lama banget ya aku updatenya. maafkan aku... salahin aja internet yang beberapa hari error di daerahku jadi baru sempet update sekarang. makasih buat yang udah review ^^. maaf gak bales atu-atu. alurnya lambat ya?. kalau kata aku sih nggak cs setelah mereka keTahoe nanti mereka udah mendekati ending. jadi sabar ya. aku jugakan ngikutin alur novelnya. oh iya, bakso disini kalian taulah ya versi luarnya apa. kalau aku pake bola daging kepanjangan n aku ngikutin novel terjemahannya aja yag make bakso n bukan bola daging.

udah ah ngoceh gak jelasnya.

happy reading all

.

.

.

.

Aku terbangun beberapa jam kemudian, terkejut oleh kehangatan tubuh sampingku, yang pasti lebih besar dari kucing yang biasanya meringkuk di sampingku. Aku berguling telentang dengan hati-hati dan menjauh dari Luhan sehingga aku bisa menatapnya. Aku bisa tahu ia baik-baik saja karena lampu menyala, bersama dengan semua lampuku yang lain yang terus menyala sepanjang malam, berusaha menahan pengaruh buruk dari film mengerikan itu. Aku mengusap mataku dan memeriksa teman tidurku. Dia berbaring telentang, lengannya tertekuk seolah aku masih di dalam pelukannya dan aku membayangkan betapa nyaman rasanya berpelukan dengan Luhan.

Tapi aku tidak boleh meringkuk dalam pelukan Luhan. diriku lebih tahu efek keberadaannya disisiku. Saraf-sarafku juga akan langsung terbangun dengan keberadaannya. Dan keberadaannya itu pasti cocok di ibaratkan dengan lereng yang sangat, sangat licin dan berbahaya. Dan meskipun gambaran tentang menaiki tubuh Luhan yang licin segera datang ke pikiranku jauh dari kata polos, aku menyingkirkannya. Aku berpaling darinya dan melihat selimut afghan yang sangat nyaman terbelit di antara kakinya—dan kakiku, sebenarnya.

Selimut itu adalah milik ibunya. Hatiku pilu setiap kali mengingat suaranya yang manis dengan malu-malu membagi kepingan memori kecil itu denganku. Dia tidak tahu aku bicara dengan Jonmyeon tentang masa lalunya, yang aku tahu orangtuanya sudah meninggal. Kenyataan bahwa ia masih menggunakan afghan ibunya tak terelakkan manisnya, dan sekali lagi hatiku sedih karenanya.

Aku cukup dekat dengan orangtuaku. Mereka masih tinggal di rumah yang sama di mana aku dibesarkan, di sebuah kota kecil di California selatan. Mereka adalah orangtua yang hebat, dan aku menjenguk mereka sesering mungkin, yang berarti liburan dan terkadang akhir pekan. Ciri khas orang-orang berusia dua puluhan, aku menikmati kebebasanku. Tapi orang tuaku berada di sana ketika aku membutuhkan mereka, selalu ada. Pemikiran bahwa suatu hari nanti aku harus menjalani hidup ini tanpa petunjuk dan bimbingan mereka membuatku meringis, belum lagi jika kehilangan kedua orangtua saat baru berumur delapan belas tahun.

Aku senang Luhan tampaknya memiliki teman-teman yang baik dan seorang pengacara yang kuat seperti Lay yang mengawasinya. Tapi sedekat apapun teman dan kekasih, ada sesuatu tentang memiliki seseorang yang benar-benar memberimu akar tempat bertahan—akar yang terkadang kau perlukan ketika dunia bertarung menentangmu.

Luhan sedikit menggeliat dalam tidurnya, dan aku memerhatikannya lagi. Dia menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kupahami, tapi terdengar sedikit mirip "bakso." Aku tersenyum dan membiarkan jemariku menyelinap ke rambutnya, merasakan rambut selembut sutranya yang berantakan di bantalku. Ya Tuhan, dia memberiku bakso yang enak.

