"TELUR MATA SAPI, bacon, roti bakar gandum dengan selai rasa raspberi."

"Sereal dengan kismis, beri kering, kayu manis, gula merah dan tak lupa sosis."

"Wafel Belgia, puding buah, bacon dan sosis," kata Sehun melengkapi pesanan kami dan mendapatkan tatapan heran dari aku dan Baekhyun.

"Apa? Aku lapar."

"Senang melihatmu kembali mendapatkan sarapan yang nyata sebagai gantinya. Pasti kau telah bekerja keras untuk membangkitkan seleramu makanmu dengan Mr. Huang semalam, kan?" Godaku, mengedipkan sebelah mata ke arah Baekhyun melalui jus jerukku.

Kami bertiga sedang sarapan bersama di hari Minggu, sesuatu yang tidak lagi kami lakukan semenjak kami kembali dari Tahoe. Mereka mulai sibuk dengan penyesuaian gaya hidup berpasangan dengan pacar mereka yang baru saja bertukar, yang mana itu biasanya selalu meninggalkan aku melewatkan hariku sendirian. Ketika mereka berkencan dengan pria yang salah mereka selalu lebih senang untuk mengajakku—lebih banyak lebih seru kata mereka. Itu membantu ketika tidak ada chemistry yang nyata. Tapi sekarang? Baekhyun dan Sehun telah bersama pria yang tepat dan menikmati setiap detiknya.

Awalnya aku khawatir apabila jebakan ala film The Parent Trap akan membuat segalanya tidak nyaman, tapi sahabat-sahabatku telah membuatku bangga. Mereka menerimanya dengan tenang, dan karena mereka telah berpindah pada pasangan baru, lenyap sudah segala kekhawatiranku.

Kami cekikikan ketika tiba pada gosip terhangat, sambil menunggu pesanan tiba untuk bertukar suatu kabar heboh, seperti biasanya.

"Okay, siapa yang duluan? Siapa yang punya gosip?" Baekhyun memulainya, dan kami duduk dalam ritual kami. Sehun berhenti sejenak dari kegiatan mengacak wafelnya, menunjukkan bahwa dia akan mulai pertama.

"Tao akan pergi ke Los Angeles untuk menjadi contributor wartawan olahraga di konferensi TV dan dia mengajakku bersamanya," ujarnya. Aku dan Baekhyun mengangguk.

"Kris berpikir untuk mengizinkanku menata kembali rukannya. Kalian harus melihatnya. Sistem pengarsipannya saja bisa menimbulkan reaksi alergi yang parah," lapor Baekhyun, bergidik.

"Natalie Nicholson mereferensikan dua klien baru untukku-Nob Hill, itu saja yang terjadi, aku berterima kasih banyak untuk rekomendasi itu, kalian tahu. Mereka sangat kaya ," tambahku dengan senyum kecil di bibir, menuang kopi kembali untukku dari teko saat mereka mengucapkan selamat kepadaku. Kami mengunyah.

"Tao mengigau dalam tidurnya. Itu hal yang sangat menggemaskan. Dia meneriakkan skor football."

"Kris membiarkan aku mengecat kukunya semalam."

"Aku bilang pada Luhan aku akan ikut pergi ke Spanyol bersamanya." Berbicara mengenai menyemburkan minuman. Di film-film, mereka tampak histeris. Di dunia nyata, mereka hanya nampak sangat berantakan.

"Tunggu sebentar, tunggu sebentar sialan...APA?" Sehun tergagap, jus masih mengalir di dagunya.

"Minseokie, kau bilang apa padanya?" Baekhyun berhasil mengatakannya, walau masih tersedak saat dia melambaikan tangan ke pelayan untuk meminta tambahan serbet.

"Aku bilang padanya aku akan ikut pergi ke Spanyol bersamanya. Bukan masalah besar." Aku menyeringai. Itu ternyata memang masalah besar jika melihat dari reaksi heboh mereka.

"Aku tidak menyangka kau memiliki keberanian untuk duduk disini dan berbicara tentang omong kosong sepanjang pagi dan tidak memberitahu kami tentang hal ini. Kapan kau mengatakannya?" Tanya Sehun, sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan sembari bertopang pada sikunya.

"Malam ketika aku pergi kencan dengan James." Aku tersenyum menanggapinya.

"Oke cukup. Tidak ada lagi berputar-putar, keluarkan saja semuanya." Baekhyun memutar pisau mentega ke arahku dan merenggut.

