wah... makasih ya yang udah pada review ff abal2 ku ini. semoga kedepannya ni ff bahasanya makin mudah dipahamin n gak berat lagi, jd kalian gak bingung bacanya. aku udah usaha banget buat bahasanya jadi lebih ringan jadi kalau masih banyak yang bingung jg aku gak tau mau bilang apa lagi deh.

chapter kmrn Minseok diPHPin abis2an ama Luhan ya.. muehehehhehe.

klo jadi Minseok udah aku hajar tu rusa atu. udah nanggung banget gt tau2 gak jd. appo in the kokoro banget dah ya

udah ah cuap-cuap gajenya.

met baca aja n aku tunggu reviewnya.

sidernya semoga pd tobat n mulai nampakin diri ya.

.

.

.

.

Di dalam sebuah Range Rover hitam selama perjalanan kembali ke San Francisco…(ini sejenis obrolan mereka dengan iner mereka masing-masing ya dan pemikiran mereka secara acak gak berurutan, aku takut kalian bingung)

Minseok : Oke, aku bisa melakukannya...Ini hanya beberapa jam perjalanan kembali ke kota. Aku bisa menjadi orang yang lebih dewasa di sini. Aku bisa bertindak seolah-olah dia tidak berhenti tiba-tiba dari kegiatannya menelanjangiku ketika ia melihat payudaraku semalam-dan apa-apaan sih? pria mana yang mengatakan tidak untuk menyentuh payudara? Maksudku, aku memiliki payudara yang bagus. Payudara yang menonjol dengan bagus dan kencang, dan basah, demi Tuhan...! Kenapa dia tidak menginginkan payudaraku? Minseok, tenang saja...Tersenyum saja padanya dan bertindak seperti semuanya baik-baik saja. Tunggu, dia melihat ke arah sini. Senyum! Oke, dia tersenyum kembali...Penolak Payudara bodoh...Maksudku, ada apa dengannya saat itu? Dan dia juga sudah keras!

Luhan : Minseok tersenyum padaku...Aku bisa tersenyum kembali padanya, kan? Maksudku, kami bersikap natural, kan? Oke, berhasil. Aku berharap kelihatan lebih natural daripada perasaanku. Ya Tuhan, siapa yang tahu sweater kebesaran akan terlihat begitu luar biasa dikenakan oleh seorang gadis...Tapi semuanya terlihat sangat pas dikenakan oleh Minseok terutama bikini hijau itu. Apakah aku benar-benar menolaknya semalam? Oh Tuhan, sangat mudah untuk menyentuhnya kemudian aku tidak bisa. Mengapa aku tidak bisa? Ya Tuhan, Luhan. Well, kami mabuk...Koreksi, dia yang mabuk. Apa dia menyesalinya? Dia mungkin menyesalinya nanti jika kami tetap melakukannya. Tidak bisa mengambil risiko?Mungkin akan jadi sedikit bencana jika kami tetap melanjutkannya. Atau seperti itukah para gadis ketika mereka terangsang dan sedikit mabuk? Aku seharusnya tidak melakukannya juga dengan para gadis lain. Tapi sekarang, aku bahkan tidak melakukannya dengan baik dengan gadis lain belakangan ini, ya kan? Huh, aku bahkan tidak memikirkan tentang mereka sekalipun akhir pekan ini. karena aku tidak bisa berhenti memikirkan Minseok.

Dia menatapku lagi. Apa yang akan kami bicarakan di sepanjang perjalanan kembali ke kota? Kris bahkan tidak memerhatikan interaksi kaku antara aku dan Minseok. Bajingan. Aku bilang padanya bahwa ia harus membantuku. Dia membantu dirinya sendiri untuk seorang yang susah di urus seperti Baekhyun. Aku hampir menyesal Minseok dan aku bekerja sangat keras untuk menyatukan mereka bersama. Hmm. Minseok dan aku. Minseok dan aku di dalam bak mandi air panas, di mana ia yang memakai bikini itu dilarang. Ya Tuhan, tunggu dulu-ya, sekarang aku sudah setengah tegang

