saat itu, Shizuka dan Chihiro membelalakan matanya mendengar itu. "Tapi sudahlah, toh hanya masa lalu, dan hubungan keluarga kita dengan keluarga Akashi juga sudah membaik…" Shizuka hanya terdiam mendengarnya.
"Nah, baiklah kalau begitu. Kalian silahkan bicara berdua. Aku tinggal dulu." Pamit ayahnya. Chihiro pun kembali membungkukkan badan saat ayah Shizuka pergi. Shizuka menatap Chihiro dan meremas tangan Chihiro.
"Chihiro…" Gumam Shizuka. "Aku tidak menyangka secepat itu…" Chihiro pun menatap Shizuka khawatir.
"Ah, maaf, apa kau belum siap? Kalau kau mau kita bisa mengundurnya." Shizuka cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Ti-tidak, bukan begitu… Aku cuma…" Perempuan itu menundukkan pandangannya. "Ah, sudahlah, lupakan ucapanku barusan…" Lanjutnya dengan senyum yang dipaksakan, Chihiro pun menangkup wajahnya agar bisa menatapnya.
"Aku akan membahagiakanmu dan Seiryu…" Ucap pria itu, lalu ia mengecup bibir Shizuka lembut. "Ah, aku bahagia…" Katanya lagi dengan senyuman terlukis di wajahnya.
"Mou… Chihiro…" Bisik Shizuka.
"Ah! Papah cium mamah!" Seru Seiryu yang muncul tiba-tiba. "Cium aku jugaaa!" Katanya lagi sambil berlari dan menubruk kaki Chihiro, sehingga membuatnya tertawa.
"Baik… Baik… Sini papah cium…" Kata Chihiro sambil berjongkok dan mencium pipi Seiryu.
"Seiryu, bukannya tadi kau bersama tante Haruka?" Tanya Shizuka pada anaknya.
"Aku lari cari papah mamah, dan tante Haruka ditinggal…" Jawab Seiryu polos. Shizuka pun tertawa mendengarnya.
"Dasar kau ini!" Kata Shizuka sambil mencubit pipi Seiryu dan menciumnya.
"Ah… Ternyata disini…" Kata Haruka.
"Tuh kan, tante mencarimu…" Tegur Chihiro. Seiryu hanya memberi cengiran pada Haruka.
"Maaf tante…"
"Nee-san, maaf ya merepotkan…" Kata Shizuka.
"Kau bicara apa, Seiryu keponakanku…" Haruka mengacak pelan rambut coklat kemerahan Seiryu. "Fufu… Manisnya…" Puji Haruka dengan senyuman di wajahnya. Seiryu pun langsung bersembunyi dibelakang Chihiro.
"Loh? Kenapa sembunyi?" Tanya Chihiro dengan tawanya.
"Ah… Dia malu…" Shizuka dan Haruka pun ikut tertawa melihat Seiryu. Tiba-tiba handphone Haruka berbunyi.
"Sebentar ya, aku angkat telepon dulu." Haruka mengangkat teleponnya yang ternyata dari Akashi.
"Seijuurou-kun? Ada apa?" Tanya Haruka.
"Haruka, apa ada Shizuka disitu?" Tanya suara disebrang.
"Iya, dia ada di ruang keluarga bersama Mayuzumi dan Seiryu. Kenapa?"
"… Aku ingin bicara dengannya sebentar…" Haruka terdiam sejenak sebelum meng'iya'kan.
"… Baiklah, tunggu sebentar." Haruka pun memanggil Shizuka.
"Ada apa, nee-san?"
"Seijuurou-kun ingin bicara denganmu…" Bisik Haruka sambil menyerahkan handphonenya. Shizuka segera keluar ruangan dan bicara dengannya.
"Ah, ada apa… Akashi?" Tanya Shizuka sambil menelan ludahnya, entah dia harus senang atau sedih saat Akashi meneleponnya, dia juga bingung harus bagaimana bicara dengannya.
"'Akashi'? Panggil aku seperti biasa." Kata Akashi kecewa.
"Kenapa harus begitu, Akashi?" Shizuka berusaha tetap tenang. 'Seijuurou…' Batin Shizuka. Diseberang sana Akashi sedang meremas dadanya.
"Kau… Apa empat tahun sudah benar-benar merubahmu?"
"… Akashi, hidupku terus berjalan tanpamu. Tentu saja semuanya berubah."
"Begitukah?" Lirih pria itu, lalu ia menghela nafasnya. "Kalau begitu langsung saja, aku ingin bertemu denganmu besok. Aku ingin bicara langsung denganmu." Shizuka memejamkan matanya sebentar.
