.
.
.
ngoceh apa dulu ya akunya...?
ah... makasih buat yg review n tetep setia nungguin ff gaje ini. maaf kalau reviewnya gak sempet aku bales karena aku gak pernah lama mantengin ffn sekarang ini. post pun sekarang lama banget cs aku mulai sibuk n pusing sama skripsi yang sampe sekarang gak kelar-kelar karena terlalu lama aku anggurin.
semoga aja ni ff bisa cepet aku kelarin cs sebenernya ku cuma tinggal post doang, ini kan ff copas dr novel.
ngomong2.. kok pas banget ya, chap 10 reviewnya 100. aku nyengir aja liatnya.
oh iya... sider bisa kali ya mulai nampakin diri. gak susahkan klik kolom review n komen dikit buat ni ff. buat yg mau nunjukin diri aja sih. gak maksa kok akunya ama yg masih nyaman jadi sider.
kalau masih ada typo harap di maafkan ya reder sekalian. udah ah cuap-cuap gak pentingnya. tar yang ada aku malah curhat panjang lagi.
.
.
.
Aku duduk di kantorku sembari menatap keluar jendela seakan aku tidak memiliki kegiatan yang harus segera ku lakuan. Aku memiliki catatan pekerjaan yang menumpuk yang harus aku kerjakan hari ini. Aku harus mampir ke rumah Nicholson karena renovasi rumah mereka hampir selesai. Kamar tidur dan kamar mandi sudah selesai dan hanya meninggalkan beberapa rincian yang harus segera di tangani. Aku harus mengambil beberapa buku sampel baru dari pusat desain. Ada pertemuan dengan klien baru yang telah dirujuk Baekhyun untukku, dan di atas semua itu, aku punya folder penuh faktur untuk segera diperiksa.
Dan di anatara setumpuk kegiatan itu , aku masih memandang keluar jendela. Otakku mungkin masih memikirkan Luhan. Dan aku meikirkannya karena beberapa kejadian belakangan ini. Antara pipa yang bocor, gedoran kepala ranjang, dan saling mengirim pesan singkat terus-menerus sepanjang hari Minggu, ia menanyakan lagi sisa roti zukini, otakku secara alamiah tidak bisa menghapus dia. Dan kemudian tadi malam, ia mengeluarkan senjata besar: memutar lagu Glenn Miller untuku. Dia bahkan mengetuk dinding untuk memastikan aku mendengarkan. Aku meletakkan kepala di meja dan membenturkannya beberapa kali untuk melihat apakah cara ini berhasil untuk mengenyahkannya dari kepala ku. Cara ini tampaknya bisa berhasil pada Luhan…
.
.
.
.
Malam itu aku langsung pergi melakukan yoga setelah bekerja dan sedang menaiki tangga ke apartemenku ketika aku mendengar pintu terbuka dari atas.
"Minseok?" Luhan memanggilku.
Aku tersenyum dan terus menaiki tangga. "Ya, Luhan?" aku menyahut.
"Kau pulang terlambat."
"Apa kau mengawasi pintuku sekarang?" Aku tertawa, memutari anak tangga terakhir dan menatapnya. Dia menggantung di atas pagar, rambutnya nampak jatuh di wajahnya.
"Yep. Aku di sini untuk roti. Beri aku Zukini, lady!"
"Kau gila. Kau tahu itu, kan?" Aku menaiki tangga terakhir dan berdiri di depannya.
"Aku sudah diberitahu sebelumnya. baumu harum," katanya sembari membungkuk mendekatiku.
"Apa kau baru saja mengendusku?" Tanyaku tak percaya saat aku membuka pintu.
"Mmm-hmm, sangat harum. Baru saja kembali dari latihan?" Tanyanya, berjalan di belakangku dan menutup pintu.
"Yoga, kenapa?"
"Baumu harum saat kau berkeringat," katanya, menaik turunkan alisnya padaku layaknya iblis penggoda.
"Oh tolonglah, kau mengoda wanita dengan kalimat murahan seperti itu?" Aku berpaling darinya untuk melepas jaket dan meremas pahaku secara berlebihan.
"Hei nona, aku tidak mengatakan kalimat murahan. Baumu memang harum," aku mendengarnya berbicara, dan memejamkan mata untuk menghalang sihir Voodoo Luhan yang saat ini membuat Minseok Bagian Bawah menciut ke dalam dirinya sendiri.
Monggu datang meloncat keluar dari kamar tidur ketika mendengar suaraku dan berhenti mendadak ketika melihat Luhan. Akibatnya, ia jadi kurang keseimbangan di lantai kayu dan tergelincir dengan cukup tidak luwes di bawah meja makan. Mencoba untuk mendapatkan kembali martabatnya, ia mengeksekusi lompatan empat kaki yang sulit dari posisi berdiri ke rak buku dan melambai padaku dengan cakarnya. Dia ingin aku datang kepadanya- ciri khas para jantan. Aku menjatuhkan tas olahragaku dan menghampirinya.
"Hai, anak manis. Bagaimana harimu? Hmm? Apa kau bermain-main? Apa kau tidur nyenyak? Hmm?" Aku menggaruk belakang telinganya dan ia mendengkur keras. Dia menatapku dengan mata kucing yang menerawang dan kemudian mengalihkan pandangannya ke Luhan. Aku bersumpah dia menyeringai ala kucing padanya.
"Roti zukini, ya? Jadi kau mau lagi, ya?" Tanyaku sembari melemparkan jaketku pada sandaran kursi.
