TERPERANGAH, AKU BERDIRI dengan mulut ternganga saat ia melangkah lebih jauh ke dalam ruangan untuk memandangi bahan-bahan kue. Ia mengaduk-aduk gula dan berhenti sejenak untuk mencolekkan satu jari ke dalam sebuah mangkuk yang berisi cokelat leleh. Aku menghela napas berat saat aku kembali ke meja dapurku untuk menghadapinya dan musik saat aku mengambil bola adonan dari mangkuk lain dimana adonan itu telah mengembang.

Bagaimana ia bisa tahu? Bagaimana ia bisa mengatakannya dengan mudah? Aku membalik dan meremas adonan – sebuah adonan halus, brioche (sejenis roti Perancis) yang lengket - merasakan wajahku terbakar. Kupikir aku telah memainkannya dengan cukup baik. Aku kebetulan melihat ke arahnya ketika dia sedang menjilati cokelat dari jarinya, matanya terlihat semakin khawatir saat kegiatan menguleni adonanku berubah meninju. Aku menyalurkan rasa frustrasiku pada adonan brioche saat aku memikirkan hidup-kekurangan O.

Brengsek.

Jarinya sekarang bersih, ia menyisir seikat rambut ke belakang telingaku sambil aku terus memukul, meremas-remas dan membalik adonan brioche-ku. Aku berjengit ketika ia menyentuhku, gambaran menakjubkan dari dirinya menjulang tepat di atasku sangat tidak mungkin untuk diabaikan.

"Apakah kita akan membicarakan tentang ini?" Tanya dia diam-diam, meletakkan hidungnya ke leherku. Aku bersandar ke tubuhnya selama beberapa saat, kemudian aku menegakkan badanku kembali.

"Apa yang harus dibicarakan? Aku bahkan tidak tahu apa maksud perkataanmu. Apa kau telah mengigau karena perubahan waktu? "Kataku riang, menghindari tatapan matanya saat aku bertanya-tanya apakah aku bisa menghindari pembicaraan ini. Bisakah aku meyakinkannya bahwa dia-lah yang gila? Sialan, bagaimana dia tahu?

"Nightie girl, ayolah. Bicaralah padaku, "desaknya, sambil mengendus di sekitar leherku. "Jika kita akan melakukan ini, kita perlu berbicara satu sama lain."

Bicara? Tentu, aku bisa bicara. Ia mungkin harus tahu apa yang sedang ia lakukan denganku, dikutuk untuk mengembara dari satu planet ke planet yang lain tanpa satu O pun selama sisa hidupku. Aku mengambil adonan sekali lagi dan melemparkannya ke dinding. Adonan itu bergulung dan jatuh, lengket seperti sesuatu yang merangkak dan menyeramkan yang biasa aku mainkan ketika masih kecil. Aku berbalik untuk menghadapnya, wajahku masih merah tapi aku tak peduli sekarang.

"Akan jadi apa adonannya?" Tanyanya dengan tenang, sambil mengangguk ke arah onggokan adonan.

"Brioche. Itu tadinya akan menjadi brioche," aku segera menjawab, dengan nada panik.

"Aku yakin itu tadinya akan lezat."

"Banyak yang harus dilakukan - hampir terlalu banyak."

"Kita bisa mencobanya lagi. Aku akan dengan senang hati membantu."

"Kau tidak tahu apa yang sedang kau tawarkan. Apa kau memiliki ide bagaimana rumitnya hal itu? Berapa banyak langkah yang ada? Berapa lama waktu yang diperlukan?"

"Hal-hal baik datang kepada mereka yang menunggu."

"Demi Tuhan, Luhan, Kau tak tahu. Aku amat sangat menginginkan hal ini, bahkan mungkin lebih darimu."

"Mereka membuat crouton (semacam roti perancis tetapi bentuknya agak panjang) dari itu, kan?"

"Tunggu, apa? Apa sih yang kau bicarakan?"

"Brioche. Ini seperti, beberapa jenis roti, kan? Hei, berhentilah membenturkan kepalamu di atas meja." Granit ini terasa sejuk di atas kulitku yang panas, tapi aku membenturkan dengan lebih pelan saat mendengar nada panik dalam suaranya.

Ia tahu, dan ia masih di sini. Ia ada di sini di dapurku dalam balutan sweater North Face biru yang membuat mata hitamnya berkabut dan keseluruhan tubuhnya terlihat menyenangkan untuk dipeluk, hangat, seksi, jantan, dan amat sangat terlalu tampan hingga membuatku melayang. Dan di sinilah aku, dipenuhi oleh madu dan kismis, sambil membenturkan kepala di meja setelah membunuh brioche-ku.

Membunuh brioche-ku. Benar-benar sebuah nama yang bagus untuk - fokus, Minseok!

Jantungku nyaris melompat keluar dari dadaku saat aku melihat Luhan di pintu masuk. LM (Lower Minseok/vagina) sangat dekat di belakangnya, tanpa sadar menegangkan otot-ototnya akan sosok Luhan. Otak telah berhenti karena shock dan penyangkalan sejenak, tapi kini dengan menganalisis situasi dan condong untuk menyebutkan bahwa Luhan adalah calon yang layak, dengan

mempertimbangkan waktu dan jarak ia berkomitmen untuk menemukan penyebab kekhawatiran. Tulang punggungku menegak sekarang, dengan sadar aku mengetahui bahwa postur tubuh yang tepat menciptakan penampilan payudara yang lebih baik –bisakah kau menyalahkannya?.

