Title : Our Lovely Wifey
Author : mingguki
Casts: Byun Baekhyun (22 th)
Park Chanyeol (24 th)
Park Jongin (20 th)
Park Sehun (19 th)
(nama marga diganti sesuai kebutuhan cerita)
Genre : Romance, Family, Drama
Rate : M
Warning: YAOI, BOYxBOY, MPREG, typo, dll
Happy reading ^^
"Ba..baek kau serius? Dia anakmu..? Bagaimana bisa.. maksudku a—aku" Sehun berkata dengan gugup dan hampir kehilangan kata-katanya. Ia masih dalam mode melototnya dan menatap balita yang digendong oleh Baekhyun, wajahnya sangat mirip dengan Baekhyun. Ia kira ini adalah adiknya atau sepupunya, tapi tak pernah terlintas di pikirannya bahwa ia adalah anak Baekhyun!
Baekhyun beralih duduk di meja makan kembali, duduk bersebrangan dengan Jongin dan Sehun yang masih melongo seperti orang bodoh. Ia memangku anaknya, dan membuat mereka menghadap Jongin dan Sehun juga.
"Iya.. dia anakku. Ayo sayang, perkenalkan dirimu pada uncle-uncle tampan ini."
Balita itu menatap dua lelaki bersaudara didepannya. Oh lihatlah mata itu, droopy eyes yang berbinar-binar. Benar-benar sama seperti mata Baekhyun.
"Annyeong ahjucci.. Namaku Jespel, umulku balu 2 tahun."
"Hehe Jesper pintar ya sekarang sudah bisa mengenalkan diri sendiri. Mommy makin sayang sama Jesper mmuaaachh…"
Baekhyun semakin mengecupi pipi gembil anaknya, yang membuat Jesper tertawa lepas karena perlakuan 'Mommy'nya.
Sehun dan Jongin hanya menatap dua orang berwajah mirip itu dengan kaku. Ekspresi mereka tidak terbaca lagi. Rasanya pikirannya sudah kosong dan entah melayang kemana. Akhirnya Jongin membuka suaranya terlebih dahulu.
"Tu—tunggu.. a,anak? 'Mommy'? A—aku tak mengerti, Baek."
Sehun menyetujui perkataan Jongin. Apa maksud semua ini? Rasanya baru kemarin ia bertemu Baekhyun, jatuh cinta pada pandangan pertama, hatinya terasa lebih hidup dan berbunga-bunga, tetapi ia benar-benar tak menyangka orang yang disukainya ternyata sudah memiliki anak!?
Baekhyun tersenyum, ia memaklumi kebingungan para tetangga barunya ini. Ia menghela nafas, dan menjelaskan kebingungan mereka dengan singkat.
"Jesper adalah anakku. Anak kandung yang lahir dari perutku. Kalian tahu di dunia ini ada beberapa lelaki 'istimewa' dan ternyata aku salah satunya. Aku mempunyai rahim, dan aku pun mengandung Jesper dua tahun yang lalu. Awalnya aku pun tak percaya aku adalah lelaki 'istimewa' yang bisa melahirkan seorang bayi. Tapi aku tak pernah menyesal ataupun marah. Karena justru sebaliknya, aku sangat senang dan bahagia Tuhan menitipkan malaikat kecil di perutku. Jesper adalah kado terindah dalam hidupku, dan aku sangat menyayanginya."
Baekhyun menengok ke arah Jesper, kini balita itu tengah memainkan kaos bagian dadanya. Ia menarik-narik kaos tersebut dengan ekspresinya yang lucu. Baekhyun terkekeh melihat tingkah Jesper.
"Ja—jadi kau adalah Mommy dari Jesper? La—lalu.. apa kau.. sudah menikah?" Sehun sedikit tak rela mengatakan kalimat terakhir. Entah kenapa rasanya dadanya sangat remuk sekarang, rasanya sangat sakit dan hatinya berkeping-keping melihat pemandangan di depannya.
Wajah Baekhyun yang tadinya ceria perlahan berubah, kini tak ada lagi senyum terpatri di wajah manisnya. Ekspresinya terlihat sendu dan sedih setelah mendengar pertanyaan Sehun.
"Aku tidak menikah. Sudahlah.. kita tidak usah membahas ini. Lagipula.. Jesper sudah bahagia hanya bersamaku."
Jesper yang mendengar Baekhyun pun merasa protes dan menolak dengan suaranya yang masih cadel. "No, mommy! Cudah Jespel bilang Jespel akan lebih cenang bila Jespel punya daddy. Tapi mommy tidak pelnah mau membeli Jespel daddy."
Jesper mengerucutkan bibirnya sambil menggembungkan pipi merahnya. Baekhyun menatap anaknya tersentuh, ia tahu sebenarnya Jesper sangat ingin mempunyai figur ayah. Tapi mau gimana lagi, keadaan yang memaksanya begini. Semua adalah kesalahannya di masa lalu.
"Jesper bilang ingin Mommy bahagia kan? Jangan membahas tentang Daddy lagi Jes. Mommy akan sedih nanti…" Baekhyun mengecup puncak kepala Jesper dengan sayang.
"Jespel ingin daddy…hiks" mata Jesper mulai berair, dan hidungnya mulai mengeluarkan ingus. Asal tau saja, topik 'Daddy' adalah topik paling sensitive bagi 'Mommy' dan anak itu. Baekhyun ingin sekali menghindari dan mengubur dalam-dalam topik itu, tetapi sepertinya anaknya tidak setuju dan terus membahas-bahas topik tersebut.
Sehun dan Jongin pun merasa sangat bersalah. Sehun merasa paling bersalah karena menanyakan tentang 'pernikahan' kepada Baekhyun. Sepertinya lelaki yang disukainya ini punya pengalaman pahit tentang pernikahan ataupun Ayahnya Jesper. Dari raut wajah Baekhyun saja tersirat seberapa dalam luka yang ia pendam.
