Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Pair: Akashi Seijuro X Kuroko Tetsuya
Other Chara: Kiseki no Sedai
Rate: T
Genre: Friendship & Romance
Warning: Boys Love, Rakuzan Setting, Two Shot.
.
.
.
Kuroko membuka pintu yang menuju atap dengan kasar. Dia mengedarkan pandangannya kesekitar dan menemukan pemuda berambut crimson sedang berbaring di pojokan. Pemuda bermarga Akashi itu sedang memejamkan matanya.
"Kau sudah datang, Tetsuya. Cepat sekali." Akashi berkata masih sambil memejamkan matanya.
"Akashi-kun kenapa memintaku datang?" Kuroko berjalan mendekat, dan kini dia duduk si samping Akashi.
"Aku hanya ingin kau menemaniku di sini."
"Akashi-kun apa yang akan Akashi-kun lakukan seandainya aku tidak berubah pikiran? Semua orang terlihat mencemaskan hal itu." Tanya Kuroko dengan nada datar.
"Menurutmu apa yang akan aku lakukan?" bukannya menjawab Akashi malah balik bertanya.
"Aku tidak tahu." jawab Kuroko jujur.
Akashi duduk dan kini menatap Kuroko yang duduk di sampingnya.
"Kau tahu, ini pertama kalinya aku sabar menunggu. Mungkin itu karena kau adalah orang yang menarik, Tetsuya." Kuroko diam tidak merespon.
"Tapi tetap saja sabarku ada batasnya, Tetsuya." Tambah Akashi.
"Sabar itu tidak ada batasan Akashi-kun!" komentar Kuroko.
Akashi tertawa tampan.
"Kau itu benar-benar menarik Tetsuya. Orang lain pasti sudah ketakutan kalau ada di posisimu saat ini, tapi kau berbeda. Kau takut tapi tidak mau menunjukannya." Akashi merangkak mendekati Kuroko, kini wajahnya tepat di depan Kuroko. Bahkan Kuroko bisa merasakan hembusan nafas Akashi. Membuat tubuhnya merinding.
"Saa~ kita lihat apa yang bisa aku lakukan!" Akashi berbisik tepat di dekat telinga Kuroko. Orang yang melihat pasti akan salah paham jika melihat posisi mereka saat ini.
Akashi tiba-tiba meniup-niup telinga Kuroko. Dia terus melakukan hal tersebut sampai menyebabkan tubuh Kuroko meremang. Kuroko yang merasa tidak kuat, mendorong tubuh Akashi menjauh.
"A-akashi-kun tolong hentikan." Nafas Kuroko tersengal, dia mulai merasa tubuhnya memanas. Kuroko mulai takut saat tiba-tiba Akashi menundukan kepalanya.
"Waaah!" kemudian secepat kilat Akashi mendorong badan Kuroko sehingga dia berbaring dilantai, dan Akashi tepat diatasnya dengan menumpukan berat badannya pada kedua tangannya.
"Aku benar-benar sudah tidak tahan Tetsuya. Apa kau akan terus menolakku!" bentak Akashi.
Kuroko baru kali ini melihat Akashi yang terlihat sangat marah seperti ini. Akashi menatap Kuroko lekat-lekat tanpa ada niatan untuk merubah posisi mereka. Kuroko berusaha utuk mendorong Akashi, namun kedua tangannya justru ditahan oleh tangan Akashi. Oke, Kuroko benar-benar ketakutan sekarang.
"Aku melakukan ini untuk kebaikanmu juga, Tetsuya. Agar kau bisa lebih membuka diri untuk orang lain di sini. Sekarang kau bukan lagi bagian dari SMA Seirin, tapi kau sudah menjadi bagian dari SMA Rakuzan. Ryota dan Daiki sangat ingin kau bergabung dengan tim basket. Kau tahu, mereka merasa kau masih menjaga jarak dengan mereka, Tetsuya." Kata Akashi panjang. Nada bicaranya sudah mulai melembut.
