.

.

.

Aku merasakan sentuhan di wajahku.

"Grrr."

Sentuhan lagi. lalu tepukan pelan dan tepukan lagi. dan lagi-lagi sentuhan.

"Cukup."

Pantat Monggu di kepalaku. Bisa kalian bayangkan itu? Kucing kurang ajar

"Aku sadar kau tidak tahu bagaimana membaca sebuah kalender, tapi kau harus tahu saat itu hari Minggu. Serius, Monggu." Pantat Monggu menekan kepalaku dengan lebih keras.

Aku berguling, menjauh dari pantat yang disenggolkan ke kepalaku dan colekan gigih Monggu, dan menarik selimut sampai menutupi kepalaku. Kilatan malam sebelumnya terus muncul. Luhan di dapur Jonmyeon dengan intro terdengar di sekelilingnya. Temannya memanggilku Gadis Berlingerie Pink. Lay mulai merangkai semua cerita dan bukti saat dia menyimpulkan bahwa aku adalah Gadis Berlingerie Pink. Mencium Luhan. Mmm, mencium Luhan. Tidak, aku tidak mencium Luhan! Aku meringkuk lebih dalam di bawah selimut.

Mimpi indah dan dinding tipis...Rasa malu melandaku saat aku mengingat kata-kata perpisahannya. Aku membenamkan diri lebih dalam ke bawah selimut. Jantungku berdetak lebih kencang, berpikir seberapa malu aku sekarang ini. Hati, tidak memperhatikan gadis yang di bawah selimut itu.

Tadi malam adalah malam bebas mimpi, tapi untuk meyakinkan tidak ada satupun (Luhan) yang mendengar ku menjerit dalam gairah, aku tidur dengan TV menyala. Pengakuan bahwa Luhan pernah mendengarku memimpikannya telah melemparkanku dari lingkaran tanpa ujung yang aku terjuni, mencoba untuk menemukan sesuatu yang tidak terdengar seperti aku memiliki Mimpi Basah Luhan versiku sendiri. Aku berakhir pada semua saluran iklan, yang tentu saja, menahan rasa kantukku lebih lama dari yang sudah kurencanakan. Semua yang mereka jual sangat menarik. Aku harus melempar ponsel dengan tanganku sendiri di jam setengah empat pagi ketika aku hampir memesan Slap Chop- untuk tidak megatakan apapun selama setengah jam yang aku tidak akan pernah dapatkan kembali setelah menonton Bowser yang mencoba menjual padaku koleksi lagu Time Life dari tahun 50an.

Semua ini di tambah dengan mendengar suara Tommy Dorsey datang melalui dinding. Itu membuatku tersenyum. Aku tidak bisa bohong.

Aku meregang dengan malas di bawah selimut,cekikikan saat aku melihat bayangan Monggu mengikutiku, mencoba menemukan cara untuk masuk. Dia mencoba setiap sudut saat aku membelokan pandangannya. Akhirnya, dia melanjutkan pendekatan colek-colek remasnya, dan aku mengangkat kepala belakangku untuk tertawa padanya.

Aku dapat menangani hal ini dengan Luhan. Aku tidak perlu sepenuhnya malu. Jelas, O-ku sudah pergi, mungkin untuk selamanya. Jelas, aku sudah bermimpi bercinta dengan tetanggaku yang terlalu menarik dan terlalu percaya diri. Dan jelas, perkataan tetangga yang mendengar mimpi itu dan mengomentarinya, menjadi kata terakhir dari malam yang sangat aneh. Dan demi Tuhan, itu hal terakhir yang ingin aku dengar darinya. Bunuh saja aku ya Tuhan.

Tapi aku bisa menanganinya. Tentu saja aku bisa menanganinya. Aku hanya harus mengakuinya sebelum dia bisa- mengambil alih udara dari kapal layarnya, seakan-akan. Dia tidak selalu memiliki kata terakhir. Aku bisa pulih dari ini dan menjaga gencatan senjata kecil bodoh kami tetap berjalan.

Aku benar-benar kacau.

