.
.
.
.
ngoceh baunya mah makasih buat yg udah review ni ff terus buat sider.. aduh mbk.. mas.. cing.. pung atau apalah itu... hobi banget jadi sider. yg follow ama favnya sih lumayan ya. yg komen ampun cuma 5-6 org. miris gw... #pukpuk minseok
ya udah lah.. saya maklum saja dengan yang jadi sider mah ya... ^^
terus kenapa kita lebih suka baca yang versi Lumin-Xiuhannya mah kalau menurut aku sih murni karena kita udah tau mereka siapa jadi rada gampang bayanginnya. iya gak sih..? apa cuma menurut aku aja ^^
met baca aja lah ye...
.
.
.
.
"Kau menyodokku."
"Aku tidak menyodokmu."
"Serius, apa sih yang ada di sakumu, Baek? apakah kau punya penis?" Seru Sehun, meyentakkan kepalanya menjauh saat Baekhyun menekan alat pengeriting di rambutnya.
Aku tersenyum dari tempatku tidur, mengikat tali di sandalku. Aku sudah memasang penggulung rambut sendiri sebelum para gadis sampai di sini, jadi aku sudah terhindar dari perawatan penuh Baekhyun. Baekhyun membayangkan dirinya semacam anak yang putus sekolah dari sekolah kecantikan, dan jika dia juga bisa membuka toko di kamarnya, dia juga sudah memikirkannya secara serius tentang hal gila itu.
Baekhyun mengeluarkan sikat rambut dari kantongnya dan menunjukkannya kepada Sehun sebelum mulai menyisir dengan cara yang menggoda. Dengan sikatnya itu.
Kami berpesta sebelum pesta sama seperti yang kami lakukan di Berkeley, lengkap dengan serutan es untuk minuman koktail daiquiri. Meskipun kami sudah bisa meminum alcohol berkualitas baik dan perasan jus lemon segar, ini masih membuat kami sedikit melayang dan pusing.
"Ayolah, ayolah kau tidak pernah tahu siapa yang akan kau temui malam ini! Kau tidak ingin bertemu Pangeran Tampan dengan rambut rata, kan?" Baekhyun beralasan saat ia memaksa Sehun untuk menggulung rambutnya untuk mendapatkan kesan "mengangkat rambut pada mahkotanya." Kau tidak boleh membantah-kau hanya membiarkan dia melakukannya.
"Aku tidak merasa rata dimanapun. Jika payudaraku sudah terlihat, Pangeran Tampan bahkan tidak akan memperhatikan aku punya rambut," gumam Sehun yang membuatku menyemburkan badai tawa lainnya.
Kemudian di antara suara tawa kami, aku mendengar suara dari rumah sebelah. Aku bangkit dari tempat tidur dan mendekat ke dinding dimana aku bisa mendengar lebih baik. Kali ini daripada mendengar Luhan, aku mendapati ada dua suara keras pria lainnya. Aku tidak bisa menangkap apa yang mereka katakan, tapi tiba-tiba suara Guns N Roses menggelegar melalui dinding cukup keras untuk membuat Sehun dan Baekhyun menghentikan apa yang mereka lakukan.
"Apa-apaan itu?" bentak Sehun, mencari dengan liar di sekitar ruangan.
"Luhan adalah penggemar GNR kurasa," aku mengangkat bahu, diam-diam menikmati disambut "Welcome to the Jungle" yang luhan putar. Aku meletakkan ikat kepala rendah di dahiku dan melakukan gerakan menari kepitingnya Axl (vokalis GNR) bolak balik, hanya untuk menyenangkan Baekhyun dan mencemooh Sehun.
"Tidak, tidak, tidak, bukan begitu, bodoh," marah Sehun lebih ke musik dan meraih ikat kepala lainnnya dan mengikuti kegilaanku. Baekhyun menjerit dengan tawa saat Sehun dan aku perang tarian kepiting Axl.
Tentu saja sampai Sehun mulai mengacaukan rambutnya. Kemudian Baekhyun menerjang ke raah Sehun yeng dengan cepat menghindar. Sehun melompat di tempat tidur untuk menjauh darinya dan aku bergabung dengannya. Kami melompat-lompat, berteriak- teriak mengikuti liriknya dan menari dengan liar. Baekhyun akhirnya menyerah, dan kami akhirnya menari seperti orang gila yang bodoh. Aku mulai merasakan tempat tidur bergerak dibawah kami dan aku menyadari itu membentur dengan gembira ke dinding- dindingnya Luhan.