Minseok : Kenapa dia gelisah seperti itu? Ya Tuhan, apa dia harus buang air kecil? Mungkin aku harus buang air kecil. Mungkin ini akan menjadi waktu yang tepat untuk menyarankan istirahat untuk pipis. Lalu aku bisa menarik Baekhyun dan memastikan dia tahu alasan mereka menumpang dengan kami bukan berarti mereka bisa berciuman sepanjang perjalanan, tapi untuk membantuku menghadapi Si Takut Payudara di sebelah sana. Oke, minta padanya saja untuk menepi di pompa bensin berikutnya. Wow, dia benar-benar harus buang air kecil, kukira. Kuharap di SPBU ini ada Gardetto

Luhan : Terima kasih Tuhan dia ingin berhenti. Sekarang aku dapat menyesuaikan diri tanpa terlihat seperti orang mesum. Oh, siapa yang bercanda? Aku memang orang mesum. Aku mengendarai mobil dengan seorang wanita yang mengangkangiku tadi malam dan hanya dengan memikirkan hal itu membuatku keras. Mesum, mesum, mesum. Kuharap di SPBU ini ada Gardetto.

Baekhyun : Ooh! Kami berhenti! Kuharap di SPBU ini ada permen karet!

Kris : Oh, man, kita berhenti? Kita tidak akan sampai kembali ke kota sebelum gelap. Baekhyun ingin aku melihat tempatnya, dan aku benar-benar berharap itu artinya berkeliling sambil telanjang dan membiarkan aku menontonnya yang berkeliling tanpa pakaian. Kuharap di SPBU ini ada kondom.

Minseok : Oke, kau bisa menanganinya sedikit lebih baik. Baekhyun menyarankanku dan Luhan berbagi sekantong besar Gardetto bukanlah masalah besar. Apakah aku sedikit sensitif hari ini? Ya, kukira begitu. Tapi aku tahu pasti bahwa Luhan sedang memelototi pantatku saat aku berjalan menjauh dari mobil. Kenapa dia memelototi pantatku sekarang? Tadi malam dia bahkan tidak ingin mengintip ke balik bikiniku. Apa dia benar-benar serumit itu? Kenapa sih dia menatapku? Dia mengulurkan tangannya. Tetap diam, Minseok, diam. Oh, ada biji wijen di daguku. Nah, jika kau tidak melihat bibirku, Mr Lu, kau bahkan tidak akan menyadarinya. Kau tidak akan pernah mengambil biji wijen ini sekarang, buddy. Sial! Mengapa sweater ini harus tercium begitu harum? Aku harap dia tidak melihatku mengendus sweater ini sepanjang jalan.

Luhan : Dia benar-benar suka mengendus hari ini. Kuharap dia tidak terkena flu. Kami menghabiskan begitu banyak waktu di luar akhir pekan ini. Aku tidak suka memikirkannya sakit. Dia baru saja mengendus lagi. Haruskah aku menawarkannya Kleenex?

Baekhyun : Tertangkap kau, Minseok. Aku benar-benar tahu kau mengendus sweater itu.

Kris : Aku ingin tahu apa Baekhyun punya permen karet lebih? Aku harap dia tidak melihatku membeli kondom-kondom itu. Maksudku, aku tidak ingin menjadi terang-terangan. Tapi aku sudah pasti ingin berada di bawah tubuhnya lagi sangat, sangat segera. Siapa yang tahu seseorang yang begitu mungil bisa begitu berisik dan sekarang aku sudah keras

Baekhyun : Kris Wu-Wu Yifan...Baekhyun Wu...Baekhyun Wu...Wu Baekhyun…

Minseok: Oke, Seokie, waktunya untuk melakukan percakapan sulit itu-dengan diri sendiri. Mengapa tepatnya kau melemparkan diri pada Luhan semalam? Apakah itu karena anggur? Musik? Voodoo? Apakah itu kombinasi dari semuanya? Oke, oke, tidak ada lagi omong kosong. Aku melakukannya karena...karena...Sial, aku butuh lebih banyak Gardetto.

Luhan : Dia begitu manis. Maksudku, ada yang disebut ayu, tapi ada juga yang disebut manis. betapa pengecutnya aku. Persetan dengan manis-dia itu cantik. Pengecut, aku memaki diriku sendiri. dan beraroma harum. Pengecut. Mengapa beberapa gadis beraroma lebih manis dan menggiurkan? Beberapa gadis beraroma seperti bunga bercampur buah. Maksudku, mengapa beberapa gadis ingin beraroma seperti mangga? Mengapa seorang gadis harus beraroma seperti mangga? Mungkin jika aku cukup hanya memikirkan kata mangga aku tidak akan berpikir tentang vagina lagi. Seokie...mangga...Minseok...vagina...Oh Tuhan! Dan sekarang aku keras.

