Suasana Cavely Café memang cukup ramai pagi ini, tetapi itu tidak mempengaruhi dua orang yang saat ini saling berpandangan, duduk dalam diam di sudut café. Tempat favorit Jaejoong seperti biasa.
Jaejoong dan orang yang disebut Jaejoong dengan nama Yunho itu masih terdiam karena keduanya masih hanyut dalam pertanyaan-pertanyaan dalam otak keduanya. Tidak, lebih tepatnya Jaejoong yang hanyut dalam lamunannya sendiri, sementara orang dihadapannya hanya menunggunya bertanya, atau berkata sesuatu.
˝Kau tau Jaejoong-ssi, aku bisa dipecat jika aku hanya duduk disini sementara pelanggan sedang ramai seperti ini.˝ Orang di depan Jaejoong itu akhirnya membuka suara.
˝Apa maksud perkataanmu tadi, Yunho? Lama tidak bertemu?˝ Jaejoong akhirnya membuka suara. Ini adalah pertanyaan paling utama yang sejak tadi memenuhi otaknya.
Bukannya menjawab, orang di depan Jaejoong itu justru tertawa. Jaejoong hanya mengamatinya, apakah orang ini sengaja mempermainkannya? Apakah dia saling kenal sebelumnya. Alis Jaejoong berkerut, menangkap sesuatu yang aneh dari wajah Yunho.
˝Apa sekarang kau sudah sadar, Joongie?˝ Tanyanya kemudian.
Jaejoong terkejut dengan pertanyaan itu. Apakah benar?
˝Jaejoong! Apa yang kau lakukan disini?˝ Yoochun mengejutkan Jaejoong yang sedang meneliti keanehan wajah seseorang di hadapannya yang sejak tadi dipanggilnya Yunho itu. ˝Apa yang kau lakukan dengan seragam itu, Yonghwa? Kau menggantikan Yunho lagi?˝
Orang yang dipanggil Yonghwa oleh Yoochun itu tertawa lagi. Dan mata Jaejoongpun membulat. Oh tuhan, apakah dirinya salah mengenali orang?
˝Joongie, apa kau sudah sadar bahwa aku bukan Yunho? Dan apakah kau sudah sadar kita pernah bertemu sebelumnya?˝ Tanya orang itu, yang dipanggil Yonghwa tadi.
˝Oh Joongie, kau benar-benar datang kemari untuk menemui Yunho? Kau tahu, Junsu menggangguku dengan teleponnya sejak tadi, dan menyuruhku mencarimu.˝ Yoochun mendudukkan dirinya disamping Jaejoong. Mengambil Americano di hadapan Jaejoong dan meminumnya. Sial sekali nasibnya hari ini. Sungguh lebih sial dia mempunyai sahabat cerewet seperti Junsu yang mengganggu tidurnya.
Jaejoong masih belum bisa berkata apapun. Matanya masih menatap laki-laki dihadapannya. ˝Apa kau benar-benar bukan Yunho?˝ Tanyanya.
Yoochun dan Yonghwa menatap Jaejoong dengan kerutan di dahi mereka. Ya Tuhan, Jaejoong masih belum sadar?
˝Kau mengira Yonghwa adalah Yunho?˝ Pertanyaan Yoochun mengalihkan pandangan Jaejoong padanya.
˝Kau bilang Yunho masuk shift pagi hari ini?˝
˝Yunho sedang mengantar ibunya ke rumah sakit. Jadi aku menggantikannya sementara waktu. Apa kau benar-benar tidak bisa membedakan antara aku dan Yunho?˝ Yonghwa menatap Jaejoong penasaran.
˝Sekarang aku bisa membedakannya.˝ Jaejoong mengangguk anggukkan kepalanya seperti baru menyadari sesuatu.
Yoochun dan Yonghwa tertawa terbahak-bahak mendengar penyataan Jaejoong. Sungguh lelaki ini sangat polos, begitulah yang kedua orang itu pikirkan.
˝Joongie, apa kau benar-benar tidak mengingatku?˝ Kali ini Yonghwa bertanya serius.
Jaejoong lagi-lagi memasang wajah tidak mengertinya. ˝Astaga … Tiger?˝ kali ini Yoochun yang dibuat bertanya, apakah kedua orang ini saling mengenal?
