Aku melihat pantulan diriku dalam cermin, mencoba melihat secara objektif. Ketika aku masih kecil, terutama pada tahun-tahun awal remaja yang mempesona, aku terbiasa melihat diriku dengan sangat berbeda. Aku melihat rambut yang pirang-kecoklatan dan kulit pucat yang tidak menarik. Aku melihat mata hezel yang datar dan belahan lutut kurus seperti kaki burung. Aku melihat hidung yang sedikit menengadah dan bibir bawah yang mungkin kelihatan seperti aku akan tersandung jika tidak terlalu hati-hati.
Ketika berumur lima belas, suatu sore Nenek bilang dia pikir gaun merah muda yang kupakai tampak bagus di kulitku. Aku mendengus dan langsung tidak setuju dengannya.
"Terima kasih, nek, tapi aku baru tidur tiga jam tadi malam, dan hal terakhir yang bisa aku lihat hari ini adalah cantik. Lelah dan pucat, tapi tidak cantik." Aku memutar mataku dengan cara yang biasa gadis remaja lakukan, dan ia meraih tanganku.
"Selalu terima sebuah pujian, Seokie. Selalu terima sesuai dengan yang dimaksudkan. Kalian para gadis selalu begitu cepat memutar balikkan apa yang orang lain katakan. Cukup mengucapkan terima kasih dan terus maju." Dia tersenyum dengan cara yang tenang dan bijaksana yang dia miliki.
"Terima kasih. " Aku tersenyum kembali, menyibukkan diri dengan saus spageti dan membalikkan wajahku sehingga dia tidak bisa melihat wajahku yang memerah.
"Cara gadis-gadis muda dalam mengecek diri mereka sendiri menghancurkan hatiku, mereka tidak pernah berpikir mereka cukup baik. Pastikan kau selalu ingat, kau tepat seperti bagaimana kau seharusnya. Tepat. Dan siapa pun yang mengatakan sebaliknya, well, omong kosong." Dia tertawa, suaranya menurun sedikit pada kata yang terakhir, yang terdekat yang pernah dia katakan bila mengumpat. Nenek punya daftar kata-kata buruk dan kata-kata yang benar-benar buruk, dan poppycock nyaris mendekati yang terakhir.
Hari berikutnya di sekolah aku menyebutkan pada seorang teman yang kupikir rambutnya tampak hebat, dan jawabannya adalah dengan menjalankan tangannya melalui rambutnya dengan jijik.
"Apa kau bercanda? Aku bahkan nyaris tidak punya waktu untuk mencucinya hari ini. " Meskipun begitu itu terlihat fantastis. Berikutnya setelah kelas olahraga, aku sedang mengganti pakaian di ruang ganti ketika aku mengamati temanku yang lain sedang memoles ulang lipglossnya.
"Lipglossnya bagus. Apa warnanya?" Tanyaku saat dia mengerutkan bibirnya di cermin.
"Apple tartlet, tapi terlihat mengerikan padaku. Oh Tuhan, aku tidak punya sisa-sisa kulit kecoklatan dari musim panas!"
Nenek benar. Para gadis benar-benar tidak menerima sebuah pujian dengan baik. Sekarang, setelah hari itu aku tidak akan berbohong dan secara ajaib mengatakan aku tidak mengalami hari dengan rambut yang jelek lagi atau tidak pernah memilih lipstik yang salah lagi. Tapi aku berusaha sadar untuk melihat yang baik sebelum yang buruk dan melihat diriku dengan cara yang lebih jelas. Secara obyektif. Secara bijak. Dan saat tubuhku terus berubah, aku menjadi lebih dan lebih sadar fitur yang bisa kulihat secara positif, bukannya negatif. Aku tidak pernah menganggap diriku cantik luar biasa, tapi aku membersihkan diriku dengan baik.
Begitu juga sekarang, saat aku menatap cermin di kamar mandi, mengetahui Luhan sedang menungguku, aku mengambil waktu untuk melakukan pencatatan kecil.
Rambut pirang kecoklatan? Tidak begitu coklat. Rambutku mengkilap dan keemasan, sedikit bergelombang dan keriting dari air asin yang dimasak sepanjang minggu. Kulit pucat? Agak kecoklatan dengan baik dan, berani kukatakan, sedikit bercahaya? Aku mengedipkan mata pada diriku sendiri, menahan cekikik yang berlebihan. Mulutku memiliki bibir bawah yang sedikit cemberut, cukup penuh untuk menjebak seorang Luhan padaku dan tidak membiarkannya pergi. Dan kaki yang kulihat mengintip dari bawah renda yang hanya menutupi pahaku? Well, tidak begitu seperti burung lagi. Bahkan, kupikir mereka akan terlihat cukup spektakuler membungkus di sekeliling...apa pun milik Luhan yang aku suka, membungkus di sekelilingnya.
Jadi, saat aku merapikan rambutku sekali lagi dan dalam hati memeriksa semua daftar nama internalku, aku merasa amat sangat senang tentang malam nanti. Kami bergegas kembali ke rumah, praktis saling menanggalkan pakaian di pintu masuk, dan setelah memohon untuk memberiku "girltime" beberapa saat, aku sekarang siap untuk pergi dan mengklaim Luhan ku. Karena siapa yang mempermainkan siapa? Aku menginginkan pria ini. Menginginkannya untukku sendiri, dan tidak akan pernah berbagi dia dengan siapapun.
Otakku untuk sekali ini akhirnya setuju dengan "Minseok Bagian Bawah". Terutama sejak dia merangkak naik ke Tulang punggung dan menampar Otak tepat di batangnya, mengatakan padanya dalam cara khusus yang hanya dia yang bisa bahwa kami membutuhkan ini. Kami layak diperlakukan seperti ini, dan kami siap. Saraf, juga, mereka terus melingkar-lingkar di dalam perutku, tapi itu yang diharapkan, bukan? Maksudku, itu sudah sangat lama sekali, dan
sedikit gugup itu normal, kuharap. Apa aku sudah mengulur-ulur sepanjang minggu? Mungkin. Agak. Sedikit.
