All Minseok pov
.
.
.
"Oh, Tuhan."
Duk
"Oh. Tuhan."
Duk duk
"Oh Tuhan, nikmat sekali!"
Apa-apaan…
Aku buru-buru bangun dari tidurku, merasa bingung saat melihat sekeliling ruangan yang asing. Banyak kotak-kotak bertebaranan dilantai. Belum lagi gambar- gambar tergantung di dinding.
Kamar baruku, di apartemen baru ku, aku teringat akan apartemen baruku. Aku menempatkan kedua tanganku di atas selimut, membenamkan diriku sendiri dalam seprai tenun mewahku untuk mencari kenyamanan yang sempat terganggu. Bahkan dalam keadaan setengah tertidur, aku masih menyadari jenis sepraiku.
"Mmmmm…Yeah, sayang. Betul disana. Ya, seperti itu…Jangan berhenti, Jangan berhenti!"
Oh Boy…
Aku terduduk, mengucek mata dan berbalik untuk melihat dinding di belakangku, mulai mengerti apa yang sudah membuatku terbangun. Tanganku masih menggosok selimut tanpa sadar, menangkap perhatian monggu (mampus lu anjing kai bertransformasi jadi kucing n anggep aja minseok suka kucing), kucing hebatku. Menyerudukkan kepalanya dibawah tanganku, monggu meminta untuk ditenangkan. Aku mengelusnya saat memperhatikan sekeliling dan mulai membiasakan diri dengan tempat baruku.
Aku baru pindah tadi pagi. Apartemen ini bagus: kamar yang luas, lantai kayu, pintu lengkung, bahkan perapian pun ada! Aku tidak tahu bagaimana menyalakan perapian itu, tapi itu tidak penting. Aku lebih tertarik untuk menempatkan sesuatu diatas tungku. Sebagai desainer interior, aku punya kebiasaan berpikir untuk menempatkan sesuatu di hampir setiap tempat, tak peduli apakah tempat itu milikku atau bukan. Hal ini yg kadang membuat teman temanku marah setiap kali aku selalu mengatur ulang barang-barang mereka.
Aku menghabiskan seharian untuk pindah dan setelah berendam dalam bak mandi, sampai kulitku lebih dari keriput, aku mengistirahatkan tubuhku di tempat tidur dan menikmati suara deritan dan decitan sebuah apartemen baru: lampu lalu lintas di luar, musik yang tenang, dan hiburan bunyi click-click dari monggu yang sedang menjelajah. Suara itu berasal dari bintil di kukunya, kau mengerti kan... aku merasa sangat bahagia saat aku mulai tertidur, Itulah sebabnya aku terkejut saat dibangunkan pada…coba kita lihat…02.37 a.m.
Aku mendapati diriku sedang menatap bodoh pada langit-langit kamar, mencoba kembali berfikir dengan tenang, tapi kemudian aku terkejut lagi saat headboardku bergerak, membentur dinding lebih tepatnya.
Kau pasti bercanda ? Kemudian aku mendengar, dengan sangat jelas:
"Oh Luhan, sangat nikmat! Mmmm…"
Aw,.. astaga !
Sambil berkedip, aku merasa lebih sadar sekarang dan sedikit terpesona dengan apa yang baru saja terjadi dengan jelas di kamar sebelah. Aku menatap monggu, dia juga menatapku dan jika aku tidak begitu lelah aku pasti sudah cukup yakin jika monggu mengedipkan mata. Aku kira seseorang sedang melakukan sesuatu di apartemen sebelah.
Aku memang mengalami "masa kering" beberapa lama. Oh.. tidak-tidak, bukan beberapa lama tapi saat yang sangat lama. Seks panas dan cepat yang buruk dan seks satu malam yang tidak tepat waktu telah mencuri Si Orgasmeku. Dia telah pergi liburan sekitar 6 bulan sekarang. 6 bulan yg sangat lama. Bisa kalian bayangkan, 6 bulan tanpa O. bayangkan bagaimana frustasinya aku.
Tanda-tanda awal dari "Carpal Tunnel Syndrome" terancam akan muncul saat aku mencoba membuat diriku mendapatkan pelepasan. Tapi O sepertinya sedang dalam masa tidur yang permanen. Dan O disini maksudku bukan Oprah.
