Semua orang di ruangan itu menganga. Seokjin yang terbelalak, Namjoon yang berkali-kali mengusap wajah, Jimin yang sudah lima kali berdehem, dan pelayan-pelayan istana yang mencoba menutupi keterkejutannya sambil menunduk dalam. Tidak punya kuasa untuk menampakkan mimik muka yang berlebihan melihat tuannya.

Namjoon masih ingat beberapa minggu yang lalu ketika ia marah hebat, lalu putrinya yang menangis dan membohonginya, dilanjutkan dengan pengabulan bersyarat jika anaknya harus bisa menutupi jati dirinya. Namjoon kira Jungkook akan kehabisan cara dan menyerah, tapi tidak. Serupa dengan Namjoon, anaknya mewarisi kecerdikan dan watak keras kepalanya.

Katakanlah kesungguhan dan tekad Jungkook sudah di ubun-ubun, karena tindakannya kali ini membuat semua orang bergeming dan menatapnya tidak percaya kecuali satu orang, Min Yoongi. Ketika semua masih tenggelam dalam keterkejutan masing-masing, Yoongi terlihat tenang-tenang saja meskipun ia menunduk menyembunyikan wajah manisnya. Karena ialah pelaku utama di balik botaknya kepala Jungkook, putri semata wayang jenderal besar Kerajaan Shilla Bersatu.

Sejak beberapa hari yang lalu, saat Namjoon mengajukan pengabulan bersyarat, Jungkook tak habis pikir bagaimana caranya mengubah jati dirinya. Siang malam otaknya terasa seperti berlarian, mencoba menemukan cara. Hingga suatu malam, ketika ia belum benar-benar sembuh dari sakitnya dan memaksa Seokjin untuk pergi istirahat sementara Yoongi menjaganya.

"Mengapa Tuan Putri tidak mencukur habis rambut saja? Bukankah orang-orang di biara itu botak semua?" ucap Yoongi saat ia tengah menjaga Jungkook. Tangannya membelai rambut halus itu. Rambut hitam legam sesiku yang sudah ia rawat sejak masih basah oleh air ketuban.

Mendengar itu, Jungkook menoleh. Dengan pandangan mata berbinar ia segera meminta Yoongi untuk melakukan itu untuknya. Sebenarnya Yoongi hanya asal mengutarakan pendapatnya melihat Jungkook gelisah memikirkan bagaimana caranya menyamar. Dalam sudut hati kecilnya sebenarnya ia tak benar-benar rela jika harus melihat gadis cantik itu sampai harus berubah total. Tapi Yoongi tahu, tekad Jungkook tak akan surut.

Keesokan harinya, saat Seokjin belum datang ke kamarnya, Jungkook sudah melakukan aksinya. Ia duduk khidmat dan membiarkan jemari mungil Yoongi melakukan tugasnya. Dengan peralatan potong sederhana, Yoongi hanya perlu setengah jam untuk menghabisi helai demi helai rambut Jungkook.

Di depan cermin berbingkai milik Jungkook, ia memekik senang ketika bayangan yang nampak di cermin itu bukan dirinya yang dulu, si putri yang anggun dan rambut yang tergerai rupawan. Ia benar-benar berbeda. Rambutnya sudah dibabat habis sesuai permintaannya. Dan lagi, Yoongi memberi dan mengajarinya bagaimana memberi sedikit polesan pada alisnya agar terlihat sedikit tebal dan menukik seperti laki-laki, ditambah dengan lapisan baju yang tebal ia bisa menyembunyikan tonjolan di dadanya. Kerja keras tangan Yoongi benar-benar sempurna. Sesempurna keterkejutan orang-orang istana yang tak menyangka.

Beberapa saat setelahnya, orang yang pertama mengetahui adalah Seokjin. Ia hampir pingsan kalau saja para pengawal tidak menahan lengannya. Berkali-kali ia berkedip dan menahan napasnya, juga telunjuknya yang masih menyapu kepala botak bayi besarnya yang selalu ia manjakan.

