.

.

.

Pada saat Monggu sudah diam dan menghentikan teriakan kucingnya, aku benar-benar lelah dan sudah terjaga. Lagipula aku harus bangun satu jam berikutnya dan aku menyadari aku telah mendapatkan apapun tidur yang bisa aku dapatkan. Aku lebih baik bangun dan membuat sarapan.

"Pengeong bodoh," kataku, berkata pada dinding di belakangku dan aku melangkah ke ruang tamu. Setelah menyalakan TV, aku menyalakan mesin pembuat kopi dan melihat cahaya fajar baru mulai mengintip di jendelaku. Monggu meringkuk dikakiku dan aku memutar mataku padanya.

"Oh, sekarang kamu menginginkan cinta dariku, huh? Setelah mengabaikanku karena Purina semalam? Monggu kau jahat," aku bergumam, merentangkan kakiku dan menggosoknya dengan tumitku.

Dia merebahkan dirinya ke lantai dan berakting untukku. Dia tahu aku tidak bisa menolak ketika dia berakting. Aku tertawa kecil dan berlutut di sampingnya. "Ya, ya, aku tahu kau mencintaiku sekarang karena akulah yang akan menjaga makananmu." aku menghela napas, menggaruk perutnya.

Aku kembali ke dapur, Monggu masih diantara tumitku, dan menuangkan beberapa makanan ke dalam mangkuknya. Sekarang dia telah mendapatkan yang ia butuhkan, aku dengan cepat terlupakan.

Saat aku menuju ke kamar mandi, aku mendengar gerakan di lorong. Aku segera berubah kembali menjadi Minseok Si Pengintip, saat aku menekan mataku pada lubang intip untuk melihat apa yang terjadi dengan Luhan dan Purina.

Luhan berdiri di pintu masuknya, cukup jauh kedalam aku tidak bisa melihat wajahnya. Purina berdiri di lorong dan aku bisa melihat tangan Luhan mengelus rambut Purina yang panjang. Aku bisa mendengar Purina mendengkur melalui pintu sialan itu.

"Mmm, Luhan semalam….mmmm," dia mendengkur , bersandar ke tangannya yang sekarang menempel ke pipinya.

"Aku setuju. Cara yang baik untuk menggambarkan malam dan pagi ini," katanya pelan saat mereka berdua tertawa.

Bagus sekali. Seks dua ronde lagi.

"Hubungi aku jika kau kembali ke kota?" kata Purina saat Luhan menyingkirkan rambut yang ada di wajahnya. Wajah segar terpuaskannya. Aku rindu wajah seperti itu.

"Oh, Kau bisa mengandalkanku," Luhan menjawab dan kemudian menariknya kembali ke pintu yang hanya bisa ku asumsikan sebagai ciuman mematikan. Kakinya terlihat seperti dia sedang berpose. Aku mulai memutar mata, tapi ternyata sakit. Mataku tertekan di lubang intip, kau tahu kan?

"do svidaniya (Selamat Tinggal)," dia berbisik dengan aksen yang eksotis itu. Terdengar lebih baik sekarang dia tidak berteriak seperti suara rengekan kucing yang kepanasan.

"Sampai jumpa," Kata Luhan sambil tertawa dan dengan anggun dia berjalan pergi.

Aku berusaha melihatnya sebelum ia masuk ke dalam, tapi tidak bisa. Kehilangan sosok dia lagi. Aku harus mengakui, setelah pukulan pantat dan mengeong, aku sangat ingin melihat bagaimana wajahnya. Adasuatu keahlian seksual hebat di rumah sebelah. Aku hanya tidak bisa melihat mengapa hal itu harus mempengaruhi kebiasaan tidurku. Aku paksa diriku menjauh dari pintu dan mandi. Di bawah air, aku merenungkan apa sih sebenarnya yang diperlukan untuk membuat wanita bisa mengeong.