"Aku tahu kau masih punya lebih. Luhan bilang berikan itu padaku, "katanya tanpa ekspresi, ia membuat jarinya seperti pistol.
"Kau sepertinya kecanduan makanan yang dipanggang, ya? Ada grup pendukung untuk itu?" Tanyaku, berjalan ke dapur untuk mencari roti terakhir. Mungkin aku memang sudah menyimpan untuknya.
"Ya, aku masuk di BA. Bakers Anonymous. Kami bertemu di toko roti daerah Pine," jawabnya sambil duduk di bangku meja dapur.
"Grup yang bagus?"
"Cukup bagus. Ada satu yang lebih bagus di Market, tapi aku tidak bisa pergi ke sana lagi," katanya sedih sambil menggelengkan kepala.
"Dikeluarkan?" tanyaku, bersandar pada meja di depannya.
"Sebenarnya aku yang keluar, " katanya dan kemudian menggeser jarinya untuk menarikku dan membuatku bersandar lebih dekat. "Aku mendapat masalah karena meremas roti bulat," katanya berbisik.
Aku terkekeh dan mencubit ringan pipinya. "Meremas roti," aku mendengus saat dia menepis tanganku.
"Serahkan saja rotinya dan tidak akan ada yang terluka," ia memperingatkan.
Aku melambaikan tangan tanda menyerah dan meraih segelas anggur dari lemari di atas kepalanya. Aku mengangkat alis padanya dan dia mengangguk.
Aku menyerahkan padanya sebotol Merlot dan pembukanya, kemudian menyambar setangkai anggur dari saringan di lemari es. Dia menuang, kami mendentingkan gelas dan tanpa kata-kata, aku mulai membuat makan malam kami.
Tanpaku sadari sisa malam itu kami lewatkan dengan natural. Satu menit pertama kami mendiskusikan gelas wine yang baru kubeli dari Williams Sonoma dan tiga pulh menit kemudian kami duduk di meja makan dengan pasta di depan kami. Aku masih mengenakan pakaian olah ragaku dan Luhan memakai jeans, T-shirt dan berkaos kaki. Ia telah melepas sweater kaos Stanfordnya sebelum menyaring pasta, sesuatu yang bahkan tidak harus aku pinta untuk ia lakukan. Dia bergerak santai di dapurku dan telah menyaringnya lalu kembali dengan panci ditangannya saat aku selesai membuat saus.
Kami berbicara tentang kota, pekerjaannya, pekerjaanku, dan perjalanan kami yang akan datang ke Tahoe, dan sekarang kami menuju sofa sambil membawa kopi. Aku bersandar pada bantal dengan kaki terlipat di bawahku. Luhan sedang bercerita tentang perjalanan yang ia lakukan ke Vietnam beberapa tahun sebelumnya.
"Itu sesuatu yang belum pernah kau lihat sebelumnya, desa-desa di pegunungan, pantai-pantai yang indah, makanannya! Oh, Minseok, makanannya." Dia menghela napas, meregangkan lengannya di belakang sofa. Aku tersenyum dan mencoba untuk tidak merasakan kupu-kupu di perutku ketika ia mengatakan namaku seperti itu: dengan kata 'Oh' tepat di depannya...Oh Minseok, oh my.
"Kedengarannya menyenangkan, tapi aku benci makanan Vietnam. Aku tidak tahan dengan makanannya. Bolehkah aku membawa selai kacang?"
"Aku kenal seorang pria, ia membuat mie terbaik yang pernah ada, tepat di sebuah rumah perahu di tengah Ha Long Bay. Satu suapan dan kau akan membuang selai kacangmu."
"Oh Tuhan, aku berharap aku bisa melakukan perjalanan seperti yang kau lakukan. Apa kau pernah merasa muak dengan itu?" Tanyaku.
"Hmmm, ya dan tidak. Aku selalu senang pulang ke rumah. Aku suka San Francisco. Tapi kalau aku pulang terlalu lama aku gatal untuk kembali ke jalanan. Dan tidak ada komentar tentang gatal-aku mulai memahami pikiranmu itu, Gadis Bergaun Tidur Pink." Dia menepuk sayang lenganku.
Aku mencoba untuk berpura-pura tersinggung, tapi kebenarannya adalah aku sudah akan kembali membuat lelucon. Aku melihatnya masih menaruh tangannya di lenganku, tanpa sadar menjejaki lingkaran-lingkaran kecil dengan ujung jarinya. Apa memang benar-benar sudah begitu lama sejak aku membiarkan seorang pria menyentuhku sehingga lingkaran-lingkaran kecil yang ia buat membuatku menjadi gelisah? Atau apa karena orang ini yang melakukannya? Oh, Tuhan, ujung jarinya. Keduanya, melakukan sesuatu padaku. Jika aku menutup mataku, aku hampir bisa membayangkan O melambai padaku-masih jauh, tapi tidak sejauh seperti sebelumnya.
Aku melirik Luhan dan melihat bahwa dia sedang menonton tangannya yang membelai kulitku, seolah-olah ingin tahu tentang pengaruh jari-jarinya di kulitku. Aku menarik napas dengan cepat, dan tarikan napasku itu membuat matanya menatap mataku. Kami saling memandang satu sama lain. Minseok Bagian Bawah ku tentu saja menanggapi dengan semangat, tapi sekarang perasaanku mulai ikut sedikit liar juga.