"Hiks, Jespel ingin punya Daddy.. hiks" bocah kecil itu mulai sesenggukan, matanya menatap Jongin dan Sehun yang menatap Jesper dengan pandangan lembut. Jesper melihat kedua orang itu bergantian, lalu tiba-tiba dia berhenti menangis. Perlahan bibir Jesper membuat senyum manis, senyum yang sangat mirip dengan senyum Baekhyun.
"Jespel ada ide.. bagaimana kalau paman-paman ini yang akan menjadi Daddy Jespel, Mom?"
Jesper menengok keatas, kearah Baekhyun yang merona merah karena ucapan anaknya.
Sehun tersedak minum yang akan diminumnya, sedangkan Jongin menggaruk lehernya kaku dengan wajah memerah pula. Anak kecil memang sangat polos. Tapi sebenarnya, di dalam hati dua kakak beradik ini tidak keberatan dengan perkataan Jesper. Justru mereka SANGAT SETUJU!
Baekhyun yang tadinya merona karena malu, perlahan tersenyum karena melihat perubahan ekspresi anaknya yang kini jadi lebih ceria.
"Daddy itu kan cuma boleh ada satu, Jes.. memang paman-paman ini mau menjadi daddynya Jesper?"
"MAUUU!/SANGAT MAUUU!"
Refleks Sehun dan Jongin menjawab dengan terlampau semangat. Mereka seperti tidak tahu malu, tapi yeah inilah jawaban dari pertanyaan Baekhyun tadi. Kedua pemuda ini entah kenapa jadi lebih semangat, dan yang penting mereka tidak jadi patah hati, karena menurut mereka masih ada kesempatan untuk memiliki seorang Baekhyun. Walaupun Baekhyun sudah memiliki satu anak, tapi tidak mematahkan hati pejuang kedua pemuda ini. Justru inilah tantangannya, menaklukan hati Baekhyun dan hati anaknya.
Baekhyun dan Jesper pun dibuat kaget oleh teriakan keduanya. Baekhyun melotot dengan pipinya yang memerah, sangat menggemaskan. Sedangkan Jesper bertepuk tangan senang, wajahnya bahagia sekali sampai ia tertawa lucu.
"Lihat, lihat, Mommy! Paman ini cetuju untuk jadi Daddynya Jespel! Sepeltinya Tuhan mengabulkan keinginan Jespel, kali ini Jespel akan mempunyai dua Daddy yeheeeey!"
Balita itu kegirangan, sedangkan Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya.
"Lucu sekali anakmu, Baek. Ehm sepertinya ia suka kepada kita berdua."
Jongin berucap sangat narsis, sambil menatap gemas pada Jesper.
"Ohya? Jesper ini memang anak yang mudah suka pada semua orang. Tapi semakin kau dekat dengannya, biasanya dia malah semakin manja dan nakal."
"Aku malah suka anak kecil! Dan Jesper menurutku anak yang sangat manis apalagi dia sangat mirip denganmu." Ucap Sehun semangat.
"Aigoo.. lihat paman-paman ini Jes. Kau suka pada mereka?"
Baekhyun melihat anaknya, dan Jesper hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Cuka! Cuka! Meleka cangat tampan! Jes ingin punya Daddy cepelti meleka, Mom!"
Dalam hati Sehun dan Jongin tersenyum menang, lihatlah anaknya saja sudah tak sabar ingin mempunyai Daddy salah satu dari mereka. Ugh rasanya akan sangat senang bisa menjadi kekasih Baekhyun, mendapat bonus anak yang sangat manis, entah kenapa apa yang sudah dilakukan oleh Baekhyun hingga meracuni dan memenuhi otak kedua kakak beradik ini.
"Aigoo..Jesper boleh bermain dengan paman-paman ini, tapi ingat panggil mereka 'Uncle' ya? Karena mereka kan belum menjadi Daddy-nya Jesper. Ingat, yang tampan putih itu namanya Uncle Sehun, dan yang tampan seksi itu namanya Uncle Jongin. Ayo bilang 'salam kenal'!"
Jesper menaruh tangan mungilnya di perut, lalu ia membungkuk sedikit, sambil mengucap,
"Calam kenal~~ Uncle Cehun, Uncle Jongin!"
Sehun menangkupkan pipinya sendiri dengan gemas. Pada dasarnya ia memang lemah pada anak kecil dan kadar menggemaskan Jesper ternyata menurun dari 'Mommy'nya.
"Ayo Jes, makan ya. Mommy sudah siapkan makanan untuk Jes."
Baekhyun beranjak ke meja dapur dan mengambil semangkuk kecil yang berisi bubur nutrisi untuk balita. Mangkuknya yang berwarna biru muda dan bergambar bermacam-macam hewan lucu, juga sendok berwarna sama dengan muka gajah imut di ujung sendoknya. Peralatan makan Jesper pun bahkan lucu-lucu, karena memang Baekhyun menyukai dan membeli barang semua yang imut-imut untuk anaknya.
Baekhyun duduk di sebelah Jesper. Sedangkan Jongin dan Sehun berlanjut memakan sarapan mereka kembali, kali ini lebih tenang, hati mereka pun juga lebih tenang dan adem. Mereka tidak jadi kecewa dan patah hati, justru kini rasanya rasa suka mereka kepada Baekhyun semakin berkobar membara untuk melindungi Baekhyun dan malaikat kecilnya. Apalagi dengan melihat pemandangan di depannya.
Baekhyun menyuapi anaknya dengan sabar, matanya terlihat sangat bersinar dan cantik ketika melihat anak satu-satunya makan dengan lahap. Terkadang Baekhyun dengan telaten mengelap sisi mulut Jesper yang berantakan dengan tisu, lalu kembali menyuapi anaknya.