Minseok : Dia tampaknya seperti ingin buang air kecil lagi. Dia terlalu banyak minum kopi. Dia sudah meminum sekitar enam cangkir dari termos itu. Itu lucu. Dia tidak pernah minum cangkir kedua di rumah. Kenapa aku tahu berapa banyak cangkir kopi yang ia minum? Terima saja itu, Minseok, kau tahu begitu banyak tentang dia karena. karena….

Kris : Dude, kita berhenti lagi? Kita tak akan pernah sampai di rumah. Temanku mengalami beberapa masalah serius hari ini. Aku mungkin harus melihat apakah dia ingin minum bir atau apapun ketika kami kembali-jika seandainya dia ingin berterus terang tentang apa yang sebenarnya terjadi semalam. Haruskah aku menawarinya minum? Wow, Baekhyun terlihat fantastis memakai celana itu. Aku bertanya-tanya apa dia membeli lebih banyak permen karet.

Baekhuyn : Hentikan mengendus sweatermu, Seokie! Serius, girl. Andai saja aku bisa mengajaknya bicara berdua. Oke, Luhan tampaknya terpincang-pincang menuju toilet pria. Aku bisa mengajaknya bicara di stan beef jerky.

Minseok : Ugh...Aku tidak percaya Baekhyun tahu aku mengendus sweater ini. Aku ingin tahu apakah Luhan juga memperhatikan.

Luhan : Dia tampaknya sudah lebih baik. Tidak mengendus lagi.

Baekhyun : Aku harus mengirim pesan pada Sehun. Dia harus tahu situasi Luhan /Minseok tidak lebih baik dari sebelumnya. Apa yang akan kami lakukan dengan kedua orang ini? Maksudku, serius...kadang-kadang orang tidak bisa melihat apa yang ada di depan mata mereka. Aawww...Kris ingin aku menggaruk punggungnya. Aku memujanya. Dan sial, jari-jarinya panjang.

Kris : Mmmm...aku menggaruk punggungku...garuk...punggung...garuk...Mmmm...

Minseok : Oke, tidak ada lagi menghindari semua ini di kepalamu sendiri, Kim. Dan sekarang aku serius karena aku menggunakan nama margaku. Sekarang dengarkan, Kim...Heeheehee...aku terdengar seperti orang keren!

Luhan : Jadi...dia cekikikan? Lelucon dalam hati, katanya. Jadi mungkin dia baik-baik saja dengan bagaimana ini akan terjadi-uups, aku menyambar kantong Gardetto's yang salah. Apa dia baru saja menggeram padaku?

Minseok : Menolak payudaraku dan kemudian mencoba untuk mencuri Gardettoku? jangan harap, buddy. Oke, Kim, tidak ada cekikikan lagi. Kau tidak dapat menghindari hal ini selamanya, bahkan dalam pikiranmu sendiri. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang terkumpul: 1. Mengapa kau melemparkan diri pada Luhan tadi malam? Dan kau tidak diizinkan untuk menyalahkan alkohol atau musik atau hasrat liburan atau insting atau Jantung atau apa pun. 2. Mengapa dia menolakmu? Jika dia tidak ingin ke arah sana, mengapa dia menggodamu selama berminggu-minggu, dan bukan hanya dengan cara bertetangga biasa? Dia punya harem, demi Tuhan. Dia bukan seorang Puritan. Agh! 3. Apa ditolak oleh Luhan ada hubungannya dengan kencan yang kau setujui dengan James? 4. Bagaimana Luhan dan aku kembali berteman ketika kami tahu seperti apa rasanya saling menyesap bibir masing-masing? Dan rasanya sangat, sangat, sangat nikmat. Oke, ya. Kau boleh mengendus sweaternya sekali lagi-hanya saja jangan biarkan orang lain melihatmu.