Lalu Monggu melompat ke atas belakang sofa, mengarahkan pantatnya tepat ke wajah Luhan dan dengan sangat cepat menghentikan momen kami. Kami berdua tertawa dan Luhan menjauh dariku saat aku menjelaskan pada Monggu bahwa tidak sopan melakukan itu kepada tamu. Monggu tampak aneh dan merasa senang dengan dirinya sendiri, jadi aku tahu dia merencanakan sesuatu.
"Wow, hampir jam sepuluh! Aku sudah mengambil seluruh waktu malammu. Aku harap kau tidak punya rencana," kata Luhan, berdiri dan meregangkan badan. Saat ia menggeliat, T-shirtnya naik dan aku menggigit lidahku dengan keras untuk menahan diri dari pikiran untuk menjilat sedikit kulit yang terlihat di atas celana jinsnya.
"Well, aku memang menginginkan malam yang cukup menarik dengan menonton Food Network yang sudah direncanakan, jadi sialan kau, Luhan!" Aku mengacungkan tinjuku di wajahnya saat aku berdiri di sampingnya.
"Dan kau bahkan membuatkanku makan malam yang hebat, " katanya, mencari sweaternya.
"Tidak masalah. Menyenangkan memasak untuk orang lain selain diriku. Itu yang aku lakukan untuk setiap pria yang muncul untuk menuntut roti. " Akhirnya aku menyerahkan roti yang aku sisakan untuknya. Dia menyeringai saat ia meraih sweater kaosnya dari lantai sebelah sofa.
"Well, di waktu berikutnya, biarkan aku yang memasak untukmu. Aku akan membuat-huh, ini aneh, " ia menyela dirinya sendiri, meringis.
"Apanya yang aneh?" Tanyaku, mengamatinya membuka lipatan sweaternya.
"Ini terasa lembap. Sebenarnya, ini lebih dari lembap, ini... basah? " Tanyanya, menatapku bingung. Aku melihat bergantian dari sweater ke Monggu yang duduk tenang di belakang sofa. Dan aku tahu itu bukan hanya acting anak baiknya saja.
"Oh, tidak," bisikku, darah surut dari wajahku. "Monggu, dasar kucing sialan!" Kupelototi dia.
Dia melompat dari sofa dan melesat cepat di antara kakiku,lalu berlari menuju kamar tidur. Ia paham aku tidak bisa menjangkaunya di belakang lemari, dan di sanalah ia bersembunyi ketika melakukan hal yang sangat amat buruk. Dia sudah lama melakukan ini.
"Lu, kau mungkin ingin meninggalkan itu di sini. Aku akan mencuci, mengeringkan dan membersihkannya-apapun. Aku sangat-sangat menyesal," kataku meminta maaf, merasa amat sangat malu.
"Oh, dia yang melakukannya? Oh man, dia melakukannya, ya kan?" Wajahnya berkerut saat aku mengambil sweater darinya.
"Ya, ya, dia melakukannya. Maafkan aku, Lu. Dia melakukan hal ini untuk menandai wilayahnya. Ketika pria manapun meninggalkan pakaian di lantai-oh, Tuhan-ia akhirnya kencing di atasnya. Aku sangat menyesal. Aku sangat-sangat menyesal. Aku sangat-"
"Minseok, tidak apa-apa. Maksudku, itu menjijikan, tapi tidak apa-apa. Aku pernah mengalami hal-hal buruk yang terjadi padaku. Ini semua tidak masalah, aku bersumpah ini benar-benar bukan masalah besar." Dia mulai meletakkan tangannya di bahuku
"Maafkan aku, aku-" aku mulai lagi meminta maaf saat ia berjalan menuju pintu.
"Hentikan. Jika kau mengatakan maaf sekali lagi aku akan mengambil salah satu barangmu dan akan mengencinginya, aku bersumpah untuk itu."
"Oke, itu menjijikan." Aku akhirnya tertawa. "Tapi kita mengalami malam yang menyenangkan dan itu berakhir dengan kencing kucing!" Keluhku, membukakan pintu untuknya.
"Ini adalah malam yang menyenangkan, bahkan dengan kencing kucing diakhirnya sekalipun. Akan ada hal lainnya pada malam-malam yang akan datang. Jangan khawatir, Nightie Girl." Dia mengedipkan mata dan menyeberangi lorong.
"Mainkan untukku sesuatu yang bagus malam ini, ya?" pintaku, melihat dia pergi.
"Kau akan mendapatkannya. Tidur yang nyenyak," katanya dan kami menutup pintu bersamaan.
Aku bersandar ke pintu sembari memeluk sweaternya dalam pelukanku. Aku yakin ada senyuman terkonyol di wajahku saat aku mengingat sentuhan ujung jarinya pada kulit ku. Dan kemudian aku ingat aku memeluk sweater bernoda kencing.
"Monggu, dasar brengsek!" Aku berteriak dan berlari ke kamarku.
.
.
.
.
Jemari, tangan, kulit yang hangat menekan tubuhku dalam upaya untuk lebih dekat pada tubuhku. Aku merasakan napas hangatnya, suaranya seperti seks basah di telingaku.
