.
.
.
Pesan Teks Singkat dari James ke Minseok:
Hai yang di sana.
Hei kau.
Kita jadi pergikan Jum'at malam?
Yep, aku mau. Kita akan makan malam di mana?
Ada restoran Vietnam besar baru yang sudah lama ingin aku coba.
Kau sudah lupa aku tidak suka makanan Vietnam?
Ayolah, kau tahu itu makanan favoritku. Kau bisa pesan sup!
Baiklah, makanan Vietnam kalau begitu. Aku akan memikirkan apa yang akan ku makan besok. Omong-omong, perabotmu yang terakhir seharusnya
dikirim hari Senin. Aku akan berada di sana untuk mengaturnya.
Berapa lama lagi sampai proyek selesai?
Kecuali untuk beberapa perabot di kamar tidur, seharusnya semua
selesai akhir pekan depan.
Menjelang deadline yang telah ditentukan, jika bisa kutambahkan.
Bagus sekali. Apakah kau juga ada di sana untuk menyelesaikan
beberapa hal di kamar tidur?
Hentikan, Jamie.
Aku benci ketika kau memanggilku Jamie.
Aku tahu, Jamie. Sampai ketemu Jumat malam.
.
.
.
Hari ini sangat melahkan bagiku. Aku benar-benar tidak memiliki energi yang tersisa. Aku berencana untuk pergi yoga, sungguh, tapi ketika malam datang, hal yang paling ingin kulakukan adalah pulang.
Aku ingin Monggu, dan aku juga tidak bisa lagi berpura-pura aku tidak menginginkan Luhan. Mungkin dia sudah pulang? Saat aku berjalan menaiki tangga aku bisa mendengar suara TV Luhan melalui pintu. Aku sudah memutar kunciku di lubang kunci ketika aku memikirkan kue keberuntunganku. Aku bisa mengetuk pintunya, kan? Aku bisa hanya bilang hai, kan? Saat aku berdebat, aku mendengar dering telepon, diikuti dengan suaranya melalui pintu.
"Nadia? Hei, bagaimana kabarmu?" Katanya, dan itu membuat keputusan bagiku.
Dia memiliki haremnya, dan aku tidak mungkin masuk ke dalam harem seperti itu. Jika aku menginginkan Luhan, aku ingin Luhan seutuhnya. Hanya untuk ku. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak ada lagi main-main. Saat aku merasakan air mata menusuk-nusuk di mataku untuk keseribu kalinya hari ini, aku berjalan masuk dan menemukan Monggu yang menungguku, dan aku tersenyum diantara derai air mataku. Aku mengangkatnya, memeluknya mendekat padaku saat ia bercerita tentang harinya dengan bahasa kucing. Aku menafsirkan meongannya, dan aku menyimpulkan bahwa hari Monggu terdiri dari makanan ringan, tidur siang, sekitar tiga puluh menit perawatan tubuh, makanan ringan lagi, tidur lagi, dan kemudian ia mengamati lingkungan sekitarnya di sisa sore dan malam hari.
Aku makan sisa takeout dengan menyaksikan Ina dan Jeffrey di sofa, mandi dengan cepat, dan pergi tidur lebih awal. Aku hanya tidak bisa membiarkan hari ini berlanjut lebih lama lagi.
Dengan Monggu yang meringkuk di antara kedua kakiku, aku tertidur, lagi-lagi dengan tidak ada musik dari sisi lain dinding.
.
.
.
Malam berikutnya aku berdiri di depan cermin, mencoba sepatu yang berbeda untuk kencanku atau ini bukan kencan, oh, tentu saja aku akan berkencan dengan James. Aku hampir menelponnya dua kali hari ini untuk membatalkan janji kami, tapi pada akhirnya, aku paksakan untuk bersiap dan berpakaian. Kadang-kadang seorang gadis hanya perlu memakai gaun ketika pergi berkencan, tapi malam ini aku berpakaian habis-habisan: blus hitam tipis pas ditubuh, rok pensil berwarna merah yang membalut bokongku dengan ketat, dan high heelsku.
Aku sudah mengalami konflik tentang kencan ini, apa pun itu, sepanjang minggu. Tapi aku ingin pergi. Apa aku sedikit memanfaatkan James? Mungkin. Tapi aku mengalami waktu yang menyenangkan dengannya, dan mungkin tidak akan menjadi hal terburuk di dunia bagi kami untuk kembali memulai.
