.
.
.
.
.
setelah aku pikir-pikir lagi ni ff bakal tetep aku lanjutin n bakal langsung aku apus kalau udah end. gitu lebih aman. kalau penasaran n mau download novelnya juga ada kok pdfnya. search aja judul novel ama pengarangnya
uh.. luhan emang punya abs sih.. tapikn masih samar2 makanya aku mesem-mesem aja bayangin luhan punya abs sempurna. terus... terus.. iya sih luhan emang pernah keliatan bekas cukurannya n bahkan baru-baru ini aku juga liat pict dia dengan kumis. tapi.. uh... aneh aja rasanya luhan berkumis n berjenggot.
untuk yg nanya brother conflict kpn lanjut sabar ya, lagi dalam pengetikan dan moodnya suka ilang mendadak. apa lagi aku ubah jalan ceritanya biargak sama ama animenya.
udah ah itu aca cuap-cuap basinya
.
.
.
.
"Ya Tuhan."
"Ya Tuhan."
Aku terangkat ke atas tempat tidur dengan kekuatan dorongannya. Dia menghujam padaku dengan kekuatan yang gigih, memberi apa yang bisa kuambil, kemudian memaksaku melewati batasan. Dia menatapku, tajam, sekilas memberikan seringainya. Aku memejamkan mata membiarkan diriku merasakan seberapa jauh aku terpengaruh. Dan dengan dalam, maksudku dalam…
Dia menggenggam kedua tanganku dan membawanya ke atas kepalaku pada kepala ranjang.
"Kau harus berpegangan kuat untuk ini," bisiknya dan melemparkan salah satu kakiku diatas bahunya saat ia mengubah irama pinggulnya.
"Luhan!" aku menjerit, merasakan tubuhku mulai kejang. Matanya, mata hitam sialan itu, menggali ke dalam mataku saat aku bergetar di sekelilingnya.
"Mmm, Luhan!" aku menjerit lagi. Dan segera bangun dengan lengan di atas kepalaku, tangan menggenggam erat kepala ranjang.
Aku memejamkan mata sejenak dan memaksa jariku untuk melepaskan genggamannya. Ketika aku melihat lagi aku bisa melihat lekukan di tanganku dari mencengkeram yang begitu erat.
Aku berusaha keras untuk duduk. Aku tertutupi keringat dan terengah-engah. Benar-benar terengah-engah. aku menemukan selimut bergulung di kaki tempat tidur dengan Monggu terkubur di bawahnya, hanya hidungnya yang mengintip keluar.
"Oh, Monggu, apa kau bersembunyi?"
"Meow," terdengar jawaban marah dan sebuah wajah kecil muncul mengikuti hidung kucing.
"Kau bisa keluar, kucing konyol. Mommy sudah selesai menjerit. Kupikir." aku tertawa, sambil menyisir rambut basahku.
Sejak malam Luhan dan aku "bertemu" di lorong, aku tidak bisa berhenti bermimpi tentangnya. Aku tidak ingin, benar-benar tidak mau tapi pikiran bawah sadarku telah mengambil alih dan memiliki caranya sendiri. Secara nocturnal, tubuh dan otakku terpisah pada saat ini : otak lebih tahu, LM tidak begitu yakin…
Monggu mendorong melewatiku dan berlari ke dapur untuk melakukan tarian kecil di samping mangkuknya.
Aku berkeringat dengan sangat menarik melalui piyamaku, jadi aku bangun untuk berdiri di depan lubang AC, mendinginkan diri dan mulai merasa tenang. "itu sangat dekat, ya, O?" aku meringis, menekan kakiku bersama-sama dan merasakan nyeri yang tidak nyaman di antara pahaku.
"Yah, yah, yah tenang," suaraku serak saat Monggu menggesekkan dirinya masuk dan keluar dari pergelangan kakiku. Aku menuang sesekop kibble (merk makanan kucing) di mangkuknya dan membuat kopi. Aku duduk di meja dapur dan mencoba menenangkan diri. Aku masih agak terengah.
Mimpi itu…well, sangat intens. Aku memikirkannya lagi saat tubuhnya berada di atasku, sebutir keringat meluncur dari hidungnya dan jatuh di dadaku. Dia menurunkan tubuhnya dan menyeret lidahnya ke atas perutku, menuju payudaraku dan kemudian…
Ping! Ping!
Mr. Coffe (merk mesin pembuat kopi otomatis) menyadarkan aku dari pikiran nakalku, dan aku bersyukur. Aku bisa merasakan diriku mulai terangsang kembali. Apakah ini akan menjadi masalah?
