Part ini full NC. OMG… aku nista banget cemarin otak kalian sama NC. Jangan maki aku sok suci weh… aku udah mulai insaf aja jadi rasanya bersalah aja ngasih NC. Yah… yg dibawah 20+ menyingkir. Aku gak mau ngerusak otak polos (?) kalian. Di ff ini sebenernya mereka banyak make kata kiasan jadi klo kalian tipe2 yg Cuma suka baca tapi mls mikir pasti bakalan bilang ni ff berat n susah dingerti. met baca aja ya. chapter depan end sesuai janji. klo ada typo maaf ya cs aku nggak cek lagi ni ff pas update. hehheehehe
.
.
.
4:37 sore, hari yang sama
"ITU SABUNNYA? Jangan terpeleset oleh busa sabun."
"Aku tidak akan terpeleset oleh busa sabun."
"Aku tidak mau kau terpeleset. Hati-hati."
"Aku tidak akan terpeleset oleh busa sabun. Sekarang berbaliklah dan diam."
"Diam? Tidak mungkin, tidak ketika kau...mmm...dan kemudian ketika kau...ooohhh...dan kemudian ketika kau-ow, itu sakit, Luhan. Kau baik-baik saja kan?"
"Aku terpeleset oleh busa sabun."
Aku mulai berputar untuk melihat jika ia memang baik-baik saja ketika ia tiba-tiba menekanku ke dinding kamar mandi, memegang tanganku menempel terhadap ubin. Bibir menggelitik dan air menetes turun ke bawah kulitku dan di bahuku ketika tubuhnya menekuk tubuhku. Pikiran tentang sabun yang terpeleset menyelinap keluar dari pikiranku ketika ia menyelinap masuk dalam
diriku, keras, tebal, dan nikmat. Nafasku meninggalkanku terengah-engah, diperkuat oleh dinding keramik, dibuat seksi oleh air yang jatuh, dan segera diikuti oleh engahan lainnya saat ia melanjutkan memasukiku, sangat pelan dan terarah, sekarang tangannya mencengkram pinggulku.
Aku melemparkan kepalaku ke belakang, memutar wajahku untuk menemukan Luhan, telanjang dan basah. Alisnya berkerut, mulutnya terbuka saat ia sepenuhnya menyerbu dan tanpa ampun. Aku berputar dengan cepat, kesadaran dan kejelasan berpikir menyempit menjadi sebuah titik sebelum meledak, kata-kata tanpa kata-kata keluar dari mulutku dan turun ke air dan berputar dalam saluran pembuangan air.
Sekarang O telah kembali, dia tidak lengah, sejauh ini, setidaknya, dia segera tiba dan tanpa bertanya, menghancurkan memori hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan menunggu, menangis, memohon dan memelas. Ia menghadiahiku dengan parade konstan dan terus menerus, yang membuatku kacau dan konyol, tanpa tulang dan siap untuk menerima lebih.
Mengerang ke telingaku, menggigil dan berdenyut, Luhan gagal memperlambat goyangannya. Dia pada dasarnya tahu, seperti juga aku tahu, bahwa gadisnya masih mampu untuk orgasme lagi. Jadi kemudian, dengan keterampilan yang menyiksa, dia menanamkan sebuah ciuman basah di leherku, meninggalkan tubuhku, memutar tubuhku dengan cepat, dan kembali masuk ke dalam diriku sebelum aku bisa mengatakan, "Hei, mana kau pergi?"
"Tidak kemana-mana, Gadis Bergaun Tidur Pink, tidak dalam waktu dekat," gumamnya, secara kasar meraih pantatku dan mengangkatku menempel dinding, menggunakan berat badannya untuk mendesakku ke ubin, memelukku ke dalam pelukannya dan menahanku di dalam.
Tubuhnya tertekuk sementara tubuhku lurus, kulit kami yang licin rasanya yang tak terlukiskan terhadap satu sama lain. Bagaimana bisa aku menjauh dari pria ini selama yang aku lakukan? Tidak masalah. Dia disini, didalamku, dan akan memberikan seluruh parade O lainnya. Aku juga mendorong tubuhnya dengan cukup kuat, membuka ruang diantara kami cukup untuk melihat ke bawah, nafsu mengaburkan penglihatanku tetapi tidak begitu kuat sehingga aku bisa melihatnya memasukiku, lagi dan lagi, mengisiku seperti tidak pernah dilakukan oleh laki-laki lain.
