Kuliahnya yang kedua sudah dimulai, biasanya Jaejoong hanya akan diam dan melamun seperti sebelum-sebelumnya, tapi kali ini wajahnya sangat berseri, bibirnya selalu tersenyum dan dia mengikuti kuliah dengan semangat yang menggebu-gebu.

˝Kau tahu Joongie, kau berhutang penjelasan kepadaku, setelah ini.˝ Junsu berbisik di sebelah Jaejoong. Mendengar hal itu, Jaejoong semakin tersenyum senang. Dia siap untuk menceritakan semua yang terjadi hari ini kepada sahabatnya itu. Sungguh pertemuannya dan Yonghwa, sampai perkenalannya dengan Yunho adalah hal paling baik dalam hidupnya. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti hari ini.

Drrrttt … Drrrttt…

Ponsel Jaejoong bergetar di saku celananya.

Hai, Sayang. Aku harap tidak mengganggu kuliahmu. Noona di Korea. Pulang kuliah, langsung pulang ke rumah ya. Noona tunggu. :-*

Dan satu lagi kabar bahagianya. Noonanya di Korea. Sebenarnya ini hari apa? Apakah ini hari ulang tahunnya? Jika memang iya, ini adalah kado terindah sepanjang hidupnya. Baiklah dia melupakan masalah keluarganya yang akhir-akhir ini mengganggunya. Dia tahu pasti maksud kakak perempuannya itu di Korea. Dan dia siap dengan kenyataan apapun itu nantinya.

^^^SARANGHAMNIDA^^^

˝Jadi dia mengantarmu kemari? Astaga Joongie … aku tidak bisa berkomentar apapun. Aku tahu kau pasti sangat senang hari ini.˝ Junsu langsung membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang Jaejoong ceritakan. Perkenalannya dan Yunho yang terbilang sangat lancar dan mereka dengan mudah akrab.

˝Ya, bukan hanya itu. Pertemuanku dengan Yonghwa hari ini juga adalah hal yang mengejutkan untukku. Aku sangat merindukannya. Dia adalah sahabat terbaikku dulu. Dan kau tahu, Noonaku di Korea sekarang.˝ Senyum dan tawa bahagia tak pernah hilang dari wajah Jaejoong sejak tadi. Junsu hanya bisa memberikan selamat dan mendukung semua yang terjadi pada sahabatnya itu hari ini.

˝Kau tahu, Joongie. Kau hari ini dan kau yang kemarin itu sungguh berbanding terbalik. Kau bahkan melupakanku demi seorang Jung Yunho kemarin.˝

Jaejoong tertawa menyadari kesalahannya. Sebesar apa cintanya pada Yunho, diapun tak tahu. Apakah yang seperti yang dinamakan jatuh cinta?

˝Baiklah, karena aku sudah menceritakan semuanya padamu, berarti hutangku sudah lunas. Aku pulang dulu, noona sudah menungguku di rumah.˝

˝Kita harus merayakan ini. Nanti malam di Cavely Café. Hari ini hari terakhir Yoochun masuk shift malam.˝

Jaejoong mengangguk mengiyakan dan segera berlalu dari kantin siang itu.

^^^SARANGHAMNIDA^^^

˝Noona, aku merindukanmu. Sangat!˝ Jaejoong berlari memeluk noonanya ketika melihat sang kakak duduk menonton televisi. Sungguh mirip anak yang bertemu ibunya.

˝Aku juga merindukanmu, sayang. Bagaimana kuliahmu hari ini?˝

˝Sangat baik. Luar biasa baik, noona.˝ Senyum Jaejoong merekah begitu saja ketika mengingat kejadian siang ini. Hari terbaik yang dilaluinya sepanjang hidupnya.

˝Rupanya ada kejadian seru yang perlu kau ceritakan, sayang. Apa kau sedang jatuh cinta?˝

˝Aku bertemu Yonghwa tadi pagi, apa noona masih mengingat Yonghwa?˝

Jae Ra berpikir sejenak sampai akhirnya dia menjentikkan jarinya mengingat sesuatu.

