Title : Our Lovely Wifey

Author : mingguki

Casts : Byun Baekhyun (22 th)

Park Chanyeol (24 th)

Park Jongin (20 th)

Park Sehun (19 th)

(nama marga diganti sesuai kebutuhan cerita)

Genre : Romance, Family, Drama

Rate : M

Warning : YAOI, BOYxBOY, MPREG, typo, dll

A/N : Its been a long time~ Ada yg kangen gak? Hehe sorry for (very) slow update. You can read the previous chapter if you forget the story. ^^

.

.

.

Rasanya dunia seakan berhenti. Semua pergerakan berhenti dan orang-orang terlihat hitam putih. Hanya menyisakan dua orang yang saling bertatapan dengan pandangan penuh arti, rasanya tidak ada apapun di dunia ini selain mereka berdua.

Chanyeol merasa tak percaya melihat apa yang di depannya ini. Ia berdiri dari kursinya dengan cepat, bibirnya serasa tertarik terlalu lebar, ia tersenyum. Matanya berbinar, ia merasa matanya berkilat-kilat. Tangannya berusaha menggapai tangan kurus di hadapannya, berusaha meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi. Ini nyata.

Ketika tangannya hendak menggenggam jemari halus itu, tak diduga pemilik jemari itu justru menampiknya. Chanyeol mengerutkan keningnya, pandangannya kini beralih ke wajah sosok di hadapannya.

"Jangan sentuh aku."

Ekspresi Baekhyun terlalu dingin. Wajah manis itu tidak pernah menunjukkan ekspresi sedatar demikian. Namun yang dilihatnya hal nya berbeda. Itu terlihat dingin, pucat, dan benar-benar tak bersahabat. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat ekspresi Baekhyun seperti itu. Baekhyun tidak mungkin seperti ini, Baekhyun adalah orang paling ceria yang ia kenal.

"Baek? Ini aku, Chanyeol!"

Chanyeol mengeraskan suaranya, berusaha meyakinkan hatinya sendiri apabila memberi tahu namanya maka Baekhyun akan kembali ke semula. Akan memberikan senyum manis untuknya. Akan memperlihatkan lengkungan matanya yang indah seperti dulu.

"Maaf, tapi aku tak mengenal Anda."

Suara itu terdengar sedikit bergetar, dan suaranya terdengar parau. Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini tidak mungkin, selama 2 tahun ia seperti orang gila, mencari seseorang, tidak bisa menjalankan kehidupannya seperti biasa lagi. Itu semua karena rindunya pada seseorang. Tapi, ketika keinginannya akhirnya terwujud, kenapa berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan?

"Maaf, aku harus kembali bekerja. Silakan dinikmati cupcakenya."

Dan sosok itu berbalik badan begitu saja. Berjalan cepat ke arah dapur, meninggalkan Chanyeol yang termangu.

Chanyeol beralih menatap plastik yang berisi cupcake di mejanya. Entahlah, kini yang ada di pikirannya hanyalah blank. Ia tidak bisa berpikir. Semua ini terasa begitu nyata, namun terasa tidak begitu nyata pula. Ia yakin sekali, demi jiwa raganya, bahwa tadi adalah Byun Baekhyun. Orang yang ia cari selama 2 tahun. Tapi kenapa, Baekhyun seakan bersikap tidak mengenalinya? Kemana Baekhyun yang dulu?


Baekhyun memasuki dapur dengan langkah cepat. Ia segera mendudukan dirinya di kursi ruang istirahat disitu. Kakinya terasa lemas. Baekhyun segera menunduk, dan air mata yang sedari tadi ia berusaha tahan kini hendak keluar juga. Bibirnya mengatup rapat, ia tak mau mengeluarkan isakan. Tidak. Tapi lihatlah, air matanya mengalir semakin banyak, dan isakan itupun tak bisa ia tahan lagi. Baekhyun mulai menangis kencang, ia berusaha menutupi seluruh wajahnya dengan telapak tangan. Namun dengan suara tangisnya, dan pundaknya yang bergetar hebat, tentu orang melihatnya pun pasti akan menganggapnya menyedihkan.