"Mmm, Minseok, bagaimana kau bisa terasa senikmat ini?" Aku mengerang dan berguling, menautkan kaki dengan kaki dan tangan dengan tangan, mendorong lidahku masuk ke dalam mulutnya yang menunggu. Aku mengisap bibir bawahnya, mencicipi mint dan panas dan janji pada apa yang akan terjadi ketika ia mendorong masuk ke dalam tubuhku untuk yang pertama kalinya. Aku mengerang saat dia mengerang, dan dalam sekejap aku terjepit di bawah tubuhnya. Bibirnya bergerak dari mulutku ke leherku, menjilati dan mengisap dan menemukan suatu titik sensitifku-tempat di bawah rahangku yang membuat perutku meledak dan mataku membeliak nikmat. Sebuah tawa gelap penuh janji ku rasakan di daerah tulang selangkaku, dan aku tahu sudah terlena.
Aku berguling di atas tubuhnya, merasakan kehilangan berat tubuhnnya, tapi keuntungannya kedua kakiku berada di kedua sisi tubuhnya, merasakan dia berkedut dan berdenyut tepat di mana aku membutuhkannya seperti itu. Dia menyingkirkan rambut dari wajahku dan menatapku dengan matanya yang bisa membuatku melupakan namaku tetapi meneriakkan namanya.
"Luhan!" rengekku, merasa tangannya meraih pinggulku dan mendorongku melawan dirinya. Aku duduk tegak di tempat tidur, jantungku berdebar saat gambaran terakhir mimpi meninggalkan otakku. Kupikir aku mendengar tawa rendah dari sisi lain dinding di mana alunan Miles Davis terdengar.
Aku kembali berbaring, kulitku terasa sensitif saat aku mencoba untuk menemukan tempat yang sejuk di bantal. Aku memikirkan apa yang ada di sisi lain dinding itu, seinchi jauhnya. Aku berada dalam masalah.
.
.
.
.
Pagi harinya aku duduk di mejaku bersiap-siap untuk bertemu klien baru-orang yang secara khusus telah meminta untuk bekerja sama denganku. Masih seorang desainer baru, kebanyakan pekerjaan yang aku dapat berasal dari rekomendasi dan siapa pun yang merujuk pria ini untukku, aku berhutang sangat banyak. Semua interior baru untuk sebuah apartemen mewah-sebenarnya pekerjaan yang merupakan desain ulang, sebuah proyek impian.
Setiap kali aku melakukan persiapan untuk klien baru aku akan mengambil gambar dari proyek-proyek lain yang aku rancang dan sketsa telah siap pakai, tapi hari ini aku melakukannya dengan intensitas tertentu. Jika aku membiarkan pikiranku mengembara sedetik saja, Otakku dengan segera akan kembali ke mimpiku tadi malam. Aku tersipu setiap kali aku memikirkan apa yang akan aku biarkan Luhan lakukan untukku, dan apa yang Minseok akan lakukan juga kepadanya dalam mimpi ku semalam.
Minseok dan Luhan di dalam mimpi ku adalah anak-anak yang nakal.
"Ehem," aku mendengar suara dari belakangku. Aku berbalik untuk menemukan Ashley di ambang pintu.
"Minseok, Mr. Brown sudah ada di sini."
"Bagus, aku akan segera keluar." Aku mengangguk, berdiri dan merapikan rokku. Tanganku menekan pipiku, berharap wajahku tidak terlalu merah.
"Dan dia manis, manis, manis!" Gumamnya sambil berjalan di sampingku menyusuri lorong.
"Oh, benarkah? Pasti hari keberuntunganku." Aku tertawa, berbelok di sudut untuk menyambutnya.
Dia sudah pasti manis, dan aku tahu. Dia adalah mantan pacarku.
.
.
.
.
"Oh, Tuhanku! Apa kemungkinan dari sebuah kebetulan ini?" Seru Jonmyeon saat makan siang, dua jam kemudian.
"Well, mengingat seluruh hidupku sekarang tampaknya diatur oleh kebetulan yang aneh, kupikir saat ini semua berada tepat di jalurnya." Aku mematahkan sepotong tortilla dan mengunyah dengan kuat.
"Tapi maksudku, ayolah! Apa kemungkinan terbesarnya, benarkah ini hanya sebuah kebetulan semata?" Ia bertanya-tanya lagi, menuangkan kami masing-masing segelas Pellegrino lagi.
"Oh, tidak ada kemungkinan tentang hal ini. Pria ini tidak pernah membiarkan hal-hal seperti itu terjadi secara kebetulan. Dia tahu persis apa yang dia lakukan ketika dia mendekatimu di acara amal itu bulan lalu."
"Tidak," desahnya.
"Yap. Dia bilang padaku. Dia melihatku, dan ketika ia mengetahui aku bekerja untukmu? Bam! Dia membutuhkan seorang desainer interior." Aku tersenyum, memikirkan bagaimana ia selalu mengatur hal-hal persis seperti yang diinginkannya. Well, hampir segalanya.
"Jangan khawatir, Minseok. Aku akan memindahkannya ke desainer lain, atau bahkan aku yang akan melakukannya sendiri. Kau tidak harus bekerja dengannya," katanya, sambil menepuk-nepuk tanganku bermaksut untuk memberiku rasa nyaman yang tidak ku butuhkan untuk saat ini.
"Oh, persetan tidak! Aku sudah bilang ya. Aku benar-benar akan melakukan hal ini." Aku menyilangkan tangan di depan dada.
"Apa kau yakin?"
