AKU HANYA INGIN MENGATAKAN KALAU AKU HANYA TERINSPIRASI DARI LAGU TIM SARANGHAMNIDA, TETAPI, AKU TIDAK MEMBUATNYA SAMA PERSIS. JADI UNTUK TEMAN-TEMAN YANG BELUM TAHU MV NYA, SILAHKAN CEK DI YOUTUBE, DAN AKU RASA CERITA INI BERBEDA DENGAN MV ITU. HANYA SAJA, MUNGKIN JALAN CERITANYA YANG SEDIKIT MIRIP.

ENTAHLAH, SEBENARNYA APA YANG AKU KATAKAN, AKU JUGA TIDAK TAHU.

LANGSUNG AJA. CHECK IT OUT!

HAPPY READING ^^

PART 2

Jaejoong duduk di kursi yang disediakan untuk pengunjung yang ingin mencoba sepatu yang mereka pilih, di depannya juga dilengkapi cermin yang memantulkan bayangan kakinya. Baru saja Yunho membawakannya beberapa pilihan sepatu edisi terbaru seperti permintaan Jaejoong. Mencoba beberapa sepatu tersebut membuat bibir Jaejoong melengkung indah. Sepatu-sepatu itu sangat cocok di kakinya.

˝Bagaimana jika kau mencoba yang ini, Nona? Ini akan terlihat sangat bagus di kakimu.˝ Yunho mengambil sepatu dengan warna merah dengan hiasan tali berwarna putih diatasnya. Jika sekilas dilihat, sepatu itu sangatlah cantik untuk seorang wanita. Mungkin perlu digaris bawahi, untuk seorang wanita. Tapi Jaejoong adalah seorang pria, dan tidak mungkin dia memilih sepatu itu. Seluruh teman kuliahnya akan dengan senang hati menertawainya.

˝Maaf, ehm … Yunho.˝ Jaejoong sengaja melihat name tag Yunho lagi untuk memastikan dia tidak salah sebut nama. ˝Tapi aku ini laki-laki. Dan aku rasa, ketika aku memakai sepatu itu, semua orang akan benar-benar memanggil aku nona, seperti apa yang kau lakukan sejak tadi.˝ Jaejoong tersenyum melihat keterkejutan di wajah Yunho. Pria di depannya ini benar-benar tidak tahu rupanya, bahwa dia adalah seorang pria juga seperti dirinya?

˝Maafkan aku, Tuan. Aku benar-benar tidak tahu. Mohon maafkan aku.˝ Yunho membungkuk hormat sambil terus menggumamkan maafnya.

Jaejoong tertawa melihat tingkah Yunho yang menurutnya berlebihan itu. Toh sedari tadi dia memang tidak melakukan klarifikasi tentang panggilannya. Ini pertama kalinya Jaejoong tidak memaki orang yang seenaknya memanggilnya nona seperti yang sudah-sudah. Biasanya, dia akan selalu membentak orang itu dan akan mencaci maki, dengan semua umpatan-umpatan yang bisa dia lontarkan kepada orang yang memanggilnya nona.

˝Tidak masalah. Lagi pula aku juga tidak berniat mengatakan yang sebenarnya, andai kau tidak memilihkan sepatu seperti itu untukku.″ Jaejoong kembali memilih sepatu yang dia inginkan. Sedikit rasa penasaran dalam hatinya, apakah sedari tadi di kedai kopi, Yunho memang menganggap dirinya wanita? Apakah itu yang membuat Yunho memperhatikannya? Jaejoong tersenyum kecut, dirinya lagi-lagi terlalu percaya diri.

″Bagaimana dengan yang ini, Tuan? Saya rasa ini sangat cocok untuk anda.″ Yunho kembali memberikan sepasang sepatu yang kali ini membuat bibir Jaejoong melengkung indah. Itu benar-benar sepatu yang sangat bagus. Yunho memiliki selera yang bagus.

Jaejoong segera mengambil sepatu di tangan Yunho, dan mencobanya. Jaejoong mengangguk-anggukkan kepalanya senang ketika melihat sepatu itu sangat pas dan terlihat semakin indah di kakinya.

Yunho juga ikut tersenyum melihat Jaejoong yang sangat senang dengan pilihan sepatunya. ″Silahkan ikuti saya, Tuan. Anda bisa membayar di sebelah sana.″ Yunho menunjuk sebuah arah. Jaejoong hanya mengikuti kemana langkah Yunho.