Aku menuangkan secangkir kopi, mengupas pisang dan melihat keluar jendela. Aku mengabaikan keinginanku untuk memijat pisang dan menghujamkannya ke mulutku. Ya Tuhan, gerakan menghujam itu! Sensasi ini menuju ke selatan dengan cepat. Dan yang ku maksud selatan…
Aku menampar wajahku dan memaksa pikiranku untuk memikirkan sesuatu selain laki-laki pelacur yang aku berbagi dinding dengannya. Hal konyol. Hal berbahaya.
Puppy dogs (anak anjing)…doggy style (gaya bercinta)
Es krim cone.. menjilati cone Luhan dan dua skop es krim
Permainan anak-anak… sialan, apakah aku ingin melakukan apapun yang Luhan minta… oke, cukup! Sekarang aku bahkan tak mau mencoba.
Sambil mandi aku bernyanyi "The Star Spangled Banner" (lagu kebangsaan Amerika Serikat) lagi dan lagi untuk menjaga tanganku dari melakukan apapun selain membersihkan tubuhku. Aku harus mengingat apa yang si brengsek itu lakukan, bukan bagaimana dia terlihat dengan hanya berbalut sprei dan sebuah seringai. Aku memejamkan mata dan bersandar ke semprotan air, mengingat malam itu lagi. Begitu aku berhenti menatap miliknya, well, di bawah seprai, aku membuka mulut untuk berbicara:
"Sekarang dengar, Tuan, apakah kau tahu bagaimana berisiknya kau? Aku butuh tidurku! Jika aku harus mendengarkan semalam lagi, satu lagi, bahkan, kau dan selirmu sedang menggedor dindingku, aku akan menjadi gila!" Aku berteriak untuk melepaskan ketegangan yang akan aku miliki, dapat, seharusnya sudah dilepaskan dengan cara yang sangat Clooney.
"Tenanglah. Tidak mungkin seburuk itu. Dinding ini cukup tebal." dia menyeringai, memukulkan tinjunya ke kusen pintu dan mencoba untuk melepaskan sedikit pesona. Dia jelas menggunakannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dengan otot perut seperti itu, aku bisa melihat mengapa.
Aku menggeleng untuk tetap fokus, "Apakah kau gila? Dinding ini tidak setebal otakmu. Aku bisa mendengar semuanya! Setiap tamparan, ngeongan, setiap kikikan, dan aku mengetahuinya! Omong kosong ini berakhir sekarang!" jeritku, wajahku terasa terbakar karena marah. Aku bahkan menggunakan tanda kutipan untuk menekankan tamparan, meong dan kikikan. Ketika aku berbicara tentang selirnya, ia mulai mengalihkan pesonanya menjadi tersinggung.
"Hei, itu sudah cukup!" balasnya. "Apa yang kulakukan di rumahku adalah urusanku. Maaf kalau aku mengganggumu, tetapi kau tidak bisa datang kesini di tengah malam dan mendikte apa yang bisa dan tidak bisa kulakukan! Kau tak melihatku mendatangi kamarmu dan menggedor pintumu."
"Tidak, kau hanya menggedor dinding sialanku. Kita berbagi dinding kamar tidur, kau tepat di balik dindingku ketika aku mencoba untuk tidur. Milikilah sedikit sopan santun."
"Well, bagaimana kau bisa mendengarku dan aku tidak bisa mendengarmu? Tunggu, tunggu tidak ada yang membenturkan dindingmu, ya?" Dia menyeringai dan aku merasakan pelan-pelan warna menghilang dari wajahku. Aku menyilangkan tangan erat-erat di dada, dan saat aku melihat ke bawah, aku ingat apa yang kupakai.
Gaun tidur pink. Cara tepat untuk menanamkan kepercayaan diri.
Saat aku kesal, mata Luhan melayang ke bawah tubuhku, tanpa malu-malu mengamati gaun tidur pink dan rendanya dan pinggulku bergoyang saat aku menghentakkan kakiku. Matanya akhirnya kembali ke atas, dan bertemu dengan tatapanku, tanpa ragu-ragu. Kemudian dengan binar yang ada di mata hitamnya, ia mengedipkan matanya padaku.
Aku langsung marah. "ohhhhh!" Aku menjerit dan masuk lalu membanting pintu apartemenku.
Sekarang aku malu, aku membiarkan air mencuci rasa frustasiku. Aku tidak melihatnya sejak itu, tapi bagaimana jika aku bertemu dengannya? Aku membenturkan kepalaku ke dinding kamar mandi.