"Apa-apaan kau Minseok? Aku tidak percaya kau menyimpan ini semua dari kami. Kapan kau pergi kencan dengan James? Dan jangan coba-coba menyimpan apapun. Beritahu kami semuanya sekarang, atau aku akan membiarkan Baekhyun menodongkan pisaunya kembali kepadamu." Sehun memperingatkan. Baekhyun menunjuk lagi dengan cara mengancamkan pisaunya—dengan gaya mengancam ala Cerita Koboi, pikirnya. Aku membayangkan pertarungan yang sebenarnya dengan Baekhyun. Dan itu akan melibatkan tendangan tangkisan dan beberapa balasan balik.

Pada akhirnya, aku mengambil napas panjang dan menumpahkan semuanya. Mengapa aku keluar dengan James, perasaan tersembunyi yang kurasakan pada Luhan, bagaimana James menyebutku sang dekorator, bagaimana aku menendangnya keluar. Mereka menyimaknya dengan seksama, hanya sesekali menyela ketika mereka membutuhkan beberapa klarifikasi.

"Aku sungguh bangga padamu," ujar Sehun ketika aku selesai bercerita. Baekhyun mengangguk setuju.

"Untuk apa?"

"Seokie, ada saat ketika James menyuruhmu untuk melompat, kau akan melompat. Menurutku, kami khawatir ketika dia kembali muncul dalam hidupmu dan akan membuatmu kembali menjadi gadis yang dulu lagi," urai Sehun.

"Aku tahu kau khawatir. Kalian berdua sangat baik dan tak seorang pun yang dapat mengurusku sebaik kalian berdua meskipun kalian merasa khawatir setengah mati." Aku tersenyum pada teman-teman wanitaku yang kesal.

"Jadi, kau mengirim James Brown kembali, dan kemudian apa yang terjadi?" tanya Sehun, dan aku menyelesaikan akhir ceritaku : kedatangan Luhan, permintaan maafnya, menghilangnya Purrina dari kehidupan Luhan, ajakannya...

"Jadi kau mendapatkan pencerahan ini di kamar mandi, seperti itu? Pergi ke Spanyol dengan Luhan?" Baekhyun akhirnya bertanya.

"Yeap. Aku tidak benar-benar memikirkannya. Aku hanya, aku tak bisa menjelaskannya...Yang aku tahu aku harus pergi dengannya pada liburan ku kali ini. Maksudku, aku selalu ingin pergi ke Spanyol dan aku tahu dia bisa menjadi pemandu wisata yang bagus, dan..ayolah..bukankah hal itu sungguh menyenangkan? Kami akan bersenang-senang bersama!"

"Omong kosong," balas Sehun sederhana.

"Apa katamu?"

"Aku mengatakan omong kosong, Minseok. Kau ingin pergi karena kau ingin sesuatu terjadi disana bersamanya. Jangan menyangkalnya." Dia menatapku tajam.

"Aku tidak menyangkal apa-apa," gurauku, memberikan tanda ke pelayan untuk membawa tagihan kami.

"Tidak ada lagi para harem, huh?" Tanya Baekhyun.

"Sepertinya demikian. Aku bukanlah orang bodoh. Aku tahu seorang pria tidak akan berubah dalam sekejap, tetapi jika si Si Pengikik telah menyingkir sebelum kami ke Spanyol. Well, yang tersisa adalah Luhan dengan aura yang berbeda dan keadaan yang sama berbedanya, ya kan?" Aku tersenyum genit, menaikan alis pada gadis-gadisku.

"entah mengapa, Kim Minseok, aku yakin kau sepertinya berencana untuk menggoda pria ini," ujar Sehun, dan Baekhyun bertepuk tangan dengan gembira.

"Luhan akan membawa kembali sang O!" Sorak Baekhyun, menarik sedikit banyak perhatian.

"Oh, diamlah. Kita lihat saja nanti. Jika, dan ini adalah jika yang besar, ladies. Jika aku mengizinkan sesuatu terjadi antara Luhan dan aku, itu akan berdasarkan aturanku. Yang mana itu mencakup tidak ada harem, tidak minum, dan tidak ada berendam air panas."

"Entahlah, Seokie. Tidak minum? Menurutku itu akan menjadi suatu tindak kejahatan ketika berada di Spanyol dan tak memanjakan diri dengan sedikit sangria," cetus Baekhyun.

"Well, aku akan menikmati sedikit sangria," pikirku. Khayalanku tentang Luhan dan aku, menyesap sangria sambil menyaksikan matahari Spanyol terbenam segera memenuhi kepala ku.

Hmmm...

Tidak terlalu buruk

.

.

.

.

Pesan teks antara Luhan dan Minseok:

Jadi, apakah kau tipe gadis yang memakai topi lebar di pantai?

Maaf?

