"Apa kau selalu tahu menjadi fotografer akan menjadi pekerjaan tetapmu?"

"Apa? Darimana pertanyaan itu?" Luhan tertawa, duduk kembali ke kursi dan menatapku melalui tepi cangkir kopinya. Kami sedang menikmati sarapan santai pada hari terakhirku di Spanyol. Kopi hitam, kue lemon kecil, potongan beri segar dan krim, dan sedikit matahari di pinggir pantai. Memakai kaos Luhan dan sebuah senyuman, aku berada di surga. Rasa gugup sepertinya terasa sangat jauh pagi ini.

"Aku bersungguh-sungguh," aku mendesak. "Apakah kau selalu menginginkan ini? Kau terlihat, well, kau sangat intens saat sedang bekerja. Kau terlihat sangat menyukainya."

"Aku menyukainya. Maksudku, itu adalah pekerjaan jadi tetap ada saat yang melelahkan, tapi ya, aku menyukainya. Walaupun, itu bukan hal yang selalu aku rencanakan. Kenyataannya, ada perbedaan rencana pada umumnya," sambungnya, tatapan gelap terlintas di wajahnya.

"Apa maksudnya itu?"

"Untuk sekian lama aku berencana mengikuti bisnis ayahku." Ia mendesah, senyum penyesalan terlepas darinya. Tanpa sadar tanganku manggapai tangannya. Ia meremasnya, lalu meneguk kopinya.

"Kau tahu Lay bekerja pada Ayahku?" tanyanya. "Ayah mempekerjakannya tepat setelah ia lulus sekolah, membimbingnya, mengajarinya apapun. Saat Lay ingin memiliki perusahaan sendiri, kau akan berpikir kalau ayah terganggu, tapi ternyata ia malah membanggakannya."

"Dia yang terbaik." Aku menyeringai.

"Jangan kira aku tak tahu kalian terpikat olehnya. Aku menyadarinya." Ia memberiku tatapan keras.

"Aku harap begitu. Kami memang tak bisa menutupi kekaguman kami."

"Lu Financial Service semakin besar, sangat besar, dan Ayah ingin aku meneruskannya segera setelah aku lulus kuliah. Aku sejujurnya tidak pernah berpikir akan meninggalkan Philadelphia. Itu adalah kehidupan yang menyenangkan: bekerja bersama ayahku, klub country, rumah besar di pinggir kota. Siapa yang tidak menginginkannya?"

"Well..." gumamku. Itu adalah hidup yang ideal, tentu saja, tapi aku tak bisa membayangkan Luhan seperti itu.

"Aku bekerja dalam koran sekolah, memotret. Aku dengan mudah mendapatkan A di kelas. Kau tahu, bagus untuk transkripku? Tapi meskipun aku mendapatkan tugas seperti meliput pelatihan hockey wanita, aku sangat menyukainya. Seperti, benar-benar menyukainya. Aku menganggapnya menjadi hobi yang menyenangkan. Tak pernah terpikir untuk menjadikannya sebuah karir. Meskipun orang tuaku mendukungku, dan ibuku bahkan memberiku sebuah kamera untuk Natal tahun itu—tahun dimana...well..." ia berhenti bicara, membersihkan tenggorokannya sedikit.

"Anyway, setelah apa yang terjadi dengan ayah dan ibuku, Lay datang ke Philadelphia untuk, umm, untuk pemakaman. Ia tinggal sebentar, menyiapkan semuanya, kau tahu. Dia adalah eksekutor wasiat orang tuaku. Karena ia tinggal di West Coast, well, menetap di Philadelphia bukanlah ide yang baik. Jadi, singkat cerita, Stanford menerimaku, aku mulai belajar photo jurnalisme, aku beruntung magang di beberapa tempat, lalu tempat–yang tepat-waktu-yang tepat, dan bam! Itulah bagaimana aku berkecimpung di bidang ini." menyelesaikannya, mencelupkan kue dan menggigitnya.

"Dan kau menyukainya." Aku tersenyum.

"Dan aku menyukainya." Ia menyetujui.