˝Yonghwa si tigermu itu? Bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali kita tidak bertemu dengannya bukan?˝

Jaejoong mengangguk anggukkan kepalanya lucu. Lalu tersenyum malu-malu setelahnya. Jae Ra yang menangkap sinyal itu menjadi semakin penasaran, pasti terjadi sesuatu dengan adiknya itu.

˝Ada apa lagi setelahnya, Joongie? Kau tidak akan melewatkan cerita yang sepertinya sangat seru itu kan?˝

Wajah Jaejoong merona. Dan Jae Ra tau pasti adiknya sedang jatuh cinta. ˝Siapa orang itu? Dia bukan Tigermu itu kan?˝

Jaejoong menggeleng cepat, tidak mungkin dia jatuh cinta kepada sahabat terbaiknya sejak dirinya masih balita itu.

˝Namanya Yunho.˝ Dan semuanya dia ceritakan begitu saja kepada kakak perempuannya itu. Jae Ra tersenyum senang melihat Jaejoong yang bercerita dengan menggebu-gebu. Oh, adik kecilnya ini sudah tumbuh dewasa. Dia bahkan sudah tergila-gila dengan seorang namja.

˝Joongie, ingatlah pesan noona. Jatuh cintalah kepada siapapun yang kamu sukai, tapi jangan terlalu banyak berharap dari orang itu. ingatlah, tidak semua yang kita harapkan dari seseorang akan menjadi nyata seperti apa yang kita inginkan. Mereka mungkin saja punya pemikiran berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Apa yang terbaik buat mereka, mungkin saja akan menjadi kekecewaan untuk kita. Belajarlah dari Umma dan Appa, Joongie. Mereka adalah orang yang selama ini jadi panutan kita, orang yang selalu ingin kita banggakan sebagai orang tua yang baik. Tapi nyatanya mereka tidak lebih baik dari apa yang kita harapkan. Dan kau tahu Joongie, hal terburuk dalam hidup itu adalah ketika kau berharap pada orang lain. Terlebih lagi jika orang itu adalah orang yang kau cintai.˝

Jaejoong menatap noonanya dalam. Disana ada luka yang jelas terpancar. Dia salah ketika menganggap dirinya sendirian. Noonanya juga sendirian. Sendirian di Negara orang lain, tanpa satupun orang yang dikenalnya. Tanpa satupun orang yang dipercayainya. Permasalahan yang terjadi pada orang tua mereka, bukan hanya melukainya, tapi melukai kakak perempuannya itu pula. Dan selama ini, sebagai seorang laki-laki, dia hanya berlindung dibelakang kakak perempuannya itu, tanpa melihat adanya beban berat disana. Kakak perempuannya itu tidak seharusnya menanggung semua itu.

˝Noona tahu, apa yang sampai saat ini membuatku tegar? Karena noona selalu ada untukku. Terima kasih, noona.˝ Jaejoong memeluk Jae Ra yang sudah mulai terisak. Entah sejak kapan pembicaraan mereka menjadi drama yang biasanya mereka tonton di tv. ˝Noona, nanti malam, aku akan merayakan kebahagiaanku hari ini dengan teman-temanku, apa noona tidak berniat ikut?˝

˝Umma dan Appa mengajak kita makan malam nanti, sayang. Sepertinya mereka akan menjelaskan sesuatu pada kita.˝

Jaejoong terdiam, dia tidak menginginkan acara itu. Dia tahu apa yang akan mereka jelaskan kepadanya. Dia hanya ingin menganggap bahwa mereka baik-baik saja. Hari ini adalah hari bahagianya, dan dia tidak ingin hari ini dirusak begitu saja dengan kenyataan yang pasti akan menyakitinya nanti.

^^^SARANGHAMNIDA^^^

˝Dimana Jaejoong?˝ Yoochun menghampiri Junsu yang sedang membaca buku di sudut café seperti biasa.

˝Sedang makan malam bersama keluarganya. Tadinya dia akan mentraktir kita disini, tapi kakak perempuannya bilang bahwa Appa dan Ummanya mengajak mereka makan malam bersama.˝ Jelas Junsu yang disambut anggukan Yoochun seaakan mengerti situasi yang terjadi.

˝Apakah tadi pagi memang begitu kejadiannya?˝ Tanya Junsu.