Entah kenapa, melihat pemandangan ini Sehun dan Jongin malah semakin jatuh hati kepada Baekhyun. Sehun bisa melihat dengan jelas betapa dalam sayangnya Baekhyun dengan Jesper, meskipun kini anaknya itu tidak punya ayah, tapi bisa dilihat Jesper pun bahagia tinggal dengan Baekhyun. Jongin sendiri, ia semakin jatuh karena melihat pancaran wajah Baekhyun yang entah kenapa lebih cantik bila bersama anaknya. Wajahnya semakin bersinar dan matanya berkerlip, juga senyuman manis yang terpatri di bibirnya membuatnya semakin cantik.
"Cha.. Jesper pintar, sudah selesai sampai habis makannya. Kau pasti lapar eoh dari kemarin belum makan, hanya tidur seharian di kamar."
Baekhyun mencubiti pipi Jesper. Sehun sendiri mengerti kenapa kemarin ketika ia berkunjung kesini apartemen Baekhyun terlihat kosong, karena ternyata anaknya ada di dalam kamar sedang tertidur pulas.
"Jespel kan capek kemalin balu tiba dali lual kota."
Baekhyun tersenyum mendengar anaknya yang kini semakin pintar dan aktif berbicara, juga bisa menjawab pertanyaan Baekhyun. Jesper ini memang termasuk anak pintar dan otaknya cepat menyerap.
"Ah, Sehunie dan Jonginie sudah selesai makannya? Biar aku bereskan piringnya."
"Tidak usah Baek! Biarkan kami membantu memberesinya."
"Hey kalian kan tamuku ingat? Sudahlah biarkan aku yang membereskannya, lebih baik kalian temani Jesper sesaat. Dia sangat senang bertemu orang baru."
Mendengar itu pun kedua kakak beradik tadi akhirnya mengalah. Baekhyun mengambil semua piring kotor di meja dan berjalan menuju wastafel, mencuci semuanya dengan semangat.
Jongin beralih melipat tangan di atas meja, lalu menaruh kepalanya diatas tangannya. Ia menatap bocah kecil di hadapannya yang memandangnya lucu dengan mata sangat mirip dengan Baekhyun.
"Jesper, Jesper sangat sayang ya sama Mommy Baekhyun?"
Jesper mengangguk-angguk kepalanya semangat menjawab pertanyaan Jongin.
"Tentu saja! Mommy itu nomol satu di hati Jespel, Jespel cinta Mommy, bahkan Jespel lebih sayang sama Mommy dalipada sama Mongnyongie."
"Mong..nyong? Apakah maksudnya Mongryeong? Siapa itu Mongryeong?"
"Mongie itu teman Jespel, teman Jespel main bial Jespel tidak kecepian, tapi sekalang Mongie cudah tidak dicini lagi.."
Jesper memajukan bibir bawahnya, mata kecilnya berkaca-kaca.
Sehun pun mencoba menenangkan Jesper, ia menghapus air mata yang akan keluar dari sudut mata Jesper.
"Memang sekarang Mongryeong kemana? Tidak menemani Jesper lagi?"
"Mongryeong itu anjing kami."
Suara Baekhyun tiba-tiba menyahut, tampaknya ia sudah selesai membereskan pekerjaannya. Kini Baekhyun kembali ke meja makan dan bergabung bersama mereka. Tangannya mengelus kepala Jesper dengan lembut.
"Mongryeong-ie itu anjing kecil yang selalu bersamaku, hingga Jesper lahir dan tumbuh pun Mongryeong selalu ada untuk kami, terkadang bila aku bekerja ataupun di luar rumah maka di dalam rumah akan ada Mongryeong yang menemani Jesper bermain. Tapi kini kami pindah ke apartemen yang lebih kecil, maka Mongryeong aku titipkan di rumah Ibuku. Aku tak bisa merawat Mongryeong sendiri lagi, biaya makanannya ataupun perawatannya. Jadi mungkin Jesper memang lebih sedih dan kesepian sekarang."
Kedua saudara itupun mengangguk mengerti.
"Namun nanti kan kalau Mommy mulai kerja, Mommy bisa menitipkan Jesper di rumah halmeoni. Di rumah halmeoni ada halmeoni Heechul kesayangan Jesper, dan Mongryeong yang Jesper kangenin. Jadi Jesper jangan sedih ya sayang."
Jesper mengangguk-angguk kepalanya kecil, ia beralih memeluk Baekhyun erat sambil menenggelamkan kepalanya di perut Baekhyun. Baekhyun mengelus rambut anaknya.
"Ngomong-ngomong, boleh kami tau alasan kau pindah kesini?"
Baekhyun tersenyum mendengar pertanyaan Jongin.
"Tidak ada alasan penting… aku hanya ingin memulai hidup baru. Mencari pekerjaan, lalu bekerja keras dan menghidupi anakku sampai besar dengan layak juga penuh kasih sayang. Mungkin hanya itu…"
"Tunggu.. jadi kau belum mempunyai pekerjaan di Seoul ini?"
Baekhyun menatap dengan pandangan polos sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah bilang bukan aku ingin memulai hidup baru. Jadi mungkin hari ini aku akan mulai mencoba melamar pekerjaan, doakan saja hari ini hari keberuntunganku."
"Pekerjaan ya.. ah ah aku ada ide!"
Sehun menjetikkan jemarinya dengan semangat, wajahnya seketika bersinar seolah-olah ia baru saja memikirkan pikiran yang sangat pintar dan cerdas. Sehun beralih menatap Jongin dengan pandangannya, Jongin pun ber"aah"ria dan mengerti pekartaan Sehun. Ia ikut menjetikkan jemarinya dengan semangat.