Luhan : Aku harus mencari jalan keluar tentang masalah ini dengan Minseok. Dia begitu hebat, maksudku sangat hebat. Apakah pernah ada seorang wanita yang memiliki setiap kualitas yang aku cari? Kecuali untuk Natalie Portman, tentu saja. Tapi Minseok? Aku harus berhenti terlalu sering menonton Lifetime-maksudku pria macam apa yang di dalam pikirannya sendiri bahkan memikirkan kalimat seperti: "Apakah pernah ada seorang wanita yang memiliki setiap kualitas yang aku cari?" Tunggu, apakah aku mencari wanita seperti itu? Tidak, aku tidak pernah. Aku tidak punya waktu untuk itu, ruang untuk itu-dan gadis-gadisku tidak ingin hubungan standar yang kuno. Mereka menjauhi tipe orang yang seperti itu. Minseok bilang dia bukan tipe orang seperti itu. Katie sudah menemukan jodohnya, dan aku merasa senang untuknya.

Kapan terakhir kali aku bahkan berbicara dengan Nadia atau Lizzie? Mungkin mereka tidak tepat untukku lagi. Aku tidak menginginkan mereka seperti mungkin aku menginginkan... menginginkan Minseok. Dasar kau pengecut, Lu...Ya Tuhan, Minseok-dia wanita pilihan. Tunggu sebentar. Apa-apaan ini? Apakah kau benar-benar terhibur dengan ide sebuah-menelan ludah-hubungan? Dan kenapa aku benar-benar memikirkan kata "menelan ludah"? Itu sedikit dramatis, Lu. Ayolah, pikirkan tentang hal ini. Jika aku ingat-ingat dengan benar, kau yang mengundangnya ke Spanyol! Jangan lari dari itu. Dude, apa dia baru saja mengendus sweaternya?

Kris : Mmmm...gadisku menyukai beef jerky -bisakah aku lebih beruntung dari ini? Dia menggaruk punggungku dan suka makan beef jerky. Aku sudah mati dan pergi ke suatu tempat yang mirip surga.

Baekhyun : Aku tidak percaya dia memakan semua beef jerky ku. Dasar konyol...Heehee..

Minseok : Pertanyaan pertama terlalu sulit. Aku tidak bisa memulai dengan yang itu. Aku akan menjawabnya dalam urutan terbalik.

4. Aku tidak tahu apakah kami bisa berteman, tapi aku benar-benar ingin berteman- tidak dengan cara yang palsu dan dibuat-buat. Aku benar-benar menyukai Luhan, dan meskipun apa yang terjadi tadi malam sangat payah, kupikir kami bisa mencari solusinya.

3. TENTU SAJA AKU SETUJU KENCAN DENGAN JAMES KARENA APA YANG TERJADI DENGAN LUHAN! Lucu sekali bagaimana itu semua pikiran itu muncul dalam huruf besar bahkan di dalam kepalaku.

2. Jika aku tahu mengapa dia menolakku, aku akan menjadi seorang yang benar-benar jenius. Bau mulut? Bukan. Karena aku mabuk? Mungkin...Tapi jika karena kami mabuk itu adalah waktu terburuk bagi kasatria dalam sejarah alam semesta. Dia terus mengatakan "aku tidak bisa" dan bahwa itu adalah "kesalahan". Sekarang, mungkin adalah kesalahan. Tapi mungkin sepadan. Mungkin dia hanya setia pada haremnya? dengan cara yang aneh itu cukup manis. Aku tahu dia benar-benar peduli tentang mereka. Sial, dia bahkan hebat dan sangat perhatian ketika itu mengenai mereka! Tapi aku tahu "aku tidak bisa" itu tidak akurat. "Tidak bisa" menyiratkan semacam disfungsi ereksi. Dan aku merasakan tonjolan itu di pahaku. #mendesah. Mendesah untuk paha. Sweter ini mengacaukan isi kepalaku. Dan aku mengendus lagi...

Luhan : Dia baru saja mendengus lagi-kenapa dia terus melakukan itu? Ketika aku memakainya aku tidak melihat itu berbau seperti apa pun selain wol. Gadis-gadis memang aneh. Luar biasa anehnya. Vagina...Vagina Minseok...Daaaann aku keras. Kenapa sih aku bahkan berpura-pura merasa aku tidak benar-benar senang dan bahagia bersama gadis ini? Dan itu tidak ada hubungannya dengan vaginanya...dan sekarang aku makin keras.