Aku menyampingkan pikiran tentang O ku yang hilang dan meringkuk di sisi tempat tidur. Semuanya tampak hening sekarang dan aku mulai berusaha untuk tertidur kembali sembari mencari posisi tidur yang paling nyaman. Monggu mendengkur puas disampingku. Tiba-tiba terjadi lagi kehebohan.
"Ya! Ya! Oh, Tuhan... oh Tuhan ."
Lukisan yang aku gantung di rak diatas tempat tidurku jatuh dan menimpa kepalaku dengan keras. Sialan, itu sakit kawan… dan itu akan mengajariku selama aku tinggal di San Fransisco dan aku akan memastikan segala sesuatu dipasang dengan aman di sini. Menggosok kepalaku dan sambil memaki yang cukup membuat monggu merona – jika kucing bisa merona – aku melihat kembali dinding di belakangku. Headboardku secara harfiah membentur dinding saat keributan berlanjut di rumah sebelah.
"Mmmm…Ya, sayang, ya, ya, ya!" si mulut ribut mulai mengoceh…dan diakhiri dengan sebuah desahan puas.
Kemudian aku mendengar, demi Tuhan, Kau tidak mungkin salah duga jika itu suara pukulan pantat yang bagus, dan seseorang sedang menerimanya di rumah sebelah dengan senang hati.
"Oh Tuhan, Luhan. Ya. Aku telah menjadi gadis nakal. " …lebih banyak pukulan dan kemudian tidak diragukan lagi itu suara laki- laki yang sedang mendesah dan menggeram.
Aku bangkit, menggerakkan seluruh tempat tidur beberapa inci menjauh dari dinding dan menggerutu di balik selimutku, memelototi dinding sepanjang waktu seolah-olah dinding itu pelaku kegiatan mengganggu dari apartemen sebelah. Yang benar saja. Suara-suara mengganggu itu bukan hal yang ingin aku dengar saat aku pindah ke apartemen baruku ini. Dosa apa aku sehingga harus mengalami hal menyebalkan seperti ini. Aku tertidur malam itu setelah bersumpah aku akan balas memukul dinding jika aku mendengar sekali lagi keributan.
Atau geraman.
Atau pukulan.
Selamat datang di lingkungan baru...
.
.
.
PAGI BERIKUTNYA, pagi resmi pertamaku di tempat baru, aku menyeruput secangkir kopi dan mengunyah sisa donat dari sisa pesta pindahan kemarin.
Aku pesta gila dan tidak cukup terjaga seperti yang aku harapkan untuk mulai membongkar dan aku diam-diam mengutuk kekonyolan di sebelah tadi malam. Wanita yang disetubuhi, ditampar pantatnya, orgasme, lalu tertidur. Begitu pula dengan Luhan. Aku menduga nama laki-laki itu Luhan, sebagaimana wanita yang suka ditampar pantatnya itu terus memanggilnya demikian. Dan sungguh, jika dia mengarang untuk membuatnya, nama itu harus lebih panas daripada Luhan untuk diteriakkan selama pergolakan nafsu.
Pergolakan itu,,,, Tuhan, aku merindukan pergolakan itu
"Masih belum ada, ya, O?" aku mendesah secara berlebihan sambil menunduk. Selama empat bulan dari kehilangan O, Aku mulai berbicara dengan Oku seolah-olah dia adalah entitas yang sebenarnya. Dia terasa cukup nyata ketika dia menguncang duniaku dulu, tapi sayangnya sekarang O telah meninggalkanku, aku tidak yakin aku akan mengenalinya jika aku melihatnya. Ini menyedihkan, hari yang menyedihkan ketika seorang gadis bahkan tidak tahu orgasmenya sendiri pikirku sambil melihat dengan sedih keluar jendela langit San Fransisco yang cerah.
Aku berdiri dan melangkah ke wastafel untuk mencuci cangkir kopiku. Menempatkannya di rak cucian, lalu aku menarik rambut pirang terangku menjadi ekor kuda tak rapi dan mengamati kekacauan yg mengelilingiku. Tidak peduli seberapa baik aku membuat rencana, tidak peduli seberapa baik sudah aku memberi label pada setiap kotak, tidak peduli seberapa sering aku memberi tahu pria tukang pindah idiot itu jika labelnya mengatakan DAPUR itu tidak seharusnya berada di KAMAR MANDI, tetap saja jadi berantakan dan tak sesuai dengan label. Ayolah.. siapa yang bodoh di sini? Aku atau para tukang pindah barang idiot itu yang mendadak tidak bisa membaca label yang ku tempel pada setiap kotak?