Ketika aku membuka pintu depan 45 menit kemudian, aku mengucapkan selamat tinggal ke Monggu dari balik bahuku dan berdoa dalam hati bahwa tidak ada wanita selir yang lain lagi di lorong. Semua aman.
Aku mengenakan kaca mata hitamku pada saat aku berjalan keluar pintu bangunan apartemen, nyaris tidak memperhatikan sebuah Range Rover.
.
.
.
Sore itu Jonmyeon melongok kedalam kantorku.
"Tok, tok," katanya, tersenyum.
"Hei! Ada apa?" aku bersandar di kursi.
"Tanyakan padaku tentang rumah di Sausalito."
"Hei Jonmyeon, bagaimana rumah di Sausalito?" tanyaku sambil memutar bola mataku.
"Beres," bisiknya dan melemparkan tangan ke udara.
"Yang benar!" bisikku kembali.
"Sepenuhnya sudah terselesaikan, benar-benar beres!" dia menjerit dan duduk di depanku. Aku menawarkan tinju kecil dari seberang meja
"Sekarang itu adalah kabar baik. Kita harus merayakannya." Aku merogoh sebuah laci.
"Minseok jika kau mengeluarkan sebotol scotch aku harus berkonsultasi dengan bagian personalia," ia memperingatkan, sambil menyeringai.
"Pertama-tama, kau adalah bagian personalia. Dan kedua, seperti aku akan menyimpan minuman scotch di kantorku saja! Kenyataannya botol itu terikat di pahaku." Aku terkekeh, mengeluarkan sebuah Blow Pop (merk permen lolipop).
"Bagus. Bahkan rasa semangka, favoritku," katanya saat kami membuka bungkusnya dan mulai menghisap.
"Jadi, ceritakan semua tentang hal itu," pintaku.
Aku sudah berkonsultasi sedikit dengan Jonmyeon saat ia memilih sentuhan akhir di rumah yang ia dan Lay telah renovasi, dan aku tahu itu salah satu jenis rumah impianku selama bertahun-tahun. Seperti Jonmyeon, rumah itu akan hangat, mengundang, elegan, dan penuh dengan cahaya. Kita mengobrol beberapa saat, dan kemudian dia membiarkan aku kembali bekerja.
"Ngomong-ngomong, pesta pindah rumah diadakan akhir pekan depan. Kau dan tim ceriamu diundang," katanya dalam perjalanan keluar pintu.
"Apakah kau baru mengatakan tim ceria?" tanyaku.
"Mungkin saja. Kau akan datang?"
"Kedengarannya bagus. Bisakah kami membawa sesuatu, dan dapatkah kami menatap tunanganmu?"
"Jangan kau berani, dan aku tidak mengharapkannya," dia membalas.
Aku tersenyum saat kembali bekerja. Pesta di Sausalito? Terdengar menjanjikan.
.
.
.
"Kau tidak serius naksir dia, kan? Maksudku berapa banyak mimpi yang pernah kau miliki tentangnya?" Tanya Baekhyun, sambil mengisap sedotannya.
"Naksir? Tidak, dia seorang bajingan! Kenapa aku mau—"
"Tentu saja Minseok tidak naksir dia. Siapa yang tahu penisnya sudah pernah kemana saja? Minseok tidak akan pernah mau," Sehun menjawabnya untukku, sambil melemparkan rambutnya ke bahu dan membuat terpesona para pria pebisnis di meja seberang yang dari tadi menatap takjub sejak Sehun berjalan masuk. Kami bertemu untuk makan siang di bistro kecil favorit kami di pantai utara. Baekhyun duduk kembali ke kursinya dan terkikik, menendangku di bawah meja.
"Minggirlah, tukang gossip." Aku menatap tajam ke arahnya, mukaku memerah dengan cepat.
"Yeah, minggirlah pipsqueak! Minseok tahu lebih baik daripada…" Sehun tertawa kemudian terdiam, akhirnya melepas kacamata hitamnya dan mengalihkan tatapannya padaku.
Sang pemain cello dan tukang gossip itu memperhatikan aku yang gelisah. Salah satunya tersenyum dan lainnya mengumpat.
"Oh Ya Ampun, Minseok jangan bilang kau naksir pada orang itu? Oh tidak, kau memang menyukainya, kan?" Sehun mendengus, saat seorang pelayan pria meletakkan sebotol Pellegrino. Pelayan itu menatapnya saat jari-jari Sehun memainkan rambutnya dan Sehun melambaikan tangan menyuruhnya pergi dengan sebuah kedipan mata hati-hati. Dia tahu bagaimana cara pria memandangnya, dan menyenangkan untuk melihat ia membuat mereka menggeliat.
