"Okay, berikutnya Minseok. Truth or dare," teriak Baekhyun, sekali lagi membuktikan bahwa Drunky Baekhyun hanya memiliki satu level volume.

" Truth," aku balas berteriak, memercikkan air ke wajah Sehun dengan tidak sengaja saat aku mengulurkan tangan ke belakang untuk mengambil gelas wine-ku. Kami membawa botol terakhir kami

Cava yang mana terus menerus bekerja dengan jalannya sendiri di dalam tubuh kami. Dan itu terus menerus bekerja dengan jalannya sendiri di dalam tubuh kami, permainan kami menjadi makin dan semakin berbahaya. Langit sedikit berderak dengan cahaya petir di kejauhan, dan gemuruh kecil dari guntur hanya terdengar di awal saja yang kemudian hanya terdengar suara cekikikan dan percikan air.

Begitu kami keluar dan berendam di jacuzzi, itu hanya beberapa menit sebelum Tao menyarankan sebuah permainan Truth or Dare, dan hanya beberapa detik setelah itu sebelum Sehun menyetujuinya. Awalnya aku menertawakannya, aku berkata tidak mungkin aku ikut bermain sebuah permainan anak kecil. Tapi saat secara tersirat Luhan berkata bahwa aku adalah pengecut, alkohol semakin mempengaruhi isi kepala yang buruk dan meneriakkan sesuatu sebagai efeknya, "aku akan bermain Truth Or Dare, kau berengsek, sampai kau tidak bisa mengatakan kebenaran dari tantanganmu!"

Pernyataan ini sangat masuk akal di kepalaku dan tampaknya logis juga bagi Baekhyun dan Sehun, karena mereka langsung mulai menawarkanku high-five dan yel-yel you-go-girls. Aku sangat yakin aku melihat Luhan menggelengkan kepalanya, tapi ia tersenyum, jadi aku membiarkannya saja. Dan menuangkan segelas Cava lagi.

"Dimana satu tempat yang ingin kau kunjungi dan kau belum pernah kesana,?" tanya Baekhyun, bersenandung mengikuti lagu-lagu yang berasal dari pintu Perancis.

Sehun telah menemukan semua lagu-lagu lama milik kakeknya, dan Luhan hampir memiliki kecocokan saat ia melihat koleksi lagu itu. Ia telah memilih sebuah album dari Tommy Dorsey, dan band besar itu semakin menonjolkan malam yang sempurna.

"Membosankan, buatlah dia memilih tantangan!" Luhan berkata, dan aku menjulurkan lidahku ke arahnya.

"Ini tidak membosankan, dan dia telah memilih Truth jadi ia akan mengatakan kebenaran. Seokie, dimana satu tempat di bumi ini yang ingin kau kunjungi?" Baekhyun bertanya lagi.

Aku menyandarkan kepalaku di pinggiran jacuzzi. Aku menatap bintang-bintang dan gambaran datang dengan cepat di pikiranku: angin yang bertiup dengan lembut, kehangatan matahari menerpa wajahku, lautan terpapang luas di depanku yang dihiasi dengan bebatuan terjal. Aku tersenyum hanya dengan memikirkannya saja.

"Spanyol," desahku pelan, senyum menghiasi wajahku saat aku membayangkan diriku di pantai Spanyol.

"Spanyol?" tanya Luhan. Aku memalingkan wajahku ke arahnya. Ia tersenyum padaku.

"Spanyol. Kesanalah aku ingin pergi. Tapi itu terlalu mahal, sehingga aku harus menundanya beberapa saat," aku tersenyum lagi, pikiranku masih membayangkan gambaran itu.

"Hey, tunggu, Lu, bukankah kau akan pergi ke Spanyol bulan depan?" tanya Kris, dan mataku melebar.

"Um, yeah. Ya , aku akan kesana," jawab Luhan.

"Bagus! Minseok, kau bisa pergi bersamanya," Baekhyun memutuskan, bertepuk tangan dan beralih ke Kris.

"Kris, kau selanjutnya."

"Tidak, tidak, tunggu sebentar. Pertama-tama, aku tidak bisa hanya pergi begitu saja dengan Luhan ke Spanyol. Dan kedua, ini adalah giliranku," protesku, saat Luhan duduk tegak.

"Sebenarnya, kau bisa pergi begitu saja dengan Luhan ke Spanyol," katanya, menoleh padaku sepenuhnya. Di sisi lain jacuzzi menjadi sangat tenang.

"Um, tidak. Aku tidak bisa. Kau bekerja. Aku tidak bisa melakukan perjalanan seperti itu, dan selain itu, aku tidak tahu bisakah aku mengambil cuti bulan depan." aku merasa hatiku mengembang saat aku memproses apa yang baru saja ia katakan.

"Sebenarnya, aku pernah mendengar Jonmyeon memberitahumu bahwa bulan depan akan menjadi waktu yang tepat untuk mengambil liburanmu sebelum musim liburan," cetus Baekhyun. Baekhyun tenggelam kembali ke dalam bayang-bayang saat aku memelototinya.

"Anggaplah itu benar, tapi aku juga tidak bisa untuk itu, jadi diskusi selesai. Sekarang, aku yakin ini adalah giliranku. Mari kita lihat, siapa yang seharusnya aku pilih?" aku melihat setiap orang disekelilingku.

"Tidak akan semahal itu. Aku sudah menyewa sebuah rumah, dan itu sudah pasti telah dibayar. Tiket pesawat dan belanja-itu semua saja yang seharusnya kau bayar," Luhan menambahkan, tidak membiarkan masalah ini berlalu.

"Hey, itu kesepakatan yang bagus, Minseok," Baekhyun menyembur, energi Baekhyun membuat riak kecil di sekitar jacuzzi.

"Okay, Baekhyun, Truth or dare,?" tanyaku, menggertak gigiku dan memaksakan permainan ini.

"Hey, kita sedang mendiskusikan sesuatu di sini. Jangan mengubah topik pembicaraan," kata Baekhyun keberatan.