Ruangan istirahat itu kebetulan sedang sepi. Jadi Baekhyun tidak merasa terlalu malu untuk menangis sekencang ini.

Kyungsoo yang sudah selesai menghias kue-kuenya, kebingungan karena ia tidak menemukan Baekhyun. Perasaannya ia hanya menyuruh Baekhyun untuk mengantar pesanan ke satu pelanggan, namun kenapa ia tidak kembali? Dan diluar Kyungsoo pun tak melihat sosok Baekhyun.

Ketika akan melewati sebuah pintu, samar-samar ia bisa mendengar suara. Itu pintu ruang istirahat karyawannya. Dan ketika Kyungsoo mendekat dan menempelkan telinganya di pintu, yang ia dengar adalah suara tangis seseorang. Kyungsoo pun panik dan segera membuka pintu tersebut.

"Astaga Baekhyun!"

Kyungsoo terkejut melihat Baekhyun yang menangis di sudut ruangan, kini bahkan ia telah memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya disana. Siapapun mengira pasti alasan Baekhyun menangis sampai seperti itu tidaklah sepele.

Kyungsoo segera menutup pintu dan masuk ke ruangan itu. Ia menghampiri Baekhyun dan langsung memeluk tubuh mungil itu. Kyungsoo memeluknya dari samping, sambil mengelus punggung Baekhyun yang bergetar dengan lembut.

"Baek? Ini aku, Kyungsoo.. Kenapa kau menangis? Ceritakan padaku, Baek."

Kyungsoo sangat tak tega melihat sahabat baiknya dari dulu yang menangis tersedu-sedu seperti ini. Dari dulu ia memang tak pernah suka melihat Baekhyun terluka. Menurutnya Baekhyun adalah orang yang baik dan sangat ceria, ia tidak pantas terluka dan menangis dengan keadaan seperti ini.

Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tak lama kemudian ia mengangkat kepalanya, air matanya masih mengalir dan kini wajahnya sudah memerah sempurna. Hidungnya memerah dan bibirnya membengkak. Ia menengok ke arah Kyungsoo dan memandangnya dengan pandangan memelas.

"Kyung.. hic.. bisakah aku, hic, izin pulang untuk hari ini?"

Kyungsoo mengernyitkan dahinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya ini, sahabat macam apa dia?

"Kau harus cerita dulu padaku, Baek. Apa yang terjadi? Mungkin aku bisa membantumu."

Baekhyun kembali menggelengkan kepalanya, kini air matanya telah berhenti namun tak dapat dipungkiri wajahnya masih menyiratkan kesedihan yang dalam. Kini ia menatap Kyungsoo dengan pandangan lelah.

"Mungkin nanti aku akan menceritakannya.. tapi bisakah kau izinkan aku pulang sekarang? Please, Kyung."

Kyungsoo menghela napasnya, ia tentu tidak bisa menolak keinginan Baekhyun.

"Baiklah, tentu kau bisa pulang, Baek. Tapi aku harus mengantarmu, karena tidak mungkin dengan kondisi seperti ini kau naik bus sendirian. Ayo Baek, akan aku antarkan. Ngomong-ngomong, bawalah sapu tanganku ini Baek."

Kyungsoo mengeluarkan sapu tangan berwarna biru muda dari saku celananya. Baekhyun mengeluarkan senyum kecilnya, ia menerima sapu tangan tersebut dan mengusap wajahnya yang berantakan. Sapu tangan tersebut terasa sangat rapi dan harum, ciri khas seorang Kyungsoo.

"Terima kasih, Kyung. Kau memang sahabat baikku."

Kyungsoo tersenyum, ia lalu beranjak dari kursinya.

"Baiklah, tunggu sebentar ya Baek, aku akan mengambil mobilku. Kau tunggu saja di pintu depan."

"A—ah!"

Baekhyun mencegat tangan Kyungsoo, dan membuat Kyungsoo berhenti.

"Aku..aku tunggu di pintu belakang saja ya, Soo."

Kyungsoo mencurigai sesuatu, tapi ia akan menyelidikinya nanti. Saat ini prioritasnya adalah sahabatnya. Kyungsoo pun tersenyum sambil mengangguk.

