WALLBANGER

Cast : Luhan, minseok (girl), baekhyun(girl), kris, sehun (girl),tao, Lay, Jonmyeon (girl)

Warning : GS, Typo (s),bahasa kasar tanpa sensor rate M for NC.

.

.

.

"KAKI SIAPA ITU?"

"Itu kakiku, Tao. Berhentilah menggosoknya."

"Man! Berhentilah mencoba bermain-main footsie denganku, Kris!"

"Kaulah yang masih menyentuh kakiku." Kris dan Tao mencoba terlihat cuek saat mereka terlepas dari sesi footsie di bawah gelembung air. Aku tertawa saat pandanganku bersirobok dengan mata Luhan yang berada di seberangku di Jacuzzi dan ia menyeringai padaku.

"Mau lagi?" bisiknya, mengangguk pada gelasku yang kosong.

"Aku rasa sudah cukup untuk malam ini, bukan?" bisikku padanya, saat teman-teman kami terkekeh di sekitar kami.

"Aku pikir kau adalah gadis yang selalu menginginkan lebih," katanya. Seringai khasnya muncul.

Aku menatap dirinya, gambaran tentang Luhan berada di dalam jacuzzi yang telah ada di dalam kepalaku beberapa minggu terakhir benar-benar tidak sebanding dengan kenyataannya. Lengan kuat direntangkan di belakang jacuzzi, rambut basah dan tergerai kebelakang. Jika aku kira telah melihatnya dalam keadaan basah dan setengah telanjang di lantai dapurku sangatlah menarik, itu tidaklah ada apa-apanya apabila dibandingkan melihatnya dengan dilatari oleh obor tiki dan tampak seperti memancarkan dengungan yang kuat.

Sekarang ia adalah pria paling luar biasa tampan yang pernah aku lihat, dan jika aku tidak salah, ia sedang mencoba membuatku mabuk. Kepala kumulai terasa sedikit pusing. Sang hati mulai menyanyikan lagunya Etta James.

"Apakah kau mencoba membuatku mabuk?" tanyaku, terkikik saat aku menyingkirkan gelas kosongku, mencegah diriku sendiri untuk menambah alkohol.

"Tidak. Seorang Pink Nightie Girl yang ceroboh tidak akan membawaku kemana-mana." Ia menyeringai saat aku memercikkan air ke arahnya. Semua teman-teman kami terdiam dan memandangi kami dengan ketertarikan yang terang-terangan.

Setelah Luhan dan aku tiba, kami memperoleh minuman, kemudian aku menunjukkan padanya sekeliling rumah. Aku meninggalkan tasku di pintu depan, tidak mengetahui bagaimana pengaturan kamar untuk tidur yang dibuat. Kami kembali ke teras belakang dan menemukan bahwa Sehun dan Tao telah bergabung dengan Kris dan Drunky Baekhyun di jacuzzi. Sebuah perjalanan singkat ke rumah dan kolam membuatku tidak membawa apa-apa, kecuali sebuah bikini berwarna hijau tua dan sebuah senyuman saat aku menghampiri teman lainnya. Luhan telah masuk ke dalam air dan aku melihatnya memperhatikanku. Saat aku meluncur ke dalam air yang hangat, aku menyesap koktailku dan meresapi pemandangan tetanggaku, basah dan dengan memakai celana pendek, di hadapanku. Sehun benar-benar harus menyenggolku untuk menghentikan tatapanku pada tetanggaku itu.

Sekarang kami berada tepat di tengah-tengah sup seksual yang bergolak pada dua pasang kekasih yang tidak serasi dan dengan lebih banyak feromon daripada apa yang harus kami lakukan terhadapnya.

Jadi apakah aku menginginkan koktail yang lainnya? Tidak masalah. Aku tidak akan sanggup meminumnya.

Aku harus menggelengkan kepalaku sedikit untuk menghapusnya ketika aku melihat sekeliling. Baekhyun telah berubah terlalu panas dan bertengger di tepian, menendang-nendang Tao dengan mengayunkan kakinya bolak-balik. Tao memanjakan Baekhyun seperti kakak memanjakan adiknya. Sehun dan Kris meringkuk di sisi lainnya, Sehun menggaruk punggung Kris saat ia dan Tao membahas tentang starting lineup (pemain utama yang diturunkan sejak awal pertandingan) dari 49ears' atau garis pertahanan atau sesuatu tentang sepak bola dan, terus terang, membosankan.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan akhir pekan ini?" tanyaku, memfokuskan perhatianku pada kelompok besar dan bukan pada mata hitam pekat yang menatapku. Mata hitam sialan! Mata itu bisa menjadi penyebab kematianku.

"Kami sedang berpikir untuk pergi hiking besok. Siapa yang mau ikut?" tanya Kris.

Sehun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ikut. Tidak mungkin aku pergi hiking."

"Kenapa tidak?" tanya Tao.