"Well, aku sudah selesai dengan diskusinya. Truth or dare, kau si berengsek kecil," kataku lagi, memberitahunya bahwa aku serius.

"Baiklah. Dare," jawab Baekhyun mencibir.

"Bagus. Aku menantangmu untuk mencium Tao," aku membalasnya, tidak ragu sedikitpun.

"Apa?" teriaknya, saat seisi jacuzzi ikut terperangah.

"Hey, kita kan hanya bermain saja, bukan? Dan Baek, sebenarnya, ini tidak terlau mengejutkan bahwa aku menantangmu untuk mencium laki-laki yang telah kau pacari selama berminggu-minggu terakhir ini, ya kan?"

"Well, tidak, aku hanya, aku tidak suka menunjukkannya di tempat umum," jawabnya tergagap, hampir lebih parah. Ini pengakuan dari gadis yang hampir ditangkap karena ketelanjangannya di public ketika ia ditemukan di bawah bangku di pertandingan football tahun pertama di Berkeley.

"Oh, ayolah, apa permasalahannya?" Luhan ikut-ikutan, dan aku menatapnya dengan penuh rasa terima kasih.

"Tidak ada, hanya saja-" ia berkata lagi, dan Tao menyelanya.

"Oh, kemarilah, Tiny," seru Tao dan menarik Baekhyun. Mereka saling memandang beberapa detik, dan kemudian menyampirkan sehelai rambut Baekhyun dari wajahnya. Tao tersenyum dan Baekhyun mencodongkan badannya. Aku mendengar Sehun menarik napas bersamaan dengan Kris yang juga menarik napas, dan kami semua melihat Baekhyun mencium Tao.

Dan itu aneh.

Mereka memisahkan diri, dan Baekhyun berenang kembali ke tempatnya. Di samping Kris. Untuk sesaat semuanya menjadi hening. Luhan dan aku saling memandang, tidak yakin apa yang akan dilakukan selanjutnya. Kami telah kehabisan akal. Dan aku kesal saat aku kehabisan akal. Aku mulai meradang. Kenyataan bahwa aku telah mabuk sama sekali tidak ada hubungannya dengan reaksi berlebihanku.

"Oke, kurasa sekarang adalah giliranku. Hmmm... Kris, Truth or dare,?" Tao memulai, dan aku berdiri, memercikkan air ke setiap orang di sekelilingku.

"Tidak, tidak, tidak! Itu tidak seharusnya terjadi!" teriakku, menghentakkan kakiku, kehilangan keseimbanganku dan membuatku tenggelam. Tangan kuat Luhan membawaku kembali ke permukaan air, dan aku melanjutkan omelanku-akibat alkohol. Kilat menyambar, sekarang lebih dekat, membelah langit.

"Kau tidak seharusnya membiarkan Baekhyun mencium Tao!" kataku tergagap, menyemburkan air dari mulutku dan menunjuk pada Kris dan kemudian menunjuk pada Baekhyun. Aku berbalik pada Sehun.

"Dan kau seharusnya marah pada Baekhyun!"

"Mengapa aku harus marah pada Baekhyun? Karena mencium pacarnya?" gumam Sehun, tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada kuku-kukunya.

"Argh!" aku berteriak dan berbalik kembali pada Baekhyun.

"Baek, apa kau lebih tertarik pada Tao?" tantangku, berkacak pinggang saat aku mengamuk.

"Tao adalah seorang pria yang selalu aku idam-idamkan. Dia benar-benar pria tipeku." balasnya seperti robot, menegang saat Kris melihatnya dengan sorot mata yang terluka.

"Blah, blah, blah, sudahkah kau bersetubuh dengan Tao?" jeritku, menunjuk-nunjuk serampangan seperti yang aku cenderung lakukan saat aku minum.

"Oke, Seokie, kau sudah mengutarakan maksudmu," Luhan menenangkan, mencoba membuatku duduk kembali.

"Maksud apa? Apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Sehun, mencodongkan tubuhnya ke depan.

"Oh, tolonglah, kalian berempat itu konyol! Aku tidak peduli akan apa yang kalian semua pikir yang kalian inginkan diatas kertas. Kenyataannya, semua yang kalian lakukan adalah salah!" tukasku, memukul permukaan air untuk menegaskannya. Mengapa mereka tidak memahaminya? Aku tidak tahu kapan aku mulai menjadi kesal, tapi selama enam puluh detik terakhir atau lebih, aku bisa menjadi sangat amat murka.

"Apa kau bercanda?" teriak Baekhyun, berdiri dengan melompat dengan kakinya di dalam jacuzzi, yang membuat airnya tetap di tingkat yang sama.

"Baek, ayolah! Semua orang yang memiliki mata bisa melihat bagaimana perasaanmu dan Kris antara satu sama lain! Mengapa kau membuang-buang waktu dengan orang yang lainnya?" aku menekannya. Luhan menarikku kembali ke pangkuannya dan berusaha menenangkanku.

"Oke, ini sudah melenceng terlalu jauh," jawab Tao, beranjak keluar dari jacuzzi.

"Tidak, tidak! Tao, lihatlah Sehun. Tak bisakah kau melihat Sehun benar-benar tertarik padamu? Sial, mengapa kalian semua begitu tolol? Sungguh? Apa hanya aku dan Luhan saja yang bisa melihat dengan jelas disini?" teriakku sekali lagi, membawa Luhan ke dalam percakapan yang ia inginkan ataupun tidak.

Tao menatap pada Kris, dan kemudian pada Luhan.

"man!" seru Tao.

"Man," jawab Luhan, menunjuk ke arah Sehun, yang berdiri seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu. Tao meletakkan tangannya di bahu Sehun, dan Sehun berhenti dan duduk kembali. Tao menganggukkan kepalanya pada Kris.

"Man?" tanya Tao, dan Kris mengangguk kembali padanya. Tao menarik napas dalam-dalam dan menatap Sehun.