"Ayah dan ibunda, ijinkanlah aku," lirih Jungkook sambil berlutut di depan dua orang tersayangnya. "Jungkook berjanji akan baik-baik saja."

Namjoon dan Seokjin tertegun, mereka saling memandang setelah putrinya berkata demikian. Cepat atau lambat momen ini akan datang dan detik ini adalah titiknya. Ketika Jungkook mereka, yang berusia sepuluh tahun saat itu, meracau tentang ia yang ingin berkelana jauh.

"Jungkook tidak suka dengan raja, raja itu membosankan dan suka mengatur-atur."

Untunglah saat itu Namjoon belum menjadi siapa-siapa seperti sekarang, hanya anggota kerajaan. Maka ketika Jungkook berbicara seperti itu Namjoon hanya mengusap helai rambutnya dan dengan lembut berkata jika putrinya itu tidak boleh berkata sembarangan tentang raja.

"Nanti kalau sudah besar Jungkook tidak ingin diam di rumah seperti putri-putri yang lain. Jungkook ingin mengembara seperti… ugh, seperti Jimin! Jungkook ingin seperti Jimin yang mengikuti ayah ke mana-mana dan pandai bertarung seperti ayah."

Seokjin mencoba menepis air mata yang mencoba menuruni pipinya. Ucapan Jungkooknya yang mungil saat itu menjelma. Demi Dewa yang menciptakan langit dan bumi, sebenarnya ia tak ingin segalanya berubah. Ia ingin Jungkook tak berubah, ia ingin putrinya itu tetap menjadi bayinya. Tapi demi apapun, Jungkook yang jelita itu pemberontak besar, bahkan sejak ada dalam kandungan.

Dirinya ingat Jungkook pernah berbohong pada selir raja karena ia sungguh tidak ingin mengikuti kelas keputrian yang diadakan di taman bunga kerajaan. Jungkooknya yang berulah adalah penyakit pusing tujuh keliling untuk Seokjin, tetapi satu, satu kelemahan yang membuatnya tak pernah bisa menggelengkan kepala untuk permata satu-satunya itu, suara lembut dan kedipan kelopak mata putrinya sambil berkata, "Ibunda. Jungkook ingin sesuatu, ibunda mau tidak mengabulkannya?" jangan lupakan kedua telunjuknya yang saling mengetuk dan bibir mengerut lucu. Sejak Jungkook lahir dari rahimnya, ia bersumpah tidak akan berkata tidak untuk putrinya.

Maka hari itu pula Jungkook berangkat. Berkali-kali ia meyakinkan ibunya untuk melepas Jungkook. Berkali-kali pula tangannya ikut basah menyeka air mata Seokjin. Sementara Namjoon hanya memandang kepergian anaknya dengan diam. Pertama kali dalam hidup ia menyiratkan pandangan sendu. Bukannya ia tak kuasa untuk menahan anaknya, tetapi tak kuasa ia menolak permintaan Seokjin, satu-satunya wanita yang ia puja, yang mengijinkan anaknya pergi.

Namjoon mempercayakan Jungkook pada Jimin dan Yoongi. Berdua, Namjoon mengutus mereka untuk mengantarkan Jungkook, dengan penyamaran tentu saja.

Sepanjang perjalanan dari garis terluar istana Jungkook tidak berhenti mengoceh. Tipikal Jungkook jika ia sedang bosan dengan perjalanan itu.

"Jimin, nanti kalau aku sudah sampai di biara itu, aku tidak ingin berharap banyak ̶ maksudku aku tidak berharap ada kasur yang empuk seperti di paviliun istana yang kita tempati, aku juga tidak mengapa jika harus tidur di lantai atau mandi dengan air yang kurang jernih."

Mendengar itu, Jimin mengangguk dan menggumamkan kata 'lalu' untuk Jungkook meneruskan sementara Yoongi hanya takzim mendengarkan.

"Apapun aku tidak masalah. Yang masalah adalah jika para biarawan di sana tidak menyediakan stok makanan yang banyak dan enak."