Saat menjelang pukul 7. aku menaiki sebuah mobil kabel dan meninjau kembali jadwalku hari ini. Aku akan bertemu klien baru, menyelesaikan beberapa rincian tentang proyek yang baru saja selesai dan makan siang dengan bosku. Aku tersenyum ketika aku memikirkan Jonmyeon.

Kim Jonmyeon mempunyai perusahaan desainnya sendiri, di mana aku bernasib baik untuk magang di sana selama tahun terakhirku di Berkley. Usianya di akhir tiga puluhan, tetapi terlihat seperti akhir dua puluhan, dia telah membuat namanya sendiri terkenal di komunitas para desainer pada awal karirnya. Dia menantang konvensi, merupakan yang pertama kali membersihkan apa yang disebut shabby chic dari peta desain, dan telah menjadi trendsetter yang membawa kembali ketenangan yang netral dan cetakan geometris dari tampilan "modern" yang sekarang sedang menggila. Dia mempekerjakanku setelah magangku berakhir dan dan menyediakan pengalaman terbaik yang diimpikan bagi seorang desainer muda sepertiku. Dia penuh tantangan, cerdas, memiliki naluri mematikan dan mata pembunuh terlebih untuk detail. Tetapi bagian terbaik bekerja untuknya? Dia menyenangkan.

Saat aku keluar dari mobil, aku melihat "kantorku". Jonmyeon Designs berada di Russian Hill, bagian kota yang indah : seperti mansion dalam kisah dongeng, jalanan yang tenang dan pemandangan yangg fantastis dari ketinggian. Beberapa rumah tua yang besar telah dirubah menjadi ruang komersial dan bangunan kami adalah salah satu yang terbaik.

Aku mendesah lega ketika memasuki kantorku. Jonmyeon ingin masing-masing desainer mengatur ruangan mereka sendiri. Itu adalah cara untuk menunjukkan kepada klien potensial apa yang bisa mereka harapkan, dan aku menuangkan banyak pemikiranku ke ruang kerjaku. Warna abu-abu gelap dinding dihiasi dengan tirai mahal warna pink salmon. Mejaku terbuat dari kayu eboni gelap dengan kursi terbungkus sutra bewarna sampanye dan emas lembut. Ruanganku tenang-dengan sedikit sebuah sentuhan berbeda dari lelucon yang berasal dari koleksi iklan Sup Campbell sekitar tahun 1930-1940an. Aku banyak menemukannya di toko barang bekas, semua dipotong dari majalah edisi lama. Dibingkai dan dipasang didinding, dan aku masih tertawa setiap kali aku melihatnya.

Aku menghabiskan beberapa menit membuang bunga minggu lalu dan menyusun rangkaian yang baru. Setiap hari Senin aku berhenti disebuah toko untuk memilih bunga-bunga selama seminggu. Mekarnya berubah, tapi warnanya cenderung memudar. Aku sangat menyukai orange dan pink, peach dan emas yang hangat. Hari ini aku memilih mawar hibrida dengan warna karang yang indah, ujung kelopaknya semburat warna raspberi.

Aku menahahan kuap dan duduk di mejaku, mempersiapkan hari ini. Aku melihat Jonmyeon saat ia melenggang melewati pintuku dan melambai padanya. Dia datang kembali dan melongokkan kepalanya. Selalu rapi, dia tinggi, ramping dan manis. Hari ini berpakaian hitam dari atas ke bawah tapi dengan sepatu pantofel warna fuchsia yang menggoda, dia terlihat cantik.

"Hei nona, bagaimana apartemennya?" tanyanya, duduk di kursi seberang mejaku.

"fantastis. Terima Kasih! Aku tidak pernah bisa membayarmu untuk ini. Kau yang terbaik" jawabku.