Saat aku membelai rambutnya, pikiranku melayang ke saat di mana bakso mengalir tanpa henti dan kue pai untuk berhari-hari. Aku tertawa sendiri saat kantuk datang kembali dan aku berbaring kembali ke pelukan. Saat aku merasakan kenyamanan yang hanya dapat diberikan oleh lengan hangat seorang pria, alarm kecil berdering di kepalaku, memperingatkan aku agar jangan terlalu dekat. Aku harus berhati-hati.

Jelas kami berdua tertarik satu sama lain dan jika kami berada dalam ruang dan waktu yang lain, seks pasti telah berdering di seluruh negeri dan terjadi sepanjang waktu. Tapi ia punya harem dan aku sedang mengalami hiatusku, belum lagi aku tidak mendapat O-ku. Jadi kami akan tetap sebagai teman saja. Teman yang makan bakso bersama. Teman yang meringkuk bersama. Teman yang segera akan menuju ke Tahoe.

Aku membayangkan Luhan berendam dalam bak mandi air panas dengan Danau Tahoe membentang dalam segala kindahan di belakangnya. Pemandangan yang mana terlihat lebih menawan dan tetap harus dilihat. Aku kembali tidur, hanya sedikit terbangun ketika Luhan merapat ke tubuhku lebih dekat. Dan meskipun nyaris berbisik aku mendengarnya. Dia mendesah menyebut namaku. Aku tersenyum saat aku jatuh tertidur lagi

.

.

.

.

Keesokan paginya aku merasakan sentuhan terus-menerus di bahu kiriku. Aku mengibaskannya pergi, tapi itu terus berlanjut.

"Monggu, hentikan, brengsek," aku mengerang, menyembunyikan kepala di bawah selimut. Aku tahu ia tidak akan berhenti sampai aku memberinya makan. Makhluk yang satu itu dikuasai oleh perutnya. Lalu aku mendengar suara tawa manusia, pelan dan pastinya bukan Monggu.

Mataku terbuka lebar dan gambaran kejadian semalam datang menyerbu: filem horror, kue pai, dan pelukan. Aku menjulurkan kaki kananku ke belakang, menggesekkannya di sepanjang tempat tidur sampai aku merasa kakiku berhenti menyentuh sesuatu yang hangat dan berbulu. Meskipun aku sekarang lebih yakin dari sebelumnya bahwa itu bukan Monggu, aku menyentuhnya dengan jari kakiku, merayap keatas sampai aku mendengar tawa berikutnya.

"Penggedor Dinding?" Bisikku, tidak ingin membalikkan badan. Persis seperti yang diperkirakan, aku telentang secara diagonal di tempat tidur, kepala di satu sisi, kakiku praktis di ujung yang lain.

"Satu-satunya," suara yang merdu berbisik di telingaku.

Jari kaki dan Caroline Bagian Bawah-ku menggeliat. "Sial." Aku berguling telentang untuk memeriksa keadaan. Dia meringkuk di salah satu sudut di mana tubuhku mengizinkannya. Kebiasaan berbagi tempat tidurku tidak mengalami peningkatan sama sekali.

"Kau memang bisa memenuhi tempat tidur," katanya, tersenyum padaku dari bawah selimut afghan yang kusisakan untuknya. "Kalau kita akan tidur bersama lagi maka harus ada suatu aturan dasar."

"Ini tidak akan terjadi lagi. Ini akibat yang ditimbulkan karena menonton film mengerikan yang kita tonton berdua. Tidak ada tidur bersama lagi," kataku tegas, bertanya-tanya betapa mengerikan bau napasku pagi ini. Aku menangkup tangan di depan wajahku, menghembuskan napas dan mengendusnya dengan cepat.

"Bunga mawar?" Tanyanya.

"Pasti." Aku menyeringai. Aku menatapnya, berantakandan nampak mengagumkan dan di tempat tidurku. Dia memberikan senyuman itu, dan aku mendesah. Sesaat aku membiarkan diriku menikmati fantasi di mana kemudian dengan cepat tubuhku ditindih dan disetubuhi habis-habisan, tapi aku dengan bijak mengambil kendali atas pelacur batinku.

"Bagaimana kalau kau merasa takut malam ini?" Tanyanya saat aku duduk dan menggeliat.

"Tidak akan," Balasku dari balik bahuku.