Kyungsoo keluar dari tempat istirahat itu dan beranjak ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Ketika ia sampai di tempat parkir, ia melihat seorang laki-laki tinggi yang bersandar di dekat pintu masuk. Apa yang dilakukan laki-laki dengan setelan jas itu disitu? Ia terus memijit kepalanya dan wajahnya terlihat stress berat.

Wajahnya terlihat agak tidak asing, tapi Kyungsoo tidak mengenalinya. Entahlah, Kyungsoo mengangkat bahunya. Mungkin dia semacam direktur yang sedang stress karena pekerjaannya atau pacarnya. Tapi kenapa ia malah berada di toko kue Kyungsoo? Bukannya di club-club malam seperti orang stress biasanya? Kyungsoo hanya mengacuhkannya, itu adalah urusan pria itu. Sekarang prioritasnya adalah mengantarkan sahabat baiknya, Baekhyun.


Baekhyun meminta Kyungsoo untuk mengantarnya ke rumah Eommanya terlebih dahulu untuk menjemput Jesper. Kyungsoo pun menurutinya, setidaknya sekarang Baekhyun terlihat lebih baik sedikit dan tidak menangis lagi. Namun selama perjalanan, Baekhyun hanya memandang ke luar jendela dengan tatapan hampa. Ia masih belum mau menceritakan apa yang terjadi. Bila Kyungsoo mengajak berbicaranya pun, Baekhyun hanya akan mengangguk atau menggelengkan kepalanya.

Setelah sampai rumah orang tua Baekhyun, Baekhyun keluar dan Kyungsoo disuruh untuk menunggu di mobil saja. Terhitung 15 menit, barulah Baekhyun keluar dari pintu dengan gendongan seorang balita di pundaknya. Ia memasuki kembali mobil Kyungsoo, dan memberikan tawa kecil.

"Ibuku cerewet sekali. Ia bertanya dan marah-marah kenapa aku hanya bekerja setengah hari."

Kyungsoo menaruh tangannya di setir dan meletakkan dagunya di atas tangannya. Matanya berfokus kepada balita yang sedang di gendong Baekhyun, yang kini wajahnya tidak terlihat karena berhadapan berbalik dengannya.

"Tentu Ibumu juga akan sangat khawatir, Baek.. Oh ya, apa ini Jesper? Dari belakang saja dia lucu sekali."

Kyungsoo tersenyum hangat melihat Jesper. Baekhyun menurunkan Jesper dan menaruh balita itu di pangkuannya. Ia membalikkan badan Jesper sehingga kini Jesper menghadap ke depan. Baekhyun menggenggam tangan Jesper dan mengayun-ayunkannya, seolah minta perkenalan.

"Iya ini Jesper, ayo Jesper perkenalkan diri dengan Uncle Kyungsoo. Dia sahabat baik Mommy."

Kyungsoo yang ditatap dengan mata besar puppy khas Baekhyun itupun dibuat meleleh. Ia tidak bisa menahan senyumnya dan meraih tangan mungil Jesper, menggenggamnya seolah mereka tengah berjabat tangan.

"Annyeong, Uncle.. aku Jespel."

Kyungsoo merasa sedikit terkejut, setelahnya ia bergantian mengenalkan dirinya.

"Annyeong, Jesper, namaku Kyungsoo. Ah, Baek, bagaimana ini, lihatlah selain lucu ternyata dia juga pandai berbicara. Anak ini sangat diberkahi, Baek."

Baekhyun hanya tersenyum tipis. Kyungsoo pun segera menyalakan mobilnya lagi untuk berangkat kembali. Selama perjalanan, Baekhyun sebenarnya tetap terdiam dan tidak banyak bicara. Justru Kyungsoo lah yang terkadang mengajak ngobrol ringan dengan Jesper, dan Jesper hanya membalasnya apabila ia mengerti kosa katanya.


Ketika sudah sampai, Kyungsoo keluar dengan Jesper yang berada di gendongannya. Kyungsoo tersenyum dan mengatakan untuk baik-baik saja kepada Baekhyun dan segera cerita apa saja bila ada masalah, Kyungsoo siap membantu.

