Stefani akhirnya pulang kerumah.

Setelah menjadi pembantu seharian, bukan hanya pembatu, tapi juga jadi tukang pijat dadakan.

Bayangkan, dia harus memijat pergelangan kaki ketika orang ituㅡ Robin dan dua orang temannya.

"Kaki kami sakit kak abis latihan tadi. Manajer gabolehin kami sakit, apalagi kaki ini aset kami"

Iya deh,serah lu aja udah.

Dan sekarang, rasa pegal itu pindah ke tangan Stefani, sampai rasanya Stefani menyelesaikan tugas sekolahnya.

Tapi, Stefani tetap harus mengerjakan tugasnya, bahkan jika Robin mematahkan tangannya sekali pun.

"Kakak manajer!!"

"Berisik lah! Gw mau tidur!!"

"Beliin sabun mandi!!"

Stefani langsung membuka matanya, kantuknya langsung lenyap.

"Edan lo, kemaren lusa,baru gw beliin, masa udah abis??

Lu gerogotin???"

"Gw mandinya make banyak, makanya wangi, gak kaya lo.

Buruan kak,nih duitnya"

Dengan santainya,Robin memberikan uang itu pada Stefani lalu menyandarkan punggungnya ke tembok,sambil kipasan.

Syap, Stefani kudu tahan sekitar sembilan hari lagi. Dan tugasnya sebagai manajer pengganti selesai, dan selamat datang kembali untuk Hafifah.

Sepertinya hari hendak hujan, sementara Stefani tidak membawa payung sama sekali, ia juga tidak pakai jaket karena sedari tadi mendung, dan angin sepoi-sepoi bertiup.

Dan memang,di perjalanan pulang menuju sekolah,hujan turun dengan lebat,dan di sertai petir.

"Hmm, kalo di omelin. Bukan salah gw dong kalo telat, ujan deres gini, ga mungkin gw nerobos kan?"

Stefani memainkan tetes air hujan dengan ujung slippersnya,dan beberapa saat kemudian ia teringat satu hal.

"Eh,anjir sepatu gw!!"

Stefani baru ingat, bahwa sepatunya tergeletak begitu saja di luar ruangan tim basket. Mengingat kepekaan tim basket pada manajernya sangat buruk, jadilah Stefani berani menerobos demi mengamankan sepatunya.

Bahkan,ia sendiri lupa bahwa pakaian seragamnya sudah basah kuyup.

"Heh!"

Stefani berhenti,saat seseorang memanggilnya di tengah hujan.

"Lo kekanak-kanakan banget,ya?

Maen ujan-ujanan,Kesamber geledek baru tau rasa!"

Robin mendatanginya dengan sebuah payung,lalu berdiri disampingnya, membuat Stefani aman dari terpaan hujan deras.

"Lo ngapain disini? Bukannya lo mau mandi? Nih gw udah beli sabun!" Stefani menyodorkan sekantung plastik berisi 2 sabun yang sudah menjadi cair.

Robin melirik bungkusan itu,kemudian menghrla nafasnya.

"Iya, sangking lamanya nunggu lo dateng, yang entah beli sabunnya di negara mana, gw jadi kelaperan. Dan akhirnya gw jalan sendiri, beli bakso sekalian buat yang laen."jelas Robin kesal

"Ya,maap,bin,"

"Btw,tanktop lo warna biru, ya?"

"Hah?"

"Lucu,"Sahut Robin,dengan wajah tanpa dosa.

Stefani merasa horor sendiri. Kenapa dia tau warna tanktop Stefani warna biru?

Tak lama kemudian, Stefani merasakan hal yang dingin.

"Seragam gw!!!"

Sontak Stefani sambil memeluk tubuhnya sendiri,menghalanginya dari tatapan Robin

"Gila! Lo liat apa tadi?! Jangan liat gw!! Pandangan lurus kedepan!!!" Stefani histeris, sumpah demi apapun, ia malu. Seragamnya basah kuyup, membuatnya jadi tembus pandang.

"Yah, gw cuma liat warna biru, abis itu gw ga liat apa-apa lagi,"kilah Robin, dengan pandangan lurus kedepan.

"Mesum,"

"Nggak, cuma nggak sengaja,"

"Tetep aja mesum!"teriak Stefani gregetan. Sialan. Robin jadi orang pertama yang tau warna tanktop-nya. Malu-maluin.

"Kalo gw mesum bisa aja sekarang gw langsung meluk lo,mau?"

Refleks Stefani menggeser tubuhnya, sedikit mengindari Robin. Bisa saja ia serius dengan ucapannya kan?

"Nggak, udah ,jalan aja. Buruan. Gw kedinginan."

M

ereka sudah sampai di depan ruang basket, dan Stefani menemukan tergeletak manis di rak sepatu, aman dari terpaan hujan.

Oh, Stefani sangat menghawatirkannya sampai berujung dengan basahnya seragamnya.

"Nih,pake jaket gw. Awas sampai bau pas di kembaliin,"

Robin membuka lokernya dan melemparkan ke arah Stefani sebuah jaket yang cukup tebal dan hangat.

"Berisik,"Sahut Stefani, tapi toh dia pakai juga jaketnya.

"Napadah dia,bin?" Tegar yang baru datang dari toilet langsung merogoh isi kantung plastik berisi bakso itu.

"Kehujanan,katanya sih" sahut Robin acuh.

"Ooh"

Firman dan Tegar sibuk mengaduk bakso mereka. Hanya tersisa mereka bertiga plus Stefani di ruangan ini. Sisanya sudah pulang dan memilih mandi di rumah.

"Nih,bakso buat lo"

Robin menyodorkan semangkuk bakso hangatㅡdengan bakso yang besar-besar dan kepulan asap hangat yang menggugah seleraㅡke arah Stefani.

"Curiga gw baksonya ada apa-apanya. Lo kasih racun kan?"

"Yaudah kalo gak mau mahㅡ"Robin berniat menarik kembali mangkuknya, tapi Stefani menahannya.

"Yaudah sini, gabaik nolak rejeki"

Sebenarnya Stefani lapar,malahan lapar banget. Apalagi sekarang sedang hujan, dingin, makan bakso hangat adalah suatu kenikmatan tiada tara baginya.

Dan di suapan terakhir, Stefani baru menyadari hal ini.

Kenapa Robin hari ini agak sedikit baik sama dia?

Kok Robin memberikan space biar Stefani tidak kehujanan?

Kan dia bisa saja langsung pergi, atau pura-pura tidak melihat Stefani?

Dan...Jaket yang sekarang ia pakai, keliatan masih baru, dan wangi. Sepertinya jaket baru, tapi kenapa Robin meminjamkannya begitu saja?

Ditambah lagi,bakso yang ia makan. Robin sengaja membelikan untuknya? Kenapa?

Tidak ingin berpikir terlalu jauh, Stefani menyimpulkan satu hal.

Lah,ini paling cuma belas kasihan dia, atau dia ngerasa bersalah karena beberapa hari ini jadiim gw babu timnya

Iya,Stefani hanya perlu berpikiran seperti itu.