sebenernya aku ragu mau lanjutin post ff ini apa nggak. gmnpun juga ini cerita bukan punya aku jadi rasanya kurang nyaman buat post ni ff . hue... galon...

.

.

.

.

MALAM-MALAM BERIKUTNYA menyenangkan dan tenang. Tidak ada dentuman, tamparan pantat, suara mengeong, dan cekikikan. Kuakui Monggu semakin sedih dari waktu ke waktu, tetapi selain itu segala sesuatu di sekitar lingkungan apartemen baik. Aku bertemu dengan beberapa tetanggaku, termasuk Euan dan Antonio yang tinggal di lantai bawah. Aku tidak pernah mendengar atau melihat Luhan sejak semalam dengan si Pengikik dan walaupun aku bersyukur untuk tidur yang sempurna setiap malamnya, aku ingin tahu kemana dia menghilang. Euan dan Antonio dengan senang hati berbagi gossip denganku.

"Sayang, tunggu sampai kau melihat Luhan tercinta kami. Seorang contoh sosok sempurna bagi laki-laki!" seru Euan. Antonio menangkapku di pintu masuk dalam perjalanan pulang dan koktail sudah ada ditanganku dalam hitungan detik.

"Oh iya, dia indah! kalau saja aku beberapa tahun lebih muda," gumam Antonio, mengipasi dirinya saat Euan melongo padanya dari balik gelas cocktail Bloody Mary miliknya.

"jika kau beberapa tahun lebih muda kau akan apa? Yang benar saja. Kau tidak akan pernah sebanding dengan Luhan. Dia adalah filet, sementara itu, hadapilah, cinta-kau dan aku seperti steak murahan."

"Kau akan tahu," Antonio terkekeh, mengisap batang seledrinya.

"Tuan-tuan, tolonglah, ceritakan tentang orang ini," aku mengakui, setelah pertunjukan yang dia hadirkan minggu lalu, kalau aku sedikit tertarik dengan pria di belakang dinding yang berdentum.

Aku akhirnya membuka rahasia dan memberitahu mereka tentang kejenakaan Luhan saat larut malam setelah menyadari jika aku tidak membuka cerita mereka tidak akan membalasnya. Mereka menyimak setiap perkataanku seperti anak gemuk di depan sajian prasmanan. Aku mengatakan kepada mereka tentang wanita-wanita yang bercinta dengannya, dan mereka mengisi kekosongan beberapa misteri Luhan.

Luhan adalah seorang fotografer freelance yang berpergian di seluruh dunia. Mereka menduga ia sedang bertugas, yang menjelaskan kualitas tidurku. Luhan mengerjakan beberap proyek Discovery Channel, The Cousteou Society, National Geographic- semua stasiun penting. Dia memenangkan beberapa penghargaan untuk karyanya dan bahkan menghabiskan beberapa waktu meliput perang Irak beberapa tahun yang lalu.

Dia selalu meninggalkan mobilnya ketika ia bepergian, sebuah Range Rover Discovery hitam tua usang, seperti jenis mobil yang akan kau temukan di semak Afrika. Jenis mobil yang orang kemudikan sebelum menangkap mereka.

Diantara Euan dan Antonio yang katakan kepadaku, mobil, pekerjaan dan rumah internasional orgasme dari sisi lain dinding, aku mulai bisa menyusun sebuah profil pria ini, yang mana belum pernah kulihat. Dan aku akan berbohong kalau aku katakan aku tidak makin penasaran hari demi hari.

Pada suatu sore, setelah mengantar beberapa sampel genteng di rumah keluarga Nicholson, aku memutuskan untuk berjalan pulang. Kabut sudah habis, menyingkap kota dan ini adalah malam yang bagus untuk berjalan-jalan. Saat aku mengitari sudut apartemenku, aku melihat Range Rover tidak ada di tempat biasanya di belakang bangunan. Yang artinya baru keluar dan ada di sekitar sini.

Luhan kembali ke San Fransisco.

.

.

.

.

.

.

Meskipun aku mempersiapkan diri untuk benturan dinding lainnya, kenyataannya beberapa hari berikutnya tidak ada peristiwa menyebalkan tersebut. Aku bekerja, aku berjalan, aku mengurus Monggu. Aku pergi keluar dengan teman-temanku, aku membuat roti zukini yang enak yang lebih baik dengan KitchenAidku yang sekarang, dan aku menghabiskan waktu mencari tempat liburan.