Luhan dan aku bertukar pandang dengan cepat terhadap ketertarikan Tao yang muncul tiba-tiba.

"Aku tidak bisa. Terakhir kali aku hiking, aku sedikit tergelincir dan pergelangan tanganku terkilir. Aku tidak mempunyai kesempatan bermain selama semusim" ujarnya, melambaikan tangannya dan mengingatkan kami ia mengandalkan tangannya untuk bertahan hidup. Sebagai pemain cello, ia bisa didepak keluar karena alasan kecil itu. Sekali ia memutuskan untuk bermain ia bisa kehilangan kesempatan selama musim dingin.

"Bagaimana denganmu, Tiny?" Tao menarik kaki Baekhyun.

"Um, tidak, Baekhyun tidak suka hiking," jawab Sehun, membetulkan bikini hitamnya yang minim. Kekasih yang sesungguhnya tidak memperhatikannya, tapi aku melihat Tao yang berada di seberang jacuzzi membelalakkan matanya hingga berukuran hampir sebesar pie pada payudara Sehun yang hampir terekspos sepenuhnya.

"Kau akan melewatkan acara hikingnya juga?" Luhan menganggukan kepalanya padaku.

"Tentu saja tidak. Aku akan hiking dengan para cowok!" aku tertawa saat Sehun dan Baekhyun memutar mata. Mereka tidak pernah mengerti mengapa aku sangat menyukai "mountain man activities" " begitulah sebutan mereka terhadap kegiatan semacam itu.

"Bagus," bisik Luhan, dan selama sedetik aku mengkalkulasi jarak antara mulutku dengan mulutnya. Kemudian kami semua terdiam, kami berenam tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Aku ingat rencana untuk mengeluarkan mereka berempat dalam lingkaran tak jelas mereka, dan aku melompat masuk ke dalamnya. berusaha untuk mengeluarkan mereka dari lingkaran setan tersebut.

"Jadi, Kris, apakah kau tahu Baekhyun ini setiap tahunnya memberikan donasi untuk membantu lembaga amalmu?" tanyaku, membuat mereka berdua terkejut.

"Kau melakukannya?"

"Yep, setiap tahun," jawab Baekhyun. "Aku tahu apa manfaat memiliki akses komputer, terutama anak-anak yang tidak bisa mempunyai kesempatan memilikinya." Baekhyun tampak malu-malu pada Kris, dan mereka mulai mengobrol tentang bagaimana proses yang digunakan oleh Kris untuk menentukan sekolah mana yang akan menerima beasiswa setiap tahunnya.

Luhan dan aku saling bertukar seringaian. Melihat ke arah Sehun, Luhan meluncurkan serangan gelombang kedua. "Hey, Tao, berapa banyak kursi yang telah kau beli untuk simfoni tahun ini?" tanyanya. Tao tersipu malu.

"Kau sudah membeli tiketnya?" tanya Sehun.

"Tiket semusim," Luhan menambahkan, dan Tao menganggukan. Lalu Sehun dan Tao mulai berdiskusi dimana tempat duduk Tao, dan Luhan menaikkan kakinya ke atas permukaan air.

"Ayolah, jangan membuatku menunggu."

"Apa?"

"Berikan aku sedikit tos kaki. Aku tidak bisa menjangkau tanganmu," ia bersikeras, menggerakan kakinya maju mundur. Aku tertawa dan merendahkan sedikit dudukku, meregangkan kakiku keluar dari air dan menepuk kakinya dengan ringan.

"Ugh, pruney." Kaki kami mengkerut karena terlalu banyak berada di dalam air dan Luhan terbahak karenanya.

"Aku akan memberimu pruney," aku memperingatkannya, mencelupkan kakiku dan mencipratkan air padanya.

.

.

.

"Aku tidak bisa merasa lebih santai lagi. Serius, aku benar-benar tidak bisa merasa lebih santai lagi sekarang ini jika aku seandainya benar-benar berada di dalam sebuah marshmallow," gumamku dengan artikulasi yang tidak jelas karena lidahku terlapisi oleh campuran Bailey's dan kopi. Aku meringkuk di atas bantal-bantal yang berjumlah kurang lebih lima puluh di sebelah perapian – sebuah perapian dengan luas hampir sepuluh kaki dan sebuah cerobong dengan tinggi hampir tiga lantai. Terbuat dari batu yang seperti digali, dan itu besar. Itu adalah titik fokus dari seluruh rumah, dengan kamar-kamar menyebar keluar dari pusatnya. Dan perapian itu memancarkan panas yang besar.

Kami kedinginan hingga ke tulang ketika pada akhirnya kami masuk kembali ke dalam. Satu per satu, kami semua menjadi terlalu hangat di jacuzzi, jadi kami menarik diri kami sendiri keluar untuk mendinginkan tubuh sedikit. Pada saat kami menyadari betapa dinginnya malam, kami menggigil dan gigi pun gemeletukan, dan tidak menginginkan apapun selain meringkuk di samping perapian.