"Kim Minseok, kau penghancur hati pria," bisikku pada diriku di cermin. aku menertawakan diriku sendiri. Monggu merasa malu mendengarnya dan menyembunyikan hidungnya di belakang kaki depannya. Aku masih tertawa ketika mendengar ketukan di pintu. Aku memakai heelsku dan menuju ke pintu, Monggu dekat di belakangku. Aku menarik napas dalam-dalam, dan membukanya.
"Hei, James."
"Minseok, kau terlihat cantik," gumamnya, sambil melangkah masuk dan memelukku. Saat lengannya melingkar di sekeliling tubuhku, aku langsung tahu. Ini adalah kencan. Dia beraroma rempah. Aku tidak tahu mengapa para gadis selalu mengatakan para lelaki beraroma rempah, tapi beberapa gadis begitu. Dan itu memberikan pengaruh yang menyenangkan untuk ku, ia nampak hangat dan aroma rempah yang menenangkan membuatku merasa lebih santai.
Aku balas memeluknya, menikmati bagaimana tubuhku masih terasa pas dalam pelukannya. Kami selalu merasa nyaman ketika kami saling peluk memeluk seperti saat ini.
"Kau siap untuk pergi?"
"Ya, aku akan mengambil tasku." Aku berlutut untuk memberikan ciuman cepat pada Monggu. Dia mengibaskan ekornya dengan marah ke arah James dan tidak akan membiarkanku menciumnya.
"Apa masalahmu?" Tanyaku ke Monggu, yang berbalik dan menunjukkan pantatnya. "Kau tahu, itu mulai jadi kebiasaan yang sangat kasar, Mr. Monggu, "aku memperingatkannya saat aku mengambil tasku dari meja. Aku menjulurkan lidahku pada Monggu, meraih lengan James, dan mengunci pintu di belakang kami.
"Oke, jadi makan malam?" Tanyaku saat kami berdiri di luar pintuku.
"Yep, makan malam," jawabnya, ia berdiri sangat dekat denganku. Kami saling taptap- yang sebenarnya hanya beberapa detik, tapi rasanya lebih lama. Dia melangkah lebih dekat, dan napasku tertahan. Tentu saja, saat itu Luhan memutuskan untuk membuka pintu rumahnya dan mengacaukan momen tersebut dengan sangat telak.
"Hei, Minseok! Aku hanya-Oh, hai. James, kan?" Senyumnya memudar sedikit ketika ia melihat diner dateku.
"Luan, kan?" Kata James, menawarkan tangannya.
"Luhan, sebenarnya." Dia mengangkat tangannya yang penuh kantong sampah dan menolak berjabat tangan.
"silahkan duluan. Aku akan menyusul setelahmu." Dia mengangguk ke tangga, dan kami bertiga mulai bergerombol turun bersama-sama.
"Jadi, kemana kalian akan pergi malam ini?" Tanya Luhan saat kami berjalan di depannya. Aku bisa merasakan tatapan matanya di bagian tengkukku, dan ketika aku sampai di ujung tangga aku menoleh ke belakang.
Senyum palsu terpampang di wajahnya, dan suaranya lebih dingin dari pada yang pernah kudengar sebelumnya.
"Minseok dan aku akan keluar untuk makan malam," jawab James. Aku tersenyum kembali lewat bahuku.
"Yeah, sebuah restoran Vietnam kecil yang indah," kicauku, pura-pura senang.
"Kau tidak suka makanan Vietnam," katanya, mengerutkan dahi. Perkataannya itu membuatku tersenyum.
"Aku akan mencoba sup," jawabku seolah tak peduli.
Mata James mengunci dengan mata Luhan sambil menahan pintu untukku. Dia biarkan pintu itu berayun tertutup tepat saat Luhan melewatinya dengan tangan penuh kantong sampah, tapi aku menangkap pintu tepat pada waktunya.
"Well, semoga malammu menyenangkan," kataku pada Luhan saat James mendampingiku menuju mobil dengan tangannya di punggungku.
"Malam," jawab Luhan, bibirnya mengatup rapat. Aku tahu dia terluka. Bagus. James menggiringku ke dalam mobil, dan kamipun pergi.
.
.
.
.