"Yap. Tidak masalah. Kami tidak putus dengan cara yang buruk atau bahkan mengerikan. Bahkan, sejauh putus itu terjadi, bisa dikatakan semuanya baik-baik saja. Dia memang tidak mau menerima kenyataan bahwa aku meninggalkannya, tapi akhirnya dia bisa menerimanya. Dia tidak mengira aku punya nyali untuk melakukannya, dan oh boy, dia terkejut." Aku memainkan serbetku.
Aku berpacaran dengan James ditahun-tahun terakhirku di Berkeley. Dia kuliah di jurusan hukum, dengan mantap melaluinya menuju masa depan yang sempurna. Ya ampun, dia mempesona-kuat dan tampan, dan juga sangat menawan. Kami bertemu di perpustakaan suatu malam, minum kopi beberapa kali, dan itu berkembang menjadi sebuah hubungan yang solid.
Seksnya? Tidak nyata.
Dia adalah pacar serius pertamaku, dan aku tahu dia ingin menikahiku di beberapa kesempatan. Dia memiliki rencana yang sangat spesifik tentang apa yang ia inginkan dari hidupnya, dan yang pasti termasuk aku sebagai istrinya. Dan dia adalah segala sesuatu yang pernah kupikir aku inginkan pada seorang suami. Pertunangan tak terelakkan. Tapi kemudian aku mulai melihat hal-hal kecil yang mengganggu pada awalnya, tapi seiring waktu itu mengungkapkan gambaran besar yang membuatku berubah pikiran. Kami pergi ketempat yang ia ingin datangi untuk makan malam. Aku tidak pernah ia biarkan untuk memilih tempat yang akan kami datangi. Aku mendengar dia mengatakan kepada seseorang bahwa dia pikir fase "mendekorasi"ku tidak akan bertahan lama, tapi akan sangat bagus memiliki istri yang bisa membuat rumah nampak indah untuk dipandang dan ditempati.
Seksnya masih hebat, tapi aku jadi lebih dan lebih jengkel padanya dan aku sampai pada tahap berhenti berpikir untuk terus melanjutkan hubungan kami. Ketika aku mulai menyadari dia bukan lagi apa yang aku inginkan untuk masa depanku, hal-hal sederhana menjadi sedikit berlebihan. Kami selalu bertengkar dan ketika aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan, ia mencoba untuk meyakinkanku bahwa aku membuat pilihan yang salah.
Aku tahu lebih baik apa yang aku inginkan, dan akhirnya dia bisa menerima bahwa aku benar-benar selesai dengannya dan bukan hanya melemparkan "serangan feminin", begitu ia suka menyebutnya. Kami tidak pernah berhubungan lagi, tapi ia telah menjadi bagian besar dalam hidupku untuk waktu yang lama dan aku menghargai kenangan yang kami miliki bersama. Aku menghargai apa yang dia ajarkan padaku tentang diriku sendiri. Hanya karena kami tidak berhasil sebagai pasangan bukan berarti kami tidak bisa bekerja sama, kan?
"Kau yakin tentang dengan ini? Kau benar-benar ingin bekerja sama dengannya?" Tanya Jonmyeon sekali lagi, tapi aku tahu dia sudah siap untuk melepaskannya.
Aku memikirkannya lagi, mengulang kilatan memori yang aku punya ketika aku melihatnya berdiri di lobi. Rambut pirang pasirnya, mata yang tajam, senyum menawan: Aku telah dihantam oleh gelombang nostalgia dan tersenyum saat dia berjalan ke arahku.
"Hei, orang asing," katanya, menawarkanku tangannya.
"James!" Aku tersentak, namun pulih dengan cepat. "Kau tampak hebat!" Kami berpelukan, di depan Ashley yang melongo terkejut.
"Ya, aku yakin," kataku pada Jonmyeon. "Ini akan bagus bagiku. Sebut saja pengalaman yang membuat kemajuan. Plus, aku tidak mau menyerah pada komisinya. Kita akan lihat apa yang terjadi malam ini. "
Mendengar ucapanku Jonmyeon mendongak dari menunya. "Malam ini?"
"Oh, aku tidak memberitahumu? Kami akan pergi minum supaya lebih akrab lagi."
.
.
.
.
Aku berdiri di depan cermin, merapikan rambutku dan memeriksa gigiku untuk memastikan bahwa tidak ada lipstik yang menempel. Sisa hari ku telah berlalu dengan cepat, dan sekarang aku mendapati diriku berada di rumah, bersiap-siap untuk malam ini. Kami telah sepakat hanya akan minum, kami akan melewati malam ini dengan sangat santai, meskipun aku memberikan pilihan terbuka untuk makan malam. Tapi jins ketat, baju turtleneck hitam, dan jaket kulit abu-abu tiga perempat ini saja yang aku anggap bagus untuk dikenakan malam ini.
Waktu yang aku habiskan pagi ini dengan James di kantor menyenangkan dan ketika dia memintaku pergi minum untuk pendekatan aku langsung setuju. Aku sangat ingin tahu apa tujuannya, serta memastikan bahwa kami akan bisa bekerja sama.
Dia menjadi bagian besar dari hidupku pada satu waktu, dan ide untuk bisa bekerja dengan seseorang yang pernah begitu dekat denganku terasa sangat baik untukku. Rasanya dewasa. Sebuah Closure? Tidak yakin harus menyebutnya apa, tapi sepertinya hal yang wajar untuk dilakukan.
Dia menjemputku jam tujuh dan aku berencana untuk menemuinya di luar. Satu lirikan pada jam mengatakan sudah waktunya untuk pergi, jadi aku memberikan ciuman cepat selamat tinggal kepada Monggu yang telah berperilaku sangat baik sejak insiden kencing dan membawa diriku berjalan menuju lorong.