Setiap tahun aku mengambil waktu seminggu untuk berlibur di suatu tempat dan benar- benar sendirian. Di tempat yang menarik dan aku tidak pernah pergi ketempat yang sama kedua kali. Satu tahun kuhabiskan hiking di Yosemite. Satu tahun lainya aku pergi menghilang di hutan hujan kanopi ecolodge di Kostarika. Satu tahun lagi aku menghabiskan seminggu menyelam di lepas pantai Belize.

Dan tahun ini aku tidak yakin dimana aku akan pergi. Pergi ke Eropa sangat mahal dalam perekonomian saat ini, jadi itu bukan pilihan. Aku sedang mempertimbangkan Peru, aku selalu ingin melihat Machu Picchu. Aku punya banyak waktu, tapi bagian yang menyenangkan adalah memutuskan dimana aku ingin menghabiskan waktu liburanku.

Aku juga menghabiskan banyak waktu di lubang intipku. Ya, itu benar. Setiap kali aku mendengar pintu mendekat, aku buru-buru berlari ke pintu. Monggu menatap dengan seringaiannya. Dia tahu persis dengan apa yang kulakukan. Mengapa dia menilaiku, namun aku tidak akan pernah tahu karena telinganya juga naik setiap kali mendengar suara yang datang menaiki tangga. Dia masih merindukan Purinanya.

Aku masih belum benar-benar melihat Luhan. Suatu hari aku berlari ke lubang intip pada waktu aku melihatnya masuk apartemen, tapi aku hanya melihat T-Shirt hitam dan rambut hitam berantakan. Meskipun begitu bisa jadi pirang gelap-sulit untuk dikatakan dalam cahaya lorong yang redup. Aku butuh pencahayaan lebih terang untuk menjadi detektif yang lebih baik.

Suatu saat lainnya aku melihat Rang Rover mendekat dari tepi jalan saat aku sampai di belokan dalam berjalan pulang dari kerja. Dia akan berpapasan denganku! saat aku akan mendapatkan kilasan pertama dirinya, aku benar - benar melihat pria dibalik mitos, aku tersandung dan pantatku jatuh diatas troli di trotoar. Untungnya Euan melihatku dan membantuku, egoku yang terluka, pantat memarku karena beton dan hatiku yang menhianatiku

Tapi semua tetap tenang di malam hari. Aku tahu Luhan di rumah dan aku bisa mendengarnya kadang-kadang, kaki kursi bergerak dilantai, atau suara tawa pelan satu dua kali. Tapi disana tidak ada harem karena tidak ada tembok yang berdentum.

Meskipun begitu, kami tidur bersama hampir setiap malam. Dia memainkan lagu Duke Ellington dan Glenn Miller di sisi dindingnya dan aku berbaring di tempat tidur disisiku mendengarkan tanpa malu-malu. Kakekku dulu suka memainkan piringan hitam tua miliknya pada malam hari dan suara pop dan gemertak jarum pada vynil menenangkan saat aku jatuh tertidur, Monggu meringkuk disisiku. Aku akan mengatakan pada Luhan ini, ia memiliki selera yang bagus dalam musik.

Ketenangan dan kedamaian ini terlalu bagus untuk berlanjut, dan terjadi keributan lagi pada beberapa malam berikutnya.

Pertama aku disuguhi ronde lainnya dari si Spanx. Dia sekali lagi menjadi gadis yang sangat, sangat nakal dan pastinya layak menerima tamparan pantat yang bergema, sebuah tamparan yang berlangsung hampir setengah jam dan berakhir dengan seruan, "itu dia disana, ya Tuhan, ya disana!" Sebelum dinding mulai berdentum.

Aku berbaring terjaga malam itu, memutar mata dan semakin lama semakin frustrasi. Keesokan paginya dari pos di lubang intipku, aku melihat Spanx pergi dan mendapatkan kilasan pertama yang jelas dirinya. Berwajah merah muda dan bercahaya, dia wanita yang sedikit montok dengan pinggul dan paha berlekuk, dan memiliki payudara yang besar. Dia pendek, sangat pendek dan agak gemuk.

Dia harus berjinjit untuk memberi ciuman selamat tinggal ke Luhan dan aku melewatkan melihat wajahnya saat melihat wanita itu berjalan menjauh. Aku kagum pada seleranya terhadap wanita. Dia adalah kebalikan total dari Purina yang tampak seperti model.