Setelah membayar sepatunya, Jaejoong mengambil kantong yang berisi sepasang sepatu yang tadi sudah dicobanya, dan terbungkus dengan rapi di dalamnya. Jaejoong menggumamkan ″Terima Kasih" kepada Yunho, dan Yunho segera berujar ″Sering-seringlah datang kemari, Tuan. Saya siap melayani anda.″

Senang. Itulah yang saat ini dirasakan Kim Jaejoong. Masalah yang selama 2 hari ini selalu menghantui pikirannya, seketika hilang hanya karena Yunho, seorang pramuniaga toko sepatu, yang diikutinya sejak tadi. Bahkan Jaejoong sendiri tidak mengerti, apa yang membuatnya begitu bahagia hanya karena seorang Yunho.

Jaejoong membuka kantong yang membungkus sepatu itu, ingin segera memakai sepatu yang beberapa menit lalu dibelinya dan atas saran dari Yunho. Jaejoong melihat sebuah kertas terselip diantara sepatunya.

Semoga anda menyukai sepatu ini, dan selalu ingin memakainya kemanapun. Kata orang, sepatu yang baik membawa anda ke tempat yang baik. silahkan datang berkungjung kembali ke toko kami.

Yunho.

Perasaan Jaejoong semakin berbunga-bunga membaca kalimat yang tertera di secarik kertas itu. Sungguh, Yunho begitu perhatian padanya. Apakah Yunho benar-benar menyukaiku? Bahkan ketika mengetahui kenyataan bahwa aku laki-laki? Batin Jaejoong.

.

.

.

Jaejoong masih terpejam ketika tangannya menggapai meja di sebelah tempat tidur untuk mencari ponselnya yang berdering. Rasanya tidak rela untuk bangun terlalu pagi ketika jadwal kuliahnya siang hari.

″Yeoboseyo ...″

″Kau pasti belum bangun. Disana kan sudah pukul 8 pagi, Joongie. Apa kau tidak kuliah?″ Suara di seberang sana membuat mata Jaejoong otomatis terbuka, dan bibirnya tersenyum senang. Orang yang sejak kemarin ditunggunya untuk mencurahkan segala keluh kesahnya, akhirnya menelpon juga.

″Noona ... aku ingin menghubungimu sejak kemarin, tapi aku takut kau sibuk.″ Jaejoong terduduk di tempat tidurnya, menyandarkan kepalanya di ranjang.

″Ada apa, Joongie?" Orang yang dipanggil Noona oleh Jaejoong itu terdengar serius.

″Noona, apakah hubungan appa dan umma baik-baik saja?″ Tanya Jaejoong pelan. Bahkan suaranya nyaris tak terdengar.

Jae Ra di seberang sana hanya menghela napas berat. Dia tahu, saat ini akan datang. Dimana adiknya akan bertanya tentang keutuhan keluarga mereka. Bukankah Jaejoong sudah cukup dewasa untuk mengetahui masalah dalam keluarga mereka?

″Noona ... apa kau mendengarku?″ Jaejoong tahu, pasti sesuatu benar-benar terjadi antara kedua orang tuanya. Meski tidak menatap noonanya secara langsung, tapi Jaejoong sangat mengenal noonanya, dia akan dengan mudah mengetahui, ada sesuatu yang disembunyikan darinya.

″Sudah 2 tahun, Joongie. Appa dan Umma sudah tidak pernah bersama selama itu. Meski mereka masih berstatus suami istri, tapi mereka sudah tidak tinggal bersama lagi. Mereka hanya akan pulang setiap minggu untuk membuatmu menganggap mereka baik-baik saja.″

Jaejoong tertegun. Hampir saja dia menjatuhkan ponselnya, jika saja suara noonanya tidak segera menyadarkannya dari sejenak keterkejutan itu.

″Appa dan Umma hanya menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya padamu.″ Lanjut Jae Ra. Terselip perasaan sedih yang teramat dalam ketika mengatakan hal itu pada adik tersayangnya itu.

″Selama 2 tahun? Dan aku dibodohi selama 2 tahun? Mereka pikir butuh berapa lama lagi untuk menemukan waktu yang tepat?"Air mata Jaejoong jatuh. Dia merasa benar-benar sendiri sekarang.