"Bagaimana kalau.. kau bekerja di perusahaan kakakku saja?" Sehun menawari Baekhyun dengan nada ceria.
Baekhyun sendiri berkerut, "Kakakmu? Jongin?"
"Ani Ani! Bukan Jongin! Mana mungkin si hitam ini bisa punya perusahaan. Maksudku kakakku yang satu lagi, ia adalah seorang CEO di perusahaan…ehm keluarga kami. Kalau kau mau aku bisa membujuk kakakku, bahkan aku bisa membujuknya agar kau masuk kesana tanpa tes sekalipun!"
Sehun berujar dengan semangat dan gembira seolah ia ingin memberikan Baekhyun sejuta keping emas secara cuma-cuma. Namun berbeda dengan Baekhyun, ekspresinya lebih tenang dan ia menjawab tawaran Sehun dengan halus.
"Terima kasih atas tawarannya Sehunnie. Tapi sejujurnya saat ini aku sedang tak ingin kerja di perusahaan… mungkin aku akan melamar di toko kue di Seoul. Rencananya aku ingin bekerja di toko kue pastry milik temanku."
Baekhyun tersenyum manis, Sehun pun sedikit tidak percaya dengan Baekhyun. Padahal jelas-jelas kalau bekerja di perusahaan kan gajinya pasti lebih besar, menurut Sehun.
"Ini bukan hanya tentang penghasilan Sehun-ah. Aku memang suka membuat kue manis dan merasa bahagia ketika melihat orang-orang memakan kue buatanku, jadi aku sudah putuskan ingin bekerja di toko milik temanku. Tapi tetap aku merasa berterima kasih atas tawaran kalian berdua."
Kedua orang itupun tak bisa berkata apalagi apabila memang Baekhyun sudah berkata seperti itu.
"Baiklah, tapi ingat Baekhyun apabila kau kesulitan dalam pekerjaanmu ataupun berubah pikiran kau tetap bisa mengandalkan kami. Kami pasti akan selalu ada untukmu."
"Aigoo.. kalian dongsaeng yang sangat manis. Aku bersyukur mempunyai tetangga seperti kalian. Kakak kalian juga pasti senang ya mempunyai dongsaeng yang manis dan penurut seperti kalian."
Sehun dan Jongin pun hanya tersenyum asam dan pahit, merasa kasihan dengan hyungnya Chanyeol yang jarang melihat mereka bersikap seperti ini. Biasanya kan kedua kakak beradik ini sukanya berantem dan berbuat ulah di depan kakaknya. Mereka berdua bersikap jinak seperti ini hanya di depan Baekhyun.
"Haha.. tidak juga kok. Kami hanya senang mempunyai tetangga yang cantik dan anaknya yang lucu. Kami yang bersyukur karena kau memutuskan pindah ke sebelah apartemen kami, sehingga kini hidup kami tidak sepi lagi dan lebih berwarna."
Baekhyun tertawa kecil mendengar penuturan kedua orang yang menurutnya lucu itu.
"Oke,oke kalian juga lucu ternyata. Ngomong-ngomong apa kalian tidak kuliah? Kalian berada di semester yang sama?"
Mendengar itu Jongin menggaruk lehernya pelan dan tertawa dipaksakan.
"Ahahah iya aku dan Sehun satu semester karena aku ada masalah dahulu sehingga tertinggal kelas. Wah ternyata sudah jam segini ya tidak terasa. Ayo Hun berangkat kuliah kita kan ada kuis!"
Jongin mungkin merasa sedikit malu sehingga ia buru-buru mengajak Sehun pergi ke kampus. Padahal biasanya Jongin yang paling telat bila datang ke kampus.
"Baik-baik.. Sepertinya sampai sini perkenalan kita ya Baekhyun. Ngomong-ngomong, apa tidak apa-apa bila aku, ehm maksudnya kami berdua sering-sering berkunjung ke apartemenmu? Kau tahu apartemen kami sangat sepi dan kadang kami suka stress karena tak mempunyai teman di rumah. Jadi tak apa-apa kan kalau aku, ah maksudku aku dan Jongin sering berkunjung?"
Baekhyun menganggukan kepalanya semangat, "Tentu saja kalian bebas berkunjung kemari. Aku juga akan sangat senang bila mempunyai teman, dan Jesper juga pasti lebih senang bila kalian sering-sering berkunjung."
Sehun dan Jongin tersenyum lega, keduanya kini telah sampai di depan pintu utama. Baekhyun mengantarkan mereka dengan Jesper kecil di gendongannya.
"Terima kasih banyak atas sarapannya, Baek. Masakanmu benar-benar enak sekali!" ujar Sehun semangat.
"Ya aku harap aku bisa memakan masakanmu setiap hari." Tambah Jongin.
Baekhyun tersenyum hingga kedua matanya melengkung, "Kalau begitu sering-sering kemarilah! Aku akan senang memasak untuk kalian berdua!"
Sehun dan Jongin saling tatap menatap, lalu keduanya mempunyai smirk masing-masing di wajahnya.
"Tentu!"
"Baiklah. Kami pergi dulu ya, Baek!"
Baekhyun menganggukkan kepalanya. Sehun dan Jongin pun berjalan keluar, namun belum lima langkah mereka lewati, terdengar suara anak kecil yang imut memanggil mereka.
"Dadah! Daah! Hati-hati ya calonnya Daddy Jespel!"
Jesper dengan gembira melambai-lambaikan tangannya. Ucapannya membuat Sehun dan Jongin tersenyum seperti orang gila sambil mendadah balik dengan semangat ke Jesper. Sedangkan Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya dengan pipi merona seperti kepiting rebus mendengar perkataan anaknya.
Baekhyun beranjak turun dari bus yang tadi ia naikki. Setelah membayar ke kotak uang, ia turun dan disambut dengan halte yang familiar di matanya.
