Jungkook berjalan sambil termangu ketika tangan kanan Taehyung tiba-tiba mengalung di pundaknya. Ia sedikit terkejut. Yang pertama, meskipun baju Taehyung compang-camping, tapi ia begitu bersih. Bisa dirasakan olehnya bau badan Taehyung yang terasa seperti embun di pucuk cemara. Kedua, Jungkook baru menyadari sesuatu berdegup keras di balik rusuknya, ia seprerti baru saja bangun dari kenyataan bahwa ia adalah seorang perempuan yang tengah dirangkul oleh seorang lelaki. Bagaimana keadaan wajahnya sekarang? Jangan ditanya, ia memerah sampai telinga.
"Tae ̶ Taehyung bisakah kau jangan merangkulku seperti ini?"
Taehyung terkekeh, "kenapa? Kan kita sekarang berteman, huh?"
Jungkook terdiam. Sejurus kemudian ia hanya meringis. Ingin rasanya ia menepuk kepalanya yang botak. Ia sungguh bisa beradaptasi dengan pekerjaan lelaki jika sampai di sana, lihatlah ia sudah totalitas berpenampilan menjadi lelaki. Tapi, untuk yang satu seperti ini, kontak fisik dengan lawan jenis sepertinya Jungkook harus berusaha lagi. Ia sebenarnya risih karena tidak terbiasa.
Oh, lihatlah, Taehyung sekarang malah semakin mengeratkan rangkulannya hingga Jungkook terlihat kecil di lengannya yang besar. Antara jengkel dan gugup Jungkook melihat wajah Taehyung yang semakin mendekat sambil menaik turunkan kedua alisnya, menanti jawaban. Dan demi Sang Buddha, tolong Jungkook, hidung mereka hampir bersinggungan.
…
Seperti dugaan Jungkook sebelumnya, Taehyung sudah pasti kena hukum hanya karena dia belum mencukur habis rambutnya. Lihatlah, ketika mereka tiba, semua calon murid biara sudah licin kepalanya. Taehyung? Jangan tanya, dia hanya mengeluarkan cengiran kuda yang selanjutnya Jungkook tahu itu adalah salah satu kebiasaannya yang menyebalkan.
Tidak perlu menunggu disuruh dua kali, Taehyung langsung maju ketika salah satu biarawan yang menyebut dirinya adalah kepala asrama memanggilnya ke depan. Kerumunan calon murid biara baru itu seketika lengang.
"Siapa namamu?!" tanya kepala asrama itu. Belum apa-apa nada bicaranya sudah meninggi.
"Kim Taehyung."
"Pemenang kontes ketangkasan toya?" matanya menyelidik.
Taehyung mengangguk dengan penuh antuasiasme.
"Kenapa kau belum mencukur rambutmu?"
"Aku terlalu sibuk mengurus toya, jadi aku tidak sempat mencukurnya." Jawab Taehyung ringan. Namun, jika ditilik air muka kepala asrama itu semakin mengeras, siap untuk berteriak pada Taehyung.
"KAU! SEKARANG PERGI KE BELAKANG, ISI TEMPAT PENAMPUNGAN AIR HINGGA PENUH! JANGAN KEMBALI SEBELUM SENJA!"
Kerumunan itu kembali mendengung seperti lebah. Sebagian dari mereka tengah melontarkan bisikan kurang lebih seperti, 'oh tidak, baru saja sampai tapi sudah membuat masalah', 'sepertinya dia akan jadi biang masalah', 'di hari pertama ia sudah berani uji nyali'.
Di ujung lapangan, Jungkook hanya mendesah keras. Sebelum Taehyung hilang dari pandangan, ia sempat menoleh sebentar ke Jungkook, mengisyaratkan agar Jungkook membawakan tasnya ke asrama, lebih tepatnya ke kamar yang telah diputuskan kepala asrama menjadi kamar mereka berdua. Satu lagi kebetulan yang menyenangkan, bagaimana takdir menemukan mereka.