Mengapa. Mengapa. Ia ingin tahu kenapa. Aku memeriksanya diantara poni...ehem...dan melihat ia mulai khawatir. Sedangkan aku - kepalaku benar-benar mulai terasa sakit. Aku lelah, kewalahan, dan minim orgasme. Dan butuh sentuhan yang tepat? Setelah satu benturan terakhir, aku berdiri tegak, kemudian berdiri sedikit ke arah kiri. Aku mendapatkan keseimbanganku, menarik napas, dan membiarkannya terbang.

"Kau ingin tahu kenapa?"

"Sangat ingin sekali. Apa kau telah selesai membenturkan kepalamu?"

"Tuhan memberkatinya, tidak ada lagi benturan. Oke, mengapa. Kenapa? Ini dia..."Aku mondar-mandir dalam lingkaran yang rapat, menghindari cokelat keping dan pecan yang berkumpul di dekat meja di lantai. Aku melihat Monggu di sudut, memukul beberapa kenari bolak-balik di antara cakarnya. Kacang berada di seluruh lantai, dan kebodohan di kepalaku. Sangat tepat sekali. "Apakah kau tahu sesuatu tentang pizza parlors, Luhan?"

Nilai tambahan untuk Luhan, ia mendengarkan. Ia mendengarkan saat aku berjalan mondar - mandir, mengitari meja dapur saat aku meracau dan mengamuk. Aku sendiri hampir tidak dapat membuatnya nyaris masuk akal : "Weinstein...satu malam...senapan mesin... Dia pergi!... malam panjang... Jordan Catalano... bahkan tidak George Clooney ... kekosongan... Oprah... kesepian... seorang diri... bahkan tidak Clooney!... Jason Bourne... hampir Clooney... lingerie pink... membentur..."

Setelah beberapa saat Luhan terlihat pusing seperti pertama kali aku rasakan. Tapi aku bertekad untuk mengeluarkan semuanya. Ia mencoba untuk menangkapku saat putaran pertama melewatinya, tetapi aku menghindari tangannya, nyaris tergelincir di sepetak pecan yang telah hancur, yang mana telah semakin aku hancurkan selama aku berkeliling. Aku telah membuat sebuah pola melalui kekacauan ini.

Aku berhasil melewatinya sekali lagi, kali ini sambil bergumam, "Cerita negeri dongeng Spanyol dengan udang," ketika aku tersandung kaleng muffin dan jatuh ke dalam pelukannya. Dia memelukku erat, bernapas melaluiku dan mencium dahiku.

"Seokie, sayang, kau harus ceritakan apa yang terjadi. Gumamanmu? Itu semua sangat lucu, tapi kita tidak benar-benar membicarakan apa-apa." Dia menekan tangannya ke punggungku, menahanku di tempat. Aku sedikit menjauh, menolak pelukannya dan menatap langsung ke dalam matanya.

"Bagaimana kau tahu?" Tanyaku.

"Ayolah, kadang-kadang para lelaki tahu."

"Tidak, sungguh. Bagaimana kau tahu? "Tanyaku lagi.

Dia mencium hidungku dengan lembut. "Karena tiba-tiba saja, kau bukanlah Minseok-ku."

"Aku memalsukannya karena aku sudah tidak merasakan orgasme dalam seribu tahun," Aku mengungkapkan kenyataan apa adanya.

"Ulangi lagi?"

"Aku akan ke seberang lorong untuk menendang pintumu sekarang," desahku, menarik diri dan berjalan dengan terseret melalui gula yang tersebar.

"Tunggu, tunggu, tunggu sebentar, kau apa? Kau sudah tidak merasakan apa?" Ia meraih tanganku ketika aku berbalik kembali kepadanya, dengan segala sesuatu yang lebih terbuka sekarang.

"Orgasme, Luhan. Orgasme. The Big O, klimaks, akhir yang bahagia. Tidak ada orgasme. Tidak untuk Nightie Girl ini. Cory Weinstein dapat memberikan diskon lima persen setiap kali aku menginginkannya, tapi sebagai imbalannya, ia mengambil Orgasmeku." Aku terisak, air mata menggenangi mataku. "Jadi kau bisa kembali ke haremmu. Aku akan memasuki biara dengan segera!" Aku menangis, akhirnya bendungan bobol.

"Biara? Apa? Kemarilah, kumohon. Bawa bokong dramatismu kesini." Ia menarikku dengan ogah-ogahan kembali ke dapur dan membungkusku ke dalam pelukannya. Dia mengayunku maju mundur ketika aku mengeluarkan isak konyol dan ratapanku.

"Kau begitu...sangat...menawan...dan aku tidak bisa...aku tidak bisa... Kau begitu hebat...di...ranjang...dan di tempat lain...Dan aku tidak bisa...aku tidak bisa...astaga...kau sangat seksi...Ketika kau orgasme...sangat panas...dan ketika kau pulang ke rumah...dan aku membunuh brioche-ku...dan aku...aku...Aku pikir...Aku mencintaimu." Semua berhenti. Bernapas. Apa yang barusan aku katakan?