Jonmyeon telah menyewakan apartemennya kepadaku, yang dia miliki sejak pindah ke kota ini bertahun-tahun lalu. Sekarang dia memperbaiki rumah di Sausalito. Menyewa tempat tinggal yang berada di kota itu adalah kewajiban. Peraturan Kontrol Harga Sewa menjadikan harganya rendah. Aku siap untuk membahas lebih lanjut ketika dia menghentikanku dengan lambaian tangannya.

"Ssst, itu bukan apa-apa. Aku tahu aku harus menyingkirkannya, tapi itu adalah tempat pertama saat aku dewasa dan itu akan menghancurkan hatiku jika aku menjualnya! Selain itu, aku suka tempat itu ditinggali lagi. Lingkungannya bagus." Dia tersenyum dan aku menahan kuapan lain. Mata tajamnya memperhatikanku.

"Minseok ini senin pagi. Bagaimana kau bisa sudah menguap?" Dia menegur.

Aku tertawa.

"Kapan terakhir kali kau tidur di sana, Myeonie?" aku menatapnya dari atas bibir cangkir kopiku. Ini adalah yang ketiga kalinya. Aku akan sadar tak lama lagi.

"Oh, sudah lama sekali. Mungkin setahun yang lalu? Lay sedang keluar kota dan aku masih menyimpan tempat tidur di sana. Terkadang saat aku bekerja lembur aku menginap di sana. Mengapa kau menanyakannya?"

Lay adalah tunangannya. Seorang millioner, pengusaha dan sangat tampan. Aku dan teman-temanku sangat naksir padanya.

"Apakah kau mendengar sesuatu dari rumah sebelah?" tanyaku.

"Tidak, Tidak. Aku rasa tidak. Seperti apa?"

"hmm, hanya suara. Suara ditengah malam."

"Tidak, tidak saat aku berada di sana. Aku tidak tahu siapa yang tinggal di sana sekarang, tapi aku pikir seseorang pindah tahun lalu, mungkin? tahun sebelumnya? Tidak pernah bertemu dengannya. Kenapa? Apa yang kau dengar?" Wajahku merah merona dan menyesap kopiku. "Tunggu sebentar. Minseok? Serius? Apakah kau mendengar orang berhubungan seks?" Dia tertarik.

Aku memukul kepalaku dia atas meja. Oh, Tuhan. Kilas balik. Tidak ada lagi pukulan. Aku mengintip kearahnya, dan ia tertawa keras.

"Oh Ya Ampun, Minseok. Aku tidak tahu! Tetangga terakhir yang kuingat berusia 80an dan satu-satunya suara yang pernah kudengar datang dari kamar itu adalah tayangan ulang gunsmoke . Tapi kalau aku pikir-pikir, aku bisa mendengar acara TVnya dengan sangat baik…" Dia terdiam.

"Yah, bukan gunsmoke yang terdengar dari dinding itu sekarang. Seks langsung yang terdengar melalui dinding itu. Dan bukan seks yang manis dan membosankan pula. Kita membicarakan seks yang….menarik." Aku tersenyum.

"Apa yang kau dengar?" Dia bertanya, matanya menyala.

Aku tidak peduli berapa usiamu atau latar belakangmu, selalu ada dua kebenaran yang universal. Kita akan selalu menertawaka jika terjadi pada waktu yang salah, dan kita selalu ingin tahu tentang apa yang terjadi di kamar tidur orang lain.

" Jonmyeon, ini serius. Itu belum pernah kudengar sebelumnya. Malam pertama mereka membenturkan dinding begitu keras, lukisan terjatuh dan memukul kepalaku!" matanya melebar dan ia mencondongkan tubuh ke depan di mejaku.

"Diamlah!"

"Aku tidak akan diam! Lalu aku mendengar….Ya Tuhan, aku mendengar pukulan pantat." Aku membahas pukulan pantat dengan bosku. Kau tahu sekarang mengapa aku mencintai hidupku?

"Tidakkk," desahnya, dan kami cekikikan seperti anak sekolah.