"Sehun, Truth or dare,?" tanya Tao.

"Kita tidak sedang tak bermain lagi-" aku mencoba berteriak, tapi dengan cepat Luhan membekapkan tangannya di mulutku untuk membungkamku.

"Semua beres di sini," Luhan mengumumkannya saat ia menjepitku di pangkuannya lebih rapat dengan menggunakan tangannya yang lain di pinggangku. Guntur menggelegar, menyelimuti adegan ini dengan udara yang tidak menyenangkan.

"Sehun?" tanya Tao lagi. Sehun terdiam, dan tidak menatap kearah Baekhyun dan Kris.

"Dare," bisiknya dan menutup matanya. Alkohol membuat segalanya menjadi lebih dramatis.

"Aku menantangmu untuk menciumku," kata Tao, dan semua yang bisa kau dengar sesekali adalah suara burung yang di seberang danau.

Suara gila yang di jacuzzi akhirnya tenang. Kami semua menonton saat Sehun berbalik pada Tao dan meletakkan satu tangannya di belakang kepala Tao, menarik Tao ke arahnya. Sehun menciumnya, perlahan namun pasti, dan itu seperti berlangsung selama berhari-hari. Aku tersenyum di dalam bungkaman tangan Luhan, dan Luhan menepuk perutku, yang membuatku pening. Saat mereka memisahkan diri, Sehun tertawa di mulut Tao , Tao menjawabnya dengan kekehan khas prianya yang konyol.

"Well, ini memang sudah saatnya," kata Luhan, melepaskan mulutku.

"Baek, aku-" Sehun memulai, menoleh kearah Baekhyun dan menemukan kekosongan di jacuzzi.

Baekhyun dan Kris telah menghilang. Aku hanya bisa melihat pinggiran handuk Kris menuju ke poolhouse -dengan seorang pendamping licin dan basah di lengannya.

"Well, kalau begitu, kita akhiri saja malam ini." Desah Sehun, meraih Tao dengan tangannya.

"Selamat malam." Aku terkikik saat Sehun berjalan ke dalam rumah dengan Tao di belakangnya. Mereka saling berpelukan erat, menggambarkan apa yang akan mereka lakukan. Aku melihat ke poolhouse, dan memperhatikan bahwa lampu belum menyala. Mereka mungkin tidak akan kembali kesini dalam waktu dekat ini.

"Well, itu tadi adalah sebuah perjodohan yang lumayan bagus, meskipun jika kecerobohanmu ditinggalkan keadaannya akan lebih menggairahkan lagi." Luhan terkekeh, meletakkan kepalanya di punggungku. Aku masih bertengger di pangkuannya. Tangannya telah melepaskan mulutku, dan itu mengarah ke selatan, sementara tangannya yang lainnya tetap erat di pinggangku.

"Iya, aku selalu meninggalkan cukup banyak gairah," aku mengamatinya dengan kecut, tidak ingin meninggalkan tempat indah ini, tapi mengetahui aku harus melakukannya- dan segera. Luhan cukup tenang di belakangku dan aku mulai bangkit dari pangkuannya.

"Kau memiliki segalanya untuk diinginkan, Seokie," katanya dengan lembut, dan aku membeku. Itu cukup tenang untuk beberapa saat, kami berdua tidak bergerak, tapi tetap saling bergerak mendekati.

Tanpa melihat kebelakang, aku mengeluarkan tawa kecil. "Kau tahu, aku benar-benar tidak pernah mendapatkan ungkapan seperti itu. Apakah itu artinya aku menggairahkan atau-"

Jari-jari Luhan mulai membentuk lingkaran kecil di kulitku. "Kau tahu dengan pasti apa artinya," dia berbisik telingaku. Udara berhembus di sekitar kami, ketegangannya seperti cuaca yang sebenarnya. Lebih banyak lingakaran kecil. Pada akhirnya, lingkaran kecillah yang akhirnya menghancurkanku.

Aku kehilangan semua kendali. Aku berbalik dengan cepat, menangkapnya saat ia lengah ketika aku membungkuskan kakiku di sekeliling pinggangnya dan membuang semua peringatan, dan mantra haremku, bersama angin. Aku membenamkan tanganku di rambutnya, menikmati nuansa seperti sutra yang basah di ujung-ujung jariku saat aku menariknya ke arahku.

"Mengapa kau menciumku di pesta malam itu?" tanyaku, mulutku hanya beberapa inchi dari mulutnya. Setelah ia menyadari aku yang mengemudikan bus ini, ia menjawabnya dengan menekan pinggulnya padaku, membawa kami semakin dekat bersama-sama lebih daripada sebelumnya.

"Mengapa kau menciumku?" Tanya Luhan, menggerakkan tangannya naik dan turun pada punggungku, berhenti di tempat di mana tangannya direntangkan tepat di pinggangku-dengan jempol di depan, dan jari yang lain di belakang- dan menekanku lebih dekat padanya.

"Karena aku harus," jawabku jujur, mengingat-ingat bagaimana aku bereaksi secara naluriah, menciumnya ketika aku menginginkan segalanya tapi. "Mengapa kau menciumku?" aku bertanya lagi.

"Karena aku harus," kata Luhan, seringainya kembali. Beruntung aku tidak lama melihat seringainya. Karena akhirnya aku menemukan rahasia untuk menghentikan seringaiannya. Bagaimana kau menghentikan Wallbanger menyeringai? Aku menciumnya.

.

.

.

.

Langit terbuka, menghujami dengan air hujan yang dingin, yang bercampur dengan panas di sekeliling kami, dan di antara kami. Aku menatap ke arah Luhan di bawahku, hangat dan basah, dan tidak ada satu pun di dunia yang lebih kuinginkan selain bibirnya di bibirku. Jadi, walaupun setiap lonceng sapi di kepalaku membunyikan alarmnya, aku merapatkan diriku, melingkarkan kakiku lebih ketat di sekitar pinggangnya, dan menatap langsung ke arah matanya.