"Lalu apa yang terjadi dengan perusahaan ayahmu? Lu Financial?" tanyaku, menyendok sepotong berry.

"Lay memegang beberapa klien untuk sementara, lalu menutup pasar sepenuhnya. Asetnya dialihkan padaku, per wasiat, dan ia mengaturnya untukku."

"Aset?"

"Ya. Tidakkah aku memberitahumu, Seokie? Aku kaya raya." Ia mengernyit, menatap ke lautan.

"Aku tahu ada alasan kenapa aku berteman denganmu." Aku menghabiskan kopinya.

"Sungguh. Kaya raya."

"Baiklah, sekarang kau menyebalkan." Kataku, mencoba mengubah ketegangan yang ada di meja.

"Well, orang-orang berdampak aneh pada uang. Kau tak pernah tahu." Katanya.

"Saat kita pulang kau akan membeli gedung apartemen kita dan memasang hot tub, itu saja," candaku, membuahkan senyum kecilnya.

Kami duduk dan saling menatap, tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Ia sudah seringkali sendirian. Tidak heran ia selalu terlihat sedikit tersesat bagiku. Keluar dari kotak, tidak mengizinkan dirinya sendiri untuk bergantung pada orang lain, tak ada rasa kepemilikan—semudah itukah? Wallbanger mempunyai harem karena ia tak sanggup kehilangan orang lain? Hubungi Dr. Freud... Freudian atau bukan, itu masuk akal. Ia tertarik padaku, sudah tertarik padaku sejak awal. Tapi apa bedanya sekarang? Jelas ia sudah tertarik pada wanita lain juga. Wow, tak ada tekanan sama sekali...menganggukan kepalaku, aku mencoba mengganti topik.

"Aku tak percaya besok akan pulang. Aku merasa baru saja datang kesini." Aku menyandar ke sikuku. Ia tersenyum, sepertinya melihat cara tak-terlalu-halusku mengganti topik. Tapi ia terlihat bersyukur.

"Tinggalah. Tinggalah bersamaku. Kita bisa meluangkan waktu lebih lama disini, dan lalu siapa tahu? Kemana lagi kau ingin pergi?"

"Pfft. Kau akan ingat kalau aku akan pergi sebelummu karena itu adalah satu-satunya penerbangan yang bisa kudapat. Lagipula, aku harus kembali bekerja, mengatur, dan tepat waktu di hari Senin. Kau tahu berapa banyak tugas yang sudah Jonmyeon berikan padaku?"

"Dia akan mengerti. Dia itu penggemar hal-hal romantis. Ayolah. Tinggalah bersamaku. Aku akan menyembunyikanmu dengan karung gandum dalam perjalanan ke rumah." Matanya berbinar menatapku melewati cangkir kopinya.

"Karung gandum, kakiku. Dan begitukah? Romantis? Tidakkah kau seharusnya memelukku di pantai? Dan merobek korsetku?" kutaruh kaki telanjangku di pangkuannya, ia mengambil keuntungan, memijat dengan kedua tangannya.

"Beruntungnya kau, aku adalah perobek korset dulu. Mungkin juga aku bisa memakai kostum bajak laut, jika itu yang kau sukai," jawabnya, sang onix mulai berasap.

"Itu sudah sebuah dongeng romantis, kan? Kalau seseorang menceritakan padaku cerita ini, aku ragu untuk mempercayainya," aku merenung, mengerang saat menyelesaikan gigitan terakhirku.

"Kenapa tidak? Itu tidak seaneh bagaimana cara kita bertemu, kan?"

"Berapa banyak wanita yang kau tahu yang akan rela pergi ke Eropa dengan seorang pria yang selalu membentur-benturkan dinding tepat di temboknya selama berminggu-minggu?

"Betul, tapi kau juga bisa menyebutku sebagai seorang pria yang selalu memberikan musik indah melalui tembok, dan pria yang memberikanmu, dan kukutip, 'bakso yang paling enak'?"

"Aku kira kau mulai mendapatkanku dengan Glen Miller. Itu mempengaruhiku." Aku melesak di kursiku saat tangannya melakukan hal menyenangkan pada bawah telapak kakiku yang berkaus kaki. Kaos kaki yang juga sudah aku sesuaikan dari sisi kamarnya.