Kau tahu, topi pantai yang sangat besar? Apakah kau punya salah

satunya?

kalau kau penasaran, ya. Apakah ini suatu kepedulianmu?

Kepedulian, tidak. Hanya ingin mendapatkan bayangan tentang

dirimu di pantai di Spanyol...

Bagaimana menurutmu?

Cukup keren.

Keren? Apa kau baru saja mengatakan keren?

Aku mengetik sebenarnya. Kau punya sesuatu yang lain?

Hal ini menjelaskan mengenai koleksi rekaman lagu-lagu lawas...

HEY!

Aku sungguh menikmati lagu-lagu lawas. Kau tahu ini...

Aku memang tahu…

Apakah kita sungguh akan pergi bersama ke Spanyol?

Yep.

Apakah kau di rumah? Aku tak melihat Rovermu pagi ini.

Mengecekku?

Mungkin... kau di mana , Lu?

Sedang ada pemotretan di LA, akan kembali dalam beberapa hari.

Bisakah kita bertemu saat aku kembali?

Kita lihat saja nanti...

Aku akan memainkan beberapa lagu untukmu.

Keren.

.

.

.

.

"Jadi, karena semua urusan pada proyek Nicholson telah diselesaikan, aku berpikir. Aku memiliki waktu luang sebelum menangani proyek komersial yang akan aku mulai berikutnya, dan kau pernah mengatakan aku bisa mengambil beberapa hari libur sebelum kita mulai sibuk dengan musim liburan, jadi, hmm, mungkin aku bisa..."

"Katakan saja, Minseok. Apakah kau mencoba bertanya padaku apakah kau bisa pergi dengan Luhan ke Spanyol?" tuntut Jonmyeon, tidak berusaha keras menyembunyikan senyum lebarnya.

"Mungkin." Aku meringis, menjatuhkan dahiku ke meja.

"Kau wanita dewasa yang mampu untuk mengambil keputusan sendiri. Kau tahu, menurutku ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil liburan, jadi mengapa aku harus memberitahumu apakah kau harus pergi dengan Luhan atau tidak?"

"Myeon, untuk memperjelas, aku tidak akan kabur bersama Luhan. Kau membuatnya terdengar seperti ada beberapa hubungan terlarang antara aku dan Luhan."

"Ya...ya...ya...itu hanya dua anak muda yang berlibur menikmati sedikit budaya Spanyol. Bagaimana bisa aku lupa?" geram Jonmyeon, sindiran tergambar diseluruh wajahnya, sepertinya dengan sedikit ekspresi kepuasan disana. Dia menikmati kegelisahanku.

"Oke, oke..jadi bisakah aku pergi?" tanyaku, paham bahwa aku tak ingin mendengar akhir dari semua sindirannya, tapi persetan dengannya.

"Tentu saja kau bisa. Tapi bisakah aku mengatakan satu hal?" tanyanya, alisnya terangkat.

"Seakan aku bisa menghentikanmu saja," gerutuku.

"Kau tidak bisa, sebenarnya. Yang kupinta adalah kau memiliki waktu untuk bersenang-senang, bermain yang menyenangkan, tapi tetap menjaganya selama kau disana, oke?" pintanya, mukanya berubah menjadi serius, sesuatu yang jarang ku lihat.

"Menjaganya? Berapa umurnya, tujuh tahun?" aku tertawa, merasa sesak seketika aku melihat dia tidak bercanda.

"Minseokie, liburan ini akan mengubah keadaan. Kau harus pahami itu. Dan aku menyayangi kalian berdua. Aku tak ingin salah satu dari kalian terluka, tak perduli apapun itu yang terjadi sementara kalian disana," ucapnya lembut. Aku mulai ingin mengatakan lelucon, tapi aku berhenti. Aku tahu apa yang dipintanya.

"Jonmyeon, aku tak tahu pasti apa yang terjadi antara aku dan Luhan, dan aku tak punya bayangan tentang apa yang nantinya akan terjadi di Spanyol. Tapi aku bisa memberitahumu hal ini, aku sangat antusias akan liburan ini. Dan aku bisa merasakan kalau dia juga begitu," tambahku.

"Oh sayangku, tentu saja dia juga begitu. Hanya...Oh sudahlah. Kalian berdua sudah dewasa. Bersenang-senanglah satu sama lain di Spanyol."

"Pertama kau bilang untuk bersikap lembut, dan sekarang kau menyuruhku untuk bersenang-senang?" omelku.