Karena cuaca yang hari ini di luar ternyata cukup dingin, mengingat masih memasuki musim semi, Baekhyun memakai jaket yang cukup tebal. Sedangkan anaknya yang juga dibawanya, Jesper, ada di gendongannya memakai jaket hijau lucu dengan bentuk dinosaurus. Ia memakai kupluk jaket yang terdapat tanduk kecil buatan diatasnya, juga ujung jaketnya yang terdapat bentuk ekor dinosaurus. Benar-benar menggemaskan.
Dengan Jesper yang berada di gendongannya, dan tas besar yang ditentengnya, Baekhyun perlahan berjalan kaki menuju rumah yang ia sangat kenal. Ah rasanya ia rindu jalanan ini. Semuanya memang familiar di mata Baekhyun tapi ketahuilah ia sudah sangat lama tidak kemari lagi.
Baekhyun berjalan perlahan. Jesper yang merasa sesuatu pun langsung meminta turun dari gendongan Baekhyun dan ingin jalan sendiri.
"Eh? Tumben Jes tidak ingin Mommy gendong."
"Tidak ah," Jesper perlahan berdiri disebelah Baekhyun sambil menggenggam erat tangan Baekhyun.
"Sepeltinya Mommy kebelatan dengan tas itu lagipula Jespel ingin jalan sendili. Jespel tidak sabal ingin ketemu halmeoni dan mongie!"
Baekhyun tersenyum. Setelah mereka berdua berjalan tak cukup jauh ke dalam sebuah komplek rumah, akhirnya mereka tiba ke rumah sederhana dengan banyak tanaman di hadapannya. Rumah ini memang tidak besar, tapi terlihat sekali masih terawat dan lihatlah tanaman dan bunga di halaman depan rumah, sungguh berwarna-warni dan indah. Inilah rumah masa kecil Baekhyun. Ah rasanya Baekhyun rindu sekali kesini lagi.
Setelah tiba di depan pagar, Jesper melepaskan genggamannya pada tangan Baekhyun dan berlari-lari sambil melompat senang ke arah pintu. Baekhyun pun mengikuti di belakangnya. Dan perlahan ia menghembuskan nafasnya lalu mengetuk pintu rumah dengan pelan.
"Iya, sebentar..!"
Baekhyun mendengar suara wanita keibuan itu, ia tersenyum senang. Perlahan pintu rumah terbuka, menampilkan wanita berambut hitam dengan rambutnya yang dicepol ke belakang. Wanita itu sebenarnya berumur paru baya namun tak meninggalkan kesan cantik dan awet muda di wajahnya.
"Eomma..!"
"Halmeoni!"
Heechul, wanita itu pun melotot kaget namun sedetik kemudian ekspresinya berubah jadi senang dan gembira. Ia memeluk anak lelakinya, Baekhyun dengan erat lalu tak lupa menunduk untuk memeluk cucu lelakinya, Jesper. Setelah puas memeluk Jesper Heechul beralih menggendong cucunya.
"Aigoo, Baekhyunnie akhirnya sampai juga. Dan lihatlah Jesper sekarang sudah sebesar ini, sepertinya dia sudah pintar berjalan sekarang. Ah aku rindu sekali dengan cucuku satu-satunya ini. Apa Jesper pandai berlari juga? Apa dia akan menjadi atlit suatu saat nanti? Aigo aigoo aku sangat excited. Ayo masuk sayang, biar Eomma bantu."
Baekhyun dan Heechul perlahan masuk kedalam rumah sambil menenteng tas besar yang tadi Baekhyun bawa. Mereka duduk di ruang tv yang sofanya memang cukup besar. Heechul menaruh Jesper untuk duduk di sofa dan perlahan ia ke arah dapur. Baekhyun pun mengekori Ibunya untuk menyiapkan makanan.
"Guk! Guk!"
Jesper yang mendengar suara gugukan anjing matanya melihat kebawah, dan ia melonjak senang karena ada Mongryeong, anjing kesayangannya. Mongryeong yang pintar pun memanjat ke sofa, lalu ia berjalan memutar-mutari Jesper yang tertawa karena tingkah laku Mongryeong.
Setelah memanaskan cookies dan membuat teh untuk mereka berdua, juga susu untuk Jesper, kini Ibu dan anak tadi kembali ke ruang tv. Baekhyun tersenyum melihat keceriaan Jesper dengan Mongryeong.
Baekhyun duduk di sebelah Jesper, sedangkan Heechul duduk di sofa single di depan samping Baekhyun.
Heechul tersenyum melihat cucunya yang sedang bermain dengan Mongryeong. Rasanya waktu begitu cepat, kini ia melihat cucu laki-lakinya tumbuh besar dan menjadi hiperaktif. Jesper memang anak yang aktif berbicara dan pandai mengekpresikan perasaannya, tapi sikap lucunya memang masih sama seperti balita lainnya.
"Jadi, Eomma.. Apa kabar?" Baekhyun membuka topik pembicaraan dengan Ibunya. Wajahnya terlihat sendu dan ada sedikit guratan lelah disana.
Heechul menghela nafas, lalu menatap anaknya dengan ekspresinya yang lembut.
"Harusnya Eomma yang menanyakan itu kepadamu, Baekhyun.. Apa kabarmu? Bagaimana rasanya tinggal di Seoul lagi? Apakah tempat tinggalmu menyenangkan?"
Mendengar kata 'tempat tinggal' Baekhyun tersenyum sedikit, ia jadi teringat tetangga barunya yang lucu dan baik. "Aku rasa aku mulai senang berada disini. Tempat tinggalku sangat nyaman, dan aku mendapat bonus tetangga yang lucu. Mereka sangat menghiburku, Eomma."