Baekhyun berbeda. Dia begitu kecil dan lucu awalnya pria tertarik oleh pesona bawaannya. Kemudian mereka benar-benar melihat dan menyadari bahwa dia manis. Ada sesuatu tentangnya yang membuatnya laki-laki ingin merawat dan melindunginya, sampai mereka membawanya ke kamar tidur. Atau yang pernah aku dengar. Benar-benar bisa menjadi sesuatu yang gila
Aku telah diberitahu bahwa aku cantik, dan kadang-kadang aku mempercayainya. Di hari yang menyenangkan aku tahu aku bisa mengusahakannya. Aku tidak pernah merasa seseksi Sehun atau semenarik Baekhyun, tapi aku cukup bisa merawat diri. Aku tahu ketika kami bertiga keluar kami dapat benar-benar diperhatikan oleh para lelaki, dan hingga saat ini kami menggunakannya untuk keuntungan kami.
Kami masing-masing memiliki tipe yang sangat berbeda, yang mana adalah bagus. Kami jarang menyukai lelaki yang sama.
Sehun sangat spesifik. Dia menyukai prianya tinggi, ramping dan tampan. Ia suka yang tidak terlalu tinggi tapi lebih tinggi daripadanya. Ia menginginkan pria yang sopan dan cerdas dan sebaiknya memiliki rambut pirang. Itu adalah kelemahannya. Ia juga seorang yang mudah terayu dengan seseorang yang mempunyai aksen selatan. Serius, jika seorang pria memanggilnya "sugar" ia langsung basah. Aku pernah mengalami langsung ini karena aku menganggu dia di suatu malam ketika dia sangat mabuk menggunakan aksen Oklahoma terbaikku. Aku harus menghindarinya di sisa malam itu. Ia mengklaim itu adalah masa kuliah, dan ia ingin mengadakan percobaan.
Baekhyun, di sisi lain juga spesifik, tetapi tidak dengan tampilan tertentu. Ia menyukai segala ukuran. Ia menyukai pria yang besar, tinggi dan kuat. Ia amat suka saat mereka harus mengangkatnya untuk menciumnya atau menaikkannya di bangku kecil sehingga mereka tidak mendapatkan kram leher. Ia menyukai prianya punya sedikit sisi kasar (dalam artian baik) dan membenci rendah diri. Karena ia mungil ia memiliki kecenderungan untuk menarik lelaki dengan tipe yang suka melindungi. Tapi ia telah berlatih karate sejak ia masih kecil dan ia tidak membutuhkan perlindungan siapapun. Ia adalah seorang jagoan dalam balutan rok.
Aku lebih sulit untuk dijabarkan, tapi aku mengenalnya ketika aku melihatnya. Seperti dalam Supreme Court (pengadilan agung) dan pornografi, aku menyadarinya. Aku cenderung mengarah ke orang yang suka kegiatan luar ruangan-penjaga pantai, penyelam, pemanjat tebing. Aku menyukai mereka berpotongan rambut yang rapi, tapi sedikit berantakan, sopan dengan sedikit sentuhan nakal dan punya uang yang cukup sehingga aku tidak harus berperan sebagai ibu.
Aku telah menghabiskan musim panas denganpeselancar sangat-begitu-seksi yang bahkan tidak mampu membeli selai-kacangnya sendiri. Bahkan orgasme-sepanjang-waktu Micah tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri ketika aku menemukan ia telah menggunakan kartu kredit AmEx-ku (American Express) untuk membayar lilin seksnya. Dan tagihan telepon selularnya. Dan perjalannannya ke Fiji yang bahkan aku tidak diundang.
Menyingkir, sufer boy, Menyingkir.
Aku bisa saja mengajaknya bercinta sekali di jalan sebelum ia pergi. Ahh, hari-hari sebelum O pergi. Orgasme-sepanjang-waktu. Hah…. Aku mendesah memikirkannya
"Jadi, tunggu dulu, apakah kau melihatnya lagi sejak pertemuan di lorong?" Tanya Sehun setelah kami memesan dan aku kembali dari kenangan surferku.
"Tidak." aku mengerang. Baekhyun menepuk-nepuk lenganku menenangkan.
"Dia manis, bukan?"
"Sialnya—iya! Terlalu manis untuk kebaikannya sendiri. Dia benar-benar seorang bajingan!" Aku menggebrak meja dengan tanganku begitu keras membuat peralatan makan perak memantul. Sehun dan Baekhyun saling pandang, dan aku menunjukkan jari tengahku pada mereka.