"Minseokie, hei, berhentilah menangis, kau gadis cantik. Bisakah kau mengulangi lagi bagian terakhir untukku?"

Aku baru saja mengatakan kepada Luhan bahwa aku mencintainya. Sementara ingusku membasahi North Face nya. Aku menghirup aroma tubuhnya, lalu melepas diri darinya dan menuju ke dinding untuk mengelupas adonan yang menempel di sana. Sang Syaraf menjadi hidup dan lebih peka, untuk sekalinya bekerja untuk kami. Bisakah aku menutupinya? Bisakah aku mengerahkannya?

"Bagian mana?" Aku bertanya sambil menghadap dinding – dan Monggu, yang telah berhenti bermain dengan kacang untuk mendengarkan perbincangan kami.

"Bagian terakhir itu," Aku mendengarnya berkata, suaranya begitu kuat dan jelas.

"Aku membunuh brioche-ku?" hindarku.

"Kau benar-benar berpikir itu bagian yang sedang aku tanyakan?"

"Um, tidak?"

"Coba lagi."

"Aku tidak ingin."

"Minseok - tunggu, apa marga mu?"

"Kim."

"Kim Minseok," ia memperingatkan, dengan suara dalam yang secara tak terduga membuatku tertawa terkikik.

"Brioche benar-benar enak, ketika tidak bercampur dengan dinding," semburku, kelelahanku bercampur dengan pengakuanku menghasilkan sebuah getaran yang aneh. Aku benar-benar merasa sedikit lega.

"Berbaliklah, kumohon," pintanya, dan aku menurutinya. Dia bersandar di meja, melepaskan North Facenya yang berlumuran ingusku. "Aku mengalami sedikit jetlag, jadi yang dapat kusimpulkan dengan cepat, jika aku bisa. Satu, kau nampaknya telah kehilangan orgasmemu, benar?"

"Benar," gumamku,, memperhatikan Luhan melepaskan jaketnya, melemparkannya ke belakang salah satu kursiku.

"Dua, brioche benar-benar sulit untuk dibuat, benar?"

"Benar," aku menarik napas, tidak mampu mengalihkan tatapanku darinya. Di bawah North Face adalah kemeja putih. Yang cukup baik dengan sendirinya membuatnya nampak lebih yummy , tapi ditambahkan dengan cara Luhan menggulung lengan kemejanya dengan sangat perlahan dan metodis? Itu sangat mempesona.

"Dan tiga, kau pikir kau mencintaiku?" Tanyanya, suaranya dalam dan kental, seperti tetes tebu dan madu dan segala sesuatunya dalam afghan –selimut, bukan sebuah negara.

"Benar," bisikku, tahu bahwa hal itu adalah seratus persen benar. Aku mencintai Luhan. Sangat, sunguh teramat mencintainya.

"Kau pikir, atau kau tahu?"

"Aku tahu."

"Nah, sekarang. Itu sesuatu yang perlu dipertimbangkan, bukan?" jawabnya, matanya menari saat ia mendekat. "Kau benar-benar tidak tahu, kan?" Dia merentangkan tangannya di sepanjang tulang selangkaku, menyapukan ibu jarinya di puncak payudaraku.

Napasku semakin memburu, tubuhku mulai hidup dan terlepas dari control diriku sendiri. "Tidak tahu tentang apa?" Gumamku, mengijinkannya menekanku ke dinding.

"Bagaimana kau memilikiku sepenuhnya, Nightie Girl," katanya, bersandar dan membisikkan bagian ini di telingaku. "Dan aku tahu aku cukup mencintaimu untuk menginginkanmu mendapatkan akhir bahagiamu."

Dan kemudian dia menciumku–Sang Hati sedang berada di surga- menciumku seperti itu adalah sebuah kisah dongeng, meskipun dalam dongeng ini aku punya sebuah adonan yang menempel di punggungku dan kucing dengan cakar yang penuh dengan kacang. Tapi itu tidak menghentikanku dari menciumnya kembali seolah-olah hidupku tergantung pada hal itu.

"Apakah kau tahu aku mulai jatuh cinta padamu sejak malam kau menggedor pintuku?" Tanyanya, sambil menciumi leherku. "Dan begitu aku mulai mengenalmu, aku sudah tidak berkencan dengan orang lain lagi?"

Aku terkesiap. "Tapi kupikir, maksudku, aku melihatmu dengan-"

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi itu benar. Bagaimana aku bisa dengan orang lain ketika aku sedang jatuh cinta denganmu?" Dia mencintaiku! Tapi tunggu, apa ini? Dia mundur… dia mau kemana?

"Dan sekarang, aku akan melakukan sesuatu yang tak pernah kupikir akan lakukan." Desahnya, melihat tumpukan roti di atas meja.

Dengan sebuah napas panjang dan meringis, dalam satu gerakan ia menjatuhkan semua ke lantai. Roti berbentuk batu bata yang tertutup kertas alumunium berjatuhan menghujani di sekitaran kami, dan aku tak bisa memastikannya, tapi kupikir aku mendengar rengekan kecil keluar darinya saat ia melihat mereka jatuh ke lantai. Tapi kemudian ia berpaling padaku, matanya gelap dan berbahaya. Dia meraihku dan mengayunkanku ke atas meja di depannya, menyenggol kakiku agar terpisah untuk berdiri di antara mereka.