"Bagaimana menurutmu Monggu? Haruskah kita mulai disini atau ruang tamu?" Dia meringkuk di salah satu kusen jendela.
Sejujurnya, ketika aku mencari tempat baru untuk tinggal, aku selalu mengamati kusen jendelanya. Monggu suka melihat dunia dan menyenangkan rasanya melihatnya menungguku ketika pulang ke rumah. Saat ini ia menatapku dan kemudian sepertinya mengangguk ke arah ruang tamu.
"Oke, ruang tamu kalau begitu." kataku, menyadari bahwa aku hanya bicara 3 kali sejak bangun pagi ini, dan setiap kata yang diucapkan telah diarahkan pada Pussy (pussy= kucing atau vagina). Ehem…..
Sekitar 20 menit kemudian Monggu mulai saling tatap dengan seekor merpati dan aku mulai memilah DVD saat aku mendengar suara- suara di lorong. Tetanggaku yang bising! Aku berlari ke pintu, hampir tersandung sebuah kotak dan mengintip melalui lubang pintu dan hanya bisa melihat pintu masuk apartemen di seberang lorong. Aku seperti orang cabul, sejujurnya. Tapi aku tidak berusaha untuk berhenti mengintip. Aku penasaran omong-omong
Aku tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi aku dapat mendengar percakapan mereka: Suara si pria pelan dan menenangkan,, diikuti oleh tak diragukan desahan dari temannya.
"Mmm, Luhan, semalam sangat fantastis."
"Aku pikir pagi ini juga fantastis," katanya, memberikan sesuatu yang terdengar seperti ciuman yang sangat dalam pada wanitanya. Iyuh… yaiks
Huh. Mereka pasti ada di ruangan lain pagi ini. Aku tidak mendengar apapun. Aku menekan mataku kembali ke lubang pintu. Dasar cabul. Dan siapa pengintip tak tahu diri ini kawan…? Rutukku pada diriku sendiri
"Memang iya, hubungi aku segera?" Kata wanita itu sambil merunduk untuk sebuah ciuman lagi.
"Tentu saja, aku akan menelponmu jika aku pulang," janjinya, sambil menampar pantatnya saat si wanita mengikik lagi dan berjalan pergi.
Sepertinya dia wanita yang pendek. Selamat Tinggal Spanx. Menarik. Sudut penglihatannya salah bagiku untuk melihat si Luhan ini dan ia kembali masuk ke apartemennya sebelum aku bisa melihatnya. Jadi wanita ini tidak tinggal bersamanya.
Aku belum mendengar kata-kata "Aku mencintaimu" ketika wanita itu pergi, tapi mereka kelihatannya sangat nyaman satu sama lain. Tanpa sadar aku mengunyah ekor kudaku. Mereka memang harusnya seperti itu, dengan semua tamparan di pantat dan segalanya mustahil mereka merasa canggung satu sama lainkan?.
Mendorong jauh pikiranku tentang tamparan pantat dan Luhan, aku kembali ke DVDku. Dan tiba-tiba Spanking Luhan (Luhan si Penampar Pantat) melintas di kepalaku. Nama yang bagus untuk sebuah band. Setelah itu aku pindah menyusun DVD berawalan Huruf H.
.
.
.
Satu jam kemudian aku baru saja menempatkan DVD Wizard of Oz setelah Willy Wonka
saat aku mendengar ketukan. Ada pertengkaran di lorong saat aku mendekati pintu, dan aku menahan cengiranku.
"Jangan jatuhkan, kau bodoh," sebuah suara serak menegur.
"Oh, tutup mulut. Jangan suka memerintah," suara kedua membentak kembali.
Memutar mataku, aku membuka pintu untuk menemukan 2 sahabatku, Sehun dan Baekhyun, memegang sebuah kotak besar.
"Tidak ada perkelahian, nona-nona. Kalian berdua cantik." Aku tertawa, menaikkan satu alis pada mereka.
"Ha Ha lucu," jawab Baekhyun, terhuyung-huyung masuk ke dalam.
