Pagi ini aku dibangunkan oleh suara gemuruh yang keras. Aku lupa dimana aku berada sepersekian detik, aku secara otomatis mengasumsikan aku berada di rumah, dan kami mengalami sebuah gempa. Aku setengah jalan turun dari tempat tidur dengan satu kaki di atas lantai sebelum aku menyadari pemandangan di luar jendela kamarku yang jelas lebih biru dibandingkan di rumah, dan ini jelas lebih Mediterania. Dan gemuruh itu? Itu tanpa gempa. Itu adalah dengkuran Luhan. Dengkuran. Dengkuran yang mengalahkan band rock, maksudku mengalahkan band itu dengan hidungnya-yang mengeluarkan suara yang tak wajar. Aku menepukkan tanganku ke mulutku untuk menahan tawa dan merangkak kembali ke tempat tidur, lebih baik untuk menilai situasi saat ini.
Seketika aku tersadar akan sekitar ku, aku telah mengambil sebagian besar ranjang semalam, dan Luhan telah terasingkan sampai ke ujung ranjang, dimana ia sekarang meringkuk menjadi sebuah bola kecil dengan sebuah bantal terselip diantara kakinya. Tapi ada kekurangannya dalam catatan kecil yang seketika ku buat dalam pikiran ku, ia membuat suara. Suara yang mengalir keluar dari bagian hidungnya bagaikan paduan suara antara beruang grizzly dan trailer traktor yang meledak. Aku bergoyang-goyang di seberang tempat tidur yang luas, meringkukan diriku sendiri di sekitar kepalanya dan menatap wajahnya. Bahkan ketika ia membuat suara mengerikan seperti ini, ia tetap mempesona. Dengan hati-hati aku menaruh jari-jariku di hidungnya dan menutupi hidungnya. Dan kemudian menunggu.
Setelah sekitar sepuluh detik, ia menarik napas dan menggelengkan kepalanya, melihat sekelilingnya dengan liar. Ia tenang saat ia melihatku bertengger (serasa unggas gitu yak Minseok) di atas bantal di sebelahnya. Ia tersenyum dengan senyuman mengantuk.
"Hey, hey, apa yang terjadi?" katanya, berguling ke arahku dan membungkuskan lengannya di sekitar pinggangku, mengistirahatkan kepalanya di perutku. Aku memainkan jari-jariku di rambutnya, memuaskan rasa kebebasan kasual kami akhirnya bisa saling menyentuh satu sama lain.
"Hanya bangun tidur. Seseorang membuat suara cukup berisik di tempat tidur ini."
Ia menutup satu matanya dan menatapku. "Aku sulit membayangkan seorang yang flaily seperti dirimu bisa menggerutu tentang semuanya."
"Flaily? Itu bahkan bukan sebuah kata." Aku menghela napas, menikmati tangannya di sekelilingku melebihi yang aku ingin akui.
"Flaily, yang ku maksut yaitu, seseorang yang memukul-mukul. Seseorang, meskipun ia tidur di tempat tidur seluas Alcatraz, tetap saja membutuhkan seluruh matras untuk berguling dan menendang," katanya bersikeras, dengan ketidak-sengajaan-yang-disengaja membuka kaosku sehingga ia bisa mengistirahatkan kepalanya di atas perutku yang telanjang.
"Flailing itu lebih baik dari pada mendengkur, Mr. Snorey Pants," godaku lagi, mencoba menghiraukan cara pangkal janggutnya menggores kulitku dengan cara yang paling menyenangkan.
"Kau flail. Aku pendengkur. Apa yang akan kita lakukan dengan semua kenyataan itu?" Ia tersenyum bahagia, masih setengah tertidur.
"Penutup telinga dan pelindung lutut?"
"Yep, itu seksi. Kita bisa memakainya setiap malam sebelum tidur," katanya, mendesakkan ciuman kecil tepat di atas pusarku. Suara yang terdengar sedih seperti rintihan lolos dari mulutku sebelum aku bisa menariknya kembali, dan telingaku terasa terbakar saat aku mencerna apa yang ia katakan tentang "setiap malam", saat tidur bersama di setiap malam. Ya ampun...
Kami makan sarapan cepat saji di rumah, lalu menuju ke kota. Aku langsung jatuh cinta dengan desa ini: jalan-jalan dengan batu tua, dinding bercat putih yang berkilauan di bawah sinar matahari terik, keindahan yang tercurah dari setiap gerbang yang terbuka. Dari setiap setitik biru langit yang mengintip melalui pantai ke senyum ramah yang ada pada wajah manis setiap orang yang biasa menyebut tempat ini rumah yang mempesona, aku telah terpikat.
