[Hunhan FanFiction]

Genre: Romance; Fluff – Yaoi

Rating: T-M (for mature scenes in upcoming chapters)

Warning: Yaoi ; Boys Love ; Typos

.

a/n : thankyou for all the loves guys ;_; I'm happy! Nih udah dilanjut hehe dan di chapter ini banyak flashback atas apa yang pernah terjadi antara hunhan #ea wkwk paansih. terus jangan lupa di review lagii dan kasih tau pendapat kalian ya! Baca pelan-pelan

And plase do leave feedbacks/reviews

HAPPY READING!

.

.

SOMETHING FROM THE PAST

Chapter 2 : A Father

.

.

.

Sehun menemukan permata terindah malam itu.

Ia ada disebuah gay bar murah malam itu karena beban pekerjaan yang diberikan ayahnya padanya membuatnya hampir gila. Matanya tertuju pada lelaki mungil dengan kulit pucat semulus porselen dan mata terindah yang pernah Sehun lihat. Semua bagian tubuhnya meneriakkan kecantikan hingga Sehun dibuat linglung sesaat.

Aku menginginkannya. Batin Sehun berteriak.

Lelaki itu begitu lugu, bahkan ketika Sehun berhasil menawarnya pada mucikari disana, lelaki itu hanya mengikutinya tanpa penolakan. Sehun rasa ia mendapat jackpot karena mucikari tua itu berkata bahwa lelaki ini masih suci dan bukan hanya menyewanya, Sehun memutuskan untuk membelinya. Uang bukanlah sesuatu yang Sehun pikirkan karena ketika ia ingin berendam dengan dolar dirumahnya pun ia bisa melakukannya.

Sehun mengetahui Luhan adalah namanya. Pria malang itu besar di panti asuhan dan diboyong dari China ketika ia masih balita.

Di bawah temaram lampu hotel, Sehun merenggut apapun yang bisa ia dapatkan dari Luhan. Selain kesuciannya, little did Sehun know, ia merenggut sesuatu diluar kendalinya. Hati Luhan.

Lelaki itu tidak meronta, ia hanya menerima –dan merintih- dan Sehun rasa ia telah jatuh kedalam pelukan Luhan malam itu.

Hubungan keduanya berlanjut, Sehun akan datang ke flat mungil Luhan ketika ia ingin melakukannya, atau ketika Sehun hanya ingin berkunjung melepas penat dari beban tanggung jawabnya sebagai pewaris tahta mega perusahaan milik keluarga Oh. Sehun akan meninggalkan uang setiap ia berkunjung kesana, dan kadang Luhan merasa uang tersebut terlalu banyak. Tapi Sehun tetap bersikeras memberikannya sehingga Luhan tidak perlu mengambil beberapa pekerjaan sekaligus untuk menghidupinya.

Alasan itulah juga yang membuat sehun tahu bahwa tubuh luhan sudah tidak mampu menahan beban beberapa pekerjaan sekaligus sehingga ia sering jatuh sakit. Ketika pria malang itu ditawari pekerjaan oleh seseorang dan dijanjikan ia akan mendapatkan easy money, Luhan yang naif dan polos tidak kuasa menolak. Hal itulah yang membuatnya dan Luhan bertemu di gay bar kala itu.

Sehun tidak tahu ia harus mengasihani Luhan yang telah tertipu atau bersyukur. Karena jika bukan karena penipu bajingan itu, mungkin ia tidak akan pernah menemukan rusa kecilnya. Luhan-nya yang begitu berharga.

Begitu juga Luhan yang sama bahagianya karena dipertemukan dengan Sehun.

Pengalaman apapun bersama Sehun selalu terasa menyenangkan. Mengirim impuls bahagia keseluruh tubuhnya, kadang ia bisa merasakan kupu-kupu imajiner berterbangan dalam perutnya ketika Sehun membisikkan kata-kata manis padanya saat mereka bercinta ataupun saat mereka sedang menghabiskan waktu bersama dengan berada dalam dekapan satu sama lain.

Hubungan keduanya berlanjut, hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Bulan demi bulan mereka lalui dan tanpa terasa mereka sudah melalui hubungan ini lebih dari setahun lamanya. Luhan tidak tahu bagaimana caranya hidup tanpa Sehun, begitupun Sehun.