"Apakah kau tahu berapa banyak hal menyenangkan yang akan kita lakukan?" Tanyanya, sambil menyelipkan tangannya ke dalam celemekku, hangat dan sedikit kasar di perutku.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Sebuah Orgasme telah hilang, dan aku seorang pecinta tantangan." Luhan menyeringai, menarikku ke tepi meja dan menempelkanku padanya. Dengan tangannya di belakang lututku, ia membungkus kakiku di pinggangnya, menciumku lagi, bibir dan lidah panas yang menghasilkan ciuman dalam yang memabukkan.

"Ini tidak akan mudah. Dia sudah hilang begitu lama," protesku diantara ciuman, sibuk membuka kancing bajunya dan mengekspos kulit hasil mandi matahari Spanyolnya.

"Aku telah selesai berhubungan dengan sesuatu yang mudah."

"Kau harus mencetak kata-kata itu pada kartu."

"Cetak ini –kenapa kau masih berpakaian?" Dia membaringkanku, punggungku melintang di atas meja saat aku tersenyum ke arahnya. Kakiku memukul ayakan tepung dan membuatnya jatuh ke lantai, mengotori kami dalam prosesnya.

Rambut Luhan tampak seperti biskuit, mandi tepung dan mengembang. Aku terbatuk dan segumpal tepung keluar, membuat Luhan tertawa terbahak-bahak. Tertawa itu berhenti ketika aku mengulurkan tangan kearah bagian bawah Luhan dan aku menemukan dia keras, namun masih tertutup oleh celana denimnya. Dia mengerang, suara favoritku di dunia.

"Sial, Seokie, aku sangat menyukai tanganmu pada milikku," desisnya melalui giginya, membenamkan mulutnya ke leherku dan meninggalkan jejak ciuman panas di kulitku. Lidahnya menyapu seluruh tubuhku, di bawah tepi celemekku. Tangannya dengan cepat menemukan bagian bawah tank topku, dan itu langsung melayang ke seberang ruangan, ke wastafel dapur. Dalam hitungan detik, sehelai celana pendek menemukan diri mereka berenang bersama, segera diikuti oleh sehelai jeans dan kemeja putih.

Celemek? Well, kami memiliki sedikit masalah dengan yang satu.

"Apakah kau seorang pelaut? Siapa sih yang mengikat simpul ini, Popeye?" Ia geram, berjuang untuk melepaskannya. Dalam perjuangannya, ia berhasil menjatuhkan semangkuk selai jeruk oles, yang kini menetes ke bawah meja dan ke lantai. Kontribusiku adalah menumpahkan sekotak kismis saat aku menjulurkan leherku mencoba untuk melihat simpul di belakangku

"Oh, persetan dengan celemeknya, Luhan. Lihatlah kesini," aku bersikeras, sebuah hentakan bagian depan bra-ku dan melemparkannya ke lantai. Aku menarik bagian atas celemek ke bawah, mengatur dan menopang belahan dadaku. Mata Luhan terbelalak sebesar pie, dia memandang payudaraku yang sekarang telanjang dan langsung menyerangnya. Aku didorong dengan kasar

sekali lagi kembali ke meja, mulutnya yang mendesak sekarang mengarah ke leherku, menyerang kulitku seakan-akan telah melakukan sesuatu yang pribadi padanya dan Luhan menuntut balas dendamnya. Dan balas dendam itu penuh nafsu.

Mencelupkan jari ke genangan selai jeruk, Luhan menelusuri pola dari satu payudara ke payudara yang lain, berputar-putar dan menekan jari lengket ke kulitku. membungkukkan kepalanya, ia mencicipi satu, kemudian yang lain, kami berdua mengerang pada saat yang sama.

"Mmm, rasamu enak."

"Aku senang aku tidak membuat hot wings. Ini bisa menjadi cerita yang berbeda–wow, itu bagus. "Aku mendesah saat ia menanggapi mulut sok pintarku dengan gigitan yang sebenarnya.

"Ini akan menjadi rasa ekstra pedas." Luhan tertawa saat aku memutar kedua mataku.

"Mau aku ambilkan beberapa batang seledri untuk mendinginkanmu?" Tanyaku.

"Tak ada satupun yang akan didinginkan di apartemen ini, tidak dalam waktu dekat," janjinya, meraih toples madu dari meja di dekatnya dan menarik celemekku ke samping. Tanpa ragu, ia membuat celana dalamku basah semua. Dan tidak seperti yang kau pikirkan, walaupun ada saat dimana... Ketika aku melihat, ia menuangkan madu ke seluruh tubuhku, mengulasi celana dalamku dan membuatku menjerit. Dia berdiri kembali untuk mengagumi.

"Lihat itu, celana dalam itu rusak. Mereka harus segera dilepaskan," katanya sambil mendekat lagi. Aku menghentikannya dengan kaki penuh selai.

"Kau dulu, Tuan," aku menginstruksikannya, mengacu pada celana boxernya yang penuh bercak tepung. Luhan mengangkat alis, dan menjatuhkan celana boxernya. Berdiri telanjang di dapurku yang hancur berantakan, dia benar-benar menggemaskan.