Luhan sudah lebih dari sabar, menerima untuk menjalaninya dengan santai, sesuai kecepatanku, tapi astaga, dia hanya manusia. Aku bersikeras bahwa Saraf tidak diperbolehkan untuk mengubah malam Spanyol yang lain menjadi hanya berpelukan dan dengkuran. Aku berbalik ke cermin, mencoba melihat diriku dari apa yang mungkin Luhan lihat padaku. Aku tersenyum yang menurutku adalah senyum menggoda, mematikan lampu, menghirup satu napas lebih dalam, dan membuka pintu.
Kamar tidurnya telah berubah menjadi sesuatu seperti dari negeri dongeng. Lilin menyala di lemari dan meja samping tempat tidur, memandikan kamar dengan cahaya hangat. Jendelanya terbuka, begitu juga pintu ke balkon kecil yang menghadap ke laut, dan aku bisa mendengar ombak menerjang, gaya di novel-romantis. Dan di sana dia berdiri : Rambut acak-acakan tubuh kuat, mata yang berkobar.
Aku menyaksikan saat ia mengamatiku, menyeret tatapannya ke bawah tubuhku dan kembali, senyum membentang di wajahnya saat ia menilai pilihan pakaianku.
"Mmm, ini dia Gadis Bergaun Tidur Pink-ku, " desahnya, sambil mengulurkan tangannya. Dan ketika aku terhenti untuk detik terpendek, punggungku menggelenyar dan membuatku mengangkat tanganku dan memberikannya padanya. Kami berdiri di ruang gelap, beberapa meter terpisah tetapi terhubung oleh jari kami yang terjalin. Aku bisa merasakan tekstur kasar ibu jarinya saat ia menjejaki lingkaran di bagian dalam tanganku, lingkungan yang sama yang ia jejaki berminggu-minggu sebelumnya, ketika aku mulai jatuh di bawah mantranya. Mata kami penuh oleh satu sama lain,aku bisa melihat pantulan diriku dimata kelamnya dan aku yakin begitu juga ia dan ia mengambil napas dalam-dalam.
"Ini kriminal karena betapa cantiknya kau terlihat dalam gaun itu," katanya, menarikku ke arahnya dan memutarku sedikit sehingga dia bisa melihat dengan lebih baik gaun tidur babydoll merah mudaku. Saat ia memutarku, tepi rendanya tersingkap ke atas hanya sedikit, memamerkan garis celana dalam yang menyertainya. Sebuah suara rendah terdengar di tenggorokannya, dan kalau aku tidak salah, itu adalah geraman? Sial...
Dia memutarku kembali lebih dekat, menggenggam pinggulku dan menekanku di tubuhnya, payudaraku bertabrakan dengan dadanya. Dia menempatkan ciuman kecil di bawah telingaku, membiarkanku merasakan ujung lidahnya saja.
"Jadi ada beberapa hal yang ku ingin kau mengerti," gumamnya, mengendus dengan hidungnya, tangannya menyentuh di balik gaunku untuk mengusap-usap garis celana dalamku dan meraup pantatku, membuatku terkejut. Aku tersentak.
"Kau mendengar ku? Jangan alihkan perhatianmu dariku sekarang," bisiknya lagi, menjulurkan lidahnya dan menyeretnya ke sisi leherku.
"Agak sulit untuk fokus dari pengalih perhatianmu yang menusukku di paha," aku mengerang, membiarkannya melengkungkan pinggungku cukup ke belakang sehingga seluruh bagian tubuh bawahku tertekan padanya, bagian keras dirinya mengisi dengan sempurna untuk bergesekan ke bagian lembut diriku di sekitarnya. Dia tertawa di leherku, sekarang menghiasi tulang selangkaku dengan ciuman-ciuman kecil khasnya.
"Inilah yang perlu kau ketahui. Satu, kau luar biasa, " katanya, tangannya sekarang menelusuri punggungku, jemari dan jempolnya memijat dan memanipulasi. "Dua, kau luar biasa seksi," dia terengah.
Tanganku sekarang buru-buru membuka kancing kemejanya, mendorongnya ke belakang dari pundaknya saat kecepatan kami mulai beralih dari lambat dan lembut menjadi cepat dan panik. Sekarang tangannya menyelinap ke depan, kukunya dengan ringan menggesek di sepanjang perutku, mengangkat gaun tidurku sehingga kami saling kontak dari kulit ke kulit, tak ada yang tersisa di antara kami. Aku melarikan tanganku ke atas dan ke bawah punggungnya, kukuku jauh lebih agresif, mencakar dan melabuhkan dirinya dengan diriku.
"Dan ketiga, sama luar biasa seksinya seperti gaun pinkmu, satu-satunya hal yang kuingin lihat di sisa malam ini adalah Minseokku yang manis, dan aku butuh melihat dirimu." Dia terengah-engah di telingaku saat mengangkatku, meluruskan tubuh, dan kaki kananku yang melingkar di pinggangnya.
Sekali lagi, Hukum Semesta Wallbanger menentukan bahwa kakiku akan melingkar di pinggulnya ketika ditawarkan. Dia membimbingku mundur ke tempat tidur dan menempatkanku pada ranjang dengan lembut. Membungkuk, dia mendorongku mundur di atas sikuku.
Kemejanya menggantung ke bawah dari pundaknya, dia mengedipkan mata padaku, mengangguk pada ku untuk menanggalkan pakaiannya. Aku mengulurkan tangan ke depan, membengkokkan satu jari di belakang kancing celana khakinya, dan membukanya. Melihat tidak ada celana boxer yang mengintip, dengan lembut aku menyentuh ritsletingnya ke bawah hanya satu inci atau lebih, mengekspos happy trail yang mengarah ke bawah, ke bawah, ke mana semua hal bagus ditemukan.
"Kau punya masalah dengan celana dalam Wallbanger?" Bisikku, mengangkat satu lutut dan memaksa dirinya berada di antara pinggulku. Memaksa. Benar.
"Aku bermasalah dengan celana dalammu, dan bukankah memalukan kau masih memakainya?" Dia menyeringai, mendorong pinggulnya padaku, membiarkanku merasakan segalanya. Aku menjatuhkan kepalaku ke belakang, diam-diam menarik keluar gairahku ketika dia mengancam akan meluap hanya sedikit. Enyahlah, hasrat menggila.
Ini akan terjadi.