"Bagaimana kalau aku yang takut?"

"Bersikaplah dewasa, cowok tampan. Mari kita membuat kopi karena aku harus pergi bekerja." Aku menghantamnya dengan bantalku.

Dia meluncur keluar dari bawah selimut afghan, melipatnya, dan membawanya ke dapur di mana ia meletakkannya dengan lembut di atas meja. Aku tersenyum,memikirkan ia menyebut namaku tadi malam. Apa yang aku harus berikan untuk tahu apa yang berkecamuk di dalam benaknya.

Kami pindah ke dapur dengan efisien, menggiling biji kopi, menakar kopi, menuangkan air. Aku menaruh gula dan krim di meja sementara ia mengupas dan mengiris pisang. Aku menuangkan granola, ia menuangkan susu dan pisang ke mangkuk kami. Dalam beberapa menit kami duduk berdampingan pada bangku bar, memakan sarapan seolah-olah kami telah melakukannya selama bertahun-tahun. Kenyamanan kami menggelitikku. Dan mengkhawatirku.

"Apakah kau mengerjakan sesuatu untuk koran itu?" Tanyaku terkejut pada tingkat ketertarikan yang kudengar dalam suaraku. Apakah ia akan ada di kota ini untuk sementara waktu? Kenapa aku peduli? Astaga.

"Aku menghabiskan beberapa hari menggarap pemotretan tempat berlibur singkat di Bay Area, tempat liburan terdekat di akhir pekan," jawabnya dengan mulut penuh dengan pisang.

"Kapan kau akan melakukannya?" Tanyaku, memeriksa kismis dalam mangkukku dan berusaha untuk tidak terlihat terlalu tertarik atas jawabannya.

"Minggu depan. Aku berangkat Selasa," jawabnya dan perutku mual seketika. Minggu depan kami seharusnya pergi ke Tahoe. Kenapa pula perutku begitu peduli kalau dia tidak akan ikut?

"Oh, begitu," aku menambahkan, sekali lagi terpesona oleh kismisku.

"Tapi aku akan kembali sebelum acara di Tahoe. Aku berencana menyetir langsung dari sana saat aku menyelesaikan pemotretanku," katanya, menatapku dari balik tepi cangkir kopinya.

"Oh, well, itu bagus," jawabku pelan, perutku sekarang melompat-lompat kegirangan.

"Kapan kau akan kesana?" Tanyanya, sekarang terlihat mengamati mangkuknya sendiri.

"Para gadis berkendara menumpang dengan Kris dan Tao di hari Kamis, tapi aku harus tetap di kota untuk bekerja sampai setidaknya Jumat siang. Aku akan menyewa mobil dan menyetir ke sana sore itu."

"Jangan menyewa mobil. Aku akan mampir menjemputmu," ia menawarkan dan aku mengangguk tanpa kata.

Sudah diputuskan, kami menyelesaikan sarapan dan menyaksikan Monggu mengejar sepotong bulu di sekitar meja berulang kali. Kami tidak banyak bicara tapi setiap kali kami bertemu pandang, kami berdua tersenyum lebar.

.

.

.

.

Pesan Teks Singkat Antara Baekhyun dan Sehun:

Apa kau tahu Minseok bekerja dengan James?

James siapa?

Tentu saja James Brown. Siapa lagi?

TIDAK! Apa-apaan ini?

Ingat Minseok pernah menyebutkan kalau dia punya klien baru?

Minseok lupa tidak menyebutkan siapa namanya.

Aku akan mengomelinya saat aku bertemu dengannya nanti. Dia

lebih baik tidak membatalkan acara di Tahoe. Apakah Kris bilang

padamu kalau ia akan membawa gitarnya?

Yup, dia bilang padaku ingin menyanyi dengan kacau bersama.

Dia bilang begitu? Haha. Aku berpikir itu pasti akan menyenangkan.

.

.

.

.

Pesan Teks Singkat Antara Tao dan Baekhyun:

Hei, mungil, apakah kita masih akan main bowling dengan Sehun

dan Kris malam ini?

Yup, dan kau lebih baik mengeluarkan permainan terbaikmu. Sehun

dan aku lumayan hebat.