"Apa-apaan itu? Aku tidak percaya kalian mengangkatnya ke lantai 4 lewat tangga!" Teman-temanku tidak akan melakukan pekerjaan berat ketika mereka bisa menemukan orang lain yang bisa melakukannya.
"Percaya padaku, kami menunggu di luar taksi untuk berharap bantuan dari seseorang yang lewat, tapi tidak berhasil. Jadi kami melakukannya sendiri, Selamat Pindah Rumah." kata Sehun. Mereka meletakkannya, dan Sehun jatuh ke kursi santai dekat perapian.
"Yeah, berhentilah pindah rumah. Kami lelah membelikan barang-barang untukmu." Baekhyun tertawa, berbaring di sofa dan menempatkan lengannya menutupi wajahnya secara dramatis.
Aku menyentuh kotak dengan jempol kakiku dan bertanya, "jadi apa itu? Dan aku tidak pernah bilang kau harus membelikan sesuatu. Sejujurnya, Mesin Pembuat Jus The Jack Lalane tidak diperlukan tahun lalu."
"Jangan tidak tahu berterimakasih, buka saja," Sehun mengintruksikan, menunjuk ke kotak dengan jari tengahnya, kemudian ditegakkanya dan diperlihatkannya ke arahku.
Aku menghela napas dan duduk di lantai di depannya. Aku tahu itu dari Williams Sonoma, karena memiliki pita tanda khas dengan nanas kecil terikat padanya. Apapun itu kotaknya berat.
"Oh tidak, apa yang kalian berdua lakukan?" Tanyaku, menangkap sebuah kedipan mata dari Baekhyun ke Sehun. Menarik pita dan membukanya, aku senang dengan apa yang kutemukan.
"Kalian berdua, ini berlebihan!"
"Kami tahu betapa kau merindukan yang lama," Baekhyun tertawa, tersenyum padaku.
Bertahun-tahun sebelumnya, aku mendapatkan warisan sebuah mixer merek Kitchen Aid tua dari bibiku yang sudah meninggal. Usianya sudah lebih dari 40 tahun, tapi masih bekerja dengan hebat. Barang itu dibuat sampai akhir masanya, oleh Tuhan dan bertahan sampai beberapa bulan yang lalu, ketika akhirnya menjadi rusak parah. Mengeluarkan asap dan melemah pada suatu sore saat mencampur adonan roti zukini dan sebenci apapun aku melakukannya, aku melemparnya keluar.
Sekarang saat aku menatap kotak itu, sebuah mixer KitchenAid baja anti karat yang mengkilap, baru, berdiri sedang menatap balik padaku, visi-visi tentang kue-kue dan pai mulai menari-nari dikepalaku.
"Kalian, ini sangat cantik," aku menarik napas, menatap dengan gembira bayi baruku.
Aku mengangkatnya dengan lembut untuk mengaguminya. Menjalankan tanganku diatasnya. Melebarkan jariku untuk merasakan garis-garis halusnya, aku senang merasakan logam dinginnya di kulitku. Aku mendesah lembut dan benar-benar memeluknya.
"Apakah kalian berdua ingin ditinggal sendirian?" Sehun bertanya.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku ingin kau menjadi saksi disini untuk cinta kami. Selain itu, ini adalah satu-satunya mesin instrument yg mungkin membawaku dalam kepuasan di waktu yang akan datang. Terima kasih. Ini sangat mahal, tapi aku benar-benar menghargainya." Kataku. Monggu mendekat, mengendus mixer dan melompat senang masuk ke dalam kotak kosong.
"Hanya berjanjilah untuk membawakan kami kue-kue enak, dan semua ini sepadan, sayang." Baekhyun duduk menatapku penuh harap.
"Apa?" tanyaku hati-hati.
"Minseok, bisakah aku mulai dari lacimu sekarang?" tanyanya, sambil melangkah sempoyongan menuju kamar tidur.
"Apa yang akan kau mulai lakukan dengan laciku?" jawabku sambil menarik tali celana dipinggangku lebih erat.
"Dapurmu! Aku mulai menatanya!" serunya, dan mulai bergerak menata tempatku. sangat ingin menatanya
"Oh tentu saja! silakan! Selamat Natal, Manusia Aneh," aku mengejek saat Sehun berlari dengan gembira ke ruangan lainnya.