Dan langsung menabrak Luhan yang berada tepat di depan pintu rumahku.
"Oke, kau secara resmi menjadi penguntitku! Tidak ada lagi roti zukini, mister. Aku harap kau membuat roti itu bertahan lama karena tidak ada lagi roti untukmu," aku memperingatkan, mendorongnya mundur dari pintu depanku dengan jari telunjukku.
"Aku tahu, aku tahu. Aku benar-benar di sini untuk urusan resmi. " Dia tertawa, mengangkat tangannya dalam pose menyerah.
"Jalanlah denganku?" Aku bertanya, mengangguk ke arah tangga.
"Aku juga mau keluar. Menyewa film, " jelasnya saat kami mulai berjalan menuruni tangga
"Orang-orang masih menyewa film saat ini? " candaku saat kami berbelok di sudut.
"Ya, orang-orang masih menyewa film. Oleh karena itu kau harus menonton apapun yang aku pilih," jawabnya sambil mengangkat alis.
"Malam ini?"
"Tentu, mengapa tidak. Aku datang untuk memastikan apa kau mau bergabung dengan ku. Aku berutang makan malam tempo hari, dan aku ingin menonton sesuatu yang seram ..." Dia mulai menirukan tema The Twilight Zone.
Aku tidak bisa menahan tawa pada cakar tangan dan mata juling yang di buatnya. "Terakhir kali seseorang memintaku untuk menyewa film itu adalah kode untuk 'mari kita bercumbu di sofa.' Apa aku aman denganmu?"
"Please! Kita punya gencatan senjata, ingat? Aku sangat mentaati gencatan senjata. Jadi, malam ini?"
"Aku harap aku bisa, tapi aku punya rencana malam ini. Besok malam?" Kami mengitari tangga terakhir dan tiba di pintu keluar.
"Besok aku bisa. Datanglah setelah bekerja. Tapi aku yang memilih film, dan aku yang membuatkanmu makan malam. Setidaknya itu yang bisa aku lakukan untuk cockblocker kecilku." Dia menyeringai dan aku meninju lengannya.
"Tolong berhentilah memanggilku seperti itu. Kalau tidak, aku tidak akan membawa makanan penutup," kataku, merendahkan suaraku dan mengedip-ngedipkan mataku seperti orang bodoh.
"Makanan penutup?" Tanyanya, menahan pintu terbuka saat aku berjalan keluar.
"Mmm-hmm. Aku membeli beberapa apel kemarin saat aku keluar, dan aku sudah menginginkan pie sepanjang minggu. Bagaimana menurutmu?" Tanyaku, mengamati jalanan untuk mencari James.
"Pie apel? Pie apel buatan sendiri? Ya Tuhan, nona, kau mencoba membunuhku? Mmm..." Dia mendecakkan bibir dan menatapku lapar.
"Kenapa, Sir, kau terlihat seperti melihat sesuatu yang ingin kau makan," aku membalas dengan aksen Scarlett terbaikku.
"Kau datang dengan pie apel besok malam dan aku tidak akan membiarkanmu pergi," desahnya, pipinya merah dan rambut berantakannya tertiup udara dingin.
"Itu akan jadi mengerikan," bisikku. Wow. "Oke, jadi, pergilah sewa filmnya," kataku dengan main-main mendorong pria setinggi enam kaki seksi ini di depanku. Ingat harem! Aku berteriak di dalam kepalaku.
"Seokie?" Sebuah suara heran datang dari belakangku dan aku berpaling untuk melihat James berjalan ke arah kami.
"Hei, James," seruku, menjauh dari Luhan sambil cekikikan.
"Kau siap untuk pergi?" tanyanya, melihat Luhan dengan hati-hati. Luhan meluruskan badannya selurus-lurusnya dan melihat ke belakang tubuhnya, sama hati-hatinya.
"Yap, siap untuk pergi. Luhan, ini adalah James. James, Luhan." Mereka membungkuk untuk berjabat tangan, dan aku bisa melihat mereka berdua memberikan genggaman dengan kekuatan ekstra, tidak tampak satupun dari mereka ingin melepaskan tangan terlebih dahulu. Aku memutar mataku. Ya, dasar lelaki. Kalian berdua bisa menulis nama kalian di salju. Pertanyaannya adalah, siapa yang akan membuat huruf yang lebih besar?
"Senang bertemu denganmu, James. James, kan? Aku Luhan. Lu han."
"Benar. James. James Brown." aku melihat bias tawa di wajah Luhan.
"Oke, James, kita harus segera pergi. Luhan, Kita akan bicara nanti," aku menyela, mengakhiri jabat tangan abad ini. James berbalik arah dimana mobilnya diparkir ganda dan Luhan menatapku.
"Brown? James Brown? " Bisiknya, dan aku menahan tertawaku sendiri.
"Sstt," bisikku kembali, tersenyum pada James saat ia berbalik kembali padaku.
"Senang bertemu denganmu, Luhan. Sampai jumpa," kata James, mengarahkanku ke mobil dengan tangannya di punggungku. Aku tidak berpikir dua kali tentang hal itu, karena itu adalah hal yang biasa kami lakukan saat kami jalan bersama-sama, tapi mata Luhan melebar sedikit saat melihat itu.
Hmm...