Mengantisipasi kedatangan Purina di daftar berikutnya, malam berikutnya aku memberikan Monggu kaus kaki penuh catnip dan semangkuk tuna. Harapanku untuk membuat Monggu kekenyangan dan pingsan sebelum aksi dimulai. Perlakuanku berefek sebaliknya. Kucingku sudah siap untuk berpesta ketika siksaan pertama jeritan Purina yang datang melalui dinding sekitar jam 1.15 pagi. Jika Monggu bisa memakai jaket kecil keren, pasti sudah dilakukannya.

Dia mengintai ruangan, berjalan mondar mandir di depan dinding, berpura-pura santai. Ketika Purina mulai mengeong, dia tidak bisa menahan diri. Dia sekali lagi meluncurkan diri ke dinding. Melompat dari meja ke meja rias di rak, ke bantal dan bahkan lampu untuk lebih dekat dengan kekasihnya. Ketika ia menyadari ia tidak akan pernah bisa membenamkan diri ke dalam plester tembok, ia mendendangkannya raungan aneh versi kucing dari BarryWhite, raungan hebatnya seirama dengan intensitas jeritan Purina.

Ketika dinding mulai bergoyang dan Luhan mulai beraksi, aku kagum mereka bisa mempertahankan kendali mereka dan focus dengan segala keributan yang terjadi. Jelas jika aku bisa mendengar mereka, mereka pasti bisa mendengar Monggu dan semua yang dilakukannya. Apabila aku dimasuki oleh Wallbanger Wondercock (Ereksi Hebat si Penggedor Dinding), aku membayangkan aku mungkin bisa juga memfokuskan diri secara mental ...

Untuk saat ini, sayangnya aku tidak dimasuki apapun dan menjadi marah. Aku lelah, aku terangsang dengan tidak ada pelepasan yang terdekat dan kucingku punya Q-tip mencuat keluar dari mulutnya yang tampak menakutkan seperti rokok kecil.

Setelah tidur malam yang singkat itu, keesokan paginya aku menyeret diri ke lubang intip untuk melakukan ronde Menonton-Harem berikutnya. Aku dihadiahi dengan profil samping singkat Luhan saat ia membungkuk untuk mencium Purina selamat tinggal. Itu cepat tapi itu cukup untuk melihat rahang: kuat, jelas dan bagus. Dia memiliki rahang yang bagus. Hal terbaik tentang hari itu adalah penampakan rahang. Sisa hari itu adalah menyebalkan.

Pertama ada masalah dengan mandor kontraktor di rumah keluarga Nicholson. Tampaknya ia tidak hanya mengambil istirahat makan siang yang sangat lama, dia suka mengisap ganja di loteng keluarga Nicholson setiap hari. Seluruh lantai ketiga berbau seperti konser yang mati.

Kemudian keseluruhan paket ubin untuk lantai kamar mandi yang tiba retak dan terkelupas. Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk memesan ulang dan pengiriman ulang akan menyebabkan keseluruh proyek terhenti setidaknya 2 minggu, sehingga tidak mungkin penyelesaian tepat waktu. Setiap kali konstruksi besar berlangsung, tanggal akhir proyek adalah perkiraan waktu penyelesaian. Namun aku tidak pernah melewatkan tenggat waktu dan ini menjadi pekerjaan yang , membuatku merasa sangat hangat (bukan dalam cara yang baik) untuk menyadari tidak ada yang bisa kulakukan untuk mempercepat penerbangan ke Itali dan membawa sendiri ubin sialan itu.

Setelah makan siang yang cepat dimana aku menumpahkan semua soda di seluruh lantai dan mempermalukan diriku sendiri, Aku kembali menuju pekerjaan dan berhenti di sebuah toko untuk melihat sepatu bot hiking baru. Aku punya rencana baru untuk pergi hiking di Tanjung Marin akhir pekan ini. Saat memilih-milih sepatu, aku merasakan napas hangat di telinga sehingga secara naluriah aku tersentak menjauh.

"Hei Kau" aku mendengar dan aku membeku ketakutan.

Kilas balik membanjiriku dan mataku berkunang-kunang. aku merasa dingin dan panas pada saat bersamaan, dan pengalaman paling mengerikan dalam hidupku langsung terlintas di pikiranku. Aku berbalik dan melihat Cory Weinstein. Si Senapan Mesin keparat yang telah merampok Oku.