"Yaaa. Dan dia membuat tempat tidurku bergerak, Myeon. Membuatnya bergerak! Aku melihat wanita itu keesokan hari, saat si Spanx itu pergi."

"Kau memanggilnya Spanx?"

"Kau mau bertaruh! Dan kemudian semalam…!"

"Dua malam berturut-turut! Spanx mendapat pukulannya lagi?"

"Oh, Tidak, semalam aku mengetahui ada makhluk aneh yang aku beri nama Purina" Lanjutku

"Purina? Aku tidak mengerti." Dia mengerutkan kening.

"Seorang wanita Rusia yang dibuatnya semalam." Dia tertawa keras lagi, menyebabkan Steve si akuntan menolehkan kepalanya ke pintuku.

"Apa yang kalian berdua ceritakan di sini?" tanyanya sambil menggeleng.

"Tidak ada" jawab kami pada saat yang bersamaan, kemudian tertawa menggila lagi.

"2 wanita dalam 2 malam, impresif." Dia mendesah.

"Ayolah, impresif, bukan. Playboy? Ya."

"Wow, apakah kau tahu namanya?"

"Aku tahu. Namanya Luhan. Aku tahu ini Karena Spanx dan Purina selalu menjeritkan keras namanya terus-menerus. Aku bisa mendengarnya diantara suara gedoran mereka…si Bodoh Penggedor Dinding," gumamku

.

Dia diam sejenak dan kemudian tersenyum." Luhan Penggedor Dinding, Aku suka itu!"

"Ya Kau menyukainya. Kau tidak memiliki kucing yang mencoba untuk kawin dengan Purina melalui dinding semalam." Aku tertawa sedih dan meletakkan kepalaku kembali ke meja saat kami melanjutkan cekikikan.

"Ok. Kembali bekerja," Jonmyeon akhirnya berkata sambil menyeka air matanya.

"Aku ingin kau berhasil mendapatkan klien baru hari ini. Jam berapa mereka datang?"

"Ah Tuan dan Nyonya Nicholson di sini jam satu siang. Aku sudah siapkan presentasi dan rencana untuk mereka. Kupikir mereka akan benar-benar menyukai caraku mendesain ulang kamar tidur mereka. Kita akan dapat menawarkan tambahan ruang duduk dan kamar mandi yang baru. Hal ini cukup bagus."

"Aku mempercayaimu. Bisakah kau mengutarakan ide-idemu denganku saat makan siang?"

"Ya, Aku bisa." jawabku saat dia keluar menuju pintu.

"Kau tahu Minseok, jika kau bisa mendapatkan pekerjaan ini, itu akan menjadi hasil yang sangat bagus bagi perusahaan," katanya, melihatku diatas kacamata kulit penyunya.

"Tunggu sampai kau melihat apa yang aku sarankan untuk home theater baru mereka."

"Mereka tidak memiliki home theater."

"Belum, mereka belum punya," kataku, melengkungkan alis dan menyeringai nakal.

"Bagus," dia memuji dan pergi untuk memulai harinya.

Pasangan Nicholson adalah klien yang aku inginkan, demikian juga semua orang. Baekhyun telah melakukan beberapa pekerjaan untuk Natalie Nicholson, berdarah biru dan berkelakuan baik, saat dia melakukan reorganisasi kantornya tahun lalu. Dia menyebutku saat sedang mereka membutuhkan desain interior meja, dan aku segera mulai merencanakan untuk merombak kamar tidur mereka.

Penggedor dinding. Pfffft

.

.

.

"Fantastis, Minseok. Fantastis," puji Natalie saat aku berjalan bersamanya dan suaminya ke pintu depan. Kami telah menghabiskan hampir 2 jam merancang perencanaan, dan selama kami berkompromi di beberapa poin penting, ini akan menjadi proyek yang menarik.