˝Apa? Yunho? Atau Yonghwa?˝

˝Keduanya. Jaejoong mengatakan kepadaku jika dia bertemu Yonghwa yang ternyata sahabat masa kecilnya, dan dia berkenalan dengan Yunho dan menjadi akrab dengannya?'

Yoochun menaikkan kedua bahunya seakan tak tahu apa-apa. ˝Perkenalan mereka memang lancar. Dan aku melihat bahwa Yunho juga nyaman bersama Jaejoong. Terbukti Yunho sering tersenyum setelah mengantar Jaejoong tadi siang. Tetap satu hal yang membuatku sedikit penasaran.˝ Yoochun terdiam sebentar, seakan mengingat kembali apa yang terjadi tadi siang. ˝Yonghwa langsung mengajak Yunho ke ruangannya setelah Yunho mengantar Jaejoong, dan setelah mereka keluar, aku mendengar Yunho berkata Tenanglah, aku hanya ingin berteman. Aku tidak tahu apa mereka sedang membicarakan Jaejoong atau bukan.˝

˝Mungkin mereka membicarakan hal lain. Lagipula Yunho dan Jaejoong baru saja berkenalan. Dan Yonghwa belum tahu cerita sebenarnya bukan?˝

Yoochun mengangkat kedua tangannya lagi. Tadi pagi, Yonghwa memang bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tapi Yoochun tidak menjawab apapun. Orang yang berhak bercerita semuanya adalah Jaejoong. Dia tidak punya hak apapun. Dia hanyalah orang yang kebetulan terlibat dalam kisah cinta mereka atau lebih tepatnya kisah perkenalan mereka.

^^^SARANGHAMNIDA^^^

Drrtt Drrrttt

Ponsel Jaejoong bergetar di atas meja. Saat ini keluarga Kim sedang makan malam di sebuah restaurant mewah di tengah kota. Makan malam itu berlangsung hening, yang terdengar hanya dentingan piring dan sendok yang saling beradu.

Hai Joongie, kau dimana?

Itu pesan singkat Yonghwa yang Jaejoong baca di layer ponselnya.

˝Appa dan Umma ingin membicarakan sesuatu dengan kalian.˝ Suara Appanya membuat Jaejoong meletakkan kembali ponselnya, tanpa membalas pesan Yonghwa. Memusatkan perhatiannya pada ayahnya yang duduk tepat di depannya.

˝Joongie, appa rasa kau sudah mengetahuinya dari Jae Ra, bahwa kami …˝

˝Tidak perlu diperjelas, appa. Lebih baik langsung pada intinya saja.˝ Jaejoong menyela perkataan ayahnya.

˝Kami sudah menyerahkan berkas-berkas perceraian. Dalam waktu dekat, kami resmi bercerai.˝ seperti yang sudah diduga Jaejoong. Keluarga mereka tidak bisa lagi dipertahankan. Tetapi hal itu tetap saja seperti sebuah hantaman untuknya. Mengira semua baik-baik saja, dan menjadi orang terakhir yang mengetahui kenyataan itu, membuatnya seperti dibohongi berkali-kali lipat. Kakaknya benar, berharap kepada orang lain itu menyakitkan.

Jaejoong segera berdiri dari duduknya, tidak berniat sedikitpun untuk meneruskan makan malam canggung itu. Hatinya sungguh dipermainkan kedua orang tuanya. Langkahnya membawanya ke tepian Sungai Han yang cukup ramai, tetapi tidak mengganggu dunianya dalam lamunan yang coba dia bangun.

Udara malam itu cukup dingin. Korea sudah mulai memasuki musim dingin, tetapi nyatanya rasa dingin itu tidak mengganggu Jaejoong yang masih setia duduk sendiri disana. Ponselnya sejak tadi berdering, tetapi tetap tidak bisa mengalihkan perhatian Jaejoong dari satu titik tanpa batas di langit malam itu.

˝Kau membuat semua orang bingung mencarimu, Joongie.˝ Kali ini suara itu membuatnya menoleh. Suara berat yang akhir-akhir ini menghantui tidurnya. Membuatnya membangun mimpi-mimpi indah, mimpi-mimpi panas bersama orang yang saat ini duduk di sebelah Jaejoong dan memberikan segelas kopi hangat.