Hari ini adalah hari pasar, dan kami berkeliaran keluar dan masuk kios, mengambil buah segar untuk camilan nanti. Aku telah melihat beberapa tempat yang indah di bumi ini, tapi tempat ini adalah surga bagiku. Aku benar-benar tidak pernah mengalami sesuatu seperti ini. Sekarang, aku telah berpergian sendirian selama bertahun-tahun, menemukan kesenanganku sendiri itu cukup menyenangkan. Tapi berpergian dengan Luhan? Itu...keren. Hanya, keren. Ia pendiam, seperti yang aku lakukan saat aku melihat sesuatu yang baru. Ia tidak pernah merasa butuh untuk mengisi keheningan dengan kata-kata omong kosong. Kami telah mengisinya dengan menikmati pemandangan. Ketika kami berbicara, itu hanya untuk menunjukkan sesuatu yang kami pikir tidak seharusnya dilewatkan, seperti anak anjing yang bermain di lapangan, atau sepasang orang tua yang saling mengobrol di atas balkon mereka. Ia adalah pasangan yang hebat.
Kami berjalan kembali ke mobil sewaan, matahari sore membakar kulitku melalui katun tipis yang menutupi bahuku, saat tanganku menggenggam tangannya dengan cara paling sederhana. Dan saat ia membukakan pintu untukku, dan membungkuk untuk menciumku dalam kehangatan matahari Spanyol, bibirnya dan bau pohon zaitun adalah satu-satunya hal yang aku butuhkan di seluruh dunia.
Pada saat aku mengenal Luhan, aku mengambil beberapa gambaran akan dirinya untuk dikenang: melihat dirinya saat pertama kali, hanya mengenakan sehelai selimut dan sebuah seringaian; mengemudi pulang melintasi jembatan dengannya di malam syukuran rumah baru Jonmyeon, ketika kami menyebutnya sebuah gencatan senjata; gambaran menyesatkan dan kabur dari Luhan saat tampak di dalam sebuah afghan; di latar belakangi oleh cahaya obor kecil, basah, dan terlihat nakal dan tampan di dalam jacuzzi; dan gambaran tambahan terbaru pada Luhan terbaikku? Ketika melihatnya di bawahku saat mendekapku erat, kulit hangatnya dan napas manisnya menyelimuti diriku saat kami tersudut di atas tempat tidur penuh dosa yang luas.
Tapi tidak ada, dan maksudku benar-benar tidak ada, yang lebih seksi dari pada melihat Luhan bekerja. Aku bersungguh-sungguh. Aku benar-benar harus mendinginkan diriku sedikit—yang tidak ia perhatikan, karena saat ia bekerja ia benar-benar fokus.
Dan sekarang aku duduk di sini, melihat Luhan bekerja. Kami telah berkendara menyusuri pantai untuk melakukan beberapa tes foto lokasi yang telah diberitahu oleh pemandu lokal, dan Luhan semakin tampan sekarang saat berkonsentrasi sepenuhnya pada tugas yang ada di tangannya. Saat ia menjelaskan padaku, itu bukanlah tentang foto-foto sebenarnya yang telah ia ambil, ia menjelaskan tentang pengujian cahaya dan warna. Jadi saat ia memanjat dengan susah payah dari batu ke batu lainnya, aku hanya duduk diatas selimut yang kami ambil di bagasi dan mengamatinya. Bertengger di tebing yang tinggi di atas permukaan laut, kami bisa memandang jauh lautan. Garis pantai berbatu membentang dan melengkung ke dalam saat jutaan ombak bergulung-gulung datang dari lautan dalam. Dan meskipun pemandangannya indah, apa yang menarik perhatianku adalah cara Luhan menjulurkan keluar ujung lidahnya saat ia mengamati pemandangan. Cara ia menggigit bibir bawahnya saat ia memikirkan sesuatu. Cara wajahnya berubah gembira saat ia melihat sesuatu yang baru melalui lensanya.
Aku senang aku punya sesuatu untuk dilakukan, terpaku pada sesuatu, saat permulaan pertempuran mulai berkobar di dalam tubuhku. Bahkan sejak kami mengakui tekanan yang ranjang raksasa itu berikan pada kami, semua yang bisa kupikirkan adalah bahwa itu sangat mendesak. Seperti halnya desakan O yang lama ditolak, menunggu dengan sabar—dan terkadang tidak sabar—untuk
pelepasannya. Desakan itu sangat kuat, sangat intens, yang membuat setiap bagian diriku bisa merasakannya.
Sekarang yang berpihak dalam perdebatan internal ini adalah otakku, Lower Minseok, dan meskipun sebagian besar ia tetap diam akhir-akhir ini, membiarkan pikiran dan Seluruh indraku yang mengambil kendali, Hati sekarang akan mulai dipertimbangkan.
Perlu dicatat bahwa LM (Lower Minseok ingin sebuah nama yang tren tapi singkat) entah bagaimana merancang Luhan "junior" masuk dalam perdebatan, dan meskipun Luhan "junior" belum memiliki akses langsung pada Lower Minseok, LM merasa ini perlu untuk membicarakannya. Meskipun aku tidak tahu banyak istilah bagian penting pria itu, secara internal aku merasa aneh menyebutnya kejantanan atau kemaluan, jadi aku menyebutnya Luhan "junior"...untuk sekarang.
Sekarang, saraf-saraf dan pikiranku bersatu di dalam kemah menunggu-untuk-seks, mempercayai jika seks penting untuk dasar perkembangan hubungan ini. LM, dan akhirnya Luhan "junior", berada di dalam komunitas berhubungan-seks-dengan-nya-sesegeramungkin, secara terang-terangan. O, sementara ini tidak resmi menjadi bagian dari perdebatan ini, bisa termasuk sebagai pendukung LM. Tapi aku merasakan sebuah denyutan, hanya sebuah denyutan, yang mengambang di atas kedua pihak, bersama dengan Hati, yang sekarang sedang menyanyikan lagu-lagu cinta abadi dan kehangatan, hal-hal yang memabukkan.