Minseok : Berhentilah mencoba menghindar dari menjawab pertanyaan ini. Hadapi secara langsung! Mengapa kau melemparkan diri pada Luhan, melupakan persahabatan dan harem dan O yang kekeringan dan semua alasan yang sangat baik yang kau punya untuk menjauh dari dia dan sihir voodoo penggedornya? Ayolah, Minseok. Berhenti mengeluh dan katakan. Apa yang ia katakan ketika kau bertanya mengapa dia menciummu di malam kalian bertemu? "karena aku harus". Ya Tuhan, bahkan dalam kepalaku dia terdengar menakjubkan mengatakan itu...Itulah jawabanmu,

Minseok, karena kau harus. Dan sekarang kau harus mencari solusi masalah ini. Aku menciumnya, dan dia menciumku karena kami harus. Dan pilihan yang kami buat adalah milik kami dan hanya kami sendiri...Dan fakta bahwa dia menghentikannya dan mengatakan dia tidak bisa? Bahkan setelah semua flirting konyol selama berminggu-minggu? Setelah dia mengundangku ke Spanyol? Spanyol sialan!Dan aku ingin pergi ke Spa Sialan-tunggu, aku ingin pergi ke Spanyol dengan dia? Argh! Spain Schmain. Pokoknya, ia lebih baik memiliki alasan yang sangat bagus karena aku adalah wanita yang menarik-O atau tanpa O-aku wanita yang menarik. Ya, kau, Kim. Meskipun aneh bagaimana kau bergantian bolak-balik antara orang pertama dan ketiga selama monolog batinmu, Terima kasih Tuhan, Bay Bridge! Introspeksi cukup.

Luhan :Sial, Bay Bridge. Kami hampir sampai rumah, dan aku tidak tahu bagaimana hal ini akan berjalan dengan Minseok. Kami hampir tidak mengatakan apa-apa sepanjang perjalanan-meskipun aku senang hampir sampai di rumah. Aku tercium seperti beef jerky, dan aku perlu masturbasi seperti kau tidak akan mempercayainya.

Baekhyun : Yay! Bay Bridge! Aku ingin tahu apakah Kris akan keberatan menghabiskan malam di tempatku.

Kris : Akhirnya, Bay Bridge. Kami hampir sampai rumah. Aku bertanya-tanya apakah Baekhyun tahu aku mau menghabiskan malam di rumahnya-dan berencana membuat panggilan izin sakit untuknya besok? Gadis kecil, hal-hal yang aku rencanakan untukmu...Tapi aku tidak akan pernah memakan banyak beef jerky lagi. Ini menjadi perjalanan paling sunyi yang pernah ada.

.

.

.

.

Kami menurunkan pasangan baru di tempat Baekhyun-walaupun sepertinya mereka tidak memperhatikan-mereka berada di dunia mereka sendiri-dan melanjutkan perjalanan ke apartemen kami.

Meskipun sebagian besar waktu perjalanan kami hanya akan tersesat dalam pikiran kami, ketegangan telah meningkat selama perjalanan, dan itu bahkan lebih terlihat sekarang bahwa kami sendirian di dalam mobil. Luhan dan aku selalu punya hal-hal untuk dibicarakan, tapi sekarang begitu kami memiliki sangat banyak hal untuk dibahas, kami diam. Aku tidak ingin segala hal menjadi aneh, dan aku tahu aku yang harus menjadi orang yang memastikan dia tahu aku baik-baik saja sekarang. Dia sudah melakukan bagiannya untuk memulai percakapan secara dewasa, dan sekali lagi sikap kikukku di situasi hati-hati seperti ini tampaknya telah mengatasinya.

Bayangan dari diriku yang mengumumkan di dek, pada volume penuh, saat aku melewati batas dengan Luhan melintas di pikiranku, dan sementara pipiku tentu saja memanas karena malu, aku juga tertawa dalam hati pada betapa anehnya pasti aku terlihat, tangan menggapai, mulut terkatup seolah-olah aku bisa meludahkan kuku.

Dan kemudian membentak Luhan yang ketakutan untuk mengikutiku ke pantai. Dia pasti bertanya-tanya apakah aku akan memukulnya dan membuang tubuhnya ke laut.

Melihat tangannya pada roda kemudi, tangan yang sama yang berada di diriku dalam cara yang sangat jelas malam sebelumnya, aku kagum pada kemampuannya untuk menahan diri, karena aku tahu pasti ia telah sangat menginginkannya. Atau tubuhnya, setidaknya, jika bukan otaknya.

Masalahnya, walaupun, aku sudah mengira otaknya juga telah menginginkannya, setidaknya sampai ia terlalu memikirkan resikonya. Aku melirik ke arahnya sekali lagi, memperhatikan kami sudah sampai di jalan kami. Saat kami berhenti di pinggir jalan, ia menatapku, menggigit bibir bawah yang sama yang kurang dari dua puluh empat jam yang lalu aku punya keberuntungan untuk menggigitnya.