Baekhyun pun hanya mengangguk. Tadinya Kyungsoo berniat mengantar sampai pintu kamar apartemen Baekhyun, namun Baekhyun menolak karena dia bisa sendiri dan menyuruh Kyungsoo agar segera kembali ke cafenya. Baekhyun pun berjanji bila ia sudah baikkan ia akan menceritakan apa yang terjadi pada Kyungsoo. Kyungsoo hanya bisa mengalah dan menuruti Baekhyun.

Baekhyun menaikki lift apartemennya dan sampailah pada lantai 5 tempat kamarnya berada. Ia menyusuri lorong apartemennya sambil menghela nafas, Jesper kecil di gendongannya pun terlihat lebih pendiam dan tidak cerewet seperti biasanya. Baekhyun hanya mampu menunduk agar segera cepat sampai kamarnya.


Sehun merentangkan tangannya. Hari ini ia lelah, bukan lelah fisik, tapi lelah otaknya. Tadi di kampus ia berkutat dengan kuis dan pengawas dosen yang killer, jadi ia sama sekali tidak bisa menyontek. Alhasil dengan otaknya dan berbekal pelajaran yang semalam ia baca, ia harus menyelesaikan kuis yang bisa dibilang sangat susah itu. Bahkan seluruh teman kelasnya pun mengeluh dengan soal yang menurut mereka belum pernah dipelajari. Walaupun semuanya berhasil ia isi, tapi tetap saja kini otaknya terasa mengepul. Ia butuh istirahat dan penyegaran.

Jadi setelah kuliah selesai, Sehun pun langsung melesat kembali ke apartemennya. Entah kenapa, sekarang yang ada di pikirannya apabila ia ingin cepat-cepat pulang ke apartemennya. Bahkan ajakan temannya agar nongkrong terlebih dahulu ia hiraukan. Padahal apartemen itu sudah kecil, sempit, dan membosankan. Mungkin dulu ia tak suka jika berlama-lama di apartemennya, tapi entah kenapa sekarang ia jadi lebih senang dan berbunga-bunga. Mungkin karena taksirannya berada di apartemen sebelah alias tetangganya. Seorang laki-laki cantik yang menjabat Mommy dari satu anak.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sehun yang baru sampai pada lantai apartemennya, melihat seorang lelaki mungil berambut hitam yang menggendong balita sedang memasukkan kunci ke pintu kamarnya. Sehun hanya mampu tersenyum lebar dan hatinya berdebar-debar melihat pujaan hatinya itu. Tak lama Sehun berlari kecil ke tempat Baekhyun berdiri, menyapa Baekhyun dengan sapaan riangnya.

"Baekhyuuun!"

Baekhyun menoleh, sedikit terkejut melihat wajah tampan khas remaja Sehun di hadapannya.

Sehun meneliti wajah Baekhyun dan menemukan ada sedikit raut aneh disana. Baekhyun seperti orang lelah, hidungnya memerah dan matanya sedikit merah, seperti orang habis menangis.

"Baek, kau tidak apa-apa kan?"

"Ah—" Baekhyun menutupi mulutnya dengan lengan sweaternya, "Aku tidak apa-apa Sehun-ah."

"Tapi kau seperti habis menangis.." Sehun mengernyitkan keningnya curiga. Serius, karena ia suka pada Baekhyun, tentu ia tak tega melihat orang kesayangannya dalam keadaan seperti ini.

"Tidak, aku hanya sedikit capek.. Makanya aku ingin cepat-cepat istirahat, hehe. Aku masuk duluan ya, Hun."

Saat Baekhyun mendorong kenop pintunya dan ingin masuk, Sehun menahan tangannya. Baekhyun pun menoleh bingung dan Sehun hanya menggaruk-garuk tengkuknya.

"Umm.. boleh aku ikut masuk? Aku kesepian karena Jongin belum pulang."

Bohong sekali.. Justru aku malah bahagia gembira kalau Jongin tidak ada. Tidak apa-apa lah bohong dikit demi Baekhyun hehe, batin Sehun.