Gabungkan semua ini ke dalam sebuah perhitungan dan apa yang kau punya? Satu Minseok yang benar-benar bingung. Seorang Minseok yang terbagi-bagi. Tidak heran aku telah dilantik keluar dari urusan perkencanan. Omong kosong ini sulit. Jadi apakah aku senang memiliki sesuatu untuk dipikirkan tentang hal lain selain tekanan melakukan seks yang tak tentu? Ya. Bisakah aku meluangkan waktu sedikit mencoba lebih pintar menemukan nama yang tepat untuk Luhan "junior"? Mungkin. Luhan "junior" itu layak mendapatkannya. Beberapa nama sempat terlintas di benak ku. Dan seketika Wang terlintas di pikiranku. Terdengar seperti suara dari penutup pintu yang timbul saat kamu menjentikkan mereka...
Aku berkata dengan keras pada diriku sendiri beberapa kali, meregangkan diriku sedikit. "Wang. Wang. Waaaang," gumamku.
"Hey! Nightie Girl! Kemarilah," Luhan memanggil, mengalihkan aku dari wang-ku. Aku meninggalkan pertempuran mental, memilih jalan dengan hati-hati melewati bebatuan terjal ke tempat ia berdiri.
"Aku membutuhkanmu."
"Di sini? Sekarang?" Aku mendengus.
Ia menurunkan kameranya yang hanya cukup untuk menunjukkan satu alisnya. "Aku membutuhkanmu untuk melihat skala. Pergilah ke sana." Ia mengarahkanku ke arah tepi tebing.
"Apa? Tidak-tidak. Tidak ada foto-foto, huh-uh." Aku mundur kembali ke selimutku.
"Ya, ya, foto-foto. Ayolah. Aku membutuhkan sesuatu diforeground. Pergilah ke sana."
"Tapi aku berantakan! Semua tubuhku berantakan tertiup angin dan terbakar matahari, lihat?" aku menarik turun baju berleher v-ku hanya sedikit untuk menunjukan padanya bagaimana aku mulai berubah menjadi pink muda.
"Meskipun aku selalu menghargaimu untuk menunjukan padaku belahan dadamu, simpanlah itu, sister. Foto ini hanya untukku, hanya untuk memberiku beberapa sudut pandang. Dan kau tidak tampak seperti tertiup angin. Yah, hanya sedikit sih." Ia mengetukkan kakinya tak sabar.
"Kau tidak akan membuatku bergaya dengan setangkai mawar di gigiku, kan?" aku mengeluh, melangkahkan kaki ke tepi.
"Apa kau punya setangkai mawar?" tanyanya, terlihat serius kecuali seringai yang memabukkan itu.
"Diamlah. Ambillah fotomu."
"Oke, hanya bersikap alamilah. Tidak bergaya, hanya berdiri saja di sana—memandang lautan akan sangat bagus," perintahnya. Aku mematuhinya. Ia bergerak mengelilingiku, mencoba dari sudut yang berbeda, dan aku bisa mendengarnya bergumam tentang apa itu bekerja. Aku akui, meskipun aku malu difoto, aku hampir bisa merasakan tatapannya, melalui lensa kamera, memperhatikan diriku. Ia berpindah-pindah hanya untuk beberapa saat, tapi itu terasa lama. Perang internal mulai berkobar lagi.
"Apa kau sudah hampir selesai?"
"Kau tidak bisa terburu-buru untuk mendapatkan kesempurnaan, Seokie. Aku butuh pekerjaan ini diselesaikan dengan baik," ia memperingatkan. "Tapi ya. Hampir selesai. Apa kau merasa lapar?"
"Aku ingin clementine di dalam keranjang—bisa ambilkan aku satu? Atau itu akan mengacaukan karyamu?"
"Itu tidak akan mengacaukannya. Aku akan menyebutnya Gadis Tertiup Angin di atas Tebing dengan sebuah Clementine." Ia tertawa dan kembali ke mobil.
"Kau lucu," kataku kecut, menangkap jeruk kecil yang ia lemparkan padaku dan mulai mengupasnya.
"Apa kau akan membaginya?"
"Aku rasa begitu, paling tidak aku melakukannya untuk laki-laki yang membawaku kemari, kan?" aku tertawa, menggigitnya satu ruas dan merasakan jus menetes ke daguku.
"Kau punya sebuah lubang di bibirmu?" tanyanya, menangkap momen itu saat aku memutar mataku padanya.
"Apa kau benar-benar berpikir kalau kau lucu, atau kau hanya menduga kalau kau mungkin lucu?" balasku, memberikan isyarat padanya dengan kulit jeruk. Ia menggelengkan kepalanya, tertawa saat ia mengambil satu ruas jeruk. Tentu saja, ia menggigitnya sepotong dan tidak mengoperkannya padaku. Ia membuka matanya lebar-lebar dengan takjub yang berpura-pura, dan aku mengambil kesempatan untuk menghancurkan sisa ruas jeruk lainnya ke wajahnya. Matanya tetap terbuka lebar, saat jusnya sekarang menetes dengan bebas dari ujung hidungnya dan ke dagunya.