"Mmm, Minseok, apa yang akan kau lakukan?" Dia tersenyum, tangannya memegang kuat pinggangku seolah jemarinya menekan ke dalam kulitku. Kulitnya menyentuh kulitku dengan cara yang membuat pikiranku tidak bisa bekerja dengan baik, dan aku bisa merasakan—aku benar-benar bisa merasakannya—ototnya di perutku. Dia begitu kuat, kuat yang amat lezat yang membuat pikiranku mulai terbakar, dan organ lain mulai mengambil alih keputusanku. Aku pikir O bahkan menampakkan kepalanya untuk sesaat, seperti tikus tanah. Dia menatap sekilas ke sekitar dengan cepat dan memutuskan sepertinya musim semi lebih dekat dari yang sudah dia perkirakan selama beberapa bulan.

Aku menjilat bibirku, dan dia mengikuti apa yang kulakukan. Aku hampir tidak bisa melihat dia dengan jelas melalui kabut uap dari bak mandi air panas dan sekarang nafsu teramu dalam kuali kecil yang berisi senyawa kimia terklorinasi ini.

"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang baik, itu sudah pasti," aku menarik nafas, hanya sedikit mengangkat tubuhku. Sensasi dari dadaku yang menekan kulitnya tidak bisa terbayangkan. Ketika aku duduk lagi di pangkuannya, aku merasakan reaksinya dengan sangat jelas, dan kami berdua mengerang oleh sentuhan itu.

"Kau akan melakukan hal yang buruk, hah?" katanya, suaranya serak dan berat dan seakan menuangkan sirup maple di atas tubuhku.

"Tidak baik," aku berbisik di telinganya bersamaan dengan bibirnya yang menekan leherku. "Mau berbuat nakal bersamaku?"

"Kau yakin?" dia mengerang, tangannya mencengkeram punggungku dengan nikmat.

"Ayo, Lu. Mari kita menggedor beberapa dinding," jawabku, membiarkan lidahku keluar di antara bibirku dan menyentuh kulit di bawah rahangnya. Lapisan atasnya menggesek indera perasaku dan memberikanku bayangan akan seperti apa rasanya permukaan itu menyentuh tempat lembut lain di tubuhku.

O memunculkan lagi kepalanya sedikit lebih jauh dan langsung pergi menuju ke otakku, yang langsung berbicara secara langsung ke arah tanganku.

Aku menggenggam pangkal lehernya dengan kuat, dan memposisikan dia langsung berhadapan denganku, matanya melebar dan berubah menjadi penghipnotis kecil.

Seringainya sangat kuat, dan begitu pun dirinya.

Aku membungkuk dan menghisap bibir bawahnya di antara gigiku, menggigitinya dengan lembut sebelum menggigit dan menariknya lebih dekat. Dia mendekat dengan suka rela, menyerahkan kendali ketika jemariku menarik dan mendorong rambutnya, dan lidahku menekan bibirnya ketika dia mengerang ke arahku. Semua hal di duniaku menyempit menjadi hanya berpusat pada pria ini, pria luar biasa di tanganku ini dan di antara kakiku, dan aku menciumnya seperti dunia akan berakhir.

Ciuman ini tidaklah manis atau ragu-ragu, ciuman ini murni keputusasaan jasmaniah yang dibubuhi dengan nafsu yang tak dapat dipahami dan bergulir menjadi bola raksasa dari tolong-Tuhan-biarkan- aku-hidup-dalam-mulut-pria-ini-sampai-waktu-yang-tidak-terbatas-di-masa depan. Bibirku membawanya ke dalam tarian yang sama tuanya dengan gunung yang mengawasi kami, lidah, gigi, dan bibir kami saling bertemu dan menghancurkan dan memberikan ketegangan manis yang telah terbangun sejak aku muncul di pintunya memberikan inspirasi untuk nama panggilanku.

Aku bergetar ketika aku merasakan tangannya bergerak ke bawah untuk menangkup pantatku dan menarikku lebih dekat, kakiku bergerak ketika aku terengah seperti pelacur di gereja. Gereja Luhan...di mana aku hampir mati untuk berlutut di hadapannya. Mataku tertutup, kakiku terbuka lebar, dan sekarang aku mendesah ke arah mulutnya seperti anjing gila. Gagasan bahwa sebuah ciuman, hanya sebuah ciuman, mengubahku menjadi kantung besar berisi nafsu dari MinseokButuhItu tidak terbantahkan, dan aku tahu, jika dia terus membuatku merasakan hal ini aku akan mengundangnya langsung ke Tahoeku. Ide bagus.

"Datanglah ke Tahoeku, Luhan," aku bergumam dengan tidak jelas di mulutnya.

Dia berhenti sesaat. "Seokie, datang ke apa mu? Oh, Tuhan," dia bergerak, ketika aku mendorong kami ke sisi bak mandi air panas dan mendorong kami melintasi air, mengosongkan sebagian isinya ke atas geladak dan sebagian lainnya tumpah di sekeliling kami seperti ombak besar.

Dia mendorongku ke arah dinding yang berlawanan, menekanku ke arah bangku dan membelitkan kembali kakiku di sekitar pinggangnya, dan aku dengan penuh keberanian menekankan bibirku kembali ke arahnya, tidak mau melepasnya pergi. Pada satu titik, aku menciumnya dengan keras, sampai dia harus mendorongku menjauh hingga dia bisa mengambil nafas.

"Bernafas, Luhan, bernafas." Aku terkikik, membelai wajahnya ketika dia berjuang keras di depanku.

"Kau...adalah...wanita gila," dia terengah, tangannya melengkung di bawah lengangku dan melingkar di sekitar bahu atasku, menahanku tetap di sisi yang berlawanan ketika aku menekan kakiku ke arah pantatnya, mendorongnya ke tempat di mana aku benar-benar membutuhkannya. Dia menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya, geraman seperti binatang terdengar rendah di tenggorokannya ketika aku meluncurkan gelombang kedua dari serangan yang dipimpin pusat gairahku.

