waktu aku buka ffn lagi aku cuma bisa nyengir n ngomong "haduh... udah kotor banget ni akun atu. banyak sarang laba-labanya."

tapi emang beberapa bulan yang lalu n bahkan sampe sekarang aku males banget yg namanya otak-atik leptop yg selama dua bulan lebih ini ngejogrog di atas meja amp debuan n lupa dimana narok casan leptopnya. muehehehhehe

buat yg udah riview... maacih banget... buat yg masih nungguin ff ini lanjut... muangapkan saya yg males update ni ff. udahan ah ngocehnya. met baca aja ya semuanya...

.

.

.

.

"Anggur lagi, Mr. Lu?"

"Cukup untukku. Seokie?"

"Tidak, terima kasih." Aku berbaring dengan anggun di kursiku. Kelas satu menuju ke LaGuardia, kemudian kelas satu lagi sepanjang perjalanan ke Malaga, Spanyol. Kami akan menyewa mobil ke Nerja, kota pantai kecil dimana Luhan telah menyewa rumah. Scuba diving, menelusuri gua, hiking, pantai yang indah, dan pegunungan, semuanya telah menanti di sebuah desa yang kuno. Luhan menggeliat di kursinya dan melontarkan tatapan gusar melalui bahunya.

"ada apa? Apa ada yang mengganggu mu?" tanyaku, melihat ke belakang dan tidak melihat sesuatu yang tidak biasa.

"Anak itu terus menendang kursiku," gerutunya dengan gigi bergemeretak.

Aku tertawa sekitar 20 menit.

.

.

.

.

"Kita melakukannya terlalu cepat. Seharusnya kita menunggu."

"Kita sudah menunggu cukup lama—apa kau bercanda? Kau tahu aku benar. Memang sudah waktunya melakukan itu."

"Sudah waktunya melakukan itu, omong kosong! Kita seharusnya menunggu sedikit lebih lama lagi, dan kita tidak akan terjebak dalam kekacauan seperti sekarang."

"Well, tadi aku tidak mendengar kau mengeluh. Seingatku, nampaknya kau cukup puas."

"Tidak mungkin aku mengeluh kalau mulutku penuh. Tapi aku sudah punya firasat. Aku hanya tahu ini salah, apa yang kita lakukan memang salah."

"Oke, aku menyerah. Katakan padaku bagaimana memperbaiki ini."

"Well, sebagai permulaan, kau memegangnya terbalik," Kualihkan pandanganku, mencengkeram peta dan memutarnya. Kami telah berhenti di pinggir jalan selama lima menit, mencoba mencari jalan menuju Nerja.

Setelah mendarat di Malaga, mengurus imigrasi, mengurus penyewaan mobil dan akhirnya sukses mengatur perjalanan kami keluar dari pusat kota, sekarang kami tersesat. Luhan yang mengemudi, jadi aku yang bertanggung jawab soal peta. Dan karena hal itu dia mengambil peta dariku setiap sepuluh menit, mengamati, berhmm dan berkomat kamit, dan menyerahkannya lagi padaku. Dia sama sekali tidak mendengarkan apapun perkataanku, malahan dia bertahan dengan naluri prianya dalam membaca peta. Dia juga menolak menyalakan GPS yang telah disediakan, bertekad membawa kami kesana dengan cara tradisional.

Dan itulah penyebab kami sekarang tersesat. Menggunakan kereta api sebetulnya merupakan jalan termudah. Luhan membutuhkan mobil supaya bisa berkeliling untuk keperluan pemotretannya, yang juga merupakan alasan utama kami di sini. Setelah mengalami penerbangan semalaman, kami berdua kelelahan, namun cara terbaik untuk mengalahkan jet lag adalah meyesuaikan diri secepat mungkin dengan zona waktu setempat. Kami bedua setuju untuk tidak tidur siang hingga dapat tidur nanti malam.

Sekarang kami berdebat mengenai di mana kami salah mengambil belokan. Aku sedang melahap churros yang kubeli di kedai pinggir jalan ketika kami melawati belokan yang seharusnya kami ambil, dan kemudian kami bermain "Siapa Yang Salah."