"Akashi-kun. Aku… hemp!" Akashi mencium Kuroko begitu saja, tidak memberikan kesempatan untuk berbicara. Kuroko membelalakan mata karena terkejut. Akashi hanya menempelkan bibirnya saja, namun cukup lama. Sehingga membuat Kuroko merasa mulai kehabisan nafas. Kuroko mencoba mendorong Akashi, kakinya menendang-nendang kesegala arah. Akashi yang menyadari hal tersebut, melepaskan ciumannya. Kuroko terengah-engah, rona merah sudah memenuhi wajah manisnya. Akashi benar-benar mencoba membunuhnya dengan cara yang sangat manis tentunya.
Akashi tersenyum tampan. Dia juga tidak menyangka kalau dirinya akan melakukan hal tersebut. Otaknya yang cerdas seperti error setiap kali melihat Tetsuya lama-lama. Kuroko mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.
"Akashi-kun kau menyebalkan!" bentak Kuroko. Wajahnya semakin memerah saat melihat pemuda di depannya tertawa.
Saking kesalnya Kuroko akhirnya bangkit berdiri dan meninggalkan Akashi.
"Tunggu Tetsuya, kau mau kemana?" panggil Akashi.
Blamm
Namun terlambat, Kuroko sudah menutup pintu dengan sangat keras. Sehingga menyebabkan bunyi bedebum disekitarnya. Membuat Akashi tertawa semakin keras.
.
.
.
Gym SMA Rakuzan…
"Mulai saat ini Kuroko Tetsuya resmi menjadi bagian dari tim." Ucap Akashi di depan teman setimnya, sedangkan orang yang disebutkan berdiri di samping Akashi.
"Kuroko-chi, akhirnya…" tiba-tiba Kise memeluk Kuroko.
"Sesak, Kise-kun."
Ckriss
Tiba-tiba gunting melewati wajah Kise dan menancap di lantai.
"Ryota, kau sudah bosan hidup rupanya." Akashi menyeringai menakutkan, membuat Kise merinding ketakutan, dan langsung melepaskan pelukannya.
"Selamat bergabung, Tetsu." Ucap Aomine dan ditanggapi dengan anggukan singkat oleh Kuroko.
"Aku harap kau bisa membantu tim-nodayo." Tambah Midorima.
"Kuro-chin sepertinya kau enak dimakan."
Jduaarr.
Perkataan Murasakibara menyebabkan petir imajinasi dihati Akashi.
"Atsushi, sepertinya kau sudah tidak butuh snack-snack ini lagi?" Tanya Akashi sambil menenteng snack-snack semacam maibou, bersiap untuk membuangnya ketempat sampah.
"Yada. Maafkan aku Akachin, aku hanya bercanda." Ucap sang titan ungu sambil merengek seperti anak kecil.
Akashi menghela nafas melihat tingkah absurd para generasi keajaiban.
"Mari kita kembali berlatih!"
Mereka mulai berlari berhamburan, bersiap untuk kembali berlatih.
30 menit telah berlalu, Kuroko sedang berlatih menembak, disampingnya ada Kise yang mengajaknya untuk mengobrol.
"Kuroko-chi apa yang dilakukan Akashi-chi sehingga kau mau bergabung dengan tim-suu?" Tanya Kise penasaran.
Pertanyaan Kise membuatnya mengingat kejadian kemarin di atap sekolah. Otomatis wajahnya langsung memanas.
"Bukan urusan, Kise-kun!" Dengan kesal Kuroko melempar bola ke wajah Kise.
Kuroko meninggalkan Kise yang menangis meraung-raung. Kuroko menuju ke pinggir lapangan untuk beristirahat sebentar. Dia meminum air yang dibawanya ditas.
"Siapa yang menyuruhmu berhenti, Tetsuya." Entah datang darimana tiba-tiba Akashi sudah ada di sampingnya.
"Aku lelah Akashi-kun. Fisikku berbeda dengan kalian semua." Ucap Kuroko keringat sudah bercucuran dari tubuhnya.
"Oh apa kau butuh nafas buatan dariku, Tetsuya." Ucap Akashi jahil.
"Akashi-kun no Baka!" Kuroko melempari Akashi dengan botol yang dia pegang.
Dengan sigap Akashi menangkap botol tersebut. Menggoda Kuroko menjadi hobi barunya akhir-akhir ini. Kuroko kembali ketengah lapangan untuk berlatih, meninggalkan Akashi yang tertawa sendiri seperti orang kesurupan. Midorima yang melihat kejadian itu hanya geleng-geleng kepala. Baginya kapten mereka seperti kerasukan setan perempuan yang sedang jatuh cinta.