Sekarang melirik ke dirinya sendiri untuk melihat apa yang membuatku terpaku, sepertinya dia terpaku juga dan sebuah suara terdengar seperti "Mmph" keluar dari mulutnya, Gerakannya lebih cepat, mengejar itu, titik balik itu yang terasa begitu dekat dengan rasa sakit dan dekat dengan kesempurnaan. Mata sehitam langit malam itu, sekarang penuh dengan nafsu dan api, kembali menatapku saat kami berdua melemparkan diri kami sendiri ke jurang itu lagi bersama-sama.
Merampas. Membekukan. terkunci dan keluar. Kami datang bersama dengan sebuah raungan dan geraman dan erangan yang membuat tenggorokanku sakit dan hoohah-ku bergetar. Hoohah Bergetar...nama yang bagus untuk...Mmmm...
.
.
.
.
6:41 sore
Berkeliling apartemenku hanya dengan sebuah handuk, menghindari ceceran tepung dan kismis, Luhan adalah pemandangan yang indah. Ketika ia terpeleset di atas tumpahan selai marmalade dan menabrak meja, aku tertawa sangat keras, aku harus duduk di sofa. Sekarang dia berdiri di depanku dengan sepotong roti zukini saat aku tertawa, sebuah ekspresi geli tergambar di wajahnya. Aku terus tertawa, dan handukku turun ke bawah, menampilkan lebih dari sedikit milikku yang berharga. Saat melihat payudara, dua hal terjadi. Matanya terbelalak berbunyi pop dan sesuatu yang lain berbunyi pop muncul. Muncul keluar. Aku mengangkat alis melihat perkembangan terakhir ini.
"Kau sadar kau telah mengubahku menjadi semacam mesin?" ujarnya, mengangguk ke bawah pada Halodisiana miliknya yang menyembul melalui handuk. Luhan mengulur-ulur waktu untuk meletakan roti zukininya dengan aman di meja kopi.
"Begitu lucu, bukan? Ini seperti dia menyembulkan kepalanya keluar dari balik tirai!" Aku bertepuk tangan.
"Kau mungkin tidak memperhatikan, tetapi sebagai aturan umum, pria tidak suka kata lucu dalam kalimat yang sama dengan kejantanan mereka."
"Tetapi dia lucu-uh-oh, kemana perginya dia?
"Dia sekarang malu. Masih tidak lucu, tetapi pemalu."
"Malu, apaan. Dia tidak begitu pemalu waktu mandi tadi."
"Egonya perlu dibelai."
"Wow."
"Tidak, sungguh. Aku pikir kau akan mengetahui dia cukup menerima untuk dibelai."
"Sekarang lihatlah, kurasa mungkin dia hanya perlu jilatan yang bagus, tapi jika kau pikir belaian sudah cukup..."
"Tidak, tidak, kurasa sebuah jilatan harus dilakukan. Dia- Sialan Minseok!"
Aku membungkuk, membawa si pemalu maju, dan secepatnya mengulumnya dengan mulutku. Merasakannya semakin mengeras, aku duduk di tepi sofa, menggenggamnya dengan kedua tanganku dan menjatuhkan handuk. Menariknya lebih dekat, dan memasukannya lebih ke dalam mulutku, aku bergumam puas ketika aku merasakan tangannya berada di rambutku dan menyusuri wajahku. Dengan hormat, ia menempatkan jarinya di kelopak mataku, pipi, pelipis, akhirnya mengubur satu tangannya ke dalam rambutku dan tangan yang lainnya, well, wow. Dia memegang dirinya. Saat aku memusatkan seluruh perhatianku pada ujungnya, dia mengelus pangkalnya sendiri, sesuatu yang mungkin paling seksi yang pernah aku lihat. Melihat tangannya, membungkus dirinya sendiri saat ia bergerak keluar masuk mulutku...oh my.
