Mungkinkah ada yang menantikan ff ini? Langsung aja ya
HAPPY READING ^^
PART 1
Jaejoong melangkahkan kakinya tanpa tahu arah dan tujuan. Dia hanya ingin menenangkan pikirannya. Kejadian beberapa hari yang lalu, ketika melihat kedua orang tuanya bertengkar di depan matanya, membuat moodnya buruk selama 2 hari ini. Seandainya noonanya disini. Itulah yang selalu dipikirkan Jaejoong. Hanya kakak perempuannya itu tempatnya bersandar selama ini, bukan kedua orang tuanya. Tetapi tetap saja, melihat orang-orang yang harusnya menjadi panutan untukknya itu bertengakar, membuat hatinya serasa dicabik-cabik. Selama 24 tahun hidupnya, baru kemarin dia melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat seperti itu. Atau mungkin mereka memang sering bertengkar, tetapi Jaejoong tidak pernah tahu?
Orang tua Jaejoong mempunyai bisnis keluarga yang sangat sukses. Itu membuat keduanya hampir tidak pernah ada di rumah. Melihatnya sekali dalam seminggu adalah anugerah bagi Jaejoong. Ketika bertemu, mereka hanya akan saling menanyakan kabar, tanpa ada bahan pembicaraan lainnya selain itu. Yang Jaejoong tahu, orang tuanya hanya bekerja selama ini, dan mereka terlihat baik-baik saja. Hanya cukup sampai disitu. Entah rumah tangga mereka benar-benar baik-baik saja atau tidak, Jaejoong tidak pernah tahu. Tapi kenyataan 2 hari yang lalu, saat kedua orang tuanya sampai di rumah dengan makian yang ditujukan untuk masing-masing, sepertinya mereka memang tidak sedang baik-baik saja.
Jaejoong melihat ponselnya, keinginannya untuk menghubungi kakak perempuannya yang saat ini di London, sangat besar. Tapi dia tidak ingin mengganggu noonanya itu. Selama ini, memang selalu kakaknya dulu lah yang menghubunginya. Dan kakaknya itu sendiri yang memberi pengertian kepada Jaejoong bahwa kuliahnya disana sangat padat, sehingga jika seandainya Jaejoong menghubunginya dan tidak mendapat jawaban, maka tandanya dia sedang sibuk. Dan sejak kakaknya mengatakan hal itu, dia tidak menghubungi kakaknya itu jika sang kakak tidak menghubunginya terlebih dahulu.
Meletakkan kembali ponselnya di saku celana, menandakan dia tidak jadi menelpon sang kakak. Jaejoong kembali berjalan yang membawanya ke sebuah kedai kopi tempat biasanya dia menghabiskan waktu dengan kakak perempuannya. Memesan secangkir kopi, Jaejoong kembali terlarut dengan pikirannya sendiri.
Kakaknya pernah berkata padanya waktu itu, ˝Ketika kau sedang tidak baik-baik saja, jangan pernah duduk sendiri disini, Joongie. Kau pasti akan menghabiskan waktumu dengan melamun saja, dan akan mengganggu orang-orang yang datang kemari lalu tidak mendapatkan tempat duduk. Kau tahu, kedai ini selalu ramai, dan orang-orang rela mengantri untuk bisa menikmati kopi disini. Jadi jangan membuat mereka menunggu, jika kau kemari hanya untuk melamun.˝ Jaejoong tersenyum. Kakaknya benar. Dan ingatan tentang nasehat kakaknya itu membuatnya mengedarkan pandangan, siang inipun, kursi disana sudah penuh. Dan orang-orang tak hentinya datang untuk mengisi setiap sudut kursi yang masih kosong, sampai akhirnya tidak tersisa satupun.
Seorang laki-laki menghampiri Jaejoong. Sebelumnya Jaejoong memang memperhatikan laki-laki itu yang sedang mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan untuk mencari kursi kosong, tapi hanya kursi di depan Jaejoong yang kosong.
˝Maaf, apa aku boleh duduk disini?˝ Tanya nya.
Jaejoong mengangguk, mengiyakan. Matanya mengamati laki-laki di hadapannya saat ini. Tampan. Senyum yang indah. Mata yang menenangkan. Itulah kesimpulan yang dapat diambil dari orang yang saat ini sedang menyesap kopinya sambil membaca sebuah buku tebal yang entah apa namanya.
˝Kau datang sendiri kemari?˝ Tanya Jaejoong akhirnya. Laki–laki itu hanya mengangguk, tak mengalihkan konsentrasinya dari buku yang dipegangnya.
Jaejoong kembali terdiam. Pikirannya kembali melayang pada keadaan keluarganya. Kemungkinan-kemungkinan yang selalu muncul dalam benaknya sejak 2 hari ini. Apakah mungkin kedua orang tuanya akan meninggalkannya sendiri jika seandainya mereka bercerai? Jaejoong menggeleng mengusir kemungkinan itu. Tidak mungkin kedua orang tuanya bercerai.
