Mohon maaf telat update, disebabkan kesibukan dan inspirasi yang datang terlambat. Maafkan.
happy reading ^_^
######YUNJAE#######
Jaejoong duduk di café Cavely dengan menumpu dagunya dengan kedua telapak tangan dengan siku yang bertumpu diatas meja. Matanya tertuju ke satu benda di depannya, tetapi sangat terlihat jika dia tida benar-benar memandang benda itu. Melamun lebih tepatnya.
˝Hei, Joongie. Sendirian saja kemari? Tidak bersama Junsu?˝ Yoochun membuat Jaejoong tersadar, tetap sama sekali tidak berniat memandang teman yang 2 minggu ini dikenalnya itu.
Jaejoong menggeleng, lalu matanya membulat menyadari nama Junsu yang juga ikut disebut Yoochun membuat Jaejoong berdiri seketika dan melihat sekeliling.
˝Astaga, Junsu, dimana Junsu?˝ Sejak kejadian di toko sepatu, Jaejoong sudah melupakan Junsu. Bahkan dia tidak tahu, dimana Junsu berpisah dengannya tadi. Sungguh bodoh, ini semua hanya karena dia kecewa tentang Yunho? Tidak masuk akal rasanya dia melupakan sahabatnya sendiri demi seorang pramuniaga toko sepatu yang bahkan tidak mengenalnya sedikitpun.
˝Apakah aku datang kemari sendiri, Yoochun? Apa kau tidak melihat Junsu bersamaku?˝ Jaejoong mengguncang bahu Yoochun, sementara orang dihadapannya itu masih terdiam karena kebingungan. Apakah Jaejoong baik-baik saja? Bukankah baru saja dia menanyakannya?
˝Joongie, kalau aku tahu kau bersama Junsu, pertanyaan yang tadi tidak perlu aku tanyakan padamu.˝ Jawaban Yoochun membuat Jaejoong semakin cemas. Telapak tangan kirinya digenggam erat telapak tangan kanannya, sampai warna kulit putihnya tampak memerah karena dia terlalu menekannya kuat. Jaejoong benar-benar mengkhawatirkan sahabatnya itu. Pikiran tentang terjadi sesuatu pada Junsu tiba-tiba saja terlintas di benaknya.
˝Tenanglah, Joongie, sebenarnya ada apa?˝ Yoochun membawa Jaejoong kembali duduk di kursinya. Wajah Jaejoong yang cemas memberikan tanda bahwa Junsu sedang tidak baik-baik saja.
˝Tadi aku dan Junsu pergi ke toko sepatu, dan entah apa yang terjadi, sampai aku duduk disini sementara Junsu tidak ada disampingku.˝ Jaejoong mencoba menjelaskan, tetapi malah membuat Yoochun semakin bingung.
˝Kau dan Junsu berpisah dan kau baru sadar setelah satu jam duduk disini?˝ Jaejoong mengangguk mengiyakan.
˝Telpon dia, Joongie. Tidak mungkin Junsu hilang, dia sudah terlalu dewasa untuk dicuri orang.˝
Jaejoong mengambil ponselnya di dalam tas, lalu menekan tombol untuk menelpon Junsu.
˝Ya … Kim Junsu! Kau dimana?˝ Jaejoong tiba-tiba saja meninggikan volume suaranya ketika seseorang menjawab panggilan teleponnya.
˝Aku disini, Joongie.˝ Junsu menjawab ketika dirinya sudah tepat berada di depan Jaejoong dan Yoochun, dengan membawa dua kantong sepatu yang tadi mereka beli di tangan kanan, dan tangan kiri yang memegang ponselnya di telinga, untuk menjawab telepon Jaejoong.
˝Ya… kau dari mana saja? Kau membuatku khawatir!˝ Jaejoong mematikan panggilan teleponnya dan segera berdiri memeluk Junsu yang terlihat baik-baik saja di depannya.
