.

.

.

Kami berdiri menatap satu sama lain, gelombang amarah dan rasa kesal memantul bolak-balik diantara kami. Kami saling memelototi satu sama lain, dia dengan seringainya dan aku sambil mencibir, sampai aku menyadari bahwa galeri kacang kami sendiri telah terdiam lagi, bersama dengan setiap tamu lain di dapur. Aku memandang melewati tetanggaku dan melihat Jonmyeon berdiri bersama Lay dengan ekspresi ingin tahu di wajahnya—tidak diragukan lagi bertanya-tanya mengapa anak didiknya siap bertarung di tengah-tengah rumah barunya.

Tunggu sebentar—bagaimana bisa dia kenal Luhan? Mengapa Luhan bahkan berada di sini? Aku merasa ada tangan kecil di bahuku dan berputar dengan cepat untuk melihat Baekhyun.

"Tenang, Trigger. Kau tak perlu marah pada Jonmyeon, okay?" Bisiknya sambil tersenyum malu-malu pada Luhan. Aku melemparkan pandangan kearahnya dan berbalik kembali menghadap Luhan, mendapati dia sudah bergabung dengan tuan rumah kami.

"Minseok, Aku tak sadar kalau ternyata kau kenal Luhan. Dunia memang kecil!" Seru Jonmyeon, sambil menangkupkan tangannya.

"Aku tidak akan bilang kalau aku kenal dia, tapi aku akrab dengan hasil perbuatannya," jawabku dengan gigi terkatup. Baekhyun menari dalam lingkaran di sekitar kami seperti anak kecil dengan rahasianya.

"Jonmyeon, kau takkan percaya ini, tapi—" ia memulai, suaranya meluap dengan kegembiraan yang nyaris tak dapat disembunyikan.

"Baek..." aku memperingatkan.

"Luhan itu Luhan dari apartemen sebelah! Luhan Wallbanger!" Sehun berseru, jemarinya menggenggam lengan Lay. Aku yakin Sehun melakukannya hanya agar dia bisa menyentuh Lay.

"Sialan," aku menarik napas saat Jonmyeon meresapi informasi ini.

"Tidak mungkin," desahnya, tangan menutup mulutnya saat ia mengucapkan kata-kata kotor atau mengumpat. Jonmyeon selalu berusaha untuk menjadi wanita baik-baik. Lay terlihat bingung, dan Luhan ternyata punya rasa malu dengan sedikit tersipu.

"Bajingan," aku berucap tanpa suara ke arahnya.

"cockblocker" ujar Luhan membalas tanpa suara, seringai kembali sepenuhnya.

Aku terkesiap. Aku mengepalkan tangan dan siap untuk mengatakan kepadanya apa yang bisa dia lakukan dengan cockblocker ketika Tao menerobos masuk.

"Lay, lihat ini—gadis cantik ini adalah Pink nightie Girl! Bisakah kau bayangkan itu!" Dia tertawa saat Kris berusaha tidak tertawa. Mata Lay melebar, dan ia mengangkat alis ke arahku dengan penuh perhitungan. Luhan menelan tawanya.

"Pink nightie Girl?" Tanya Jonmyeon, dan aku mendengar Lay bersandar di dekatnya dan memberitahu bahwa ia akan menjelaskannya nanti.

"Oke, sudah cukup!" Teriakku dan aku menunjuk kearah Luhan. "Kau. Mari bicara, tolong?" Bentakku dan mencengkeram lengannya.

Aku menarik Luhan keluar dan membawanya ke salah satu jalan setapak yang mengarah menjauh dari rumah. Dia bergegas mengikuti di belakangku, tumitku menghentak dengan marah di atas batu ubin.

"Ya Tuhan, pelan-pelan saja, kenapa?" Responku adalah menekan kukuku ke lengannya, yang membuatnya menjerit. Bagus. Kami mencapai enklave kecil yang terletak jauh dari rumah dan pesta—cukup jauh hingga tidak ada yang akan mendengar dia menjerit ketika aku mencabut testis dari tubuhnya. Aku membebaskan lengannya dan menghadap kearahnya, menunjuk jariku di wajahnya yang terkejut.

"Kau punya cukup keberanian memberitahu semua orang tentang aku, bajingan! Apa- apaan ini? Pink nightie Girl? Apa kau bercanda?" Bisikku-oh ok, teriakku lebih tepatnya.