"Terima itu! Dan Itu! Dan sedikit...itu! Tak seorang pun yang membentur di dindingku, huh? Hahahahahaha!" aku berteriak tak karuan saat Baekhyun dan Sehun menyaksikan dengan takjub.
Sehun turun dari tempat tidur, lalu dia dan Baekhyun saling mencengkram satu sama lain saat mereka tertawa dan aku mulai menghentak. Aku bergerak maju mundur seperti sedang berselancar, menghantamkan kepala tempat tidur ke dinding lagi dan lagi.
Musik terputus tiba-tiba dan aku jatuh seperti baru saja di tembak. Baekhyun dan Sehun menggenggam tangan mereka di atas mulut masing-masing sementara aku berbaring ditempat tidur, menggigit buku jariku sendiri untuk menahan tawa. Kegilaan di ruangan seperti kau sedang ketahuan melakukan kejahatan di rumah seseorang, atau tertawa di belakang gereja. Kau tidak bisa berhenti, dan kau tidak bisa tidak berhenti.
Bang bang bang
Tidak mungkin. Dia menggedorku?
Bang bang bang
Dia menggedorku…
Bang bang bang, Aku memberikan gedoran sebaik yang aku terima. Aku tidak percaya dia punya nyali untuk mencoba membuatku diam. Aku mendengar suara-suara pria terkekeh.
Bang bang bang, datang sekali lagi dan emosiku berkobar.
Oh dia benar-benar seorang bajingan...
Aku menatap para gadis tak percaya dan mereka melompat kembali ke tempat tidur denganku.
Bang bang bang, kami menggedor, enam tinju marah menghujani plester dinding.
Bang bang bang berbalik ke kami, jauh lebih keras kali ini. Para pria ini sudah mulai bersungguh-sungguh.
"Menyerahlah tuan! Tidak ada seks untukmu!" aku berteriak pada dinding yang membuat para gadisku terkikik gila-gilaan.
"Banyak seks untukku, nona. Tidak ada untukmu" teriaknya dengan terlalu jelas melalui dinding.
Aku mengangkat tinjuku untuk menggedor sekali lagi. Bang bang bang terdengar dari sisiku.
Bang bang bang !. satu tinju menjawab kembali, dan kemudian semua diam.
"OOOOHHHHHHHHHH!" aku berteriak pada dinding, dan aku mendengar Luhan dan teman prianya tertawa.
Baekhyun dan Sehun menatapku dengan mata terbelalak satu sama lain hingga kami mendengar sebuah desahan kecil dari belakang kami. Kami berbalik dan melihat Monggu duduk di atas nakas. Dia menatap kembali pada kami, mendesah lagi dan terus menjilati pantatnya.
.
.
.
"Beraninya, maksudku sangat beraninya pria itu! Dia punya untuk bisa benar-benar menggedor dindingku, di dindingku? maksudku, Ya Tuhan, dasar ba-"
"Bajingan, yang kami tahu," kata Baekhyun dan Sehun serempak saat aku terus mengomel.
"Ya, bajingan!" aku melanjutkan, masih marah. Kami berada di mobil dalam perjalanan ke pesta Jonmyeon. Mobil jemputan tiba tepat pukul delapan tiga puluh, dan kami segera menuju ke jembatan.
Saat aku memandang keluar kerlip lampu-lampu di Sausalito, aku mulai sedikit tenang. Aku menolak membiarkan pria itu membuatku marah. Aku keluar dengan 2 sahabatku, akan menghadiri acara pindah rumah fantastis yang diselenggarakan oleh bos terbaik di dunia. Dan jika kami beruntung, tunangannya akan membiarkan kami melihat foto-foto dirinya ketika ia menjadi perenang di perguruan tinggi, foto saat dia masih hanya mengenakan celana dalam seksi yang ketat. Kami akan menghela napas dan menatap tanpa henti sampai Jonmyeon menyingkirkannya. Dan kemudian dia biasanya akan menjauhkan Lay juga, untuk semalam.
"Aku mau bilang, aku punya perasan yang benar-benar baik tentang malam ini. Aku merasa seperti ada sesuatu yang akan terjadi," Baekhyun merenung menatap serius keluar jendela.
"Sesuatu akan terjadi pasti, memang iya. Kita akan bersenang-senang, minum terlalu banyak dan aku mungkin akan mencoba menggerayangi Minseok di mobil selama perjalanan pulang," kata Sehun, mengerling padaku.