Baekhyun adalah seorang Organizer Profesional. Dia membuat kami gila saat kami semua sekolah di Berkley, kecenderungannya OCD dan perhatiannya terhadap detail sangat parah. Suatu hari Sehun menyarankan dia untuk menjadi profesional organizer, dan setelah lulus dia melakukannya. Dia sekarang bekerja di hampir semua daerah Bay membantu keluarga-keluarga disana menata ruangan mereka. Perusahaan desainku kadang berkonsultasi padanya, dan dia bahkan sudah muncul di beberapa pertunjukan HGTV. Pekerjaannya itu cocok sempurna untuknya.
Jadi aku hanya membiarkan Baekhyun melakukan hal itu, tahu barang-barangku akan diatur secara bagus sehingga membuatku terkejut. Sehun dan aku tetap bersantai di ruang tamu, tertawa menyaksikan DVD yang kami putar selama bertahun-tahun. Kami berhenti di setiap film Brat Pack tahun 80an, memperdebatkan apakah Bender berakhir dengan Claire setelah mereka semua kembali sekolah pada hari Senin. Aku memilih tidak, dan aku yakin dia tidak akan pernah mendapatkan anting-anting itu kembali….
.
.
.
Malam setelah teman-temanku pergi, aku duduk di sofa ruang tamu dengan Monggu untuk menonton tayangan ulang The Barefoot Contessa di saluran Food Network. Sementara memimpikan kreasiku yang akan aku kocok dengan mixer baruku dan bagaimana suatu hari aku ingin dapur seperti milik Ina Garten, aku mendengar langkah kaki di luar pintuku dan 2 suara. Aku menyipitkan mataku pada Monggu. Si Spanx pasti kembali.
Meloncat dari sofa, aku mengintip di lubang pintu sekali lagi, mencoba untuk melihat tetanggaku. Aku melewatkannya lagi, hanya kulihat punggungnya saat dia memasuki apartemennya di belakang seorang wanita yangg sangat tinggi dengan rambut coklat panjang.
Menarik. 2 wanita yang berbeda dalam beberapa hari. Playboy.
Aku melihat pintunya tertutup dan merasa Monggu melengkung disekitar kakiku dan mendengkur.
"Tidak, kau tidak bisa pergi kesana, anak nakal," bujukku, membungkuk dan meraihnya. Aku mengusap bulu halusnya di pipiku, tersenyum saat ia berbaring dalam pelukanku. Monggu adalah palyboy di area sini. Dia akan berbaring bagi siapa saja yg mengusap perutnya.
Kembali ke sofa, aku menyaksikan Barefoot Contessa mengajarkan kami semua bagaimana menjadi tuan rumah di pesta makan malam Hampton dengan sederhana dan elegan dan rekening bank seukuran Hampton.
Beberapa jam kemudian dengan bantal sofa yang menekan keningku, aku kembali ke kamarku untuk tidur. Baekhyun telah mengorganisir lemariku dengan efisien sehingga hal yang terakhir harus aku lakukan adalah hanya menggantung gambar-gambar dan mengatur beberapa hal dan selesai. Aku sengaja tidak memasang gambar di atas rak tempat tidurku. Aku tidak mau mengambil resiko malam ini. Aku berdiri di tengah ruangan, mendengarkan suara-suara di rumah sebelah. Semua tenang di sebelah barat. Sejauh ini semua baik. Mungkin semalam hanyalah kencan satu malam.
Saat aku bersiap-siap untuk tidur aku melihat bingkai foto keluarga dan teman-temanku, Orang tuaku dan aku bermain ski di Tahoe, teman-temanku dan aku di Coit Tower. Sehun senang mengambil gambar di samping sesuatu dengan simbol phallus (Dewa Kesuburan Yunani). Dia bermain cello dengan San Fransisco Orkestra, dan meskipun sudah memainkan alat musik sepanjang hidupnya, dia tidak pernah bisa melewatkan lelucon ketika melihat suling. Dia sinting.
Kami bertiga saat ini tidak ada yang terikat suatu hubungan, sesuatu yang langka. Biasanya, salah satu dari kami ada yang berkencan dengan seseorang, tapi sejak Sehun putus dengan pacar terakhirnya beberapa bulan yang lalu, kami semua berada di musim kering. Beruntung bagi teman- temanku, kekeringan mereka tidak sepertiku. Sejauh yang ku tahu mereka masih berhubungan baik dengan O mereka.