Seksi bukanlah kata yang tepat untuk itu. Kata itu tidak cukup pantas berhadapan dengan erotika murni yang bermain di hadapanku. Dan omong-omong tentang sesuatu di depanku, aku menggumamkan pujian lagi, merasakan diriku terangsang hanya dengan permainan yang mulutku dapatkan. Mulut yang beruntung.
Aku terjatuh kembali ke sofa dan menarik Luhan mendekatiku. Responnya dengan menggunakan kedua tangannya untuk menahan diri pada sandaran sofa, menusuk masuk dan keluar mulutku dengan penuh keyakinan. Sudut yang memungkinkannya untuk menusuk lebih dalam, dan membuatku lebih mudah untuk mengambil lebih banyak darinya. Aku meraih pantatnya, merasakan sensasi yang masuk ke tubuhnya, mengetahui itu aku yang melakukannya, hanya aku, orang yang memilikinya dengan cara ini.
Aku dapat merasakan dia semakin mendekat. Aku sudah mulai dapat membaca gerak tubuhnya dengan baik. Aku menginginkannya lagi. Dengan cara ini aku egois. Melepaskannya dengan sebuah tarikan akhir yang kuat, aku mendorongnya jatuh ke sofa dan mengangkangi dirinya. Merasakan tubuhnya di tubuhku, ia mendorong ke atas saat aku terduduk, dan pada saat itu-kau tahu moment itu? Saat semuanya terasa ditarik dan menarik dengan cara yang paling nikmat? Reaksi tubuhmu: sesuatu yang tidak seharusnya di dalam sekarang ada di dalam dan untuk sepersekian detik, itu asing, tidak diketahui. Dan kemudian indera kulitmu kembali menjadi sangat sensitif, memori ototmu mengambil alih, dan kemudian begitu nikmat, kau akan merasa penuh, kagum dan takjub.
Dan kemudian kau mulai bergerak. Meraih bahunya untuk mengangkat tubuhku, aku memutar pinggulku masuk ke dalamnya, memperhatikan bukan untuk pertama kalinya bahwa dia tercipta untukku dengan sangat tepat dalam
pikiranku. Dia sempurna di dalam diriku, dua bagian menjadi satu, seperti permainan seksual yang saling mengisi. Dia juga merasakannya, aku tahu itu.
Dia meletakkan tangannya tepat di dadaku, langsung di atas jantungku. "Menakjubkan," bisiknya saat aku menungganginya, manis dan panas.
Tangannya terus di dadaku saat aku menggoyangnya, tangan yang lainnya di pinggulku, membimbingku, menempatkanku, merasakanku untuk kami berdua. Dia berjuang untuk tetap bersamaku, untuk tetap membuat matanya terbuka saat pembebasannya menyerbu masuk. Aku mengambil tangannya dari hatiku dan menempatkannya jauh ke bawah, dimana ia mulai untuk membuat lingkaran yang sempurna itu.
"Ya Tuhan, Lu…oh, Tuhan...sangat…sangat nikmat…aku… mmm…"
"Aku suka melihatmu berantakan," dia mengerang dan aku juga. Dan dia melakukannya. Dan kami melakukannya. Aku runtuh diatas dirinya, melihat sampai ruangan berhenti berputar dan dapat kembali merasakan jari-jari dan kakiku, kehangatan menyelinap menembus tubuhku saat dia memelukku.
"Menjilat. Sebuah ide yang bagus." Dia mendengus, dan aku tertawa.
.
.
.
.
8:17 malam
"Pernah berpikir untuk mengubah warna cat disini?"
"Apa kau serius?"
"Apa? Mungkin hijau yang lebih terang? Atau bahkan biru? Biru mungkin bagus. Aku suka melihatmu dikelilingi warna biru."
"Apa aku memberitahumu bagaimana mengambil foto?"
"Well, tidak…"
"Kalau begitu jangan memberitahuku bagaimana untuk memilih warna cat. Dan saat itu terjadi, aku berencana untuk mengubah palet di sini, tapi itu akan lebih gelap. Lebih dalam mungkin katamu."