Saat kami telah memilih kamar, aku segera menyadari, para gadis menyelinap ke dalam kamar tidur utama untuk berganti dengan piyama dan kembali bergabung dengan para pria, yang sekarang semuanya telah mengenakan T-shirt dan celana piyama. Kami membuat sepoci kopi, dan aku mengiris beberapa roti cranberry tambahan buatanku yang dengan bijak aku sembunyikan dari Luhan. Dua sloki Bailey's dalam secangkir kopi, dan kami semua bersantai dekat perapian seperti sebuah iklan untuk Currier and Ives.

Luhan telah duduk bersandar bak seorang raja di dekat perapian dan menepuk tumpukan bantal didekatnya agar aku berbaring di dekatnya. Aku menenggelamkan diri disana dan beberapa bulu-bulu beterbangan berputar-putar disekitar kepala kami. Kami tahu setiap laki-laki mempunyai cara yang berbeda untuk menyalakan api-kayu bakar, koran, kayu bakar dan koran- ketika akhirnya kepala Sehun melongokkan kepalanya keatas sana dan memberitahukan bahwa cerobong asapnya masih tertutup.

Membawa kembali beberapa kayu bakar untuk ditambahkan lagi ke dalam perapian yang nanti akan menyala, pada saat itu para pria memberikan semuanya pada Kris untuk menyalakan perapian, tidak ada alasan lain selain bahwa ia adalah satu-satunya yang memegang korek api. Tapi dalam beberapa menit, mereka berhasil membuat api berkobar, dan sekarang kami semua duduk mengelilingi perapian, mengantuk, dan terpuaskan.

Aku menarik napas dalam-dalam. Tidak ada aroma yang menandingi api yang sebenarnya-bukan perapian dari gas, bukan dari beberapa lilin, tapi sebuah keaslian dari perapian dengan bunyi berderak dan gemeretak dan sedikit bunyi berciut berdesing yang lucu saat uap keluar dari patahan di kayu.

"Jadi, Seokie, sudahkah kamu meminta Luhan untuk mengajarimu selancar angin?" tanya Baekhyun tiba-tiba dari tempatnya duduk di lengan sofa. Kami hening sejenak, mengantuk dan hampir bermimpi, yang sesungguhnya telah sedikit kumulai saat Baekhyun berbicara.

"Sorry? ah, Maksudku, apa?" tanyaku, keluar dari alam bantalku dan kembali ke masa kini.

"Well, para pria ini adalah peselancar angin. Kau ingin belajar selancar angin, dan aku yakin Luhan akan menunjukkannya padamu dan bersedia mengajarkannya padamu, iya kan, Luhan?" Baekhyun tertawa, menyesap tetes kopinya yang terakhir dan meluncurkan dirinya dari lengan sofa ke pangkuan Kris dengan nyaman. Mereka saling tersenyum sesaat sebelum mereka menyadari apa yang mereka lakukan dan Kris dengan bercanda memindahkan Baekhyun dari pangkuannya sendiri keatas pangkuan Tao. Ia tidak menyadari pertanyaan awal Baekhyun, tapi sekarang ia tampak sangat sadar dengan semua rencana licik Baekhyun.

"Kau ingin belajar selancar angin?" tanya Luhan, menoleh ke tumpukan bantalku.

"Sebenarnya, iya. Aku selalu ingin mencobanya."

"Itu sulit-aku tidak akan berbohong. Tapi itu benar-benar setimpal." Luhan tersenyum, dan Kris mengangguk dari seberang ruangan.

"Tentu, Luhan akan menunjukkannya padamu bagaimana caranya. Dengan senang hati," Kris menimpali, mendapatkan kedipan mata dari Baekhyun dan putaran mata dariku.

"Kita bisa merencanakannya saat kita kembali ke kota," saranku.

"Jangan bicara lagi malam ini. Gadis ini telah memutuskannya, " kata Sehun.

"Aku mengantuk. Dimana kita semua akan tidur?" Ia menyandarkan kepalanya ke punggung kursi dimana ia telah meringkuk disana.

"Well, ada berapa kamar yang kita miliki?" tanya Luhan saat aku terduduk dan menguap.

"Ada empat kamar, jadi silahkan pilih," jawab Sehun, lalu dengan bijak ia menghabiskan sisa air di dalam botol.

"Apa kita tidur berpasangan cowok-cewek, cowok-cewek?" tanyaku, tertawa saat aku melihat wajah terkejut Luhan.

"Kita bisa, tentu saja," jawab Baekhyun, terlihat sedikit gugup saat melihat Tao.

Aku menahan tawa saat aku melihat Sehun dan Kris bertukar pandangan penuh ketakutan yang sama. Luhan pun melihat hal yang sama juga.