"Aku mendapatkanmu, hah?" ia menyeringai, mendekat.

"Oh, diamlah, kau." Aku dorong wajahnya, tersenyum lebar saat aku merenungkan apa yang ia maksud. Apakah dia mendapatkanku? Yah. Dia benar-benar mendapatkanku. Dan akan memilikiku, nanti setelah malam ini.

Memikirkan itu, kegugupan menyerang perutku, dan aku merasa senyumku sedikit ragu. Gugup sudah mengambil posisi terbesar, dan tak peduli kemana Otak pergi, Gugup akhirnya memasuki setiap pemikiran, setiap ide yang kupunya kemana malam ini akan mengarah. Aku siap, Tuhan tahu aku siap, tapi aku sangat gugup. O akan kembali kan? Aku tahu ia akan kembali. Apa aku sudah bilang kalau aku gugup?

"Jadi, apa kau sudah selesai dengan pekerjaanmu? Apakah ada banyak kerjaan besok?" Tanyaku, mengubah topik lagi. Setiap kali membicarakan pekerjaannya, mata Luhan selalu menyala. Ia menjelaskan pengambilannya yang ia butuhkan dari terowongan air gaya Roma di kota.

"Aku harap kita punya waktu untuk scuba diving. Aku benci kalau kita dikejar waktu." Aku merengut.

"Lagi, itu akan terpecahkan kalau kau tetap tinggal di sini denganku." Ia merengut juga, menyamakan mimik alis mataku.

"Lagi, salah satu dari kita punya pekerjaan rutin dari pukul 9 sampai 5. Aku harus pulang ke rumah!"

"Rumah, benar. Kau tahu akan ada regu penembak yang dihadapi saat kita pulang. Setiap orang ingin tahu apa yang terjadi antara kita disini," katanya dengan serius.

"Aku tahu. Kita akan mengatasinya." Aku meringis membayangkan pertanyaan yang akan kuterima dari para gadis, untuk tak mengatakan apapun pada Jonmyeon. Aku penasaran kalau sebuah blowjob di dapur adalah apa yang ia pikirkan saat ia mengatakan jagalah dia di Spanyol.

"Kita?"

"Apa?Kita apa?" tanyaku.

"Aku bisa kita denganmu." Ia tersenyum.

"Bukannya kita sudah ber-kita?"

"Yeah, kita telah ber-kita di liburan ini. ini agak berbeda dengan menjadi kita saat pulang, di dunia nyata. Aku pergi setiap waktu, dan membuatnya menjadi cukup sulit unit kita," katanya, alisnya menyatu.

Itu menguras tenagaku, semuanya, untuk tidak membuat gurauan tentang unit kita.

" Luhan, tenang. Aku tahu kau berpergian. Aku cukup sadar. Tetap bawakan aku oleh-oleh yang cantik dari tempat-tempat yang jauh, dan gadis ini tidak masalah dengan kita-mu, oke?" Aku menepuk-nepuk tangannya.

"Oleh-oleh aku bisa lakukan. Aku jamin."

"Ngomong-ngomong, ke mana selanjutnya kau pergi?"

"Aku akan pulang selama beberapa minggu, lalu aku akan pergi ke selatan sebentar."

"Selatan? Seperti LA?"

"Bukan, sedikit lebih ke selatan."

"San Diego?"

"Ke selatan lagi."

"Pendidikan Stanford kan? Kemana kau akan pergi?"

"Janji kau tidak akan marah?"

"Katakanlah, Luhan."

"Peru. Andes. Lebih spesifik lagi, Machu Picchu."

"Apa? Oh, bung, cukup. aku resmi membencimu. Aku akan ke San Francisco, merencanakan pohon natal orang-orang kaya, dan kau harus pergi kesana?"

"Aku akan mengirimkanmu kartu pos?" Ia terlihat seperti anak-anak yang mencoba keluar dari masalah. "Selain itu, aku tidak tahu apa yang kau ributkan. Kau menyukai pekerjaanmu Seokie. Jangan katakan padaku kau tidak menyukainya."