Dan kemudian aku mendengar alaram berbunyi di samping pintu, dan aku membeku. Kemudian aku sadar dan menyelinap kembali ke bawah selimut, meninggalkan hanya mataku yang mengintip keluar.

Tunggu, kenapa aku bersembunyi? Dia tidak bisa melihatku. Aku mendengar dia mematikan jam alarmnya, dan telapak kakinya menyentuh lantai. Kenapa dia bangun sangat pagi? Ketika semua senyap, kau benar-benar bisa mendengar melalui dinding. Bagaimana aku tidak sadar sebelumnya bahwa jika aku bisa mendengarnya, dia jelas bisa mendengarku. Aku merasa wajahku memerah saat aku membayangkan mimpiku lagi, tapi kemudian aku dapat mngontrolnya. Yang selanjutnya di bantu oleh kepala Monggu yang menyeruduk punggungku dalam usahanya secara fisik mendorongku bangun dari tempat tidur untuk memberinya sarapan.

"Okay, okay, ayo bangun. Tuhan, kau benar-benar menyebalkan kadang-kadang, Monggu." Monggu menjawabnya hanya dengan memberikan pandangan melewati pundak berbulunya saat ia berjalan mendekati dapur

Setelah memberi makan Mr. Monggu dan mandi, aku keluar untuk bertemu para gadis untuk mengobrol sambil makan makanan ringan. Aku meninggalkan gedung sambil melihat poselku, membalas sms dari Baekhyun, ketika aku bertabrakan dengan sesuatu yang dinding panas dan basah milik Luhan.

"Woah," aku berteriak saat aku terhuyung ke belakang. Lengannya bergerak cepat dan menangkapku sebelum aku jatuh dari kebingungan ke mendatar di atas pantatku dan lantai.

"Mau kemana kau akan pergi terburu-buru sepagi ini?" dia bertanya saat aku memperhatikannya. Kaus putih berkeringat, celana lari hitam, rambut keriting basah, iPod, dan sebuah seringai.

"Kau berkeringat." aku berkomentar.

"Aku memang berkeringat. Itulah yang terjadi," dia menambahkan, menyeka puncak kepalanya dengan punggung tangannya, membuat rambutnya berdiri. Aku harus secara fisik memblokir saraf otakku yang mencoba untuk mengintruksikan jari-jariku untuk terangkat dan menyarangkan jari-jariku di dalam rambutnya. Angkat dan sarangkan.

Dia melihat ke bawah ke arahku, mata hitamnya berbinar. Dia akan membuat ini menyakitkan jika aku tidak pergi dan keluar dari situasi yang membawa sensasi seks yang luar biasa terasa.

"Dengar, tentang tadi malam," aku memulai.

"Tentang tadi malam apa? Bagian dimana kau memarahiku tentang kehidupan seksku? Atau bagian dimana kau membicarakan kehidupan seksku dengan teman-temanmu?" dia bertanya, mengangkat satu alis dan mengangkat kausnya untuk mengelap keringat di wajahnya. Aku menarik napas yang terdengar seperti terowongan angin saat aku melihat otot perutnya yang hampir bisa menjadi tonjolan-tonjolan polisi tidur. Kenapa dia tak bisa menjadi tetangga yang lembut dan gendut?

"Tidak, maksudku celetukan yang kau buat tentang mimpi indah. Dan...well...dinding yang tipis," aku tergagap, menghindari semua kontak mata. Aku tiba-tiba terpesona oleh warna baru kuku-kukuku. Itu indah...

"Ah, ya, dinding yang tipis. Jadi, itu berpengaruh untuk kita berdua, kau tahu. Dan jika seseorang ingin, katakan, mendapat sebuah mimpi yang sangat menarik beberapa malam, jadi, mari katakan itu akan menjadi sedikit menghibur." Dia berbisik. Lututku menjadi sedikit goyah. Sialan dia dan ilmu vodoonya...

Aku harus bisa mendapatkan control. Aku mundur satu langkah.