Pada saat itu juga, sang Jantung, sang Otak, sang Tulang belakang, dan sang LM berbaris di satu sisi taman bermain. Mereka memanggil Saraf, melambai padanya seperti permainan Red Rover. Aku menatap Luhan, telanjang , bertepung dan sempurna, dan aku mendesah dengan senyum yang lebar. Gairahku terpancing, akhirnya, syukurlah, menghampiri dengan cepat, dan akhirnya kami berada pada halaman yang sama.

"Aku sangat mencintaimu, Luhan."

"Aku juga mencintaimu, Nightie Girl. Sekarang singkirkan celana dalammu dan berikan aku sesuatu yang manis-ciuman-."

"Datang dan dapatkan sendiri," aku tertawa, duduk tegak dan melepaskan celana dalamku menuruni kakiku yang berbalurkan madu. Aku melemparkannya ke arah Luhan, dan celanaku menghantam dadanya dengan pukulan keras, madu menetes ke segala arah.

"Kita akan membutuhkan mandi yang sangat lama setelah semua ini," kataku saat Luhan membungkusku dalam lengannya yang lengket.

"Itu akan menjadi putaran ke-dua." Dia tersenyum, mengangkatku dan membawaku ke kamar tidur, tubuhku selaras dengannya, hanya celemek diantara kami. Dan itu tidak akan membuat kami terpisah lama.

Apakah aku perlu O? Maksudku, itu diperlukan untuk hidup? Berada di dekat Luhan, begitu dekat dengannya, terbungkus dalam pelukannya dan merasa dia bergerak di dalamku, apakah itu sudah cukup?

Untuk saat ini, itu cukup. Aku mencintainya, kau lihat ...

.

.

.

Dia menjatuhkanku diatas tempat tidur, dan aku terlonjak sedikit, berguling ke samping dan membuat kepala ranjang sedikit terantuk.

"Kau akan menggedor dindingku, Lu?" Aku tertawa.

"Kau tidak tahu," janjinya, dan meremas celemekku dan memindahkannya ke samping saat aku mendesah dan melemparkan kedua lenganku di atas kepalaku. Aku mundur dengan malas, dengan senyum lebar di wajahku. Jari-jarinya berjalan ke bawah perutku, pinggulku, pahaku, akhirnya mencapaiku. Setelah sentuhan lembut, aku membiarkan kakiku jatuh terbuka. Dia menjilat bibirnya dan berlutut.

Dia menyentuh dan mencicipiku seperti yang dia lakukan di Spanyol, tapi ini berbeda. Ini masih terasa luar biasa, tapi aku berbeda. Aku santai. Memutar dan melingkarkan jari-jarinya, ia menemukan titik itu, titik yang yang membuatku melengkungkan punggungku dan rintihanku semakin dalam. Dia mengerang padaku, membuatku melengkungkan tubuh naik dari tempat tidur lagi, bibir dan lidahnya menemukanku sekali lagi, dengan sengaja. Tanganku mencari payudaraku, dan ketika di memperhatikanku, aku memainkan putingku, membuat mereka semakin kencang lagi.

Sekali lagi, aku mendapat kehormatan yang berbeda merasakan mulutnya, mulutnya yang luar biasa, padaku. Energiku disita habis, seluruh tubuhku menegang karena hasrat, dan kemudian aku merasa santai sekali lagi. Aku mulai merasa, benar-benar merasakan segala sesuatu yang terjadi pada saat ini. Cinta. Aku merasakan cinta. Dan aku merasa dicintai…

Di sini pada siang hari, di mana tidak ada yang bisa disembunyikan, semuanya terpampang jelas-dan tertutup barang yang berantakan-aku dicintai oleh lelaki ini. Tidak ada dongeng, tidak ada ombak, tidak ada lilin berkelap-kelip. Kehidupan nyata. Sebuah kisah dongeng dalam kehidupan nyata dimana akulah yang dicintai oleh pria ini. Dan maksudku sangaaaaaaaat dicintai oleh pria ini.

Lidah. Bibir. Jemari. Tangan. Semua itu didedikasikan untukku dan kenikmatanku. Seorang gadis bisa terbiasa dengan ini.

Aku bisa merasakan ketegangan manis mulai terbangun, tapi kali ini tubuhku menerimanya dengan berbeda. Tubuhku, selaras dengan sempurna untuk kali ini, telah siap, dan dalam pikiranku, di belakang mata tertutup, aku melihat diriku mulai mendekati tebing itu. Dalam kepalaku, aku tersenyum, karena aku tahu kali ini aku akan menangkap si jalang itu. Dan kemudian? Hal yang sangat

menakjubkan mulai terjadi di bawah. Jari panjang yang hebat itu menekan dalam diriku, memutar, dan melengkung, dan menemukan titik rahasia. Bibir dan lidah mengelilingi tempat lainnya, mengisap dan menjilati, menekan dan berdenyut. Tusukan cahaya kecil mulai menari di balik kelopak mataku, intens dan liar.

"Oh, Tuhan ... Luhan ... Itu sangat ... nikmat ... Jangan ... berhenti ... jangan ... berhenti ..." Aku mengerang keras, lebih keras, dan kemudian lebih keras lagi, tak mampu menahan suara yang sedang kubuat. Itu begitu nikmat, begitu nikmat, sangat, sangat nikmat, begitu dekat, begitu dekat .. Dan kemudian suara teriakan dimulai. Dan itu bukan aku hanya sendiri.