"Minseok, menyenangkan sekalai karena aku bertemu dengan mu" rayunya, Menyalurkan gaya batin Tom Jones- nya.

Aku menelan ludah pahitku dan berjuang untuk tetap tenang. "Cory, senang melihatmu. Bagaimana kabarmu?" kataku.

"Tidak ada keluhan. hanya melakukan pemeriksaan keliling restoran untuk orang tuaku. Bagaimana kabarmu? Bagaimana bisnis dekorasi yang kau lakukan?"

"Bisnis desain dan itu berjalan baik. Bahkan aku baru dalam perjalanan kembali kesana, jadi permisi," aku tergagap dan mulai berjalan melewatinya.

"Hei jangan terburu-buru, cantik. Apakah kau sudah makan siang? Aku bisa memberimu diskon pizza hanya beberapa blok jauhnya. Bagaimanan jika 5 % untukmu?" katanya. Jika mungkin untuk sebuah suara terdengar lebih angkuh, dia baru saja melakukannya.

"Wow, 5 %. Walaupun tawaran itu menggiurkan, tapi aku akan menolaknya." Aku tertawa gugup.

"Jadi Minseok kapan kita bisa bertemu lagi? Malam itu…sialan. Itu cukup hebat, kan?" dia mengedipkan mata, dan kulitku memohon padaku untuk merobekkan diri dari tubuhku dan melemparkan itu padanya.

"Tidak, tidak Cory. Tidak akan lagi," aku berseru, kemarahanku naik lagi. Kilasan-kilasan masuk dan keluar, dan masuk dan keluar. Vaginaku menjerit mempertahankan diri. Kuakui, walaupun kami berdua tidak dalam hubungan yang sedang baik, tapi paling tidak aku tahu betapa takutnya dia pada si Senapan Mesin. Tidak dalam pengawasanku.

"Oh, ayolah sayang. Mari kita membuat beberapa keajaiban." Rayunya. Ia membungkuk dan aku tahu dia baru saja makan sosis.

"Cory kau harus tahu aku akan muntah di sepatumu, jadi aku akan mundur jika aku jadi kau." Dia pucat dan melangkah mundur. "Dan sebagai catatan, aku lebih suka membenturkan kepalaku ke dinding dari pada membuat keajaiban denganmu lagi. Kau dan aku dan diskon 5 % mu? Tidak akan terjadi. Bye bye," kataku dengan gigi terkatup dan berjalan keluar dari toko.

Aku menginjakkan kaki kembali bekerja, marah dan sendirian. Tidak ada ubin-ubin Italia, tidak ada sepatu hiking, tidak ada pria dan tidak ada O. Aku menghabiskan malam di atas sofa merasa tidak bahagia. Aku tidak menjawab telepon. Aku tidak membuat makan malam. Aku makan sisa makanan cepat saji Thailand dari wadahnya dan menggeram pada ke Monggu ketika ia mencoba menyelinapkan sepotong udang. Dia kabur kesudut dan memelototiku dengan marah dari bawah kursi.

Aku menonton Barefoot Contessa yang biasanya memberikanku semangat. Malam ini dia membuat sup bawang Prancis dan membawanya ke pantai untuk makan siang dengan suaminya, Jeffrey. Biasanya menonton mereka berdua membuatku hangat dan syahdu. Mereka begitu manis. Malam ini mereka membuatku mual. Aku ingin duduk di pantai South Hampton, terbungkus selimut dan makan sup dengan Jeffrey. Yah, bukan Jeffrey persisnya tapi setara dengan Jeffrey. Jeffreyku sendiri.

Jeffrey sialan. Barefoot Contessa sialan. Makan makanan cepat saji sisa kesepian sialan.

Ketika malam cukup larut sehingga aku bisa beralasan untuk pergi ke tempat tidur dan menempatkan hari yang mengerikan dibelakangku, aku menyeret karung kesedihan yaitu diriku kembali ke kamarku. Aku pergi untuk mencari piyama dan menyadari aku belum mencuci baju sama sekali. Sialan. Aku menggali laci piyamaku, mengacaknya dan mencari sesuatu, apa saja. Aku punya beberapa gaun tidur seksi, hari dimana O dan aku masih bersama.