"iya, kau boleh mendengar sesuatu yang aku lebih suka kau tidak dengar, tapi hal itu tidak selalu terjadi. Jadi, kau mendapatkanku. Tapi kau tidak pernah benar-benar memilikiku, jadi mari kita lanjutkan. Kau mengerti? Ngomong-ngomong aku akan brunch,." Aku mengakhiri, menyimpulkan cacianku.

Dia terlihat bingung dan geli pada waktu yang sama. "brunch,?"

" brunch. Kau bertanya kemana aku akan pergi pagi ini, dan jawabanku adalah brunch."

"Ah, aku mengerti. Dan apakah kau bertemu teman-teman wanitamu yang keluar dengan teman laki-lakiku tadi malam?"

"iya, dan aku akan senang berbagi sendok denganmu jika itu adalah sesuatu yang bagus." Aku tertawa, memutar-mutar sebagian rambut di sekitar jemariku. Bagus. Flirting 101. Apa-apaan?

"Oh, aku yakin itu adalah sendok yang bagus. Mereka berdua terlihat seperti pemakan-lelaki," katanya, bergoyang pada tumitnya saat dia mulai meregangkan ototnya sedikit.

"Apakah kita membicarakan Hannibal?"

"Tidak, lebih seperti Hall & Oates." Dia tertawa, melihat ke atas ke arahku saat dia meregangkan otot paha belakangnya. Tuhan, otot paha belakang. Bokong… bokong… dan bokong..

"Iya, jadi, mereka bisa mengusahakan ruangan yang mereka butuhkan." Kataku dengan merenung, mulai menjauh lagi.

"Dan bagaimana denganmu?" tanyanya, berdiri tegak.

"Bagaimana denganku apanya?"

"Oh, aku yakin Gadis Berlingerie Pink dapat mengusahakan ruang yang dia mau." Dia terkekeh, matanya berbinar.

"Eh, aku sedang mengusahakannya saat ini," aku berbalik dan berjalan menjauh dengan binarku sendiri.

"Bagus," dia menambahkan ketika aku melihatnya melalui bahuku.

"Oh, tolonglah, seperti kau tidak tertarik saja," aku berbicara kembali dari sekitar sepuluh kaki jauhnya.

"Oh, aku tertarik," teriaknya saat aku berjalan mundur, menggoyangkan pinggulku sementara dia bertepuk tangan.

"Sayang sekali aku tidak bisa bekerja sama dengan yang lainnya! Aku bukan gadis harem!" aku berteriak, secara praktis ada di ujung jalan.

"Gencatan senjata masih tetap berjalan?" teriaknya

"Aku tidak tahu, apa yang Luhan katakan?"

"Oh, Luhan bilang, Tentu saja. Itu tetap berjalan!" dia berteriak kembali saat aku berbelok di tikungan.

Aku berputar-putar, benar-benar melakukan putaran kecil. Aku tersenyum lebar saat aku bangkit, berpikir sebuah gencatan adalah hal yang bagus.

.

.

.

"Telur dadar dengan tomat, jamur, bayam, dan bawang putih."

"Tolong pancake-empat lapis- dengan pinggiran bacon. Dan aku ingin baconnya renyah, tolong, jangan gosong."

"Dua telur ceplok, roti gandum hitam panggang dengan olesan mentega di sampingnya, dan salad buah." Setelah memesan, kami duduk di dalam untuk kopi pagi dan bergosip.

"Okey, jadi katakan padaku apa yang terjadi setelah aku pergi tadi malam?" kata Baekhyun, menempatkan dagunya di tangannya dan berkedip manis padaku.

"Setelah kau pergi? Maksudmu setelah kau pergi meninggalkanku dengan tetangga gilaku untuk mengantarku pulang? Apa yang kau pikirkan? Dan memberitahu semua orang tentang cerita dia-masih-keras? Serius? Aku menghapus nama kalian berdua keluar dari surat wasiatku," aku tersentak, menelan kopi yang masih sangat panas dan membakar sepertiga dari lidahku. Aku membiarkan lidahku menggantung keluar dari mulutku untuk mendinginkannya.