" Luhan yang kacau," bisikku saat ia menatapku. Dengan sekejap, ia menekankan bibirnya di bibirku, mendapatkan sisa jus dari jeruk kami berdua saat aku menjerit di dalam mulutnya.
"Minseok yang manis," bisiknya sambil tersenyum. Ia memutar tubuh kami sehingga laut berada di belakang kami, mengangkat kameranya ke atas, dan mengambil foto: kami yang tertutupi bulir-bulir jeruk.
"Omong-omong, kenapa kau mengatakan 'wang' tadi?" tanyanya. Aku hanya tertawa terbahak-bahak.
.
.
.
.
"Ini dia. Sekarang ini resmi makanan terbaik yang pernah aku makan," aku mengumumkan, menutup mataku, dan mendesah.
"Kau mengatakan itu untuk semua yang kau makan malam ini."
"Aku tahu, tapi aku serius tidak bisa menahan betapa enaknya ini. Pukul aku, cubit aku, lemparkan aku ke laut, ini terlalu enak," aku mengerang lagi. Kami duduk di sebuah meja kecil di pojok restoran kecil di kota, dan aku telah bertekad untuk mencoba semuanya. Luhan, menunjukkan kemampuan berbahasanya, memesankan sesuatu untuk kami. Aku mengatakan padanya untuk melakukannya, bahwa aku tergantung padanya dan aku tahu ia tidak akan mengarahkan aku dengan salah. Dan bocah laki-laki itu melakukannya dengan baik. Kami bersenang-senang.
Kami menikmati tapas, berbagai macam makanan pembuka, atau makanan ringan, dalam bentuk masakan tradisional Spanyol, tentu saja, ditemani oleh gelas berisi wine rumahan. Mangkuk-mangkuk kecil dan piring-piring muncul secara bergantian di meja setiap beberapa menit setelah itu: bakso kecil, irisan ham, jamur yang diasinkan, sosis yang enak, cumi-cumi panggang dengan buah local dan minyak zaitun. Di setiap gigitan, aku sangat yakin bahwa aku telah memakan makanan terenak yang pernah ada, lalu gelombang lain makanan yang lezat akan muncul dan menyakinkanku sekali lagi. Dan udang itu pun tiba. Tak nyata. Digoreng renyah dalam minyak zaitun dengan bawang putih dan peterseli yang banyak, paprika asap dan hanya sedikit panas. Aku pingsan. Aku benar-benar pingsan.
Luhan? Ia sangat menyukainya. Ia memakannya sampai habis. Reaksiku sama banyaknya seperti makanannya, kurasa. Ia memakannya sampai habis.
"Sejujurnya, aku sudah tidak bisa memakannya lagi," protesku, menyeret sepotong roti kering melalui minyak zaitun. Ia tersenyum saat ia memperhatikanku yang tanpa malu-malu menikmati potongan roti lainnya sebelum akhirnya mendorongnya kembali dari meja dengan rintihan.
"Makanan terbaik yang pernah ada?" tanyanya.
"Itu benar-benar sangat mungkin. Ini gila." Aku menghela napas, menepuk perutku yang penuh. Melupakan segala keanggunan, aku menghabiskan makanan itu seperti ada orang lain yang akan mengambilnya dariku. Seorang pelayan muncul dengan dua gelas kecil yang berisi wine lokal. Manis dan tajam, itu minumam yang sempurna setelah makan malam. Kami menyesapnya perlahan, hembusan angin masuk melalui jendela dengan lembut membawa aroma laut.
"Ini adalah kencan yang hebat, Luhan. Sungguh. Tidak akan pernah ada yang lebih sempurna dari ini," kataku, menyesap lagi wine-ku.
"Apa ini kencan?" tanyanya.
Wajahku membeku. "Maksudku, tidak. Aku kira tidak. Aku hanya—"
"Tenanglah, Minseok. Aku tahu apa maksudmu. Hanya saja lucu mempertimbangkan ini adalah sebuah kencan: dua orang berpergian bersama, tapi baru sekarang berkencan." Ia tersenyum dan aku menjadi tenang.
"Hmm, sejauh ini kita belum benar-benar mengikuti aturan tradisional, ya kan? Ini mungkin akan menjadi kencan pertama kita, jika kita menginkannya secara teknis."
"Yah, secara teknis, apa definisi dari kencan?" tanyanya.
"Makan malam, aku kira. Meskipun kita pernah makan malam sebelumnya." Aku memulai.
"Dan sebuah film—kita pernah menonton sebuah film," ia mengingatkanku.
Aku gemetar ketakutan. "Ya, dan itu jelas sebuah cara untuk membuatku berbaring rapat-rapat denganmu. Film horor, sangat jelas," aku mendengus.
"Itu berhasil, bukan? Sebenarnya, aku yakin aku tidur denganmu malam itu, Nightie Girl."