"Yeah, aku menyukai pekerjaanku, tapi sekarang aku harap aku pergi ke selatan." Aku mendesah, melempar keluar kakiku.

"Well, kalau kau mau ke selatan, aku bisa memikirkan sesuatu—" Kuletakkan tanganku di depan mulutnya.

"Tidak, bung. Aku tidak akan me-Machu Pichu-mu sekarang. Huh-uh," aku tetap diam, tidak gemetar sedikitpun saat ia mulai menempelkan ciuman di telapak tanganku. Tidak sedikitpun...

"Minseok," ia berbisik di tanganku.

"Ya?"

"Suatu hari nanti," mulainya, memindahkan tanganku dan meninggalkan ciuman kecil di bagian dalam lenganku. " Suatu hari nanti..." katanya di sela ciumannya. "Aku janji..." cium dan cium lagi. "Akan membawamu..." katanya lagi. "Dan rayuanku..." ia mencium dan mencium ku lagi. "ke Peru," ia menyelesaikan, sekarang berlutut di depanku dan menggeser mulutnya ke bahuku, menyingkirkan kain ke samping untuk berlama-lama di sepanjang tulang selangkaku, bibirnya membuatku panas dan bergetar.

"Kau mau merayuku di Peru?" tanyaku, suaraku tinggi dan bodoh dan tidak membodohinya sedikitpun. Ia tahu dengan jelas seberapa besar ia mempengaruhiku.

"Benar." Jarinya terkait rambutku dan membawa mulutku padanya. Aku mencoba setiap kali untuk keluar dengan ritme yang benar, tapi aku menyerah dan menciumnya juga dengan semua yang kupunya, dan juga, aku membiarkannya melakukan di teras, dekat lautan.

Seminggu penuh, kami sudah melihat tanda-tanda festival akan diadakan di sekitar kota. Dimulai malam ini, seperti merayakan keberangkatanku, dan kami pergi makan malam, ke tempat yang sangat mewah lebih dari tempat kami makan selama seminggu. Aku menyadari aku dan Luhan punya banyak kesamaan pada selera kami. Aku selalu berpakaian sempurna setiap waktu, tapi aku lebih senang tempat yang lebih kecil dan sederhana, seperti ia juga. Jadi malam ini, berpakaian dan pergi ke tempat yang lebih mewah, lalu pergi ke festival, terasa special juga. Aku benar-benar beharap untuk malam ini, lebih dari satu hal.

Mereka bilang ketika seorang tentara kehilangan kakinya saat perang, kadang-kadang, larut malam, ia masih bisa merasakan denyutan kaki mereka—luka khayalan, kata mereka. Aku kehilanagn O ku di peperangan, perang Cory Weinstein— si mesin pengacau—dan aku masih merasakan tekanannya. Dan dengan tekanan itu maksudku semuanya. Tapi ada sebuah akhir yang terlihat. Aku masih merasakan denyutan dari O khayalan selama seminggu penuh, dan aku sangat berharap ia akan kembali malam ini. Kembalinya O.

Tentu saja aku bisa lihat beberapa film aksi di kepalaku—tapi sungguh, jika ia kembali, aku akan gunakan apapun kesempatan yang ada. Apapun.

Karena malam ini, penggemar olah raga, aku akan mendapatkan beberapa. Bukan untuk mendapatkan poin, aku sudah siap untuk serius dengan Luhan Wang.

Aku menjalankan jari-jariku ke rambutku sekali lagi, memperhatikan bagaimana matahari yang menyengat mengeluarkan warna madu alaminya. Aku rapikan depan gaunku, linen putih yang sedikit menggantung sampai rok. Aku pasangkan dengan perhiasan turquoise yang kubeli dari kota dan juga sandal kulit ular. Aku dalam pakaian tersempurnaku selama seminggu, dan—mengesampingkan kegugupanku—merasa cukup baik. Aku lihat untuk terakhir kalinya di cermin, melihat pipiku cukup merah muda, bahkan aku belum menggunakan pemerah pipi malam ini.