"Aku tidak malu. Aku punya perasaan celana dalam itu tidak lama lagi tidak akan dipakai." Aku mendesah, berbaring kembali untuk meregangkan lengan di atas kepalaku, memanjangkan tubuhku pada tubuhnya dan mendesak bibirnya untuk menari lebih jauh di sepanjang cekungan di dasar tulang selangkaku. Aku bisa merasakannya menjilat dan mengisap di antara payudaraku. Aku
melengkung padanya, ingin sekali merasakan lebih. Aku butuh lebih banyak. Dia mulai menarik turun tali gaun tidurku, menelanjangiku dan menyediakan akses yang dia butuhkan untuk membuatku seakan lebih melayang.
Merasakan mulutnya padaku, pada payudaraku, panas dan basah, menggelitik dan sembrono, nampak tidak nyata. Jadi aku bilang begitu.
"Ini terasa tidak nyata," aku mengerang di atas kepalanya saat bulu halus dari jenggot tipisnya mengasari kulitku dengan nikmat. Bibirnya terkatup di sekitar puting kananku, dan pinggulku menyeleweng dari diri mereka sendiri, menyentak dengan liar di bawah dirinya, kedua kakiku sekarang membungkus kuat di pinggangnya. Bibir, lidah dan gigi sekarang dicurahkan ke seluruh belahan dadaku, yang tumpah keluar melebihi tepi gaun tidurku saat dia bergantian di antara payudaraku, sama-sama mencintainya. Aku dikelilingi oleh Luhan, bahkan aroma tubuhnya membuatku bergairah, sama dengan peranan rempah-rempah pedas dan brendi Spanyol yang kental.
Kata-kata yang tidak masuk akal mengalir dari mulutku. Aku menyadari beberapa kata "Luhan," dan satu atau dua, "Ya, sial ini nikmat sekali," tapi kebanyakan apa yang kudengar dari diriku sendiri adalah hal-hal seperti "Mmph," dan "Erghh," dan
"Hyyyyaeahhh," yang sebenarnya, aku mulai tidak bisa untuk berpikir bagaimana mengeja. Luhan mendesah berulang-ulang di kulitku, napasnya yang sesungguhnya merupakan gairah pada saat aku merasakannya membasuh diriku. Tanganku dibiarkan bebas berkeliaran di negeri ajaib yaitu rambutnya, dan saat aku menyapukannya ke belakang dari wajahnya aku dihadiahi dengan pemandangan yang menakjubkan dari mulutnya padaku, matanya tertutup dalam pemujaan yang jelas. Dia menggigit ringan, menutup giginya di sekitar kulit sensitifku dan tanganku nyaris mencabik rambut dari kepalanya. Rasanya begitu menakjubkan.
Tangan kirinya bergerak naik dan turun di kakiku, mendesakku untuk menggenggam dirinya lebih erat di antara pahaku saat jemari ajaib itu mulai datang semakin dekat ke tepi renda. Itu adalah batas terakhir yang belum kami seberangi.
Aku merasa napasku terhenti saat dia melakukan pendekatan akhir, yaitu jari-jarinya menyentuh tepat di bawah tepi celana dalamku, hampir seperti tidak menyentuh. Napasnya melambat juga dan sambil terus menyentuhku dengan lembut, wajahnya kembali mendongak padaku, dan kami menikmati momen ini, momen yang tenang ini, di mana kami hanya... menatap. Terpesona-hanya itu satu-satunya cara yang bisa kugambarkan tentang perasaan dari tangannya yang bergentayangan pada diriku dengan lembut, penuh hormat. Mata kami terkunci saat ia menurunkan tangannya lebih jauh ke bawah renda dan kemudian, dengan ketelitian sempurna yang tak tertahankan, dia menyentuhku.
Mataku menutup, seluruh tubuhku terendam dengan begitu banyak sensasi. Napasku mulai kembali lagi, tekanan intens yang berputar-putar di seluruh, dalam dan di luar sekarang seperti dengungan tingkat rendah, tepat di bawah permukaan kulitku. Aku bergerak dengannya, merasakan jari-jarinya mulai mengeksplorasi, dan aku mengeluarkan erangan terkecil. Itu semua yang bisa kukeluarkan. Perasaan ini begitu kuat dan energinya-oh ya ampun, energi yang
mengelilingi kami dalam momen itu.
Aku yakin Luhan tidak menyadari keseluruhan dari emosi yang beterbangan di belakang kelopak mata tertutupku. Pria malang ini akhirnya hanya mendapatkan sedikit sentuhan. Tapi saat jari-jarinya menjadi lebih cekatan dan percaya diri, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi. Kumpulan saraf yang amat sangat kecil, yang telah tertidur selama berabad-abad, mulai memicu untuk hidup. Mataku terbuka saat kehangatan yang sangat spesifik mulai bergerak melalui diriku, mulai dari pusat tubuhku dan mencari jalan keluar.
Luhan pasti menikmati ini. Matanya kabur dan penuh nafsu saat aku menggeliat di bawahnya. Aku tahu dia bisa merasakanku tegang dan menjadi hidup. "Oh Tuhan, Seokie, kau begitu..cantik," gumamnya, matanya kini dipenuhi dengan sesuatu yang sedikit lebih dari nafsu, dan aku seolah merasakan sengatan kecil di belakang bola mataku.
Aku melemparkan lengan ke sekeliling lehernya dan mendekapnya erat-erat, mencabik-cabik kemejanya untuk dilepaskan darinya, dilepaskan darinya sehingga aku bisa merasakan semuanya. Dia mengangkat dirinya dariku untuk beberapa detik saja, merobek bajunya dengan cara berlebihan yang membuatku tertawa tapi bahkan lebih merindukannya. Menurunkan dirinya kembali padaku, dia menyelinap lebih ke bawah, bibirnya menelusuri jalan ke pusarku. Melingkarinya dengan lidahnya, dia tertawa di perutku.
"Apa yang kau tertawakan, tuan?" Aku tertawa, meremas telinganya. Dia berada di balik gaun tidurku sekarang, wajahnya tersembunyi dariku. Memasukkan kepalanya kembali, dia menyeringai lambat yang membuat jemari kakiku menunjuk.
"Jika pusarmu rasanya senikmat ini-sial, Minseokie. Aku tidak sabar untuk mencicipi vaginamu."