"Hei, aku bisa menanyakan pertanyaan yang sama padamu! Kenapa semua wanita di sana memanggilku Wallbanger, huh? Siapa yang mempergunjingkan orang sekarang?" Ia berbisik-balas berteriak pada ku.

"Apa kau bercanda? Hanya karena aku menolak menghabiskan malam mendengarkan kau dan haremmu bukan berarti aku adalah seorang cockblocker!" Desisku.

"Well, karena kenyataannya bahwa gedoran pintumu memblokir kejantananku, itu benar-benar membuatmu menjadi seorang cockblocker. Cockblocker!" Balasnya sembari mendesis tak mau kalah. Seluruh percakapan ini mulai terdengar seperti apa yang mungkin terjadi di kelas IV—kecuali tentang nighties dan kejantanan.

"Sekarang, kau yang harus dengar, mister," kataku, mencoba berbicara dengan nada yang lebih dewasa. "Aku tidak akan menghabiskan setiap malam mendengarkanmu mencoba menghempaskan kepala pasanganmu menembus dindingku hanya dengan kekuatan kejantananmu saja! Tidak mungkin, sobat." Aku menuding kearahnya. Dia menyambarnya.

"Apa yang kulakukan di dindingku sendiri adalah urusanku. Mari kita luruskan ini sekarang. Dan kenapa sih kau begitu perhatian tentang aku dan kejantananku?" Tanyanya, menyeringai lagi. Itu adalah seringai, seringai terkutuk, yang membuatku jadi marah besar. Itu dan fakta bahwa dia masih memegang jariku.

"Ini menjadi urusanku saat kau dan kereta seksmu mengetuk dinding kamarku setiap malam!"

"Kau sungguh terpikat pada urusan ini, bukan? Berharap kau berada di sisi lain dari dinding itu? Apakah kau ingin naik kereta seks, nightie Girl?" Dia terkekeh sambil menggoyang- goyangkan jarinya di depan wajahku.

"Oke, cukup," Aku menggeram. Secara reflex aku meraih jarinya, yang langsung mengunci kami bersama. Kami pasti terlihat seperti dua penebang kayu mencoba untuk menebang pohon. Kami bergulat maju mundur—luar biasa konyol. Kami berdua terengah-engah, masing-masing berusaha untuk bisa lebih unggul, dan masing-masing menolak untuk mengalah.

"Kenapa kau sedemikian bajingan, gigolo?" Tanyaku, wajahku beberapa inci dari wajahnya.

"Kenapa kau sedemikian centil, cockblocker?" Tanyanya, dan ketika aku membuka mulut untuk mengatakan kepadanya apa yang kupikirkan, keparat itu menciumku. Menciumku!.

Kalian dengar itu? Siberengsek ini menciumku!

Menempatkan bibirnya di bibirku dan menciumku. Di bawah bulan dan bintang- bintang, dengan suara ombak dan jangkrik mengerik. Mataku masih terbuka, dengan marah menatap kearahnya. Matanya begitu hitam, itu seperti melihat dua samudera di malam hari yang sedang mengamuk.

Dia mundur, jemari kami masih mencengkeram satu sama lain seperti tang. Aku melepaskan tangannya dan menampar wajahnya. Dia nampak sangat terkejut, bahkan lebih terkejut lagi saat aku meraih sweter dan menariknya mendekat. Aku menciumnya, kali ini menutup mata dan membiarkan tanganku terisi dengan wol dan hidungku dipenuhi oleh aroma hangat seorang pria.

Sialan, baunya enak.

Tangannya merayap berkeliling ke punggung bawahku, dan segera setelah ia menyentuhku, aku menyadari di mana aku berada dan apa yang kulakukan. "Sialan," kataku, dan menarik diri. Kami berdiri saling memandang, dan aku mengusap bibirku. Aku mulai berjalan pergi dan kemudian berbalik dengan cepat.

"Ini tidak pernah terjadi, mengerti?" Aku menunjuk kearahnya lagi.

"Terserah apa katamu." Dia menyeringai, dan aku merasa emosiku berkobar lagi.

"Dan jangan menyebutku dengan nightie Pink, oke?" Bisikku-teriakku dan berbalik berjalan kembali menyusuri jalan setapak.