Dia mengulurkan tangannya ke seberang meja untuk menepuk lembut tanganku. Kemudian dia menarik napas panjang dan mengubah seluruh suasana hatinya. "Sekarang, jelaskan padaku semua urusan tentang James Brown. Apalagi yang harus dilakukan?" Aku tersenyum dan membalik agenda kerjaku terbuka hingga akhir minggu ini, ketika segala hal yang berkaitan dengan James Brown selesai.

.

.

.

Beberapa malam kemudian aku tengah bersantai di sofaku yang nyaman bersama Mr. Monggu dan Barefoot Contessa saat kudengar sesuatu di lorong. Monggu dan aku bertukar pandangan, dan dia melompat dari pangkuanku untuk menyelidiki. Aku tahu Luhan tidak ada dirumah untuk beberapa hari berdasarkan pada smsnya- dan fakta bahwa mungkin aku telah menghitung hari-jadi aku mengikuti Monggu ke pos lamaku: Lubang Pengintaian.

Saat aku mengintip ke lorong, ada kilasan rambut pirang-stroberi di pintu Luhan. Siapa yang mengunjunginya? Apa aku salah untuk melihat? Paket apa yang dibawanya? Si pemilik rambut itu mengetuk sekali, lalu dua kali dan sebelum aku menyadarinya, dia berbalik dan melihat langsung ke pintuku, menatap curiga di lubang intipku. Tidak terbiasa dengan orang lain yang berdiri di lubang intipku, aku membeku, matanya tak berkedip saat dia menilik pintuku. Dia melintasi celah kecil itu dan mengetuk keras di pintuku.

Terkejut, aku mundur sedikit, menabrak tempat payungku dan membiarkan dia tahu bahwa, pada kenyataannya, ada orang dirumah. Aku memalingkan wajahku kesamping dan berteriak, "Aku Datang!" Kemudian aku melanjutkan berjalan ditempat sebagai tanda aku menuju ke pintu. Monggu memandangku dengan rasa tertarik, memalingkan kepalanya dan meyakinkanku aku tidak sepintar yang aku pikir.

Aku membuat suara yang berlebihan saat memutar kunci, dan kemudian membuka pintu.

Kami seketika menilai satu sama lain, dalam cara yang dilakukan perempuan. Dia tinggi dan cantik dalam gaya aristokratnya yang dingin. Dia mengenakan setelan hitam yang terpotong bagus dan terkancing hingga ke leher. Rambut pirang stoberinya digelung dan dijepit kebelakang, walau beberapa helai terlepas dari gelungannya dan jatuh di wajahnya. Dia menyelipkannya ke belakang telinganya. Bibir merah cerinya mengerucut saat dia selesai menilaiku dan menawarkan senyuman tipis.

"Minseokkan?" tanyanya, aksen British yang tajam mengudara sejelas sikapnya. Aku sudah tahu aku tidak perduli pada wanita ini.

"Ya, ada yang bisa kubantu?" Tiba-tiba aku merasa kurang rapi dengan celana pendek Garfieldku dan tank top. Aku memindahkan berat badanku dari satu kaki ke kaki yang lain, kaki yang terbungkus kaus kaki panjang. Aku memindahkan berat badanku lagi, menyadari aku mungkin kelihatan seperti orang yang ingin buang air kecil. Aku juga menyadari pada saat yang sama wanita ini membuatku gugup, dan aku tak tahu mengapa. Aku menegakkan badanku segera, menempatkan diri di permainan ini. Ini semua berlangsung dalam waktu kurang dari lima detik, seumur hidup di dunia Perempuan Menebak Perempuan yang Lain.

"Aku perlu mengantarkan ini untuk Luhan, dan dia mengatakan kalau dia tidak dirumah aku bisa meninggalkannya di flat seberang, bahwa Minseok akan menerima barang ini untuknya. Kau Minseok, jadi ini dia," dia selesai, menyodorkan kotak kardus padaku. Aku mengambilnya, melepaskan pandanganku darinya untuk sesaat.

"Memangnya dia anggap apa aku, kotak surat?" gerutuku, meletakannya di meja dekat pintu dan kembali pada wanita itu.

"Boleh aku tahu siapa yang mengantarnya, atau dia sudah tahu?" tanyaku. Dia masih menilaiku seolah-olah aku adalah teka-teki besar.

"Oh, dia akan tahu," jawabnya, nada dinginnya terdengar musical tapi terpotong disaat yang sama. Sebagai seseorang yang besar di Amerika, aku akan mengakui aku selalu terpesona akan aksen Inggris, tapi bisa melakukannya tanpa adanya sisi tertentu dan superioritas.

"Oke..baiklah...aku akan memastikan dia mendapatkannya," Aku mengangguk, meletakkan tanganku di pintu. Aku menutupnya sedikit, namun dia tidak bergerak.