"Yang bisa kukatakan adalah jika saja seseorang tidak sedang sibuk makan dengan rakusnya dan memperhatikan jalanan, kita tidak akan—"

"Makan dengan rakus? Kau serius? Kau tadi mencuri churros milikku. Aku sudah bilang kau akan dapat bagianmu ketika kita berhenti."

"Well, pada awalnya aku tidak lapar, namun kau mengunyah dan menjilati cokelat itu, dan well…aku merasa teralihkan." Ia mengalihkan pandangannya dari peta, yang telah dia bentangkan pada kap mobil, lalu tersenyum lebar, menghilangkan ketegangan yang ada.

"Teralihkan?" Aku balas terseyum, bersandar lebih dekat. Ketika dia kembali melihat peta, aku memandanginya. Bagaimana seseorang yang telah berada dalam pesawat sekian lama bisa nampak semenawan dia? Tapi begitulah dia, dalam balutan jeans pudar, Tshirt hitam, jaket North Face berwarna biru gelap. Bakal janggut yang berumur 24 jam mengundang untuk dijilat. Siapa yang mau menjilat janggut? Akulah orangnya. Dia menopang tubuhnya dengan kedua lengannya ketika mempelajari peta, bibirnya bergerak tanpa suara sambil berusaha mencari tahu. Aku menyelinap ke bawah lengannya, dengan tanpa malu menutupi kap mobil berpose seperti gadis model dalam kalender garasi.

"Boleh aku memberi saran?"

"Apakah itu saran yang mesum?"

"Sayangnya bukan. Bolehkan kita menyalakan GPS? Aku ingin tiba di sana sebelum meninggalkannya dalam beberapa hari," aku mengerang. Akibat dari menit-menit akhir pemesanan tiket, aku harus terbang pulang kembali sebelum Luhan. Namun dengan lima hari di Spanyol...aku sama sekali tidak mengeluh.

"Seokie, hanya para pengecut yang menggunakan GPS," cemoohnya, menghadap ke peta lagi.

"Well, pengecut yang ini sangat membutuhkan makan malam, mandi, dan tempat tidur, untuk mengenyahkan jet lag ini. Jadi jika kau ingin melihatku memerankan kembali It Happened One Night, versi bahasa Spanyol, tolong nyalakan GPS-nya, Lu." Kucengkeram jaket North Face-nya dan menariknya ke arahku.

"Apakah tadi terdengar kasar?" Aku berbisik, mendaratkan ciuman amat ringan pada dagunya.

"Iya, aku takut padamu sekarang."

"Apakah itu berarti GPS?"

"Itu berarti GPS." Dia mendesah menyerah, berdiri tegak dan menarikku turun dari mobil bersamanya. Aku bersorak sedikit dan melangkah menuju pintu.

"Tidak, tidak, tidak, kau telah bersikap kasar, Nightie Girl. Aku membutuhkan sesuatu yang manis," ia memberikan instruksi, matanya berbinar.

"Kau membutuhkan sesuatu yang manis?" aku bertanya.

Dia menarik lenganku, membawaku kepadanya lagi. "Ya, aku menuntut itu."

"Kau sinting, Lu." Aku bersandar padanya, mengalungkan lenganku di lehernya.

"Kau sama sekali tidak tahu." Dia menjilat bibirnya dan menggerakan alis matanya bak gangster zaman dulu.

"Kemarilah ambil apa yang kau mau, sugar" aku menggodanya saat ia menempelkan bibirnya pada bibirku.

Aku tidak akan pernah merasa lelah mencium Luhan. Maksudku, bagaimana bisa? Semenjak malam dia "mengungkapkan isi hatinya" padaku di atas meja dapur, secara perlahan kami telah mengeksplorasi sisi baru hubungan kami. Di bawah semua sindiran dan rayuan, telah terbangun ketegangan seksual selama beberapa bulan ini. Dan sekarang kami biarkan mengalir keluar—walaupun perlahan. Tentu saja, pada malam itu sebenarnya kami bisa segera berpacu ke kamar tidur dan membiarkan suara seks bergema keras ke seluruh penjuru kota selama berhari-hari, tapi Luhan dan aku, tanpa berkata-kata, untuk sekali ini memiliki pemikiran yang sama, dan setuju agar hal ini berkembang secara perlahan.