"Bicara apa? Kurasa semuanya sudah jelas. Ngomong-ngomong aku akan menikah minggu depan, nanti akan ada undangan resminya. Kalau sempat datanglah…" Kata Shizuka pelan. Hati Akashi serasa hancur mendengarnya.
"… Aku tahu itu, makanya aku ingin bertemu denganmu untuk terakhir kalinya sebelum kau menikah…" Lirihnya lagi. "Kumohon…" Bisiknya di akhir kalimat. Shizuka tersenyum tipis mendengarnya.
"… Bodoh. Kenapa kau bicara seolah kita tidak akan bertemu lagi? Dasar tuan kaku…" Bisik Shizuka. "Baiklah. Dimana?" Akashi pun tersenyum kecil mendengar itu.
"Urusai…" Bisiknya. "Besok siang di taman tempat kita biasa bertemu. Aku akan menunggumu."
"Jam 1 ya? Sampai besok." Setelah itu Shizuka langsung mematikan teleponnya, dan mengembalikan handphone Haruka.
"Nee-san… Terima kasih…"
"Ah, iya." Haruka sebetulnya ingin tahu apa yang dibicarakan, tapi dia menahannya. "Shizuka, bagaimana jika malam ini kita makan malam diluar? Kalian bertiga, aku, dan ayah." Ajak Haruka.
"Boleh saja… Chihiro?"
"Tentu saja. Iya kan, Seiryu?" Kata Chihiro meminta persetujuan anaknya.
"Mau!" Kata Seiryu semangat, namun tiba-tiba ia terdiam. "Tapi jangan ajak paman yang kemarin ya? Dia menakutkan… Papah akan melindungiku dari paman itu kan?" Tanyanya sambil menarik-narik baju Chihiro. Chihiro bingung harus menjawab bagaimana.
"… Seiryu… Papah pasti akan melindungi Seiryu dari apapun, itu pasti. Tapi paman yang kemarin sebenarnya tidak menakutkan. Seiryu tidak boleh bersikap seperti itu…"
"Seiryu tetap tidak suka! Paman itu berusaha menjauhkan Seiryu dari papah! Seiryu tidak mau!" Bantah Seiryu. Chihiro pun berjongkok dan memegang lengan Seiryu erat.
"Seiryu." Kata Chihiro tegas. "Tidak boleh seperti itu."
"Seiryu gak mau ketemu sama paman itu! Seiryu gak mau pisah sama papah!" Teriak Seiryu dan dia mulai menangis. Chihiro pun memeluknya.
"Seiryu gak akan pisah sama papah… Papah gak akan ninggalin Seiryu… Jagoan papah masa nangis?" Hibur Chihiro sambil mengusap air mata anak itu. Shizuka pun menatapnya sendu.
"Seiryu…" Panggil Shizuka lembut, dan dia mengusap kepala Seiryu. "Paman itu sebenarnya baik ko'… Tidak boleh begitu ya?"
"Orang yang menjauhkan aku dari papah bukan orang baik!" Isak Seiryu sambil memeluk Chihiro erat, Chihiro mengelus kepala anak itu.
"Seiryu sangat menyayangi papah ya?" Tanya Chihiro, Seiryu pun langsung mengangguk sambil tetap terisak. "Papah juga sangat menyayangi Seiryu." Chihiro memeluk anak itu semakin erat. "Karena itu, jangan menangis lagi ya? Papah sedih melihatnya…"
'Chihiro… Seiryu…' Batin Shizuka, diapun memeluk keduanya. Haruka yang melihat itu hanya bisa tersenyum sedih.
"Mamah… Seiryu hanya butuh… Hiks… Papah dan mamah… Hiks… Dan Seiryu bersama seperti biasanya…" Kata Seiryu, lalu ia terdiam sejenak melihat Haruka. "Kecuali kakek dan tante deh… Soalnya mereka baik…" Lanjutnya lagi dengan ekspresi cemberut yang menggemaskan. Shizuka tertawa kecil mendengarnya.
"Baik… Baik…" Shizuka menepuk puncak kepala anaknya. "Nah, jangan menangis lagi ya? Sekarang Seiryu bobo siang dulu, nanti malam kita jalan-jalan, oke?" Bujuknya.
"Seiryu mau bobo ditemenin papah!" Pintanya. Chihiro membersihkan pipi Seiryu dan tersenyum padanya.
"Boleh…"
"Ah? Papah marah ya? Mata papah merah dan berair… Maaf ya pah…" Kata Seiryu menyesal, cepat-cepat Chihiro menggeleng.