"Ya, aku murahan dan gampangan, aku akui itu. Aku kira kita benar-benar telah menjalani semua ini dengan cara terbalik." Aku tersenyum lebar, aku menggeserkan kakiku di lantai bawah meja dan menendangnya ringan.
"Aku senang ini berjalan terbalik." Ia menyeringai.
Aku menyipitkan mataku. "Tidak menyinggung satu hal itu."
"Tapi serius. Seperti yang telah aku katakan, aku tak berpengalaman dengan hal-hal ini," katanya. "Bagaimana cara kerjanya? Bagaimana jika kita melakukan ini...tidak terbalik? Apa yang akan terjadi selanjutnya?"
"Yah, aku kira akan ada kencan yang lain lagi dan lainnya setelah itu," aku mengakuinya, tersenyum malu-malu.
"Dan beberapa tahapan lainnya. Aku berharap mencoba melakukan beberapa hal lainnya, benar?" ia bertanya dengan serius.
Aku menyemburkan wine-ku. "Beberapa tahapan? Apa kau yakin? Seperti, saling merasakan, di atas baju, di bawah baju, hal-hal seperti itu?" aku tertawa terbahak-bahak.
"Ya, tepat. Apa aku boleh melakukan cara seperti itu? Sebagai seorang pria terhormat, maksudku. Jika ini benar kencan pertama, kita tidak akan pulang bersama, ya kan? Sekarang kita berkencan, bukan hanya untuk bersenang-senang saja (terutama untuk seks). Ingatlah, jelas kelihatan aku memberikan woo (rayuan) dengan bagus," katanya, matanya berbinar.
"Ya, ya, kau melakukannya. Kita tidak akan pulang bersama, itu benar. Tapi sejujurnya, aku tidak ingin kau tidur di kamar tidur di lantai bawah. Apakah itu aneh?" aku bisa merasakan telingaku terbakar saat aku malu.
"Itu tidak aneh," jawabnya pelan. Aku melepaskan sandalku dan mendesakkan kakiku pada kakinya, menggosoknya ringan di sepanjang kakinya.
"Berpelukan itu bagus, ya kan?"
"Berpelukan itu lebih dari bagus," ia setuju, balas menyenggolku balik dengan kakinya.
"Sejauh itu menyangkut dengan tahapan-mu, aku pikir kau pasti bisa merencanakan sedikit aksi di bawah baju, jika kamu sangat menginginkannya," jawabku.
Secara internal, Otak dan Tulang punggungku memberikan sedikit sorak sorai, sedangkan LM dan Wang menendang beberapa kursi mendapati obrolan ini makin mendekati tahap lebih mendekati harapan mereka akan seks. Tatas (payudara) hanya merasa senang karena ada seseorang yang memperhatikannya sekali, bukan hanya menjadi persinggahan dalam perjalanan ke arah selatan. Hati? Yah, ia masih tetap melayang-layang, menyanyikan lagunya.
"Jadi, kita akan menjalani aturan yang sedikit tradisional, tapi tidak sepenuhnya tradisional. Menjalaninya dengan perlahan?" tanyanya, matanya menyala, batu safir mulai melakukan sedikit tarian hipnotis.
"Perlahan, tapi tidak terlalu pelan. Kita adalah orang-orang dewasa, demi Tuhan."
"Untuk kegiatan di bawah baju," katanya, mengangkat gelasnya untuk bersulang.
"Aku akan bersulang untuk itu." Aku tertawa saat gelas kami berdenting.
.
.
.
Lima-puluh-tujuh menit kemudian kami berada di tempat tidur, tangannya yang hangat dan dengan yakin membuka setiap kancingku, memperlihatkan kulitku. Ia bergerak perlahan, dengan sengaja, dan ia membiarkan kemejaku jatuh terbuka saat aku berbaring di bawahnya. Ia menatap ku, ujung-ujung jarinya dengan ringan menggambar garis dari tulang selangkaku ke pusarku, secara benar dan tepat. Kami berdua mendesah dengan bersama-sama.
Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi mengetahui kami telah mengatur beberapa batasan untuk malam hari, sekonyol yang terdengar, membuatnya jauh lebih sensual, sesuatu untuk benar-benar dinikmati. Bibirnya melayang di sekitar leherku, di bawah telingaku, di bawah daguku, di ceruk antara leher dan bahuku, dan beranjak turun ke arah bawah, ke gundukan payudaraku. Jari-jarinya menyapu keluar, dengan ringan, dengan berhati-hati, berbayang di seluruh kulitku saat aku menghirup napas dan kemudian menahan napasku.
Saat jari-jarinya dengan lembut menyerempet putingku, setiap ujung saraf di seluruh tubuhku berbalik dan mulai berdenyut ke arah itu. Aku menghela napas, perasaan berbulan-bulan yang mendesak mulai mengalir secara bersamaan keluar dariku dan semakin mengalir bahkan lebih banyak lagi. Dengan ciuman manis dan sentuhan lembut, ia mulai proses perkenalan dengan tubuhku, dan ini benar-benar apa yang aku butuhkan. Bibir, mulut, lidah—semuanya ada pada tubuhku, mencicipi, membelai, merasakan, dan penuh cinta.