"Pertama-tama, kami menceritakan tentang cerita itu karena itu lucu, dan lucu itu bagus," Sehun memulai, mengambil sebagian es dari gelasnya dan menyerahkannya padaku.

"Teyema khaseeh." aku berhasil berbicara, sambil menerima kubus es itu.

Dia mengangguk. "Dan yang kedua, kau tidak punya apa-apa untuk kau tinggalkan padaku, saat aku sudah mempunyai seluruh set buku masak Barefoot Contessa, yang kau sendiri yang membelikannya untukku. Jadi hapus saja aku dari wasiatmu. Dan yang ketiga, kalian berdua sedang murung dan tidak ada cara lain untuk membuatmu keluar dengan cowok baru kami."

"Cowok baru. Aku suka cowok baru." Baekhyun bertepuk tangan, terlihat seperti kartun Disney.

"Bagaimana perjalanan pulang?" Sehun bertanya.

"Perjalanan pulang? Well, menarik." Aku mendesah, sekarang menghisap balok es dengan rakus.

"Menarik yang bagus?" Pekik Baekhyun.

"Jika kau menyebut berhubungan seksual dengan seseorang di Jembatan Golden Gate menarik, maka iya." Jawabku, mengetuk jariku di meja dengan lembut. Mulut Baekhyun mulai melengkung ke bawah ketika Sehun menempatkan tangan kanannya di tangan kiri Baekhyun, yang hendak meremas garpunya menjadi sesuatu yang tak dikenali.

"Sayang, dia bercanda. Kita akan tahu kalau Minseok sudah berhubungan seksual tadi malam. Dia akan mempunyai warna kulit yang lebih baik." Hibur Sehun. Baekhyun mengangguk dengan cepat dan melepaskan garpunya. Aku mengasihani setiap laki-laki yang membuatnya marah salama melakukan handjob.

"Jadi, tidak ada hal menarik yang bisa diceritakan?" Sehun bertanya.

"Hey, kau tahu aturannya. Kau menceritakan, aku menceritakan." Jawabku, mata melebar saat sarapan kami datang. Setelah kami membagi pesanan masing-masing, Baekhyun yang mulai berbicara dulu.

"Apa kau tahu bahwa Tao pemain sepak bola untuk Stanford? Dan dia selalu ingin pergi ke siaran olahraga?" Dia menawarkan, secara metodikal memisahkan melonnya dari buahnya.

"Senang mengetahuinya. Apakah kau tahu Kris menjual beberapa program computer yang mengagumkan ke Hewlett Packard ketika dia baru dua puluh tiga tahun? Dan menyimpannya di bank, keluar dari pekerjaanya, dan menghabiskan dua tahun untuk mengajar Bahasa Inggris di Thailand?" dia menambahkan selanjutnya.

"itu juga sangat menyenangkan untuk diketahui. Apa kalian tahu bahwa Luhan tidak menganggap teman-teman wanitanya sebagai 'harem', dan Jonmyeon pada satu titik benar-benar mengatakan padanya tentang aku sebagai gadis yang berpontensi untuk di kencani?" Kami semua ber-hmmm dan mengunyah. Dan lanjut ke Putaran Kedua.

"Apa kau tahu bahwa Tao menyukai surfing? Dan dia mempunyai tiket symphony untuk minggu depan? Ketika dia tahu aku akan pergi denganmu, Sehun, dia menyarankan kita berdua ikut."

"Mmm, kedengarannya menyenangkan. Aku berpikir untuk bertanya ke Kris. Yang, omong-omong, juga suka surfing. Mereka semua melakukannya- mereka surfing di teluk kapanpun mereka bisa. Dan aku juga bisa bilang bahwa dia sekarang menjalankan amal dengan menempatkan computer dan bahan pendidikannya di sekolah-sekolah pedalaman di seluruh bagian California. Ini di sebut—" Sehun memulai.

"No Child Left Offline (Tak ada anak yang ditinggalkan tanpa jaringan)?" Baekhyun menyelesaikanya dengan cepat. Sehun mengangguk.