"Sampai aku bisa melihat gaun malammu yang lain, aku akan tetap memanggilmu seperti itu," ia membalas, dan aku hampir tersandung. Aku merapikan gaunku dan kembali ke pesta. Tidak bisa dipercaya.

.

.

.

"Jadi aku mengatakan kepada para cowok, tidak mungkin aku mengatur 'ruang bermain' kalian. Kalian dapat mengatur cambuk berkuda kalian sendiri." Baekhyun menjerit, dan kami semua tertawa.

Dia bisa bercerita dengan sangat menarik. Dia memiliki bakat untuk mempersatukan kelompok bersama- sama, terutama ketika orang-orang baru mulai mengenal satu sama lain. Ketika pesta mulai mereda, teman perempuanku dan teman Luhan berkumpul di sekitar api unggun di salah satu teras. Digali dengan dalam dan dilapisi dengan batu ubin, terdapat bangku di sekitarnya. Sementara api berderak dengan riang, kami tertawa, minum dan bercerita. Dan maksudku yang bercerita adalah Baekhyun, Sehun, Tao, dan Kris sementara Luhan dan aku saling melotot diseberang api unggun. Dengan api yang memercik, jika aku memicingkan mataku sedikit maka aku bisa membayangkan dia terpanggang di api neraka.

"Jadi, apakah kita akan mengundang gajah ke dalam ruangan ini?" Tanya Kris, menarik lututnya keatas dan menaruh bir pada bangku disebelahnya.

"Gajah yang mana?" Tanyaku dengan manis, menyesap anggurku.

"Oh, ayolah—kenyataannya bahwa orang yang menggedor kepala ranjangmu adalah cowok keren di seberangmu!" Baekhyun menjerit, hampir mengguyurkan minumannya ke wajah Tao. Tao tertawa bersama Baekhyun, tapi dia menyingkirkan gelas itu dari tangannya sebelum Baekhyun sempat menimbulkan kekacauan yang sesungguhnya.

"Tak ada apapun yang bisa dikatakan," kata Luhan.

"Aku punya tetangga baru. Namanya Minseok. Itu saja." Dia mengangguk, menatapku dari seberang api unggun. Aku mengangkat alis dan meneguk anggurku.

"Ya, senang mengetahui kalau Pink Nightie Girl punya nama. Cara ia menggambarkanmu...wow! Aku tak yakin kau benar-benar nyata, tapi ternyata kau sama seksinya seperti apa yang dikatakannya!" Teriak Tao kepadaku penuh kekaguman, mencoba sejenak untuk melakukan tos dengan Luhan di atas api sebelum dia menyadari betapa panasnya itu. Mataku tertuju kearah Luhan. Dia meringis mendengar deskripsi itu.

Menarik...

"Jadi, kalian para pria adalah orang-orang mengangguk-anggukkan kepala pada kami malam ini? Mendengarkan Guns N' Roses?" Tanya Sehun sambil menyenggol Kris.

"Kalian para cewek yang bernyanyi bersama, kurasa, ya?" Dia balas menyikut dengan tersenyum.

"Dunia memang kecil, benar kan?" Baekhyun mendesah, menatap Tao. Tao mengedipkan mata kearahya, dan aku dengan cepat menyadari kemana arahnya. Baekhyun mendapatkan cowok raksasanya, Sehun mendapatkan cowok yang sangat tampan, dan aku punya anggur. Yang lenyap dalam hitungan detik.

"Permisi," gumamku dan berdiri untuk mencari seorang pelayan.

Aku berjalan melalui kerumunan yang mulai menyusut, mengangguk pada beberapa wajah yang kukenal. Aku menerima segelas anggur dan berjalan kembali keluar. Aku berjalan kembali ke api unggun ketika aku mendengar Baekhyun berkata, "Dan kalian seharusnya mendengar apa yang Minseok katakan ketika dia menceritakan kepada kami saat dia menggedor pintunya malam itu." Sehun dan Baekhyun bersama-sama membungkuk dan berkata dengan terengah-engah,

"Dia...masih...ereksi!" Mereka semua larut dalam tawa. Aku harus ingat untuk membunuh gadis-gadis itu besok, secara menyakitkan. Aku mengerang karena dipermalukan di depan umum dan berbalik bergegas kabur menuju kebun ketika aku melihat Luhan dikegelapan. Aku mencoba untuk mundur sebelum dia melihatku, tapi dia melambai.