″Tenanglah, sayang. Aku akan segera pulang untuk menjelaskannya kepadamu.″

″Bukan Noona yang harus menjelaskan ini kepadaku, ketika Appa dan Umma tetap ingin diam. Biar saja mereka menemukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepadaku. Aku hanya ingin mendengar itu dari mereka sendiri, Noona.″ perkataan Jaejoong serasa mengiris hati Jae Ra. Adik tersayangnya itu pasti merasa semakin kesepian sekarang.

Jaejoong tersenyum pahit dalam tangisannya, mengapa tidak ada satupun orang yang berada disampingnya sekarang?

.

.

.

Junsu baru saja ingin meninggalkan ruangan ketika mata kuliahnya selesai, tapi perhatiannya teralihkan kepada seseorang yang duduk termenung sambil menatap ke luar jendela ruangan.

″Kau tidak pulang, Jae?″ Jaejoong sedikit terlonjak kaget, dan pandangannya mengedar ke seluruh ruangan yang sudah kosong sejak 5 menit yang lalu.

″Sebentar lagi aku pulang.″ Jawab Jaejoong singkat, lalu segera memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

Junsu menghampiri Jaejoong dan mencegahnya ketika hendak keluar ruangan.

Junsu memberikan sebuah buku kepada Jaejoong. Jaejoong hanya menatap Junsu dengan pandangan bertanya.

″Ini catatan kuliah hari ini. aku tahu kau sama sekali tidak memperhatikan apa yang dosen katakan tadi. Dan disini semua tertulis lengkap, begitu pula dengan tugas yang harus kita kumpulkan minggu depan.″

Jaejoong mengambil buku di tangan Junsu dan membukanya. Dia bahkan tidak bisa mengingat satupun perkataan dosennya yang dicatat rapi dalam buku catatan junsu itu. Apakah dirinya memang tidak memperhatikan apapun sejak kuliah dimulai tadi?

″Terima kasih, Junsu-ah. Aku akan mengembalikan secepatnya.″ Jaejoong segera memasukkan buku Junsu ke dalam tas nya.

″Jika kau tidak keberatan, mau kah kau satu kelompok denganku untuk menyelesaikan tugas minggu depan itu?″ Jaejoong bahkan belum membaca tugas apa untuk minggu depan. Tapi tidak buruk juga untuk satu kelompok dengan Junsu yang memang dikenalnya sebagai namja paling polos, dan tidak mungkin memanfaatkan Jaejoong seperti teman-temannya yang lain.

Jaejoong sedikit terkejut ketika Junsu yang langsung memeluknya ketika dia mengiiyakan permintaannya. Mungkin saja Junsu menjadi orang yang bisa berada disampingnya saat ini. Mungkin.

″Apakah kau ada acara malam ini, Joongie? Aku mempunyai teman yang bekerja di sebuah kedai kopi, dan kopi disana sangat enak, kau mau datang kesana bersamaku?″

Lagi-lagi Jaejoong mengangguk mengiyakan. Jaejoong tidak mengerti, dia seperti terhipnotis dengan keceriaan Junsu. Jika saja dia mau menghitung, mungkin hanya beberapa kali –dalam 3 tahun kebersamaan mereka di kelas yang sama saat kuliah− mereka saling menyapa. Atau mungkin, Jaejoong yang enggan untuk dekat dengan siapapun, sehingga Junsupun tidak mempunyai keberanian untuk mendekatinya. Tapi jika sudah seperti ini, Jaejoong ingin sekali memutar waktu dan mengenal Junsu yang ceria ini sejak dulu, mungkin hidupnya juga akan lebih berwarna.

.

.

Junsu melambaikan tangannya ke arah Jaejoong yang baru memasuki kedai kopi yang diberi nama Cavely itu. Junsu memilih tempat paling ujung, dekat jendela, tepat seperti tempat favorit Jaejoong.

″Kau ingin pesan apa? Sebentar, aku akan mengenalkanmu dengan temanku dulu, agar kau bisa kemari kapanpun, tanpa harus denganku nantinya, dan dia akan melayanimu dengan baik, meskipun aku tidak ada.″ Celotehan Junsu yang panjang lebar dan tidak terlalu penting itu membuat Jaejoong kembali tersenyum. Junsu sungguh laki-laki yang unik.