Aku pergi ke dapur untuk menuang segelas wine dan menunggu Luhan. Saat aku menuang Cava, aku melihatnya di teras, menghadap lautan. Aku menyeringai saat aku melihatnya memakai kaos putih linen. Kami sedikit berjodoh malam ini. Celana khaki menyempurnakan penampilannya, dan ia berbalik saat aku berjalan untuk menemuinya. Sepatu hak tinggiku mengetuk batu di sepanjang jalan sambil menyesap anggur, dan ia menyandarkan lengannya ke belakang pagar besi. Sebagai seorang fotografer, ia sudah sangat sadar dengan gambaran yang ia coba untuk bentuk, aku merasa yakin. Setiap kali ia bersandar, ia mengalirkan hawa seks. Aku baru saja berharap aku tidak jatuh karena sepatuku... hawa seks bisa licin.

Aku berikan wine-ku padanya, dan ia membiarkan gelasku menyentuh bibirnya. dengan pelan, ia menyesap, matanya ada padaku. Saat kupindah gelasnya, ia dengan cepat memeluk pinggangku dan menarik padanya, menciumku dalam, aku dapat merasakan rasa wine yang kuat dari lidahnya.

"Kau terlihat...enak," ia mengambil nafas, menjauh dari bibirku untuk menekankan mulutnya di kulit belakang telingaku, tengkuknya membuatku geli dengan cara yang paling fantastis.

"Enak?" tanyaku, memiringkan kepalaku untuk memudahkan apapun yang sedang ia lakukan.

"Enak. Enak untuk dimakan," bisiknya, menyentuh leherku dengan giginya, cukup untuk membuatku memperhatikannya.

"Wow," adalah yang hanya bisa kukatakan saat kupeluk lehernya dan masuk ke dalam pelukannya.

Matahari mulai terbenam, memancarkan sinar hangat di sekitarnya, membuat terakota merah dan orange, menyelimuti kami dengan api. Mataku tak lepas dari laut yang biru yang kontras dengan batu di bawahnya, asin lautan menggambarkan lidahku. Aku berpegangan padanya, membiarkan diriku merasakan apapun. Tubuhnya, keras dan hangat padaku, rambut shaggy-nya terasa di pipiku, kehangatan di depan pinggulku, getaran setiap sel di tubuhku bergelung bersama pria ini dan gairah yang ia tanamkan padaku.

"Kau siap?" tanyanya, suaranya parau di telingaku.

"Sangat siap," erangku, mataku berputar dengan kedekatanku padanya, rasa dirinya.

Lalu Luhan membawaku ke kota.

.

.

.

.

Setelah Luhan membawaku ke jurang dengan ciumannya di teras, dia benar-benar membawaku ke jurang. Kami sekarang berada di restoran yang dikelilingi air, yang sangat mudah di pesisir kota. Tapi dimana lubang kecil-di-tembok yang kami kunjungi minggu ini memiliki pesona yang nikmat, ini adalah restoran yang romantic yang lebih ke romansa. Romansa sudah disediakan di piring disini.

Ada di wine nya, tergambar di tembok-tembok, di lantai di bawah kaki kami, dan kalau kalian lupa romansanya, itu juga mengalir melalui udara. Kalau kulirik, aku bisa melihat kata-kata romantic mengapung di udara laut yang sejuk...aku benar-benar melirik, tapi itu ada disana, aku katakan padamu.

Dari lantai-sampai-jendela membuatku berputar di udara asin pesisir ini, ratusan kelap-kelip sinar kecil di gemerlapnya badai kaca. Setiap meja berwarna putih, gelas-gelas kecil yang diisi dengan bunga dahlia dengan nuansa lembayung, delima, dan fuchsia yang menggairahkan. Cahaya natal kecil di tiang-tiang kayu mengelilinginya secara ajaib dengan cat coklat tua mewarnai seluruh ruangan. Di restoran ini, tidak ada anak-anak, tidak ada meja untuk empat atau enam orang. Tidak, restoran ini dipenuhi oleh para kekasih, tua maupun muda.