"Aih benarkah? Eomma senang kalau kau bahagia, Baekhyun. Apakah kau akan mulai bekerja lagi sayang?"
Baekhyun menganggukkan kepalanya. "Yaa.. mungkin aku akan mencoba bekerja di toko kue Kyungsoo. Eomma masih ingat kan, Kyungsoo sahabatku semasa kuliah dulu. Ah aku jadi sangat rindu padanya."
Heechul tersenyum, "Tentu kau rindu padanya karena kalian tidak bertemu lagi semenjak lulus kan. Baiklah, Eomma akan menyetujui apapun yang kau lakukan, Baek. Asal kau bisa memulai hidup baru disini bersama Jesper, dan mencoba membuka lembaran baru. Eomma sangat bangga, nak."
"Ya, Eomma… aku akan memulainya."
"Ngomong-ngomong, Eomma, mulai sekarang tiap aku bekerja aku akan menitipkan Jesper disini. Setelah selesai nanti aku akan menjemputnya, ini tidak akan merepotkanmu kan?"
Heechul menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum ramah.
"Kau ini seperti tak tahu Eomma saja. Tentu saja Eomma dengan senang hati akan menjaga Jesper, kau boleh membawanya kesini kapanpun kau mau. Eomma kan sangat sayang dengan cucu Eomma satu-satunya ini."
Baekhyun terharu, ia segera menghambur ke pelukan Eomma-nya. Memang Ibunya lah yang paling pengertian dengan dirinya.
Baekhyun berjalan menuju toko kue cantik di pinggir jalan Seoul. Toko kue yang dominan berwarna pastel dan coklat dengan plang bernama Do's The Cake itu adalah toko kue terkenal. Toko yang menjual berjenis makanan manis, seperti cupcake, cake, pastry, dessert, kue ulang tahun, bahkan kue pernikahan. Toko ini pun merangkap menjadi café dengan interior yang manis menjadi para pengunjung betah berlama-lama disini. Sekedar menyantap kue maupun kopi hangat.
Baekhyun berjalan masuk dan langsung disambut oleh aroma manis vanilla. Ia tersenyum melihat sekitar, café ini sangat indah dan terlihat dari ramainya para pengunjung, bahwa toko kue ini sangat digemari. Ia jadi sangat bangga dengan Kyungsoo, sahabatnya dulu yang kini telah meraih cita-citanya. Membangun toko kue dengan namanya sendiri. Ah ngomong-ngomong, kemana sahabatnya itu? Ia sudah tidak bertatapan wajah dengan Kyungsoo selama bertahun-tahun. Walaupun mereka tetap menghubungi di SNS, tetap saja Baekhyun sangat rindu dengan sahabat bermata bulatnya itu.
"Baek!"
Baekhyun menoleh ke samping begitu namanya terpanggil. Disana ia bertatapan dengan lelaki mungil bermata bulat, dan memakai pakaian serba putih ala chef di badannya. Wajah Baekhyun langsung sumringah lebar, ia masih mengenal mata bulat dan bibir berbentuk hati itu walaupun mereka sudah tidak bertemu bertahun-tahun.
"Kyungie!"
Baekhyun balas teriak, lalu ia segera menghambur ke pelukan Kyungsoo. Rasanya sangat nyaman berpelukan dengan sahabat baikmu setelah sekian lama berpisah.
"Kyung! Aku sangat rindu padamu..hiks"
Tak terasa air mata telah menuruni mata Baekhyun, ia sesenggukan sambil memeluk sahabatnya dengan erat. Terbukti betapa ia merindukan Kyungsoo, Kyungsoo pun mengusap punggung Baekhyun sambil tersenyum lemah.
"Aku juga rindu, Baek.."
Setelah puas meluapkan kerinduan dalam dekapan hangat masing-masing, Baekhyun perlahan menjauhkan tubuhnya dan mengusap air matanya. Kini matanya lebih meneliti Kyungsoo, yang tidak berubah, hanya saja entah kenapa Kyungsoo yang sekarang lebih.. keren? Mungkin karena Kyungsoo yang dulu ia kenal hanya seorang pecinta buku dan suka mengikuti kelas memasak. Intinya dulu Kyungsoo itu nerd dan Baekhyun adalah satu-satunya sahabatnya. Tapi lihatlah Kyungsoo sekarang, lebih menawan dengan potongan rambut pendeknya yang segar dan terlihat imut dengan pakaian chefnya.
"Ayo, masuk dulu, Baek. Aku sudah menyiapkan pekerjaan yang kau inginkan, menjadi baker disini. Aku tidak menyangka dengan kau yang mengirimku chat tiba-tiba meminta bekerja di tempatku. Aku kira kau akan bekerja di perusahaan ternama, mengingat kau lulusan luar negri."
"Ah.. tidak. Aku hanya ingin menjadi baker sederhana, lagipula bila aku bekerja kantoran nanti aku akan sibuk, lalu siapa yang mengurus Jesper?"
Kyungsoo menutup mulutnya dengan tangan, dan matanya yang sudah besar semakin membola.
"Astaga.. bagaimana aku bisa lupa! Jesper, anakmu. Astaga, aku ingin sekali bertemu dengannya. Fotonya saja sudah mirip denganmu! Lain kali ajak aku bertemu Jesper, ya, ya?"
Baekhyun mengangguk sambil terkekeh. "Tentu saja, Kyung. Jesper pasti senang punya banyak teman apalagi paman yang imut sepertimu."
"Aigoo.. aku jadi tak sabar."
"Hehe.. ngomong-ngomong, bisakah sekarang aku mulai bekerja?"
"Tentu! Kemari, biar kita mengganti seragammu terlebih dahulu!"