"Mmm, manis," godaku, dan dia meniupkan ciuman padaku disertai kedipan genitnya.
"Oh, bisakah kalian berdua lupakan romansa pseudo-lesbian kalian? Aku serius di sini," ia melanjutkan, mendesah dengan nada suara seperti drama harlequin yang kadang-kadang dia gunakan.
"Siapa yang tahu? Aku tidak yakin dengan diriku, dan mungkin kau akan bertemu Pangeran Tampanmu malam ini, "aku berbisik, tersenyum balik ke wajah penuh harapnya. Baekhyun yang paling romantis dari kami bertiga. Dia teguh dengan keyakinannya bahwa setiap orang memiliki Soulmate.
Eh...aku hanya cukup dengan Soul-O-ku.
Ketika kami berhenti di rumah Lay dan Jonmyeon, ada banyak mobil yang diparkir dimana-mana di sepanjang jalan berkelok- kelok, ada banyak lentera Jepang dan lampion yang berjajar sepanjang halaman menuju rumahnya.
Seperti kebanyakan rumah-rumah yang dibangun di atas kaki bukit, dari jalanan tak tampak apapun. Kami terkikik saat kami berjalan melalui pintu gerbang, dan aku tersenyum ketika para gadis menatap pada alat aneh yang ada didepan kami. Aku telah melihat rancangan seperti ini, tetapi belum pernah menaikinya.
"kereta sialan jenis apa ini?" celetuk Sehun, dan aku tidak bisa menahan tawa.
Jonmyeon dan Lay telah merancang dan memasang hillevator, pada dasarnya ialah sejenis lift yang naik dan turun melalui bukit. Sangat praktis ketika kau mempertimbangkan jumlah langkah yang dibutuhkan untuk mencapai rumah.
Halaman depan rumah bukit mereka diselimuti dengan taman yang bertingkat dan bangku serta berbagai pola taman, diatur dengan artistik di jalanan setapak berbatu yang menyala dengan obor patung tiki yang berukir memandu menuruni bukit menuju rumah. Kecuali untuk berbelanja dan pendekatan lainnya yang kurang santai, hillevator sebenarnya dibuat untuk berkendara dengan mudah.
"Apakah kalian para nona-nona bersedia menaiki lift tersebut atau tetap turun sendiri dengan berjalan?" Tanya seorang petugas, yang muncul dari sisi lain kereta.
"Maksudmu menaiki benda itu?" Baekhyun mencicit.
"Tentu, untuk itulah alat ini dibuat. Ayolah," aku mengajaknya, melangkah melalui pintu kecil yang dibukakan si petugas di samping. Ini hampir mirip seperti lift ski, kecuali ini menuruni bukit bukannya melayang di udara.
"Ya, baiklah, mari kita lakukan," kata Sehun, naik dibelakangku dan menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Baekhyun mengangkat bahu dan mengikuti.
"Akan ada seseorang di bawah menunggu untukmu. Nikmati pestanya, nona-nona." Petugas itu tersenyum, dan kami pun bergerak.
Setelah kami menuruni bukit, rumah mulai terlihat menyambut kami. Jonmyeon telah menciptakan dunia yang benar-benar ajaib di sini, dan di sana terdapat jendela besar di seluruh rumah, kami bisa melihat pesta yang berlangsung saat kami melanjutkan perjalanan kami.
"Wow, banyak orang di sini," kata Baekhyun, matanya membesar. Suara dari sebuah band jazz di salah satu teras di bawah berdenting terdengar oleh kami.
Aku merasakan sedikit gelitikan di perutku saat kereta berhenti dan petugas lain datang untuk membuka pintu. Saat kami keluar dan sepatu hak kami berbunyi klik klik di jalan setapak berbatu, aku bisa mendengar suara Jonmyeon dari dalam rumah dan langsung tersenyum.
"Girls, kalian datang!" serunya saat kami berjalan masuk. Aku berbalik menghadapi ruangan, meresapi semuanya sekaligus.
Rumah ini hampir seperti segitiga, didirikan di sisi bukit dan terhampar keluar. Lantai kayu mahoni yang berwarna gelap terhampar dibawah kami, dan barisan dinding bersi kontras dengan sangat indah. Selera Jonmyeon secara pribadi adalah modern yang nyaman, warna-warna rumah ini mencerminkan warna- warna yang menggelilingi lereng bukit, hijau daun yang hangat, coklat tanah yang semarak, krem yang sangat lembut dan sedikit warna biru laut dalam.