…
Jungkook berkali-kali berjalan menuju satu-satunya jendela di kamar itu. Ia harap-harap cemas sambil memandang ujung setapak yang menjadi jalan ke asrama mereka. Pasalnya, matahari sudah beberapa saat yang lalu pulang ke peraduannya, tapi Taehyung tak muncul-muncul juga.
Bukannya apa, tapi lebih karena ia risau. Bulan ini adalah puncak-puncaknya kemarau yang sepertinya akan memanjang tahun ini. Dan astaga, jika diingat-ingat tadi Taehyung mulai menjalani hukumannya saat matahari tepat di atas ubun-ubun. Jungkook saja masih ingat bagaimana rasanya kepalanya yang berdenyut-denyut seperti ingin mencair.
Sekian belas kalinya Jungkook melongok ke jendela. Detik itu juga ia menemukan Taehyung dengan sedikit terhuyung sedang berjalan menuju asramanya. Tanpa babibu lagi Jungkook keluar.
"Taehyung!"
"Halo, Jung." Sapanya ceria, seperti tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas, meneliti ujung rambut hingga kaki Taehyung. Ia menyentuh rambut Taehyung yang masih panjang dan kumal akibat keringat dan debu kemarau.
Taehyung mengangguk. Tapi muka lelahnya tak bisa membohongi.
"Tapi kau terlihat kuyu sekali."
"Tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa apanya?"
"Yang penting aku masih hidup, hehe."
Jungkook mengernyit, lalu mendengus pelan. Ia tidak ambil pusing, segera kedua tangannya menelusup ke lengan Taehyung, "kau ini! Sini kupapah!"
"Aish, tidak usah. Aku bisa jalan sendiri." Tolak Taehyung, tapi ia hanya terkekeh ketika Jungkook memaksanya sambil berkata,
"Sudah tidak usah cerewet! Aku tahu kau hampir pingsan tapi masih saja pura-pura."
Sesampainya di kamar, Taehyung langsung terlentang di ranjang rotan, satu-satunya ranjang yang ada di kamar itu, tentu saja untuk berdua.
"Tae, maaf aku tidak bilang. Tadi aku mengaduk-aduk isi tasmu dan menyusun bajumu di lemari kayu itu."
"Tidak mengapa. Seharusnya aku yang berterima kasih. Lagipula aku hanya membawa tiga potong baju. Eh, ngomong-ngomong apa kau menambahkan bebauan di kamar kita?"
Jungkook mengernyit. "Bebauan? Bebauan apa?"
"Eiii, apa kau tidak mencium baunya. Rasakan baik-baik. Aku menciumnya baunya, sangat menyengat."
Jungkook semakin menekuk dahinya, bertanya-tanya. Tapi ia melakukan seperti yang Taehyung lakukan. Menajamkan penciuman. Hidung Jungkook bergerak-gerak. "A-Apakah ini seperti… bau kentut?"
"Awalnya kukira kau menambahkan bebauan ke kamar kita. Dan kukira kau memiliki selera aneh dalam memilih pengaharum ruangan. Tapi tidak, ternyata… kau kentut diam-diam di kamar ini." kata Taehyung. Pandangannya menyelidik.
"Apa kau bilang!?" Jungkook hampir berteriak, matanya melotot pada Taehyung.
"Kau kentut, diam-diam."
"Tidak! Aku tidak kentut!" Jungkook tidak terima.
"Jangan bohong. Aku menciumnya."
"Aku juga menciumnya! Tapi bukan berarti aku yang kentut, kan!?" Jungkook semakin tidak terima.
"Jangan mengelak, Kook-ah."
"Astaga! Seumur hidup aku tidak pernah kentut sembarangan."
"Jangan membual." Taehyung menjilat bibirnya, mati-matian menyembunyikan sesuatu yang menggelitikinya.
"Oh! Jangan-jangan kau yang kentut lalu kau memfitnahku!"
"Tidak." Elak Taehyung sambil berjalan ke lemari.
"Tidak apa? "
"Tidak bohong." Taehyung meledak tawanya. Melihat mata Jungkook yang membola tak percaya, secepat kilat ia berlari setelah menyahut satu bajunya. "Aku mandi, ya! Hahahaha. Dasar tukang kentut!"