Ada hal-hal tertentu yang seorang wanita perlu dengar pada waktu yang berbeda dalam hidupnya: Kau mendapatkan pekerjaanmu. Bokongmu tampak hebat dalam balutan rok itu. Aku akan senang bertemu dengan ibumu. Dan bila digunakan hanya dalam konteks yang tepat, hanya dalam pengaturan yang benar, kadang-kadang, seorang wanita perlu mendengar kata-V.
Ini bisa jadi lebih baik dari pada Clooney.
Erangan yang keluar dari mulutku ketika ia mengatakan kata itu, well, mari kita katakan itu cukup keras untuk membangunkan orang mati. Dia membiarkan lidahnya menelusuri jalan dari pusarku ke tepi garis celana dalamku, kemudian dengan kasih sayang yang cermat, dia mengaitkan ibu jarinya di balik renda dan menyeretnya ke bawah di kakiku.
Di sanalah aku, terlentang di atas Negeri Bantal dengan gaun tidur merah muda yang berkumpul di sekitar perutku, semua bagian tubuh yang bersangkutan terpajang, dan amat senang tentang itu. Dia menarik pinggulku ke tepi tempat tidur dan berlutut. Oh Tuhan. Saat dia menjalankan tangannya ke atas dan ke bawah bagian atas kakiku, aku mengangkat tubuh bersandar di sikuku sehingga aku bisa menonton, butuh untuk melihat pria tampan ini menyentuhkuku, menyayangiku. Berlutut di antara pahaku, dengan celana khaki yang terbuka dan setengah di risleting, rambut yang mencuat, dia menakjubkan. Dan sedang bergerak.
Membiarkan lidahnya memimpin sekali lagi, ia memberikan ciuman dengan mulut terbuka di sepanjang bagian dalam pahaku, di satu sisi kemudian sisi yang lain, dengan masing-masing kecupan yang semakin dekat dan lebih dekat ke tempat aku membutuhkan dirinya. Dengan hati-hati mengangkat kaki kiriku, dia menambatkannya di atas pundaknya saat aku melengkungkan punggung, seluruh tubuhku sekarang terasa sakit dan tak sabar untuk merasakan dirinya. Dia menatapku sejenak lebih lama, bahkan mungkin hanya beberapa detik, tapi rasanya seperti seumur hidup. "Cantik," bisiknya sekali lagi, dan kemudian ia menempelkan bibirnya padaku.
Tidak ada jilatan cepat, tidak ada ciuman kecil, hanya tekanan yang luar biasa saat ia mengelilingiku dengan bibirnya. Itu cukup untuk membuatku jatuh kembali ke ranjang, tidak dapat menopang tubuhku lagi. Sentuhan dan ketampanan dirinya itu semuanya menyita pikiran, dan aku hampir tidak bisa bernapas. Dia melakukannya dengan lambat dan rendah, menggunakan satu tangan untuk membuka diriku lebih jauh untuknya, membiarkan mulut, jari-jari dan lidah yang sempurna dengan lembut dan metodis membujukku sampai ke stratosfer, naik, mengisiku dengan rasa kagum dan takjub yang telah hilang dari diriku begitu lama.
Aku membebaskan satu tanganku untuk menggapai dan mengacak-acak rambutnya, menjalankan jariku dengan sebanyak yang aku bisa lakukan. Tangan yang lain? Tidak berguna. Mengepal di selimut menjadikannya semacam bola. Dia mengangkat kepalanya dariku sekali, hanya sekali, untuk menekan ciuman lain di pahaku.
"Sempurna. Ya Tuhan, sempurna," bisiknya, begitu lirih, aku nyaris tidak bisa mendengarnya dalam desahan dan rintihanku sendiri. Dia kembali padaku dengan cepat, gerakannya mendesak, bibir dan lidah memutar dan menekan sambil mengerang di dalamku, getarannya menghujam.
Aku membuka mataku untuk sedetik, hanya satu detik, dan ruangan itu bercahaya, hampir menyilaukan. Semua inderaku bangkit, dan aku bisa mendengar terjangan ombak, melihat lilin berkedip-kedip di tubuh kami. Aku bisa merasakan seluruh kulitku merinding, udara itu juga yang membelaiku dan mengumumkan apa yang telah hilang selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Pria ini bisa sangat mungkin mencintaiku. Dan ia akan membawa O kembali. Memejamkan mata lagi, aku hampir bisa melihat diriku, berdiri di tepi tebing, menatap ke laut yang mengamuk di bawah sana. Sebuah tekanan, tekanan yang besar sedang terbangun di belakangku, menyenggolku ke tepian di mana aku bisa jatuh, jatuh bebas ke dalam apapun yang menungguku. Aku mengambil satu langkah, lalu langkah yang lain, lebih dekat dan lebih dekat saat aku bisa merasakan Luhan memegang pinggulku. Tapi tunggu. Jika O sedang datang untukku, aku ingin Luhan di dalam. Aku butuh dia di dalam diriku.
Menyentakkan pundaknya, aku menariknya ke atas tubuhku, kakiku menendang celana khakinya sampai tergeletak tak berdaya di lantai. "Luhan, aku butuh, please, di dalam, sekarang," kataku terengahengah, hampir tidak karuan dengan nafsu. Luhan, yang di didik dalam steno Minseok, memahami hal ini sepenuhnya dan menyeimbang di antara kakiku, pinggulnya menyeruduk pinggulku dalam hitungan detik. Ia membungkuk, menciumku sembrono, rasa diriku di seluruh tubuhnya. Dan aku menyukainya.
"Di dalam, di dalam, di dalam," aku terus bersenandung, punggung dan pinggulku melengkung secara bergantian, berusaha keras untuk menemukan apa yang kubutuhkan, apa yang harus kumiliki, untuk mendorongku dari tebing itu. Dia meninggalkanku hanya sedetik untuk meraba-raba celana khakinya, yang sudah kutendang setengah jalan di seluruh ruangan. Tanda gemerisik membiarkanku tahu bahwa aku aman, bahwa kami aman.
Akhirnya aku merasakan dirinya, tepat berada di mana dia ditakdirkan. Dia nyaris mendorong ke dalam, tapi rasa dari dirinya saja yang memasukiku adalah monumental. Kebutuhanku sendiri terdiam untuk saat ini, dan aku menyaksikan bagaimana ia mulai mendorong ke dalamku untuk pertama kalinya. Matanya menatap jemu ke dalam mataku saat aku menangkupkan wajahnya di tanganku. Dia terlihat seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. Kata-kata apa yang akan kami ucapkan, kasih sayang luar biasa seperti apa yang akan kita katakan untuk memperingati momen ini?