James membuka pintu untukku, kemudian menuju ke sisinya. Luhan masih berdiri di depan gedung kami ketika kami melaju pergi. Aku menggosok tangan bersamaan di depan pemanas dan menyeringai pada James saat ia mengemudi melalui kemacetan.
"Jadi, ke mana kita pergi?"
.
.
.
.
Kami membuat diri kami senyaman mungkin di bar mewah yang dia pilih. Tampaknya begitu khas James: trendy dan modern, dan dicampur dengan seksualitas yang tersembunyi. Sofa kulit merah gelap yang empuk dan sejuk melindungi kami saat kami menempatkan diri dan memulai proses mengenal satu sama lain setelah bertahun-tahun terpisah.
Saat kami menunggu pelayan datang, aku memperhatikan wajahnya. Dia masih tampak sama: rambut pirang pasir dipotong pendek, mata yang intens, dan perawakan ramping yang begitu luwes seperti kucing. Umur hanya meningkatkan ketampanan dirinya, celana jins yang dirobek dengan cermat dan sweater kasmir hitam yang menempel ke badan yang bisa kulihat dalam kondisi sangat baik.
James seorang pemanjat tebing, tak kenal lelah oleh pencariannya dalam olahraga. Ia memandang setiap batu, setiap gunung sebagai hambatan untuk di atasi, sesuatu yang harus ditaklukkan.
Aku pernah pergi mendaki dengannya beberapa kali menjelang akhir hubungan kami, meskipun aku dibesarkan takut dengan ketinggian. Tapi melihatnya memanjat, melihat otot berotot yang meregang dan memanipulasi tubuhnya ke posisi yang tampak tidak wajar adalah pengalaman yang memabukkan, dan aku menerkamnya malam-malam di tenda seperti wanita kesurupan.
"Apa yang kau pikirkan?" ia bertanya, membuyarkan lamunanku.
"Aku berpikir seberapa sering dulu kau mendaki. Apa kau masih sering melakukannya?"
"Masih, tapi aku tidak memiliki banyak waktu luang seperti dulu. Mereka membuatku cukup sibuk di perusahaan. Aku mencoba dan keluar ke Big Basin sesering yang aku bisa," tambahnya sambil tersenyum saat pelayan kami mendekat.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk kalian berdua?" Tanyanya, menempatkan serbet di depan kami.
"Untuknya vodka martini kering, tiga zaitun, dan untukku bawakan tiga jari Macallan," jawabnya. Pelayan mengangguk dan pergi untuk mengambil pesanan kami. Aku mengamatinya saat ia duduk kembali, kemudian tatapannya berbalik padaku.
"Oh, Minseok, aku minta maaf. Apa kau masih minum itu?"
Aku menyipitkan mata ke arahnya. "Seperti yang sering terjadi, ya. Tapi bagaimana jika aku tidak ingin itu malam ini? " Jawabku tegas.
"Salahku. Tentu saja, apa yang ingin kau minum?" Dia melambai kembali pada pelayan.
"Aku mau vodka martini kering dengan tiga zaitun, please, " kataku pada pelayan sambil mengedipkan mata. Dia terlihat bingung. James tertawa keras dan pelayanpun pergi, menggelengkan kepalanya.
"Touche, Minseok. Touche." Katanya sembari mengamatiku lagi.
"Jadi, ceritakan padaku apa yang kau lakukan beberapa tahun terakhir." Aku menaruh sikuku di atas meja dan daguku di tangan.
"Hmm, bagaimana cara yang tepat untuk menyingkat bertahun-tahun dalam beberapa kalimat? Selesai sekolah hukum, bekerja di salah satu perusahaan di kota ini, dan bekerja seperti di kejar anjing selama dua tahun. Aku sudah bisa mengurangi sedikit waktu kerja ku, hanya sekitar enam puluh lima jam seminggu sekarang, dan kuakui rasanya nikmat bisa melihat waktu siang lagi." Dia menyeringai, dan aku tidak bisa menahannya kecuali balas tersenyum.
"Dan tentu saja bekerja sebanyak s yang aku lakukan memberikan sedikit waktu untuk kehidupan social ku, jadi itu hanya sebuah keberuntungan saat aku melihatmu di acara amal bulan lalu," tuntasnya lalu mencondongkan tubuhnya ke depan sembari bertumpu pada sikunya. Jonmyeon menghadiri banyak acara sosial di sekitar kota dan aku menemaninya di beberapa kesempatan. Bagus untuk bisnis. Seharusnya aku tahu aku nantinya tidak sengaja bertemu James di salah satu pesta riuh itu.
"Jadi kau melihatku, tapi kau tidak menghampiri dan bicara padaku. Dan sekarang kau ada di sini, berminggu-minggu kemudian, memintaku untuk mengerjakan kondominiummu. Kenapa begitu, tepatnya?" Aku menerima minumanku saat minuman itu tiba dan meminumnya dengan tegukan panjang.
"Aku ingin bicara denganmu, percayalah. Tapi aku tidak bisa. Begitu banyak waktu yang telah berlalu. Lalu aku menyadari kau bekerja untuk Jonmyeon, seorang teman telah merekomendasikannya padaku, dan kupikir, 'betapa sempurnanya itu.'" Dia mencondongkan gelasnya ke gelasku untuk mendentingkannya. Aku berhenti sejenak, lalu mendentingkannya.
"Jadi kau serius tentang bekerja denganku? Ini bukan semacam cara untuk mendapatkanku di tempat tidur mu, kan? " Dia menatapku datar.