Jimin langsung tergelak dengan pernyataan Jungkook. Ia lupa jika orang yang dikenalnya sejak kecil ini adalah tong makanan. Dulu sering ia bergurau dengan pelayan lainnya dengan menyebut si anak jenderal itu 'tuan putri penyedot makanan'.

"Tuan Putri, jika kau lapar dan tidak ada makanan praktekkan apa yang dulu sudah kuajarkan. Aku membawakan banyak ubi dan kentang di tasmu. Setiap sebulan sekali aku akan datang mengirimimu makanan." Ucap Yoongi sambil menunjuk kain yang tengah di bawa Jimin dan sudah dililit sedemikian rupa menyerupai tas.

"Jungkook, ibu! Panggil aku Jungkook jika kita berada di luar istana. Bukankah kita sudah berjanji?"

Belum sempat Yoongi menjawab atau sekedar mengangguk tiba-tiba terdengar suara gemerisik ilalang yang bergesekan karena sesuatu. Mereka terkesiap. Suara itu jelas bukan karena angin yang menerpa dan menimbulkan suara. Jimin dengan sigap maju ke depan Jungkook dan Yoongi, bersiaga jika terjadi sesuatu yang mengancam. Mengawal seorang putri jenderal kerajaan keluar daerah istana bukan perkara yang mudah, karena jika kabar terendus para musuh atau siapapun yang mempunyai kepentingan buruk dengan jenderal atau raja bisa menjadi satu sasaran yang empuk.

Tujuh detik Jimin menghitung, dari balik ilalang nampaklah sebuah bayang-bayang lalu disusul sebuah badan tegap menjulang. Seorang pemuda yang masih muda dan lumayan tampan meskipun tubuhnya dibalut dengan baju cokelat kusam yang di beberapa bagian terdapat tambalan kain yang memperlihatkan bahwa ia pemuda yang compang-camping.

Pemuda itu terlongo ketika perjalanan damainya tiba-tiba dihentikan oleh sebuah sentakan pedang yang melintang di depannya.

"Siapa kau!?" tanya Jimin dengan nada menggertak.

"S ̶ Seharusnya aku yang bertanya kau ini siapa. Seenaknya saja tiba-tiba mengayunkan pedang." Jawab pemuda itu sambil melirik si pemilik pedang dan dua orang yang berdiri di belakangnya.

"Kutanya siapa kau!?" Jimin tak goyah, ia tak boleh lengah jika orang di depannya saat ini adalah mata-mata musuh.

"Baiklah, baiklah. Santai saja. Aku bukan orang jahat. Bisakah kauturunkan pedangmu?" pemuda itu berdehem sebentar. "Apapun yang kaupikirkan aku sama sekali tidak bermaksud apapun. Jika kautanya siapa, aku Kim Taehyung. Astaga, tenanglah, Tuan. Aku ini orang baik, aku hanya ingin pergi ke Biara Taekkyon."

"Oh! Kau akan ke Biara Taekkyeon juga?" itu suara pekikan Jungkook yang sdari tadi manik matanya tidak bisa beralih mengamati pemuda itu. Ia sungguh tak punya pemikiran jika pemuda itu mempunyai tujuan yang sama dengannya. Karena biasanya orang-orang yang berangkat ke Biara Taekkyon akan berambut botak sepertinya. Lain dengan pemuda yang mengaku bernama Taehyung itu, rambutnya masih tergerai di bawah siku.

"Ya, aku akan menuju ke sana."

"Ah, benarkah? Aku juga. Kalau begitu aku rasa kita pergi ke sana bersama-sama." Ucap Jungkook dengan antusias.

"Tentu saja. Tapi bisakah kau menyuruh orang ini untuk menurunkan pedangnya? Itu sangat tidak sopan sekali."

"Jimin turunkan pedangnya!" Perintah Jungkook. "Sudah, kalian berdua bisa kembali. Aku akan melanjutkan perjalanan bersamanya."

"Tapi Jungkook,"

"Tidak mengapa ibu, aku bisa membawa barang bawaanku sendiri."