"aku suka yayasan amal itu! Aku menyumbang ke organisasi itu setiap tahun. Dan Kris yang menjalankannya? Wow...dunia yang kecil," renung Baekhyun saat dia mulai memotong telurnya.

Suasana menjadi tenang saat kami mulau mengunyah lagi, dan aku mencoba memecahkannya dengan mengatakan sesuatu yang lain tentang Luhan yang bukan tentang dia menciumku, aku menciumnya, atau dia yang menyadari pengakuan bawah sadarku secara verbal di malam hari.

"Um, Luhan mempunyai Too Short di iPodnya," gumamku, yang ditanggapi dengan hmm, dan aku tahu pembicaraanku tidak menarik.

"Musik sangat penting. Siapa laki-laki yang kau kencani yang albumnya sendiri sudah keluar?" Baekhyun bertanya.

"Tidak, tidak. Dia tidak mempunyai album yang sudah rilis. Dia mencoba menjual kaset CDnya keluar dari mobilnya. Bukan hal yang sama." Aku tertawa.

"Kau mengencani penyanyi yang lain juga—Coffee House Joe, ingat dia?" Sehun mengendus sarapannya.

"Ya, dia sekitar lima belas tahun terlambat untuk flanel, tapi ia mendapat nilai A untuk kecemasan. Dan itu lebih dari layak di tempat tidur. "Aku mendesah, mengenangnya.

"Kapan kencan hiatus yang di paksakan akan berakhir?" Tanya Baekhyun.

"Tidak pasti. Aku agak merasa tidak berkencan dengan siapapun."

"Tolonglah, siapa yang kau candai?" Sehun mengendus lagi.

"Kau butuh tisu di sana, Miss Piggy? Serius, ada terlalu banyak Cofffe Joe dan Machine Gun Corys. Aku hanya tidak tertarik berkencan lagi. Ini sudah terlalu banyak kegembiraan yang ada di sekitarku. Aku tidak menginvestasikan waktu dan upayaku sampai aku tahu itu akan berjalan kemana. Dan disamping itu, O tidak bekerja di tanah yang tak bertuan. Aku mungkin bergabung dengannya." Aku menambahkan, mencoba kopiku lagi dan menghindari mata mereka.

Mereka mempunyai O mereka, dan sekarang mereka mempunyai cowok baru. Aku tidak mengharapkan siapapun bergabung dengan kehidupan kencanku yang sedang cuti. Tapi sekarang wajah mereka terlihat sedih. Aku harus mengubah ini kembali kepada mereka.

"Jadi, tadi malam itu bagus untuk kalian, hah? Ciuman di pintu? Mengelap ludah?" Aku bertanya, tersenyum dengan hati-hati.

"Ya! Maksudku, Tao menciumku." Baekhyun mendesah.

"Oooh, aku yakin dia adalah pencium yang baik. Apakah dia memelukmu dengan erat dan menjalankan tangannya ke atas dan ke bawah punggungmu? Dia mempunyai tangan yang bagus. Apa kau menyadari tangannya? Tangannya sangat bagus," Sehun meracau, wajah di atas tumpukan pancakenya. Baekhyun dan aku saling tukar pandang dan menunggu dia kembali dari udara. Ketika dia melihat kami melihatnya, dia sedikit tersipu.

Aku tertawa dan mengalihkan perhatianku ke Baekhyun. "Jadi, apakah Mr. Tangan Bagus menggunakan Tangan Bagusnya?" Itu membuat Baekhyun tersipu.

"Sebenarnya, dia sangat manis. Hanya kecupan kecil di bibir dan pelukan selamat tidur di depan pintuku," dia menjawab dengan senyum lebar.

"Dan kau, Miss Thing? Apakah si jenius computer loyal dengan ciuman selamat malamnya?" aku tertawa.

"Um...yah. Dia memberiku sebuah ciuman selamat malam yang hebat," jawabnya, menjilat sirup yang ada di punggung tangannya. Dia tidak terlihat menyadari cara mata Baekhyun terbakar ketika dia menyebutkan ciuman selamat malam yang dia terima, tapi aku menyadarinya.