"Yeah, tentu! Jangan biarkan Minseok dan aku berdiri di tengah jalan diantara pasangan kekasih! Baekhyun, kau dan Tao pilihlah sebuah kamar, Sehun dan Kris bisa memilih satu kamar, dan Minseok dan aku akan mengambil kamar yang tersisa. Sempurna. Benar, Seokie?"

"Kedengarannya sempurna bagiku. Aku yang akan mencuci cangkir-cangkir ini. Sekarang, kalian semua pergilah tidur. Pergi! Pergilah dengan cepat!" teriakku. Luhan dan aku bergegas membersihkan cangkir sambil menyelinap dan mengintip mereka berempat melalui bahu kami. Mereka berempat tampak seperti mereka baru saja memulai mars kematian.

"Oh, man, aku harap ini berhasil... demi kepentinganku." Aku berdiri di belakang Luhan saat kami melihat mereka berempat menjadi dua pasang saat mereka berpisah di depan pintu kamar tidur.

"Mengapa demi kepentinganmu?" bisiknya, menolehkan wajahnya dan wajahnya menjadi sedikit lebih dekat dengan wajahku.

"Karena sekarang, di balik pintu itu? Sehun dan Baekhyun sedang mencoba mencari cara yang terbaik untuk menyakitiku. Menyakitiku secara fisik," desahku, mundur ke belakang untuk membilas cangkir kopi dan menaruhnya di mesin cuci piring.

Luhan menambahkan sabunnya dan menyalakannya. Saat kami berjalan memutar, kami mematikan lampu, kami berbicara tentang rencana hiking yang akan kami lakukan besok.

"Kau tidak akan memperlambat kukan?" goda Luhan.

Aku mendorongnya ke dinding. "Coba saja, kau akan memakan jejak debuku besok, bucko," aku memperingatkannya, menyambar tasku dan berjalan menuju ke kamar tidur.

"Kita lihat saja nanti, Nightie Girl. Omong-omong, ada gaun malam yang dipersembahkan untukku di dalam sana?" Luhan menyambar tasku saat ia mengikutiku menyusuri lorong.

"Tetaplah di luar sana. Tidak ada tempat di dalam kamarku, ataupun dimana saja untuk hal itu." Aku berhenti di kamar yang telah aku pilih.

Ia berjalan melewatiku menuju ke pintu kamar sebelah. "Lihatlah, sekali lagi kita berbagi dinding kamar tidur." Ia menyeringai.

"Well, aku tahu kau sendirian disana, jadi lebih baik aku tidak akan mendengar benturan apapun," aku memperingatkannya, bersandar di kusen pintu.

"Tidak, tidak ada benturan. Selamat malam, Minseok," ia berkata dengan lembut, bersandar di kusen pintunya sendiri.

"Malam, Lu," jawabku, sedikit mengibaskan jari tanganku padanya saat aku menutup pintuku. Aku menaruh tasku di tempat tidurku dan tersenyum.

.

.

.

"Ayolah, guys, tidak terlalu jauh lagi," aku berteriak ke belakang punggungku saat berlari pada jalur terakhir hiking.

Sekarang kami telah hiking selama sekitar dua jam terakhir dan pada awalnya kami tetap bersama, tapi dalam tiga puluh menit terakhir atau lebih, Kris telah semakin lambat dan Tao mengikutinya. Luhan dan aku terus berpacu bersama-sama dan hampir mencapai puncak. Aku berhasil menghindari keadaan dimana aku hanya berdua dengan Sehun ataupun Baekhyun, meskipun mata bengkak dan wajah lelah ada di wajah mereka berempat adalah bukti tidak ada seorangpun yang bisa tidur nyenyak semalam-kecuali Luhan dan aku.

Setelah sarapan, aku menghindari regu tembak tersebut dengan cara berganti pakaian dengan cepat dan menunggu para pria di luar sebelum hiking. Aku tahu begitu aku kembali ke rumah aku akan menghadapinya, meskipun aku akui aku penasaran mengetahui bagaimana rencana mereka untuk mengamuk tanpa mengakui bahwa tidur bersama laki-laki yang telah mereka kenal berminggu-minggu bukan merupakan, pada kenyataannya, apa yang mereka ingin lakukan

Tapi seperti perkataan Luhan, "Ini untuk hal-hal yang akan kau hadapi kedepannya." Malam ini seharusnya menjadi malam yang menarik.