.
.
.
Musim ini adalah musim kejuaran Interhigh tahun kedua di SMA bagi Kiseki no Sedai.
Kuroko, Kise dan Aomine sedang berada di restauran cepat saji sehabis bertanding dengan SMA Kaijou.
"Kuroko-chi aku sangat senang, berkat kemampuan ignite passmu kita bisa menang-suu." Ucap Kise girang.
"Semuanya juga membantu, Kise-kun."
"Tapi kalau ada umpan dari Kuroko-chi, aku dan Aomine lebih mudah menembak-suu."
Aomine yang duduk di samping Kuroko mengacak-acak rambut Kuroko pelan.
"Sudahlah iya-in aja Tetsu. Dari pada si kuning ini berkicau terus."
"Hidoi-suu kau pikir aku burung!" Kise protes tapi hanya diacukan oleh Aomine.
Kuroko tersenyum melihat pertengkaran Aomine dan Kise di depannya. Kuroko merasa dia sudah mulai bisa berbaur dengan anggota Kiseki no Sedai. Akashi benar, kini dia merasa bersyukur memiliki teman seperti Aomine dan Kise yang mengisi hidupnya sehingga lebih berwarna.
"Yo! Lama tidak bertemu Kuroko." Seorang laki-laki berambut merah bergradiasi hitam berdiri di depan mereka.
"Kagami-kun apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Kuroko sedikit terkejut.
"Oh jadi ini yang namanya Kagami?" Tanya Aomine dengan nada cuek, Kuroko mengaganggukan kepala.
"Menyeramkan!" komen Kise.
Kagami kesal mendengar ucapan Kise, dia siap meledak. Namun dihalangi oleh Kuroko, yang memepersilahkannya untuk duduk. Dengan enggan Kagami duduk di samping Kise.
"Jadi, apa yang kau lakukan di sini Kagami-kun?" Tanya Kuroko sekali lagi.
"Tentu saja aku datang ke sini untuk bertanding Kuroko. Aku tahu kau bergabung dengan tim basket SMA Rakuzan, tadi aku melihat pertandinganmu. Kuroko, jika kita bertemu di pertandingan nanti, aku harap kau tidak segan padaku." Ucap Kagami kelewat semangat.
"Ha'i. Aku tunggu Kagami-kun!" Kuroko juga ikut bersemangat.
"Ah aku ada panggilan dari kantouku. Sampai jumpa di lapangan Kuroko." Kuroko mengangguk. Kagami pergi sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
"Ngomong-ngomong dimana Akashi dan yang lain-suu.?" Tanya Kise,
"Tadi Akashi-kun bilang ingin menonton pertandingan SMA Kirisaki Daichi." Jawab Kuroko.
"Oh jadi dia ingin mempelajari pertandingan mereka begitu?" Tanya Aomine.
Kuroko mengangguk mengiyakan.
Tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone Kuroko.
Tetsuya, pulanglah terlebih dahulu. Jangan menungguku.
Kuroko menghela nafas setelah membaca pesan tersebut.
"Kise-kun, Aomine-kun ayo kita pulang!" ajak Kuroko.
"Eh tidak menunggu Akashi dan yang lain-suu?" Tanya Kise bingung.
Kuroko menggelengkan kepalanya.
.
.
.
Pertandingan final antara SMA Rakuzan dengan SMA Seirin dimenangkan oleh SMA Rakuzan dengan selisih skor hanya dua poin. Selesai pertandingan Kuroko bertemu Kagami di depan pintu masuk gedung. Mereka berbincang-bincang seperti dahulu, apalagi mereka sudah lama tidak bertemu. Kise dan yang lain memilih untuk pulang terlebih dahulu, karena perintah pelatih untuk beristirahat. Sedang Akashi sudah tidak menampakan batang hidungnya semenjak pertandingan usai.
"Begitukah?"
"Tentu saja, sekarang kan aku sudah menjadi senior. Mereka terus mengikuti, bahkan ada yang sampai mengikuti sampai toilet."
Kuroko tersenyum kecil, membuat Kagami sedikit kaget, karena seingatnya Kuroko jarang tersenyum. Kuroko sangat senang, sudah lama dia tidak mengobrol dengan Kagami seperti ini.