″Yoochun-ah, perkenalkan ini temanku, Jaejoong. Kim Jaejoong.″ Junsu menarik tangan Yoochun untuk mengikutinya dan memperkenalkan Jaejoong kepadanya.

Yoochun yang sudah terbiasa dengan sikap Junsu yang selalu menggebu-gebu ketika melakukan sesuatu hanya menarik napasnya dalam. Andai saja Junsu ini bukan sahabatnya sejak kecil, mungkin dia sudah menendang pantat Junsu jauh-jauh.

″Kim Jaejoong imninda.″ Jaejoong bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Yoochun.

″Park Yoochun imnida. Senang berkenalan denganmu, Jaejoong-ssi.″ ucap Yoochun.

Dan sejak perkenalan malam itu, Jaejoong menjadi sangat menyukai tempat itu. Cavely cafe. Selain bertemu dengan Junsu disana dan mengobrol bersama, juga Yoochun yang ikut bergabung bersama mereka ketika pelanggan sepi, Jaejoong juga menyukai suasananya. Paling tidak, dia tidak harus merasa bersalah ketika dia melamun di tempat itu, karena cafe itu cukup luas, dan terletak agak jauh dari keramaian kota, sehingga peminat tempat itu masih terbilang sedikit. Jadi Jaejoong bisa dengan puas berlama-lama di tempat itu. Mengingat kedai kopi itu membuat Jaejoong teringat sesuatu, apa kabar dengan Yunho?

.

.

.

Tepat ketika kuliah selesai, Jaejoong langsung berlari menuju tempat Junsu duduk. Hari ini dia ingin mengunjungi sang pramuniaga tampan itu.

″Junsu-ah, apa kau ada acara setelah ini?″ Junsu menjawab dengan gelengan kepalanya. Hari ini dia memang tidak berniat untuk pergi kemanapun.

″Maukah kau menemaniku? Aku ingin pergi ke toko sepatu.″

″Kau ingin membeli sepatu?″ Mungkin untuk sebagian orang, itu pertanyaan bodoh. Bagaimana mungkin ingin ke toko sepatu tetapi ingin membeli baju? Jika saja Jaejoong memang benar-benar ingin membeli sepatu, dia pasti akan memberi pukulan manis di dahi Junsu. Tetapi tujuannya bukan untuk membeli sepatu, tetapi melihat pangeran tampannya, jadi otomatis, tidak ada yang salah dengan pertanyaan Junsu barusan.

Jaejoong hanya menjawab dengan senyum-senyum aneh di wajahnya. Junsu yang melihat itu hanya bertanya-tanya, apakah Jaejoong sedang jatuh cinta? Dengan sepatu?

Dan mungkin pertanyaan itu tidak perlu dilontarkannya, karena dia pasti akan mendapat ceramah gratis dari Jaejoong, karena dia tidak akan mungkin jatuh cinta pada sepatu.

″aku mempunyai toko langganan sepatu, ibuku selalu berbelanja sepatu di tempat itu, jika kau mau ... ″

″Aku tidak mau.″ Jaejoong memotong pembicaraan Junsu. Jelas saja dia tidak mau, dia hanya akan datang ke satu toko sepatu, tidak toko sepatu yang lain.

″Aku sudah punya toko sepatu langganan yang lainnya juga.″ Jaejoong segera menarik tangan Junsu untuk mengikutinya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu pramuniaga yang memanggilnya nona dan memberikan banyak perhatian untuknya.

.

.

.

″Selamat sore, Tuan, ada yang bisa saya bantu?″ Orang yang memang sedang Jaejoong cari akhirnya menyapanya. Dia memang sedang beruntung hari ini.

″Aku ingin sepatu keluara terbaru.″ Lagi-lagi alasan yang sama, yang dilontarkan Jaejoong. Dia hanya berharap, ketika dia mengatakan itu, Yunho akan mengingatnya. Tidak mungkin setelah memberikan memo untuknya, Yunho melupakannya.

″Silahkan ikuti saya, Tuan.″ Yunho kembali memberikan berbagai macam sepatu keluaran terbaru koleksi tokonya. Jaejoong dan Junsu berbinar-binar melihat banyaknya model yang sangat menarik itu.