"Hai," bisiknya sambil tersenyum seolah-olah hidupnya tergantung pada itu. Aku tidak bisa menahannya kecuali tersenyum kembali.
"Hai," jawabku, mencintai nuansa dirinya, berat dirinya, di atasku. Dia meluncur dengan lembut ke dalam diriku, dan pada awalnya tubuhku menolak.
Ini sudah sekian lama, tapi sedikit rasa sakit yang aku rasakan bisa diterima. Itu semacam rasa sakit yang baik, rasa sakit yang membiarkanmu tahu sesuatu yang lebih akan datang. Aku sedikit santai, membebaskan kakiku untuk membungkus di sekitar pinggangnya, dan ketika dia menekan lebih jauh, senyumnya menjadi jauh lebih seksi. Dia menggigit bibir bawahnya dan garis kerutan kecil muncul di dahinya. Aku menarik napas dalam, menghirup aroma tubuhnya saat aku melihatnya menarik kembali sedikit saja, hanya untuk mendorong sekali lagi. Sekarang sepenuhnya di dalam, aku menyambutnya dengan satu-satunya cara yang kubisa. Aku memberinya pelukan kecil yang dalam, yang membuat matanya berkedip terbuka dan mengintip ke arahku.
"Ini dia gadisku," gumamnya, mengangkat satu alis gagahnya dan mendorong ke dalam diriku lagi, dengan keyakinan yang lebih banyak kali ini. Napasku tercekat di tenggorokan dan aku terkesiap, tanpa ku sadari menggoyang pinggulku ke dalam dirinya dengan gerakan seperti ombak yang bertabrakan di bawah sana.
Dengan lambat ia mulai bergerak dalam diriku, menggesek diriku dengan tekanan yang fantastis, setiap sudut dan sensasi baru lebih mengalah pada rasa geli hangat yang keluar di setiap ujung jari tangan dan kaki. Perasaan memiliki Luhan dalam diriku, di dalam tubuhku, lebih dari yang bisa aku artikulasikan. Aku mengerang, dan dia mendengus. Dia mendesah, dan aku merintih. Bersama-sama. Pinggulnya mendorongku lebih tinggi ke tempat tidur, ke arah kepala ranjang. Tubuh kami licin karena keringat, bertabrakan dan bertubrukan satu sama lain. Aku menyusupkan tanganku ke dalam rambutnya, menyentak dan menggeliat di bawah dirinya.
"Minseok, cantik sekali," desahnya di antara ciuman di dahi dan hidungku.
Aku memejamkan mata dan bisa melihat diriku, sekali lagi, di tepi tebing itu, siap untuk meloncat, butuh untuk meloncat. Sekali lagi, tekanan itu mulai membangun, pecahan energi itu memutar dirinya sendiri dalam liar dan panik, berdenyut dengan setiap dorongan, setiap luncuran dan kemiringan pinggulnya pada pinggulku, mendorongnya, tanpa henti, masuk dan keluar dari tubuhku.
Aku mengambil satu langkah terakhir, satu kaki sekarang menggantung dari tepi tebing, dan kemudian! Aku melihatnya ...sang O. Dia berada di air di bawah, rambutnya seperti api yang menari di sepanjang gelombang. Dia melambai dan aku melambaikan tangan dan hanya seperti itu, Luhan menyelipkan satu tangan di antara tubuh kami, tepat di atas di mana kami bergabung, dan dia mulai menjejaki lingkaran kecilnya. Lingkaran kecil dari tangan yang sempurna, dan aku meloncat. Aku melompat bebas dan jelas dan keras dan bangga, mengumumkan persetujuanku dengan "Yes!" yang kuat ketika aku buru-buru menuju ke ketinggian tertentu itu.
Dan aku jatuh. Dan jatuh. Dan jatuh. Jatuh dan membentur permukaan air yang tak kenal ampun, dan aku tidak muncul ke permukaan. Aku jatuh yang kelihatannya terasa lama sekali, tapi bukannya O menemuiku di bagian bawah dengan tangan terbuka, aku menggelepar, sendirian dan basah. Setiap otot di tubuhku, setiap sel berkonsentrasi pada kembalinya sang O, seolah-olah aku bisa menghendakinya kembali. Aku menegang, tubuhku mengencang dan kejang saat aku melihatnya, hanya sedikit ujung dari rambutnya, seperti api di bawah air, menjauh dariku. Dia begitu dekat, begitu sangat dekat, tapi tidak. Tidak.
Aku bergegas mengejarnya, berusaha dengan kemauan terjal untuk membuatnya muncul kembali, tapi tidak ada apapun. Dia sudah pergi, dan aku ditinggalkan di bawah air. Dengan orang yang paling tampan di dunia di dalam diriku. Aku membuka mata dan melihat Luhan di atasku, melihat wajah yang tampan saat ia bercinta denganku, dan inilah apa artinya ini. Ini bukan seks. Ini adalah cinta, dan aku masih tidak bisa menawarkan padanya semua yang aku punya. Aku melihat matanya berat dan tebal dan setengah tertutup dalam gairah. Aku melihat sebulir keringat mengalir di hidungnya dan melihat saat itu memercik dengan malas ke payudaraku. Aku melihat saat dia menggigit keras bibir bawahnya, ketegangan di wajahnya saat dia menunda klimaks.
Dia adalah segalanya yang aku harapkan akan menjadi orang yang menghadirkan kembali si O. Dia adalah seorang kekasih yang murah hati, dan aku bisa merasakan jantungku berdetak sampai meledak keluar dari dadaku agar menjadi lebih dekat dengannya, mencintainya. Dia adalah segalanya. Aku mengangkat tangannya dari antara tubuh kami dan mencium ujung jarinya, kemudian membungkus erat kakiku di pinggangnya dan melabuhkan tanganku di punggungnya. Dia sedang menunggu untukku. Tentu saja dia menunggu. Aku memujanya. Aku memejamkan mata sekali lagi, menguatkan diri untuk semua yang bisa aku berikan padanya.