Orang pertama yang Sehun cari ketika ia merasa bahwa semesta menentangnya adalah Luhan. Pria mungil yang mengingatkannya pada rusa.

Ia adalah rumahnya.

Sampai suatu saat,

Sehun datang sore itu bersama seluruh beban dipundaknya karena ia baru saja beradu mulut dengan ayahnya –lagi-. Tidak ada satupun rencana yang berjalan sesuai keinginginannya sehingga disinilah ia, dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu flat Luhan. Seharusnya Luhan sudah pulang dari pekerjaannya sebagai pelayan di sebuah restoran tapi entah mengapa ketukan Sehun di pintu itu tidak berbalas.

Sembari mengutuk segalanya, ia kembali ke mobilnya. Menunggu Luhan-nya pulang. Sehun mengambil sepuntung rokok yang ia letakkan di bawah dashboard dan menyalakannya. Ia ingin bersantai sejenak sebelum menemui Luhan. Luhan bilang ia tidak menyukai aroma tembakau di mulut Sehun ketika mereka berciuman sehingga Sehun benar-benar berusaha untuk tidak menyentuh barang itu lagi, namun kali ini, Sehun rasa ia membutuhkannya untuk melemaskan otot di tubuhnya.

Cukup lama ia menunggu hingga sebuah mobil hitam menepi di sisi lain bangunan flat Luhan. Tanpa ia sangka, Luhan keluar dari mobil itu.

Mata Sehun memicing. Biasanya Luhan bepergian dengan bus atau angkutan umum. Puntung rokok yang tinggal seperempat itu tidak sadar ia gigit. Dengan siapa Luhan disana?

Dari pintu pengemudi, keluar pula seorang pria paruh baya. Dan kejadian selanjutnya membuat Sehun hampir menggigit putus rokoknya.

Didepan matanya, ia melihat Luhan-nya dan pria sialan itu berpelukan. Luhan tersenyum dengan bahagia. Sedikit terlalu bahagia di mata Sehun dan itu membuat Sehun hampir kehilangan kewarasannya,

"Fuck, that bitch is cheating on me?" desisnya dengan marah.

Sehun dapat merasakan seluruh darahnya berdesir di kepalanya. Tangannya mengepal seperti meremas sesuatu tak kasat mata, ingin menghancurkan apapun itu.

Berbagai skenario tentang Luhan yang berselingkuh di belakangnya mucul dan berputar-putar dalam otaknya. Sejak kapan mereka melakukan ini di belakangnya?

Pemikiran bahwa Luhan juga menyerahkan dirinya pada lelaki tua itu membuat kewarasan Sehun terbakar habis. Luhan adalah miliknya dan miliknya seorang.

Apakah Luhan-nya setega ini hingga melakukan ini di belakang mereka? Atas apa yang telah Sehun curahkan kepadanya. Lupakan uang, namun seluruh perhatian dan cinta yang ia berikan, waktu yang mereka habiskan bersama.

Bagaimana dengan janji-janji kecil yang mereka ucapkan atas masa depan dimana ada mereka berdua di dalamnya?

Sehun tercekat. Ia tidak mempercayai ini namun kenyataan menamparnya dengan keras di hadapan matanya sendiri.

Sedikit kewarasan yang tertinggal di sudut kepalanya mengatakan untuk tidak membuat keributan dengan keluar dari mobilnya dan membabi buta memukul pria itu karena kemungkinan besar namanya akan terpampang di halaman depan koran nasional.

Dengan pikiran yang sangat kalut, ia menyetir memutar balik mobilnya entah kemana tangan pada setirnya membawa.

Sehun gelap mata.

Namun lebih dari itu, ia hancur.

.

.

.

Luhan sedang duduk di kursi makannya yang sempit ketika jam dinding di hadapannya menunjukkan pukul 11. Tiga jam lalu Luhan selesai memasak makanan kesukaan Sehun, stew hangat dengan sosis dan sayuran di dalamnya. Ia masih berdiam diri di kursinya, makanannya mendingin sedangkan yang ditunggu tidak kunjung datang. Sehun biasanya akan datang pada sabtu malam dan bercinta dengannya –pipi Luhan masih saja memerah ketika ia membayangkannya, padahal sudah tidak terhitung berapa kali mereka melakukannya.