Aku mendorong badanku naik dan melewati punggung bukit kecil yang terakhir dan berhasil mencapai puncak. Luhan hanya beberapa yard di belakangku, dan aku bisa mendengar jejak kakinya. Aku menarik napas dalam, udara bersih mengisi paru-paruku. suhu terasa dingin, tapi aku merasa hangat karena tenaga yang ku kerahkan dan juga keringat yang aku keluarkan. Sudah lama sejak aku pergi ke luar kota, dan tubuhku merindukan hiking seperti ini. Kakiku terasa terbakar, hidungku bernafas dengan terengah, aku berkeringat seperti seekor babi, dan aku tidak bisa ingat kapan aku merasa lebih baik dari pada saat ini. Aku tertawa terbahak-bahak saat aku melihat ke danau di bawah, memata-matai beberapa ekor elang yang meluncur menuruni lereng. Biru gelap dari danau, hijau tua dari hutan, putih polos dan krem dari batuan : itu indah.

Dan kemudian ada warna hitam, favoritku yang baru. Luhan muncul di sampingku, bernapas sedalam yang aku lakukan. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar dan melihat lembah di bawah. Ia melepaskan lapisan baju luarnya saat kami mendaki dan sekarang ia mengenakan T-shirt putih dengan kemeja flanel diikat di pinggangnya. Celana berwarna khaki, sepatu hiking, dan tersenyum lebar melengkapi mimpi basah yang aku sekarang lihat, bukannya melihat keindahan alam yang mengelilingi kami. Dan mata hitam itu-aku bisa melihat mata itu membingkai setiap pemandangan saat ia melihat sekeliling.

"menakjubkan," aku menarik napas, dan ia menoleh padaku. Aku tertangkap basah sedang menatapnya. "Maksudku, ini menakjubkankan?" aku tergagap, menunjuk liar dengan lenganku.

Ia tampaknya tahu persis apa yang telah aku lakukan, dan aku merasa pipiku berubah merona. Untungnya, aku masih sedikit kekurangan napas karena telah mendaki, dan aku berharap aku sudah cukup merah.

"Iya, ini benar-benar menakjubkan. Sangat luar biasa." Ia tersenyum, dan kami saling berpandangan. Ia mengambil beberapa langkah mendekatiku, dan aku merasakan pergeseran dan perubahan udara. Aku menggigit bibirku. Ia mengusap rambutnya dengan tangannya. Kami tersenyum. Tidak ada kata-kata, tapi bahkan binatang hutan bisa mengatakan bahwa ada sesuatu yang akan terjadi dia antara kami dan mereka bijaksana karena tetap tinggal di lubang tersembunyi mereka.

"Hai," katanya dengan pelan.

"Hai," jawabku.

"Hai," katanya lagi, mengambil satu langkah terakhir kearahku dan melangkah memasuki lingkaran kecilku. Satu langkah lagi dan ia akan praktis berada di hadapanku dengan jarak yang luar biasa dekat.

"Hai," kataku sekali lagi, memiringkan kepalaku ke samping dan membiarkannya tahu dia bisa mengambil langkah terakhir itu. Luhan mencodongkan tubuhnya ke arahku, nyaris, tapi hampir seolah-olah ia akan

"Lu!" suara teriakan dari bawah, dan kami berdua meloncat mundur. "Luhan!" suara itu terdengar lagi, dan aku mengenali suara Kris dari bawah sana yang seperti teriakan jungle-man.

"Kris," kami berdua berkata bersamaan dan tersenyum. Sekarang mantra vodoo sudah tidak pekat lagi, aku sudah bisa melihat segalanya dengan jelas, dan aku mengulang kata harem berulang-ulang di kepalaku.

"Di atas sini!" teriak Luhan, dan Kris muncul di dekat tikungan.

"Hey! Tao sudah tidak mampu lagi, sudah kepayahan, sudah menyerah. Kalian sudah siap untuk turun?" tanyanya, melompat dari batu ke jalan dan ke batu lagi dengan mudah seperti kambing gunung. Bahkan ia tidak nampak seperti kehabisan napas.

Hmmmm...

"Yep, kami baru saja mau mencari kalian," kataku, menendangkan kakiku ke belakang untuk peregangan yang cepat.

"Apa ia benar-benar berusaha mendaki lebih dekat ke puncak?" tanya Luhan, berjalan menuruni jalan setapak.

"Ia berbaring melintang di jalan setapak seolah-olah ia adalah pemilik tempat itu, menolak untuk mendaki lebih tinggi lagi." Kris tertawa, berlari terlebih dahulu dan memanggil Tao untuk memberitahukannya kami dalam perjalanan turun.

"Kau yakin kau tidak ingin tinggal di sini lebih lama lagi? Maksudku, kita sudah berusaha keras untuk mencapai puncak ini," tanya Luhan, meraih bahuku untuk menghentikanku berlari menuruni gunung setelah Kris.

Aku merasakan kehangatan tangannya di bahuku dan merasakan tubuhku merespon sentuhannya secara cepat dan menyebar ke seluruh tubuhku. "Aku yakin. Kita harus segera kembali. Sepertinya badai akan datang." Aku mengangguk ke arah cakrawala dimana segumpal awan hitam mulai muncul. Matanya mengikuti arah mataku memandang, dan ia mengerutkan keningnya.