Dari sudut mataku, aku menyadari sesuatu seperti rudal berbulu meluncur dari lantai.

Seperti semacam bom kucing yang terjun, Monggu berlari pada Luhan, melompat, dan mencengkram punggungnya, menyerangnya dari belakang.

Luhan berlari dari kamar tidur menuju selasar, kemudian kembali lagi, Monggu masih terkunci seperti semacam bagian belakang dari topi bulu rakun gil yang tidak bisa dilepas. Kedua lengannya – apakah kucing memiliki lengan? - melilit leher Luhan dengan cara yang dalam keadaan lain akan tampak seperti pelukan kucing menggemaskan. Tapi sekarang, dia bersungguh-sungguh menyakiti.

Aku berlari mengejar mereka, telanjang kecuali sebuah celemek yang menempel di tubuhku, berusaha untuk membuat Luhan melambat, tapi dengan sepuluh cakar yang menusuk semakin dalam, ia terus berlari dari kamar ke kamar.

Ironi bahwa Luhan secara harfiah benar-benar mencoba untuk melarikan diri dari pussy (kucing = vagina) tidak luput dari benakku.

Jika aku bisa menyaksikannya dari luar, bukannya terlibat, aku pasti akan terpingkal-pingkal hingga mengencingi diriku sendiri. Namun begitu, aku mengalami kesulitan menahan diriku mendengarkan jeritan Luhan. Aku pasti benar-benar mencintainya. Akhirnya, aku memundurkan mereka berdua ke sudut, membalik tubuh Luhan, menahan keinginan untuk meremas pantatnya, dan menarik agar Monggu terlepas. Aku segera menuju ke ruang tamu dan meletakkan dia di sofa dengan bunyi thunk, menepuk-nepuk kepalanya sekali sebagai ucapan terima kasih untuk pertahanannya, meskipun tidak beralasan untuk dilakukan. Monggu menjawab dengan satu meongan yang sombong dan mulai menjilati kumisnya.

Aku kembali ke dapur untuk mencari Luhan, yang masih meringkuk di dinding. Aku memperhatikannya, matanya liar saat ia bersandar ke dinding, meringis mengacu pada punggungnya. Pandanganku tertarik lebih rendah. Sukar dipercaya.

Dia

Ternyata

masih

Ereksi

Dia melihat mataku menyusuri bagian bawah ke tubuhnya, mengingatkan pertama kali kami bertemu muka. Dia mengangguk malu-malu.

"Kau masih ereksi," seruku, terengah-engah saat aku mencoba sekali lagi untuk melepaskan celemek.

"Ya."

"Itu luar biasa."

"Kau mengagumkan."

"Ah, fuck," Aku mendengus, menyerah pada simpul celemek.

"Ya, silakan."

Aku berhenti untuk sepersekian detik, kemudian memutar apron ke belakang punggungku dalam satu gerakan cepat. Aku melompat ke seberang ruangan, celemekku terbang ke belakang seperti jubah rendah dan menubruknya, mendorongnya ke dinding saat aku menyerangnya. Dia menangkapku saat aku memeluknya seperti selimut dengan penuh semangat, menciumnya habis-habisan. Kukuku mencakar dadanya, dan ia terperangah.

"Punggungmu baik-baik saja?" Tanyaku diantara ciuman.

"Aku akan bertahan hidup. Tapi kucingmu,.."

"Dia protektif. Dia pikir kau sedang menyakiti Mommy."

"Benarkah?"

"Oh tidak, justru sebaliknya."

"Sungguh?"

"Tentu saja," aku menjerit, menyelipkan tubuhku padanya, memanipulasi tubuhku terhadapnya, madu dan gula licin dan bergesekan diantara kami.

Aku menyeret diri turun ke tubuhnya, berhenti untuk mencium paling ujung dirinya. Aku menariknya ke turun lantai bersamaku dan membalik tubuhnya hingga telentang begitu cepat sehingga kepulan tepung menutupi udara. Di sana, di tengah-tengah dapur, telanjang dengan selai marmalade menghiasi payudaraku, aku duduk mengangkangi dia. Mengangkat tubuh sedikit, aku menangkap tangannya dan mendorongnya untuk meraih pinggulku.

"Kau harus bersiap menghadapi ini," bisikku, dan tenggelam ke tubuhnya. Kami berdua mendesah pada saat yang sama, merasakannya di dalamku sekali lagi amat menakjubkan. Aku melengkungkan punggung dan pinggulku tertekuk eksperimental ... sekali ... dua kali ... untuk ketiga kalinya. Itu benar-benar benar apa yang mereka katakan tentang naik sepeda. Tubuhku ingat ini dengan cepat.

"Kau telah menahan selama ini," bisikku, dan tenggelam ke tubuhnya. Kami berdua mendesah pada saat yang sama, perasaan dengan adanya dia di dalamku sekali lagi amat menakjubkan. Aku melengkungkan punggungku dan melenturkan pinggulku secara eksperimental ... sekali ... dua kali ... untuk ketiga kalinya. Ini benar-benar benar apa yang mereka katakan tentang mengendarai sepeda. Tubuhku ingat ini dengan seketika.