Makan malamnya berjalan lancar. Aku memesan nasi goreng dari menu, dan ketika tiba, seketika yang terlintas dipikirkan ku adalah makan mie di rumah perahu di tengah-tengah Ha Long Bay dengan Luhan. Tapi seperti yang ku katakan, makan malamnya berjalan lancar, percakapannya juga lancar, pria yang bersamaku pun luar biasa. Dia adalah seorang pria tampan dengan masa depan yang cerah, yang akan memiliki petualangannya sendiri, memiliki segunung rancana untuk ditaklukkan. Dan malam ini, aku adalah gunung. Aku seolah ingin membiarkan dia memanjatnya.
Dia mengantarku ke lantai atas, ke pintu apartemenku, meskipun aku bisa menghentikannya ikut naik. Saat aku mencari kunciku di dalam tas, aku bisa mendengar telepon Luhan berdering, dan ia menjawab.
"Nadia? Hai. Yap, siap ketika kau siap." Aku bisa mendengranya tertawa.
Hatiku serasa diremat. Baiklah. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat malam kepada James, yang amat tampan dan nampak nyata. Tepat di depanku. O telah pergi begitu lama, dia dan James dulu pernah dekat. Bisakah dia menghadirkannya kembali? Maukah dia melakukannya? Aku akan mencari tahu. Jadi kuputuskan untuk mengajaknya masuk.
Saat aku mengeluarkan sebotol anggur dari kulkas, aku menyaksikan dia mengamati ruang tamu ku, memeriksa segalanya dengan hati-hati: sound system Bose, kursi Eames terhadap meja. Dia bahkan memeriksa gelas Kristal ku saat aku menyerahkan gelasnya. Dia berterima kasih padaku, matanya berkobar menatap ke dalam mataku saat jari-jari kami menyelinap melewati satu sama lain.
Alam mengambil alih. Tangan mengetahui, kulit mengenali, bibir menggoda dan mengenali kembali. Ini hal yang baru dan juga lama pada saat yang sama, dan aku akan berbohong jika aku mengatakan semua ini tidak terasa nikmat. Kemejanya lepas. Rokku turun, aku menendang lepas sepatuku, dan tangan kami saling menyentuh dan membelai. Akhirnya dan tak terelakkan, kamipun menuju ke kamar. Aku memantul ringan di atas kasur, menonton melalui mata kabur saat ia berlutut di depanku di lantai.
"Aku merindukanmu."
"Aku tahu." Aku menarik dia ke atasku.
Semuanya baik-baik saja, semuanya sebagaimana mestinya, dan saat aku secara refleks membungkus kakiku di pinggangnya, gespernya yang dingin menggali ke pahaku, ia menatap dalam ke mataku dan tersenyum.
"Aku sangat senang aku butuh seorang dekorator." Dan hanya dengan kata seperti itu, seketika baik-baik saja tidak cukup.
"Tidak, James." Aku mendesah, mendorong bahunya menjauh.
"Apa, baby?" Aku benci ketika dia memanggilku baby.
"Tidak, tidak, tidak. Bangun." Aku mendesah lagi saat dia terus menciumi leherku. Air mataku seketika bocor dari mataku ketika aku menyadari apa yang biasanya membuatku merasakan sesuatu sekarang membuatku tidak merasakan apa-apa.
"Kau bercanda, kan?" Dia mengerang di telingaku, dan aku mendorongnya lagi.
"Aku bilang bangun, James," kataku, sedikit lebih keras kali ini. Dia akhirnya memahami keadaan yang seketika berubah. Bukan berarti dia senang ketika ia menyadarinya. Dia berdiri saat aku merapikan bajuku, yang untungnya masih banyak kancing yang terkancing. "Kau harus pergi," kataku, air mata mulai mengalir di pipiku.
"Minseok, apa-"
"Pergi saja, oke? Pergi!" Aku berteriak. Aku tahu itu tidak adil baginya, tapi aku harus bersikap adil terhadap diriku sendiri. Aku tidak bisa mundur, tidak sekarang.
Aku menangkupkan tanganku ke wajahku dan mendengar dia mendesah, kemudian menghentak-hentakkan kaki, membanting pintu dengan keras ketika keluar. Aku tidak bisa menyalahkannya. Dia pasti mengalami blueballs hebat (kesakitan/ketidaknyaman saat pria sudah sangat terangsang tapi tidak ejakulasi). Aku sedih, marah dan sedikit mabuk, dan aku benci O-ku. Mataku mendarat pada salah satu sepatuku di lantai, dan aku melemparkannya sekeras yang aku bisa ke ruang tamu.