"Kau terasa menakjubkan," aku mendesah ketika aku mulai menciumnya lagi, menghujani dia dengan ciuman di seluruh mulutnya, pipinya, rahangnya, bergeser ke bawah untuk menghisap dan menggigit lehernya dan dia menjatuhkan kepalanya ke belakang untuk membiarkan seranganku.

Tangannya bergerak dengan kasar di tubuhku, bergerak turun di punggungku dan menangkap tali bikiniku, melepaskan ikatannya. Membayangkan payudara telanjangku menyentuh kulitnya membuatku gila oleh nafsu, dan aku memindahkan tanganku dari rambutnya untuk membuka ikatan di belakang leherku. Ketika aku melakukan gerakan itu, aku menyenggol satu botol kosong Cava, dan mengakibatkan efek domino dari botol-botol yang menghantam lantai. Aku tertawa ketika dia mundur, terkejut oleh suara itu.

Matanya biru berkabut, dipenuhi dengan nafsu, tapi ketika matanya terfokus kearahku, matanya mulai mengkristal. Aku akhirnya berhasil membuka simpul ikatannya dan aku bisa merasakan air berputar di sekitar kulitku yang telanjang. Aku mulai menjatuhkan talinya, ketika Luhan menggenggamnya dengan erat di tangannya. Dia menggelengkan kepalanya seperti ingin membuat semuanya menjadi jelas, lalu dia menutup matanya dengan rapat, memutuskan koneksi di antara kami.

"Hey, hey, hey!" aku mendesak, memaksa matanya untuk terbuka dan membuatnya melihat ke arahku. "Baru saja kau pergi kemana?" Bisikku.

Dia menggerakkan tangannya, masih tetap menggenggam tali bikiniku, kembali ke leherku. Pelan-pelan, dia mengikat kembali pakaian renangku ke posisi semula, dan aku merasakan wajahku berubah menjadi merah padam. Seluruh darah di tubuhku mengkhianatiku dengan seketika.

"Minseok," dia memulai, bernafas dengan berat, tapi menatap ke arahku dengan hati-hati.

"Ada yang salah?" aku memotong. Tangannya menyentuh bahuku, dan dia terlihat menjaga jarak di antara kami.

"Seokie, kau luar biasa, tapi aku...aku tidak bisa—" lanjutnya Kali ini aku yang menutup mataku. Emosi bergulung di belakang kelopak mataku, rasa malu menjadi pemimpin di antara mereka.

Hatiku merosot jatuh. Aku bisa merasakan matanya menatap ke arahku, menginginkan aku untuk membuka mataku. "kau tidak bisa," kataku, membuka mata dan melihat kemanapun kecuali ke arahnya.

"Tidak, maksudku, aku..." dia tergagap, jelas terlihat tidak nyaman ketika dia bergerak menjauhiku.

Aku mulai gemetaran. "Kau...tidak bisa?" Tanyaku, tiba-tiba merasakan dingin yang menusuk, bahkan di dalam air. Aku melepas belitan kakiku dari pinggangnya, memberikan ruang yang dia butuhkan untuk menjauh.

"Bukan, Minseok, bukan kau. Bukan seperti—"

"Well, tidakkah aku terlihat seperti orang idiot?" ucapku, tertawa pendek dan bangkit keluar dari air ke sisi bak mandi air panas.

"Apa? Tidak, kau tidak mengerti, aku hanya tidak bisa—" diam bergerak ke arahku dan aku mengangkat kakiku ke arahnya, menekan kakiku di dadanya untuk menahan dia tetap menjauh.

"Hey, Luhan, aku mengerti. Kau tidak bisa. Ini keren. Wow, malam yang gila, hah?" aku tertawa lagi, berbalik dan bergerak ke arah rumah, ingin pergi menjauh sebelum dia bisa melihat air mata yang kutahu sedang dalam perjalanannya untuk keluar.

Tentu saja, ketika aku berusaha untuk mengarahkan langkah kakiku, aku terpeleset di titik basah dan jatuh dengan suara keras. Aku bisa merasakan bagian belakang bola mataku mulai terbakar ketika aku berusaha pergi secepat yang aku bisa, panik aku akan menangis sebelum aku tiba di dalam. Sekarang, ketika aku bergerak, aku bisa merasakan efek dari seluruh alkohol yang aku minum, dan awal mulai dari sakit kepala yang kuat.

"Minseok! Kau tidak apa-apa?" Luhan berteriak, berusaha keluar dari bak mandi air panas.

"Aku tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Hanya..." ucapku, tenggorokanku mulai tertutup ketika aku tersedak oleh isakanku. Aku mengangkat tanganku ke belakang, berharap dia bisa mengerti aku tidak butuh bantuannya. "Aku tidak apa-apa, Luhan."

Aku tidak bisa berbalik dan melihatnya. Aku hanya melanjutkan langkahku. Kutukan dari musik big band masih bermain di atas meja, tapi aku masih bisa mendengar dia memanggil namaku sekali lagi. Aku membiarkannya, aku masuk, merasa bodoh sekarang dalam balutan bikini yang sekarang sama sekali tidak semenarik yang kukira.

Aku bahkan tidak mengambil handuk. Aku malah membuka pintu kaca dan mendengarnya menutup dengan keras di belakangku ketika aku berlari dengan kencang ke kamarku. Aku meninggalkan sedikit genangan air sepanjang jalan menuju kamarku, mencoba untuk mengabaikan tawa yang keluar dari kamar Sehun. Ketika air mata akhirnya meluncur turun di pipiku, aku mengunci pintuku dan membuka bikiniku. Merangkak ke kamar mandi, menyalakan lampu, dan di sanalah aku berdiri, memantul kembali ke arahku. Telanjang, rambut basah menutupi punggungku, memar mulai terbentuk di pahaku karena jatuh...dan bengkak, bibir yang membengkak karena ciuman.