"Apa ada yang lain?" tanyaku. Aku bisa mendengar Ina mengerjakan kuenya di ruangan lain, dan aku tak ingin ketinggalan setiap episode KitchenAid.

"Tidak, tidak ada lagi," jawabnya, masih tetap diam tak bergerak.

"Oke kalau begitu, selamat malam," kataku, hampir membuatnya seperti pertanyaan kala aku mulai menutup pintu. Disaat yang sama, dia maju sedikit ke depan sehingga aku terpaksa menahan pintu sebelum menghantamnya.

"Ya?" tanyaku, rasa jengkelku perlahan muncul. Si Perempuan ini menahanku menonton akhir dari cara membuat Pecan Squares yang telah kunanti setiap episodenya.

"Aku hanya, well, aku sungguh senang bertemu denganmu," jawabnya, matanya akhirnya melembut dan sedikit senyum menembus pesonanya. "Dan kau ternyata cukup cantik," tambahnya. Aku balas menatapnya. Anehnya suaranya terdengar akrab, tapi aku tak bisa mengingatnya dengan baik.

"Uhm..oke..terima kasih?" Jawabku saat dia mulai berjalan ke tangga. Hak sepatunya tergelincir sedikit dan dia hampir tersandung.

Saat aku menutup pintu, dia mulai tertawa ketika ia melepaskan sepatunya. Saat itulah aku sadar siapa yang baru saja datang. Mataku melebar, aku yakin DEMI TUHAN, dan aku membuka kembali pintuku dengan kasar. Aku menatapnya dengan ternganga, dan wajahnya tersenyum lebar dengan seringai nakal. Dia mengedipkan sebelah matanya saat aku tersipu. Aku telah hadir di beberapa kejadian penting wanita itu.

Dia menggoyang-goyangkan jarinya kepadaku dan menghilang menuruni tangga. Monggu membawaku kembali ke alam sadarku dengan menggigit pelan betisku, dan aku menutup pintu. Aku duduk di sofaku, melupakan serial TVku saat otakku mulai memproses segalanya.

Si Pengikik mengatakan aku cukup cantik.

Dia pada mengatakan padaku bahwa Luhan mengatakan padanya aku cukup cantik.

Luhan berpikir aku cantik.

Apakah Si Pengikik bukan harem lagi?

Apakah masih ada harem yang tersisa?

Apa artinya ini?

Apakah aku hanya bisa bertanya dan menebak-nebak sekarang?

Dan jika iya, siapakah ayah dari Eric Cartman?

.

.

.

.

Pesan teks antara Luhan dan Minseok:

Kau sedang apa?

KAU sedang apa?

Aku yang bertanya duluan.

Tentu saja.

Aku menunggu...

Aku juga...

Oh TUHAN, kau sangat keras kepala. Aku sedang dalam perjalanan

pulang dari LA. Kau senang?

Ya, terima kasih. Aku sedang memanggang roti labu.

Kegiatan yang menarik. aku sedang di pom bensin sekarang dan tidak sedang

menyetir atau aku akan amat sulit mengendalikan mobil agar tetap

berada di jalan sembari membalas pesanmu

Benar...memanggang membuatmu bergairah, bukan?

Kau sama sekali tidak tahu.

Jadi, aku tak perlu memberitahumu aku beraroma kayu manis dan

jahe sekarang?

Minseok.

Kismisku sedang kurendam di brandy saat ini.

Cukup sudah…

.

.

.

Aku mengintip keluar jendela lagi, mengintai jalanan dan belum ada tanda dari Rover. Kabut sangat tebal, dan meskipun aku tidak ingin bercerewet ria, aku menjadi sedikit perhatian, dia belum juga sampai rumah. Disini aku duduk, dengan roti yang mulai mendingin, dan tidak ada Luhan yang akan menghirup aroma mereka. Aku mengangkat telponku untuk mengirimkan sms, tapi beralih menelponnya. Aku tak ingin dia ber-sms saat di jalan. Nada panggil berbunyi beberapa kali, dan akhirnya ia mengangkatnya.

"Hai kau yang disana, pemanggang favoritku," ia mendengung, dan lututku gemetar bersamaan.

"Apakah kau sudah dekat?"

"Maaf?" dia tertawa.

"Dekat dengan rumah. Apakah kau sudah dekat dengan rumah?" tanyaku sambil memutar mata dan mendengus.

"Ya...kenapa?"

"Sepertinya kabut akan lebih tebal malam ini. Maksudku, lebih dari biasanya...Berhati-hatilah, oke?"

"Itu sangat manis sekali, kau perhatian dengan ku."