Hampir seluruh belakang rumah dua lantai ini adalah kaca, mengambil keuntungan dari pemandangan yang spektakuler. Cahaya bulan menari diatas air di teluk dan di kejauhan kau bisa melihat lampu-lampu dari San Fransisco. Mataku berkaca-kaca saat melihat rumah yang dia dan Lay telah ciptakan untuk diri mereka sendiri dan saat aku melihat kearahnya, aku melihat kegembiraan dimatanya.
"ini sempurna," bisikku dan Jonmyeon memelukku erat-erat.
Sehun dan baekhyun memuji-muji Jonmyeon saat seorang pelayan membawakan kami masing- masing segelas sampanye. Ketika Jonmyeon pergi untuk berbaur, kami bertiga berjalan keluar dari salah satu banyak teras untuk mengambil persediaan lagi. Para pelayan lewat dengan nampan-nampan dan saat kami mengunyah udang panggang dan menghirup minuman bergelembung kami, kami mengamati para tamu untuk mencari orang yang kami kenal.
Tentu saja banyak dari klien Jonmyeon berdiri di sana dan aku tahu akan bercampur dengan sedikit pekerjaan malam ini, tapi sekarang aku sudah puas untuk makan udang mewahku dan mendengarkan Sehun dan Baekhyun menilai setiap pria.
"Oooh, Sehun aku melihat seorang koboi untukmu tepat di sana, tidak, tidak tunggu dia telah diambil oleh koboi lain. Bergeraklah." Baekhyun mendesah sambil melanjutkan pencariannya.
"Aku menemukan dia! aku melihat pria untukmu malam ini, Baekhyun!" Sehun menjerit dalam bisikan.
"Di mana, di mana?" Baekhyun berbisik kembali, menyembunyikan mulutnya di balik seekor udang. Aku memutar mataku dan meraih segelas minuman saat pelayan lewat.
"Di bagian dalam, lihat? Tepat di sana di meja dapur, sweater hitam dan celana khaki? Ya Tuhan, dia tinggi, hmmm rambutnya juga bagus." Sehun merenung, menyipitkan matanya.
"Dengan rambut sedikit panjang dan berwarna coklat? Ya aku pasti sesuai dengannya," kata Baekhyun, targetnya sudah diperoleh. "Lihat betapa tinggi dia, sekarang siapa si yummy lawan bicaranya itu? Jika saja bimbo (perempuan genit) itu bergerak minggir," gumam Baekhyun sambil mengangkat alisnya, sampai wanita yang diduga bimbo itu akhirnya menyingkir, memberikan kami pemandangan yang lebih jelas dari pria yang dipertanyakan tadi.
Aku melihat juga dan saat jalan terbuka, sekarang kami bisa melihat kedua pria yang mengobrol. Si Pria berbadan besar, well, besar. Tinggi dan bahu lebar, hampir seperti bahu pemain gelandang. Badannya mengisi sweater dengan cukup baik dan ketika ia tertawa wajahnya bersinar. Ya dia memang tipe Baekhyun.
Pria lain memiliki rambut pirang sedikit panjang yang selalu dia dorong ke belakang telinganya. Dia memakai kacamata kutu buku yang benar- benar cocok untuknya. Dia tinggi dan ramping dan terlihat serius, hampir terlihat klasik di dalam ketampanannya. Jangan salah, orang ini adalah si culun yang tampan dan Sehun menarik napas dengan cepat saat melihatnya.
Saat kami terus menyaksikan adegan yang terlihat, orang ketiga bergabung dengan mereka dan kami semua tersenyum. Lay. Kami segera menuju dapur untuk menyapa pria favorit kami di planet ini. Tidak diragukan Sehun dan Baekhyun juga senang mengetahui Lay yang akan memperkenalkan mereka. Aku melirik keduanya saat mereka secara bersamaan mempersiapkan diri. Baekhyun diam-diam mencubit kedua pipinya, ala scarlet O'hara dan aku melihat Sehun menyelipkan pengganjal payudaranya dengan cepat. Para pria malang ini tidak akan bisa memiliki kesempatan kabur.
Lay melihat kami dalam perjalanan menyeberang ke arahnya dan tersenyum. Para pria membuka lingkaran mereka untuk membiarkan kami masuk dan Lay menyelimuti kami bertiga dalam pelukan raksasa.