˝Apa yang kau lakukan disini?˝ Ini suara Jaejoong

˝Apa yang kau lakukan disini?˝ Kali ini suara Yunho.

˝Kau bertanya apa yang aku tanyakan, Yunho. Kau tidak bekerja?˝

˝Kau mungkin perlu mengecek sekarang pukul berapa?˝ itu bukan pertanyaan, itu perintah. Jaejoong melirik jam tangannya dan matanya terbelalak, dia sudah di sini selama 4 jam. Dan Jaejoong sama sekali tidak menyadari bahwa tempat yang tadinya ramai itu sekarang mulai sepi karena sudah menjelang tengah malam.

Yunho tersenyum lembut. ˝Yonghwa tadi menelponku. Dia mengatakan kau tidak membalas pesannya. Yoochun juga menelponku, dia bilang Junsu mendapat telepon dari Noonamu, bahwa kau pergi dari makan malam keluarga kalian.˝ Jeda sejenak. Yunho menunggu respon Jaejoong, yang ternyata tetap diam tak ingin menanggapi apapun. ˝Dan aku hanya bisa penasaran, kenapa semua orang menghubungiku untuk mencarimu?˝ Kali ini Jaejoong tertawa. Tawa hambar yang dipaksakan.

Yunho mengernyit, menatap Jaejoong yang tersenyum pahit. ˝Mungkin mereka mengira aku gila. Mungkin mereka mengira aku pergi denganmu?˝ Jaejoong menatap Yunho. Mereka saling menatap beberapa detik, mencari jawaban dari mata masing-masing.

˝Apa pergi denganku adalah sesuatu yang gila?˝ Yunho menangkap keterkejutan dari mata Jaejoong.

˝Jika itu terjadi mungkin aku akan benar-benar gila.˝

˝Kalau begitu, jadilah gila kalau memang itu bisa membuatmu tersenyum.˝ Yunho mempertipis jarak keduanya. Perlahan tapi pasti, mendekatkan bibirnya ke bibir Jaejoong. Melumatnya lembut, sangat lembut, membuat Jaejoong menutup matanya. Jika saat ini dia sedang bermimpi seperti sebelum-sebelumnya, Jaejoong tidak ingin terbangun dari mimpi. Ini indah.

˝Berapa lama kau duduk disini?˝ Jaejoong membuka matanya perlahan. Jarak wajahnya dan Yunho sangat dekat, sampai dia bisa merasakan nafas lembut Yunho di wajahnya.

˝Empat jam, mungkin.˝ Jaejoong bahkan menjawab seperti sebuah bisikan.

Yunho membuka jaket yang dikenakannya, lalu memakaikannya untuk Jaejoong. Kedua tangan Yunho berada di pipi Jaejoong, memberikan kehangatan. ˝Wajahmu sudah sangat dingin. Lebih baik kita pulang.˝

Jaejoong mengangguk seperti terhipnotis dengan apa yang terjadi. Bahkan perasaannya masih ragu untuk berbunga-bunga, takut jika ini semua hanya mimpi.

˝Apa kau benar-benar Yunho?˝ Langkah Yunho berhenti, membawa Jaejoong menghadapnya.

Yunho tersenyum hangat. ˝Kali ini kau tidak salah mengenalikku, Joongie. Ini benar-benar aku, Yunho.˝

˝Bagaimana kau tahu aku disini?˝

˝Aku hanya mengikuti kemana kakiku berjalan. Aku hanya berpikir tempat-tempat yang mungkin kau datangi untuk melamun. Karena tidak mungkin kau dating ke kedai kopi tempat kita pertama bertemu kan untuk melamun?˝

˝Kau mengingatnya?˝ Jaejoong berbinar penuh harap.

Yunho mengangguk. ˝Aku ingat. Semuanya. Bahkan saat kebodohanku memanggilmu nona, dan wajah kecewamu saat 2 minggu setelahnya, kau kembali dan aku tidak mengenalimu.˝ Kali ini Jaejoong memeluk Yunho. ˝Maafkan aku karena tidak mengingatmu, Joongie. Aku memang orang yang kurang memperhatikan lingkungan sekitarku.˝

TBC