"Lebih dalam? Bagaimana ini?""
"Ini cukup nikmat. Mmm, ini sangat-sangat nikmat. Bagaimanapun, seperti yang aku katakan, aku pikir mungkin merencanakan lebih mendekati abu-abu gelap, dengan sebuah meja marmer warna krem yang manis, memperkelam warna lemari hingga merah kecoklatan. Sialan, ini terasa nikmat.""Dicatat. Lebih dalam bagus, dan sangat dalam lebih baik. Bisakah kamu meletakkan kakimu di atas bahuku?"
"Seperti ini?"
"Ya Tuhan, Minseok, ya seperti itu. Jadi...meja baru, katamu? Marmer mungkin sedikit dingin, kan?
"Ya, ya, ya! Apa? Maksudku, apa? Dingin? Well, karena aku tidak biasa diletakkan seperti gulungan jelly di atas meja, dingin tidak mengagangguku. Di samping itu, meja marmer adalah yang terbaik untuk menguleni adonan."
"Jangan," dia memperingatkan, memalingkan wajahnya untuk mencium bagian dalam pergelangan kakiku.
"Jangan apa, Lu?" aku mendengkur, nafasku tersentak saat aku merasa gerakannya mulai sedikit dipercepat, tidak terlihat oleh siapapun kecuali aku, seseorang yang sekarang di diisinya.
"Jangan mengalihkan perhatianku dengan membicarakan tentang adonan. Itu tidak berhasil," dia memerintahkan, melepaskan pegangan dari meja dengan tangan kirinya dan menyusuri perlahan di atas payudaraku, bolak-balik, menggoda puncak putingku menjadi keras dengan ujung jarinya.
Sebuah energi gila mulai menetap rendah, rendah di bawah pinggulku dan di pahaku, lubang di perutku dan titik diantara keduanya. "Tidak ada percakapan adonan? Tidak membicarakan adonan kotor untuk Luhan? Mmm, tetapi bukankah sedikit mengalihkan perhatian bagus dari waktu ke waktu? Maksudku, tidak bisakah kau hanya membayangkanku, membungkuk di atas meja dapur, bekerja sangat keras untukmu..." Aku terdiam, menjalankan jariku melalui rambutnya, membungkukkan dia padaku untuk menciumnya dengan mulutnya yang basah, lidah dan bibir dan gigi bermaksud membawanya lebih dalam ke dalam diriku.
Aku berdiri di pinggir area dapurku, sangat telanjang, sebagaimana juga Mr. Lu kita yang adil, terkubur di dalam dan bertekad untuk membuat ini bertahan selama mungkin. Kami ingin melihat berapa lama kami bisa berbicara sementara...well...melakukannya. Sejauh ini tujuh belas yang paling intens, menit-menit sensual yang fantastik dalam hidupku, dan itu belum terhitung foreplay. O ikut menari di pinggiran, bertanya-tanya mengapa dia tidak member akses langsung. Tetapi sekarang aku memiliki kontrol si perempuan jalang itu, dan ini adalah penyiksaan manis yang luar biasa. Layak diabadikan.
Begitulah, sampai Luhan menyuruhku meletakkan kakiku di bahunya. Holy hell, dia merusakku. Satu kaki ditumpangkan di bahunya, kaki satu lagi dibuka olehnya ke sisi lain, pinggulnya berputar dalam lingkaran kecil dengan gerakan menggoda, meningkatkan kenaikan-kenaikan terkecil. Dia orang yang bersikeras pada percakapan, dan aku telah mampu mengimbanginya, hingga kakiku berada di bahunya. Tiba-tiba, bagian yang tidak benar-benar menjadi bagian dari itu sebelum sekarang sedang dirangsang, dan semakin sulit dan sulit untuk menjaga logikaku. Tapi sebenarnya, siapa yang membutuhkan logika? Aku bisa hidup tanpa logika. Selama aku bisa berada di bawah Luhan, aku tidak apa-apa tidak memiliki logika.
Tetapi sekarang aku masih bisa memainkan permainan ini, sementara beberapa logikaku yang masih tersisa.