Saat bibirnya mengatup di sekitar payudaraku, rambutnya menggelitik daguku dengan cara manis, dan aku memeluknya dengan lenganku di tubuhnya, memeluknya erat. Merasakan kulitnya di tubuhku adalah kesempurnaan, dan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa...dipuja.
Saat kami menjelajah malam itu, apa yang dimulai sebagai kelucuan yang manis dan bagian-bagian dari olok-olok klasik kami berubah menjadi sesuatu yang lebih. Yang dengan tolol disebut sebagai "aksi di bawah baju" menjadi bagian yang romantis, dan sesuatu yang bisa saja hanya secara fisik menjadi sesuatu yang emosional dan murni. Dan saat ia memelukku untuk makin merapat pada dirinya, membawaku ke pelukannya dengan ciuman yang lembut dan cekikikan yang terengah-engah, kami tertidur pulas.
Flaily (Si Tukang Tidur Yang Banyak Tingkah) dan Mr. Snorey Pants (Tuan Pendengkur).
.
.
.
.
Dua hari berikutnya, aku hidup dalam kemewahan. Sesungguhnya, tidak ada kata lain dalam bahasa Inggris untuk mengungkapkan pengalaman yang aku alami. Sekarang untuk beberapa diantaranya, definisi dari liburan mewah mungkin adalah belanja tanpa batas, spa yang memanjakan, makanan mahal, pertunjukan besar. Tapi bagiku, kemewahan berarti menghabiskan waktu dua jam dengan tidur siang di teras dapur. Kemewahan berarti memakan buah ara yang berlumuran madu dan dihiasi dengan parutan keju lokal sementara Luhan menuangkanku segelas Cava, semuanya itu terjadi sebelum pukul sepuluh pagi.
Kemewahan berarti waktu sendirian untuk berjalan-jalan ke toko kecil, toko keluarga Nerja, mengaduk-ngaduk keranjang obral yang berisi renda cantik. Kemewahan berarti menjelajahi gua-gua terdekat dengan Luhan selama ia melakukan pekerjaan fotografinya, menghanyutkan kami di dalam warna-warni dunia. Kemewahan berarti memandangi Luhan saat ia berdiri di pinggir bebatuan sementara ia mencari pijakan keluar lainnya, bertelanjang dada. Apa aku menyebutkan bertelanjang dada?
Dan kemewahan hampir pasti berarti bahwa aku menghabiskan waktu setiap malam di atas tempat tidur bersama dengan Luhan. Sekarang itu adalah kemewahan yang tak ternilai, yang tidak ditawarkan di setiap tur wisata. Kami melewati fase lainnya atau dua sekaligus, saling menggoda dengan pertemuan sedikit di sekitar celana. Apa kami menjadi konyol, menunggu sampai malam terakhir di Spanyol untuk mewujudkan "hal" ini? Mungkin, tapi siapa sih yang peduli? Ia menghabiskan waktu hampir satu jam untuk mencium setiap inci kakiku suatu malam, dan aku menghabiskan waktu dengan jangka waktu yang sama untuk membicarakan tentang pusarnya. Kami hanya...menikmatinya.
Tapi dengan semua kenikmatan yang datang dengan jumlah tertentu ini, yah, bagaimana kami harus menyebutnya, luapan kegugupan? Saat di San Fransisco, kami menghabiskan waktu berbulan-bulan terlibat dalam foreplay verbal (foreplay dengan kata-kata). Tapi sekarang, di sini? Foreplay yang sebenarnya? Ini tidak bisa dipercaya. Tubuhku sangat selaras dengan dirinya, aku tahu saat ia masuk ke dalam ruangan, dan aku tahu saat ia akan menyentuhku, sedetik sebelum ia melakukannya. Udara di sekitar kami berbau
seksual, getaran berdesing bolak-balik dengan energi yang cukup untuk menerangi seluruh kota. Daya tarik seksual? Punya. Frustasi seksual?
Sedang meningkat dan mendekati ambang batas. Oh, sial, aku akan mengatakannya. Aku B-E-R-G-A-I-R-A-H. Yang mana mengapa setelah kami menghabiskan sore di gua-gua, kami menemukan diri kami sendiri di dapur, berciuman dengan gila-gilaan. Kami berdua merasa sedikit lelah, aku telah lama ingin untuk menguji berbagai Viking yang indah dan hari ini kami melakukannya. Aku menyiapkan sayur mayur untuk dipanggang dan mengaduk nasi saffron saat Luhan datang setelah ia mandi. Hampir mustahil bagiku untuk menjelaskan penampilannya: mengenakan T-shirt putih, jeans pudar, bertelanjang kaki, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia menyeringai, dan aku mulai melihatnya menjadi dua. Aku benar-benar tidak bisa melihat dengan kabut gairah yang menyelimuti mataku dan kebutuhan yang tiba-tiba terasa menggelora di dalam diriku. Aku membutuhkan tanganku untuk berada di tubuhnya, dan aku membutuhkannya terjadi secepatnya.
"Mmm, ada sesuatu yang berbau enak. Ingin aku mulai menyiapkan pemanggangnya?" tanyanya, berjalan ke tempat dimana aku memotong sayur mayur di meja.