Tiba-tiba suara pintu menjeblak terbuka mengagetkan Luhan, menampilkan Sehun yang terlihat berbeda. Mata pria itu merah dan mengilat, nafasnya terputus-terputus dan pakaiannya tidak serapih biasanya.

Ketika bau alkohol menusuk hidung Luhan, ia sadar.

Luhan segera bangkit dari kursinya dan bergerak menuju Sehun. Sehun yang mabuk bukanlah Sehun yang baik. "Kau mabuk, Sehun. Apa kali ini kau bertingkah pada ayahmu, hm?" tangan kurusnya menggapai jaket yang Sehun kenakan, berniat melepaskannya seperti yang biasanya.

Luhan tidak menyadari tatapan hewan buas pada mangsanya yang sedang pria mungil itu hadapi.

Tangan Luhan disisihkan oleh Sehun, tenaganya cukup kuat bahkan membuat tubuh Luhan mundur beberapa langkah. Lantas Luhan mendongak, "ada apa, Sehun?"

Ketika itulah Luhan menyadarinya, mata yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Begitu mengerikan dan mengintimidasi Luhan. Rasa takut membilas raganya, ia segera ingin menjauh dari sosok ini. Batinnya berteriak bahwa pria jangkung dihadapannya ini bukanlah Sehun yang biasanya gentle dan sayang padanya.

Luhan ingin lari dan bersembunyi dimanapun, menjauh, ia ingin hilang dari pandangan menusuk Sehun. Alih-alih dapat pergi, ia tiba-tiba merasakan cengkraman kuat pada kedua lengannya. Mencegahnya pergi. Memaksanya untuk melihat kedua mata itu. Luhan rasa ia belum pernah setakut ini.

"Aku mempercayaimu, Luhan. Tapi kau membuang semuanya," Sehun berdesis berbahaya. Memuntahkan api di setiap kata yang ia ucapkan. Mata elangnya tidak meninggalkan mata ketakutan Luhan.

Luhan masih tidak berani mengatakan apapun, lidahnya kelu dan tubuhnya melemas. Apa yang dimaksud Sehun? Tertahan di tenggorokannya tanpa bisa keluar.

"Katakan Luhan, uang yang kuberikan padamu apa tidak cukup untukmu? Bahkan cintaku?" kali ini Sehun terdengar putus asa, cengkramannya pada kedua lengan Luhan sedikit melemah.

Luhan tercekat, ia tidak mengerti. "Sehun, apapun itu tidak benar. Aku mencintaimu, kau mengetahuinya,"

Luhan merasa genggaman Sehun semakin kuat, bahkan lebih kuat dari yang sebelumnya. Ia benar-benar ingin bersembunyi karena demi dewa-dewa dan semestanya, ia begitu takut.

"Aku melihatmu, kau keluar dari mobil bersama pria sialan itu! Bahkan memeluknya! APA KAU PIKIR AKU BODOH, LUHAN?!" Sehun berteriak, bayangan dimana Luhan tersenyum dengan indahnya ketika memeluk pria itu meruntuhkan segala akal sehat yang ia miliki malam itu. Dan, hati Luhan hancur mendengarnya.

Ini adalah sebuah kesalah pahaman sepele!

"Astaga, Sehun ini tidak seperti yang kau pikirkan! ia adalah-"

Sebelum Luhan dapat melanjutkan ucapannya, bibirnya dibungkan oleh bibir Sehun.

Sehun menciumnya penuh-penuh. Ditengah ciuman yang kasar dan terburu-terburu itu, Luhan dapat merasakan pipinya basah, namun bukan karena air matanya, melainkan air mata Sehun. Ini adalah kali pertama Sehun menangis di hadapannya dan Luhan makin hancur. Ia tidak ingin seperti ini!

Tanpa melepaskan ciuman itu, Sehun menghempaskan badan ringkih Luhan ke tempat tidur di sudut flat-nya hingga ciuman mereka terlepas.