"Jadi, kau melarikan diri tadi malam tanpa cedera? Apa aku benar?" Baekhyun bertanya padaku, menyesap kopinya. Aku masih tetap menjaga lidahku yang sakit, jadi aku tetap memilih jus.

"Iya. Kami berakhir dengan gencatan senjata dan mencoba untuk lebih bertetangga.

"Apa sebenarnya artinya?" lanjutnya.

"Itu berarti dia akan mencoba untuk membatasi kegiatan lebih awal di malam hari, dan aku akan mencoba untuk lebih mengerti tentang kehidupan sexnya, senyaman yang aku bisa." Jawabku, membuka dompetku untuk mengambil beberapa uang.

"Satu minggu," gumam Sehun

"Ulangi lagi?"

"Maumu. Satu minggu. Itu adalah jangka waktu yang aku beri untuk gencatan senjata ini. Kau tidak dapat menyimpan pendapatmu untuk dirimu sendiri, dan dia tidak dapat menjaga Si Pengikik tetap diam. Satu minggu." Dia mengatakannya lagi saat Baekhyun hanya tersenyum.

Huh, akan kita lihat...

.

.

.

.

Senin pagi, cerah dan sangat awal, Jonmyeon datang dengan melenggang ke dalam kantorku.

"Tok tok," dia memanggil. Dia adalah gambaran dari kecantikan yang santai: rambutnya di sisir ke belakang menjadi sanggul longgar, dress kecil hitam di tubuh kecil coklatnya, kaki yang di buat untuk satu mil berakhir di fantovel merah. Fantovel yang mungkin seharga hampir gaji satu mingguku.

Dia adalah mentorku dalam segala hal, dan aku membuat catatan di pikiranku untuk memastikanku suatu hari nanti memperoleh ketenangan yang dia bawa bersamanya. Dia tersenyum saat dia melihat bunga baru di vas yang ada di mejaku. Minggu ini aku memilih tulip orange, tiga lusin.

"Pagi! Apa kau melihat bahwa Nicholsons menambahkan sebuah home theater? Aku tahu mereka akan datang." Aku tersenyum saat aku duduk di kursiku. Jonmyeon menempatkan dirinya di kursi di hadapanku dan balik tersenyum

.

"Oh, dan Baekhyun datang untuk makan malam nanti malam. Kami berharap untuk menyelesaikan rencana lemari baru yang dia desain. Dia ingin menambahkan karpet sekarang." Aku menggelengkan kepalaku dan menyesap kopi dari mug yang ada di mejaku. Lidahku sudah hampir sembuh.

Jonmyeon hanya terus tersenyum. Aku mulai berpikir jika aku mempunyai sebuah Cheerio terjebak di wajahku. "Apakah aku sudah mengatakan padamu aku sudah mendapatkan kesepakatan oleh perusahan kaca di Murano mengenai beberapa bagian yang aku pesan untuk lampu hias di kamar mandi?" aku memulai. "Ini akan menjadi sangat indah. Aku pikir kita jelas harus menggunakan mereka lagi." Aku menambahkan, tersenyum penuh harap.

Dia akhirnya mendesah dan mencondongkan tubuhnya ke depan dengan seringaian seekor kucing-sudah-makan-kenari-dan-kembali- untuk-bermain-dengan-bulunya.

"Jonmyeon, apa kau memasang gigi palsu pagi ini? Apa kau mencoba menunjukan gigi palsumu padaku?" tanyaku, dan akhirnya dia tersentak.

"Seperti jika aku pernah membutuhkan gigi palsu saja, pffft. Tidak, aku menunggumu untuk memberitahuku tentang tetanggamu, Mr. Lu. Atau aku harus memanggilnya Luhan si Penggedor dinding?" Dia tertawa, akhirnya duduk kembali ke kursinya dan memberiku tatapan yang berkata aku tidak akan di izinkan keluar dari ruanganku sampi aku mengatakan padanya semua yang ingin dia ketahui.