Sehun tahu bagaimana bermain bowling? Wow.

Kenapa dengan wow itu?

Aku hanya tidak mengira dia bisa bermain bowling. Sampai nanti

malam.

.

.

.

Pesan Teks Singkat Antara Tao dan Luhan:

Kau masih berencana pergi bersama kami akhir pekan ini?

Ya, tapi aku tiba sedikit terlambat, punya jadwal pemotretan.

Kapan kau datang?

Sekitar Jumat malam, mampir ke kota dalam perjalanan kesana.

Kenapa kau akan kembali ke kota? Kau melakukan pemotretan di

Carmel, kan?

Aku hanya perlu untuk mengambil sesuatu untuk akhir pekan itu.

Bro, siapkan saja barang-barangmu dan bawa dirimu langsung ke

Tahoe.

Pasti, tapi aku menjemput Minseok.

Aku mengerti.

Kau tidak mengerti apapun.

Aku mengerti semuanya.

Kau yakin tentang itu, Bocah Besar? Bagaimana dengan Sehun?

Sehun? Kenapa semua orang bertanya padaku tentang Sehun?

Sampai jumpa di Tahoe.

.

.

.

.

Pesan Teks Singkat Antara Baekhyun dan Minseok:

Kau punya sesuatu yang harus dijelaskan, Lucy...

Oh tidak, aku benci kalau kau mulai bertingkah seperti Ricardo padaku.

Apa sebenarnya yang sudah kulakukan?

Jelaskan padaku kenapa kau tidak memberitahuku tentang klien

barumu.

Minseok, jangan mengabaikan pesanku! MINSEOK!

Oh, tenanglah. Ini sebabnya kenapa aku TIDAK memberitahumu.

Kim Minseok!, ini adalah berita yang jelas aku harus tahu!

Dengar, aku bisa mengatasinya oke? Dia klienku, tidak lebih. Dia

akan menghabiskan uang yang banyak pada proyek ini.

Aku terus terang tidak peduli berapa banyak yang akan ia habiskan. Aku

tidak ingin kau bekerja dengannya.

Kau yang dengarkan baik-baik! Aku akan menerima klien baru

manapun yang ku suka! Aku bisa mengatasinya.

Kita akan lihat... aku mendengar desas-desus bahwa kau

akan pergi ke Tahoe dengan Penggedor Dinding?

Wow, ganti topik pembicaraan. Ya, memang.

Baik. Pilih rute perjalanan yang panjang.

Apa artinya itu?

Baek? kau di sana?

Sialan kau, Baekhyun..HELLO?

.

.

.

.

Pesan Teks Singkat Antara Minseok dan Luhan:

Penggedor Dinding...datanglah Penggedor Dinding

Penggedor Dinding tidak ada di sini, yang ada hanya si Pengusir

Setan.

Sama sekali tidak lucu

Ada apa?

Jam berapa kau akan menjemputku Lu?

Aku harus kembali ke kota siang hari. Kalau kau bisa menyelesaikan

pekerjaanmu lebih awal kita bisa menghindari jam sibuk.

Sudah bilang pada Jomyeon aku bekerja setengah hari. Dimana kau

sekarang?

Di Carmel, di tebing yang menghadap samudera.

Astaga, kau ternyata punya sisi romantis yang tersembunyi...

Aku seorang fotografer. Kami pergi ke mana tempat pengambilan

gambar terbaik berada.

Astaga bung, kita tidak sedang membahas tempat pengambilan

gambar.

Selain itu, kupikir kaulah orang yang romantis.

Aku bilang padamu, aku romantis praktis.

Well dalam prakteknya, meskipun kau akan menghargai

pemandangan eksotis itu—deburan ombak, matahari terbenam, itu bagus.

Apakah kau sendirian?

Ya.

Pasti kau berharap kalau kau tidak sendirian.

Kau tak tahu.

Pfft...kau memiliki perasaan yang lembut.

Tidak ada yang lembut tentangku, Seokie.

Dan kita kembali...

Minseokie?

Ya.

Sampai jumpa besok.

Ya.

.

.

.