Sekarang kami duduk, saling berdekatan di meja mahogani yang luar biasa, pelan-pelan menenggak wine dan menunggu meja kecil kami. Tangan Luhan berada di belakang pinggangku, mengklaimku secara diam-diam dan tegas.

Bartendernya menaruh senampan tiram di meja kami. Licin dan renyah, mereka berkilau, dengan potongan lemon di sana-sini. Luhan mengangkat alisnya, dan aku mengangguk saat ia memeras lemonnya, jarinya yang kuat dan anggun membuat perlakuannya pada tiram itu lebih cepat dan erotis. Ia membuka satu dan membawanya ke mulutku dengan garpu kecil.

"Buka mulutmu, Nighty Girl," perintahnya, dan aku melakukan apa yang ia katakan.

Dingin, renyah, seperti semburan air laut di mulutku, aku mengerang saat garpunya ia tarik keluar. Ia mengambil tiram untuknya sendiri dan menenggaknya seperti seorang pria, menjilat bibirnya saat kulihat makanan berbau porno ini beraksi. Ia mengedip padaku saat aku berpaling, mencoba untuk tak memperlihatkan betapa aku sangat bergairah. Sepanjang hari ini merupakan suatu kontrol tekanan seksual yang besar, api kecil yang sekarang memicu ke dalam kebakaran besar. Ia hisap dua lagi dengan cepat, dan saat kulihat lidahnya menjilat bibirnya, aku merasa sangat ingin menolongnya. Tanpa malu atau moral kesopanan sosial, aku mendekatkan jarak kami dan menciumnya dengan keras.

Ia tersenyum lebar dengan terkejut, tapi ia juga menciumku dengan intensitas yang sama. Rasa manis dan lembut yang menyelubungi kami selama seminggu penuh dengan cepat menurunkan kami ke dalam sentuh-aku-sentuh-aku-sekarang, dan aku menginginkannya. Seluruh tubuhku bergairah terhadapnya, kakiku membelit diantaranya saat jari-jarinya menemukan kulitku—kulit di bawah hem gaunku. Kami berciuman, mencium ala Hollywood. Pelan, kasar, basah, dan menakjubkan. Kepalaku kumiringkan agar aku bisa menciumnya lebih dalam, lidahku menyelip ke dalamnya, memimpin lalu membiarkan dia memimpin. Ia terasa manis dan asin dan lemon, dan itu semua yang bisa kulakukan untuk tidak merenggut kaos linennya dan membawanya ke atas meja—tapi dalam cara seorang lady, ku ingatkan.

Aku mendengar seseorang berdehem, dan kubuka mataku dan kulihat onix seksiku, kemudian pemiliknya yang malu.

"Permisi, señor, meja anda sudah siap?" tanyanya, berhati-hati mengarahkan matanya dari pertunjukkan kami yang sangat romantis, tapi tetap sangat publik, restoran.

Aku mungkin sedikit mengerang saat Luhan memindahkan tangannya dari kakiku dan memundurkan kursiku agat aku bisa berdiri. Membawa tanganku dan menarikku, ia menyeringai ketika aku sedikit goyah saat berjalan. Ia tersenyum kepada bartendernya.

"Tiram, bung, tiram." Luhan tertawa kecil saat kami pindah ke meja kami. Aku siap untuk marah sampai kulihat diam-diam ia menenangkan dirinya sendiri. Aku bukanlah satu-satunya yang merasakan api kecil...

Aku menahan gertakku dan tersenyum dengan cemerlang, meliriknya hanya agar ia tahu kalau aku tahu. Ketika sampai di meja kami, Luhan menarikkan kursi untukku. Saat ia membantuku duduk, kubiarkan tanganku melintas sedikit untuk secara sengaja-tak sengaja menyentuhnya, merasakan betapa terpengaruhnya ia. Aku mendengarnya mendesis, dan aku tersenyum dalam hati. Sampai aku menyentuhnya untuk kedua kalinya, ia remas tanganku ke dalamnya dengan kencang, menekankannya padaku. Nafasku tertahan di tenggorokan saat kurasakan ia mengeras lagi di bawah tangan kami.