"Tutup mulutmu, tuan. Aku selalu perhatian dengan teman-temanku," omelku, bersiap untuk tidur. Dari dulu aku adalah orang yang dapat melakukan beberapa hal sekaligus. Aku dapat mengerjakan laporan pajakku sembari diwax dan tanpa mengerjapkan mata. Aku bisa berganti baju saat berbicara dengan Luhan. Ehem.

"Teman? Apakah kita seperti itu?" tanyanya.

"Harusnya kita seperti apa?" balasku. Melepas celana pendekku dan mengambil sepasang kaus kaki wol tebal. Lantainya sungguh sangat dingin malam ini.

"Hmmm," gumamnya saat aku melepas T-shirt dan meluncur masuk ke dalam kemeja berkancing untuk tidur.

"Baiklah, sementara kau ber-Hmm-ria, aku harus memberitahumu tentang kunjungan yang kuterima dari salah satu temanmu."

"Seorang temanku? Ini kedengarannya menarik."

"Yep, aksen Julie Andrews, yang bajunya dikancingkan sampai leher? Kau ingat? Dia mengantarkan sebuah kotak untukmu." Tawanya meledak kemudian. "Aksen Julie Andrews-sangat brilian! Itu pasti Lizzie. Kau sudah bertemu Lizzie!" Dia tertawa layaknya ini adalah hal terlucu yang pernah ada.

"Lizzie Schmizzie. Dia akan tetap menjadi Si Pengikik untukku." Aku menyeringai, duduk di pinggir ranjang dan mengoleskan losion ke tubuhku.

"Kenapa kau menyebutnya Si Pengikik?" tanyanya, berpura-pura polos, dan aku tahu dia sedang berada mutlak pada ambang histerianya.

"Kau sungguh ingin aku memberitahumu? Ayolah, walau kau tidak bisa menjadi sangat tolol-lupakan, kembali ke masalah sebenarnya." Aku memotongnya bicara sebelum dia bisa menghiburku dengan seberapa tololnya dia, memang. Aku telah mengetahui dengan baik segalanya tentang si tolol itu ketika berada di panas, jadi aku sudah terbiasa.

"Aku senang menggodamu, Gadis Bergaun Tidur Pink. Itu membuatku tertawa."

"Pertama keren, sekarang tertawa? Aku mengkhawatirkanmu, Lu." Aku kembali ke ruang tamu untuk mematikan lampu dan bersiap naik ke ranjang. Ini termasuk mengisi kembali mangkuk air Monggu dan menyembunyikan beberapa Pounce di sekeliling ruangan apartemen. Dia menikmati sesekali bermain Permainan Berburu Besar saat aku tidur, dengan Pounce tentu saja, bermain dalam bagian Permainan Besar. Beberapa malam sayangnya bantal-bantal ikut terlibat, termasuk rambut yang kusut, tali sepatu yang lepas, dan cukup banyak hal lain yang nampaknya menarik di jam 2 pagi. Di pagi-pagi sebelumnya tempatku terlihat seperti lokasi syuting Wild Kingdom dalam semalam.

"Baiklah, tak usah khawatir. Aku akan mengambilnya begitu aku tiba. Jadi, apakah kalian berdua terlibat obrolan yang menyenangkan?"

"Kami berbincang cukup singkat, ya. Tapi tak ada sedikit pun rahasia kotor yang terungkap. Walau dengan dinding yang tipis, aku sudah sedikit terbiasa dengan itu. Bagaimana dengan harem yang kesepian? Merindukan saudari-saudarinyanya?" Aku mematikan lampu dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan Permainan Besar. Aku sangat ingin bertanya apakah dia sungguh telah putus dengan Si Pengikik. Apakah iya, apakah tidak?

"Dia mungkin sedikit kesepian, ya," ujarnya, dalam cara yang kupikir terdengar perhatian. Hmm...

"Kesepian karena..." Selaku. Menghentikan kegiatan menyebarkan Pounce-ku.

"Kesepian karena, well, katakan saja, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku...well...aku...kau tahu," dia tergagap dan berhenti, menjadi bingung dengan hal itu.

"Ayo, katakan saja," ucapku, nyaris tak bernapas.

"Tanpa...Teman wanita. Atau mengambil istilahmu, bebas dari para harem." Kalimatnya keluar dalam hening yang tenang, dan kakiku mulai gemetaran. Ini membuat Pounce sedikit bergoyang di tempatnya, mengingatkan Monggu akan memulai perburuannya.