Dia telah merayuku. Dan aku membiarkannya merayuku. Aku menginginkan rayuan itu. Aku patut mendapatkan rayuan itu. Aku membutuhkan rayuan itu agar aku dapat mengikuti rayuannya, tapi untuk saat ini, rayuannya? Itu sangat WOW.

Ngomong-ngomong tentang rayuan...

Tanganku menyelip diantara rambutnya, merenggut dan memilin dan berusaha menarik keseluruhan tubuhnya kepadaku. Dia menggeram dalam mulutku, kurasakan lidahnya menyentuh lidahku, dan aku merasa terpisah. Aku menghela nafas, rengekan yang amat pelan, dan menjadi amat sulit menciumnya diantara seringaian raksasa yang mengambil alih wajahku.

Dia menarik diri sedikit dan tertawa. "Kau terlihat senang."

"Cium aku terus, please," Aku memaksa, menarik wajahnya kembali padaku.

"Seperti mencium sebuah Jack 'o' lantern. Ada apa dengan seringaian itu?" Dia tersenyum padaku dengan seringaian yang terlihat sama lebarnya dengan milikku.

"Kita ada di Spanyol, Lu. Menyeringai diperbolehkan." Aku menghela nafas puas, mengacak-acak rambutnya

"Dan kupikir ini semua yang harus dilakukan dengan ciumanku," jawabnya, menciumku lagi dengan lembut dan manis.

"Okay, koboy, siap melihat kemana GPS akan membawa kita?" tanyaku, sembari menyingkir. Aku tak bisa menyentuhnya terlalu lama atau kami tak akan pernah beranjak.

"Mari kita lihat sebenarnya seberapa tersesatnya kita." Dia tersenyum dan kami melanjutkan perjalanan.

.

.

.

.

"Kurasa inilah belokannya…Yep, ini dia," ujarnya.

Aku terlonjak di kursiku. Ternyata kami sudah lebih dekat dari yang kami perkirakan, dan kami menjadi sedikit gelisah. Ketika kami sampai di belokan terakhir, kami saling tatap, dan aku memekik kegirangan. Kami telah melihat laut di beberapa mil terakhir—mengintip diantara pepohonan atau di belakang tebing.

Sekarang, saat kami berbelok memasuki jalanan berbatu, kesadaran bahwa Luhan telah menyewa rumah bukan hanya dekat pantai tapi di pantai dan aku dibungkam oleh pemandangan. Luhan menepi di depan rumah, ban mobil berderak pada bebatuan bulat. Ketika dia mematikan mobil, dapat kedengar ombak berdebur di pantai berkarang yang berjarak sekitar seratus kaki. Kami duduk sebentar, hanya untuk menyerap semuanya dan saling menyeringai, sebelum aku bergegas keluar dari mobil.

"Disinikah kita akan tinggal? Seluruh rumah ini—milikmu?" aku berseru ketika dia mengambil tas-tas kami dan berdiri di sampingku.

"Ini milik kita, yeah." Dia tersenyum dan mengisyaratkan agar aku berjalan mendahuluinya.

Rumahnya indah dan menakjubkan pada saat bersamaan: dinding luar berplester putih, genting tanah liat, minimalis, dengan pintu masuk lengkung. Pohon jeruk berjajar di sepanjang jalan masuk, dan bunga bougenville tumbuh merambat naik pada dinding taman. Rumah tersebut adalah cottege klasik, dibangun dengan disesuaikan dengan iklim lautan dan memerangkapnya di dalam. Saat Luhan mencari kunci rumah dalam pot bunga, aku menghirup aroma sitrus dan samar-samar udara yang asin.

"A-ha! Dapat. Siap melihat bagian dalam rumahnya?" Luhan berjuang membuka pintu untuk sesaat sebelum berbalik menghadapku.

Kuraih tangannya, menjalarkan jariku pada jemarinya dan mencondongkan tubuh untuk mencium pipinya. "Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk mengajakku kemari." Aku tersenyum dan menciumi bibirnya.

"Mmm, aku menginginkan lagi manisan yang kau janjikan tadi." Dia menjatuhkan tas yang dibawanya dan menarikku mendekat.