"Jangan mengujiku, Gadis nakal. Aku akan tanpa ragu berbicara kotor padamu di dapur ini."
"Mmm, Luhan, tidak bisakah kau hanya melihatku? Membungkuk ke depan, celemek kecil dengan tidak ada apa-apa dibawahnya, penggiling adonan di tangan, dan semangkuk penuh dengan apel?"
"Apel? Oh boy, aku suka apel," ia mengerang, mengambil kakiku yang lain dan meletakkannya di bahunya yang lain, tangannya kasar menarikku lebih jauh ke tepi, gerakannya makin dipercepat sedikit
"Aku tahu, dengan kayu manis? Aku bisa memanggangkanmu sebuah pai, Luhan. Pai apelmu sendiri, bahkan kerak roti buatan sendiri... semua untukmu, Pria Besar. Kau tahu semua yang perlu kau lakukan adalah hanya memintanya padaku..." Aku menyeringai, berusaha untuk menjaga mataku dari terbelalak ketika dia mempercepat gerakannya lagi, suara kulit yang ditampar bahkan tidak terasa lucu lagi. Selamat tinggal logika.
"Bagaimana rasanya, Minseok. nikmat?" ia bertanya, mengejutkanku.
"Nikmat? Rasanya luar biasa."
"Luar biasa? Sungguh?" Ia menarik diri hampir seluruhnya sebelum meluncur kembali padaku sekaligus, membuatku merasakan setiap incinya.
Dan logika tetap berdiri. "Kau tahu, memang iya, tapi kembali ke apel, Apakah kau mau paimu disajikan panas dengan vanilla ice cream? Hangat dan meleleh dengan-oh Tuhanku..."
"Kau sungguh ingin membicarakan hal ini sekarang? Karena jika kau terus seperti ini, aku akan memaksa diriku untuk benar-benar kotor."
"Lebih kotor daripada pembicaraan pai apel?" aku bertanya, meregangkan tubuh dan mengarahkan jari-jari kakiku ke arah langit-langit, menciptakan sensasi baru.
"Bagaimana jika begini, jika kau tidak menghentikan semua pembicaraan tentang pai apel," ia mulai, membungkuk untuk menempatkan mulutnya di telingaku, membuatku menggigil. Satu tangannya menggenggam payudaraku, memutar dengan kasar dan memelintir putingku. Yang lainnya menyelinap ke bawah, merasakanku hingga ia menemukan titik yang membuatku tegang dan mengerang. "Jika kau tidak berhenti, aku akan berhenti bercinta denganmu, dan percayalah ketika aku mengatakan aku bahkan belum memulai untuk merusakmu dengan segala cara yang pernah aku impikan."
Ia berdiri kembali dan menghujam. Keras. Logika terakhir? Selamat tinggal. Aku tidak masalah jika harus memohon. "Tuhan, Luhan, aku menyerah. Setubuhi saja aku."
"Pai apel untukku?"
"Ya, ya! Pai apel untukmu! Oh, Tuhan..."
"Itu benar, pai apel untukku, pai apel untuk-Tuhan, kamu sempit dengan cara ini." Ia mengerang, mengalihkan kedua kakiku ke satu sisi, memegang mereka saat ia menghantam ke dalam diriku, lagi dan lagi, tidak akan mundur, hanya mempercepat, melihat ke arahku, memperhatikan saat punggungku melengkung dan kulitku memerah, panasnya menjalar saat klimaksku pecah di atasku, membuatku terdiam dengan instensitasnya saat aku terguncang sampai ke inti keberadaanku.
"Aku mencintaimu, Minseok, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu," teriaknya, sekarang menghentak tak menentu saat ia mempercepat gerakan menuju pelepasannya sendiri, keringat yang mengalir di atas dahinya saat ia mencengkram di pinggulku saat aku mencengkramnya dari dalam, memegangnya selama aku bisa, merasakan beratnya di atasku saat ia meletakkan kepalanya di payudaraku. Bagaimana bisa hangat dari badannya terasa begitu nikmat? Seharusnya itu membuatnya sulit untuk bernafas,
menyempitkan paru-paru dan semuanya, tapi itu tidak. Memegangnya, memeluk wajahnya saat aku mengusap rambutnya ke belakang, rasanya kebalikan dari berat.
