Stefani setres? Kagaklah!

Dia cuma kesel pengen nampol muka imut-imut nan menggemaskannya Robin.

Jelas sih,dia kesal,siapa coba yg gak kesal jika dipermainkan,dijadikan bahan lelucon dihadapan banyak orang? Semua orang menertawai Stefani,seolah dia topeng monyet sarimin pergi ke pasar.

"Dasar adek kelas sialan!"

Bodo amat,kalau Robin adek kelasnya.yg jelas,sikapnya tidak mencerminkan adek kelas yg baik dan sopan terhadap seniornya.

Stefani melewati koridor dengan langkah kaki cepat.perjalanannya menuju ruang kelas diiringi cekikikan dari beberapa murid yg ia lewati.semua orang menertawakannya.dan,satu lagi,thank you for robin yg sudah membuatnya terkenal dalam beberapa jam.

"Lho??? tef lu mau kemana?

Pacarnya gak ikut,nih?"

Oh,my godness!satu hal lagi yg menghampiri Stefani.Stefani Mendelik ke arah suara,ia mendapati 2 orang yg tak lain adalah Nathalie dan Agtha dengan tampang angkuhnya.

"Lho,emang siapa pacarnya tha?"Tanya Nathalie

"Kan pacarnya adek kelas!

Si Robin,jadi pacarnya li!"

Nathalie menggeleng diiringi decakan"Robin tuh tadi cuma akting.dia mau buktiin kalo perannya bagus di drama sekolah nanti."

Stefani merasa telingannya semakin memanas dan menjalar ke hatinya.ia berusaha sesabar mungkin menghadapi semua ini.

Tanpa sepatah kata pun,Stefani berjalan melewati mereka berdua dan sengaja menabrak bahu mereka berdua.Stefani sudah berjalan jauh,tapi masih mendengar gelegar suara tawa mereka.

Tuhan,buat Stefani hilang sekarang.

Robin dan anggota tim basket lainnya sedang mengeringkan badan yg basah kuyup karena keringat mereka,sesekali meneguk air mineral,Robin tersenyum dan tidak tahan untuk tidak tertawa saat mendengar celotehan teman-temannya tentang kejadian tadi.

"Kesian bego,tadi mukanya udah bingung gitu, kek orang bego. Wah,tega lu bin,ngerjain kakel!"Ujar Tegar diiringi dengan cekikikan khasnya

"Ya,gw mau kasih liat kalo akting gw emang bagus wk,"Sahut Robin

"Iya,sangking bagusnya lu sampe bikin dia hampir jawab waktu lo nembak dia wkwk,"Sambung Ruri

"Kalo dia jawab iya sebelom lu bilang zonk gimana?,"

Robin berfikir sebentar"yah,maybe gw kudu pura-pura suka ama dia aja kali yak,atau tetep jawab kalo yg tadi cuma boongan hahahahhaha"

Firman menendang kaki Robin"jahat banget lu emang,"

Stefani mendatangi kantin seorang diri,seperti biasa dia bakalan duduk dipojok,sambil menunggu Sifa datang,sohib satu-satunya.

"Tef!"

Sifa segera menarik kursi didepannya dan meletakan nampan makan siangnya. Senyumannya semula mengembang malah memudar saat melihat wajah Stefani yg kusut kek baju yg belum disetrika.

"Lo kenapa tef? Sakit?"

Stefani menggeleng, ia menusuk sosis panggang dihadapannya dengan KEJAM .

"Sif,ibaratkan ini Robin,adek kelas laknat bin sialan. Nah gw bakalan lakuin ini ke dia"

Sifa membelakan matanya melihat tingkah Stefani. Ia menusuk-nusuk sosis itu, dan mengirisnya dengan pisau,sampai hancur seperti hati saya yg dihancurkan doi:')

"Tef,lu kenapa sih?,"

Wajah Stefani yg awalnya geram dan dingin kini berubah menjadi cemberut.

"Sifaaaaaa gw kesel sama adek kelas yg sok mantab itu"

"Siapa? Robin? Pan emang ganteng tef!"

Stefani mengangkat wajahnya,mendelik pada Sifa.

"Ganteng tapi gaada attitude musnah aja sekalian!,"

Sifa mengaruk-garuk lehernya,ia bingung,sebenarnya apa yg membuat Stefani sangat kesal dengan Robin sekarang.

"Tef,emang si Robin abis ngapain lu?,"

Stefani menggretakan giginya,geram.

"Haruskah gw cerita ama lu,sif??? Bukannya semua orang pada tau???,"

Sifa menggeleng"nah,justru itu gw gatau!,"

"Lu mah,manusia kurang apdet Sif!

Tinggal di Goa sih!"Stefani menggeleng diiringi decakan

Kudet:Adalah sejenis manusia yg kurang updet dengan suatu berita yg telah terjadi,namun ia tidak tahu.

"Jadi mulai hari ini gw deklarasiin kalo gw itu Anti Robin Robin Club!"

Untuk ke sekian kalinya Sifa membuat matanya lebih besar,kali ini.