Dia melompat keluar dari mobil dan berlari ke sisiku bahkan sebelum aku membuka sabuk pengaman. "Um, aku hanya akan...mengambil tas-tas," katanya terbata-bata, dan aku memperhatikannya dengan seksama. Dia melarikan tangan kirinya melalui rambutnya sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk sisi mobil. Apakah dia gugup?

"Jadi, yeah," katanya terbata-bata lagi, menghilang ke belakang. Yep, dia merasa gugup, sama gugupnya seperti aku. Dia mengeluarkan tasku dari mobil, dan kami menginjak tiga anak tangga sekaligus ke apartemen kami. Kami masih tidak berbicara, jadi satu-satunya suara adalah kunci yang bergemerincing di lubang kunci. Aku tidak bisa meninggalkannya seperti ini. Aku harus mengakuinya dengan dia. Aku mengambil napas dalam-dalam, dan berbalik.

" Luhan, aku-"

"Dengar, Seokie-"

Kami berdua tertawa kecil. "Kau duluan."

"Tidak, kau duluan," katanya.

"Tidak. Apa yang akan kau katakan?"

"Apa yang akan kau katakan?"

"Hei, beberkan saja, bucko. Aku punya kucing untuk diselamatkan dari dua ratu di lantai bawah," perintahku, mendengar panggilan Monggu padaku dari apartemen di bawah.

Luhan mendengus dan bersandar di pintunya. "Kukira aku hanya ingin mengatakan aku mengalami waktu yang menyenangkan akhir pekan ini."

"Sampai tadi malam, kan?" Aku bersandar di pintuku sendiri, mengawasinya bergeming saat aku membahas gajah di bak mandi air panas.

"Minseok," ia menarik napas, menutup matanya dan membiarkan kepalanya jatuh ke belakang. Dia tampak seperti terluka sebenarnya karena wajahnya tertekuk. Aku kasihan. Aku tidak seharusnya begitu, tapi aku kasihan.

"Hei, bisakah kita lupakan saja apa yang terjadi?" Kataku. "Maksudku, aku tahu kita tidak bisa, tapi bisakah kita berpura-pura melupakannya? Aku tahu orang-orang mengatakan sesuatu tidak akan jadi aneh sepanjang waktu, tapi kemudian selalu begitu aneh akhirnya. Bagaimana kita bisa memastikan hal-hal itu tidak jadi aneh?"

Dia membuka matanya dan menatapku seksama. "Kukira kita tidak akan membiarkannya. Kita pastikan tidak jadi aneh. Oke?"

"Oke." Aku mengangguk dan dihadiahi dengan senyum sungguhan pertama yang pernah kulihat sejak aku membuka sweterku kembali dari Tahoe. Ia mengumpulkan tasnya.

"Mainkan sesuatu yang baik malam ini, ok?" Tanyaku sambil menuju ke dalam.

"Baiklah," jawabnya, dan kami menutup pintu. Tapi dia tidak memainkan aku lagu big band malam itu. Dan kami tidak berbicara lagi minggu itu.

.

.

.

.

"Siapa yang mengencingi chillimu?"

Aku mendongak dari mejaku untuk melihat Jonmyeon, berdiri seperti biasa dengan sanggulnya yang santai elegan, celana pensil hitam, blus sutra putih, sweater kasmir sewarna raspberi. Bagaimana aku tahu itu kasmir dari seberang ruangan? Karena itu Jonmyeon.

Aku memilih satu dari lima pensil yang saat ini terjebak di putaran sanggul rambutku dan mengembalikan perhatianku ke kekacauan yaitu mejaku. Saat ini hari Rabu, dan minggu ini terasa cepat dan lambat sekaligus. Tidak ada kabar dari Luhan. Tidak ada pesan teks dari Luhan. Tidak ada lagu dari Luhan. Tapi aku juga tidak mengulurkan tangan padanya.

Aku larut dalam menyelesaikan beberapa rincian terakhir di rumah Nicholson, memesan pernak-pernik mahal untuk kondominium James, dan mulai membuat sketsa untuk proyek desain komersial yang sudah aku jadwalkan untuk bulan depan. Semua itu terlihat seperti kekacauan yang mengerikan, tapi kadang-kadang itu satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Ada hari-hari dimana aku butuh semuanya rapi dan teratur, dan hari-hari ketika aku butuh kekacauan di atas mejaku untuk mencerminkan kekacauan di kepalaku. Ini adalah hari itu.

