"Kayaknya gw kudu bikin jimat!"

Sifa mengangkat sebelah alisnya.

Ia mendapati (Lagi) temannya ini sedang meracau tidak jelas,tepatnya beberapa minggu, semenjak Robin merusuh satu sekolah.

Akhir-akhir ini,kesialan seperti teman baik yang setia pada Stefani.

Dan semua berkaitan dengan Robin.

Contohnya...

Stefani tidak sengaja lewat tengah lapangan,pantangan di sekolahㅡjangan menyeberang melalui lapangan sekolah,atau kalian akan...

"Ciyeeeeeeeeeeeeee ada artis sekolah lewat hahahahhahahah"

Dari lantai atas,Stefani bisa mendengar suara Robin yang menggema dan membuat seisi sekolah melihatnya,bahkan banyak yang bersusah payah untuk menengok ke jendela, lalu ikutan meneriaki Stefani.

Stefani lupa dengan pantangan itu! Dan sekarang dengan santainya Stefani membawa sapu dan bak sampah menyeberangi lapangan basket.

Thats great.

"Kampungan dasar!

Gw lewat sini sekali aja pake di teriakin segala!"

Iya,Stefani kesal dengan pantangan menyebalkan dan kampungan seperti iniㅡby the way,Stefani bayar disini dan melewati jalan bahkan lapangan basket sekalipun adalah haknya!

Kenapa di tertawakan?

"Robin sampis!"

Keesokan harinya,lagi-lagi Stefani harus terus-menerus memusut dadanya.

"Plish yah tef, ini permintaan sepupu gw dan dia percaya sama lo, ya mau gimana lagi"

Hafifah,sepupu Sifa yang merupakan manajer tim basket, harus absen dari sekolah dan otomatis perannya sebagai manajer tim basket harus diistirahatkan untuk sementara.

The problem is,Hafifah harus pergi berobat ke luar negri di karenakan cedera kaki yang dia alami minggu lalu.

Berhubung Sifa pun sangat sibuk ㅡ ia percaya mengikuti kompetisi tingkat provinsi dan menuju nasional dan harus berlajar ekstra agar bisa ke fase itu. Jadi, ia tidak bisa menggantikan posisi Hafifah, dan berujung dengan menunjuk Stefani.

"Kok gw?? Kenapa gak lo aja??"

Jelas Stefani protes, siapa yang rela ngorbanin diri jadi makanan buaya.

"Tef,cuma lo yang bisa sekarang.

Hafifah taunya cuma lo ama gw doang,plish deh,kesian juga dia,"bujuk Sifa

Stefani menghela nafasnya,dan mengingat-ingat sesuatu. Bukankah Robin punya banyak fans??

Bukankah fans tim basket sangat banyak? Kenapa tidak salah satu dsri mereka saja???

"Sif, mereka punya banyak fans,kenapa gak mereka aja??"

Sifa menggeleng kuat"gabisa,tef!

Jadi manajer tuh,tanggung jawabnya gede!

Ga bisa asal pilih sembarang orang!

Dan Hafifah percayanya sama kita berdua doang!"jelas Sifa

"Nah,gw gasuka di kasih tanggung jawabnya kelewat berat, gabisa Sif,"

"Tapi kan...jadi manajer,cuma mantau mereka latihan basket, terus ngasih info atau ngatur jadwal kompetisi antar SMA gituh!"

"Bukannya ada Nathalie ama Agtha??"

Sifa terkekeh,"lah,lupa anda! Hafifah kan gak suka ama mereka berdua,"sahut Sifa"lagian Nathalie ketua cheers, dia bakal ada kompetisi juga minggu depan,jadi susah!"

Stefani ingin sekali menangis,tapi ia terlambat karena air matanya kalah cepat dengan Sifa yang tiba-tiba sudah menyerahkan kunci ruangan tim basket padanya,lalu kabur secepat cahaya melalui lintas waktu,sembari berteriak.

