"Lah,Sifa anak Nur edan!
Sama aja ngebunuh temen sendiri!
Apa gaya kali,english clubnya deketan ama lapangan basket."
Sebagai seorang shoib yang baik,Stefani membantu Sifa yang (lagi-lagi) meninggalkan buku tulisannya di laci meja kelas. Untungnya Stefani belum pulang karena harus piket dulu, tapi yang ia sesalkan adalah...
Ia lupa kalau ruangan klub bahasa inggris letaknya melewati lapangan basket,dan gak jauh dari ruangan pemain basket.
"Semoga si Robin gaada ke toilet kek,beli minum kek, atau kakinya cedera biar gabisa main, amin!"
Stefani berjalan di pinggir lapangan dengan hati-hati. Sialnya ia bisa melihat sosok Robin dari kejauhan yang tengah men-dribble bola basketnya. Lagi-lagi doa Stefani tidak terkabul.
Robin sedang bermain kakinya tidak cedera sehat wal afiat . Haus? Sepertinya sudah banyak stok air mineral yang berjejer di pinggir lapangan.
Satu-satunya doa Stefani hanyalahㅡsemoga Robin tidak melihatnya.
Bugh
Stefani memekik saat kepalanya dihantam sesuatu yang berat, dan tentu saja menyakitkan. Benda kurang ajar itu adalah bola basket.
Sejenak, Stefani merasa pusing,ia berpegangan pada tiang yang ada di dekat sana.
Yah,setidaknya ia berharap ada yang membantunya berjalan ke tepian untuk duduk,tapi nyatanyaㅡ
"Woyyy lempar bola basketnya kesini!!"
Stefani menghela nafasnya kasar.
Kayaknya orang-orang disini sudah tidak warasㅡmaksudnya,disini Stefani korban akibat permaian bola basket mereka,dan apakah tidak ada satu pun yang sadar,kalau bola basket mereka menghantam kepala Stefani dengan keras?
Tidak ada kah seseorang yang meminta maaf ? Yang ada malah menyuruh Stefani melempar balik bola basket itu dengan tidak sopannya.
Ia melirik ke tengah lapangan,melihat sekumpulan pria menunggu bola basket mereka,dengan gaya yang angkuh dan sok mantep,terutama si Robin.
Meskipun masih pusing,ia berusaha menegakan punggungnya,lalu membungkuk,mengambil bola basket tersebut.
Jangan kira Stefani sebaik yang dikira, ia malah membuang bola basketnya ke selokan yang ada di pinggir jalan.
Stefani menepuk kedua tangannya bergantian,seolah bola basket tadi sangat kotor. Ia tidak peduli dengan teriakan serta sumpahan dari arah lapangan basket, dan Stefani terus berjalan ruang klub bahasa inggris sampaiㅡ
"Heh apa maksud lo buang bola basket tim gw? Lo mau balas dendam gegara kemaren? Soal gw ngerjain lo di tengah lapangan?"
Robin menghampiri dan mencegat langkah Stefani,bisa keliatan dari wajahnya kalau Robin sedang kesal.
"Hah? Gak tuh!"ujar Stefani
"Trus kenapa lo gak lempar balik bola nya ke tengah lapangan? Lo gak bego kan?"
"Trus apa lo gak liat bola basket sialan punya tim lo itu barusan ngehantem pala gw? Dan kalian gak punya sopan santun minta maaf atau apa kek! Apa pura-pura gak liat? Atau emang bego kali yak?"Tanya Stefani balik dengan nada emosi
"Lah itu kan salah lo sendiri jadi kena bola,ngapain lewat jalan sini?"
"Nah,berati salah lo sendiri,masa ngelempar bola basket ke pinggir lapangan??? Masa anak basket nembaknya ga akurat ckckck!"
Robin mengertakan giginya. Stefani berhasil membuatnya kesal. Tapi ia mencoba untuk menahan emosinya dengan tarik nafas lalu hempaskan. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia berbalik mengambil bola basketnya dan melemparnya ke tengah lapangan.
"Lanjutin yang tadi!! Buruan!!"
Stefani mendecak heran. Ia kembali melanjutkan perjalannya sambil memijit pelipisnya yang masih terasa sakit.
Stefani menguap di sepanjang perjalanan sambil sesekali memijat pelipisnya yang masih terasa sakit.
"Bangke,emang ngerasa ga punya salah!
Dia kira, ditimpuk bola basket gak sakit apa??"
Stefani menendang kerikil kecil dijalanan dengan kesal. Ia masih pusing karena saat mengantarkan buku Sifa,ia kembali ke kelas dan malah menabrak tembok, membuat benjol di pelipisnya menjadi-jadi.
Sifa sendiri bersikeras untuk mengantarnya pulang,tapi Stefani lebih keras lagi. Mengingat Sifa harus les malam lagi, Stefani memilih pulang sendiri dan meyakinan sohibnya itu.
"Loh, tef baru pulang?"
Stefani memberikan senyuman malasnya pada Nathalie yang kebetulan berjalan dari arah yang berlawanan. Yah,Stefani tau rumah Nathalie ada di komplek sebelah, jadi bukan hal yang mengejutkan jika bertemu dengannya.
"Menurut lo???"
Nathalie tersenyum"oh,abis ama si Robin yah???,"
"Li lu pasti ngejek nih,"
"Oiya,maaf. Kemaren cuma boongan ya,wkwk"balas Nathalie
Stefani manggut-manggut,lalu mengacungkan jempolnya,
"Ya gw b aja sih, ga ngarep juga. Btw,gw duluan yah, li. Bye,"
Stefani berjalan melalui Nathalie dan melanjutkan acara menendang kerikilnya.
"Dikira gw sakit hati gegara ngarep kalo si Adkel kampret kemaren beneran? Yakali ANJAI???,"