Ia berdiri di belakangku, jarak tubuhnya hanya seinchi dengan tubuhku, dan aku merasakan ada sesuatu yang tersentak. Dan itu bukan hanya kacang polong saja yang aku pegang...
Aku berbalik, dan perutku benar-benar terasa berdesir karena tatapannya. Desiran yang tak normal. Aku menekan tanganku pada dadanya, merasakan kekuatan di sana dan kehangatan kulitnya melalui bajunya. Rasa gatal yang butuh digaruk, digaruk, dan kemudian digaruk lagi. Aku meluncurkan tanganku ke sekeliling lehernya, dan menariknya ke diriku. Bibirku melumat bibirnya. Kebutuhanku yang kuat mengalir ke dalam mulutnya dan turun ke ujung-ujung jari kakiku. Jari-jari kaki yang melepaskan sandal masing-masing dan tanpa malu-malu mulai menggosokkan kakiku ke puncak kakinya. Tubuhku butuh merasakan kulit, kulit apapun, dan membutuhkannya sekarang.
Ia bereaksi, menyelaraskan ciuman kasarku dengan ciumannya, mulutnya menutup mulutku saat aku mengerang karena merasakan tangannya di bagian bawah punggungku. Aku dengan cepat memutar dirinya dan mendesaknya ke meja.
"Lepaskan! Aku butuh ini untuk dilepaskan, sekarang," gumamku diantara ciuman, menyentakkan T-shirtnya. Dengan suara gesekan dari kainnya, kaosnya terlempar ke seberang ruangan saat aku menggerakkan tubuhku ke tubuhnya, mendesah saat aku merasakan sentuhannya. Aku bergantian mencoba untuk memeluknya dan menaikinya, gairah sekarang berlari dengan bebas di dalam tubuhku seperti sebuah kereta barang. Aku meraih diantara celah yang berada di antara tubuh kami dan menyentuh gundukan di celana jeansnya dengan telapak tanganku.
Matanya menangkap mataku, dan saling bertemu sebentar. Aku berada di jalur yang tepat. Merasakan miliknya mengeras di bawah kedua tangan dan ujung jari-jariku, tiba-tiba semua yang aku inginkan, semua yang aku butuhkan, semua yang harus aku lakukan untuk berfungsi dalam kehidupan, adalah dirinya. Di dalam mulutku.
"Hey, Nightie Girl, apa yang kau—Oh Tuhan—" Bergerak secara naluriah, aku menyentak terbuka celana jeansnya, berlutut di depannya, dan membawa miliknya keluar. Denyut nadiku berpacu cepat, dan aku pikir darahku benar-benar mendidih di dalam diriku saat aku melihat miliknya. Aku menarik napasku dengan mendesis saat aku memandang miliknya, jeans pudar turun yang hanya cukup untuk membingkai pemandangan yang berkilau ini.
Luhan melakukan komando. Tuhan memberkati Amerika. Aku ingin melakukannya dengan halus, aku ingin menjadi lembut dan manis, tapi aku hanya teramat sangat membutuhkannya. Aku melirik ke matanya, matanya berkabut tapi sangat gelisah, saat tangannya turun untuk menyampirkan rambutku ke belakang telingaku. Aku menggenggam tangannya dengan tanganku dan menempatkan tangannya kembali ke atas meja.
"Kau butuh untuk berpegangan saat ini," janjiku. Ia mengerang dengan erangan yang nikmat dan melakukan seperti yang telah diperintahkan, menyandarkan punggungnya sedikit. Ia mendorong pinggulnya ke depan, tapi tetap menjaga tatapannya padaku. Selalu menatapku.
Bibirku bergetar saat aku menyelinapkan miliknya yang panjang ke dalam mulutku. Kepalanya mendongak ke belakang saat lidahku membelai miliknya, membawa miliknya semakin masuk ke dalam. Kenikmatan murni ini, kenikmatan mutlak dari merasakan reaksinya pada sentuhanku cukup membuat kepalaku terbelah dua. Aku menariknya keluar masuk, membiarkan gigiku hanya nyaris menggores kulit sensitifnya dan aku melihatnya memegang pinggiran meja lebih keras. Aku menggerakan kuku-kuku tanganku di bagian dalam kakinya, menurunkan celana jeansnya semakin ke bawah untuk memberikan akses lebih pada kulitnya yang hangat. Memberikan ciuman pada ujung miliknya yang panjang, aku membiarkan tanganku menggenggamnya, mengusapnya dan memijatnya. Ia sempurna, semuanya halus dan kencang saat aku melakukannya pada miliknya lagi, dan lagi, dan lagi. Aku merasa gila, mabuk karena aroma dirinya dan rasa miliknya di dalam diriku.
Ia mendesahkan namaku berulang-ulang, kata-katanya melayang turun seperti coklat seksi yang mencair, mengalir ke dalam otakku dan mendedikasikan setiap rasa yang aku miliki untuknya, hanya untuknya. Setiap aku bergerak, membuatnya gila, membuatku gila, menjilat, menghisap, mencicipi, menggoda, menikmati kegilaan atas tindakan lezat ini. Memilikinya di sini, dengan cara ini, adalah definisi kemewahan yang sesungguhnya. Ia semakin menegang, dan akhirnya tangannya kembali padaku, mencoba menarikku keluar.