Aku membungkus rambutku dengan handuk, dan kemudian mendekatkan diriku lebih dekat dengan cermin.

"Minseok, sayangku, kau baru saja ditolak oleh seorang pria yang pernah membuat seorang wanita mengeong selama tiga puluh menit tanpa henti. Bagaimana rasanya?" wanita telanjang di cermin menjawabku, menjadikan jempolnya sebagai mikrofon kecil. Dia bergerak di hadapanku, mengangkat jempolnya.

"Yah, aku minum cukup banyak wine sampai mampu menenggelamkan pemukiman kecil di Spanyol, aku belum mengalami orgasme selama sekitar seribu tahun, dan aku mungkin akan mati tua sendirian dalam apartemen cantik dengan semua anak haram Monggu berkerumun mengelilingiku...kau pikir seperti apa rasanya?" aku balik bertanya, mengerahkan jempolku ke arah Minseok di cermin.

"Minseok bodoh, kau kan sudah mengebiri Monggu," Jawab Minseok di cermin, menggelengkan kepalanya ke arahku.

"Urusi dirimu sendiri, Minseok di cermin, karena aku tidak bisa melakukannya," aku selesai, mengakhiri wawancarku dan membawa pantat telanjangku kembali ke tempat tidur. Memakai kaos, menjatuhkan diri ke tempat tidur, diriku yang mabuk kelelahan karena pendakian dan makan malam, anggur serta musik dan percumbuan terbaik yang pernah kulakukan. Pikiran ini membawa air mataku kembali ke permukaan, dan aku berguling untuk mengambil tisu, namun menemukan kotaknya kosong, yang membuatku menangis lebih keras lagi.

Penyihir Wallbanger bodoh.

Bisakah malah ini menjadi lebih buruk lagi? Dan kemudian teleponku berdering.

.

.

.

.

"Panekuk, sweetie?"

"Tentu, terima kasih, babe."

Ya Tuhan.

"Masih adakah krim untuk kopinya?"

"Aku punya krim untukmu di sini, sayang."

Astaga.

Mendengarkan pasangan yang baru jadian, lebih tepatnya dua pasangan baru kadang-kadang bisa membuat muntah. Tambahkan dengan sensasi mabuk, dan ini akan menjadi pagi yang panjang. Setelah berbicara dengan James di telepon semalam, aku jatuh tertidur dengan sangat pulas, terbantu, tanpa diragukan, oleh semua anggur yang aku konsumsi. Aku bangun dengan lidah yang terasa tebal, sakit kepala sebelah, dan perut yang memberontak—menjadi lebih mual lagi ketika aku tahu aku harus bertemu dengan Luhan pagi ini dan berhadapan dengan percakapan aneh kita-benar-benar-lepas- kontrol-tadi-malam.

James membuatku merasa lebih baik. Dia membuatku tertawa dan aku mengingat bagaimana dia memperlakukanku dengan baik dulu. Kenangan yang sangai indah, dan terasa lebih menenangkan. Dia menelepon berpura-pura untuk mengecek mengenai warna cat, yang dengan cepat aku anggap sebagai gertakan. Dan kemudian dia mengakui dia hanya ingin berbicara denganku, dan menyegarkan diri dari Penolakan di Bak Mandi Air Panas yang Hebat, aku senang bicara dengan seseorang yang aku tahu menginginkan perhatianku.

Sialan kau, Luhan. Ketika James mengajakku untuk makan malam akhir pekan berikutnya, aku menyetujuinya dengan segera. Kami yakin akan sangat menikmatinya...dan semenjak O kembali ke liang persembunyiannya, aku mungkin juga akan menikmati malam di kota.

Sekarang, aku duduk di meja sarapan, dikelilingi oleh dua pasangan baru yang memenuhi dapur dengan kepuasan seksual yang cukup untuk membuatku menjerit. Meskipun begitu aku tidak melakukannya. Aku mengingatkan diriku ketika Baekhyun duduk dengan riangnya di atas pangkuan Kris, dan Tao menyuapi Sehun dengan bola melon seolah-olah keberadaan dia di bumi memang untuk alasan ini dan memang hanya untuk alasan ini.

"Bagaimana sisa malammu, Nona Minseok?" Baekhyun berkicau, mengangkat alisnya ingin tahu. Aku menekan ujung garpuku ke tangannya dan menyuruhnya untuk diam.

"Wow, galak. Seseorang pasti menghabiskan malam seorang diri," Sehun berbisik ke arah Tao.

Aku mendongak ke arah dia dengan terkejut. Sikap santai mereka terhadap urusan ini benar-benar mulai membuatku merasa terganggu.

"Well, tentu saja aku menghabiskan malam sendirian. Memangnya kalian pikir aku menghabiskan malam dengan siapa? Huh?" tanyaku, menggebrak meja dan menyenggol gelas jus jerukku sampai terguling. "Ah, pergi kalian semua ke neraka," gerutuku, menghambur ke arah teras, air mata mulai muncul lagi untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari 12 jam.

Aku menjatuhkan diri di salah satu kursi Adirondack, menatap ke arah danau. Udara dingin pagi menenangkan wajahku yang memanas, dan aku menghapus air mataku dengan serampangan ketika aku mendengar langkah kaki perempuan mengikutiku ke teras ini.

"Aku sedang tidak ingin membahas ini, okay?" Perintahku, ketika mereka duduk di hadapanku.

"Oke...tapi kau harus memberi tahu kami sesuatu. Maksudku, kukira ketika kita pergi tadi malam, maksudku...kau dan Luhan melakukan —" Baekhyun memulai, dan aku menghentikannya.

"Aku dan Luhan bukan apa-apa. Tidak ada aku dan Luhan. Apa, kalian kira kami akan menjadi pasangan hanya karena kalian berempat akhirnya menyadari urusan kalian masing-masing? Omong-omong, Terima kasih kembali untuk itu," bentakku, menarik penutup topi bulatku turun lebih rendah ke wajahku, menutupi air mata yang terus turun dari sahabat-sahabatku.