Chanyeol memandang jalanan dengan malas. Kini ia sedang berada di dalam mobil mewahnya, tepatnya di jok belakang. Di depannya adalah supir perusahaan yang biasa mengantarnya. Sebenarnya Chanyeol biasa membawa mobil sendiri, namun karena kali ini adalah meeting penting dan ia tak mau menyetir dikejar waktu, pasti ia menggunakan supir.
Handphonenya bergetar. Ada pemberitahuan chat LINE masuk. Ia membuka kode handphonenya, dan melihat Sehun yang mengirim stiker padanya. Stiker itu hanya berupa gambar lucu dengan teks 'Hi!', diikuti teks beberapa detik kemudian.
read 'Hyung, sedang apa?'
Ia mengernyit. Tumben-tumbenan anak ini menanyakan kegiatannya. Ia membalas dengan cepat.
'Perjalanan ke meeting. Kenapa bertanya? Tumben'
read 'Hehe'
read 'Tidak apa-apa. Aku lagi bahagia saja, hyung'
read 'Aku bertemu malaikat cantik di kamar sebelah ;-;'
read 'Mungkin dia jodohku.'
read 'Hyung harus restui kami ya.'
read 'Eh tapi aku punya saingan, si kkamjong hitam itu.'
read 'Ckck dasar kkamjong, setiap apapun yang aku inginkan pasti dia mengikutinya.'
read 'Tapi aku yakin kali ini aku yang menang. HAHA'
read 'Hyung doakan adikmu yang tampan ini mencari istri lelaki cantik'
read 'Sudah ya hyung aku sibuk sedang di kampus'
read 'Aku hanya ingin bilang itu saja. Annyeong hyung'
Dan pesan beruntun Sehun diakhiri dengan sticker karakter Line yang sedang kabur. Chanyeol mengernyit, kenapa dengan adiknya ini? Sehun mengiriminya pesan dengan waktu sangat cepat, Chanyeol pun tidak sempat membalasnya. Baru ia ingin mengetik balasan, tiba-tiba info bahwa Sehun baru saja mengakhiri chat muncul. Ia mendengus, dasar maknae nakal ini.
Handphone Chanyeol bergetar lagi, tadinya ia akan abaikan kalau itu pesan dari Sehun lagi. Tapi ternyata Ibunya yang mengiriminya pesan. Ia pun membacanya.
'Annyeong, Chanyeol-ah! Kabar gembira! Hari ini Ibu akan pulang ke Korea! Mungkin nanti malam Ibu akan sampai rumah haha. Ah Ibu kangen sekali dengan Sehunie dan Jonginie. Ibu tunggu kalian bertiga di rumah nanti malam untuk menyambut Ibu.
p.s : Ibu sedang ingin sekali makan cupcake. Chanyeol-ah nanti belikan Ibu cupcake yang enak ya.'
Chanyeol mendengus sambil tersenyum. Ah, ia rindu Ibunya dan sudah lama ia tidak kumpul lengkap bersama keluarganya. Cupcake? Oh ayolah, Chanyeol pasti akan memberikan cupcake terenak untuk Ibunya yang memang pecinta makanan manis.
Ketika Chanyeol telah membalas pesan Ibunya, ia kembali ke menu home pada handphonenya. Entah kenapa, tiba-tiba perasaan Chanyeol jadi aneh. Hatinya tiba-tiba berubah sendu dan bergemuruh di waktu yang sama. Seperti tiba-tiba saja ada firasat aneh yang akan datang. Entah kenapa, ia memencet menu gallery di handphonenya dan tangannya dengan lincah membuka sebuah album. Lalu terpampanglah foto seseorang di layar besar handphonenya. Foto itu, foto seseorang yang selalu ia tatap apabila ia sedang gundah. Orang itu… orang yang ia cari selama dua tahun ini….
"..Aku rindu sekali padamu,"
Waktu menunjukan sudah jam 4 sore. Meetingnya dengan klien sudah selesai, dan kini Chanyeol kembali dalam mobilnya bersiap untuk pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya. Tak lupa, ia mengingat pesan Ibunya.
Ketika mobil berjalan dan Chanyeol melihat ke luar jendela, ia tak sengaja menangkap sebuah toko kue dengan dekorasi cantik di pinggir jalan. Ah, itu kan toko kue terkenal yang memang popularitasnya nomor satu di Seoul. Ia pikir tempat inilah yang paling cocok untuk membeli cupcake pesanan Ibunya.
"Berhenti di toko sebelah sana ya, Pak."
Setelah mobil berhenti, Chanyeol keluar dari mobil. Ia sedikit merapikan jasnya, lalu berjalan masuk ke toko tersebut. Setelah ia masuk, banyak para pengunjung yang menoleh ke arahnya, terutama pengunjung wanita dan bahkan pelayan wanita. Baiklah, Chanyeol itu memang terkadang sering menjadi pusat perhatian karena parasnya yang tampan bak model. Belum lagi setelan jas mewahnya yang membuat ia terlihat lebih gagah dan berwibawa.
Ia berjalan ke meja kasir, dan bertemu dengan seorang pelayan wanita cantik berambut pirang yang ramah senyum.
"Selamat datang di Do's The Cake. Apa yang ingin Anda pesan, Tuan?"
Chanyeol mengetukkan jarinya di dagunya, matanya meneliti setiap menu yang terpasang di papan tembok belakang kasir.
"Aku pesan dua box besar cupcake special. Rasanya di mix saja, ya."
"Baiklah. Dua box besar cupcake special, dibawa pulang. Ah tapi maaf Tuan, stock cupcake nya saat ini sudah hampir habis dan kami baru akan membuatnya lagi. Tidak apakan kalau Anda menunggu sebentar?"
Chanyeol tersenyum dengan berkarisma.
"Tentu, tak masalah. Kalau begitu aku akan menunggu di meja sebelah sana, ya?" Chanyeol menunjuk sebuah meja kosong di samping jendela.