"Minseok, oh, Seokie, aku…kau… pertama…kau…oh, Tuhan...kau," ia tergagap. Untungnya, aku bisa mengartikannya. Ia ingin aku untuk mendapatkan sesuatu juga. Apa yang ia tidak sadari adalah bahwa semua penyerahan dirinya yang ia berikan padaku adalah semua yang aku butuhkan. Aku melepaskannya hanya untuk sesaat, untuk meletakkan tangannya sekali lagi di atas meja.
"Tidak, Lu. Kau," jawabku, mengambil miliknya masuk dalam-dalam sekali lagi, merasakan miliknya menyentuh bagian belakang tenggorokanku saat tanganku melayani sisa miliknya yang tak cukup dikulum oleh mulutku. Pinggulnya bergerak sekali, sekali lagi, diiringi dengan gemetaran dan erangan yang paling nikmat yang pernah aku dengar, Luhan orgasme. Kepalanya tersentak ke belakang, ia menutup matanya dan membukanya dengan perlahan. Itu menakjubkan.
Beberapa saat kemudian, sembari bergelung di atas lantai dapur dengan aku berada di dalam pelukannya, ia mendesah dengan puas. "Ya Tuhan, Minseok. Itu...benar-benar…tak terduga."
Aku tertawa, membungkukan badanku untuk mencium keningnya. "Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Kau hanya tampak terlalu tampan, dan aku...yah...aku terlena."
"Aku akan mengatakannya. Meskipun aku berpikir ini tidak adil karena aku agak sedikit telanjang di sini, dan kau masih berpakaian lengkap. Tapi kita bisa memperbaiki itu dengan cukup cepat." Ia menarik tali pada celanaku.
Aku menghentikannya. "Pertama-tama, kau bukan agak sedikit telanjang, kau hanya tergantung dengan bebas di dapur, dan aku cukup menyukainya. Dan ini bukanlah tentangku, meskipun aku akui aku menikmatinya dengan sangat."
"Gadis konyol, sekarang aku sangat ingin menikmati dirimu," ia bersikeras, menjalankan jari-jarinya sepanjang tepian celanaku, menari-nari di atas kulit di sekitar sana.
Saraf-saraf ditubuku mulai menari flamenco, menuntut waktu lebih—waktu lebih! Mereka belum siap! LM menendang sesuatu sebagai peringatan. "Tidak, tidak, tidak malam ini. Aku ingin membuatkanmu makan malam yang enak. Biarkan aku mengurusmu sedikit saja. Tak bisakah aku melakukan itu?" Aku memindahkan tangan-tangan setannya dan mencium kedua tangannya.
Ia tersenyum padaku, rambutnya berantakan, dan sebuah senyum konyol masih menghiasi wajahnya. Ia menghela napas dalam kekalahan dan mengangguk. Aku mulai bangkit dari lantai saat ia menangkap pinggangku, menarikku kembali ke lantai.
"Sebuah kata, please, sebelum kau meninggalkanku—apa yang telah kau katakan? Tergantung dengan bebas di atas lantai dapur?"
"Ya, sayang?" tanyaku, mendapatkan respon satu alis yang naik.
"Jadi, dengan menggunakan titik acuan berdasarkan fase yang telah kita terapkan pada minggu ini, aku akan mengatakan kita hanya melewatkan beberapa kencan ke depan, benar?"
"Aku harus mengatakannya begitu," aku tertawa, menepuk kepalanya dengan ringan.
"Lalu aku pikir itu hanya adil jika aku memperingatkanmu... Besok malam? Malam terakhirmu di Spanyol?" katanya, matanya menyala-nyala memantulkan cahaya senja.
"Ya?" bisikku.
"Aku akan mencoba untuk menerobos sebuah rumah."
Aku tersenyum. " Luhan yang konyol, itu bukan pencurian jika aku mempersilahkanmu masuk," aku mendengkur, menciumnya dengan kuat di bibir.
.
.
.
.
Kemudian malam itu, saat aku terbungkus kuat dalam pelukan Luhan, LM mulai bersiap-siap. Otak dan Tulang punggungku mulai berteriak...O...O...O. Wang? Yah, kami tahu dimana ia berada, mendesak lebih dekat dengan Tulang punggungku yang menggelenyar.
Hatiku tetap melayang-layang di atas awan, tapi berputar-putar semakin dekat ke rumah. Bagaimanapun juga, sebuah entitas tambahan mulai memaksakan dirinya sendiri sekali lagi, mencoba mempengaruhi yang lainnya. Entitas tambahan itu mewarnai mimpi-mimpiku dengan bisikannya yang pelan.
Hello, Saraf-saraf ku yang sensitif.
Tidurku pasti yang paling...flaily (banyak tingkah).
.
.
.
.
TBC
ini udah mau tamat ya,,, jadi yg masih betah jd sider tolong pada nongol ya biar aku semangat buat namatin ni ff n gak ada utang ff ini lagi.
aku juga lagi sedih cs Kibum ku keluar dari SM. huks... huks.. huks,,,
mendadak curcol #pundungdipojokanBarengMbum