"Disekolahku mereka selalu menurut pada Akashi-kun. Begitu juga dengan para Kouhai. Terkadang aku kasihan pada mereka karena selalu disuruh berlatih terlalu keras." Curhat Kuroko.
"Akashi? Kaptenmu yang sok itu? Bagaimana kau bisa betah dengannya Kuroko?" perkataan Kagami hanya ditanggapi Kuroko dengan senyuman misterius.
Setelah berbincang-bincang cukup lama mereka berdua berpisah, karena Kagami harus kembali ke hotel tempatnya menginap.
"Sampai jumpa lagi, Kuroko. Aku menikmati pertandingan hari ini!" Kagami tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. Kuroko menanggapi dengan melambaikan tangannya. Dia mulai berjalan menuju halte, untuk pulang kerumahnya sendiri. Kuroko berjalan seorang diri menuju halte, dia memasang headset mendengarkan lagu kesukaannya.
Grepp
Tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang.
Kuroko hendak memukul orang tersebut dengan ignite pass, jurus andalannya. Namun dia urungkan naitnya setelah melihat pelaku pencuri pelukan.
"Akashi-kun mengagetkanku!" Ucap Kuroko. Akashi melepas pelukannya.
"Kau tidak menyadari aku sudah mengikutimu dari tadi? Ckckck apa segitu menyenangkannya berbincang dengan sibesar bodoh itu sampai kau tidak menyadariku Tetsuya." Akashi kini berdiri bersidekap dada dengan angkuhnya.
"Aku tidak tahu kalau sekarang Akashi-kun memiliki hobi baru, menjadi stalker." Kuroko kembali berjalan, dan diikuti Akashi di sampingnya.
"Tidak masalah selama aku menjadi stalkernya, Tetsuya." Ucap Akashi sambil tersenyum tampan.
"Oh ya ada sesuatu untukmu, Tetsuya."
Akashi memberikan sebuah kotak kecil kepada Kuroko. Dengan senang hati Kuroko menerima dan membukanya.
Di dalamnya terdapat gantungan kunci berbentuk sepasang anjing lucu berwarna merah dan biru, dibawahnya ada tulisan 赤黒. Bibir Kuroko melengkungkan senyuman yang semakin lebar.
"Selamat atas kemenangan kita Tetsuya." Ucap Akashi tersenyum tulus.
"Selamat juga untukmu, Akashi-kun. Terima kasih banyak, dan…"
"Aku mencintaimu." Ucap Kuroko sambil menundukan kepalanya. Pipinya sudah benar-benar memerah padam.
Akashi menyeringai merasa menang, akahirnya kata-kata yang selama ini dia ingin dengar terucap juga dari bibir tipis Kuroko.
"Aku juga mencintaimu, Tetsuya. Nah, sekarang boleh aku meminta hadiahku?" Tanya Akashi tersenyum jahil.
"Kau ingin hadiah apa, Akashi-kun?" Tanya Kuroko polos.
"Cium aku, di sini!" Akashi menunjuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Tidak mau, dasar mesum!" Kuroko berjalan mendahului.
"Ck apa salahnya meminta pada pacar sendiri." Gerutu Akashi.
Tiba-tiba Kuroko berbalik dan berlari ke rahnya. Memeluk Akashi dengan sangat erat.
"Terima kasih, Akashi-kun. Karena membuat hariku lebih berwarna. Kau akan selalu menjadi warna teratas dalam hatiku." Akashi tersenyum senang mendengar pengakuan Kuroko. Dia melingkarkan tangannya di punggung Kuroko, membalas pelukannya.
"Kau juga akan selalu menjadi ratu di hatiku, Tetsuya."
Akashi melepaskan pelukan dan memegang dagu Kuroko, menuntunya untuk menatap matanya langsung. Jarak sudah tak menjadi penghalang bagi mereka.
Cahaya senja, diujung jalan, menjadi background bagi kedua insan yang sedang bercumbu mesra tersebut.
.
The End
.
Ini cerita lain dari Asrama Kisedai by Ai See-chan. Yeps akun ini adalah akun milik orang yang sama. Ada yang sadar?
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Semoga berkenan mereview.
See You~
Ai See-chan a.k.a Yuuki no Crystal.