"Haruskah aku mengubah namamu menjadi Naughty Girl?" bisiknya, rendah dan dalam di telingaku. Kututup mataku dan mencoba mengontrol saat ia duduk di seberangku, tersenyum jahat. Ketika pelayan kami sibuk di sekeliling kami, meluruskan linen dan menunjukkan menunya, aku hanya terpaku pada Luhan, jantan dan indah, di seberang mejaku. Acara makan ini akan seperti selamanya.

Acara makannya memang terasa selamanya, tapi seberapapun aku sangat menginginkan Luhan sendirian lagi, aku juga tidak mau malam ini berakhir. Kami dilayani dengan paella* yang indah, gaya pesisir dengan potongan udang dan lobster kecil, chorizo**, dan kacang polong. Dibuat dengan cara tradisional, hampir tidak mungkin dibuat dengan cara yang berbeda, makanan kecil sederhana yang dimasak dengan nasi kuning di bawahnya menjadi lebih renyah dan pedas—nikmat dalam setiap rasa di dunia. Kami menutupnya dengan sebotol rosé yang manis dan sekarang dengan malas menyesap segelas kecil Ponche caballero, brandy Spanyol dengan campuran jeruk dan kayu manis.

Cairan itu pedas saat bergelung d mulutku. Aku merasa hangat dan agak mabuk. Tidak mabuk hanya cukup untukku mempedulikan sekelilingku dan menemukan apapun dan apapun yang sensual: cara brandy lembut itu mengalir di tenggorokanku, merasakan kaki Luhan yang menyentuhku di bawah meja, rasa tubuhku yang mulai bersenandung. Populasi seluruhnya, sepertinya meghilang dan malam ini dan mood untuk merayakan festival yang menggemparkan pusat kota. Energinya terasa kasar dan liar. Aku duduk kembali di kursiku, menggoda Luhan dengan ujung kaki besarku, senyuman bodoh di wajahku saat ia menatapku tajam.

"Aku memakan satu paellamu," katanya tiba-tiba,

"Maksudmu?" aku tersedak, menangkap tetesan brandy di bibirku sebelum mengotori gaunku.

"Di Tahoe, ingat? Kau membuatkan kami paella."

"Ya, ya, aku membuatnya. Tidak seperti yang sekarang tapi cukup lumayan." Tersenyum, mengingat malam itu. "Seperti kataku, kita sedikit menghabiskan wine-nya."

"Ya, kita makan paella dan mabuk wine, melihat yang lainnya bersama, lalu kau menciumku."

"Kita melakukannya, dan ya, aku juga melakukannya." Aku merona.

"Lalu aku menjadi seorang pengecut," jawabnya, rona pipinya juga mulai muncul sekarang.

"Kau melakukannya," aku menyetujui dengan senyuman.

"Kau tahu kenapa, kan? Maksudku, kau harus tahu bahwa aku, bahwa aku menginginkanmu. Kau tahu itu kan?"

"Itu menekan kakiku, Lu. Aku memperhatikan." Tawaku, mencoba mempermainkannya, tapi tetap ingat bagaimana perasaanku ketika aku berlari darinya ke dalam bak air hangat.

"Seokie, ayolah," tegurnya, matanya serius.

"Kau sendiri saja yang ayolah. Ini benar-benar menekan kakiku." Tawaku lagi, sedikit melemah kali ini.

"Malam itu? Ya Tuhan, itu mungkin sangat mudah, kau tahu? Saat itu bahkan aku tidak yakin kenapa aku menghentikan kita. Aku rasa aku baru tahu bahwa..."

"Kau tahu bahwa?" desakku.

"Aku tahu denganmu, itu akan menjadi semua atau tidak ada sama sekali."

"Semua?" aku mencicit.

"Semua, Minseok. Aku menginginkan seluruh dirimu. Malam itu? Akan sangat menyenangkan, tapi terlalu cepat." Ia bersandar di meja dan menggapai tanganku. "Sekarang, kita di sini," katanya, membawa tanganku ke mulutnya. Ia beri ciuman di sepanjang punggung tanganku lalu membuka telapaknya dan menekankan ciuman basah di tengahnya. "Dimana aku bisa bersamamu," katanya, mencium tanganku sekali lagi saat aku menatapnya.