"Enak saja! Mari kita lihat rumahnya!" Aku berseru, bergoyang melepaskan diri dan bergegas masuk melewati pintu mendahului dia. Namun, ketika aku melewati pintu masuk, aku terpaku. Karena dia berada sangat dekat denganku, dia menubrukku saat aku meresapi sekelilingku.

Ruang keluarga yang menjorok kedalam, dihiasi oleh sofa polos berwarna putih dan kursi yang terlihat amat nyaman untuk diduduki, berhadapan langsung dengan yang aku asumsikan adalah dapur. Pintu bergaya Perancis yang berada di belakang rumah mengarah ke beberapa teras yang cukup luas, yang menjorok kearah pantai berkarang. Namun, yang membuatku terpaku adalah lautan. Sepanjang bagian belakang rumah, melalui jendela raksasa dapat kulihat adalah lautan biru Mediterania. Garis pantai membentuk kota

Nerja, dimana lampu-lampu mulai menyala saat senja menuruni pantai, menerangi rumah-rumah bercat putih lainnya yang terdapat di tebing. Setelah dapat mengingat bagaimana cara bergerak, aku berlari untuk mendorong pintu hingga terbuka dan membiarkan udara lembut memenuhiku dan masuk ke dalam rumah, menyelimuti semuanya dengan parfum malam.

Aku berjalan menuju pegangan tangga yang terbuat dari besi tempa, terletak pada tepi sebuah teras berlantaikan ubin yang terbuat dari tanah dan berada disamping pepohonan zaitun. Kutempatkan tanganku pada besi yang hangat, aku memandang dan memandang dan memandang. Aku merasakan Luhan berjalan di belakangku dan tanpa berkata-kata melingkarkan lengannya di sekeliling pinggangku. Dia mendekapku, merebahkan kepalanya di bahuku. Aku bersandar ke padanya, merasakan setiap sudut dan bidang tubuhnya selaras dengan tubuhku.

Kau tahu saat-saat ketika semuanya sesuai dengan tempatnya? Ketika kau menemukan dirimu dan seluruh jagad rayamu bersatu dalam sinkronisasi yang tepat, dan kau mengetahui bahwa kau tidak akan bisa merasa lebih sempurna lagi? Aku sedang berada dalam momen seperti itu, dan sangat menyadarinya. Aku terkikik sedikit, kurasakan senyum Luhan melintang di wajahnya saat dia

menekannya pada leherku.

"Ini indah kan?" bisiknya.

"Ini sangat indah," jawabku, dan kami menikmati matahari terbenam dalam keheningan yang mempesona.

.

.

.

.

Setelah menyaksikan matahari terbenam hingga benar-benar hilang, kami mengeksplorasi bagian rumah lainnya. Nampaknya semakin dan semakin indah pada setiap ruangan, dan aku sekali lagi memekik kegirangan pada pemandangan dapurnya. Sepertinya aku aku telah dipindahkan ke *rumah Ina di East Hampton, dengan sentuhan Spanyol: kulkas merk Sub-Zero, meja dapur terbuat dari batu granit yang cantik, dan kompor bermerk Viking. Aku sama sekali tidak ingin tahu berapa banyak yang Luhan keluarkan untuk menyewa rumah ini. Aku hanya ingin menikmatinya. Dan menikmati kami berlarian bolak-balik, tertawa seperti anak-anak ketika kami menemukan bidet yang terdapat di dalam lorong kamar mandi. Lalu kami memasuki kamar tidur utama, aku menyusul dan aku melihat Luhan berdiri terpaku di ujung lorong, tepat di depan pintu.

"Apa yang kau temukan hingga membuatmu terdi—oh ya ampun. Bisakah kau lihat itu?" Aku berhenti disampingnya, mengagumi dari pintu masuk.

Jika hidupku memiliki soundtrack, lagu tema yang tepat untuk dimainkan sekarang ini adalah dari 2001: A Space sana, di tengah sebuah kamar yang terletak di sudut, yang memiliki teras sendiri dengan pemandangan laut terindah di dunia, terdapat sebuah tempat tidur terbesar yang pernah kulihat. Terbuat dari kayu ukiran yang nampaknya dari kayu jati, besarnya tempat tidur itu sebesar lapangan sepak bola. Ribuan bantal putih selembut sutra tersusun di kepala tempat tidur, menutupi sebuah selimut putih.