"Ayo kemarilah, aku tidak menggigit," ejeknya.

"Ya, tentu, kurasa," jawabku, berjalan ke arahnya. Kami berdiri membisu di malam hari. Aku memandang keluar kearah teluk, menikmati keheningan.

Lalu ia akhirnya bicara. "Jadi aku sedang berpikir, karena kita tetangga dan sebagainya—" ia mulai.

Aku berbalik untuk memandangnya. Dia memberiku senyum kecil seksinya, dan kutahu itulah yang ia gunakan untuk menundukkan wanita dalam artian celana dalam mereka yang melorot. Ha— seandainya dia tahu kalau aku tidak memakai celana dalam apapun.

"Kau berpikir tentang apa? Bahwa aku ingin bergabung denganmu suatu malam? Ingin tahu apa sebenarnya yang diributkan? Bergabung dengan cewek-cewek yang lain? sayang, aku tidak tertarik untuk menjadi salah satu dari cewekmu," jawabku, melotot padanya.

Dia diam saja.

"Well?" Tanyaku, mengetuk-ngetukkan kakiku dengan marah. Jengkel pada orang ini...

"Sebenarnya, aku akan mengatakan, karena kita tetangga dan sebagainya, mungkin kita bisa berdamai?" Katanya pelan, menatapku dengan cara yang sangat menjengkelkan.

"Oh," kataku. Hanya itu yang bisa kukatakan.

"Atau mungkin tidak," tuntasnya dan mulai berjalan pergi.

"Tunggu, tunggu, tunggu, Luhan," aku mengerang dan dengan cepat menyambar pergelangan tangannya saat dia menerobos melewatiku. Dia berdiri di sana, melotot."Ya. Baiklah. Kita bisa menyebutnya gencatan senjata. Tapi harus ada suatu aturan dasar," jawabku, berbalik untuk menghadapnya. Dia melipat tangan di dadanya. Oh dear… lihat otot lengan itu

"Aku harus memperingatkanmu sekarang, aku tidak senang wanita memberitahuku apa yang harus kulakukan," jawabnya dengan muram.

"Tidak seperti yang sudah kudengar," kataku pelan, tapi dia masih bisa mendengarnya.

"Itu berbeda," katanya, keangkuhannya mulai keluar lagi.

"Oke, ada satu hal. kau nikmati dirimu sendiri, lakukan urusanmu, menggantung diri di kipas langit-langit, aku tak peduli. Tapi saat larut malam? Bisakah kau membuat pelan suaranya? Tolong? Aku butuh tidur."

Dia berpikir sejenak. "Ya, aku bisa melihat di mana masalahnya. Tapi kau tahu, kau sesungguhnya tidak tahu apa-apa tentangku, dan kau pasti tidak tahu apa-apa tentang aku dan 'harem'-ku, menurut istilahmu. Aku tak perlu untuk menjustifikasi hidupku, atau para wanita yang ada di dalamnya, kepadamu. Jadi jangan lagi ada penghakiman yang kasar, setuju?"

Aku mempertimbangkannya. "Setuju. Omong-omong, aku menghargai ketenangan minggu ini. Sesuatu terjadi?"

"Terjadi? Apa maksudmu?" Tanyanya saat kami berjalan kembali ke kumpulan teman-teman kami.

"Kupikir mungkin kau cedera dalam tugas, misalnya kejantananmu patah atau semacamnya," aku bercanda, bangga menggunakan komentar lucuku lagi.

"Luar biasa. Itu semua yang kau pikir tentangku, bukan?" tukasnya, wajahnya terlihat marah lagi.

"Orang brengsek? Ya, sebenarnya," Bentakku.

"Sekarang dengar—" ia mulai, dan Tao muncul entah dari mana.

"Bagus melihat kalian berdua sudah berciuman dan berbaikan," tegurnya, berpura- pura untuk menahan Luhan.

"Diamlah, anchorman," gumam Luhan ketika sisa dari para pasangan baru muncul kembali.

"Tenanglah soal sebutan anchorman itu, huh?" Kata Tao, dan Sehun berbalik menghadapnya.

"Anchorman! Tunggu sebentar, kau pria pembawa acara olah raga lokal di NBC, kan? Apa aku benar?" Tanyanya. Aku melihat mata Tao berseri. Sehun mungkin gadis penggemar musik klasik, tapi dia juga penggemar berat klub 49ers. Aku cukup yakin 49ers adalah tim foot ball.