"Kau yang tukang kentut! Dasar pemfitnah! Pergi kau!"
Demi apa pun, mengenal makhluk baru bernama Taehyung, yang sudah mendapat hukuman di hari pertamannya. Dan Jungkook dengan lapang hati membawakan barang bawaannya, menatanya sedemikian rupa, merapikan kamar mereka berdua, tapi kebaikannya dibalas air tuba? Berani-beraninya Taehyung menuduhnya kentut yang seumur hidupnya sebagai tuan putri, ia tak pernah sekalipun kentut sembarangan, pun jika itu di depan Ibunya, Yoongi, dan para pelayannya.
…
Taehyung memasuki kamarnya ̶ dengan Jungkook, masih dengan rambut yang basah. Sementara Jungkook duduk di ujung ranjang, menatap keluar jendela.
"Kook." Panggil Taehyung sembari mendekat pada teman sekamarnya.
Jungkook hanya mengerling, lalu mendengus. Hatinya masih dongkol luar biasa pada Taehyung.
"Hei. Jangan marah, aku tadi hanya bercanda." Kata Taehyung sambil menjawil dagu Jungkook yang mengerut.
"Kook."
"Apa!?"
Taehyung sedikit kaget mendengar nada Jungkook yang galak. Ragu ia menyodorkan benda dengan dua bilah mata pisau.
"Apa!?" Jungkook tetap menyalak.
"Itu… bisa tolong cukurkan rambutku?" pinta Taehyung.
Jungkook bergeming menatap benda yang berada di genggaman Taehyung. Satu detik, dua detik hingga lima detik. Taehyung menggaruk dahinya yang tidak gatal ketika hening tercipta di antara mereka berdua. Cengirannya sudah sirna saat Jungkook menyalaknya.
"Duduklah." Taehyung menarik napas lega, akhirnya temannya itu membuka suara. Segera ia menghempaskan pantatnya ke lantai kayu sementara Jungkook duduk di atas ranjang setinggi lutut.
Taehyung diam, Jungkook juga. Yang ada hanya suara hewan malam dan ilalang belakang asrama yang bergesekan. Serta suara mata pisau yang perlahan membabat habis rambut panjang Taehyung.
"Kenapa kau mencuci rambutmu kalau akhirnya akan dipangkas habis?" itu Jungkook, setelah lama ia tak berucap. Taehyung menatap keluar jendela sebentar, lalu bergumam.
"Karena aku ingin meninggalkan rambutku bersih sebelum aku membuangnya."
Jungkook mengangguk. Lalu ia meneruskan pekerjaannya dalam diam. Taehyung tetap memandang lurus keluar jendela, menikmati setiap tangan halus Jungkook yang menghabisi rambutnya.
Malam semakin larut, Jungkook tiba di ujung rambut terakhir Taehyung. Ia menjumputnya, lalu dengan cekatan memotong dan merapikannya. Ia lantas berdiri, mengibas-ibaskan bajunya yang terkena rambut Taehyung. Begitu juga Taehyung, ia mengibaskan beberapa rambut yang masih menempel di sekitar kepala dan lehernya.
Jungkook tertawa kecil.
"Apa?"
"Tidak." Jungkook masih tertawa. Kali ini makin keras.
"Apa?" Taehyung tidak mengerti. Tadi Jungkook merengut tidak karuan, sekarang malah tertawa cekikikan.
"Rambutmu… kau sangat lucu kalau botak. Aku belum terbiasa." Jungkook memandangi Taehyung mulai dari ujung wajahnya. Dagu yang tegas, bibir tebal, hidung mancung, dahi yang berkerut, dan tangan yang merabai kepala plontosnya.
"Tapi…"
"Tapi apa?"
"Aku tetap tampan, kan?"