Selimutnya sengaja dibiarkan terlipat dan menjuntai, jutaan benang membuat selimut berkilauan, berkilauan dalam arti sebenarnya, seolah-olah mereka berpendar dari dalam. Kelambu putih yang tergantung pada tiang ranjang menutupi tempat tidur, membentuk kanopi sementara tirai tipis yang tergantung di jendela memperlihatkan pemandangan lautan di bawah sana. Jendelanya terbuka sehingga baik tirai maupun kelambu tertiup dengan lembut oleh angin sepoi-sepoi, yang memberikan efek melambai dan bergelombang tertiup angin ke seluruh kamar. Itu merupakan ranjang yang luar biasa. Itu merupakan jenis ranjang yang menjadi cita-cita semua ranjang kecil apabila mereka dewasa kelak. Itu merupakan ranjang dari surga.

"Wow," aku tetap terpaku di lorong di sebelah Luhan. Sangat menghipnotis. Sepertinya si ranjang memberikan sirene, menarik kami supaya berbaring.

"Aku sangat setuju denganmu," dia tergagap, matanya tidak pernah meninggalkan ranjang itu.

"Wow," ulangku, masih terus menatap.

Aku tidak dapat menghentikannya, dan tiba-tiba saja aku merasa amat luar biasa gugup. Aku memiliki sebuah kasus menarik dari menampilkan kecemasan, pesta untuk diri sendiri. Luhan terkekeh pada lelucon payahku, dan itu menarikku kembali padanya.

"Tidak ada tekanan, huh?" ujarnya, matanya malu.

Huh? gugup? Pesta untuk berdua? Aku memiliki sebuah pilihan. Aku bisa memilih kebijakan konvensional, yang berkata bahwa dua orang dewasa yang sedang berlibur bersama di dalam sebuah rumah yang indah dengan sebuah ranjang yang menjelmakan seks akan langsung berhubungan seks tanpa henti...atau, aku bisa melepaskan kami berdua dari godaan dan hanya menikmati. Menikmati kebersamaan dan membiarkan semua terjadi ketika saatnya sudah tepat. Yeah, aku lebih menyukai ide ini.

Aku mengerjap dan berlari sambil melompat keatas ranjang, melambungkan bantal ke seluruh penjuru kamar. Aku mengintip melalui gundukan yang tersisa untuk melihat dia sedang bersandar di pintu masuk, pemandangan yang sering kulihat berulang kali sebelumnya. Dia terlihat sedikit gugup, namun tetap tampan.

"Jadi, dimanakah kau akan tidur?" tanyaku, dan wajahnya rileks membentuk senyuman, senyumanku.

.

.

.

.

"Anggur?"

"Apakah aku bernapas?"

"Anggur kalau begitu," Luhan mendengus, memilih sebotol anggur rosé dari persediaan anggur yang berlimpah dalam kulkas. Luhan telah mengatur agar mendapatkan beberapa bahan makanan pokok yang diantarkan ke rumah sebelum kedatangan kami, tidak ada yang mewah tapi cukup untuk bertahan dan membuat kami nyaman.

Sekarang telah gelap sepenuhnya, dan setiap pemikiran yang kami miliki mengenai berjalan-jalan ke kota memudar saat jet lag menyerang. Sebaliknya kami malah berdiam di rumah malam ini, mendapatkan tidur malam yang nyenyak, dan menuju ke kota pada pagi hari. Tersedia ayam panggang, zaitun, seiris Manchego, beberapa Serrano ham, dan beberapa jenis bahan makanan lain yang dapat dipergunakan untuk membuat sebuah hidangan. Aku menyiapkan piring sementara Luhan menuangkan anggur, dan segera setelahnya kami duduk di teras. Lautan membuncah di bawah, dan jalan setapak yang terbuat dari kayu yang mengarah ke pantai diterangi oleh lampu-lampu putih kecil.

"Kita harus ke pantai sebelum tidur, setidaknya hanya untuk berjalan-jalan."

"Siap dilaksanakan. Apa yang ingin kau lakukan besok?"

"Tergantung, kapan kau akan mulai bekerja?"