"Hmm, si Penggedor dinding. Kita akan mulai dari mana? Untuk yang pertama, kau tidak bisa mengatakan padaku kalau kau tidak tahu dia tinggal di sampingku. Bagamana bisa kau tinggal di sana selama ini dan tidak tahu dia adalah satu-satunya yang menggedor dinding setiap malam?" aku balik bertanya, melihatnya dengan tatapan sinis detektifku.

"Hey, kau tahu aku hampir tidak pernah tinggal di sana, terutama beberapa tahun terakhir. Aku tahu dia tinggal di sekitar sana, tapi aku tidak tahu kalau dia tinggal di samping apartemen yang aku sewakan! Ketika aku melihatnya, dia selalu dengan Lay, dan biasanya kami selalu keluar untuk minum atau kami mengundangnya untuk ke tempat kami. Apapun itu, ini adalah permulaan dari cerita yang hebat bukan?" godanya, menyeringai lagi.

"Oh, kau dan perjodohanmu. Luhan bilang kau menyebutkan tentangku kepadanya sebelumnya. Kau sangat menyebalkan."

Dia mengangkat tangannya di depannya. "Tunggu, tunggu, tunggu, aku tidak tahu kalau dia sangat, well, aktif. Aku tidak akan menyarankanmu jika aku tahu dia mempunyai banyak pacar. Lay pasti tahu...tapi ini adalah urusan pria, aku kira," balasnya.

Aku yang sekarang condong ke depan sekarang. "Jadi katakan padaku, bagaimana bisa dia kenal Lay?"

"Well, Luhan bukan asli dari California. Dia besar di Philadelphia walaupun ia berdarah Cina dan baru pindah ke sini saat dia pindah ke Stanford. Lay mengenalnya sepanjang hidupnya- dulu dia sangat dekat dengan ayahnya. Dia suka mengawasi Luhan -paman kesayangan, kakak laki-laki, ayah pengganti, yah semacam itulah." Katanya, wajahnya semakin melembut.

"Dulu benar-benar dekat dengan ayahnya? Apa mereka tidak mempunyai saudara jauh atau lainnya?" tanyaku.

"Oh tidak, tidak, Lay selalu menjadi teman baik dengan ayah Luhan. Dia adalah satu-satunya yang membimbingnya dari awal karirnya. Dia sangat dekat dengan seluruh keluarganya," katanya, matanya menjadi sedih.

"Tapi sekarang?" aku mendesaknya.

"Keluarga Luhan terbunuh saat dia masih di SMA," katanya pelan. Tanganku terbang ke mulutku.

"Oh tidak," aku berbisik, hatiku dipenuhi rasa simpati untuk orang yang baru saja aku kenal.

"Kecelakaan mobil. Lay bilang mereka meninggal dengan cepat, hampir seketika," balasnya.

Kami diam untuk sesaat, tenggelam dengan pikiran masing-masing. Aku bahkan tidak bisa memproses akan seperti apa rasanya bagi Luhan.

"Jadi setelah upacara pemakaman, dia tinggal di Philadelphia untuk sementara, dan dia dengan Luhan mulai membicarakan tentang dia yang akan bersekolah ke Standford," dia melanjutkan setelah beberapa menit.

Aku tersenyum membayangkan Lay melakukan semua yang dia bisa untuk membantu."Aku dapat membayangkan itu mungkin ide bagus untuk pergi jauh dari semuanya," kataku, berpikir bagaimana aku bisa tahan dengan hal-hal seperti itu.

"Mm-mm. Aku kira Luhan melihat kesempatan, dan dia mengambilnya. Dan tahu kalau Lay sangat dekat jika dia membutuhkan sesuatu? Aku kira itu membuat segalanya menjadi mudah," dia menambahkan.

"Kapan kau pertama kali bertemu dengan Luhan?" tanyaku.