"Seokie, kami hanya berpikir—" Sehun memulai, dan aku juga menghentikannya dengan segera.

"Kalian pikir karena kami adalah orang yang tersisa, kami secara ajaib berubah menjadi pasangan? Benar-benar seperti di buku cerita —tiga pasangan yang cocok dengan sempurna, begitu? Seperti hal itu memang pernah terjadi. Ini bukan kisah novel romantis."

"Oh, ayolah, kalian berdua cocok satu sama lain. Kau menyebut kami buta tadi malam? Hai, panci. Ini aku, wajan," Sehun balas membentak.

"Hai, ketel, kau punya waktu sekitar 30 detik sebelum si panic menendang pantatmu. Tidak terjadi apa-apa. Tidak akan terjadi apa-apa. Jika kau sudah lupa, dia punya harem, ladies. Sebuah Harem! Dan aku tidak akan jadi selir ketiganya. Jadi kau bisa melupakan ini, okay?" teriakku melompat dari kursi, kembali ke dalam rumah, dan berlari tepat ke arah si pendiam Luhan.

"Bagus! Kalian ada di sini juga! Dan aku bisa melihat kalian berdua mengintip melalui tirai, idiot!" teriakku, ketika melihat Kris dan Tao mundur dari jendela.

"Minseok bisakah kita bicara?" tanya Luhan, menangkap tanganku dan memutarku menghadap ke arahnya.

"Tentu, kenapa tidak? Ayo buat rasa malu ini menjadi lengkap. Karena kalian semua penasaran dengan apa yang terjadi, aku menyerahkan diriku pada pria ini tadi malam, dan dia menolakku. Oke, rahasia terbongkar. Sekarang bisakah kita melupakan hal ini?" aku melepaskan diri dari genggaman tangannya dan berjalan melalui jalan setapak ke arah danau. Aku tidak mendengar apapun di belakangku dan berbalik untuk melihat mereka berlima, mata melebar dan jelas-jelas tidak yakin akan melakukan apa selanjutnya.

"Hey! Ayolah, Lu. Ayo pergi," Aku menjentikkan jariku, dan dia mengikutiku, terlihat sedikit ketakutan.

Aku menghentakkan langkahku dan mencoba untuk memperlambat nafasku. Jantungku berdegup kencang, dan aku tidak ingin berbicara ketika aku gusar seperti sekarang. Tidak ada hal baik yang akan keluar dari sini. Ketika aku menarik nafas dan menghembuskannya, aku melihat pagi yang cantik di sekitarku dan mencoba membiarkan pemandangan itu sedikit meringankan hatiku. Apakah aku perlu membuat semua ini menjadi lebih aneh dari seharusnya? Tidak. Aku punya kendali di sini, begitu juga tadi malam. Aku seharusnya bisa membuat kejadian semalam tidak perlu terjadi, atau pasti bisa mencobanya.

Aku bernafas lagi secara perlahan, merasakan sedikit ketegangan meninggalkan tubuhku. Terlepas dari semua hal yang terjadi, aku menikmati kehadiran Luhan dan mulai marasakan dia sebagai temanku. Aku tetap berjalan menghentak di sepanjang jalan setapak, namun pada akhirnya mengurangi kecepatan langkahku menjadi santai. Aku melewati pepohonan di belakangku dan tidak berhenti sampai tiba di ujung dok. Matahari mengintip setelah badai tadi malam, memantulkan cahaya perak ke permukaan air.

Aku mendengar dia menyusulku dan berhenti tepat di belakangku. Aku mengambil nafas panjang lagi. Dia tetap diam.

"kau tidak akan mendorongku, kan? Itu akan menjadi keputusan yang buruk, Lu." Dia tertawa, dan aku tersenyum kecil, aku tidak ingin tersenyum, tapi juga tidak sanggup menahannya.

"Minseok bisakah aku menjelaskan tentang kejadian semalam? Aku ingin kau tahu bahwa—"

"Jangan, oke? Tidak bisakah kita menganggapnya sebagai obrolan santai?" tanyaku, berputar untuk menghadap langsung ke arahnya dan mencoba untuk mendahului kata-katanya.

Dia menunduk menatapku dengan pandangan paling aneh di wajahnya. Dia terlihat berpakaian dengan terburu-buru: baju hangat putih, celana jeans sobek, dan sepatu gunung yang bahkan tidak diikat, talinya sekarang terjatuh dan berlumpur. Tetap saja dia terlihat mengagumkan, matahari pagi menyinari garis wajahnya yang kuat dan pemandangan itu terasa begitu nikmat.

"Kuharap aku bisa, Seokie, tapi—" dia memulai lagi.

Aku menggelengkan kepalaku. "Serius, Luhan, bisakah—" aku memulai, tapi berhenti ketika dia menekan jarinya ke mulutku.

"Kau yang harus diam, oke? Kau terus memotongku, dan lihat seberapa cepat kau akan dilemparkan ke danau itu," dia memperingatkanku dengan binar di matanya.

Aku mengangguk, dan dia memindahkan jarinya. Aku mencoba membiarkan panas yang membara di bibirku, bara yang muncul ke permukaan hanya dengan sentuhan kecilnya.

"Jadi, tadi malam kita hampir saja melakukan kesalahan besar," katanya, dan ketika dia melihat mulutku mulai kembali terbuka, dia menggoyang jarinya ke arahku.

Aku mengunci mulutku, membuang kuncinya ke danau. Dia tersenyum sedih dan melanjutkan.