"Mungkin kau benar. Kita tidak ingin terjebak disini sendirian," gumamnya.

"Disamping itu, jika kita tidak cepat-cepat, kita tidak akan bisa menggoda Tao yang dikalahkan oleh seorang cewek saat hiking di gunung." Aku menyeringai, dan ia tertawa terbahak-bahak.

"Hell, kita tidak akan melewatkan itu. Mari kita pergi." Dan kami menuruni jalur yang telah kami lewati.

.

.

.

"Jadi bagaimana acara gangbangmu, Minseok?" Tanya Sehun saat ia menemukan kami semua minum di dapur setelah hiking kami. Tiga pria itu masing-masing memiliki versi yang berbeda dalam menenggak minumannya, tapi aku dengan tenang melanjutkan menyesap minumanku seperti seorang wanita.

"Menakjubkan, terima kasih. Tao khususnya. Kami praktis harus menggendongnya menuruni gunung setelah aku selesai dengannya,"jawabku dengan manis.

Para lelaki memulihkan wajah konyolnya, tapi Tao hampir tidak bisa berhenti memandangi tank top ketat Sehun. Kekasihnya yang sebenarnya? Bermain mencari-cari Baekhyun, kepala Kris berputar dengan sangat cepat aku bisa bersumpah bahwa ia adalah seekor burung hantu. Aku menggelengkan kepalaku dan mengeluarkannya dari penderitaan tersebut.

"Dimana Baekhyun?" tanyaku.

"Mandi, yang mana kalian berempat jelas butuhkan. Di luar sana sangat dingin. Bagaimana bisa kalian sangat banjir keringat?" tanya Sehun, dengan mengerutkan hidungnya.

"Kami berusaha keras mencapai puncak gunung itu. Hiking itu lebih berat dari yang kau pikirkan," kata Tao terengah-engah, dan kami bertiga dengan bijak tetap diam tentang serangan jantung yang hampir ia alami lima puluh kaki dari puncak.

Aku mengambil sebuah apel dan menuju ke kamarku bersama Sehun yang mengekor di belakangku, seperti yang telah diduga. Aku tersenyum sedikit dan memutuskan untuk bersikap santai dengannya-hanya bertanya padanya tentang semalam, memberikannya sebuah jalan keluar.

"Kau tampak mengerikan mengenakan celana pendek itu, Seokie," kata Sehun saat ia mengikutiku ke kamarku.

Tidak. Tidak akan terjadi dengan mudah. Tidak akan mudah untuk diungkapkan. "Terima kasih, sayang. Haruskah aku mengemas sedikit makanan kucing untukmu saat aku mengemas tas travel Monggu?" aku mendengus.

Sehun ambruk di kasurku, meringkukkan tubuhnya di salah satu bantal yang sangat besar. "Dimana Monggu sekarang berada? Siapa yang merawatnya minggu ini?"

"Ia tinggal bersama dengan Paman Euan dan Paman Antonio. Sekarang ia pasti duduk-duduk di kasur sutra dan disuapi tuna gulung. Ia menjalani kehidupannya dengan baik".

"Ia punya kehidupan, itu pasti," katanya, wajahnya nampak murung selama sesaat saat ia mendapatkan kenyamanan yang ia cari pada kasurku.

Aku melepaskan bajuku yang basah oleh keringat dan membungkus tubuhku dengan jubah mandi yang tergantung di belakang pintu. Ia memuji sport bra pilihanku dan tertawa saat ia melihat aku memadankannya dengan celana dalam motif leopard, tapi kemudian ia kembali ke ekspresi murungnya.

"Ada apa, Sehun?" tanyaku, berbaring di kasur di sampingnya dan menelingkupi diriku sendiri dengan bantal juga.

"Tidak ada apa-apa, kenapa?" tanyanya.

"Kau terlihat sangat sedih."

"Eh, aku hanya tidak bisa tidur dengan nyenyak, sepertinya."

"Oh benarkah? Mr. Kris membuatmu terjaga di malam hari, hmm? Ia tidak punya cukup energi di gunung hari ini..." aku menyenggolnya dengan sikuku.

"Tidak, tidak, tidak seperti itu. Aku hanya... Entahlah. Aku hanya tidak bisa tenang kemarin malam. Biasanya aku bisa tidur nyenyak di sini, tapi kemarin malam itu terlalu tenang, aku hanya..." Ia memukul bantalnya sedikit dengan kepalan tangannya, memaksanya menjadi suatu bentuk yang baru sesuai yang ia inginkan.

"Oh begitu. Tapi, aku bisa tidur dengan nyenyak!" Aku tertawa, dan ingin memaksa kepalaku menjadi bentuk baru dengan kepalan tangannya.

"Kau ingin mabuk malam ini?" tanyanya ketika kami akhirnya menjadi lebih tenang.

"Tentu saja. Kau?"

"Iya, ma'am."