"Jadi, kau pikir kau desainer yang tepat untuk kita?" Tanya Sam, mata coklatnya menggelap sambil menaruh tangannya di pinggang istrinya dan bermain dengan ekor kudanya.

"Kau yang mengatakannya." Godaku, tersenyum pada mereka berdua.

"Aku pikir kami akan senang untuk bekerja denganmu pada proyek ini," kata Natalie saat kami berjabat tangan, aku melakukan tos dengan diriku sendiri secara mental, meskipun wajahku harus kujaga tetap tenang.

"Bagus Sekali. Aku akan menghubungi kalian segera, dan kita bisa mulai membuat sebuah jadwal," Kataku sambil memegang pintu untuk mereka. Aku berdiri di ambang pintu saat aku melambaikan tangan pada mereka, kemudian membiarkan pintu tertutup sendiri. Aku melirik Ashley, resepsionis kami. Dia mengangkat alisnya ke arahku dan aku juga.

"Jadi?" Tanyanya.

"Oh, Ya, aku berhasil menggaet mereka." Aku mendesah dan kami berdua memekik. Jonmyeon turun tangga saat kami berdansa dan dia berhenti.

" Apa yang terjadi di sini?" Tanyanya sambil menyeringai.

"Minseok dipekerjakan oleh Nicholson!" Ashley memekik lagi.

"Bagus." Jonmyeon memberikanku pelukan singkat. "Bangga padamu, Nak," bisiknya dan wajahku bercahaya. Wajahku benar-benar bercahaya.

Aku menari kembali ke kantorku, bergoyang dan berputar mengelilingi jalan menuju meja. Aku duduk, memutar-mutar kursiku dan melihat keluar Teluk.

Permainan yang bagus Minseok, permainan yang bagus

.

.

.

Malam itu ketika aku pergi keluar untuk merayakan keberhasilanku dengan Baekhyun dan Sehun, aku mungkin sudah memyesap lebih banyak margarita. Aku lanjutkan dengan beberapa tequila shot dan aku masih menjillati garam yang sekarang sudah tidak ada dibagian dalam pergelangan tanganku saat mereka mengangkatku menaiki tangga.

"Sehun kau sangat cantik, kau tahu itu, kan?" rayuku, bersandar padanya sambil merangkak menaiki tangga.

"Ya, Minseok, aku cantik. Kesimpulan bagus untuk sesuatu yang sudah jelas," katanya. Tingginya hampir 6 kaki dengan rambut merah menyala, Sehun sangat menyadari penampilannya. Baekhyun tertawa dan aku menoleh padanya.

"Dan kau Baekhyun, kau sahabatku. Dan kau sangat kecil! Aku yakin aku bisa membawamu berkeliling di dalam sakuku." Aku terkikik mencoba menemukan sakuku. Si mungil Baekhyun dari Korea, sama seperti ku dan Sehun. Memilki kulit dengan warna caramel dan rambut paling hitam.

"Kita harusnya menghentikannya setelah guacamole meninggalkan meja," gumam Baekhyun.

"Dia tidak diperbolehkan minum tanpa makan." Dia menyeretku menaiki beberapa tangga terakhir.

"Jangan bicara padaku seolah aku tidak ada di sini," aku mengeluh, melepas jaketku lalu mulai melepas bajuku.

"Ok ayo jangan sampai telanjang di lorong sini, huh?" bentak Sehun, mengambil kunciku dari dompetku dan membuka pintuku. Aku mencoba mencium pipinya dan dia mendorongku.

"baumu seperti tequila dan seorang yang tertekan seksualnya, Minseok. lepaskan aku." Dia tertawa dan membuka pintuku. Ketika kami menuju kamar tidur, aku mengamati Monggu diambang jendela.

" Hei Monggu di sana. Bagaimana kabarmu. big boy?" aku berdendang.