"Saat kuliah. Dia menghabiskan waktu di Spanyol pada musim panas sebelumnya, dan ketika dia kembali pada bulan Agustus dia datang ke kota dan makan malam dengan kami. Lay dan aku berkencan pada saat itu, jadi dia mengenalku, tapi tidak benar-benar bertemu denganku," katanya.

Wow, Luhan pernah di Spanyol. Kasihan para penari flamenco* – mereka tidak punya kesempatan.

"Kami bertemu untuk makan malam, dan dia mempesona para pelayan dengan memesan dalam bahasa Spanyol. Kemudian dia memberitahu Lay jika dia cukup bodoh untuk meninggalkanku dia akan senang untuk- tunggu sebentar…apa dia bilang?- ah ya, dia akan senang untuk menghangatkan ranjangku." Dia tertawa, wajahnya merona merah.

Aku memutar mataku. Ini cocok dengan apa yang sudah aku ketahui tentangnya. Meskipun, sekurang ajar teman-temanku dan aku pernah menggoda Lay, ini adalah maling teriak maling.

"Dan begitulah bagaimana aku bertemu dengan Luhan," dia mengakhiri, matanya menjauh. "Dia benar-benar hebat, Seokie, disamping semua kegiatan penggedoran dinding itu."

"Iya, disamping semua penggedoran dinding," renungku, menjalankan jariku maju mundur di atas bunga.

"Aku harap kau bisa mengenalnya lebih baik lagi," katanya dengan sebuah seringian, biro jodoh sekali lagi.

"Tenang saja. Kami sudah gencatan senjata, tapi hanya itu." Aku tertawa, menggoyangkan jariku padanya.

Jonmyeon bangun dan mulai berjalan ke pintu. "Kau sangat lancang untuk seseorang yang bekerja padaku," katanya, berusaha terlihat marah.

"Well, aku akan menyelesaikan banyak pekerjaanku jika kau membiarkanku kembali bekerja dan menghentikan semua omong kosongmu!" kataku, terlihat marah juga padanya.

Dia tertawa dan melihat ke resepsionis. "Hey Maggie! Kapan aku kehilangan kendali atas kantor ini?" dia berteriak.

"Kau tidak pernah melakukan itu, Jonmyeon!" Maggie balik berteriak.

"Oh, pergilah buat kopi atau sesuatu! Dan kau," katanya, berbalik ke arahku dan menunjuk. "Desain sesuatu yang brilian untuk basement Nicholsons."

"Sekali lagi, semua dapat aku kerjakan saat kau pergi jauh dari sini..." gumamku, menekan pensil ke tanganku.

Dia mendesah. "Serius, Minseok, dia benar- benar manis. Aku pikir kalian bisa menjadi teman yang hebat," katanya, bersandar di ambang pintu. Kenapa dengan semua orang bersandar di ambang pintu akhir-akhir ini?

"Well, aku selalu bisa berteman dengan siapapun, sekarang, bisakah aku?" aku melambaikan tangan saat dia menghilang. Teman. Teman yang di melakukan gencatan senjata.

.

.

.

Tbc

Uhuk.. berhubung aku jarang bales review aku minta mangap banget ya, tapi tenang saja aku baca semua review kok.

Uh.. yang nanya mereka ini sebenernya orang luar yg punya nama korea atau korea yg punya nama luar maka jawabannya simple aja. Mrk asian yg hidup di luar. Kenapa aku gak ngubah sehun jadi rambut item soalnya aku rasa kalau tetep make rambut warna pirang strowberi sehun yg pucet jadi gak terlalu pucet lagi mukanya. Apa lagi sehunkan memang pernah ngewarnain rambutnya denngan warna merah tu jadi cocok lah ma si shopia. Dan lagi ini novel luar jadi yang pasti penggambarannya org luar banget. Tapi aku nyesuain ama image mereka kok. Sehunkn tinggi jd cocok untuk jadi Shopia n baekhyun yg mungil cocok jadi mimi yg mungil n berisik khas baekhyun yang sama banget ama image mimi di novelnya.

Yak.. gitu aja cuap-cuapnya. Ditunggu rivewnya ya.