Aku teringat kembali dengan bergidik mengingat malam ketika O dan aku telah berpisah. Aku mengalami serangkaian kencan pertama yang buruk dan begitu frustasi secara seksual sehingga aku membiarkan diriku kembali ke apartemen pria yang aku tidak berniat untuk melihatnya lagi. Bukan berarti aku menentang kencan satu malam.
Aku sering pergi dengan malu di waktu pagi. Tapi orang ini? Aku seharusnya tahu lebih baik. Cory Weinstein, bla bla bla. Keluarganya memiliki sebuah jaringan bisnis pizza di seluruh daerah pantai barat. Hebat di atas kertas kan? Hanya di atas kertas. Ia cukup baik, tapi membosankan. Tapi saat itu aku sudah lama tidak berhubungan dengan pria, dan setelah beberapa martini dan berbicara sendiri di mobil, aku mengalah dan membiarkan Cory "melakukan caranya denganku."
Sekarang, sampai pada titik tertentu dalam hidupku, aku percaya teori tua bahwa seks itu seperti pizza. Bahkan ketika itu buruk, itu masih cukup baik. Untuk beberapa alasan. Ini adalah jenis seks yang paling buruk. Gaya senapan mesin: cepat, cepat, cepat. Hanya 30 detik pada payudara, 60 detik pada sesuatu sekitar 1 inci diatas dimana tempat dia seharusnya berada, dan kemudian masuk. Dan keluar. Dan masuk. Dan keluar.
Tapi setidaknya itu cepat berakhir, kan? Tapi tidak. Hal menyedihkan ini berlangsung selama berbulan bulan. Ok, tidak. Tapi untuk hampir 30 menit. Dari masuk dan keluar. Kasihan vaginaku terasa seperti telah disembur pasir. Pada saat itu berakhir, dan ia berteriak, "Nikmat sekali!" sebelum jatuh diatasku, aku secara mental mengatur ulang semua serpihan diriku dan mulai membersihkan semuanya di wastafel. Aku berpakaian, tidak butuh waktu lama berpakaian karena pakaianku masih hampir lengkap dan pergi.
Malam berikutnya, setelah membiarkan Lower Minseok (Minseok bagian bawah) sembuh, aku memutuskan untuk memperlakukannya dalam sebuah sesi bercinta sendiri yang nikmat dan lama, dengan kekasih fantasi semua orang, George Clooney alias . Tapi penyesalanku yang sangat dalam, O telah meninggalkan tempatnya, aku mengangkat bahu, berpikir mungkin dia hanya perlu pergi semalam, masih mengalami sedikit PTSD dari Pemilik Pizza Parlor, Cory.
Tapi malam berikutnya? Tidak ada O. Tidak ada tanda-tanda dia minggu itu, atau minggu berikutnya. Saat hitungan minggu berubah menjadi bulan, dan bulan membentang terus, mulailah berkembanglah kebencian mendalamku untuk Cory Weinstein. Senapan mesin keparat
Aku menggelengkan kepala, membersihkan pikiran tentang O dari kepalaku sewaktu aku merangkak naik ke tempat tidur. Monggu menunggu sampai aku rebah sebelum meringkuk dibawah lututku. Dia mengeluarkan dengkuran terakhir saat aku mematikan lampu.
"Malam, Mr. Monggu," bisikku dan jatuh tertidur.
.
.
.
Duk
" Oh Tuhan."
Duk Duk
"Oh Tuhan."
Yang benar saja… mengerang dengan jengkel aku bangun dengan mood buruk
Aku bangun lebih cepat kali ini, karena aku tahu apa yang kudengar. Aku duduk di tempat tidur, melotot dibelakangku. Tempat tidur sudah ditarik dengan aman menjauh darim dinding, jadi aku tidak merasa ada gerakan, tapi yakin sekali ada sesuatu yang bergerak disana.
Lalu aku mendengar…desisan?
Aku menatap Monggu, yang ekornya berdiri tegak. Dia melengkungkan punggungnya dan mondar mandir di kaki tempat tidur.
"Hei Mister, tidak apa-apa. Kita hanya punya tetangga berisik itu saja," aku menenangkannya, meregangkan tanganku padanya. Saat itulah aku mendengarnya.