"Kau akan membunuhku, pasti saat aku berbaring disini," dia mengerang, mencium dimanapun ia bisa.
"Aku mencintaimu juga," aku menghela nafas, menatap langit-langit dapurku. Aku bisa merasakan senyum selebar teluk yang menghiasi wajahku. Sang O akan tinggal untuk waktu yang sangat lama. Jangan harap aku akan mewarnai biru dapurku.
.
.
.
.
9:32 malam
"Aku tidak percaya ini kedua kalinya kita membersihkan tepung dan gula dari satu sama lain. Apa yang salah dengan kita?"
"Gula bagus untuk pengelupasan kulit," jelasku. "Meskipun, tidak tahu apa bagusnya tepung terigu untuk kita."
"Pengelupasan kulit?"
"Ya, aku pikir setiap kali kita melakukan seks di luar sana, semua gula itu membantu kita mengangkat sel kulit mati."
"Sungguh, Minseok? Sel kulit mati? Itu tidak seksi."
"Kau tidak mengeluh sebelumnya."
"Well tidak, bagaimana aku bisa? Kau berjanji membuatkanku pai apel. Jangan lupakan bagian itu."
"Aku tidak akan lupa, tetapi aku tadi entah bagaimana agak dibawah tekanan."
"Kau ada di bawahku bukan di bawah tekanan, dibawahku."
"Ya, Luhan, aku ada di bawahmu tadi."
"Butuh bantuan menggosok punggungmu?"
"Ya, tolong."
Kami berbaring berlawanan di sisi bak mandi, bersantai dan berendam membersihkan sisa kotoran yang lengket dari dapur. Pada suatu titik, aku harus membersihkan semua kekacauan, tetapi sekarang aku hanya bisa konsentrasi pada laki-laki di depanku. Laki-laki ini, hampir mencapai lehernya ditutupi gelembung wangi, lengan yang kuat sekarang keluar untuk menarikku lebih dekat. Aku berputar di bak mandi seperti sebuah pelampung, berayun-ayun ke belakang dan ke depan dan mengatur diriku di depannya. Ia menggunakan sebuah lap dengan lembut untuk menghapus benda lengket yang terakhir yang menutupiku. Kemudian ia menarikku ke dadanya, bersandar kembali ke tepi bak. Lengan mengelilingiku, menyandarkanku, mengelilingiku dengan air hangat dan Luhan yang lebih hangat. Aku menutup mataku, menikmati semua nuansa itu.
Keamanan, kemanisannya, keseksian. Aku bergeser, mencoba untuk sedekat mungkin, dan kemudian aku merasakan dia di pantatku. Bangun kembali.
"Kenapa, halo disana, teman," gumamku, mengeluarkan tanganku melalui gelembung untuk menemukannya, menginginkan dan nakal.
"Minseok..." Dia memperingatkan, membaringkan kembali kepalanya di tepi bak.
"Apa?" Aku bertanya polos, menyeretkan jari-jariku sepanjang sisinya, merasakan reaksinya.
"Aku bukan tujuh belas tahun, kau tahu." Dia terkekeh, suaranya menjadi parau dan bergairah terlepas dari kata-katanya.
"Terima kasih Tuhan, atau aku harus menjawab perbuatanku, merusak seseorang di bawah umur dan semua itu," bisikku, perlahan berbalik untuk menggosok diriku pada ereksinya, sabun dan gelombang dan air membuatku licin.
Dia sedikit berdesis dan tersenyum. "Kau akan mematahkanku, kau tahu ini, kan? Aku bersumpah demi nama Tuhan, aku bukan mesin- Ya Tuhan, jangan berhenti melakukan itu." Dia mengerang, mendorong ke dalam tanganku tanpa berpikir.
"Ah, break schmake. Aku hanya ingin bersetubuh denganmu sampai kau tidak bisa melihat lurus," aku mendengkur, mengencangkan kepalan tanganku saat ia memercikkan sedikit air di sisi atas.