"Masih blak-blakan seperti biasa, ku rasa. Tapi tidak, ini adalah urusan profesional. Aku tidak suka cara kita berpisah, aku akui, tapi aku menerima keputusanmu. Dan sekarang kita di sini. Aku butuh dekorator. Kau adalah dekorator. Bekerja dengan baik, kan?"
"Desainer," kataku pelan.
"Apa,?"
"Desainer," kataku, kali ini lebih keras. "Aku seorang desainer interior, bukan dekorator. Ada perbedaan, Tuan Pengacara." Aku meneguk lagi minumanku.
"Tentu saja, tentu saja," jawabnya, memberi tanda untuk pelayan. Terkejut, aku melihat ke gelasku sudah kosong.
"Mau lagi?" Tanyanya dan aku mengangguk.
Saat kami berbincang ringan selama satu jam berikutnya, kami juga mulai membahas apa yang diperlukan di rumah barunya. Jonmyeon memang benar. Dia benar-benar memintaku untuk merancang seluruh tempatnya, dari karpet sampai perlengkapan pencahayaan dan segala sesuatu di antaranya. Ini akan menjadi komisi besar, dan ia bahkan setuju untuk membiarkan aku memotretnya untuk majalah desain lokal yang Jonmyeon sudah lama ingin aku ajukan.
James berasal dari keluarga orang kaya- Keluarga Brown dari Philadelphia, dan aku tahu mereka pasti yang membayar sebagian besar tagihan untuk renovasi ini. Pengacara muda tidak cukup mampu untuk membeli jenis tempat yang saat ini ia tinggali, apalagi di salah satu kota paling mahal di Amerika. Tapi dia memiliki dana perwalian dan itu dalam jumlah yang besar. Salah satu manfaat dari berkencan dengannya di perguruan tinggi adalah kami benar-benar mampu berkencan dengan nyata, bukan cuma restoran cepat saji murah sepanjang waktu. Aku menikmati aspek itu saat bersamanya. Aku tidak bohong. Dan aku akan menikmati aspek itu dalam proyek ini. Anggaran yang pada dasarnya tidak terbatas? Aku tak sabar menunggu untuk memulainya.
Pada akhirnya, itu adalah malam yang menyenangkan. Seperti semua mantan pacar, ada perasaan mengenal, sebuah nostalgia yang hanya dapat kau bagi dengan seseorang yang telah mengenalmu secara intim, terutama pada usia itu ketika kau masih beranjak dewasa. Menyenangkan bisa bertemu lagi. James memiliki kepribadian yang sangat kuat, intens dan percaya diri, dan aku teringat kenapa aku tertarik padanya dulu. Kami tertawa dan bercerita tentang hal-hal yang telah kami alami sebagai pasangan dan aku merasa lega menemukan pesonanya itu tetap ada. Kami bisa mengobrol dengan santai. Tidak akan ada kecanggungan yang menyertai obrolan kami.
Saat larut malam dan ia mengantarku pulang, ia sempat memberiku pertanyaan yang aku tahu sudah dia tahan-tahan untuk tanyakan. Dia menghentikan mobil didepan gedungku dan berpaling padaku.
"Jadi, apakah kau sedang bersama seseorang?" Tanyanya lirih.
"Tidak. Dan itu bukan pertanyaan yang seorang klien tanyakan padaku," godaku dan memandang ke arah gedungku. Aku bisa melihat Monggu duduk di jendela depan di posnya yang biasa dan aku tersenyum. Rasanya menyenangkan memiliki seseorang yang menunggu untukku. Aku tidak bisa menahan diri untuk melirik ke rumah sebelah untuk melihat apakah ada cahaya di dalam apartemen Luhan, dan aku juga tidak bisa menghentikan perutku merasakan sedikit gejolak ketika aku melihat bayangannya di dinding dan cahaya biru televisinya.
"Well, sebagai klienmu, aku akan menahan diri untuk bertanya pertanyaan semacam itu di masa mendatang, Miss Kim," Dia terlekeh.
Aku berbalik untuk menghadapnya. "Tidak apa-apa, James. Kita sudah lama melewati hubungan desainer-klien. " Aku merasa menang karena aku melihat rasa malu terukir di celah kepura-puraannya yang hati-hati.
"Aku rasa ini akan menjadi kerja sama yang menyenangkan." Dia mengedipkan mata dan giliranku untuk tertawa.
"Oke, kau bisa menelponku besok di kantor dan kita akan segera memulai. Aku akan merampokmu dengan membabi buta, buddy, bersiaplah untuk memperkerjakan kartu kredit itu," ejekku saat melangkah keluar dari mobil.
"Oh Ya Ampun, aku akan menunggu itu." Dia mengedipkan mata dan melambai padaku.
Dia menunggu sampai aku berada di dalam, jadi aku melemparkan lambaian lain ke arahnya saat pintu tertutup. Aku senang aku bisa membuat diriku sendiri merasa nyaman dengannya. Di lantai atas, saat aku memutar kunci di lubang kunci, kupikir aku mendengar sesuatu. Aku menoleh lewat bahuku dan tidak ada apapun di sana. Monggu memanggilku dari dalam, jadi aku tersenyum dan melangkah, meraupnya dan berbisik lembut di telinganya saat dia memberiku pelukan kucing kecil dengan cakar besarnya di sekitar leherku.
.
.
.
.
Tbc