"Well, aku tahu beberapa tempat yang harus kudatangi, namun aku masih membutuhkan sedikit panduan. Berminat untuk ikut?"

"Tentu saja. Kita mulai dari kota di pagi hari dan lihat kemanakah nanti akan menuju?" tanyaku, sembari menggigiti sebuah zaitun.

Dia mengangkat gelasnya dan mengangguk. "Untuk melihat kemanakah nanti kita akan menuju," Luhan bersulang.

Aku mengangkat gelasku ke gelasnya. "Aku pun akan bersulang untuk itu." Gelas kami berdenting dan mata kami mengunci. Kami berdua tersenyum, sebuah senyum rahasia. Akhirnya kami sendirian, hanya kami berdua, dan tidak ada lagi tempat di planet ini di mana aku ingin berada selain di sini. Kami menyantap makan malam, saling mencuri pandang, dan menyesap anggur kami. Itu menyebabkanku mengantuk, dan sedikit merasa melankolis.

Kemudian kami berjalan hati-hati melewati garis pantai yang berbatu menuju ke pantai. Tangan kami saling tergenggam untuk mengarahkan tapi tidak pernah terlepas. Sekarang kami berdiri di tepian dunia, angin kuat dan asin mendera melalui rambut dan pakaian kami, sedikit menghentak mundur kami.

"Sangat menyenangkan, bersamamu," kataku padanya. "Aku, well, aku suka memegang tanganmu," aku mengaku, merasa berani akibat pengaruh dari anggur. Kelakar yang jenaka memiliki tempat tersendiri, namun terkadang, semua yang kau perlukan hanyalah kejujuran. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum dan membawa tanganku kemulutnya, dan mendaratkan kecupan kecil.

Kami menonton ombak, dan ketika Luhan menarikku di dadanya, makin merapatkan diriku padanya, aku menghembuskan napas dengan pelan. Apakah sudah sedemikian lama sejak aku merasa—Oh, apakah nama perasaan itu?—disayangi?

"Jomyeon bilang padaku bahwa kau tahu apa yang terjadi pada orang tuaku," ujarnya amat pelan aku hampir tidak dapat mendengarnya.

"Ya. Dia menceritakannya padaku."

"Dulu mereka selalu berpegangan tangan seperti ini sepanjang waktu. Bukan sandiwara, sungguh, kau mengerti?" Aku mengangguk di dadanya dan menghirup aroma dirinya.

"Aku selalu melihat pasangan yang berpegangan tangan dan hanya untuk bersandiwara, saling memanggil baby and sweetie dan honey. Itu terasa seperti, entahlah, salah. Seperti, apakah mereka akan tetap melakukannya jika mereka sedang tidak berada di depan orang banyak?" Aku mengangguk lagi.

"Orangtuaku? Pada saat itu aku tak pernah terlalu memikirkannya, namun jika aku memikirkannya sekarang, kusadari tangan mereka hampir seperti yang dijahit menjadi satu, selalu bergandengan tangan. Walaupun sedang tidak ada seorangpun yang melihat, kan? Aku pernah pulang dari berlatih dan menemukan mereka sedang menonton TV, masing-masing duduk di setiap ujung sofa, namun dengan tangan mereka disanggakan diatas sebuah bantal sehingga mereka tetap bisa saling menyentuh...Itu hanya...Aku tak tahu, itu merupakan hal yang manis." Tanganku, yang masih terjalin dengan tangannya, meremas, dan kurasakan jemarinya yang kuat balas meremas.

"kedengarannya mereka masih menjadi pasangan, bukan hanya seorang ibu dan ayah," ujarku, mendengar napasnya sedikit memburu.

"Ya, tepat sekali."

"Kau merindukan mereka."

"Tentu saja."

"Mungkin terdengar aneh, karena aku tidak pernah mengenal mereka, tapi kurasa mereka akan sangat bangga padamu, Lu."

"Yeah." Kami membisu selama semenit kemudian, merasakan keheningan malam disekeliling kami.

"Ingin kembali ke rumah?" tanyaku.

"Yeah." Dia mencium puncak kepalaku saat kami mulai berjalan menuju rumah—tangan kami saling terpaut seperti seseorang telah memberikan Krazy Glue di sana.