"Ya, itu aku. kau banyak menonton olahraga?" Tanya Tao, mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun, membawa Baekhyun bersama.

Cara Baekhyun menempel lengannya, itu tidak dapat dihindari. Baekhyun sedikit tersandung, dan Kris menyambar untuk menyeimbangkannya. Mereka saling tersenyum ketika Sehun dan Tao melanjutkan percakapan foot ball mereka. Aku berdeham, mengingatkan mereka bahwa aku, pada kenyataannya, masih ada di sini.

"Minseok, kita berangkat!" Sehun terkikik, sekarang bersandar pada lengan Kris. Aku melotot ke arah Luhan sekali lagi dan berjalan ke arah teman perempuanku.

"Itu bagus. Aku sudah cukup bersenang-senang malam ini. Aku akan memanggil mobilnya, dan kita bisa keluar dalam beberapa menit," jawabku sambil merogoh tas untuk mengambil ponselku.

"Sebenarnya, Tao mengatakan pada kami tentang bar kecil yang asyik, dan kami akan pergi kesana. Apakah kalian berdua mau ikut?" Sela Baekhyun, menghentikan tanganku. Dia meremasnya, dan aku melihat dia menggeleng hampir tak kentara.

"Tidak?" Tanyaku, mengangkat kedua alis.

"Bagus! si Wallbanger ini akan memastikan bahwa kau aman sampai di rumah," kata Tao, menepuk dengan kasar di punggung Luhan.

"Ya, tentu," kata Luhan dengan gigi terkatup. Sebelum aku bahkan bisa berkedip, mereka berempat sudah berjalan menuju hillevator, mengatakan selamat tinggal secara urakan kepada Lay dan Jonmyeon, mereka hanya tertawa dan melakukan tos.

Wallbanger dan aku saling menatap, dan aku tiba-tiba merasa lelah. "Gencatan Senjata?" Kataku lelah.

"Gencatan Senjata," katanya sambil mengangguk.

Kami pergi meninggalkan pesta bersama. Kami melaju kembali melintasi jembatan, dengan kabut larut malam dan keheningan menyelimuti kami. Dia membukakan pintu untukku ketika aku mendekati Rover, mungkin suatu didikan dari ibunya. Tangannya sudah bertumpu pada punggung bawahku ketika aku naik, dan kemudian menghilang dan berputar ke sisi mobil yang lain sebelum aku bahkan punya kesempatan untuk membuat komentar sinis. Mungkin itu yang terbaik, kami telah melakukan gencatan senjata. Gencatan senjata kedua dalam rentang waktu beberapa menit saja. Ini akan berakhir buruk, kutahu. Namun, aku akan mencoba.

Aku bisa bersikap ramah, bukan? Ramah. Ha. Ciuman itu termasuk bersikap ramah. Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak memikirkan tentang itu, tapi pikiran itu terus saja menggelegak. Aku menekan jemari ke bibirku tanpa menyadarinya, mengingat bagaimana rasa bibirnya di atas tanganku.

Ciumannya hampir seperti sebuah tantangan, menunjukkan padaku bahwa aku salah—sebuah janji apa yang akan terjadi jika aku mengijinkannya menciumnya lebih lama. Ciumanku? Naluri jujurku terus terang mengejutkanku. Kenapa aku menciumnya? Aku tak tahu, tapi aku melakukannya. Itu pasti terlihat konyol. Aku menamparnya, lalu menciumnya seperti suatu adegan dari film lama Cary Grant. Aku melemparkan seluruh tubuhku pada ciumanku, membiarkan lekuk lembut tubuhku pada tubuh kuatnya. Bibirku telah mencari bibirnya, dan ciumannya telah meningkat menjadi sama berhasratnya seperti ciumanku. Tidak ada musik dongeng, tapi ada sesuatu di sana. Dan itu dengan cepat membuat sesuatu mengeras dan menyentuh pahaku.

Keributannya mengotak-atik gelombang radio membawaku kembali ke masa sekarang. Dia terlihat cukup fokus pada musiknya ketika kami melaju melintasi jembatan, yang membuatku cukup gugup.

"Bisakah aku membantumu dengan itu?" Tanyaku dengan gugup memandang air di bawah.