"Ahh.." Baekhyun menimang-nimang sebentar. Seriously, maksudnya ia ingin segera kembali ke apartemennya adalah ia ingin menyendiri dulu dan ingin melupakan kejadian tadi dimana ia bertemu dengan Chanyeol. Baekhyun ingin menghindari Chanyeol. Tapi dipikir, bila depresinya ia simpan sendiri juga pasti dirinya akan tambah sedih dan tersiksa. Baekhyun tidak ingin menceritakannya pada Kyungsoo, karena Kyungsoo tidak mengetahui sekaligus mengetahui beberapa hal. Ia belum siap menceritakan rahasia besar kepada sahabat baiknya.

Tapi dengan Sehun… Baekhyun mendongak menatap mata hitam kelam Sehun.

Deg.

Kenapa..mata setajam elang itu mengingatkannya padanya? Baekhyun menggelengkan kepalanya, ia rasa halusinasinya berjalan terlalu jauh. Sehun menatapnya terlalu intens namun lembut, ya, mungkin cara menatapnya yang mengingatkan Baekhyun padanya.

Baekhyun tersenyum tipis, mungkin yang ia butuhkan adalah teman yang bisa mengkompeninya. Sehun adalah orang baru di kehidupannya, ia tak tahu apa-apa tentang masa lalunya. Mungkin.. mungkin ia bisa mempercayakan Sehun, tetangga barunya yang selalu menatapnya dengan berkelip.


Kyungsoo keluar dari pintu mobilnya. Ia melihat ke arah pintu kaca cafénya, dan mengernyit bingung melihat gumpalan orang ramai yang seperti sedang menonton sesuatu di bagian kasir. Kyungsoo pun segera berlari dan begitu masuk benar saja ada tontonan ramai disana.

"Cepat beri tahu aku! DIMANA BAEKHYUN?"

Seorang laki-laki tampan tengah menarik kerah pelayan lelaki malang yang berada di dekat kasir. Pelayan itu tampak ketakutan dan berusaha memegang tangan kekar yang memegang kerahnya, berusaha menurunkannya. Bahkan pelayan dan pelanggan yang lain pun hanya mampu terdiam dan tidak berani melawan pula, karena melihat betapa kuat dan menyeramkannya pria ini.

"Tu—tuan, sudah kubilang aku tidak melihatnya. Ta—tadi pagi ia masih ada disini."

Pelayan itu berusaha menjawab dengan nada takut-takutnya, sedangkan Chanyeol, pria yang saat ini sedang emosi dan kalut itu hanya mampu semakin mengeratkan kepalannya. Ia merasa sangat kesal sekarang. Bahkan supir Chanyeol pun hanya berdiri di sebelah Chanyeol dan tak mampu berbuat apa-apa bila Tuannya sudah emosi besar seperti itu.

"CUKUP CUKUP!"

Kyungsoo berteriak dengan kencang, ia memegang tangan lelaki itu dan menurunkannya dari kerah pelayannya. Pelayan tadi pun membenarkan kerahnya, ia membungkuk pada Kyungsoo dan segera lari terbirit-birit untuk menghindari perkelahian lebih lanjut.

Kyungsoo menatap tajam pria dihadapannya ini. Dan ternyata pria ini adalah pria yang tadi ia jumpai sebelum ia mengantar Baekhyun. Pria dengan setelan jas yang rapi, tapi lihatlah wajahnya kusut sekali seperti orang stress. Namun harus Kyungsoo akui pria ini sebenarnya sangat tampan.

"KAU! Apa yang kau lakukan pada karyawanku? Dan kenapa kau marah-marah di café ku? Tidak tahukah kau yang namanya sopan santun dan etika? Apa perlu aku panggil polisi karena kau sudah membuat keributan?"

Kyungsoo menatap mata pria didepannya ini sambil berkacak pinggang. Tidak ada yang berani mengacaukan cafenya, siapapun orang itu harus berurusan dengannya langsung.

"Kau..."

Chanyeol mengernyitkan keningnya, kini ia melihat wajah Kyungsoo yang ikut emosi karenanya. Chanyeol merasa kepalanya sedikit pusing, ia rasa ia pernah melihat Kyungsoo, tapi ia tak tahu pernah melihat dimana.