Ada ketukan di pintu, dan Baekhyun menjulurkan kepalanya yang tertutup dengan handuk. "Apakah ini adalah sesi pribadi, atau bisakah seorang yang non-lesbian ikut bergabung juga di kasur ini?" tanya Baekhyun.

Kami melambaikan tangan agar ia masuk, ia melompat dari lantai ke kasur dan mendarat di atas kami berdua.

"Apa yang kita lakukan di sini, nona-nona? Foreplay atau baru akan menuju kearah sana?" tanyanya.

"Kumohon katakan foreplay," suara seorang pria terdengar dari pintu yang sekarang terbuka. Kami berguling untuk melihat pria-pria yang ada di pintu, versi berbeda dari oh-astaga-para-cewek-ada-diatas-ranjang-bersama-sama tampak di wajah mereka.

"Oh, sadarlah. Seperti kami akan dan pernah memberitahukan seorang pria apakah kami butuh foreplay atau tidak saja." Sehun terkikik, menendangkan kakinya ke udara dan melambaikan tangannya pada mereka dari atas bahuku. Mereka memindahkan berat badan mereka dari satu kaki ke kakinya yang lain dan berdehem. Sangat mudah ditebak.

"Kami berencana mabuk-mabukan malam ini. Kalian para cowok mau ikut?" teriak Baekhyun. Meskipun sekarang ini tidak ada alkohol di dalam sistemnya, tingkat volume Baekhyun Si Mabuk telah melakukan pertunjukan ulangan.

"Okey dan okey," jawab Kris, memberikan kami salute kecil yang aneh dan membuat kami tertawa terbahak-bahak.

"Sekarang pergilah, boys, dan berikanlah kami waktu cewek," Sehun menjulurkan lengannya melewati bahunya, Mengangkat sedikit jubah mandiku dan memberikan bokongku pukulan yang cepat. Aku memekik dan berusaha menutupi tubuhku, tapi itu terlambat.

"Motif leopard, man" Tao berbisik pada Luhan dengan bisikan yang sebenarnya lebih keras dari sekedar berbicara.

"Aku tahu, aku tahu," balas Luhan, lalu ia mengusap-usap tangannya pada wajahnya seolah secara fisik ia berusaha menghapus gambaran yang ada di otaknya.

Luhan menyukai motif binatang. Harus dicatat.

"Ayolah, guys. Para wanita telah meminta waktu untuk sendirian, jadi mari kita tinggalkan mereka." Kris menarik mereka ke lorong dan menutup pintu di belakang mereka dengan kedipan mata yang membuat seluruh leher Baekhyun berubah merah. Sehun memeriksa kuku-kuku jarinya.

Sungguh aku akan bersenang-senang dengan dua orang ini nanti malam.

.

.

.

"Di mana kau bejar memasak seperti ini? Tuhan, ini lezat!" seru Tao, mengambil tambahan paellanya -hidangan yang berasal dari Spanyol berupa nasi yang diberi bumbu rempah dan diberi campuran hasil laut- yang ketiga dari panci besar yang berada di tengah meja.

"Terima kasih, Tao." Aku tertawa saat ia mengambil beberapa sendok nasi lagi.

Luhan menganggukan kepalanya ke gelas wine-ku, dan aku balas mengangguk padanya.

Aku berpikir tentang membuat versi cepat pael saat aku melihat semua seafood segar yang dijual di pasar lokal, dan saat aku melihat anggur spesial yang mereka jual Spanish Rosé dan Cava, rencanaku menjadi makin matang. Kami memulainya dengan Cava sementara menyiapkan masakan di dapur. Kilauan Spanish wine akan sempurna dengan irisan Manchego yang telah aku beli juga, serta sedikit asinan zaitun. Sekali lagi, Luhan adalah asistenku, dan kami bekerja sama di dapur. Empat orang yang lain duduk di bangku bar di seberang kami sementara kami memasak, seseorang memutar rekaman lama dari Otis Redding di turntable kuno, dan kami tenggelam dalam kesibukan.

Wine mengalir sebebas percakapan kami, dan aku tahu kelompok ini berpotensi menjadi group yang solid. Minat yang sama, selera humor yang sama, tapi semuanya cukup berbeda untuk menjaganya tetap hidup. Berbicara tentang hidup, saat alkohol terserap, dinding kesadaran mulai runtuh, Baekhyun dan Sehun nyaris tidak bisa menyembunyikan rasa ketertarikan mereka yang salah tempat. Bukan seperti yang dipikirkan oleh para lelaki. Kenyataannya, merekalah yang menganjurkannya. Saat ini Kris sedang memeriksa kaki Baekhyun karena Baekhyun bersikeras itu adalah gigitan laba-laba. Faktanya Kris telah memeriksanya beberapa menit dan bisa dikatakan bahwa pemeriksaan itu termasuk memijat betis yang tidak luput dari perhatianku, maupun Luhan.