"Iya, baiklah. Kami akan mengantarkannya apabila sudah jadi. Terima kasih, Tuan."
Setelah Chanyeol membayar pesanannya, ia kembali duduk di kursi kosong tadi. Tangannya mengetuk meja, sambil pandangannya beredar ke sekitar toko kue tersebut. Mau dilihat dari manapun toko ini sangat manis dengan interiornya. Juga display macam-macam kue di etalase yang terlihat nikmat dan menggugah selera, pantas bila toko ini menjadi toko terkenal di Seoul.
Kyungsoo menyelesaikan finishing touch up pada topping cupcakenya. Tadaaah, selesai. Cupcake ini sekarang sudah cantik dengan hiasan topping macam-macam diatasnya. Baekhyun yang disebelah Kyungsoo hanya bertatap kagum pada temannya itu. Tadi Baekhyun memang membantu membuat adonan cupcake, namun tadi Kyungsoo berusaha mengajarinya menghias topping dengan cantik. Dan Baekhyun kagum,cupcake nya sekarang berubah menjadi special di tangan Kyungsoo. Baekhyun berjanji akan terus mencoba belajar agar bisa sejago Kyungsoo.
Setelah Kyungsoo merapikan cupcakenya dan menaruhnya di box, lalu kemudian dimasukkan ke plastik. Setelah itu ia menyerahkan plastik itu kepada Baekhyun.
"Nah, ini dia box besar cupcake special yang jadi favorit pengunjung. Kalau tidak keberatan, maukah kau mengantarnya ke pengunjung, Baek? Disini para baker memang bisa sekaligus bertugas mengantarkan ke pelanggan, jadi—"
"Tentu, tentu! Aku tidak keberatan sama sekali mengantar pesanan. Kau tahu kan Kyung aku ini ramah senyum jadi mungkin pengunjung yang melihatku akan betah? Haha."
"Hmm benar kau ini kan memang manis. Yasudah antarkan ya, Baek. Aku akan lanjut menghias kue lain."
"Arraseo, Kyung!"
Baekhyun keluar dari dapur kuenya, ia menghampiri kasir dan bertanya ke Wendy, sang penjaga kasir ramah yang berambut pirang itu.
"Siapa yang memesan dua box besar cupcake special ini, Wendy-ah? Aku akan mengantarkannya."
"Ah, Oppa! Yang memesan adalah pria tampan yang sedang duduk disana. Kau bisa langsung memberinya Oppa."
"Hmm… baiklah."
Baekhyun memerhatikan pria itu. Pria itu kini sedang membelakangi dirinya, tapi ia bisa melihat kalau orang itu mungkin adalah eksekutif atau CEO atau semacamnya. Karena jasnya yang mewah dan tatanan rambutnya dari belakang sudah sangat rapi dan keren. Juga posturnya yang tinggi. Tapi, tunggu dulu, Baekhyun memicingkan matanya. Telinganya agak lebar, dan itu mengingatkannya pada seseorang. Tapi tidak mungkin, kan..?
"Permisi, Tuan, ini sudah jadi pesanan cupcake Anda."
Baekhyun menghampiri orang tersebut dan memasang senyum manis dan ramah. Perlahan orang itu menengok ke arahnya dan mengadahkan kepalanya. Begitu kedua pasang mata itu bertemu, perlahan senyum ramah Baekhyun menghilang. Digantikan dengan bola matanya yang terkejut, alis yang bertekuk, menatap seolah-olah tak percaya dengan sesuatu yang dilihatnya.
Chanyeol pun sama, bedanya ia lebih dalam mode terpana, speechless, dan mulutnya terbuka, menatap lelaki manis didepannya ini. Tuhan, apakah ini mimpi?
Apakah ini mimpi?
Mimpi yang selama ini kuimpikan jadi nyata?
Apakah doa-doaku setiap malam akhirnya di dengar?
Oh, akhirnya aku dipertemukan dengannya kembali…
TBC
A/N: *muncul dari balik goa*
Hai semuanya… adakah yg masih nunggu cerita ini *krik*
Maafkan aku ngaret banget updatenya, soalnya sekarang aku udah mulai masuk kuliah lagi dan aku bener-bener belum ada waktu buat nulis. Banyak tugas TT
Tapi aku selalu nyempetin buat nulis di waktu luang, tapi kadang2 otak stuck, jadi maaf kalo hasilnya pas-pasan(?)
Ohya aku mau cuap-cuap bentar tentang kelangsungan ff ini ya. Disini kan Jesper aku buat manggil Baekhyun itu 'Mommy', tapi tetap jangan lupa kalau Baekhyun itu laki-laki. Bener deh aku udah coba Jesper manggil Baek 'Appa' atau 'Papa' tapi rasanya kurang sreg gitu…. Lol.. Tapi menurut kalian sendiri gimana, gapapa Baek manggilnya Mommy ya? Kan Baek ini yg brojolin .g Atau ada saran lain? Btw ini terinspirasi dari meme meme cb yg kebanyakan manggil Baek 'mamih' jadi ikut-ikutan manggil mulu :""D
Btw ini ff dengan genre macem2. Ada drama tapi ada fluff family dan humornya juga/? Cem gado-gado .g
Dan sekali lagi, aku ga janji buat update cepet tapi aku akan berusaha update ff kalo memang sempat. Aku juga kangen nulis huhuu TT
Btw ganyangka ff ini baru chap pertama udah seratusan yang fav sama follow :""D *nangis bahagia* Aku ucapin makasih banyak sama readers. Terutama yg udah review muachhhh *ketjup satu-satu* Walaupun masih banyak sidernya semoga pada tobat deh hehe aku tunggu kemunculannya ;D
Last.. review please. Karena review itu yg jadi motivasi aku buat tetep nulis ff ditengah kesibukan :)
C U.. Ppai ppai~~