"Kau… apa aku mengenalimu?"

Kyungsoo merasa tersentak dengan pertanyaan itu. Entahlah, karena Kyungsoo pun merasa demikian. Ia seperti pernah melihat orang ini sebelumnya. Namun Kyungsoo tak mau memberikan keringanan pada orang yang sudah membuat kacau di cafenya.

"Aku adalah pemilik café ini asal kau tahu. Dan aku meminta penjelasanmu sekarang kenapa kau bisa marah-marah dan bahkan menarik kerah orang lain!"

"Hhhh.. entahlah, aku tak bisa berpikir jernih."

Chanyeol mengacak-acak rambutnya yang sudah rapi, sehingga kini ada beberapa poninya yang jatuh. Kyungsoo menghela nafas, ia menengok ke samping dan menunjukkan ruangan dengan dagunya.

"Kita bicara di ruangan itu. Aku tak mau kau mengusik ketenangan pelanggan ku lagi."

Chanyeol hanya bisa menghela nafas dan mengangguk.


Ujung-ujungnya, Baekhyun tidak jadi menjadi orang menyedihkan yang akan menangis sendiri di apartemennya. Justru, Sehun berusaha mati-matian untuk menghiburnya.

Awalnya, Sehun mengajak Baekhyun dan Jesper untuk pergi keluar mencari angin segar (Walaupun dari dalam hati Sehun sebenarnya ini ajakan kencan) tapi Baekhyun menolak karena tak ingin keluar dari apartemennya. Sehun pun tak habis akal, ia pergi ke apartemennya sendiri dan membawa seluruh dvd favoritnya untuk ditonton bersama Baekhyun. Baekhyun pun setuju, entah rencana Sehun atau apa tapi mereka menonton film komedi romantis. Baekhyun terlihat semakin baik, ia bahkan menawarkan cookies buatannya untuk Sehun. Sehun tak bisa lebih senang dari ini.

Oh lihatlah. Bagaimana mereka berdua duduk di sofa yang kecil, terkadang bahu Baekhyun akan menyentuh bahu Sehun bila mereka tertawa, atau tangan lentiknya akan memukul-mukul bahu lebar Sehun. Jesper berada di karpet depan TV, asyik dengan mainannya dan kadang ikut menonton film di TV (walaupun ia belum mengerti).

Sehun merasa hatinya sangat ringan dan berdebar-debar melihat senyum Baekhyun kembali. Walaupun senyum itu tidak sampai menarik lengkungan matanya, setidaknya lebih baik senyum tipis daripada wajah sedih Baekhyun.

Sebuah nada alarm pesan terdengar dari handphone Sehun. Sehun mengambil handphone nya dan melihat Ibunya mengirimi pesan beberapa kali karena Sehun tak kunjung membalas juga.

"Akhh, Eomma."

Sehun menggumam. Baekhyun menoleh sebentar kepada Sehun.

"Dari Eomma-mu?"

Sehun mengangkat bahunya. "Yah, Eommaku menyuruhku untuk makan malam dengan keluarga hari ini. Sepertinya aku dan Jongin tidak akan tidur di apartemen malam ini."

"Oh..ya?"

Sehun menoleh iseng kepada Baekhyun, melihat wajah polos seperti anak kecil itu sungguh lucu. Ia sampai sekarang masih bingung bagaimana wajah semuda ini sudah menjadi orang tua bagi anak berumur 2 tahun.

"Hhhmm.. apakah kau akan kesepian tanpa kami, Baek?"

Baekhyun terdiam beberapa detik. Setelahnya ia tertawa, tertawa lepas, bukan lagi senyum terpaksa atau bahagia terpaksa lagi.

"Kenapa kau berpikir seperti itu, Hun? Tentu aku tidak akan kesepian, aku punya Jesper bersamaku."

Sehun yang mendengar jawaban itu pun hanya cemberut. Ia sedikit kecewa dengan jawaban Baekhyun. Apa artinya Baekhyun tidak peduli padanya?