Pesan Teks Singkat Antara Minseok dan Sehun:

Dapatkah kau memberiku alamat rumah itu lagi jadi aku

bisa hubungkan ke GPS milik Luhan?

Tidak.

Tidak?

Tidak sampai kau katakan padaku KENAPA KAU

MENYEMBUNYIKAN JAMES BROWN.

Ya Tuhan, seperti memiliki 2 ibu tambahan...

Ini bukan tentang duduk tegak atau makan lebih banyak sayuran,

tapi kita perlu melakukan percakapan tentang sikapmu.

Luar biasa.

Serius, Seokie, kami hanya khawatir.

Serius, Sehun, aku tahu. Tolong alamatnya?

Biarkan aku memikirkannya.

Aku tak akan bertanya padamu lagi...

Ya kau akan bertanya. Kau ingin melihat Luhan dalam bak mandi

air panas. Jangan bohong.

Aku membencimu...

.

.

.

Pesan Teks Singkat Antara Luhan dan Minseok:

Pekerjaanmu sudah selesai?

Yup, di rumah sedang menunggumu.

Nah, itu baru menarik...

Siapkan dirimu, aku baru mengeluarkan roti dari oven.

Jangan menggodaku...zukini?

Jeruk Kranberi. Mmmm...

Tidak ada wanita yang pernah melakukan pemanasan seks sambil

sarapan roti seperti yang kau lakukan.

Ha! Kapan kau datang?

Tidak Bisa. Menyetir. Lurus.

Bisakah kita melakukan satu percakapan di mana kau tidak seperti

anak umur dua belas tahun?

Maaf, aku akan sampai di sana dalam waktu 30 menit.

Sempurna, itu akan memberiku waktu untuk membekukan rotiku.

Maaf?

Oh, aku tidak memberitahumu? Aku juga membuat cinnamon rolls.

Sampai di sana dalam waktu 25 menit.

.

.

.

.

"Aku tidak mau mendengarkan lagu ini."

"Enak saja. Ini mobilku. Sopir yang memilih musiknya."

"Sebenarnya, kau salah tentang ini. Penumpang selalu memilih musiknya. Ini apa yang kau dapatkan ketika kau menyerahkan hak mengemudimu."

"Minseok, kau bahkan tidak punya mobil, jadi bagaimana mungkin kau punya hak mengemudi?"

"Tepat sekali, jadi kita mendengarkan lagu mana yang kupilih," Tegurku, duduk kembali setelah mengganti saluran radio untuk keseratus kalinya. Aku menyalakan iPod dan menggulirnya sampai aku menemukan sesuatu yang kurasa akan menyenangkan untuk kami berdua.

"Lagu yang bagus," akuinya dan kami bersenandung bersama.

Sejauh ini perjalanannya menyenangkan. Ketika aku pertama kali bertemu dengannya—maksudku mendengarnya—aku tidak akan pernah memperkirakan, tapi Luhan dengan cepat berubah menjadi salah satu teman favoritku. Aku telah keliru menilai tentang dirinya. Aku meliriknya: bersenandung bersama lagunya, mengetuk ibu jarinya pada roda kemudi. Saat ia sedang memusatkan perhatiannya pada jalan, Aku memanfaatkan kesempatan untuk membuat catalog beberapa hal yang mempesona darinya.

Rahang? Kuat.

Rambut? Gelap dan berantakan.

Janggut? Berumur sekitar dua hari dan nampak bagus untuknya.

Bibir? enak dijilat tapi terlihat kesepian. Mungkin aku bisa memeriksanya, melakukan sedikit pemeriksaan dengan lidahku sendiri...

Aku menduduki tanganku untuk mencegah diriku untuk meluncurkan diri di atas konsol. Dia terus bersenandung dan mengetuk kemudinya dengan ketukan teratur.

"Apa yang terjadi padamu, Gadis Bergaun Tidur Pink? Kau tampak sedikit memerah. Butuhkan lebih banyak udara?" Dia menyalakan AC mobilnya.

"Tidak, aku baik-baik saja," jawabku, suaraku terdengar konyol. Dia menatapku dengan aneh, namun kembali bersenandung dan mengetuk.