Dengan celemek bodohku berkibaran genit di belakangku, aku mulai bergerak di atas Luhan, merasakan dia bergerak dalam diriku, menanggapi dan membalas, menghujam dan tak kenal henti. Mengendarai, mendorong, kami bergerak bersama, sebenarnya bahkan bergerak menyeberangi lantai dapur sedikit. Dia duduk di bawahku bergerak lebih dalam hingga aku berteriak. Tanganku bergerak liar di rambutnya. Rambutnya berdiri tegak di bawah jari-jariku ketika aku pegang, menahan diriku saat aku memejamkan mata dan memulai.

Mulai perjalanan panjang menuju ke tepian tebing.

Aku bisa melihat tepian itu, tinggi di atas perairan yang menggelora. Saat aku mengintip melewati tepian, aku melihatnya. Sang O. Dia melambai padaku, menyelam di bawah dan di atas air seperti lumba-lumba seksual. Dasar jalang cilik yang licik. Luhan menciumi leherku, menjilat dan mengisap kulitku, membuatku gila.

Aku mendorong Luhan kembali ke lantai, meraih tangannya dengan tanganku, dan membawa tangannya itu di antara kakiku. Aku menungganginya dengan keras, menekan jari-jariku padanya, jeritanku semakin keras saat kami mempercepat goyangan kami, kami berdua, selaras dan tepat di sana. Tepat diisana. Disana, disana, disana...tepat...disana...

"Seokie, Demi Tuhan, kau... menakjubkan... sangat... mencintai... mu... membunuh... ku..." Dan itulah sedikit tambahan yang kubutuhkan. Dalam benakku, aku mengambil satu langkah mundur, kemudian menyelam Tidak melompat. Menyelam. Melakukan penyelaman bak angsa yang sempurna, terima kasih banyak, langsung ke dalam air. Bersih dan murni, aku meraihnya dan tidak membiarkannya pergi saat aku meluncur ke dalam air.

Sang O telah kembali.

White noise memenuhi telingaku saat jari-jari kaki dan jemariku merasakannya pertama kali. Mereka tergelitik, desisan kecil dan percikan energi berputar dan keluar, mengalir melalui setiap saraf dan setiap sel yang telah kelaparan selama ini selama berbulan-bulan. Sel satu memberi tahu sel lain, berkomunikasi dengan saudara mereka bahwa sesuatu yang fantastis terjadi. Warna meledak di balik kelopak mataku, menyembur dengan terang menjadi kembang api sensorik mungil saat perasaan terus menyebar ke setiap sudut tubuhku. Rasa nikmat yang murni melesat ke seluruh tubuhku, berdenyut dan mengiris, mengisiku ketika aku berguncang dan bergoyang-goyang di atas Luhan, yang mengamati keseluruhan hal yang terjadi.

Aku tidak tahu apakah ia bisa melihat paduan suara malaikat cabul bernyanyi, tapi tidak peduli. Aku bisa. Dan itu definisi kebahagiaan. O kembali, dan dia membawa serta teman-temannya. Gelombang demi gelombang menghantamku saat Luhan dan aku terus menekan dan berputar, melengkung ke dalam setiap dari mereka. Kepalaku terlempar ke belakang saat aku terus menjerit penuh gairah, tidak peduli siapa atau apa yang bisa mendengarku di Rumah Orgasme-ku sendiri.

Aku membuka mata pada satu titik untuk melihat Luhan di bawahku, panik dan bahagia, tersenyum lebar saat dia tetap bersama denganku melalui semua itu, seluruh upaya kerasnya jelas tergambarkan di wajahnya saat tepung di rambutnya berubah menjadi pasta kecil yang indah. Dia menjadi papier-maché.

Masih berlanjut Aku meronta-ronta, melewati tanah kelipatan dan masuk ke semacam tanah tak bertuan. Melewati lapisan keenam dan ketujuh, tubuhku menjadi lemas akibat orgasme berulang. Namun O membawa satu teman lagi. Dia membawa G, Holy Grail. (G-Spot). Gagap seperti idiot, aku mencengkeram Luhan, memegangnya erat-erat saat gelombang pasang cinta terbesar dan panas yang melengkungkan jari kaki memukulku seperti satu ton batu bata. Merasakan aku butuh bantuan untuk yang satu ini, Luhan duduk, yang mana malah memposisikannya menjadi lebih unik. Ia menemukan sebuah titik jauh dalam, yang sebagian besar tersembunyi, dan dia bersandar padaku, menggerakkan diri berulang-ulang saat aku menahan napas dan berpegangan erat-erat.

Aku akhirnya membuka mata lagi, melihat percikan cahaya di sekitar ruangan ketika oksigen bergegas masuk kembali ke sistem pernafasanku. Aku mengoceh dengan tidak karuan ke dadanya saat ia bergoyang ke arahku lagi dan lagi, akhirnya menemukan jenis menakjubkan untuk dirinya sendiri di suatu tempat dalam diriku. Aku memegangi dia, merasakan gelombang akhirnya mundur, kami berdua gemetar sekarang. Saat kami berdua terengah-engah, kenikmatan menghilang dan cinta bergegas masuk, mengisiku

kembali lagi. Mulutku terlalu lelah untuk bergerak. Dia telah membuatku terpaku. Jadi aku melakukan hal terbaik sebisaku, aku meletakkan tangannya di atas hatiku dan menciumi wajah manisnya. Dia tampaknya mengerti, dan menciumku kembali. Aku bersenandung dengan kebahagiaan. Bersenandung tidak memerlukan banyak usaha.