"Tidak, terima kasih, aku bisa sendiri," katanya sambil melirik kearahku. Dia pasti telah melihat caraku mengintip kesisi jembatan, dan ia tertawa. "Baiklah, silahkan. Maksudku, kau tahu arti kalimat dari 'Welcome to the Jungle'," jadi kau mungkin bisa memilih sesuatu yang lebih baik," dia menantang.

Matanya kembali menatap ke arah jalan, tapi bahkan dari samping, aku bisa melihat senyumnya tanda dia menyetujuinya. Dan aku benci mengakuinya, membuat rahangnya terlihat seperti telah dipahat dari bagian terpanas dari sebuah granit yang pernah ditemukan.

"Aku yakin aku bisa menemukan sesuatu di sini," Ujarku, sambil meraih tangannya dan mencondongkan tubuh ke arahnya. Tangannya menyerempet bagian sisi payudaraku, dan kami berdua tersentak.

"Apakah kau mencoba merabaku?" Bentakku, sambil memilih lagu.

"Apakah kau menempatkan payudaramu di jalur tanganku?" Ia balas mengecamku.

"Kurasa tanganmu baru saja pindah di depan lintasan payudaraku, tapi jangan dipikirkan. Kau bukan yang pertama sejak makhluk surgawi ini dibawa ke orbit mereka." Aku mendesah secara dramatis, menatapnya menyamping untuk melihat apakah dia bisa tahu kalau aku sedang bercanda. Sudut mulutnya naik membentuk seringai, dan aku juga membiarkan diriku tersenyum kecil.

"Ya, surgawi. Itu kata yang akan ku gunakan—bukan dari bumi ini. Seperti, melayang di langit. Seperti, courtesy of Victoria Secret." Dia menyeringai, dan aku pura-pura terkejut.

"Oh, kau tahu Rahasia? Dan di sini kupikir kami para gadis konyol yang membuat kalian semua tertipu." Aku tertawa dan duduk kembali ke kursiku. Kami akan menyeberangi jembatan dan sekarang kembali ke kota.

"Dibutuhkan banyak usaha untuk menipuku, terutama ketika berurusan dengan lawan jenis," jawabnya, tepat ketika musik menyala. Dia mengangguk oleh pilihanku. "Too Short? Pilihan yang menarik. Tidak banyak wanita yang akan memilih lagu ini," ujarnya.

"Apa yang bisa kukatakan? Aku merasa sangat Bay Area malam ini. Dan aku harus memberitahumu sekarang, aku bukan seperti wanita kebanyakan," aku menambahkan, merasakan senyuman lain yang muncul di wajahku.

"Aku mulai belajar untuk mengetahui itu," katanya. Kami terdiam selama beberapa menit, lalu tiba-tiba kami mulai bicara bersamaan.

"Jadi apa pendapatmu tentang—" aku memulai.

"Dapatkah kau percaya bahwa mereka semua —" katanya.

"Lanjutkan." Aku tertawa.

"Tidak, apa yang mau kau katakan?"

"Aku akan mengatakan, jadi apa pendapatmu tentang teman-teman kita malam ini?"

"Sebenarnya aku juga akan mengatakan itu. Aku tidak percaya mereka hanya bangkit dan meninggalkan kita!" Dia tertawa, dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa bersamanya. Dia memiliki tawa yang menyenangkan.

"Aku tahu, tapi teman perempuanku tahu apa yang mereka inginkan. Aku tidak bisa menggambarkan dua orang yang lebih baik bagi mereka. Mereka persis seperti apa yang mereka cari," Aku mengaku, sambil bersandar di jendela sehingga aku bisa memperhatikannya saat kami melaju di jalan berbukit.

"Ya, Tao punya kelemahan pada gadis mungil—dan aku bersumpah itu terdengar kurang bijak di kepalaku. Dan Kris menyukai gadis berambut merah dan berkaki panjang." Dia tertawa lagi, melirik untuk melihat apakah aku baik-baik saja dengan komentarnya tentang gadis berambut merah dan berkaki panjang. Ya Aku baik-baik saja. Dia juga baik-baik saja.

"Yah, ku yakin aku akan mendengar tentang semua ini besok—kesan apa yang mereka buat pada teman perempuanku. Aku akan mendapatkan laporan lengkap, kau jangan khawatir." Aku mendesah. Teleponku akan terus berdering. Keheningan menyelinap kembali, dan aku berpikir apa yang harus kukatakan selanjutnya.