Dia memelototiku dan berjalan cepat ke ruang tamu. Dia tidak setuju dengan konsumsi alkoholku. Aku menjulurkan lidahku padanya. Aku menjatuhkan diriku di tempat tidur dan mengamati gadis-gadisku diambang pintu. Mereka menyeringai padaku dengan cara yang berarti kau-yang-mabuk-dan-kami-tidak-jadi- kami-tidak-suka.

"Jangan berakting berlebihan dan sok, nona- nona, Aku pernah melihatmu lebih mabuk dari pada ini di banyak kesempatan," aku mencatat, celanaku sudah terlepas dari bajuku. Tanya mengapa aku tetap memakai sepatu hak tinggiku, dan aku tidak akan bisa memberitahumu.

Keduanya menarik selimut untukku dan aku merangkak di bawah selimut dan melotot. Mereka menyelipkanku di dalam selimut begitu bagus sehingga yang mencuat hanyalah bola mataku, hidungku dan rambut berantakanku.

"mengapa ruangan berputar? Apa yang kalian lakukan dengan apartemen Jonmyeon? Dia akan membunuhku jika aku mengacaukan rumah sewanya!" "aku menangis, merintih saat aku melihat ruangan bergerak.

"Ruangan ini tidak berputar. Tenanglah." Baekhyun tertawa, duduk disampingku dan menepuk bahuku.

"Suara benturan itu, mengapa ada suara benturan?" bisikku ke ketiak Baekhyun, yang kemudian mengendus dan memuji pilihan deodorannya.

"Minseok, tidak ada Tuhan, kau pasti minum lebih banyak daripada yang kami pikirkan!" seru Sehun, yang ada di ujung tempat tidur.

"Tidak Sehun, aku mendengarnya juga. Kau tidak mendengarnya?" kata Baekhyun dengan suara berbisik. Sehun diam, dan kami bertiga mendengarkan. Ada suara gedebuk yang berbeda, dan kemudian suara erangan yang Jelas.

"Bersiaplah kitten, kau akan menyaksikan aksi Wallbanger, "aku menyatakan.

Mata Sehun dan Baekhyun melebar, tapi mereka tetap tenang. Apakah itu Spanx? Purina? Mengantisipasi apabila itu Purina, Monggu memasuki ruangan dan melompat di tempat tidur. Dia menatap dinding dengan penuh berempat duduk dan menunggu. Aku nyaris tak bisa menggambarkan apa yang kami alami saat ini.

"Oh Tuhan."

Duk

"Oh, Tuhan."

Duk

Baekhyun dan Sehun menatap Monggu dan aku. Kami hanya menggelengkann kepala satu sama lain. Lama kelamaan senyum mengembang di wajah Sehun. Aku masih fokus pada suara yang ada dibalik dinding. Itu berbeda….nadanya lebih pelan, dan yah, aku tidak bisa benar-benar menyatakan apa yang wanita itu katakan. Itu bukan Spanx atau Purina….

"Mmm, Luhan—" lalu terdengar tawa cekikikan " —tepat " cekikikan" —di sana!" cekikikan

Huh?

"Ya,ya— "dengusan "—ya, Sial, sial " cekikikan-hee-hew " —Sial, ya!"

Dia cekikikan. Dia ternyata adalah pengikik cabul.

Kami bertiga terkikik bersamaan berbarengan dengannya saat dia terkikik dan mendengus menuju apa yang terdengar seperti klimaks yang hebat. Monggu menyadari dengan cepat bahwa kekasihnya tidak ada, dan mundur tergesa-gesa ke dapur.

"Apa-apaan ini?" Baekhyun berbisik, matanya selebar pai apel.

"Ini adalah penyiksaan seksualku yang sudah aku dengarkan selama dua malam terakhir."Kau tidak tahu," gerutuku, merasakan efek dari tequila.

"Si Celana Tertawa telah mendapatkan perlakuan seperti ini selama 2 malam terakhir?" Sehun berteriak sambil menutup tangan diatas mulutnya saat terdengar lagi suara erangan tertawa melalui dinding.