"Kurasa sudah saatnya kita membuka roti jeruk kranberi. Berikan padaku," katanya sesaat kemudian ketika aku sedang tenggelam dalam fantasi tentang bagaimana sebenarnya aku bisa memanuver tubuhku ke pangkuannya sambil tetap mempertahankan kecepatan di jalan raya dengan baik.

"Aku sedang mengambilnya!" Teriakku, menjangkau ke kursi belakang dan mengejutkan kami berdua. Kakiku berada di udara dan bokongku terpampang saat aku menutupi wajahku yang terjungkir dengan tanganku di belakang kursi. Aku bisa merasakan betapa merahnya pipiku saat ini dan aku secara mental memberikan tamparan kecil pada diri sendiri untuk menyadarkanku kembali ke dunia ini.

"Ini salah satu bokong yang indah, kawanku." Dia menghela napas, menyandarkan kepalanya di atas bokong ku seolah-olah itu adalah bantal.

"Hei. Ass Man. Perhatikan jalan dan bukannya bokong ku atau tidak ada roti untukmu." Aku membentur kepalanya dengan bokong ku dan membuatku menggapai udara saat ia berbelok.

"Seokie, kau perlu mengendalikan diri di sana atau aku akan menepi."

"Oh, diamlah. Ini roti sialanmu," Bentakku, merangkak kembali ke kursiku dengan cara yang sama sekali tidak anggun dan melemparkan roti ke arahnya.

"Apa-apaan sih? Jangan melemparnya. Bagaimana kalau kau melukainya?" Teriaknya, membelai dengan lembut roti berbungkus foil itu.

"Aku khawatir tentang kewarasanmu, Lu. Sungguh." Aku tertawa, mengawasinya kesulitan membuka ujung bungkusnya. "Kau ingin aku mengambilkan sepotong untukmu—oke, atau kau bisa melakukannya dengan cara seperti itu." Aku mengerutkan kening saat ia mengambil gigitan besar dari ujung bungkusan roti.

"Ini munyaku, kam?" Tanyanya, menyemburkan remah-remah dari mulutnya.

"Bagaimana kau bisa berbaur dalam masyarakat normal dengan kelakuan ajaibmu ini?" Tanyaku sambil menggelengkan kepala saat dia mengambil gigitan besar sekali lagi. Dia hanya tersenyum dan melanjutkan makan seluruh roti dalam waktu kurang dari lima menit.

"Kau akan sangat mual malam ini. Roti itu seharusnya dimakan sepotong demi sepotong, tidak ditelan secara utuh," kataku. Satu-satunya jawaban darinya hanyalah bersendawa dengan keras dan menepuk perutnya. Aku tidak bisa menahan tawa. "Kau orang sinting, Lu." Aku tertawa.

"Tapi kau masih penasaran padaku, bukan?" Dia menyeringai, mengalihkan mata tajamnya kearahku.

Celana dalamku seketika melembab dan basah. "Anehnya, ya," aku mengakui, merasakan wajahku memerah lagi.

"Aku tahu." ia menyeringai dan kami terus melaju.

.

.

.

.

"Oke, belokannya tak jauh dari tikungan ini—aku ingat rumah itu!" Teriakku, melompat-lompat di kursiku dengan semangat. Sudah cukup lama sejak aku berkunjung ke sini dan aku sudah lupa betapa indahnya pemandangan di sini. Aku menyukai Tahoe saat musim panas—semua olahraga air dan segala sesuatunya—tapi di musim gugur? Musim gugur itu indah.

"Terima kasih Tuhan. Aku harus buang air kecil," Luhan mengerang, seperti yang telah ia lakukan selama kurang lebih dua puluh mil terakhir.

"Salahmu sendiri kau minum Big Gulp itu," Aku memperingatkan, masih melompat-lompat.

"Wow, inikah tempatnya?" Tanyanya saat kami berbelok masuk ke dalam pelataran. Lentera menerangi jalan menuju rumah luas dua lantai terbuat dari kayu cedar dengan perapian batu raksasa di sisi kiri. Mobil-mobil sudah berada di jalan masuk dan aku bisa mendengar musik mengalun keluar dari dek belakang.