″Saya pikir ini yang terbaik untuk anda, Tuan.″ Jaejoong menatap Yunho, apakah Yunho benar-benar melupakannya?

″Kau tidak memanggilku dengan nona lagi?″ Tanya Jaejoong ingin sekedar mengingatkan bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya.

Yunho tersenyum, ″Apakah saya pernah melakukannya, Tuan? Mohon maaf, tapi saya benar-benar lupa.″ berbeda dengan Yunho yang tetap memasang senyum terbaiknya, senyum di bibir Jaejoong tiba-tiba menghilang.

Bukankah Yunho yang memberikannya pesan untuk kembali lagi kemari, tapi kenapa dia melupakannya?

″Aku ingin sepatu ini.″ Suara nyaring Junsu membuat Jaejoong tersadar. Dia segera menyibukkan diri memilih sepatu-sepatu di hadapannya. Yunho pasti hanya lupa, sebentar lagi, Yunho akan segera mengingatnya. Ya ... Yunho pasti mengingatnya.

Perlakuan Yunho terhadap Junsu membuat Jaejoong semakin bertanya-tanya. Yunho juga memperlakukan Junsu sama persis seperti dia melakukan pelayanan pada dirinya, minggu lalu. Apakah kali ini Yunho tertarik pada Junsu?

Pikiran-pikiran itu terus berputar dalam benaknya, sampai mereka meninggalkan toko sepatu itu dengan 2 kantong berisi 2 pasang sepatu miliknya dan milik Junsu. Jaejoong yang masih penasaran dengan sikap Yunho akhirnya memeriksa kantong sepatu Junsu, dan benar saja, dia menemukan memo yang sama seperti miliknya dulu terselip disana, di tempat yang sama.

Jaejoong juga mengecek kantong sepatu miliknya, dan memo itu juga terselip sama, seperti yang ada di kantong sepatu Junsu.

″Ada apa, Joongie?″ Junsu yang melihat tingkah Jaejoong sejak tadi merasa bingung. Ada apa sebenarnya dengan Jaejoong?

Tak ada jawaban dari Jaejoong, namja itu malah kembali ke depan toko, dan mencari-cari seseorang. Dari kejauhan, Junsu dapat melihat Jaejoong juga mengecek kantong sepatu milik pelanggan lain, yang baru saja meninggalkan toko. Sebenarnya ada apa dengan Jaejoong?

Penasaran dengan apa yang di lihat Jaejoong di kantong sepatunya, Junsu juga segera mengecek kantong tersebut, dan menemukan memo yang jika dia tak salah lihat, Jaejoong juga membaca memo itu.

Semoga anda menyukai sepatu ini, dan selalu ingin memakainya kemanapun. Kata orang, sepatu yang baik membawa anda ke tempat yang baik. silahkan datang berkungjung kembali ke toko kami.

Yunho.

Yunho? Sepertinya aku pernah mendengarnya. Batin Junsu ketika melihat nama yang tertera di memo itu. Apakah ini yang membuat Jaejoong terlihat sangat kecewa tadi?

″Joongie!″ Junsu memanggil Jaejoong yang masih berdiri di depan toko dan mengecek kantong sepatu milik pelanggan lain yang keluar dari toko, dan jika dihitung, ini sudah pelanggan ketiga.

″Apa yang kau cari?″ tanya Junsu yang sudah berada di dekat Jaejoong yang sibuk memeriksa kantong sepatu pelanggan lain.

Jaejoong menoleh pada Junsu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Matanya memerah tanda dia sedang menahan air matanya tidak jatuh.

″Apakah dia melakukan hal ini kepada semua orang, Junsu-ah? Apakah aku terlalu berharap lebih?″

TBC

MENERIMA MASUKAN YANG MEMBANGUN.

REVIEW DARI KALIAN MEMBUATKU SEMANGAT UPDATE. KALAU KALIAN GAK REVIEW AKU JADI MERASA READERSKU SEDIKIT DAN KURANG MINAT UNTUK MELANJUTKAN.

MAAF DENGAN JALAN CERITA YANG MEMBOSANKAN DAN MENGECEWAKAN, SAYA HANYA AUTHOR YANG MASIH BUTUH BANYAK BELAJAR DARI KALIAN SEMUA.