"Oh tidak. Malam ini adalah malam pertama aku menyaksikan kenikmatan wanita ini. Malam pertama adalah nona Spanx. Dia adalah wanita nakal dan harus dihukum. Dan Monggu bertemu dengan cinta dalam hidupnya saat Purina mengawali debutnya"

"Kenapa kau memanggilnya Purina?" sela Sehun.

"Karena dia terus mengeong saat si Pria membuatnya klimaks," kataku, bersembunyi di bawah selimut. Buzz-ku mulai hilang, digantikan oleh kurangnya tidur yang kualami sejak pindah ke sarang yang penuh pesta aususila.

Sehun dan Baekhyun mengambil selimut dari wajahku dan saar wanita itu menjerit, "Oh Tuhan itu….itu —"ahahaha " —begitu nikmat!"

"Pria di sebelah bisa membuat seorang wanita mengeong?" Tanya Sehun, mengangkat alis.

"Tampaknya begitu" aku tertawa, merasakan gelombang pusing pertama yang melingkupiku.

"Kenapa dia tertawa? Kenapa seseorang tertawa saat mereka mendapat perlakuan seperti itu?" Tanya Baekhyun.

"Tidak tahu, tapi bagus mengetahui bahwa dia sedang menikmatinya," kata Sehun tertawa sendiri saat mendengar tawa terbahak-bahak keras di sebelah.

"Pernahkah kau melihat pria ini?" Tanya Baekhyun, masih menatap dinding.

"Belum, Lubang pintuku sudah berusaha keras, meskipun begitu."

"Senang mendengar setidaknya ada lubang yang mendapatkan kesenangan di sekitar sini," gumam Sehun. Aku melototinya.

"Anggun sekali Sehun, aku pernah melihat bagian belakang kepalanya, hanya itu," jawabku sambil duduk.

"Wow 3 wanita dalam 3 malam. Itu stamina yang hebat," kata Baekhyun, masih menatap heran dinding itu.

"Stamina yang menjijikan yang benar. Aku bahkan tidak bisa tidur di malam hari! Kasihan dindingku!" keluhku ketika aku mendengar erangan dalam dari pria itu.

"Dindingmu, apa yang dimaksud dengan dindingmu-" Sehun ingin bicara, dan aku angkat tanganku.

"Tunggu sebentar, please," kataku.

Dia mulai beraksi.

Dinding mulai berguncang dengan seritme dengan gedoran dan cekikikan wanita itu lebih keras dan lebih keras. Sehun dan Baekhyun menatap takjub, saat aku hanya bisa menggeleng. Aku bisa mendengar Luhan mengerang dan aku tahu ia semakin mendekat. Tapi suaranya dengan cepat tenggelam oleh suara teman malamnya.

"Oh— "cekikikan "— ya— " cekikikan " —itu—" cekikikan" —jangan— " cekikikan " —berhenti— " cekikikan"— jangan— " cekikikan " —berhenti— " cekikikan" —oh— " cekikikan-dengusan "—Tuhan— " cekikikan- cekikian-dengusan- dengusan "— jangan— " cekikikan " —berhenti!"cekikikan.

Please, please. Tolong berhenti, pikirku.

Suara kikikan dan akhirnya suara tersedak.

Dan dengan satu kikikan terakhir kemudian erangan, keheningan jatuh di sebelah sana...

Sehun dan Baekhyun saling menatap. Dan Sehun berkata "Oh."

"YA." lanjut Baekhyun.

"TUHAN." mereka bicara bersamaan.

"Dan itulah penyebab mengapa aku tidak bisa tidur." desahku.

Sementara kami bertiga pulih dari Pengikik itu, Monggu kembali bermain di sudut dengan bola kapas.

Pengikik, aku pikir aku paling membencimu diantara yang lain…

.

.

.

TBC