"Ada apa, Jonmyeon?" bentakku, menjatuhkan secangkir pensil warna saat mengambil kopiku.

"Berapa banyak kopi yang kau minum hari ini, Miss Minseok?" Dia tertawa, mengambil kursi di hadapanku dan menyodorkan pensil yang tumpah di lantai.

"Sulit untuk dikatakan...berapa cangkir dalam sepanci setengah?" jawabku, menumpuk kembali beberapa kertas untuk mengosongkan tempat untuk cangkir teh Jonmyeon.

Wanita itu berjalan di sekitar ku sambil minum teh dari cangkir tulang cina, "Wow, aku lihat kau tidak bertemu klien hari ini?" Tanyanya, membungkuk di atas meja dan dengan santai menyingkirkan kopiku. Aku mendesis padanya, dan dengan bijaksana dia menaruhnya kembali.

"Tidak, tidak ada klien," jawabku, mendorong sketsa baru ke folder warna yang terkoordinasi dan memasukkannya ke dalam laci yang sesuai.

"Oke, sis, ada apa?"

"Apa maksudmu? Aku bekerja-apa yang kau bayar untuk kulakukan, ingat?" Bentakku, meraih ring carikan kain dan menyenggol vas bungaku. Aku memungut tulip ungu tua yang hampir hitam seminggu ini, dan mereka sekarang berceceran di lantai.

Aku menghela napas berat dan memaksakan diri untuk tenang. Tanganku gemetar karena kafein yang berdebat melalui sistem tubuhku, dan ketika aku duduk dan mengamati keadaan di kantorku, aku merasakan dua bulir air mata mulai terbentuk di mataku.

"Sialan," gumamku dan menutupi wajahku dengan tanganku. Aku duduk sebentar, mendengarkan suara tik-tik dari jam retro di dinding, dan menunggu Jonmyeon mengatakan sesuatu. Ketika dia tidak mengatakan apapun, aku mengintip ke arahnya melalui tanganku. Dia berdiri di dekat pintu dengan jaket dan tas di tangannya.

"Apa kau mengusirku?" Bisikku saat air mata mengalir sendiri di wajahku. Dia melambaikan tangannya dan memanggilku ke pintu. Dengan enggan aku berdiri, dan dia menyampirkan sweterku di bahuku dan menyerahkan tasku.

"Ayolah, dearie. Kau akan membelikanku makan siang." Dia mengedipkan mata dan menarikku menuruni lorong.

.

.

.

.

Dua puluh menit kemudian dia telah membawaku berlindung di sebuah pojokan penuh hiasan merah yang tersembunyi sebagian di belakang dua tirai emas. Dia membawaku ke restoran favoritnya di China town, memesankanku teh chamomile, dan menunggu dalam keheningan untukku menjelaskan semi break downku (menyerah pada emosi dan menangis). Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya diam, Kami telah memesan sup beras yang panas sekali.

"Jadi, kau pasti mengalami akhir pekan yang sangat buruk di Tahoe, hah?" dia akhirnya bertanya.

Aku tertawa di atas sup panasku. "Bisa dibilang begitu."

"Apa yang terjadi?"

"Well, Sehun dan Tao akhirnya bersama dan-"

"Tunggu sebentar, Sehun dan Tao? Kupikir Sehun dengan Kris? "

"Ya, awalnya, tapi jujur? ia selalu ditakdirkan untuk bersama dengan Tao, sehingga semuanya berhasil pada akhirnya."

"Kasihan Baekhyun dan Kris. Itu pasti jadi aneh untuk mereka."

"Ha! Oh ya, kasihan Baekhyun dan Kris. Mereka berhubungan di pool house, demi Tuhan." Aku mendengus.

Mata Jonmyeon terbelalak. "Di pool house...Wow," desahnya, dan aku mengangguk. Kami menikmati sup panas lagi.

"Jadi, Luhan pergi ke Tahoe, kan?" Tanyanya beberapa menit kemudian, melihat ke mana-mana kecuali ke arahku. Aku mengeluarkan senyum kecil pada upaya gagalnya bersikap pura-pura. Jonmyeon memang bisa melakukan banyak hal, tapi bersikap tidak kentara bukan salah satunya.