˝Ya, Sweety, kau mengingatku?˝ Yonghwa memegang kedua pipi Jaejoong dan disambut tawa Jaejoong setelahnya.
˝Aku merindukanmu, Tiger. Kau menghilang tanpa jejak sejak kita lulus SMP.˝
˝Kau yang menghilang, Joongie, kau sudah pindah rumah ketika aku kembali dari liburan ke Belanda.˝
Yoochun memutar bola matanya kesal, lagi-lagi dia jadi orang yang diabaikan. Sejak semalam nasibnya tidak pernah berubah. Kenapa dia harus terjebak diantara orang-orang seperti ini.
'Baiklah, hentikan drama kalian itu. Kalian bisa melanjutkannya nanti. Dan kau Yonghwa, jangan terlalu sering menggantikan Yunho, boss akan marah besar jika tahu kau menggantikannya lagi hari ini.˝ Protes Yoochun.
˝Itu bisa diatasi Yoochun. Appa tidak akan marah terlalu lama padaku.˝ Yonghwa memberikan tawa usilnya.
Yoochun lagi-lagi memutar bola matanya kesal. Yonghwa adalah anak dari pemilik Cavely Café. Ayahnya sudah menyerahkan café ini untuk Yonghwa agar anak semata wayangnya itu bisa menjalankan Café ini dan belajar menjadi pemimpin yang bijak. tetapi tentu saja, pemimpin yang bijak dalam pikiran Yonghwa adalah memberikan kebebasan kepada pegawainya. Contohnya seperti hari ini, dan hari-hari sebelumnya, Yonghwa menggantikan tempat Yunho di cafenya sendiri.
˝Sudahlah Yoochun, banyak yang bilang wajahku dan Yunho itu mirip, tidak akan banyak orang yang menyadari bahwa aku yang menggantikan tempat Yunho sekarang. Sweety saja tidak bisa mengenaliku.˝ Yonghwa mengerling nakal pada Jaejoong, sementara Yoochun menghembuskan nafasnya jengah.
˝Ngomong-ngomong, kau mengenal Yunho, Sweety?˝
Jaejoong mengangguk mantap lalu segera menggeleng setelahnya. Yoochun yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli.
˝Yonghwa, terima kasih sudah menggantikanku hari ini.˝ Entah sejak kapan Yunho sudah berdiri di antara mereka bertiga, dan tersenyum pada Yonghwa yang sedang menatap Jaejoong.
˝Orang yang kita bicarakan sudah datang.˝ Jaejoong membelalakkan matanya ketika melihat Yunho disana, membawa sekantung makanan untuk diberikan kepada Yonghwa sebagai ucapan terima kasih. Sementara Yunho menatap ketiganya bingung.
˝Kau tahu, Joongie, ini yang namanya perkenalan. Yunho, ini Jaejoong, dan Jaejoong ini Yunho.˝ Yoochun ingin tertawa melihat semburat merah di pipi Jaejoong. Keduanya berjabat tangan sambil saling menatap satu sama lain. Sementara Yoochun dan Yonghwa mengerling nakal saat melihat ekspresi keduanya.
˝Hellooo … apakah kalian hanya akan berjabat tangan seperti itu? Kau tidak ingin duduk Yunho?˝ Yonghwa menepuk kursi di sebelahnya kepada Yunho. sadar dengan tingkahnya, Yunho segera melepas jabat tangan mereka dan duduk di sebelah Yonghwa.
^^^SARANGHAMNIDA^^^
Yunho menatap Jaejoong yang duduk di sebelah Yoochun, bersebrangan dengannya. Sepertinya dia pernah melihat laki-laki itu, tapi dia lupa dimana. Dan dia masih belum mengerti maksud dari kata-kata Yoochun tadi, Kau tahu, Joongie, ini yang namanya perkenalan.
˝Bagaimana keadaan ibumu, Yunho?˝ Yonghwa membuyarkan lamunannya.
˝Sudah banyak kemajuan. Obat herbal yang kau berikan pada ibuku memberikan banyak perubahan bagi kesehatannya. Terima kasih.˝
˝Baguslah kalau begitu. Oh ya Joongie, dimana kau mengenal Yunho?˝ pertanyaan Yonghwa membuat Jaejoong merona. Membuat Yunho semakin tertarik dengan tingkahnya.