"Bebas dari para harem, huh?" Aku menarik napas kembali, bayangan akan Luhan yang Manis berputar dikepalaku. Luhan yang Manis dan Lajang, Luhan yang Manis dan Lajang di Spanyol…

"Yeah," bisiknya, dan kami berdua terdiam cukup lama, meskipun dalam kenyataannya itu waktu yang cukup bagi Monggu menemukan korban pertamanya: Pounce yang tersembunyi di sepatu tenisku di pintu depan. Aku berjalan memberinya selamat atas hasil tangkapannya.

"Dia mengatakan sesuatu yang membingungkan," sebutku, memecahkan kesunyian.

"Oh ya? Apa itu?" tanyanya.

"Dia mengatakan padaku bahwa aku, dan kukutip "cukup cantik."

"Apakah dia mengatakan begitu?" Dia tertawa, mencoba kembali nyaman.

"Iya, dan intinya adalah, dia mengatakan seolah dia menyetujui sesuatu atas apa yang telah seseorang katakan padanya. Begini, aku bukanlah gadis yang biasa memancing agar dipuji, tapi itu tampaknya, Luhan, bahwa kau telah berbicara hal yang manis tentangku." Aku tersenyum, tahu bahwa wajahku berubah merona.

Aku mulai beranjak ke kamar saat ku dengar ketukan halus dipintu. Aku berjalan kembali untuk membuka pintu tanpa melihat di lubang intip. Aku punya insting yang kuat tentang siapa yang ada di balik pintu.

Disana dia berdiri, ponsel menempel di telinganya, sambil menenteng tas duffelnya dan tersenyum besar, senyuman lebar.

"Aku mengatakan padanya kau cantik, tapi kenyataannya kau lebih dari cantik," ujarnya, menundukkan kepalanya ke arahku dan mendekatkan wajahnya hingga tinggal beberapa inci dariku.

"Lebih?" tanyaku, nyaris tidak menarik napas. Aku tahu senyumku mengimbanginya.

"Kau indah," jawabnya. Dan dengan begitu, aku mengundangnya masuk. Sementara aku hanya mengenakan kemeja tidurku. Nun jauh sana, sang O

bersorak…

.

.

.

Sejam kemudian, kami telah duduk bersama di meja dapurnya, roti yang menipis di hadapan kami. Di sela kaisannya yang menggila, aku berhasil menggigit satu atau dua gigitan roti. Sisanya sudah menetap di dalam perut Luhan, yang mana dia bangga saat ditepuknya membuncah laksana melon. Kami berbincang dan makan, kadang terjebak, melihat Monggu saat dia selesai dengan perburuannya, dan sekarang bersantai dengan kopi yang diseduh. Tas Luhan masih tertinggal di depan pintu-dia masih belum masuk keapartemennya. Aku masih dalam balutan kemeja tidurku, kakiku meringkuk di bawah kursi saat aku menatapnya. Kami merasa begitu nyaman, dan dengungan rendah itu, arus listrik ketertarikan diantara kami berdua selalu memercik dan memukau, terus berlanjut.

"Omong-omong, sentuhan yang fanstastis-kismis? Aku menyukainya." Dia menyeringai padaku, menyuapkan sepotong lagi ke mulutnya.

"Kau mengerikan." Aku menggelengkan kepalaku, sedikit melakukan peregangan sebelum bangkit dari kursi dan mengumpulkan piring dan sedikit remah roti yang tidak sempat termakan. Aku bisa merasakan dia memperhatikanku saat aku berjalan di sekitar dapur. Aku mengambil teko kopi dan menaikan alisku kearahnya. Dia mengangguk. Aku berdiri disampingnya untuk mengisi kembali gelasnya, dan aku memergokinya mengintip kakiku dibawah kemejaku.

"Melihat sesuatu yang kau suka?" aku mencondongkan badanku di depannya ke tempat gula.

"Yep," jawabnya, turut mencondongkan badannya ke arahku untuk mengambilnya.

"Gula?"

"Yep."

"Krim?"

"Yep."

"Hanya itu yang bisa kau katakan?"

"Tidak."

"Maka katakan sesuatu. Apapun." Aku mengikik, berjalan kembali ke sisi mejaku. Sekali lagi dia memperhatikanku saat aku mengatur diriku dikursi.

"Bagaimana kalau ini?" akhirnya dia berkata, menopang pada sikunya, wajahnya serius. "Seperti yang aku bilang tadi, aku putus dengan Lizzie."

Aku balas menatapnya, nyaris tak bernapas. Aku mencoba bersikap tenang, sangat tenang, tapi tak bisa menahan seringai yang menyelinap di wajahku.

"Ku lihat kau belum sepenuhnya kaget saat ini," ejeknya, kembali bersandar dikursinya.