"Tiga gadis favoritku! Aku bertanya-tanya kapan kalian akan muncul. Kebiasaan terlambat seperti biasa," godanya dan kami semua cekikikan. Lay selalu melakukan itu, dia membuat kami seperti siswi-siswi sekolah yang konyol.
"Hai, Lay." kata kami serempak, dan aku tersadar betapa kami terdengar seperti Angelnya Lay pada saat itu.
Si Pria berambut hitam dan si kacamata berdiri di sana menyeringai dan mungkin menunggu untuk dikenalkan saat kami bertiga hanya menatap Lay. Dia benar-benar menua dengan sempurna; rambut bergelombang coklat, hanya sedikit ada warna perak dipelipisnya, jeans, kemeja biru gelap dan sepasang sepatu bot koboi tua. Dia bisa menjadi model catwalk Ralph Lauren.
"Ijinkan aku untuk melakukan perkenalan di sini. Minseok yang bekerja dengan Jeonmyeon, Baekhyun dan Sehun adalah, oh bagaimana kalian menyebutnya, BFF?" Lay tersenyum, menunjuk kepadaku.
"Wow, BFF? siapa yang mengajarimu bergaya bahasa, daddy-o?" aku tertawa dan mengulurkan tanganku kepada si pria bersurai hitam.
"Hai, aku Minseok. Senang mengenalmu." Dia menelan tanganku dengan cakarnya. Ini benar-benar seperti cakar. Baekhyun akan kehilangan pikirannya dengan yang satu ini. Matanya penuh dengan kegembiraan saat ia tersenyum kearahku.
"Hei Minseok, Aku Tao. Si Aneh ini adalah Kris," katanya, sambil mengangguk dibalik bahunya pada si Kaca mata.
"Terima kasih, ingatkan aku tadi saat lain kali kau tidak dapat mengingat kata kunci emailmu." Kris tertawa ramah dan mengulurkan tangannya padaku.
Aku berjabatan dengannya, memperhatikan betapa matanya coklat terang. Jika Sehun memilki anak dengan orang ini, mereka pasti akan menawan. Aku memastikan untuk mengurus perkenalan selanjutnya setelah Lay melangkah pergi. Kami mulai berbasa basi, dan aku tertawa saat keempat dari mereka mulai gerakan kecil Ingin-Lebih-Mengenal-Mu mereka.
Tao melihat seseorang yang ia kenal dibelakangku dan berteriak, "Hei Lu, bawa pantat tampanmu kesini dan bertemu dengan teman-teman baru kita."
"Aku datang. Aku datang." Aku mendengar sebuah suara berkata di belakangku dan aku berbalik untuk melihat siapa yang bergabung dengan kelompok kami. Hal pertama yang kulihat adalah hitam. Sweater hitam, mata hitam, jins hitam. Hitam yang jantan. Lalu aku melihat merah saat aku mengenali pemilik si hitam.
"Penggedor dinding sialan," desisku, membeku di tempat. Seringainya menghilang juga saat dia mengamati wajahku sejenak.
"Gadis Bergaun Tidur Pink sialan," akhirnya dia menyimpulkan. Dia meringis. Kami bertatapan, saat udara menggelegak berubah seperti ada listrik diantara kami, gemertuk dan berderak. Keempat orang di belakang kami terdiam, mendengarkan perkelahian kecil ini. Kemudian mereka sadar.
"Itu si Penggedor Dinding." Pekik Sehun.
"Tunggu sebentar, itu si Gadis Bergaun Tidur Pink?" Tao tertawa, Baekhyun dan Kris mendengus.
Wajahku menjadi merah padam saat aku memproses informasi ini dan seringai Luhan menjadi cengiran terkutuk yang kulihat di malam itu di lorong ketika aku menggedor pintu dan membuatnya berhenti memberikan si Pengikik cekikikan dan berteriak padanya. Ketika aku sedang memakai gaun tidur pink ku
"Gadis Bergaun Tidur Pink, " aku tersedak, lebih dari kesal.
Lebih dari marah. Menjadi sangat murka. Aku menatapnya, menuangkan semua keteganganku ke dalam satu tatapan. Semua malam tanpa tidur dan hilangnya O ku dan mandi air dingin dan sodokan pisang dan mimpi basah tanpa ampun masuk kedalam satu tatapan. Aku ingin mengalahkannya dengan mataku, membuatnya meminta ampun. Tapi tidak...bukan Luhan. Direktur dari Rumah Internasional Orgasme.
Dia Masih Menyeringai.
—
.
.
.
Tbc