"Sangat jelas aku tertarik padamu. Bagaimana mungkin aku tidak tertarik? Kau menakjubkan. Tapi kau mabuk, aku mabuk, dan sehebat apapun yang akan terjadi tadi malam, itu akan—ah, itu akan mengubah sesuatu, kau tahu? Dan aku tidak bisa, Minseok. Aku tidak bisa membiarkan diriku untuk...aku hanya..." dia berusaha keras, mengusap tangan ke rambutnya dengan sikap yang kupahami sebagai rasa frustasinya. Dia menatap ke arahku, berharap aku akan membuat segalanya menjadi lebih baik, untuk mengatakan kepadanya kami baik-baik saja.

Apakah aku ingin kehilangan seorang teman karena hal ini? Tentu tidak.

"Hey, seperti yang aku bilang, santai—terlalu banyak anggur. Selain itu, aku tahu kau punya peraturanmu sendiri, dan aku tidak bisa...aku hanya lepas kendali tadi malam," jelasku, mencoba untuk membuat dia percaya alasannya.

Dia membuka mulutnya untuk berkomentar, tapi setelah beberapa saat dia mengangguk dan mengeluarkan desahan panjang. "Kita tetap berteman? Aku tidak ingin semuanya berubah menjadi aneh. Aku benar-benar menyukaimu, Minseokie," katanya, terlihat seolah-olah dunianya akan berakhir.

"Tentu saja teman. Memangnya akan jadi apa lagi kita?" Aku menelan ludah dengan susah dan memaksa senyuman. Dia juga tersenyum, dan kami mulai berjalan kembali ke jalan setapak. Oke, ini tidak terlalu buruk. Mungkin ini akan berhasil. Dia berhenti dan mengambil segenggam penuh pasir pantai dan menyimpannya ke dalam plastik kecil.

"Botol?"

"Botol." Dia mengangguk, dan kami mulai berjalan.

"Jadi sepertinya recana kecil kita berhasil," kataku, mencoba mencari bahan obrolan.

"Dengan orang-orang itu? Oh ya, kurasa berhasil cukup baik. Mereka terlihat berhasil menemukan apa yang mereka butuhkan."

"Itu yang berusaha dilakukan semua orang, bukan?" aku tertawa ketika kami melintasi teras menuju ke dapur. Empat kepala menghilang dari jendela dan mulai mencari posisi tidak mencurigakan di sekitar meja. Aku berdeham.

"Selalu menjadi hal yang bagus ketika apa yang kau butuhkan dan apa yang kau inginkan adalah hal yang sama." kata Luhan, menahan pintu terbuka untukku.

"Wow, kau mengatakan sesuatu yang sangat berarti." Kesedihan tiba-tiba menghantamku lagi, tapi aku tidak perlu memaksakan senyuman ketika aku melihat bagaimana senangnya teman-temanku.

"Kau mau sarapan? Aku rasa masih ada roti kayu manis." Tawar Luhan, berjalan ke arah meja.

"Um, tidak. Aku rasa aku akan berkemas, merapikan barang-barangku," kataku, menyadari semburat kekecewaan melintasi wajahnya sebelum dia tersenyum dengan berani.

Baiklah, jadi ini tidak terlalu bagus. Well, itu yang terjadi ketika dua orang teman berciuman. Semuanya tidak akan sama lagi. Aku mengangguk ke arah gadis-gadisku dan menuju kamarku.

.

.

.

.

Terdorong oleh keinginanku untuk kembali ke kota, dalam waktu dua jam kami semua sudah beres berkemas dan menentukan siapa yang berkendara dengan siapa. Aku tidak mau sendirian dengan Luhan, jadi aku menarik Baekhun dan menyuruh dia untuk membawa Kris bersama kami. Sekarang kami semua berada di luar merapikan tas-tas. Ketika Luhan memasukkan semuanya ke dalam Range Rover. Aku sedikit gemetar, menyadari sudah terlambat untuk mengambil jaket buluku dari dalam tas, yang sekarang sudah terkubur di bawah yang lain. Ketika dia berbalik, dia menyadarinya.

"Kau kedinginan?"

"Sedikit, tapi tidak apa-apa. Tasku di bawah, dan aku tidak mau kau mengeluarkan lagi semuanya," jawabku, menggoyangkan kakiku untuk tetap hangat.

"Oh! Itu mengingatkanku akan sesuatu, aku punya sesuatu untukmu," serunya, mengeledah tasnya, yang berada di posisi paling atas. Dia menyerahkan kepadaku bingkisan empuk, terbungkus dengan kertas coklat.

"Apa ini?" tanyaku. Dia tersipu. Luhan tersipu? Aku tidak pernah melihatnya...

"Kau tidak berpikir aku lupa, kan?" jawabnya, rambutnya jatuh menyentuh matanya ketika dia mengeluarkan senyum kekanakan. "Aku akan memberikannya tadi malam, tapi kemudian—"

"Hey, Lu! Bisakah kau membantuku di sini!" Tao memanggil ketika dia berusaha untuk memasukkan barang-barang Sehun. Kemarin, ini adalah pekerjaan Kris. Sekarang ini tugas Tao. Kemarin. Dunia berubah banyak hanya dalam satu hari.

Dia meninggalkan aku ketika Baekhyun dan Kris mengambil tempat duduk di kursi belakang.

Aku membuka bingkisannya dan menemukan sweater Irlandia yang sangat lembut dan tebal. Aku mengeluarkannya, merasakan beratnya dan teksturnya yang bergelombang. Aku menekannya ke arah hidungku, menyerapa aroma wol dan tidak salah lagi aroma Luhan yang menempel di sini. Aku tersenyum ke arah sweater, kemudian memakainya di atas kaosku, mengagumi bagaimana benda ini meluncur dengan lembut, tapi tetap membungkusku dengan cara yang nyaman, aku berbalik untuk melihat Luhan sedang melihat ke arahku melalui mobil Tao. Dia tersenyum ketika aku berbalik ke arahnya.

"Terima kasih," Ucapku tanpa suaraku.

"Sama-sama," balasnya.

Aku mengirup aroma sweaterku dengan dalam dan lama, berharap tidak ada seorang pun yang memperhatikan.

.

.

.

.

Tbc