Jungkook cengo, tawanya terhenti begitu saja. Taehyung tampan? Ia meneliti wajah itu lagi. Tiga kali dan Jungkook tak bisa memungkiri. Taehyung tampan, itu benar. Hati dan otaknya mengiyakan. Jungkook pikir Taehyung adalah yang tertampan di antara semua calon murid biara yang berkumpul tadi pagi. Jungkook hampir saja mengangguk, tapi sudut hatinya memperingatkan. Pertama, ia tak ingin mengakuinya secara terang-terangan, karena pada dasarnya ia adalah perempuan dan ia seorang putri! Kedua, bukankah saat ini ia adalah lelaki? Jungkook pikir itu akan sangat aneh jika ia memuji ketampanan Taehyung.
Jungkook berdehem sebentar setelah bangun dari keterdiamannya, "tampan apannya!? Tidak ada tampannya sama sekali orang yang mendapat hukuman di hari pertama!"
Jungkook mengalihkan pandangannya dari wajah Taehyung yang tak berhenti menatapnya. Ia memutuskan merangkak ke ranjang dan membaringkan badannya. "Aku lelah, mau tidur!"
Dan jantungnya nyaris melompat ketika Taehyung tiba-tiba juga naik ke ranjang dan terlentang di sampingnya. Tangan Taehyung bertengger seenaknya di atas leher Jungkook.
"Ayo kita tidur! Aku juga lelah hari ini."
Jantung. Jungkook. Berdegup. Kencang.
Bukan karena apa, ia adalah seorang wanita. Ia was-was ketika lengan Taehyung yang bisa saja dan kapan saja turun dari lehernya. Oh tidak, ini hari pertamanya. Bagaimana jika gundukan itu terasa dan penyamarannya terbongkar. Satu lagi, Jungkook tak terbiasa dan tak bisa tidur dengan lawan jenis.
Ia menarik napas panjang. Menetralkan kekagetannya.
"Tae…"
"Hmm?"
"Maaf, tapi sebenarnya…"
"Apa?" Mata Taehyung masih terpejam, malah sekarang ia mulai menghadap ke Jungkook.
"Sebenarnya aku punya penyakit kulit."
"Hah?" Cepat Taehyung membuka mata. Ia melotot kaget pada Jungkook.
"Iya… itu, aku punya penyakit kulit. Jadi kusarankan agar kau tidak dekat-dekat denganku."
Taehyung terperanjat dari tidurnya. "Yang benar?"
"I…iya. Aku rasa tidur seranjang memungkinkan kau akan tertular." Jungkook memulai sandiwaranya.
"Ah, begitu. Ya sudah biar aku saja yang tidur di bawah."
"Jangan!" cegah Jungkook. Ia menahan tangan Taehyung, lalu melepasnya. "Biar aku saja."
"Eiii, tidak apa-apa. Aku terbiasa tidur di lantai, bahkan di tanah. Aku tidak kuasa melihat bocah yang sepertinya terawat sepertimu tidur di lantai."
"Jangan, aku saja Tae!"
"Jangan rewel. Aku saja! Nanti kalau kau yang tidur di lantai, kau akan terkena angin malam yang menyebabkanmu sakit perut. Kalau kau sakit perut nanti kau jadi banyak kentutnya. Kan itu juga berpengaruh terhadap kesehatan indera penciumanku."
"Taehyung, kau!"
Malam itu ditutup dengan tawa Taehyung yang membahana. Jungkook menendanginya karena tak berhenti meledekinya, bahkan Taehyung sampai berguling-guling saking lucunya ia menertawai Jungkook. Semuanya terhenti begitu saja ketika ada suara derap kaki dan deheman berat. Mereka langsung beranjak ke tempat masing-masing, pasalnya suara derap itu adalah kepala asrama.
Satu menit, suara dengkuran halus Taehyung memenuhi ruangan. Beda dengan Jungkook, ia memutuskan tak ingin tidur dahulu. Dalam heningnya malam Biarawan Taekkyeon, Jungkook memandangi raut wajah Taehyung yang tidur menghadap ke ranjangnya.
Tanpa diketahui siapapun, satu garis takdir terpahat dan melekat di langit kelam berbintang. Antara Taehyung dan Jungkook. Antara bagaimana mereka bertemu dan akhirnya menjadi satu.
TBC
long time no see, hehe.
ED,