"Listen, Luhan, malam ini kau akan mengerti siapa yang memilikimu dan tubuhmu!" serunya berbahaya.

Tanpa ia sangka, Sehun melepaskan dasi yang sebelumnya menggantung di lehernya dan mengikat dasi biru itu ke mulut Luhan. Menahannya untuk berbicara dan berteriak.

Luhan meneteskan air matanya. Ia tidak pernah setakut ini. Ia ingin bersembunyi dari kedua mata itu dan Sehun yang tidak ia kenali ini.

Sebelum ia mengetahuinya, Luhan menemukan seluruh pakaiannya telah dilucuti oleh Sehun. Udara dingin malam itu entah mengapa tidak membuat Luhan kedinginan, tubuhnya begitu panas karena darah yang berdesir ribut dalam tubuhnya.

Tanpa melepaskan pakaiannya sendiri, Sehun mengeluarkan kejantanannya yang mengeras dari celananya dan segera memposisikan kejantanannya, "Kau akan menyesal, Luhan!" serunya lagi bahkan dengan suara tercekat.

Sehun langsung memasukinya, tanpa persiapan, dan bahkan tanpa pengaman yang biasanya selalu mereka gunakan ketika bercinta.

Namun Luhan sadar kali ini mereka tidak bercinta. Sehun melampiaskan dan Luhan menerima. Hubungan yang mereka bangun perlahan runtuh malam itu.

Sehun melakukannya dengan sangat kasar. Tidak pernah sekasar ini sebelumnya. Rintihan Luhan yang terbekap kain di mulutnya hanya terdengar samar di ruangan itu. Untuk menolakpun ia tidak memiliki tenaga tersisa, hanya mampu merintih karena rasa sakit luar biasa yang dirasakannya. Bukan hanya di tubuhnya, namun juga sesuatu dalam dadanya yang terus berdenyut sakit, meskipun Luhan tidak tahu apa itu. Hanya suara geraman Sehun dan suara pertemuan kulit yang membuatnya sadar.

Ketika Sehun menjemput putihnya, ia mengeluarkan semua benihnya dalam Luhan. Sehun hanya terdiam, begitu juga dengan Luhan.

Batin keduanya tersiksa. Sehun karena rasa kekecewaan serta penyesalan yang menggerogotinya karena telah menyakiti Luhan, dan Luhan karena ketidakmampuannya untuk menjelaskannya pada Sehun.

Sehun buru-buru mencabut dirinya dan menutup zipper celananya. ia tidak mengucapkan apapun bahkan ketika ia berbalik badan hendak pergi dari flat yang sudah ia anggap sebagai rumahnya itu.

Sebelum membuka pintu flat itu, Sehun mengeluarkan semua uang yang terdapat di dalam dompetnya dan membuangnya begitu saja di hadapan Luhan, bahkan tanpa melihat pria itu.

Dalam hati kecil Sehun, inilah hal terakhir yang dapat ia berikan pada Luhan, karena telah melayaninya alih-alih mencintainya

Ketika pintu itu ia buka, terpaan angin malam seolah menamparnya. Langkahnya berat, ia tidak ingin meninggalkan Luhan, apalagi dengan keadaan sekacau itu. Namun kenyataan menyadarkannya, mungkin Luhan tidak pernah mencintainya dan hanya mempermainkannya.

Ia memberanikan diri untuk menoleh terakhir kali, untuk melihat wajah Luhannya yang selalu ia puja-puja itu. Hati Sehun hancur lagi melihatnya, pria mungil itu begitu kacau. Wajah cantiknya dipenuhi lelehan air mata dan Sehun bahkan melihat memar di pinggangnya –pasti karena ia mencengkramnya begitu kuat ketika melakukannya.

Sehun menyesal. Namun secuil egonya mengatakan ia tidak bisa berada disini. Ia tidak akan mampu melihat lelaki mungil kesayangannya begitu kacau dan berantakan, olehnya.

Dengan itu, Sehun melangkah pergi. Seiring dengan pintu yang tertutup, ia bersumpah itulah juga terakhir kalinya ia membuka hatinya untuk orang lain.