"Yep, Luhan ada di sana."

"Dan bagaimana?"

"Menyenangkan kemudian tidak, dan sekarang aneh," aku mengakui, menaruh supku ke samping untuk meminum tehku. Itu menenangkan dan tanpa kafein, yang Jonmyeon bersikeras untukku meminumnya.

"Jadi, tidak ada pool house untuk kalian berdua?" Tanyanya, masih melirik ke sekitar restoran seolah-olah dia tidak bertanya apapun yang penting.

"Tidak, myeon, tidak ada pool house. Kami berendam air panas, tapi kami tidak ke pool house," kataku tegas kemudian aku menceritakan masalahku dan keseluruhan cerita konyolnya. Dia mendengarkan, dia meng-hmmm dan mengerang di tempat yang tepat, dan marah di tempat yang tepat juga. Pada saat aku selesai, aku menangis lagi, yang benar-benar membuatku jengkel.

"Dan yang terburuk dari itu semua, seharusnya aku tidak melakukannya, tapi dia yang menghentikan itu, dan aku benar-benar tidak berpikir dia akan menghentikannya!" Aku mendengus marah, menyeka air mata dengan serbetku.

"Jadi, menurutmu mengapa dia menghentikannya?"

"Dia gay?" usulku, dan dia tersenyum. Aku mengambil napas dalam-dalam dan mengontrol diri. Jonmyeon menatapku serius dan akhirnya bersandar ke depan.

"Kau sadar kita adalah dua wanita cerdas yang bertindak tidak cukup cerdas sekarang," katanya.

"Hah?"

"Kita tahu lebih baik daripada mencoba untuk mencari tahu apa maksud dari seorang pria. Hal ini akan bisa diatasi ketika itu sudah sampai pada waktunya. Dan air matamu? Itu adalah air mata ketegangan, air mata frustrasi-tidak lebih. Aku akan memberitahumu satu hal. "

"Apa itu?"

"Selama aku mengenal Luhan, aku belum pernah mendengar dia mengajak seseorang saat pemotretan dengannya, tidak pernah. Maksudku, mengajakmu ke Spanyol? Itu sangat berbeda dengan Luhan."

"Well, siapa yang tahu jika aku bahkan akan di ajak lagi." Aku mendesah dengan dramatis.

"Kalian masih berteman, kan?" Tanyanya, mengangkat alis ke arahku. "Mengapa kau tidak bertanya saja padanya?" Ketika aku tidak menanggapi ia menambahkan, "Taruh itu ke dalam pipamu dan sedot." (*ungkapan: cara kasar untuk memberitahu seseorang bahwa mereka harus menerima apa yang kau katakan, bahkan jika mereka tidak menyukainya.)

"Kupikir itu hembuskan, Jonmyeon. Taruh itu ke dalam pipamu dan hembuskan."

"Ah, hembus, hisap, terserahlah. Makan kue keberuntunganmu, sweetie." Dia tersenyum, mendorong kue ke seberang meja. Aku membuka dan mengeluarkan kertas keberuntungannya.

"Apa kata kuemu?" Tanyaku.

"Pecat seluruh karyawan yang memiliki lebih dari satu pensil di rambut mereka," katanya serius. Kami tertawa bersama, dan aku bisa merasakan beberapa ketegangan akhirnya meninggalkan tubuhku.

"Apa kata kuemu?" Dia bertanya. Aku membukanya, membaca kata-katanya, dan memutar mataku ke langit-langit.

"Kue keberuntungan bodoh," aku mendesah, dan menyerahkannya padanya. Dia membacanya dan matanya melebar lagi.

"Oh, man, kau cocok untuk itu! Ayolah, kita kembali bekerja." Dia tertawa, menarik-narik tanganku dan menggiringku keluar dari restoran. Dia mengembalikan kertas keberuntungan itu padaku, dan aku mulai akan membuangnya, tapi kemudian menyelipkannya ke dalam tas:

Waspadalah pada dinding yang kau bangun

dan apa yang ada di baliknya.

Confucius, kau membunuhku.

.

.

.

.

Tbc

yaps... sebenernya aku mau buat lebih pajang ffnya tapi aku pikir tar pada bosen lagi. apa lg banyak yg ngerasa bahasanya berat n susah dipahamin jadi deh aku potong lg ffnya.

aku tunggu rivewnya ya...