˝Jika kau kemari hanya untuk melamun, seharunya kau duduk saja di taman, dan menghabiskan waktumu untuk melamun disana. Kau lihat? Orang-orang di dekat kasir yang sedang mencari tempat duduk? Mereka menunggu untuk menggantikan kau yang dari tadi hanya memandang kopimu tanpa minat.˝ Jaejoong mengerutkan keningnya. Laki-laki di hadapannya sedang berbicara padanya?
˝Kau juga bisa membaca di perpustakaan jika kata-katamu barusan kau tujukan untukku.˝ balas Jaejoong geram.
Laki-laki itu tersenyum memasukkan bukunya ke dalam tas dan segera berdiri, bersiap meninggalkan tempat itu. ˝Aku memang hanya menghabiskan waktu disini 10 menit. Tidak lebih dari itu. Dan sekarang sudah waktunya aku pergi. Dan kau lebih baik segera pergi, sebelum pelayan itu, yang sejak tadi memperhatikanmu, mengusirmu sebentar lagi.˝ Jaejoong mengikuti arah yang ditunjuk laki-laki itu dengan wajahnya. Benar saja, seorang pelayan sudah menatapnya tidak suka karena semakin banyak orang di depan kasir yang sedang mencari tempat duduk. Noonanya memang benar. Tidak seharusnya dia kemari ketika suasana hatinya sedang tidak baik. Seharunya kedai kopi ini diberikan tanda ˝Dilarang melamun disini.˝
Jaejoong mengikuti laki-laki itu untuk keluar dari kedai kopi. Tiba-tiba mengingat sesuatu, Jaejoong segera berteriak ˝Hei, bagaimana kau tahu, pelayan itu sedari tadi memperhatikanku? Sementara kau hanya fokus membaca?˝
Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan menoleh. ˝Kau yang terlalu asik melamun, sampai kau tidak sadar aku tidak hanya membaca buku.˝ setelah mengatakannya laki-laki itu langsung pergi. Meninggalkan Jaejoong yang masih mencoba mencerna kata-katanya.
˝Apakah sejak tadi dia memperhatikanku? Apakah dia menyukaiku?˝ Jaejoong tertawa setelah pikiran itu muncul. Dia memang terlalu percaya diri untuk hal-hal seperti itu.
Langkahnya terus mengikuti laki-laki yang baru saja mengatakan hal-hal yang membuat kepercayaan diri Jaejoong tumbuh. Laki-laki berkulit lebih cokelat dari orang Korea kebanyakan itu terus mempercepat langkahnya menuju sebuah toko sepatu. Jaejoong menghentikan langkahnya ketika laki-laki itu sudah menghilang di dalam toko. Memandang toko sepatu itu sejenak lalu Jaejoong segera masuk, entah apa sebenarnya tujuannya kemari.
Jaejoong berkeliling ke setiap sudut toko. Tidak berniat untuk membeli sepatu atau melihat-lihat sepatu yang terpajang manis di rak-rak, dia justru terus mencari sosok yang sedari tadi diikutinya dari kedai kopi. Entah dorongan dari mana yang membuatnya begitu penasaran dengan sosok yang bahkan baru beberapa menit lalu dia lihat.
˝Ada yang bisa saya bantu, Nona?˝ Seorang pramuniaga mengagetkan Jaejoong dari aksi mencarinya. Ingin sekali dia marah dengan sebutan nona yang barusan dilontarkan pramuniaga yang tepat di belakangnya ini. Bersiap mencaci maki, Jaejoong menoleh dan yang dia lakukan setelahnya adalah, membeku di tempatnya. Kalimat yang sudah dia persiapkan untuk memberikan wejangan kepada pramuniaga yang memanggilnya nona barusan tiba-tiba lenyap begitu saja ketika orang yang sejak tadi dia cari berdiri di hadapannya dengan tersenyum. Apakah dia sudah ketahuan mengikuti laki-laki ini sejak tadi?
Laki-laki di hadapan Jaejoong yang ternyata bernama Jung Yunho –begitu yang tertera di
name tag nya, tersenyum ramah kepada Jaejoong.
˝Ada yang bisa saya bantu, Nona?˝ Tanya nya lagi, yang tidak mendengar respon apapun dari Jaejoong.
˝Aku ingin mencari sepatu keluaran terbaru. Bisa tunjukkan padaku?˝ alasan yang cukup masuk akal bukan? Jaejoong bisa dengan cepat mengatakan hal itu. Tapi kemana larinya makian yang siap dia lontarkan kepada pramuniaga yang memanggilnya nona itu?
Yunho berjalan mendahului Jaejoong yang masih terpaku di tempatnya, otaknya masih sulit menerima kenyataan bahwa dia dipanggil nona oleh seseorang yang beberapa menit lalu dia ikuti ke tempat ini. Dan yang juga mengganggunya adalah dia pegawai di toko ini?
˝Di sebelah sini, Nona. Silahkan ikuti saya.˝ Yunho menyadarkan Jaejoong yang sedari tadi hanya menatap punggungnya tapi tidak mengikuti kemana Yunho pergi. Sadar sedang diperhatikan, Jaejoong melangkahkan kakinya mengikuti Yunho yang sudah berdiri cukup jauh darinya. Sejak kapan toko ini menjadi begitu luas? Pikir Jaejoong.
TBC