Dia menyeringai dan mengisyaratkan padaku agar mendekat. Aku meluncur ke bangku dan menundukan kepalaku padanya. Ia meletakkan mulutnya di telingaku, dan aku menghirup aromanya. Wine, panas, dan seks sebenarnya berlari langsung ke lubang hidungku dan menyerang otakku, mengubah segalanya menjadi sedikit kabur.

"Berapa lama sebelum mereka berciuman?" bisiknya, mulutnya begitu dekat aku bersumpah aku merasa mulutnya menyapu telingaku.

"Apa?" tanyaku, mulai terkikik seperti yang aku lakukan ketika aku sedikit terlalu banyak minum dan sedikit terlalu banyak hal seksi yang tergantung di hadapanku.

"Berapa lama? Kau tahu, sebelum mereka mencium orang yang salah?" tanyanya saat aku menoleh untuk melihat ke dalam matanya. Mata itu, oh, mata itu sekarang memanggilku.

"Maksudmu orang yang tepat?" bisikku.

"Yeah, orang yang tepat," jawabnya, bergeser sedikit lebih dekat di bangku.

"Aku tidak tahu, tapi jika ciuman itu tidak segera datang, aku akan meledak," aku mengakui, menyadari sepenuhnya aku tidak lagi membicarakan tentang teman-teman kami. Dan menyadari sepenuhnya bahwa ia tahu benar aku tidak lagi membicarakan tentang teman-teman kami.

"Hmm, aku tidak ingin kau sampai meledak." ia sekarang hanya seinchi dari wajahku.

Harem. Harem. Harem. Aku mengulangi mantra ini berulang-ulang.

"Aku ingin pergi ke jacuzzi." Rengekan menarikku menjauh dari pesona voodoo dan kembali ke dapur. Dimana disana orang-orang berada.

"Aku ingin pergi ke jacuzzi," aku mendengarnya lagi dan menoleh ke arah Baekhyun. Bayangkan betapa terkejutnya aku ketika aku melihat bahwa Sehunlah sebenarnyayang merengek, dan ia sekarang bergantung pada Tao seperti tas ransel.

"Oke, jadi pergilah ke jacuzzi. Tidak ada satu orangpun yang akan menghentikanmu," desakku, meluncur menjauh dari Luhan dan kembali di depan piringku di mana aku mulai memisahkan kacang polong dari lobsterku. Aku sudah kenyang, tapi aku tidak akan pernah meninggalkan lobster di piring. Aku punya standar, bagaimanapun juga.

"Kau jug harus ikut," rengek Sehun lagi saat aku mulai memahaminya. Sehun sudah mabuk. Sehun bisa menjadi tukang penggelayut saat ia mabuk. Oh boy.

"Pergilah. Aku akan sedikit membersihkan dapur dan kemudian bertemu kalian disana," kata Luhan, mengambil piringku dan mulai berdiri.

"Hey, hey, hey! Pencuri lobster, hello," protesku saat aku meraih garpuku.

"Ini. Aku tidak akan pernah menjadi penghalang antara seorang wanita dan lobster miliknya." Ia tersenyum, menawarkan garpuku kembali. Aku menerima gigitan lobster dengan sebuah senyuman dan berdiri. Aku sedikit lebih mabuk daripada yang aku pikirkan, dan fakta ini muncul saat gravitasi mulai menggodaku.

"Whoa, kau baik-baik saja?" tanyanya, menyeimbangkanku saat Sehun mulai berjalan ke kamar tidur.

"Yeah, aku baik, aku baik-baik saja," jawabku, melangkahkan kakiku dan memenangkan pertempuran.

"Mungkin kau sebaiknya pelan-pelan saja?" tanyanya, mengambil gelas wine-ku.

"Oh, santailah, ini adalah sebuah pesta," teriakku, mulai tertawa. Tiba-tiba semuanya menjadi lucu.

"Oke, pesta dimulai." Ia tersenyum saat aku menuju ke kamar tidur untuk berganti pakaian. Yang terbukti lebih sulit dari yang aku pikirkan. Sulit mengikat tali bikini saat kau lebih dari sedikit mabuk.

.

.

.

.

.

.

.

TBc

aduh... entah kenapa sekarang aku jd jarang banget mantengin ffn jd makin jarang juga aku updatenya. semoga aja besok2 aku bisa cepet update n ni ff cepet kelar.

buat yg minta klo itu bahasa inggris pake aja bahasa inggris, ok deh aku bakal kabulin. terus kapan mereka jadiannya?. nanti. pasti jadian kok. tenang aja

berapa part lagi?. 8 part lagi klo aku gak salah, klo gak salah berati bener dong ya.

ok deh. itu doang cuap2 ku kali ini. aku tunggu reviewnya ya. apa lg klo yg betah jd sider tau2 nongol. wih... lebih bagus lagi tu