"Kedengarannya teman-teman kita sudah memulai pesta mereka," duga Luhan. Pekikan dan tawa berbaur bersama musik yang berasal dari sisi belakang rumah.

"Oh, aku tidak meragukannya. Dugaanku adalah mereka sudah minum sejak makan malam dan sekarang setengah telanjang di dalam bak mandi air panas." Aku berjalan memutar ke belakang mobil untuk mengambil tasku.

"Sekarang kita harus mengejar ketertinggalan, bukan?" Dia mengedipkan mata, menarik sebotol Galliano dari tasnya. "Kupikir kita bisa membuat koktail Penggedor Dinding."

"Kedengarannya menarik. Karena aku memikirkan hal yang sama denganmu," Balasku, menarik sebuah botol yang sama dari dalam ranselku.

"Aku tahu kau sangat ingin agar aku berada didalam tubuhmu, Seokie." Dia tertawa dan menyambar tasku saat kami menuju ke pintu.

"Please, kau akan membuat sebuah minuman dan memberinya nama Gaun Tidur Pink hanya untuk merasakanku di mulutmu, jangan coba-coba berbohong," Ejekku, menyenggolnya dengan bahuku.

Dia berhenti di pertengahan jalan dan menatapku dengan sengit. "Apakah itu undangan? Karena aku bartender yang sangat hebat," katanya, matanya menyala-nyala di kegelapan.

"Aku tidak meragukannya," Aku menarik napas, ruang antara kami sekarang berderak oleh ketegangan yang sangat sulit untuk diabaikan. Aku menarik napas dalam-dalam dan menyadari bahwa dia juga melakukan hal yang sama.

"Ayo, mari kita minum-minum dan memulai mulai akhir pekan ini." Dia tertawa, menyenggolku dengan bahunya dan memecahkan ketegangan.

"Ayo minum-minum," gumamku, berjalan di belakangnya. Mendapati pintu depan terbuka, Luhan menyimpan tas kami dan kami berjalan di dalam rumah menuju dek belakang. Terlihat danau yang terbentang di hadapan kami, hanya diterangi obor tiki menghiasi dermaga dan jalur yang mengarah ke pinggir danau. Seluruh sisi belakang rumah diapit dengan teras bata dan dek, dan di sanalah kami menemukan teman-teman kami.

"Minseok!" Pekik Baekhyun dari bak mandi air panas, di mana ia dan Kris saling memercik air satu sama lain. Ah, kita sudah sampai ke taraf suara Pekikan Mabuk.

"Baekhyun!" Aku balas memekik, mencari-cari Sehun. Dia dan Tao duduk di bangku batu dekat api unggun, memanggang marshmallow. Mereka berdua melambai dengan riang dan Tao memberi isyarat menjijikkan dengan tongkatnya.

"Membuat mereka menyadari kekeliruan mereka sendiri mungkin lebih mudah daripada yang kita duga, sesama comblang," bisikku pada Luhan yang sudah mencampur koktail pada bar di teras belakang.

"Kau pikir akan semudah itu?" Balasnya berbisik, memberikan anggukan universal antara sesama pria yang mengatakan, "Ada apa, Bro?"

"Pasti. Mereka sudah hampir sampai pada tahap itu tanpa bantuan kita. Yang harus kita lakukan adalah menunjukkan kepada mereka apa yang benar di depan mereka."

Dia menyerahkan koktailnya padaku. "Jadi, bagaimana dengan ku?" Tanyanya sambil mengedipkan mata.

"Apakah ini cocktail Penggedor Dinding?"

"Benar."

Aku minum seteguk, mencicipi rasanya di sekitar mulut dan di atas lidahku.

"Kau sehebat yang kukenal," bisikku, melakukan tegukan besar yang berbahaya.

"Untuk sesuatu yang sangat jelas," tambahnya, mendenting gelasnya dengan gelasku dan meneguk dengan cepat.

"Untuk sesuatu yang sangat jelas," Aku membeo, mata kami terkunci di antara pinggiran gelas.

Voodoo Penggedor Terkutuk.

.

.

.

.

Tbc