"Papah gak marah… Papah…" Pria itu menarik nafasnya untuk berusaha tenang. "Papah cuma terharu sama Seiryu…"
"Terharu?" Tanya Seiryu bingung.
"Maksudnya, papah sangat bahagia, sampai rasanya ingin menangis…" Jelas Chihiro. Mendengar itu Seiryu tertawa kecil.
"Papah aneh! Bahagia ko' menangis?"
"Seiryu, tidur di kamar lama Shizuka saja ya? Sudah dirapihkan ko'." Kata Haruka.
"Ah, terima kasih." Ucap Chihiro. "Nah, sekarang Seiryu naik ke pundak papah ya?" Chihiro pun menaikkan Seiryu ke pundaknya. "Woosh… Kita berangkat!" Seiryu menjerit senang.
"Hahahaha, papah, nanti aku jatuh!"
"Kalau begitu pegangan yang erat! Seiryu jadi pilotnya!" Kata Chihiro, Seiryu pun mengeratkan pegangannya, dan tertawa lagi. Tinggallah Haruka dan Shizuka di ruangan tersebut.
"Seiryu dekat sekali ya dengan Mayuzumi?" Kata Haruka sambil tersenyum.
"Un. Kau benar… Mau bagaimana lagi, sejak kecil, Chihiro lah yang selalu disisinya…" Kata Shizuka sambil menatap sendu, perlahan air matanya menetes. "Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya nanti soal Seijuurou, dia berhak dan harus tahu kalau Seijuurou itu ayahnya. Dan Seijuurou juga berhak atas Seiryu…" Lirihnya. Haruka menghela nafas mendengar itu.
"Untuk saat ini, sepertinya Seiryu tidak perlu tahu. Kau hanya akan menyakitinya saja." Saran Haruka.
"Tapi kak… Sejujurnya aku kasihan pada Seijuurou… Tapi aku juga tidak mau Seiryu terluka…" Kata Shizuka pelan, Haruka pun menepuk pundaknya.
"Suatu saat nanti, akan tiba waktunya kau mengatakan hal ini pada Seiryu, tunggulah sampai saat itu tiba…" Shizuka tersenyum mendengar ucapan kakaknya.
"Iya, kau benar kak…" Kata Shizuka sambil meremas tangannya.
"Ngomong-ngomong… Kau akan menikah dengan Mayuzumi minggu depan. Kau… Serius?" Tanya Haruka hati-hati. Shizuka terdiam sesaat.
"… Ya…" Jawabnya kemudian dengan senyum yang dipaksakan.
"…Lalu bagaimana dengan Seijuurou-kun?"
"Entahlah, aku ingin menyelesaikan semuanya besok…"
Haruka tersenyum masam. "Pilihlah jalan yang tidak akan kau sesali." Jeda sesaat. "Maaf untuk segala yang terjadi selama ini."
"Kau benar…" Senyum Shizuka. "Sudahlah kak… Aku sudah memaafkanmu…"
"Sebagai permintaan maaf, aku akan membantu mempersiapkan penikahanmu. Dulu kau juga membantuku kan?" Kata Haruka sambil tersenyum sedih mengingatnya.
"Hahaha… Kau ini kak…" Shizuka tertawa kecil. "Tapi aku sangat senang kalau kau mau membantuku…"
"Aku akan mulai menghubungi WOnya. Kau… Jaga calon suamimu sana, jangan sampai direbut perempuan lain. Mayuzumi itu tampan, baik, dan pekerja keras loh…" Ucap Haruka jahil. Shizuka tertawa lgi mendengarnya.
"Kau benar kak… Dia pria yang luar biasa baik, dan aku masih bingung kenapa dia mau denganku…"
"Karena kau luar biasa spesial untuknya…" Jawab Haruka.
"Kau bisa saja kak… Baiklah, aku mau mengecek Seiryu dulu ya…" Pamit Shizuka, ia pun keluar dari ruangan itu. Shizuka menuju kamarnya dan melihat Seiryu yang sudah tertidur, dan disebelah Seiryu, Chihiro yang membelakanginya sedang mengusap rambut Seiryu. Shizuka pun tersenyum melihat itu. Chihiro yang menyadari kedatangan Shizuka, langsung bangun.
"Kenapa bangun? Kau juga istirahatlah… Kau lelah kan?" Kata Shizuka, dia duduk disebelah Chihiro sambil menyentuh wajahnya, Chihiro menikmati sentuhan Shizuka, perlahan dia menyenderkan kepalanya di dada Shizuka.
"Shizuka… Tadi telepon dari Akashi..?" Tanya Chihiro ragu. Shizuka menarik nafasnya dan mengumpulkan keberanian untuk menjawabnya.