"Luhan, nikmat sekali," aku terengah-engah, dan aku bersungguh-sungguh pada setiap kata. Aku menyentakkan pinggulku. Aku mengepal di semua tempat yang tepat, dan aku memanggil namanya, lagi dan lagi.
"Minseok, lihat aku, please," pintanya, suaranya penuh dengan kenikmatan. Aku membiarkan mataku untuk membuka lagi, merasakan satu tetes air mata di pipiku. Tatapan aneh berada di balik wajahnya hanya sedetik saat matanya mencariku, dan kemudian? Dia klimaks. Tidak ada guntur, tidak ada petir, tidak ada keriuhan. Tapi itu menakjubkan.
Dia roboh di atasku, dan aku menerima berat badannya. Aku menerima itu semua karena aku membuainya ke dadaku dan menciumnya lagi dan lagi, tanganku mengelus-elus punggungnya, kakiku memeluknya seerat yang aku bisa. Aku membisikkan namanya saat dia meletakkan kepalanya ke dalam ruang di antara leher dan payudaraku, belaian dan sentuhan yang sederhana.
Jantung kami kembali tenang dan diam-diam mendesah. Kami berbaring untuk sementara waktu, mendengarkan laut di surga kecil kami sendiri, ini bisa jadi dongeng romantis, seharusnya cukup. Ketika napasnya kembali normal, ia mengangkat kepalanya dan menciumku dengan sangat lembut.
"Minseok, Manis," dia tersenyum, dan aku tersenyum kembali, hatiku terasa penuh. Seks bisa jadi luar biasa, bahkan tanpa O. "Aku akan segera kembali, " katanya melepas diri dariku dan berjalan ke kamar mandi, pantat telanjangnya adalah sebuah pemandangan untuk dilihat. Aku melihatnya pergi, dan kemudian cepat-cepat duduk, menaikkan tali gaun tidurku kembali di bahuku.
Aku berguling menyamping, membelakangi kamar mandi, dan meringkuk di sekeliling bantalku. Ini telah menjadi satu-satunya pengalaman seksual terbaik dalam hidupku. Setiap ide sudah di hubungkan, setiap pikiran sudah di seberangi. Namun, masih tidak ada jalan keluar untuk O. Apa yang salah sih denganku?
Aku tidak akan menangis.
Aku tidak akan menangis.
Aku tidak akan menangis.
Meskipun dia hanya pergi dari tempat tidur selama beberapa menit, ketika dia kembali, aku panik dan pura-pura tidur. Kekanak-kanakan? Yap. Benar-benar kekanakan.
Aku merasakan kasur bergerak saat dia kembali naik, dan kemudian tubuh hangatnya dan masih sangat telanjang naik terhadapku, memelukku dari belakang.
Lengannya melilit di tengah tubuhku, kemudian mulutnya di telingaku, berbisik. "Mmm, Gadis Bergaun Tidur kembali memakai gaun tidurnya." Aku menunggu, tidak berbicara, hanya bernapas. Aku merasakannya mengguncang tubuhku sedikit dan tertawa kecil. "Hei, hei kau, kau tidur?"
Haruskah aku mendengkur? Setiap kali orang memalsukan tidur di sitkom, mereka mendengkur. Aku mengeluarkan dengkuran kecil. Dia mencium leherku, kulit pengkhianatku bangkit merinding karena mulutnya. Aku mendesah dalam "tidur," meringkuk lebih dekat dengan Luhan, berharap dia akan membiarkanku melakukan ini. Nasib sedang baik malam ini, karena ia hanya memelukku erat ke dadanya dan menciumku sekali lagi.
"Malam, Minseok," bisiknya, dan malam menetap di sekitar kami.
Aku berpura-pura mendengkur selama beberapa menit sampai dengkuran sungguhannya mengambil alih, dan kemudian aku menghela napas berat. Bingung dan mati rasa, aku terjaga sampai fajar.
.
.
.
.
Aku telah berpura-pura.
Berpura-pura mendapatkan O dengan Luhan. Pasti ada aturan tertulis di suatu tempat, bahkan mungkin dipahat di bebatuan: Engkau Tidak Boleh Berpura-Pura Mendapatkan O Dengan si Penggedor Dinding. Jadi biarlah itu tertulis, biarlah itu terjadi. Aku berpura-pura, dan sekarang aku ditakdirkan untuk mengembara di planet ini selamanya, tanpa O.
Apa aku bersikap terlalu dramatis? Oh my, ya. Tapi kalau ini bukan disebut sebuah drama kecil, lalu apa?
Pagi harinya, aku bangun dan turun dari tempat tidur bahkan sebelum Luhan terjaga, sesuatu yang belum pernah dilakukan sepanjang waktu kami berada di perjalanan kami bersama-sama. Biasanya kami tetap di tempat tidur sampai yang lain terjaga, dan kemudian duduk-duduk untuk sementara waktu, tertawa dan mengobrol. Dan berciuman.
Mmm, berciuman.
Tapi pagi ini aku buru-buru mandi lalu ke dapur membuat sarapan ketika Luhan yang mengantuk masuk ke dapur. Berjalan dengan menyeret kaki di lantai memakai kaus kakinya, dengan celana boxer rendah di pinggul, dia menyeringai melalui tatapan mengantuknya dan membenamkan diri ke sampingku saat aku mengiris melon dan buah berri.
"Apa yang kau lakukan di sini? Aku sedikit kesepian. Ranjang besar, tanpa Minseok. Kau pergi ke mana?" Tanyanya, menanam ciuman cepat di bahuku.
"Aku harus beraktivitas pagi ini. Ingat kan mobil datang menjemputku pukul sepuluh? Aku ingin membuatkanmu sarapan sebelum aku pergi." Aku tersenyum, berbalik untuk memberikannya ciuman cepat.
Dia menghentikanku saat akan berbalik dan menciumku lebih mendalam, tidak membiarkanku terburu-buru melewati apapun. Aku bisa merasakan diriku menutup, dan aku nyaris tak bisa menghentikannya. Aku butuh beberapa waktu untuk memproses hal ini, untuk memahami bagaimana perasaanku—selain sengsara. Tapi aku memuja Luhan, dan dia tidak layak untuk ini. Jadi aku membiarkan diriku jatuh ke dalam ciuman, tersapu oleh pria ini sekali lagi. Aku balas menciumnya dengan penuh semangat, gairah, dan kemudian menarik diri sebelum itu bisa menjadi sesuatu yang lebih dari ciuman.