"Aku nyaris tidak melihat sekarang. Tampaknya ada kau bertiga." Dia mengerang, menarik kakiku terpisah dan menempatkanku diatasnya.
"Mencapai satu titik di tengah, Lu," aku memerintahkan dan meluncur ke bawah.
Ya, kami memiliki sejumlah air untuk dibersihkan.
.
.
.
.
11:09 malam
"Aku hanya ingin mendapatkan makanan. Aku butuh makanan."
"Ambillah, lalu cepat kembali padaku. Aku membutuhkanmu, Luhan. Mengapa kamu merangkak di lantai?"
"Aku tidak berpikir aku dapat benar-benar pada berdiri saat ini. Si Mesin memerlukan istirahat. Si Mesin mungkin memerlukan perbaikan yang sangat baik. Si Mesin, tunggu, apa yang kau lakukan disana, Minseok?"
"Apa, ini?"
"Ya, ya, ini sepertinya kau—wow, apakah kau sering menyentuh dirimu sendiri?"
"Akhir-akhir ini aku tidak pernah, kenapa? Menurutmu terlihat bagus, ya?"
"Ya, itu…wow…um…pintu itu…laki-laki pengantar masakan thailand itu ada disini. Aku…dan Aku…masakan thailand…Aku…"
"Apakah kau benar-benar bersajak sekarang, Luhan? Mmmm. Itu terasa nikmat..."
"Halo! Halo, ada orang didalam? Seseorang menelpon untuk memesan-bung, bagaimana aku harus memberikan kembalianmu?
"Ambil saja kembaliannya."
"Bung, kau menyelipkan lima puluh di bawah pintu. Kamu tahu itu seperti memberi tip tiga puluh dollar, kan?"
"Ambil saja kembaliannya. Tinggalkan masakannya. Minseok, naik ke tempat tidur."
"Mmm, sangat dekat, Luhan. Kau yakin tidak-ingin-aku-untukmmm- menyelesaikannya-oooh. Aku suka ketika kau melakukannya."
"Mmph, mumph, hah, hooo…"
"Jangan berbicara dengan mulut penuh, Lu, Luhan, Lu, Lu, Luuuuhhhhaaaan..."
"Oke, bung. Aku benar-benar meletakkan makananmu di luar sini. Um, terimakasih untuk tipnya."
.
.
.
.
1:14 pagi
Kami berbaring di tempat tidur, lemas dan sedikit bodoh. Kasihan Luhan ku, aku menungganginya menuju ke ambang kematian. Dia bukan remaja, tetapi bahkan ia terkejut oleh-hmm-staminaya. Setelah putaran terakhir Crazytown, ia merangkak kembali ke lorong, makanan diambil, dan kami makan masakan thailand duduk di tengah tempat tidur. Aku dengan cepat menanggalkan seprei karena kismis dan tepung terigu menempel sebelumnya. Jumlah pekerjaan yang akan aku harus hadapi di dapur besok menyeramkan, tapi itu sepadan. Semuanya ini. Semuanya ini sepadan.
Sekarang kami bersantai, berbaring tetapi tidak berisitirahat. Masih berpelukan satu sama lain tetapi sekarang dibalut dalam sebuah gaun tidur pink dan sepasang celana olahraga. Untuk lebih jelasnya, aku memakai gaun tidur pink yang terkenal itu. Kami berbaring berdampingan, saling berhadapan, kaki melilit dan tangan berpegangan.
"Kapan kau harus kembali bekerja?"
"Aku memberitahu Jonmyeon aku akan kembali hari Senin, meskipun itu hal terakhir yang bisa aku pikirkan sekarang."
"Apa yang kau pikirkan?"
"Spanyol."
"Ya?"
"Ya, itu menakjubkan. Terima kasih banyak untuk membawaku, dan kemudian membawaku." Aku menyikut dia dengan sikuku.
"Aku senang melakukannya juga, keduanya penting. Aku senang kau bisa…datang," dia mendengus.