"Bukan begitu. Dia orang asing, bagaimana kalau dia macam-macam padamu."

Jungkook mengulaskan sebuah senyum. Ia tahu jika ini tiba-tiba, padahal sebelumnya ia tak pernah memercayai orang asing secara langsung. Tapi demi Jungkook si pembohong ulung, sejak pertama kali melihat manik mata pemuda itu ia tahu, tidak ada kebohongan di balik pupil mata itu. Pun di garis tebal bibir dan mimik mukanya. Jungkook yakin, seyakin dirinya saat lihai bermain peran dengan membohongi para pelayan dan orang-orang istana.

"Eiii, tidak mengapa, ibu. Aku bisa menjaga diri. Ibu terlalu khawatir padaku. Kusarankan cepat menikahlah dengan Jimin agar kau cepat punya momongan dan berhenti mengkhawatirkan aku." Canda Jungkook. Yoongi yang digoda seperti itu memerah sambil melirik Jimin yang tersenyum simpul.

Jungkook mengambil alih semua barang bawaannya. Sedangkan Yoongi tak henti-hentinya menunjukkan raut khawatir.

"Tidak apa, ibu. Jungkook baik-baik saja." Ujar Jungkook sambil memeluk ibunya, ibu keduanya. Mereka berdua sudah berjanji, jika di luar area istana, Yoongi akan memanggil nama Jungkook dan Jungkook akan memanggil Ibu Yoongi.

"Setiap akhir bulan temui aku. Aku akan menunggumu di bawah pohon akasia tengah ilalang itu. Secara rutin akan kubawakan kau keperluan yang kaubutuhkan, anakku." Yoongi mendekap Jungkook erat. Sesekali menggusak kepalanya yang sudah botak.

"Ngomong-ngomong, apakah Tuan Putri tidak ingin memanggilku ayah?" celetuk Jimin tiba-tiba.

Jungkook tergelak, "Akan kupanggil ayah jika kau berani mempersunting Ibu Yoongi paling lambat satu purnama ke depan, Jimin."

Jungkook beralih menatap pemuda itu yang mengamati adegan perpisahannya dengan melongo. Jungkook tertawa kecil melihat ekspresi pemuda itu. Ketampanannya nampak sekali jika diperhatikan secara seksama.

"Ayo!" Jungkook menyenggol bahu Taehyung yang otomatis bangun dari lamunannya, "Selamat tinggal Ibu Yoongi dan Jimin." Lambai Jungkook pada dua orang yang mengantarnya.

"Jadi kau… maksudku, namamu?"

"Jungkook, namaku Jeon Jungkook." Jawab Jungkook sambil mengulaskan senyum.

"Baiklah, Jungkook. Tujuan kita sama, jadi mari kita berteman mulai detik ini. Sini aku bawakan barang bawaanmu! Astaga, kau membawa banyak sekali. Aku saja hanya membawa beberapa potong baju." Taehyung mengangsurkan tangannya untuk menyahut satu bungkusan kain milik Jungkook untuk dibawanya di tangan kiri.

Jungkook berjalan sambil termangu ketika tangan kanan Taehyung tiba-tiba mengalung di pundaknya. Ia sedikit terkejut. Yang pertama, meskipun baju Taehyung compang-camping, tapi ia begitu bersih. Bisa dirasakan olehnya bau badan Taehyung yang terasa seperti embun di pucuk cemara. Kedua, Jungkook baru menyadari sesuatu berdegup keras di balik rusuknya, ia seprerti baru saja bangun dari kenyataan bahwa ia adalah seorang perempuan yang tengah dirangkul oleh seorang lelaki. Bagaimana keadaan wajahnya sekarang? Jangan ditanya, ia memerah sampai telinga.

"Tae ̶ Taehyung bisakah kau jangan merangkulku seperti ini?"

Taehyung bisakah kau jangan membuatku berdegup dan membuat wajahku memerah seperti ini?

TBC

Fast writing;( semoga ga kayal tulisannya wkwk

ED.