Aku menggerutu dan mengomel dan akhirnya mengeluarkan gaun tidur baby doll pink. Gaun berenda dan manis, sementara dulu aku suka tidur dengan lingerie yang cantik, saat ini aku membencinya. Itu adalah bukti fisik pengingat O-ku yang hilang. Meskipun sudah cukup lama sejak aku berusaha untuk menghubunginya. Mungkin malam ini akan menjadi malam itu. Aku memang tegang. Tidak ada orang yang butuh pelepasan lebih daripada aku. Aku menyuruh Monggu keluar dan menutup pintu. Tidak ada yang perlu melihat ini.

Aku menghidupkan beberapa lagu INXS, karena malam ini aku membutuhkan semua bantuan yang aku bisa dapatkan. Michael Hutchence selalu membuatku dekat. Aku naik ke tempat tidur, mengatur bantal dibelakangku dan menyelinap diantara selimut. Dalam gaun tidur mungil, kaki telanjangku menyelip di sepanjang katun yang dingin. Tidak ada perasaan yang menyamai kaki yang baru saja dicukur pada pada selimut rajutan benang berkualitas tinggi. Mungkin ini memang adalah ide yang baik. Aku memejamkan mata dan mencoba untuk memperlambat pernapasanku. Beberapa kali terakhir aku mencoba untuk mencari O, aku begitu benar-benat frustasi sehingga pada akhirnya aku hampir menangis.

Malam ini aku mulai dengan mengumpulkan fantasi yang biasa. Aku mulai dengan sedikit Catalano, memungkinkan tanganku untuk menyelinap di bagian bawah gaun tidurku dan naik ke payudaraku. Ketika aku memikirkan Jordan Catalano/Jared Leto mencium Angela Chase/Claire Danes di lantai dasar sekolah, aku membayangkan itu adalah aku. Aku merasakan ciumannya tebal dan berat di bibirku dan sentuhan itu menjadi tangannya ketika bergeser menuju putingku. Saat jariku/ jari Jordan mulai memijat, aku merasakan tarikan yang akrab itu di perutku, semakin hangat diseluruh tubuh.

Dengan mataku masih tertutup, imajinasi berubah menjadi Jason Bourne/Matt Damon menyerang kulitku. Dengan kami berdua kabur dari pemerintah, hanya koneksi fisik yang menjaga kami untuk tetap hidup. Jariku/jari Jason menyusuri ringan menuruni perutku, meluncur didalam celana dalam serasiku. Aku bisa merasakan ini bekerja. Sentuhanku membangunkan sesuatu, menggerakkan sesuatu di dalam. Aku terkesiap ketika aku merasakan betapa siapnya aku untuk Jason dan Jordan.

Tuhan. Memikirkan mereka berdua bersama- sama bekerja untuk mebawa kembali O membuatku benar-benar berkedut. Aku mengerang dan mulai untuk sajian utama. Aku membayangkan Clooney. Kilatan Clooney datang kepadaku saat jemariku membelai dan berputar, melingkar dan mengejek. Danny Ocean….George dari Fact Of Life…. Dan kemudian, aku mulai beraksi.

Dr Ross. Musim ketiga ER, setelah potongan rambut Caesar diperbaiki. Mmmmm…. Aku merintih dan mengerang. Ini berhasil. Aku benar-benar dapat terangsang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, otakku dan sisa diriku tampak selaras. Aku berguling ke sampingku, tangan diantara kedua kakiku saat aku melihat berlutut di depanku. Dia menjilati bibirnya dan bertanya kapan terakhir kali ada orang yang membuatku berteriak.

Kau tak tahu bagaimana senangnya aku saat ini. Buatlah aku menjerit. .

Di balik mata yang tertutup rapat, aku melihat dia bersandar ke arahku, mulutnya semakin dekat dan dekat. Dia dengan lembut menekan lututku agar terbuka, menempatkan ciuman di dalam masing-masing paha. Aku benar-benar bisa merasakan napasnya di kakiku, yang membuatku menggigil. Mulutnya terbuka dan lidah Clooney yang sempurna itu keluar untuk mencicipiku.

Duk.

"Oh, Tuhan."

Duk Duk.

"Oh, God."

Tidak. Tidak. Tidak!

"Luhan …mmm —" . dan suara cekikikan sialan itu muncul

Aku tidak percaya ini. Bahkan Dr. Ross tampak bingung.

"Begitu —" cekikikan "— sialan —" cekikikan "— nikmat…hahahaha!"