˝Harusnya aku yang bertanya itu, Joongie. Setelah kau mengajakku ke taman kota, kau meninggalkanku yang sedang ke toilet. Untung saja aku tidak salah untuk datang kemari. Kau bahkan tidak mengangkat teleponku sejak tadi. Kau sungguh-sungguh melupakanku.˝ Jaejoong yang mendengan perjelasan Junsu langsung mengunci mulutnya. Ya Tuhan, apakah sedari tadi dia melamun, sehingga meninggalkan Junsu di taman?
˝Junsu-ah, Maafkan aku.˝ Sadar dengan apa yang dilakukannya, Jaejoong hanya tertunduk lesu.
˝Sekarang ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi denganmu dan pramuniaga itu?˝ Tanya Junsu penasaran.
˝Tidak ada yang terjadi, aku hanya terlalu percaya diri bahwa dia memperhatikanku melebihi dia memperhatikan orang lain, ternyata dia melakukan hal itu untuk semua orang. Aku hanya salah paham.˝
˝Astaga, kau tahu, sikapmu seperti seseorang yang sedang putus cinta. Dan alasannya hanya itu?˝
˝Maafkan aku.˝ hanya itu kalimat yang Jaejoong ucapkan. Berbeda dengan kedua orang bermarga Kim yang saat ini terlibat percakapan serius, Yoochun yang sedang memandang kedua orang di depannya itu hanya menekuk mukanya kesal. Dia diabaikan.
˝Tapi sepertinya aku pernah mendengar namanya? Tapi siapa ya? Ya … Yoochun-ah, apa kau punya teman bernama Yunho?˝ Akhirnya, dia tidak diabaikan lagi, paling tidak mereka masih menganggapnya disini.
˝Yunho? Pegawai disini juga ada yang bernama Yunho.˝ Penjelasan Yoochun membuat Junsu menjentikkan jarinya senang.
˝Ah, Ya! Aku pernah mendengar kau bercerita tentangnya. Dan Joongie, dia juga bekerja disini, tetapi dia selalu masuk shift pagi. Mungkin saja sebelum bekerja di toko sepatu, dia bekerja dulu di café ini.˝
˝Tidak selalu shift pagi. 2 minggu lalu sebelum kau mengajak Jaejoong kesini, dia masuk shift malam. Dan jangan sok tahu tentang jadwal kerja orang-orang disini. Aku yang lebih tahu.˝ Yoochun memutar bola matanya kesal. Sahabatnya itu selalu jadi orang yang sok tahu.
˝Apakah besok dia juga masuk shift pagi?˝ Tanya Jaejoong. Yoochun mengangguk.
˝2 minggu sekali kami ganti shift. Besok hari terakhirnya masuk pagi, dan besok juga hari terakhirku shift malam.˝
Jaejoong mengangguk anggukkan kepalanya mengerti. Entah apa yang sudah merusak otaknya, sehingga dia ingin sekali selalu datang disaat Yunho yang menjadi pelayan disini. Paling tidak, kesempatannya untuk lebih mengenal Yunho mejadi semakin luas.
˝Jangan berpikiran untuk menemuinya besok, Joongie. Besok kita ada kuliah pagi.˝ Junsu berkata tegas.
Jaejoong menghadap Junsu dan menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada.
˝Tolong aku Junsu sayang. Aku ingin bertemu dengannya besok. Aku janji hanya besok.˝
˝Ya! Memang hanya besok kau akan bolos kuliah, dia akan masuk shift malam selama 2 minggu berikutnya, dan aku tahu kau tidak perlu bolos kuliah lagi. Maka dari itu, tunggu lah sampai lusa, jadi kau tidak perlu bolos, Joongie.˝
˝Dia akan melupakanku lagi jika aku menundanya, Junsu˝
˝Walaupun kau bertemu dengannya sekarang, dia tidak akan mengingatmu!˝ Junsu meninggikan suaranya.