"Jadi bagaimana kau kenal Lay dan Jonmyeon?" Tanyanya, menyelamatkanku dari kesunyian.

"Aku bekerja untuk Jonmyeon di perusahaannya. Aku seorang desainer interior."

"Tunggu, kau Minseok yang itu?" Tanyanya.

"Aku tidak tahu apa artinya," jawabku, bertanya-tanya kenapa dia sekarang menatapku.

"Sialan, dunia benar-benar kecil," serunya, menggelengkan kepalanya dari satu sisi ke sisi lain seakan berusaha untuk menjernihkannya. Dia diam saat aku duduk teracuhkan.

"Hei, mau jelaskan sedikit? Apa maksudmu, Minseok yang itu?" Aku akhirnya menanyakannya, sambil menepuk bahunya.

"Ini hanya karena...well...hah. Jonmyeon pernah menyebut tentangmu sebelumnya. Biarkan cukup sampai di situ," katanya.

"Tentu saja tidak, kita tidak akan berhenti sampai di situ! Apa yang Jonmyeon katakan?" Aku menekan, menepuk lagi di bahunya.

"Maukah kau menghentikannya? Kau benar- benar kasar, kau tahu itu?" Katanya. Ada terlalu banyak hal yang bisa kuucapkan tentang komentar itu, tapi aku lebih memilih untuk diam.

"Apa yang Jonmyeon katakan tentang aku?" Tanyaku pelan, sekarang aku khawatir bahwa mungkin dia mengatakan sesuatu tentang hasil pekerjaanku. Saat ini aku sedang mudah tersinggung, dan sekarang syarafku mulai berdenging.

Dia menatapku. "Tidak, tidak, bukan seperti itu," katanya cepat. "Tidak ada yang buruk. Hanya saja, baiklah, Jonmyeon memujamu. Dan dia juga memujaku—tentu saja, kan?" Aku memutar mataku, tapi pura-pura setuju dengannya.

"Dan juga, Jonmyeon mungkin menyebutmu beberapa kali bahwa dia pikir aku harus bertemu denganmu," ujarnya, hanya untuk mengedipkan mata kearahku ketika mataku bertemu matanya.

"Oh. Ohhhh," Aku menarik napas saat aku menyadari apa maksudnya. Aku tersipu. Jonmyeon, dengan segala omong kosong tentang perjodohan.

"Apakah dia tahu tentang haremmu?" Tanyaku.

"Maukah kau berhenti membicarakan tentang itu? Jangan menyebut mereka harem. Kau membuatnya terdengar begitu kasar. Bagaimana jika ku katakan padamu bahwa tiga wanita itu sangat penting bagiku? Bahwa aku sangat peduli tentang mereka. Bahwa hubunganku dengan mereka sangat sesuai bagi kami, dan orang lain tak perlu memahaminya—mengerti?" Katanya, menepikan Rover dan berhenti dengan marah di pinggir jalan di luar gedung kami.

Aku diam menunduk menatap tanganku dan mengamatinya menyapukan jarinya ke rambutnya yang sudah berantakan.

"Hei, kau tahu? Kau benar. Siapa aku ini sampai mengatakan apa yang benar atau salah untuk orang lain. Jika berhasil untukmu, itu bagus. Mainkanlah. Semoga sukses. Aku hanya terkejut Jonmyeon ingin menjodohkanmu dengan aku. Dia tahu aku seorang gadis yang agak tradisional, itu saja," aku menjelaskan.

Dia menyeringai dan berbalik menatapku dengan kekuatan mata hitamnya. "Kebetulan, Jonmyeon tidak tahu segalanya tentang aku. Aku menjaga kehidupan pribadiku sangat rapat—terkecuali untuk tetanggaku dengan dinding tipis dan lingerie yang dahsyat," katanya dengan suara rendah yang bisa melelehkan, apapun.

Otakku langsung terisi dengan pikiran itu, mengingatnya tiba-tiba aku merasa itu mengucur keluar dari telinga dan turun sampai ke kerahku. "Kecuali dia," gumamku, benar-benar kelabakan.