Aku mengerang saat aku merasakan Dr. Ross meninggalkanku. Aku basah, aku frustrasi dan sekarang Clooney pikir seseorang sedang menertawakannya. Dia mulai mundur….

Tidak, jangan tinggalkan aku, Dr. Ross. Jangan kau!

"Disitu!Disitu! Oh…oh…hahahahaha!"

Dinding mulai bergetar dan dentuman tempat tidur di mulai.

Sudah cukup, Pengikik jalang, rasakan ini….

Aku segera bangkit berdiri, Catalano dan Bourne dan Clooney yang kucintai memudar dalam gumpalan testosteron sarat asap. Aku melemparkan selimut, menarik gagang pintu dan berjalan keluar dengan marah dari kamar tidurku. Monggu mengulurkan kaki dan mulai menyalahkanku karena mengurungnya tapi ketika dia melihat wajahku, dengan bijaksana dia membiarkanku lewat.

Aku menghentakkan kaki menuju ke pintu depanku, kakiku berdentuman di lantai kayu. Aku marah. aku sangat marah. Aku sudah begitu dekat. Aku membuka pintu depanku dengan kekuatan seribu O yang marah, pelepasan yang ditahan selama berabad-abad. aku mulai menggedor pintu Luhan. Aku menggedor dengan keras dan lama, seperti Clooney yang sedang akan menghentakku. Aku menggedor lagi dan lagi, tidak pernah berhenti, tidak pernah menyerah.

Aku bisa mendengar langkah kaki berjalan menuju pintu, tapi aku masih tidak menyerah. Frustrasi dari hari dan minggu dan bulan- bulan tanpa O melepaskan dirinya dalam sebuah tirade yang tidak seorangpun pernah melihatnya sebelumnya. Aku mendengar gemeretak kunci dan rantai diturunkan, tapi aku masih terus menggedor.

Aku mulai berteriak. "buka pintu ini, kau bajingan atau aku akan datang melalui dinding!"

"Tenanglah dan hentikan gedoran itu, "aku mendengar Luhan berkata dari dalam.

Kemudian pintu terbuka dan aku menatap. Disanalah dia. Luhan.

Siluet cahaya lembut dari belakang, Luhan berdiri dengan satu tangan menggenggam pintu dan tangannya memegang selembar kain putih di sekitar pinggulnya. Aku melihat dari atas ke bawah, tanganku masih menggantung diudara, mengepalkan tinju. Tanganku berdenyut, aku sudah menggedor begitu keras.

Dia memiliki rambut yang hitam legam yang berdiri tegak, mungkin dari tangan si Pengikik yang terkubur didalamnya saat ia memasuki dirinya. Matanya hitam tajam dan tulang pipi sama kuat seperti rahang. Pelengkapnya? Bibirnya bengkak karena ciuman dan apa yang tampak seperti bakal janggut tiga hari (jangan bayangin plis… untuk yg atu ini aku ketawa bayangin luhan punya bakal janggut).

Ya Tuhan, disana ada bakal janggut. Bagaimana bisa aku melewatkan itu pagi ini? Aku menatap ke bawah pada tubuh tinggi rampingnya. Berkulit coklat, tapi bukan coklat buatan, coklat karena lingkungan luar, coklat karena cuaca, coklat yang jantan. Dadanya naik turun saat ia terengah engah, kulitnya dilapisi kemilau tipis keringat dari sex. Saat mataku turun lebih lanjut aku melihat segelintir rambut hitam rendah di torsonya, yang mengarah ke bawah handuk. Dibawah Six pack. Di bawah V yang beberapa pria yang memilikinya, dan yang mana pada dirinya tidak tampak aneh atau hasil pahatan alat olah raga Bow Flexed.

Dia menakjubkan. Tentu saja dia menakjubkan. Dan mengapa harus ada bakal janggut?

Aku tersentak saat pandanganku turun lebih rendah daripada yang kumaksudkan. Tapi mataku tertarik seolah olah ada magnet, lebih rendah dan lebih rendah. Di bawah handuk yang sudah lebih rendah dipinggul daripada yang seharusnya.

Dia

Masih

Keras

.

.

.

Tbc

.

.

.

Buahahhaha… ngakak pas bagian dia masih kerasnya. Aku gak mau bayangin luhan punya bakal janggut n harap memaklumi bagian six packnya. Aku belum intip-intip perut om luhan yg sekarang. Udah ada roti sobek apa tahu sumedangnya blm ya.?