Jaejoong terdiam. Junsu benar, Yunho tidak mungkin mengenalinya hanya karena dia pernah membeli sepatu di toko tempatnya bekerja. Mereka tidak pernah berkenalan secara resmi.
˝Maafkan aku, Joongie, bukan maksudku untuk memutuskan harapanmu. Hanya saja … ˝
˝Aku mengerti.˝ Jaejoong tersenyum dan bangkit dari duduknya. Segera keluar dari Cavely Café tanpa menoleh sedikitpun pada dua orang yang menatapnya aneh.
####YUNJAE####
Bukan Jaejoong namanya jika dia menyerah dengan apa yang terjadi semalam di Cavely Café. Ucapan Junsu memang membuatnya sadar bahwa mereka tidak saling mengenal, dan memupuskan harapannya tentang Yunho yang akan mengenali dirinya, tetapi sekarang, yang ada di pikirannya adalah, jika mereka belum berkenalan, maka mereka harus saling mengenal. Apapun caranya.
Tepat pukul 09:00, Jaejoong memasuki Cavely Café, dan mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang sejak kemarin menghantui pikirannya.
Jaejoong tersenyum ketika melihat orang itu di depan meja kasir dan sedang tersenyum kepada pembeli lainnya.
˝Americano satu.˝ Ucap Jaejoong ketika dirinya sudah berdiri tepat di depan Yunho yang sedang tersenyum ramah padanya.
˝Mohon ditunggu sebentar, Tuan.˝ Junsu benar, Yunho memang tak mengenali dirinya.
Setelah pesanannya selesai, dan Yunho memberikan kopi itu kepada Jaejoong, Jaejoong memang segera meninggalkan café setelahnya, tetapi senyum tercetak jelas di bibirnya.
˝satu … dua … ti … ga˝ tepat di hitungan Jaejoong yang ketiga, sebuah suara memanggilnya.
"Tuan!˝ Jaejoong tersenyum senang dan menoleh menghadap Yunho yang sudah berada di hadapannya dengan sebuah buku di tangannya.
Ya, sebuah buku yang memang sengaja ditinggalkan Jaejoong di meja kasir, agar Yunho mengejarnya dan mengembalikannya. Hal klasik yang entah sejak kapan ide itu muncul.
˝Apakah ini milik anda?˝ Yunho memberikan sebuah buku sastra kepada Jaejoong.
˝Ah ya, apakah aku meninggalkannya? Terima Kasih, Yunho-ssi!˝ Ucap Jaejoong spontan.
˝Anda mengenal saya?˝ pertanyaan Yunho membuat Jaejoong sadar dia sudah melakukan kesalahan, sementara setelah Jaejoong melihat seragam Yunho, tidak ada name tag disana, seperti seragam Yunho di toko sepatu.
˝Ah … kita pernah bertemu di toko sepatu, kau juga bekerja disana bukan? Pelayanan yang kau lakukan disana sangat baik, sehingga aku sangat mengenalmu.˝ Dia memang tidak berbohong, dia tahu nama Yunho di toko sepatu itu, meski kejadiannya tidak seperti yang dia ucapkan barusan.
˝Oh, ya? Jika anda tahu nama saya, bolehkan saya tahu nama anda? Mungkin kita akan bertemu lagi nantinya?˝
˝Jaejoong, Kim Jaejoong.˝
˝Lama tidak bertemu, Jaejoong!˝ Jaejoong menatap Yunho heran. Lama tidak bertemu? Apa maksudnya?
TBC
Maafkan tentang part 2 kemarin ketika aku menuliskan pendapatku dengam capslock. ada salah satu reader yang memprotes hal tersebut karena hal itu membuat kalian para reader urung memberikan komentar. Mohon maafkan saya, karena saya tidak punya maksud apa-apa.
Mohon tinggalkan jejak untuk yang berkenan.