Dibalik pintu itu, Luhan menangis terisak.

.

.

.

Setelah Luhan memberitahu siapa Haowen sebenarnya, otak Sehun seolah membeku tidak dapat memproses informasi yang ia peroleh, sehingga ia pergi dari situ setelah mengucapkan salam perpisahan kecil pada Luhan. Setelah mendonorkan darahnya, Sehun pulang dengan memanggil sopir pribadi karena kepalanya sungguh pening dan berdenyut sakit untuknya mampu menyetir sendiri.

Sehun sungguh merasa bersalah pada pria mungil itu. Tidak, ia tidak hanya merasa bersalah pada Luhan saja melainkan pada Haowen, benih yang ia lepas pada Luhan malam itu.

Yang kemudian lahir ke dunia tanpa memiliki sosok ayah.

Ia adalah pria bodoh, tidak seharusnya kegilaannya malam itu membuatnya melakukan hal sehina yang ia lakukan pada Luhan. Sehun terus merutuki dirinya.

Lelaki mungil itu bahkan tidak berusaha mencarinya ketika ia mengetahui tentang kehamilannya, Sehun yakin Luhan tahu betul dimana ia bekerja dan rumahnya meskipun Luhan tidak pernah mengunjunginya. Sehun dibuat semakin menyesal.

Beragam pertanyaan muncul dalam benak pria itu. Bagaimana perasaan Luhan ketika ia menemukan fakta bahwa ia hamil? Apa ia makan dengan baik? Apa ia tidak kelelahan? Dan Demi Tuhan, Sehun ingin menembak kepalanya dengan senapan yang terpajang di dinding rumahnya ketika ia berpikir bagaimana perasaan Luhan ketika harus melahirkan Haowen dan membesarkannya sendirian? Luhan bahkan baru muncul setelah sekian lama, tujuannya pun untuk menyelamatkan nyawa anak mereka, bukannya meminta pertanggung jawaban atas apa yang Sehun lakukan padanya empat tahun lalu.

Sehun bergelung di kasurnya yang sangat besar dan dingin. Ia teringat kalimat yang terakhir diucapkan Luhan, adalah penjelasan yang tidak pernah ia dapatkan hingga detik ini. Jika ia tidak cukup bodoh untuk tidak mendengarkan penjelasan Luhan waktu itu dan bukannya langsung melompat pada kesimpulan yang dibuat oleh otaknya yang sedang mabuk kala itu, mungkin Haowen tidak perlu lahir dan tumbuh tanpa sosok seorang ayah yang menyayanginya. Bahkan, mungkin saat ini Haowen akan mempunyai adik mungil yang cantik dan lucu bila Sehun tidak begitu bodoh. Sehun tersenyum kecut karena pemikirannya sendiri.

Apa ini? Seharusnya ia memikirkan bagaiamana caranya menebus kesalahannya pada dua orang berharganya, bukannya berimajinasi tentang seorang anak perempuan.

Bodoh. Ia menyesal. Bagaimana ia akan menebusnya pada Luhan dan Haowen?

Dan ada satu pertanyaan yang begitu mengganggu, telah berada dibenaknya bertahun-tahun lamanya. Ia harus memastikannya. Apa Luhan pernah mencintainya?

.

.

.

Tobecontinued

A/N : Yhaaaa sebenernya mau dilanjutin lagi tapi karena entar kepanjangan jadi dipisah aja deh ya yorobun wkwk. Sebenernya pinginnya masukin siapa om om yang meluk Luhan di chapter ini tapi kayanya bakal kepanjangan, so, yeah… Terus kelanjutannya enanya gimana niih wkwk bantu kasih saran is very welcomed! Dan buat yang kemaren mencyduk aku di twitter, udah di update yak semoga sesuai harapan wkwkwk #paansi. Jangan lupa review karena review dan support kalian adalah bahan bakar aku buat nyelesein ini WKWK ditunggu review dan feedback nyaa~~

p.s 11/11/18 (7.24 AM) : I updated few scenes yang menurutku kurang memuaskan heheh buat yang sudah baca dan liat note tambahan ini, tambahannya ada di bagian sehun liat luhan pelukan sama om om wkwk thanks agaiin~