"Buah?"
"Hah?"
"Buah. Aku membuat salad buah. Mau?"
"Oh, yeah. Ya. Kedengarannya bagus. Sudah menyeduh kopi?"
"Airnya mendidih. French press (alat penyeduh kopi sederhana yang mampu menghasilkan kopi tanpa ampas) sudah siap untuk digunakan." Aku menepuk pipinya saat aku melambaikan tangan ke arah panci.
Kami berdampingan di dapur, berbicara pelan, dan Luhan mencuri satu atau dua ciuman di sana-sini. Aku mencoba untuk tidak menunjukkan betapa kacaunya otakku, mencoba untuk berperilaku senormal mungkin. Luhan sepertinya merasakan sesuatu, tapi dia menangkap isyaratnya dariku, membiarkanku membuat pagi ini menjadi lebih nyaman. Kami duduk di luar di teras untuk terakhir kalinya, memakan sarapan kami bersama-sama dan menonton ombak yang memecah di tepi pantai.
"Apa kau senang kau ikut?" tanyanya.
Aku menggigit bibirku mendengar pernyataan yang sudah jelas ini. "Aku sangat senang. Perjalanan ini menakjubkan." Aku tersenyum, meraih ke seberang meja untuk memegang tangannya dan meremasnya.
"Dan sekarang?"
"Dan sekarang apa? Kembali ke realitas. Jam berapa penerbanganmu akan mendarat besok?" Tanyaku.
"Larut. Benar-benar larut. Haruskah aku menghubungimu atau..." Dia menyela, seakan bertanya apakah dia harus datang.
"Hubungi aku ketika kau sampai, tidak peduli jam berapa, oke?" Jawabku sambil menyesap kopi dan menonton laut. Dia diam sekarang, dan kali ini ketika aku menggigit bibirku, itu agar aku tidak menangis.
.
.
.
.
Aku sudah berkemas lebih awal, jadi ketika sopir sampai di sini, aku sudah siap untuk pergi. Luhan mencoba menggodaku untuk bergabung dengannya di kamar mandi, tapi aku menolak, membuat alasan untuk menemukan pasporku. Aku panik dan menarik diri hanya ketika kami sudah begitu dekat, tapi itu benar-benar mengejutkanku.
Aku telah menaruh semua O-ku ke dalam satu keranjang, dan masalahnya bukan Luhan. Itu aku. Seksnya terasa tidak nyata, menakjubkan, sempurna bahkan tanpa kondom, namun tetap saja, tidak ada O.
Luhan berjalan membawakan tasku ke mobil dan menempatkannya di bagasi. Setelah berbicara dengan sopir sejenak, ia kembali padaku saat aku berjalan melalui rumah untuk terakhir kalinya. Ini benar-benar seperti dongeng, dan aku menikmatinya setiap saat.
"Waktunya untuk pergi?" Tanyaku, bersandar ketika dia mendekatiku di pagar teras. Aku sangat senang merasakan dirinya menempel tubuhku.
"Waktunya untuk pergi. Kau sudah punya semua yang kau butuhkan?"
"Kurasa begitu. Walaupun aku berharap aku bisa mencari cara untuk membawa pulang beberapa udang itu." Aku tertawa, dan dia mendengus ke rambutku.
"Kupikir kita bisa menemukan sesuatu di rumah yang akan cocok. Mungkin kita bisa mengundang yang lain selama akhir pekan depan dan menciptakan beberapa hal yang kita makan di sini?" Aku berbalik untuk menghadapinya.
"Membuat debut kita?" Aku menyeringai.
"Ya, tentu. Maksudku, jika kau menginginkannya," tambahnya malu-malu, menatapku dengan hati-hati.
"Aku mau," jawabku. Dan aku memang ingin. Bahkan tanpa O bodoh yang diberkati, aku ingin bersama dengan Luhan.
"Oke, debutnya dengan udang. Kedengarannya aneh." Aku tertawa saat dia memelukku padanya. Sopir membunyikan klakson, dan kami beringsut menuju mobil.
"Aku akan meneleponmu ketika aku kembali, oke?" Katanya.
"Aku ada di sana. Lakukan pekerjaanmu dengan baik," perintahku. Dia mengusap rambutku kembali dari wajahku dan membungkuk untuk menciumku sekali lagi.
"Bye, Minseok."
"Bye, Luhan." Aku masuk ke dalam mobil. Dan melaju menjauh dari
negeri dongeng.
.
.
.
.
Setelah aku duduk nyaman di kursi kelas satuku, aku tidak punya apa-apa selain berjam-jam untuk merenung. Baru teringat. Aku tidak punya apa-apa selain berjam-jam untuk duduk dan mabuk dan menggerutu. Aku menangis di dalam mobil dalam perjalanan ke bandara, terus-menerus mencoba untuk menjamin sopirku bahwa aku baik-baik saja dan bukan orang gila berdarah dingin. Aku menangis karena, well, sangat yakin banyak ketegangan dalam tubuhku, dan itu harus keluar dengan cara tertentu. Dan memang begitu, melalui bola mataku. Aku sedih dan frustrasi. Sekarang aku sudah selesai menangis.
Aku mencoba untuk membaca. Aku menyetok majalah tak bermutu di bandara di Malaga. Saat aku membolak-baliknya, judul artikel melompat ke arahku: "Bagaimana Cara Mengetahui Jika Kau Memiliki Orgasme Terbaik yang Bisa Kau Alami.". "Lakukan Kegel untuk Mendapatkan Orgasme Berulang Kali.". "Cara Baru Menurunkan Berat Badan: Dapatkan Orgasme untuk Menjadi Lebih Kurus!"
Minseok Bagian Bawah, Otak, Tulang punggung, Jantung semuanya berbaris dan melempari batu kearah Saraf pusatku, yang sedang mencoba sebaik mungkin untuk bersembunyi.
Aku membanting semua majalah baruku, melemparkannya ke dalam sandaran di depanku. Aku meraih laptopku, menyalakannya, dan memakai speaker miniku. Aku memasukkan beberapa film sebelum penerbangan terakhir. Aku bisa membiarkan otakku melarikan diri ke dalam sebuah film. Ya, aku bisa melakukannya. Aku menggulir melalui beberapa film yang kupunya pada file...When Harry Met Sally? Tidak, tidak dengan adegan di deli. Top Gun? Tidak, itu adegan di mana mereka melakukannya, dan itu semua biru terang dengan angin bertiup melalui tirai tipis? Tidak, terlalu dekat dengan dongengku.