"Un. Kau benar. Besok kami akan bertemu. Aku ingin menyelesaikan ini dengannya." Jawab Shizuka kalem, dia tidak ingin menutupi apapun dari pria itu. Chihiro hanya menahan rasa terkejutnya lalu memeluk perempuan itu erat dan menikmati wangi tubuh Shizuka. Perasaan tidak nyaman kembali menghampiri Chihiro saat mendengar ucapan Shizuka tadi.
"Chihiro, ada apa?" Tanya Shizuka heran, tidak biasanya Chihiro begini. Pria itu perlahan melepas pelukannya dan menatapnya.
"Aku ingin menciummu…" Bisik Chihiro. Shizuka menatap pria didepannya tidak percaya, tapi tidak bisa memberikan respon, beberapa detik kemudian, hanya warna abu-abu yang ada di pandangannya, dan dia merasa tekanan di bibirnya semakin dalam. Baru pertama kali Chihiro menciumnya seperti ini. Tanpa sadar Chihiro sudah menindihnya dan perlahan ciumannya turun ke leher Shizuka.
"Chi-Chihiro…" Desis Shizuka. Chihiro yang tersadar, langsung menghentikan kegiatannya dan buru-buru bangkit dari posisinya dengan wajah yang memerah.
"Ma-maaf, aku kehilangan kendali…" Kata Chihiro sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya. Shizuka hanya tersenyum kecil mendengarnya, wajar saja, Chihiro adalah pria normal yang sudah matang, jadi tidak aneh jika dia bisa lepas kendali, apalagi bersama dengan perempuan yang dicintainya, empat tahun bisa menahan diri benar-benar luar biasa. Shizuka menepuk pundak pria itu.
"Sudahlah. Tidak apa, aku mengerti. Ayo tidur. Malam nanti kita ada acara kan?" Ajak Shizuka. Mereka bertiga pun tertidur dengan Seiryu yang berada diantara keduanya.
.
.
.
TBC
Author's note:
Sebelumnya… SUMIMASEN READER-SAMA! *sujud*
Author padahal bilang di chap kemaren kalau ini last chap, ternyata bukan~! Ampun! T^T
Aslinya, ini ngelebihin perkiraan author (padahal uda di targettin Cuma 5 chap… Hiks)… Author pikir gak akan sepanjang ini… ini aja udah 6k words lebih… Kalau author paksain bakal puanjaaaang banget, kasian reader juga kan pegel nge scroll? Tapi kalau dipendekkin, nanti malah gajelas… :'3
Ah, baiklah, author bales review dulu ya…
Yamashita Hanami-chan : Hahaha… benarkah? xD Ah, iya, maaf soal itu… Author lupa ga ngasih jarak, jadinya bingung ya? Maaf ya… Makasih sarannya T^T Ini chap 5-nya… Maaf kalau ngecewain :'D
ShizukiArista : Wakakakak~ Silahkan lakukan! Aku mendukungmu! xD #tiba-tiba ada hujan gunting di kamar author. Fufufu… Kita lihat saja nanti di chap depan bagaimana akhirnya~ :3
Nijigengurl : ketebak? Ah ga rame ah… *mundung* #digampar. Silahkan lempar dia kelaut! xD *nyodorin Akashi* Ha'i~ makasih~ maaf ini ga jadi last chap~ T^T
Aka Shagatta : Ahahaha~ xD Kalimat terakhir itu diambil dari translate-an lagu Aimer : Re:Pray (ed. Bleach) xD Siiplah! Ini udah puanjaaang! X3 #plokk
ABNORMALholic : Namanya juga lagi esmosi… ;w;)/ amiiin… Semoga saja begitu… x'D
Aoi Yukari : wkakakak~ nasib mereka? Entahlah, author lagi seneng mainin nasib mereka~ #dibantai rame-rame
Silvia-KI chan : Waduh… Sipplah! Ini udah lanjut… x'3
LeoniaOtaku : Hahaha~ kita lihat saja nanti okeh?! XD Sipplah~ x3
Mey chan 5872682 : Hohoho(?) xD Pertanyaannya udah kejawab kan diatas? xD Sipp, ini lanjutannya~ x3
Nah, selesai~ Semuanya… Makasih banyak atas reviewnya! Dan sekali lagi maaf ini ga jadi last chap… T^T
Tapi tenang aja, author bakal publish chap selanjutnya secepatnya oke? :'3
Nah, seperti biasa, author minta review, kritik dan saran atau apapun lah di kotak review~ xD
Ok, see you next chap! ^w^)/
Sign, Kaito Akahime.
P.S : Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan~ ;3