"Gw percaya ama lo,Tef! Gw latihan dulu yak!!!"

Stefani menatap nanar punggung Sifa yang menjauh, lalu menjatuhkan pandangannya pada sebuah kunci sial di tangannya.

"Dunia emang kejam,yeh!"

Iyah,Dunia emang kejam:'

Harusnya Stefani sekarang berada di kamarnya, menonton drakor di laptop sambil makan camilan,atau menStalk akun coganㅡ

"Heh,kerja yang bener! Jangan maen hp mulu! Beliin air minum sama sabun,buruan!!"

Robin dan kawan-kawannya selesai latihan dan dibanjiri peluh.

Stefani menutup ponselnya, lalu mendongak pada Robin yang menyerahkan selembar uang.

"Buruan yah,jangan lama, gw gerah,mau mandi,"

Stefani merebut kasar uang itu, dan pergi tanpa protes menuju mini market.

"Kenapa gw yang disuruh-suruh gini?! Dapet gaji kagak!"ketusnya di tengah perjalanan

Tidak,Stefani pikir ini hanya sebagai bentuk kesetiannya pada sohibnya,Sifa.

Mini market yang dituju Stefani lumayan jauh,yaitu ada dipersimpangan lampu merah,dan sekarang Stefani mulai kelelahan. Untungnya di mini market dia bisa ngadem sebentar.

Selesai semua belanjaan, Stefani langsung bergerak cepat menuju sekolah, mengambil tasnya sambil menunggu anak-anak tim basket selesai mandi,lalu pulang.

Bermenit-menit berjalan,akhirnya Stefani berhasil mecapai gerbang sekolah. Dengan nafas yang hampir habis, ia mendorong pintu ruang basket yang sialnya (sengaja) di tutup.FYI,pintu ruang basket berat,jadi Stefani kudu mengorbankan lebih banyam energi untuk membukanya.

"Woi,kenapa pintunya pake dituㅡ"

"Eh? Lo baru dateng,kak? Mumpung belom duduk,sekalian beliin shampoo ya? Kelupaan tadi,"

Robin dan kawa-kawannya dengan santainya menyuruh Stefani ke mini market,hanya untuk membeli shampoo???

Fixs,ko sial gini sih?

Gw ngimpi apa sih semalem!

"Heh,denger dek!

Gw disini manajer pengganti yah!

Gw bukan babu kalian!

Shampoonya ganti aja tuh pake sabun mandi!"Bentak Stefani

Ia melempar bungkusan berisi sabun mandi itu ke arah Robin. Tapi, ia tidak di gubris karena orang yang menjadi tujuan kemarahannya malah asim main game sambil selonjoran.

"Ya gabisa lah kak!

Lo mau rambut kami rusak gara-gara sabun mandi?"Tanya Firman sambil mengangkat bungkusan sabun tadi.

"Bodo amat! Itu sih DL (Derita Lo),gw sih ga peduli!

Tuh kunci sendiri ruangnya."Kesal Stefani sambil membereskan tasnya, lalu melempar kunci ruangan basket pada Firman.

"Heh!! Gabisa gitu dong kakak manajer!!"Kali ini Asep yang angkat suara,ia bahkan menghentikan gamenya untuk sementara.

"Gak. Bodo amat lah!

Gw mau tetep pulang!"

Stefani sudah berdiri,dan siap untuk keluar dsri ruangan itu. Tapi, kaki panjang Robin menahan pintu itu. Lalu ia berdiri untuk menahan pintu itu dengan tangannya.

"Lo mau kemana? Siapa yang nyuruh pulang??"

"Main manajer-manajerannya belom selese, jangan pulang dulu,"

Stefani melihat Robin tersenyum penuh arti,lalu ia melihat kawannya memukuli pundaknya.

Serius,antara kesal dan takut, Stefani menatap datar lelaki di depannya ini.