"Ooof!" Aku mendengar suara berat yang terucap, dan itu bukan suara James Brown. Itu suara orang yang aku inginkan di tempat tidurku, dan orang yang membuat aku paling marah saat ini. Memegang sepatu seperti seorang Pangeran Tampan kemalaman ke arah Cinderella si pelacur tanpa-O, Luhan muncul di ambang pintu, bertelanjang kaki dan memakai celana piyamanya. Pemandangan otot perut sempurnanya membuatku menyeberang dari kesal ke M.A.R.A.H.
"Apa sih yang kau lakukan di sini?" Tanyaku, dengan marah menyeka air mataku dari wajahku. Dia akan melihatku menangis.
"Um, aku mendengar kau dan James...Well, aku mendengarmu, dan kemudian aku mendengar kau berteriak, dan aku ingin memastikan kau baik-baik saja," katanya terbata-bata.
"Kau tidak di sini untuk menyelamatkanku, kan?" cecarku, menaikkan jari-jariku pada kata menyelamatkan. Dia mundur saat aku merangkak dari tempat tidur, tampak takut pada ledakan amarah yang akan datang dariku. Bahkan aku tahu ini akan menjadi semakin buruk.
"Mengapa para pria tampaknya berpikir mereka harus menyelamatkan seorang wanita? Apakah kami tidak mampu menyelamatkan diri kami sendiri? Mengapa aku perlu diselamatkan? Aku tidak membutuhkan seorang pria untuk menyelamatkanku, dan aku sudah pasti tidak butuh adanya gedoran di dinding, Purina sialan, mendengarkan-gedoran-pada-dindingku-seperti-maniak yang datang ke sini untuk menyelamatkanku! Kau mengerti, Tuan?" Aku menunjuk dan melambaikan tanganku seperti seseorang akan melepaskannya dariku. Dia punya hak untuk tampak ketakutan.
"Maksudku, apa-apaan sih dengan kalian para pria? Aku punya satu pria yang menginginkanku kembali padanya, dan satu pria lagi yang tidak ingin ada hubungan denganku sama sekali! Salah satu ingin menjadi pacarku, tapi bahkan tidak bisa mengingat bahwa aku seorang desainer interior. Desainer! Bukan dekorator!"
Aku bicara terus-menerus. Pada titik ini aku hanya berteriak-teriak, terus-terang dan sederhana. Aku berjalan membentuk lingkaran di sekitar Luhan, mondar-mandir dan berteriak sementara ia mencoba untuk mengikutiku, akhirnya hanya berdiri diam dan menonton dengan mata melebar.
"Maksudku, kau tidak harus memaksa seseorang untuk makan makanan Vietnam jika mereka tidak menyukainya, kan? Aku tidak harus memakannya, kan Luhan? "
"Tidak, Seokie, aku tidak berpikir kau harus-" dia memulai.
"Tidak, tentu saja aku tidak harus, jadi aku makan nasi goreng! Nasi goreng, Lu! Aku tidak akan pernah makan makanan Vietnam lagi-bukan untuk James, bukan untukmu, bukan untuk siapa pun! Kau mengerti?!"
"Well, Minseok, kupikir-"
"Dan informasi untukmu," aku melanjutkan, "Aku tidak butuh penyelamat malam ini! Aku yang akan mengurusnya sendiri. Dia sudah pergi. Dan aku tahu kau pikir James adalah semacam maniak, tapi dia bukan maniak," kataku, mulai kehilangan semangat. Bibir bawahku bergetar lagi, dan aku berjuang menahannya agar tidak keluar, tapi akhirnya membiarkannya keluar.
"Dia bukan orang jahat. Dia hanya...dia hanya...dia hanya bukan pria yang tepat untukku." Aku mendesah, tenggelam ke lantai di depan tempat tidurku dan menumpukan kepalaku di tanganku. Aku menangis sejenak, sementara Luhan tetap membeku di atasku. Aku akhirnya menatapnya.
"Halooo? Seorang gadis menangis di bawah sini!" gerutuku.