"Tidak juga, belum. Ingin tahu yang sejujurnya?" tanyaku, seringai tersungging mengantarkan kepercayaan diri yang tiba-tiba muncul.

"Jujur kedengarnya bagus."

"Maksudku kejujurandari kebenaran, kebenaran yang seutuhnya. Tak ada tangkisan yang jenaka, tidak ada olok-olok yang tajam- walaupun kita selalu memiliki kelakar yang bagus."

"Benar sekali, namun aku bisa memberikan beberapa kebenaran yang menurut fersi mu itu suatu kejujuran," ujarnya, suaranya tenang ketika mata hitamnya menatap berapi-api kearahku.

"Oke, sejujurnya. Aku senang kau putus dengan Lizzie."

"Oh ya?"

"Ya. Kenapa kau putus? Sekarang saatnya kita berkata jujur," aku mengingatkannya. Dia memandangiku sejenak, menyesap kopinya, menjalankan tangannya di rambutnya dengan gaya seperti orang gila, dan menarik napas panjang.

"Oke, sejujurnya. Aku putus dengan Lizzie karena aku tak ingin lagi bersamanya. Dengan semua perempuan lain, sebenarnya," tuturnya, meletakkan gelasnya. "Aku yakin kami akan selalu menjadi teman, tapi kenyataannya adalah, aku telah bersama dengan tiga perempuan saat ini? Itu terlalu banyak untuk kutangani. Aku berpikir untuk menguranginya sedikit, mungkin hanya satu saja untuk sementara." Dia tersenyum, sorot matanya semakin berbahaya.

Mengetahui aku menyeringai dan berada pada keadaan yang amat memalukan, dengan cepat aku berdiri beranjak membuang ampas kopiku di wastafel. Aku berhenti untuk beberapa detik, hanya sedetik, pikiranku berkecamuk. Dia lajang. Dia...lajang. Demi Tuhan, si Wallbanger sekarang lajang.

Aku merasakan dia bergerak melintasi dapur dan datang berdiri dibelakangku. Aku membeku, merasakan tangannya membelai menyingkirkan rambut dari bahuku dan meluncur ke bawah hingga ke pinggulku. Mulutnya-mulutnya yang sangat kusuka—sekilas menyentuh cuping kupingku, dan dia berbisik.

"Kenyataannya? Aku tak bisa berhenti memikirkanmu." Masih membelakanginya, mulutku menganga dan mataku melotot, bimbang antara kaget dan bayangan akan seks yang nyata di dapur. Sebelum aku memutuskan, mulutnya bergerak lebih sengaja, menekan ke dalam kulit tepat dibelakang kupingku dan membuat isi kepalaku terbakar dan bagian bawahku meliuk menari.

Tangannya meraih pinggulku, dan dia memutarku menghadapnya-untuk melihatnya dan senyumnya-Aku segera memasang wajah datar, berusaha mati-matian untuk tetap utuh.

"Kenyataannya? Aku telah memikirkanmu sejak malam saat kau menggedor pintuku," bisiknya, membungkuk untuk mencium lekuk leherku dengan presisi yang amat menakjubkan. Rambutnya menggelitik hidungku, dan aku berjuang untuk tetap menahan tanganku disisi tubuhku. Dia mendorongku sedikit ke samping dan dia mengejutkanku dengan mengangkatku naik ke atas meja dapur. Kakiku otomatis terbuka mengizinkan dia menempatkan dirinya diantara celah kakiku, Hukum Universal dari si Wallbanger menggantikan segala pikiran yang ada dikepalaku. Tidak perlu khawatir, pahaku tahu apa yang harus dilakukan.

Salah satu tangannya menyelinap di sekitar punggungku, sementara yang satunya menahan tengkukku. "Kenyataannya?" tanyanya sekali lagi, menarik pinggulku ke tepi meja, yang memaksaku untuk bersandar ketika kakiku sekali lagi berubah otomatis dan membungkusnya di pinggangku. "Aku ingin kau ada di Spanyol," dia menarik napas, kemudian bibirnya mendarat pada bibirku. Di suatu tempat, terdengar panggilan...dan si O akhirnya memulai perjalanan pulangnya.

.

.

.

.

Tbc

kalau aku sempet ni ff bakal cepet aku update biar cepet tamat cs ternyata prediksi tamatnya ngelebihin targetku dan maaf klo ffnya ngebosenin ya

makasih buat yg udah review n masih baca ni ff. yg nunggu NCnya cepet aku gak tau kenapa kok pada ngebet banget ama ncnya. aku jd pusing sendiri selalu ditanyain Nc. hue... ternyata oh ternyata... pada nunggu nc semua.