Aku menemukan film yang bisa kutonton dengan aman, minum tiga Tylenol PM, dan tertidur sebelum Luke belajar bagaimana menggunakan lightsaber (di film StarWars).
.
.
.
.
Di suatu tempat di antara sambungan penerbangan di LaGuardia dan penerbangan di seluruh AS, perasaanku perlahan berubah dari sedih menjadi marah. Aku kurang tidur, sudah selesai menangis tentang segala omong kosong, dan sekarang aku baik-baik saja dan marah. Dan di pesawat di mana berjalan mondar-mandir adalah sesuatu yang dilarang. Aku harus tetap di kursiku dan mencoba untuk merasionalisasi apa yang harus dilakukan dengan kemarahan ini dan bagaimana aku akan menjalani seluruh hidupku tanpa harapan mendapatkan O. Dan lagi, terlalu dramatis? Mungkin, tapi dengan tidak adanya O dalam pandangan, mudah untuk memiliki pemikiran sempit.
Akhirnya, kami mendarat di SFO dan saat aku mengikuti kerumunan untuk mengambil barang bawaan, kelelahan secara fisik dan emosional, aku mendongak ke wajah seseorang yang tidak pernah ingin kulihat lagi.
Cory Weinstein. Si senapan-mesin brengsek. Terpampang di seberang kios adalah wajah bodohnya dalam kampanye iklan raksasa Slice o 'Love Pizza Parlors. Aku berdiri di depan kepala raksasanya, yang memasang seringai terliciknya saat ia berpose dengan sepotong peperoni raksasa, dan kemarahanku menggelegak. Itu sekarang memiliki sasaran. Kemarahanku memiliki sasaran, dan itu adalah wajah bodohnya. Aku ingin memukul wajahnya, tapi itu hanyalah gambar.
Sayangnya, itu tidak menghentikanku. Bukan tindakan yang pintar untuk dilakukan, mengamuk tiba-tiba di sebuah bandara internasional. Ternyata mereka tidak menyetujui tindakanku. Jadi setelah peringatan keras dari TSA, dan sebuah janji bahwa aku tidak akan pernah menyerang poster lagi, aku menjejalkan diri ke dalam taksi, berbau pesawat, dan kembali ke apartemenku. Aku menendang pintuku sendiri saat ini, dan saat aku membanting tasku, aku melihat hanya ada dua hal yang bisa membuatku tersenyum.
Monggu dan KitchenAid-ku. Dengan suara mengeong keras, Monggu berlari mendekatiku, sebenarnya melompat ke dalam pelukanku dan menunjukkan kasih sayang yang ia sediakan tepat untuk momen seperti ini. Entah bagaimana otak kucing kecilnya tahu aku membutuhkannya, dan dia mencurahkan perhatian padaku karena hanya itu yang dia bisa. Menggoyangkan ekornya dan mengeong terus-menerus, dia menandukkan kepalanya ke bawah daguku dan membungkus cakar besarnya di leherku, memberiku pelukan kecil khas kucing. Tertawa ke bulunya, aku memeluknya erat-erat. Menyenangkan berada di rumah.
"Apa Paman Euan dan Paman Antonio merawatmu dengan baik? Hah? Siapa kucingku yang baik?" Rayuku, menjatuhkannya ke lantai dan meraih sekaleng tuna, imbalan untuk perilakunya yang baik selama aku pergi. Sekarang beralih dari Monggu, yang terfokus hanya pada mangkuknya, mataku terkunci pada KitchenAid-ku. Aku akan mandi, dan kemudian aku akan memanggang kue. Aku harus memanggang kue.
.
.
.
.
Beberapa waktu yang tidak diketahui kemudian—sekalipun aku akan mengatakan bahwa matahari telah terbenam dan terbit sementara aku menaburi tepung dan mengaduk—aku mendengar ketukan di pintu. Aku sudah memanggang begitu lama hingga merasa punggungku berkeretak dan berderak saat aku mengangkat kepalaku dari mengiris beberapa Brownies Ina yang Memalukan. Itu membutuhkan beberapa langkah tambahan, tapi oh boy, itu layak dilakukan. Jam berapa sih sekarang? Aku mencari-cari Monggu dan tidak melihatnya.
Aku beringsut ke pintu, menyadari ada gula bertebaran di seluruh lantai, coklat dan putih, dan aku tanpa sengaja melakukan tarian berjalan pelan. Ada ketukan di pintu, lebih mendesak kali ini.
"Aku datang!" Aku berteriak sambil memutar mata oleh ironi ini. Saat aku mengangkat tangan untuk membuka pintu, aku menyadari ada cokelat yang meleleh di seluruh buku-buku jariku. Tidak ada satupun yang terbuang, aku memberikan jilatan surgawi saat aku membuka pintu.
Di sana berdiri Luhan, tampak kelelahan.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak seharusnya pulang ke rumah sampai—"
"Tidak seharusnya pulang ke rumah sampai larut malam nanti, aku tahu. Aku mengambil penerbangan lebih awal." Dia mendorongku untuk memasuki apartemen.
Saat aku menutup pintu dan berbalik untuk menghadapnya, aku merapikan celemekku sedikit, merasakan sedikit adonan kue yang menempel. "Kau mengambil penerbangan lebih awal. Kenapa?" Tanyaku, berjalan pelan di lantai menuju kearahnya.
Dia melihat sekeliling dengan senyum geli, memperhatikan tumpukan demi tumpukan kue, berbagai macam kue di ambang jendela, roti zukini, roti labu, dan roti jeruk-cranberri yang dibungkus kertas alumunium, ditumpuk seperti fondasi rumah di sepanjang meja makan. Dia menyeringai sekali lagi, lalu berbalik padaku, mengambil kismis dari dahiku yang bahkan aku tidak tahu itu menempel di sana.
"Apakah kau akan memberitahuku mengapa kau berpura-pura mendapatkannya?"
.
.
.
.
Tbc
ncnya udah ya... chap depan dn seterusnya nc nih... jgn nanyain kpn ncnya lg