Dia menahan senyum dan duduk di depanku. Menarikku dari lantai dan membawaku ke pelukannya. Dan aku benar-benar membiarkannya melakukan itu. Dia menempatkanku di pangkuannya dan memelukku saat aku menangis di dadanya. Dia hangat dan lembut, dan meskipun aku tahu lebih baik dari ini-oh,ya, aku tahu lebih baik bagai mana rasanya berada di pelukannya-aku menyelip di sudut tubuhnya dan membiarkan dia menghiburku. Tangannya naik dan turun di punggungku saat aku menangis tersedu-sedu, ujung jarinya membuat lingkaran-lingkaran terkecil di bahuku saat aku menghirup wangi dirinya. Sudah begitu lama sejak aku dipeluk, hanya dipeluk, oleh seorang pria di antara lingkaran-lingkaran kecil yang ia buat dan aroma pelembut kain, aku kehilangan akal sehatku.
Akhirnya isak tangisku mulai tenang saat dia memelukku erat, bersila di lantai. "Kenapa kau tidak memainkanku musik minggu ini?" Aku terisak.
"Senarku putus. Aku harus memperbaikinya."
"Oh, kupikir mungkin...Well, aku merindukan itu semua," kataku malu-malu.
Dia merapikan kembali rambutku dan menaruh tangannya ke bawah daguku, memaksaku untuk melihat ke arahnya.
"Aku merindukanmu." Dia tersenyum lembut.
"Aku juga," Aku menarik napas, dan mata hitam kelamnya mulai berputar. Oh tidak. Jangan ada voodoo.
"Bagaimana Purina? Baik? Taruhan dia juga merindukanmu," bisikku dan menyaksikan perubahan wajahnya.
"Kenapa kau terus menyebut-nyebut Nadia?"
"Aku mendengar kau di telepon olehnya sebelumnya. Terdengar seperti kau sedang membuat rencana."
"Ya, aku bertemu dengannya untuk minum-minum."
"Please. Kau berharap aku percaya dia tidak mampir?" Tanyaku, aku mendapati diriki masih berada di pangkuannya.
"Tanya pada kucingmu. Apakah dia menggila malam ini?" Luhan menunjuk Monggu, yang telah kembali dan sekarang mengawasi kami dari belakang sofa.
"Tidak, sebenarnya."
"Itu karena dia tidak mampir. Kami bertemu untuk minum-minum dan untuk mengucapkan selamat tinggal." Luhan menatapku hati-hati. Jantungku mulai berdetak begitu keras, tidak mungkin dia tidak bisa mendengarnya. Mengapa Jantungku harus berdetak begitu keras untuk saat ini?
"Selamat tinggal?"
"Ya, dia akan kembali ke Moskow untuk menyelesaikan gelarnya di sana." Ayolah jantung, tenanglah sedikit.
"Oh, jadi kau mengucapkan selamat tinggal karena dia pergi, bukan untuk alasan lain. Bodohnya aku." Kuangkat tubuhku dari pangkuannya saat dia memelukku lebih dekat. Aku berjuang melepaskan diriku dari pelukannya.
"Dia pergi, ya, tapi itu bukan alasan kami mengucapkan selamat tinggal. Aku-" Aku terus bergoyang-goyang dalam pelukannya.
"Wow, hanya si Tukang Cekikik yang tertinggal! Dan kemudian hanya ada satu orang. Aku kira, secara teknis satu orang tidak dapat membentuk sebuah harem, sehingga dia akan memikul beban untuk yang lainnya atau apa kau perlu melakukan wawancara untuk mengambil lebih banyak perempuan? Bagaimana biasanya semua itu kau lakukan?" Aku membentak.
"Sebenarnya, aku juga akan membicarakannya dengan Lizzie segera. Aku pikir kami akan berteman saja dari sekarang," katanya, mengamatiku lekat-lekat. "Apa yang biasanya bekerja padaku baru saja tidak bekerja lagi."
Semua berhenti. Apa ia baru mengatakan bahwa semua itu tidak lagi berkerja dengan baik? "Itu tidak berhasil untukmu lagi?" Aku menarik napas, tidak berani percaya.
"Mm-hmm," jawabnya, hidungnya menggali ke kulit tepat di bawah telingaku dan menghirup dalam. Apakah dia akan tahu kalau aku menjilat bahunya? Hanya merasakan sedikit?