.

.

.

.

Aku membiarkan Luhan membereskan sisa makan malam. Aku ingin mandi sebentar sebelum tidur. Setelah membasuh kotoran yang menempel selama di bandara dan perjalanan, aku mengenakan t-shirt tua dan celana pendek, terlalu lelah untuk lingerie yang telah kupersiapkan. Ya, aku telah menyiapkan lingerie. Ayolah, aku bukan seorang biarawati.

Aku berdiri di depan cermin dalam kamar tidurku (yep, aku telah mengklaim kamar terbesar) setelah mengeringkan rambutku ketika aku melihat Luhan muncul di pintu masuk. Dia sedang menuju kamarnya, mengenakan celana piyama dan sebuah handuk melingkari lehernya. Aku memang kelelahan, tapi tidak terlalu lelah untuk mengapresiasi pemandangan di depanku. Aku mengamatinya dari cermin saat dia pun sedang menilaiku.

"Mandimu menyegarkan?" tanyanya.

"Ya, rasanya menakjubkan."

"Siap untuk tidur?"

"Aku hampir tidak mampu membuka mataku," tukasku, menguap dengan lebar untuk meyakinkan.

"Mau kubawakan sesuatu untukmu? Air minum? Teh? Apa saja?" Aku berbalik menghadapnya, ketika dia melangkah masuk. "Tidak air minum, tidak teh, tapi ada satu hal yang kuinginkan sebelum tidur," aku mendengkur seperti kucing, mengambil beberapa langkah kearahnya.

"Apa itu?"

"Ciuman selamat malam?"

Matanya berubah menjadi gelap. "Oh, sial, hanya itu saja? Itu dapat kulakukan." Dia mendekat dan menyelipkan lengannya dengan mudah disekeliling pinggangku.

"Ciumlah aku, bodoh," aku menggodanya, terjatuh dalam dekapannya seperti dalam melodrama kuno.

"Satu ciuman bodoh, segera datang," dia tertawa, namun dalam semenit tidak ada seorang pun yang tertawa. Dan dalam semenit kemudian tidak ada seorang pun yang berdiri.

Setelah terjatuh ke Kota Bantal, kami saling bergelut, lengan dan kaki saling membelit secara begini dan begitu, ciuman berubah menjadi semakin dahsyat. Kausku mengumpul naik pada sekeliling pinggangku, dan merasakan kejantanannya menekan kewanitaanku tak tergambarkan. Ciumannya menghujani leherku, menjilat dan menghisap dan menyesap saat aku merintih bak wanita jalang di dalam gereja.

Sejujurnya, aku tidak pernah mendengar wanita jalang merintih di dalam gereja, namun aku memiliki firasat itu berbunyi seperti suara tidak senonoh yang sedang keluar dari mulutku. Dia membalik tubuhku seperti aku adalah sebuah boneka perca dan menempatkanku di atasnya, kakiku berada di tiap sisi tubuhnya, posisi yang sudah kuinginkan sejak lama. Dia mendesah, menatap keatas dengan penuh perhatian saat aku dengan tidak sabaran menyingkirkan rambut dari wajahku jadi aku bisa benar-benar mengapresiasi keindahan dimana aku sedang bertengger. Kami memperlambat pergerakan, dan berhenti di saat yang bersamaan, saling memandang tanpa malu-malu, saling menilai tanpa rasa malu.

"Luar biasa," Luhan terengah, mengulurkan tangannya untuk menangkup wajahku dengan lembut dan aku menciumi tangannya.

"Itu adalah kata yang tepat, ya. Luar biasa." aku berbalik untuk menciumi ujung jemarinya. Dia memandang langsung ke mataku lagi, mata berwarna kelam yang menjanjikan seks itu melakukan sihir voodoonya yang membuatku tergenang didalam ramuan voodoo yang pekat. Sehingga mudah dirayu olehnya. Lihatlah apa yang telah dia lakukan padaku?

"Aku tidak ingin mengacaukan ini," tukasnya tiba-tiba, perkataanya menarikku dari puisi dr. Seuss-ku.

"Tunggu, apa?" aku bertanya, menggelengkan kepala untuk menjernihkan dari puisi itu.