˝Kami tidak saling mengenal, Tiger.˝
˝Lalu bagaimana bisa kau salah mengenaliku dan menyebut nama Yunho tadi?˝ Yoochun yang mendengar pertanyaan Yonghwa hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Bahkan air matanya mengalir dari ujung matanya.
˝Aku akan menjelaskannya padamu nanti, Tiger. Sekarang aku harus pergi.˝ Jaejoong berdiri dari kursinya dan segera melangkah pergi untuk menutupi salah tingkahnya.
˝Sweety, Tunggu!˝ Langkah Jaejoong berhenti dan segera berbalik.
˝Biar Yunho mengantarmu.˝ dan wajah Jaejoong kembali merona merah. Dan itu membuat Yunho tersenyum tipis. Dia laki-laki yang lucu.
˝Apa kau hanya ingin berdiri disitu, Jaejoong-ssi? Bukankah kau mengatakan kau ingin pergi?˝ Karena terkejut dengan ucapan Yonghwa, Jaejoong hanya bisa mematung dan tak sadar bahwa Yunho sudah berdiri di pintu café dengan kunci mobil Yonghwa di tangannya.
Jaejoong mengangguk dan mengikuti Yunho menuju mobil.
˝Sudah lama kau mengenal Yonghwa?˝ Tanya Jaejoong memulai pembicaraan.
˝Ya, kami berteman saat SMA. Dan Yonghwa yang memberiku pekerjaan. Kau sendiri? Aku tidak menyangka kau mengenal Yonghwa dan Yoochun.˝
˝Yonghwa adalah tetanggaku dulu, tapi kami tidak pernah bertemu lagi sejak lulus SMP. Tadi adalah pertemuan pertama kami. Dan aku mengenal Yoochun dari Junsu.˝
˝Oh … aku masih belum mengerti, kenapa Yonghwa menganggap kau mengenalku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?˝
˝Ya, di toko sepatu.˝ Yunho memandang Jaejoong sekilas, dia melihat laki-laki itu tersenyum malu ketika mengatakannya.
˝Benarkah? Aku memang bekerja disana usai bekerja di café.˝
˝Aku tahu. Waktu pertama kali aku datang ke toko sepatu, kau memanggilku nona. Apa kau tidak mengingatnya?˝
Yunho melihat Jaejoong yang tersenyum padanya, membuat Yunho menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apakah dia benar-benar melakukan hal memalukan itu?
˝Tidak perlu malu, Yunho. Semua sudah berlalu.˝ Jaejoong menatap keluar jendela. Alisnya terangkat. ˝Yunho, bukankah sejak tadi kita hanya berkeliling? Ini jalan yang sama yang kita lalui saat berangkat.˝
Yunho tertawa. Menertawai kebodohannya. ˝Kau tidak mengatakan kita akan pergi kemana, Jaejoong-ssi˝
Kali ini Jaejoong tertawa. ˝Antar aku ke kampus. Masih ada waktu setengah jam sampai kuliah pertama selesai. Aku bisa langsung ikut kuliah selanjutnya.˝
˝Kau bolos?˝
˝Ya.˝ Untuk bertemu denganmu. Lanjutnya dalam hati.
˝Kau tahu, banyak anak yang ingin kuliah tapi tidak bisa kuliah, sementara kau yang diberikan kemudahan untuk bisa kuliah, menyiakan kesempatanmu untuk belajar.˝
˝Jika kau tidak suka, aku tidak akan mengulanginya kembali, Yunho.˝
˝Aku tidak bermaksud melarangmu, Jaejoong-ssi.˝
˝Joongie, panggil aku Joongie. Aku tidak suka berbicara terlalu formal. Dan aku suka dilarang olehmu, Yunho. Apapun itu.˝
Yunho terdiam. Tidak mengerti dengan maksud Jaejoong. Tapi ada sedikit rasa yang membuatnya bahagia mendengar Jaejoong mengatakan hal itu. Laki-laki ini unik. Dia bisa membuat orang-orang di dekatnya merasa nyaman. Termasuk dirinya yang merasa nyaman berbicara dengannya. Dan Yunho bersumpah, ini tidak akan menjadi pertemuan terakhir mereka. Setidaknya, dia ingin berteman dengan orang di sebelahnya saat ini.
TBC