"Meow."
Aku memiringkan kepalaku ke samping, mendengarkan lebih seksama. Aku memperhatikan Monggu, yang melihat ke belakang seolah-olah mengatakan, "Itu bukan aku"
"Meow! Oh Tuhan, Meow. Me-yow!"
Wanita di sebelah mengeong. Demi Segala Isi Dunia jenis ereksi apa yang dimiliki oleh tetanggaku sehingga bisa membuat hal itu terjadi?
Monggu pada titik ini, benar-benar gila dan meluncurkan dirinya di dinding. Dia benar- benar mendaki dinding, mencoba untuk mendekati asal keributan itu, dan menambahkan bunyi meow-nya sendiri untuk menambahkan paduan suara.
"Oooh, Yaaa, seperti itu Luhan,,,,,,,mmmmm, meow, meow, !"
Demi Tuhan, ada kucing yang lepas kendali di kedua sisi dinding malam ini. Wanita itu memiliki aksen, meskipun aku tidak mengenali asalnya. Daerah Eropa Timur pastinya. Ceko? Polandia? Apakah aku benar-benar terjaga, mari kita lihat jam 1.16 dini hari dan aku masih mencoba untuk membedakan asal Negara dari wanita yang tengah disetubuhi di sebelah?
Aku mencoba untuk memegangi Monggu dan menenangkannya. Tidak beruntung. Dia dikebiri, tapi dia masih laki-laki dan dia menginginkan sesuatu yang ada dibalik dinding itu. Dia terus berteriak mengeong, suara meow miliknya berpadu dengan wanita itu sampai yang hanya aku bisa kulakukan adalah untuk tidak menangis pada keriuhan momen ini. Hidupku telah menjadi teater absurd dengan paduan suara kucing. Oh.. silahkan tetawa kawan. Aku memang nampak menyedihkan dan aku tahu itu dengan pasti
Aku menyadarkan diriku karena aku sekarang bisa mendengar mengerang. Suaranya rendah dan dalam, dan sementara wanita itu dan Monggu terus memanggil satu sama lain, aku mendengarkan semata-mata padanya, pada suara berat dan sexy itu. Dia mengerang dan dentuman di dinding dimulai. Dia benar-benar sungguh-sungguh melakukannya.
Wanita itu mengeong keras dan lebih keras sepertinya dia tanpa diragukan lagi akan klimaks ke puncak. Meownya berubah menjadi teriakan tak jelas dan dia akhirnya memekik,
"Da! Da! Da!" Ah. Wanita itu adalah orang Rusia. Demi Tuhan.
Satu dentuman, satu erangan lagi dan ngeongan terakhir. Akhirnya semuanya hening. Kecuali untuk Monggu. Dia terus merindukan cintanya yang hilang sampai jam 4 pagi.
Perang dingin kembali…..
.
.
.
tbc
.
.
Note :
Williams Sonoma: Sebuah waralaba yang menjual peralatan masak, furniture dan kain berkualitas tinggi dan barang-barang yang berkaitan dengan peralatan rumah tangga serta bahan makanan khusus, sabuh dan lotion.
OCD (Obsessive Compulsive Disorder): Gangguan mental suka menata ulang barang- barang.
The Barefoot Contessa: Acara masak- memasak di Amerika yang pertama kali mengudara 30 November 2002 yang dipandu oleh Ina Garten, seoorang celebrity chef.
Coit Tower: atau Lillian Coit Memorial Tower yang monumen yang dibangun oleh arsitek Arthur Brown Jr. and Henry Howard dengan uang warisan dari Lillie Hitchock Coit sendiri untuk menghormati dirinya, sosialita wanita kaya raya yang konsen terhadap kebakaran yang sering terjadi di kota San Fransisco. Tower ini berbentuk seperti suling atau mulut selang pipa pemadam kebakaran.
Carpal Tunnel Syndrome adalah penyakit yang menyerang pergelangan tangan dimana syaraf tangan menyatu di bagian per
PSTD Post traumatic stress disorder atau Gangguan stres pasca trauma, gangguan kecemasan yang dapat berkembang setelah seseorang terkena satu atau lebih peristiwa traumatis, seperti kekerasan seksual, cedera serius atau ancaman kematian. Gejalanya bisa berupa kilasan peristiwa berulang.