Sekarang O telah kembali, kami bisa bercanda tentang itu. Kami terdiam untuk sesaat, hanya menikmati musik. Beberapa waktu yang lalu Luhan tertatih-tatih pergi sebelah untuk menghidupkan pemutar lagu. Meskipun tertatih-tatih, dia tetap seksi.
"Kapan kau akan berangkat ke Peru? Brengsek, aku masih sedikit membencimu karena kau pergi, tapi kapan kau akan berangkat?"
"Sekitar dua minggu. Dan jangan membenci si fotografer. Aku harus pergi, tapi aku akan kembali."
"Oh, jelasnya, aku tidak membencimu karena kau pergi. Aku membencimu karena aku ingin pergi juga. Tapi aku melantur. Aku lebih mencintaimu daripada membencimu, jadi kita baik-baik saja."
"Kita baik-baik saja?"
"Ya, tentu saja. Kau berpergian karena pekerjaanmu. Ini bukan seperti aku tidak tahu ini."
"Well, mengetahui tentang hal itu dan kemudian menjadi orang yang ditinggalkan adalah dua hal yang berbeda," katanya, matanya mulai berkabut. Aku membelai lembut tanganku di pipinya, merasakan janggutnya dan kulitnya dan melihat dia bersandar ke dalam sentuhanku. Matanya menutup dan dia bersenandung puas.
"Kau tidak meninggalkanku. Kita menjalani kehidupan yang sibuk dan akan terus melakukannya. Hanya karena kau memasukkan ereksimu di dalamku sekarang, itu tidak merubah kita," jawabku.
Senyuman lambat tersebar di wajahnya. Matanya masih tertutup, tapi menyeringai. "Kadang ereksi merubah seseorang," katanya sambil tersenyum.
"Terkadang ereksi merubah apa yang perlu dirubah. Terkadang ereksi membuatnya lebih baik."
"Terkadang ereksi membuatnya lebih baik, hal aneh yang untuk dikatakan."
"Tetaplah disini, siapa yang tahu apa yang aku katakan kemudian."
"Melekat."
"Terjebak."
"Ingin menciumu sekarang."
"Terima kasih Tuhan." Aku terkekeh saat ia membungkus lengannya yang kuat di sekitarku. Kami berciuman pelan, dengan penuh arti. Aku berbaring ke dalam tempat celah pelukannya, bentuk yang sempurna dan wanginya seperti surga.
"Aku suka celah ini."
"Bagus"
"Tidak ada orang lain yang mendapatkan celah ini."
"Ini milikmu."
"Ya, ini milikku. Pastikan kau memberitahu semua wanita cantik Peru yang akan mencoba merayu orang Amerika yang seksi."
"Aku akan pastikan untuk memberitahu mereka tempat kesukaanku telah ada yang memiliki."
Aku tersenyum dan menguap dengan lebar. Beberapa hari ini melelahkan. Aku mengalami jet lag dan telah diguncang dalam setiap inci hidupku. Cenderung untuk membuat seorang gadis lelah. Luhan menyandarkan tubuhnya padaku untuk mematikan lampu dan menyelipkanku ke celahnya.
.
.
.
.
1:23 pagi
" Luhan?"
"Mmm?"
"Apa kau tidur?"
"Mm-hmm…"
"Aku hanya ingin bilang, well, aku sangat senang karena kau pulang lebih awal."
"Mm-hmm, aku juga."
"Dan aku sedikit smitten (terpesona) padamu."
"Mm-hmm, aku juga."
"Terpesona seperti seekor kitten."
"Mm-hmm, aku juga."
"Yang kehilangan sepasang mitten-nya."
"Sarung tangan, mm-hmm…"
" Luhan?"
"Mm-hmm?"
"Apa kau tidur?"
"Mm-hmm…"
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
…
…
…
"Minseok?"
"Mm-hmm…"
"Aku juga benar-benar senang pulang lebih awal."
"Mm-hmm…"
"Dan aku benar-benar senang kau datang."
"Cukup."
"Malam, Seokie."
"Malam, Lu."
Dan saat Count Basie dan orkestranya bermain membawa kami ke alam mimpi, kami meringkuk memeluk satu sama lain dan tidur.
.
.
.
.
Tbc