"Ini. Kau. Kita. Aku tidak ingin mengacaukannya," tegasnya, bangkit terduduk dibawahku, kakiku membungkus hingga ke punggungnya.

"Oke, jadi jangan," aku harap-harap cemas, tidak yakin kemanakah arah pembicaraan ini.

"Maksudku, kau harus tahu bahwa aku tidak berpengalaman dalam hal semacam ini."

Aku menaikkan salah satu alisku. "Aku punya sebuah dinding di rumah yang akan tidak setuju dengan perkataanmu..." aku tertawa, dan dia menjejalkanku ke dadanya, secara misterius dengan keras.

"Hey, hey…ada apa? Apa yang sedang terjadi?" aku menenangkannya, tanganku mengusap punggungnya naik dan turun.

"Seokie, aku, Tuhan, bagaimana cara mengatakannya tanpa terdengar seperti sebuah episode dari Dawson's Creek?" Dia tergagap sembari berbicara di leherku. Aku tak dapat menahannya, aku sedikit terkekeh saat Pacey terlintas di benakku, dan itu membawanya kembali. Aku sedikit menarik diri hingga aku bisa melihatnya, dan dia tersenyum kecut.

"Oke, persetan dengan Dawson's, aku benar-benar menyukaimu, Minseok. Namun, aku tidak memiliki pacar sejak SMA, dan aku sama sekali tidak tahu bagaimana melakukan ini. Tapi kau perlu tahu, apa yang kurasakan padamu? Sial, itu hanya berbeda, oke? Dan, apapun kata dindingmu di rumah, aku perlu kau mengetahui hal ini? Apa yang kita miliki, atau yang akan kita miliki? Itu berbeda, oke? Kau tahu itu, kan?" Dia mengatakan padaku bahwa aku berbeda, bahwa aku bukan Pengganti para haremnya. Dan hal ini, aku tahu. Dia menatapku dengan penuh ketulusan, sangat serius, dan hatiku semakin terbuka. Aku menekankan sebuah kecupan lembut ke bibirnya yang manis.

"Pertama-tama, aku memang mengetahuinya. Kedua, kau melakukannya dengan baik, lebih daripada kau yang kau pikirkan." Aku tersenyum menyentuh kelopak matanya hingga terpejam dan mencium setiap kelopak matanya. "Dan, sebagai catatan, aku sangat menyukai Dawson's Creek, dan kau telah membuat Warner Bros bangga." Aku tertawa ketika matanya kembali terbuka dan kelegaan menyeruak masuk. Aku menariknya dalam cerukanku dan memeluknya disana saat kami bergoyang maju dan mundur, aliran dari hormon-hormon yang sebelumnya menguasai kami mereda ketika kami menemukan ruang baru ini, keintiman yang sunyi ini menjadikan hampir seperti kecanduan.

"Aku suka bahwa kita menjalaninya perlahan. Kau memberikan rayuan yang bagus," bisikku. Dia menegang dibawahku. Dapat kurasakan dia sedikit gemetaran.

"Aku memberikan rayuan yang bagus?" Luhan tertawa, airmata bemunculan dimatanya ketika dia mencoba untuk mengendalikan tawanya.

"Oh, sudah diamlah," teriakku, memukulnya dengan sebuah bantal. Kami masih tertawa selama beberapa menit, kemudian kembali jatuh terbaring di ranjang yang empuk, dan saat jetlag akhirnya mengambil alih, kami berbaring. Bersama. Saat ini tidak ada lagi pertanyaan di dalam benakku tentang tidur dengan kamar terpisah.

Aku menginginkannya di sini. Bersamaku. Dikelilingi oleh bantal dan Spanyol, kami berpelukan. Pemikiran yang kumiliki, sebelum tertidur dengan lengannya yang membungkus di sekeliling tubuhku...Aku mungkin telah jatuh cinta pada Wallbanger-ku.

.

.

.

.

TBC

ciye... yg ngarepin NC ciye... ternyata mrk cuma kisseu2 aja ciye... buat chapter berikutnya mrk lebih hut lg kok pegang2nya atau malah lebih dr pegang2 ya. ketawa setan bareng Kyuhyun sambil dance Devil

ok... aku minta rivewnya ya...