"Minseok?"
"Ya, Luhan?"
"Maaf, aku tidak memainkan musik untukmu minggu ini. Aku minta maaf aku...well, mari kita anggap saja aku minta maaf untuk banyak hal. "
"Oke," aku menarik napas.
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
" Tidak, aku tidak punya roti zukini," bisikku, dan tawanya bergema ke seluruh ruangan. Aku tertawa bersamanya, terlepas dari diriku sendiri. Aku rindu tertawa dengan Luhan.
"Ikutlah ke Spanyol denganku," bisiknya.
"Tunggu, apa?" Tanyaku lagi, ada nada bimbang dalam suaraku. Apa, apa, apa? "Apa kau serius?"
"Aku sangat serius." Aku harus mengingatkan diri untuk bernapas.
Telah dimabukkan Oleh voodoo dan pelembut kain, aku menggeleng untuk membersihkannya. Dia akan ke Spanyol denganku? Aku senang dia tampak terfokus pada titik di belakang telingaku, karena aku yakin ia akan jadi sama tertariknya jika dia bisa melihat bagaimana mataku kini juling. Aku butuh waktu. Aku menarik diri, akhirnya berdiri.
"Aku mau cuci muka. Jangan pergi ke mana pun," perintahku.
"Minseok Manis, aku tidak akan ke mana-mana," katanya, senyum seksinya kembali.
Aku membuat diriku menjauh darinya. Setiap langkah yang kuambil, setiap pijakan tumitku di lantai kayu seperti nyanyian di kepalaku: Spanyol. Spanyol. Spanyol. Setelah di kamar mandi, aku memercikkan air ke wajahku, sebagian besar masuk ke mulutku karena aku tidak bisa berhenti tersenyum. Perhitungan kepala harem yang baru: dua tumbang, satu lagi? Ada saat-saat untuk berhati-hati, dan kemudian ada saat-saat ketika kau hanya harus menjadi ekstrim dan mengambil risiko. Aku butuh kebulatan tekad. Aku memikirkan apa yang Jonmyeon katakan sebelumnya hari ini, dan aku pergi dengan dorongan hatiku. Aku menguatkan diri, mengeluarkan bola abstrakku, dan kembali keluar.
"Oke, ini sudah larut, Lu. Waktunya bagimu untuk pergi." Aku menggapai tangannya, menariknya dari lantai, dan menuntunnya menuju pintu depan.
"Um, benarkah? Kau ingin aku pergi? Tidakkah kau ingin, aku tidak tahu...mengobrol sedikit? " Tanyanya. "Aku ingin memberitahumu bagaimana-"
Aku terus menariknya. "Tidak. Tidak ada lagi yang dibicarakan malam ini. Aku lelah." Aku membuka pintu dan menggiringnya keluar. Dia mulai mengatakan sesuatu yang lain, dan aku mengacungkan dua jari.
"Aku perlu mengatakan dua hal, oke? Dua hal." Dia mengangguk. "Pertama, kau menyakiti perasaanku di Tahoe," aku memulai, dan ia mencoba untuk memotongku. "Diam, Lu. Aku tidak ingin ada pengulangan. Tapi asal tahu saja kau menyakitiku. Jangan lakukan itu lagi." aku selesai. Aku tidak bisa menghentikan senyumku ketika aku melihat reaksinya.
Matanya melihat ke lantai, seluruh tubuhnya menguarkan aura penyesalan. "Minseok, aku minta maaf tentang semua itu. Kau harus tahu bahwa aku hanya ingin-"
"Permintaan maaf diterima." Aku tersenyum lagi dan mulai menutup pintu. Kepalanya muncul tiba-tiba.
"Tunggu, tunggu. Apa hal yang kedua?" Panggilnya, bersandar ke pintuku. Aku melangkah mendekatinya, membawa tubuhku seinci dari tubuhnya. Aku bisa merasakan panas dari kulitnya di ruangan kecil di antara kami, dan aku menutup mata melawan serangan emosi. Aku menarik napas panjang dan membuka mataku untuk melihat ke dalam mata black ocean seksi yang menatap ke arahku.
"Aku ikut denganmu ke Spanyol," kataku. Dan dengan mengedipkan mata, aku menutup pintu di depan wajahnya yang heran.
.
.
.
.
TBC