" Luhan?"

"Ya?"

"Aku benar-benar senang kita menunggu."

"Aku juga."

"Tapi aku benar-benar tidak yakin bisa menunggu lebih lama lagi."

"Terima kasih Tuhan." Tersenyum dan memberi tanda kepada pelayan.

Kami tertawa seperti remaja saat kami membayar dan mulai berjalan ke arah mobil kami. Festivalnya benar-banar penuh sekarang, dan kami berhasil separuh melewatinya saat berkendara pulang. Lentera-lentera menerangi sekeliling kami saat suara gemuruh drum berdentam, dan kami melihat orang menari di jalanan. Energinya kembali, suasana bebas di udara, dan brandy-nya dan energi itu mengalahkan rasa Gugup, turun ke bawah perut, dimana LM dan

Wang mengancam untuk mengalahkan sedikit lagi di hidupnya. LM dan Wang, terdengar seperti duo rapper...

Saat kami sampai di mobil, aku sedang akan membuka pintu ketika tiba-tiba merasa pusing karena intensitas . Matanya terbakar ke dalamku saat ia menekanku pada mobil, pinggulnya kuat dan tangannya menggila di rambut dan kulitku. Tangannya menelusuri ke bawah kakiku, menyentuh pahaku dan menyentak di sekitar pinggulku saat aku mengerang dan merintih dengan kekuatan yang kubiarkan mengalir dengan liar dalam tubuh dan jiwaku.

Tapi aku memelankannya, tanganku menarik rambutnya, membuatnya terengah. "Bawa aku ke rumah, Lu," bisikku, menekankan ciuman sekali lagi di bibirnya yang manis. "Dan tolong dengan cepat."

Meskipun merasa senang, bahkan membuat kami melambung ke atas. Ia tetap bernyanyi, tapi lagu yang lebih cabul.

.

.

.

TBC

BELUM NC YA,.,. chap depan baru nc… kalo kalian baca ff ku Cuma untuk nc mungkin kalian salah ff n salah author cs sebenernya aku gak terlalu suka nc. Kebetulan aja novel ini ada ncnya dan nc nya di ujung jd klo kalian nih.. yg aku tau rata2 masih remaja n umurnya jauh,… uh,.. uh..(?) dibawah umurku Cuma ngebet nc mending jangan baca, baca di chapret ending aja cs ncnya di chap2 menuju ending.

Aku terima kritikan dengan sangat baik, mulai dr cerita ini bahasanya berat, susah dipahami, ngebosenin, dll aku masih ngerti. Tp klo Cuma mau bilang ncnya mana n protes ncnya lama. Jauh2 dr ff ku. Aku serius dah klo udah masalah nc. Aku tipe2 yg blak2n jd aku bilangin aja ama kalian. Semua ff ku yg ada Nc itu gak semuanya murni dr ideku. Yg nc murni ideku ya Cuma ff gs pertama ku si luhan n minseok model itu. Selebihnya karena aku kolab ama ega n ff novel ini. Jadi jangan nuntun ncnya mulu ya… aku jadi ngerasa bersalah cs buat kalian ngarep2 ncnya cs aku sendiri baca ff itu pribadi karena ceritanya bukan karena ncnya. Bukan bersalah cs php nc tp karena aku post ff nc n buat kalian nunggu2 ncnya. Bukan sok suci n nasehatin, aku juga masih baca ff nc kok walopun banyak yg aku skipnya. Aku Cuma pengen kalian nikmatin ffnya bukan ngarep ncnya aja.

Ff ini bakal aku update cepet biar cepet tamat n aku gak utang ff ini lg sama kalian dan kya aku bilang, chap depan n, chap depannya nc lg n epilog. Jd aku bisa bilang bye2 ama ff rate m yg semoga aja trate m terakhirku. Mungkin dua hari lg bakal aku lanjut, atau bisa aja besok cs aku bnr2 mau namatin gg ini soalnya.