"Dan kemudian pagi itu dia di lorong dengan Purina, sedang menciumnya! Itu seperti kota orgasme sinting yang kacau ada disana dan aku tidak ingin jadi bagian dari itu!" Kataku, mengunyah marah seladaku setelah memberitahu mereka cerita ini untuk ketiga kalinya.
"Aku tidak percaya Jeonmyeon tidak memperingatkanmu tentang orang ini," Sehun merenung, mendorong crouton (sejenis roti bawang) di sekeliling piringnya. Ia pada kondisi tidak-makan-roti lagi, khawatir pada kelebihan lima pound (± 2.5 kg) yang dia akui sudah hilang sejak tahun lalu. Sebenarnya itu tidak benar, tapi tidak ada gunanya berdebat dengan Sehun saat dia menetapkan pikiran pada sesuatu.
"Tidak, tidak, dia bilang dia tidak kenal orang ini," aku melaporkan. "Luhan pasti pindah saat terakhir kali Jonmyeon berada di sana. Maksudku, Jonmyeon hampir tidak pernah tinggal di tempat itu. Mereka hanya mempertahankannya sehingga mereka selalu punya tempat untuk tinggal di kota. Menurut para tetangga, Luhan tinggal di gedung ini baru setahunan lebih. Dan ia melakukan perjalanan sepanjang waktu." Saat aku berbicara, aku menyadari aku sudah mengumpulkan cukup dokumen tentang orang ini.
"Jadi apakah dia sudah menggedor-gedor dinding sepanjang minggu ini?" tanya Sehun.
"Relatif tenang sebenarnya. Entah dia benar- benar mendengarkanku dan menjadi tetangga yang baik, atau penisnya akhirnya patah di dalam salah satu dari mereka dan sedang mendapatkan perawatan medis," kataku, sedikit terlalu keras. Meja seberang para, pebisnis pasti telah mendengarkan cukup dekat karena mereka semua tersedak sedikit dan menggeliat di kursi mereka, mungkin menyilangkan kaki mereka dan tanpa disadari bersimpati. Kami cekikikan dan melanjutkan makan siang kami.
"Berbicara tentang Jonmyeon, kalian diundang ke rumah di Sausalito pekan depan untuk pesta pindah rumah mereka," aku memberitahu mereka.
Mereka berdua segera mengipasi diri mereka sendiri. Lay adalah salah satu pria yang kami sepakati bersama. Setiap kali kami memberikan Jonmyeon minuman yang cukup keras, kami akan mengakui naksir pada Lay dan membuat dia menceritakan kisah-kisah tentang dia. Jika kami beruntung dan berhasil memberikan martini esktra keras untuk Jonmyeon…well, katakan saja menyenangkan mengetahui seks tetap layak dilakukan bahkan setelah priamu sudah empat puluhan. Salah satu tentang Lay dan Tonga Room di Fairmont hotel? Wow. Dia seorang wanita yang beruntung.
"Itu akan menyenangkan. Mengapa kita tidak datang dan bersiap-siap di tempatmu, seperti dulu?" Baekhyun menjerit, Sehun dan aku menutup telinga.
"Ya, ya itu bagus, tapi jangan memekik atau kami akan meninggalkanmu di sini dengan tagihan," Sehun mengomel saat Baekhyun duduk kembali ke kursi matanya berbinar. Setelah makan siang Baekhyun berjalan menuju janji berikutnya di persimpangan. Sehun dan aku berbagi taksi.
"Jadi mimpi nakal tentang tetanggamu. Ayo kita dengar," mulainya, menjadi kesenangan bagi sopir taksi kami.
"Mata ke jalan, sir," aku mengarahkan, aku menangkapnya memperhatikan kami di kaca spion belakang.
Aku membiarkan pikiranku melayang ke mimpi yang datang setiap malam selama seminggu terakhir. Aku, di sisi lain bukanlah-penyebab bertambahnya rasa frustasi seksualku ke titik kritis. Ketika aku bisa mengabaikan O, aku baik-baik saja. Sekarang aku disuguhi mimpi tentang Luhan setiap malam, O semakin terlihat. Monggu sekarang tidur di atas lemari, aman dari kakiku yang menendang-nendang, kau paham kan.
"Mimpi-mimpi itu? Mimpi itu menyenangkan tapi dia seorang bajingan!" seruku sambil meninju tanganku ke pintu.
"Aku tahu. Itulah yang selalu kau katakan," tambahnya, menatapku dengan hati-hati.
"Apa? Apa arti pandangan itu?"
"Tidak ada. Hanya melihatmu. Kau benar- benar berusaha sangat keras pada seseorang yang brengsek," katanya.
"Aku tahu." aku mendesah memandang keluar jendela.
.
.
.
TBC