Benar-benar kehabisan energi dan kelelahan, mabuk dan tertutup keringat lengket, aku berbaring dengan punggungku di kakinya, tidak peduli betapa aneh dan konyol aku melihat air mata ketegangan mengalir menuruni sisi wajahku dan ke telingaku. Merasakan ini bukan posisi yang paling nyaman untukku, Luhan bergerak keluar dari bawahku dan membantu untuk meluruskan kakiku yang bak pretzel sebelum membuaiku dalam pelukannya di lantai dapur.

Kami berbaring dalam diam, tidak berbicara untuk sementara waktu. Aku melihat Monggu duduk dekat pintu ke kamar tidur menjilati cakarnya dengan tenang. Semuanya terlihat sangat baik. Ketika sebuah gerakan tampak memungkinkan untukku, aku mencoba duduk, ruangan terasa sedikit berputar. Luhan meletakkan satu lengan disekelilingku saat kami menilai situasi, mangkuk terbalik dan botol-botol, roti tersebar, kekacauan yang berada di dapurku. Aku tertawa pelan dan berbalik kepadanya. Dia menatapku dengan mata bahagia.

"Haruskah kita membersihkan ini?" Tanyanya.

"Tidak, mari kita mandi."

"oke," jawabnya, membantuku berdiri.

Aku meretakkan punggungku seperti seorang wanita tua, mengernyit pada nyeri nikmat yang dirasakan tubuhku. Aku mulai menuju kamar mandi, kemudian mengubah arah, menuju lemari es. Aku meraih sebotol Gatorade dan melemparkan itu padanya. "Kau akan membutuhkannya." Aku mengedipkan mata, menerbangkan celemek dalam perjalananku ke kamar mandi. Sekarang, ketika O itu kembali, aku berencana untuk tidak membuang-buang waktu untuk memanggilnya lagi.

Kemudian Luhan mengikutiku hingga kamar mandi, lalu menenggak Gatorade, Monggu tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai, berguling di punggungnya. Ia tampak melambai pada Luhan dengan cakarnya. Luhan menatapku, dan aku mengangkat bahu. Kami berdua menatap Monggu, yang menggoyangkan punggungnya, terus melambai padanya. Luhan berlutut tepat di sampingnya, dengan sangat hati-hati memperpanjang satu tangannya. Mengerling padaku-aku bersumpah kepada Tuhan ketika dia-Monggu bergoyang sedikit lebih dekat. Mengetahui hal ini masih bisa menjadi jebakan, Luhan masih dengan sedikit hati-hati mengulurkan tangan dan menyentuh bulu di perutnya. Monggu membiarkannya. Aku bahkan mendengarnya mendengkur dengan tenang.

Aku meninggalkan dua laki-laki itu sejenak dan pergi untuk menghidupkan keran air panas. Aku akhirnya dapat melepaskan simpul celemek dan bisa meninggalkannya di lantai. Melangkah di bawah semprotan pancuran air panas, aku mengerang pada perasaan air hangat menerpa kulitku-yang-masih-sensitif.

"Kau akan bergabung denganku? Karena aku yakin itu, "Aku berseru padanya dari derasnya pancuran, menertawakan leluconku sendiri.

Sesaat kemudian Luhan mengintip belakang sudut tirai mandi untuk melihatku telanjang dan ditutupi gelembung. Dia tersenyum seperti iblis saat ia ikut masuk. Napasku tertahan saat melihat sepuluh tusukan kecil di punggungnya, tapi ia hanya tertawa.

"Kami baik-baik saja. Aku pikir kami baru saja berteman," Dia meyakinkan, menarikku mendekatinya dan bergabung denganku di bawah air.

Aku mendesah, santai. "Ini nyaman," gumamku.

"Ya." Air meluncur turun di sekeliling kami. Aku berada dalam pelukan Luhan-ku, dan itu tidak bisa lebih baik lagi. Dia mundur sedikit, sebuah pertanyaan tersirat di wajahnya.

"Minseok?"

"Hmm?"

"Apakah apakah diantara roti yang aku lemparkan di lantai ... well ..."

"Ya?"

"Apakah semua itu zukini?"

"Ya, Lu, ada roti zukini."

Hening sekali lagi, kecuali suara air yang mengucur.

"Seokie?"

"Hmm?"

"Aku tidak berpikir bahwa aku bisa mencintaimu lebih, tapi aku pikir mungkin bisa."

"Aku lega, Lu. Sekarang berikan aku sedikit ciuman."

.

.

.

Tbc

Dan lagi-lagi NC. Part selanjutnya juga NC. Tp aku pisah jadi dua part cs takut kepajangan. 6000 word itu kepanjangan menurutku jd aku potong deh jd dua part. Yg tadinya aku pikir dipart ini bakal tamat mlh masih ninggal 2 part lg. ya ampun.. aku berharap ff ini cepet end. Lama banget rasanya ni ff endnya.