Dia tertawa dengan gelap dan dalam lalu membuka pintu. Matanya terus menatapku saat ia berjalan mengitari mobil dan membuka pintu. Aku turun, meraih tangannya yang terjulur kearahku, dan hampir tidak menyadari bahwa ia menelusuri lingkaran kecil di bagian dalam tangan kiriku dengan ibu jari kanannya. Hampir tidak menyadarinya, apa-apan itu?. Itu membuat kulitku merinding dan Lower Minseok langsung terbangun. Syarafku memberikan respon yang cepat akan sentuhannya. Menembak seperti kembang api di segala penjuru. Kami berjalan di dalam gedung, dan sekali lagi ia membukakan pintu untukku. Dia benar-benar mempesona, aku harus memujinya.

"Jadi bagaimana kau kenal Lay dan Jonmyeon?" Tanyaku, berjalan menaiki tangga di depannya. Aku tahu pasti dia sedang memperhatikan kakiku, dan kenapa tidak? Aku punya kaki jenjang(ok anggep aja gitulah ya biar Minseok seneng karena untuk ukuran cowok minseok cukup mungil menurutku), dan semakin terekspos indah dengan gaunku yang sedikit menjuntai.

"Lay sudah menjadi sahabat keluargaku selama bertahun-tahun. Aku sudah kenal dia hampir seumur hidupku. Dia juga mengelola investasiku," jawab Luhan saat kami mengitari lantai pertama dan masuk lantai dua.

Aku menoleh dan mengkonfirmasi bahwa dia memang mengamati kakiku. Ha! Kena kau. "Oooh, investasimu. Punya sisa beberapa obligasi tabungan dari hadiah ulang tahun di sana, orang kaya?" Godaku.

Dia terkekeh. "Ya, semacam itulah." Kami terus menaiki tangga.

"Ini aneh, kan?" Tanyaku.

"Aneh?" Tanyanya, suaranya tergelincir di atasku seperti madu yang hangat.

"Well, maksudku, Lay dan Jonmyeon keduanya mengenal kita, kita bertemu di sebuah pesta seperti ini, dan kau menjadi orang yang telah memberiku hiburan malam sepanjang minggu ini. Dunia sungguh kecil, kurasa?" Kami mengitari tangga teratas, dan aku mengambil kunci.

"San Francisco adalah kota besar, tapi bisa terasa seperti kota kecil dalam beberapa hal," dia menawarkan. "Tapi ya, itu aneh. Menarik bahkan. Siapa yang tahu bahwa Jonmyeon sang desainer ingin mempertemukanku dengan Pink Nightie Girl? Seandainya aku tahu, aku mungkin akan menerima tawarannya," jawabnya, seringai terkutuknya kembali muncul di wajah tampannya.

Sialan, kenapa dia tidak terus bersikap brengsek?

"Ya, tapi Pink Nightie Girl akan mengatakan tidak. Lagipula, dinding tipis dan semua..." Aku mengedipkan mata, mengepalkan tanganku dan memukul dinding sebelah pintu. Aku bisa mendengar Monggu mengoceh di belakang pintu, dan aku harus masuk ke dalam sebelum ia mulai meraung.

"Ah, ya, dinding tipis. Hmmm...Yah, selamat malam, Minseok. Gencatan Senjata masih berlaku, kan?" Tanyanya, menoleh ke arah pintunya sendiri.

"Gencatan Senjata masih berlaku, kecuali kau melakukan sesuatu untuk membuatku marah lagi." Aku tertawa, bersandar di ambang pintu.

"Oh, kau bisa mengandalkanku. Dan Minseok? Omong-omong tentang dinding tipis?" Katanya, sambil membuka pintu dan kembali menatapku. Dia bersandar di ambang pintu sendiri, memukulkan tinjunya ke dinding.

"Ya?" Tanyaku, agak terlalu menerawang. Seringai itu muncul lagi dan dia berkata,

"Mimpi indah." Dia memukul dinding sekali lagi, mengedipkan mata, dan masuk ke dalam.

Huh. Mimpi indah dan dinding tipis. Mimpi indah dan dinding tipis... Ya Tuhan. Dia mendengarku.

.

.

.

.

Tbc

Buahahhaha. Apa lagi yg lebih malu-maluin selain ketauan mimpi tentang cowok yg jelas-jelas tetangga kita sendiri?. Jadi Minseok mending gak kenal Luhan deh kalau aku mah. buahahhaha