Baekhyun terkekeh kecil melihat ekspresi merajuk Sehun. Sehun ini benar-benar lucu, seperti anak kecil, entah kenapa melihat Sehun sama seperti Baekhyun melihat Jesper versi lebih besar. Baekhyun pun mencubit gemas pipi Sehun.

"Jangan cemberut gitu Sehunnieee.. kau semakin jelek jika cemberut."

Sehun mengerutkan hidungnya, entah kenapa sebenarnya hatinya menghangat melihat Baekhyun telah bersikap seperti biasa lagi.

"Hm? Lalu apa kau tidak merasa jelek juga bila bersedih seperti tadi, Baekhyunnie?"

Senyum Baekhyun perlahan memudar. Ia mengalihkan tatapannya kemanapun asalkan bukan mata tajam Sehun.

"Kalau aku sih tetap manis dalam keadaan apapun, hehe."

Baekhyun menunjukkan cengiran andalannya, berusaha meyakinkan Sehun (sekaligus dirinya sendiri) apabila dirinya tidak apa-apa.

Sehun mengacak-acak rambut Baekhyun. "Kau harus berbagi kepadaku apabila ada sesuatu. Aku pun rela bila kau membagi sakitmu kepadaku, asalkan kau tidak bersedih lagi."

Baekhyun terdiam mendengar pernyataan Sehun. Sehun yang menatapnya kini sungguh terlihat tampan. Tidak, Sehun memang tampan sejak ia pertama bertemu dengannya. Pemuda dengan tinggi diatas rata-rata, kulit putih, rahang tegas, dan rambut hitam kelamnya ini pastilah idola berbagai remaja. Tampangnya bak pangeran kerajaan yang keluar dari buku komik. Kenapa Baekhyun baru sadar kalau Sehun setampan ini.

"Aku..." Baekhyun membuka suaranya, seolah terhipnotis oleh tatapan itu.

"Baru saja bertemu dengan masa laluku…"


"Jadi jelaskan siapa namamu dan apa pekerjaanmu. Maaf bila aku berkata dengan nada seperti ini Tuan, sejujurnya aku masih kesal kepada Anda yang membuat kekacauan di café saya."

Saat ini Kyungsoo dan Chanyeol telah duduk di ruang istirahat karyawan. Ruangan itu memang cukup luas dan terdapat sofa, meja, televisi, dan laptop pada umumnya. Sebenarnya bisa dibilang ini ruang kerja Kyungsoo juga sebagai pemilik, namun ia memutuskan agar para karyawannya bisa istirahat di ruangan ini juga.

Saat ini Chanyeol dan Kyungsoo duduk berhadapan di sofa masing-masing. Mereka hanya berbicara empat mata saja.

"Aku Park Chanyeol dan aku menjabat CEO suatu perusahaan. Aku benar-benar minta maaf atas kejadian tadi. Seharusnya aku tidak membawa emosiku ke orang yang tidak bersalah. Hhhh maafkan aku.."

Chanyeol kembali memijit kepalanya. Kyungsoo pun hanya menyilangkan tangannya di dada sambil mengangguk-angguk.

"Hmm.. Sepertinya kau benar-benar minta maaf. Dan dilihat dari setelanmu itu, aku pikir kau tidak bohong kalau kau itu CEO. Seorang CEO tinggi tentu tahu cara beretika sopan santun yang benar bukan? Aku akan memaafkanmu bila kau berjanji tidak seperti tadi lagi dan meminta maaf ke karyawanku."

"Aku berjanji, tapi, aku minta satu syarat darimu.."

"Apa itu?"

"Tidak, bukan syarat, tapi aku akan memohon padamu. Tolong katakan dimana Baekhyun sekarang."

"Tunggu, tunggu.."

Kyungsoo memundurkan tubuhnya, matanya menilik curiga ke arah Chanyeol.

"Kenapa kau mengenal Baekhyun? Dan apa maumu ingin mengetahui dimana dia?"

Ia memasang wajah penuh waspada pada Chanyeol. Ia yakin sekali, entah kenapa, pasti pria ini ada hubungannya dengan Baekhyun yang menangis tadi.

Chanyeol menghela nafasnya sungguh berat. Matanya menerawang jauh, merasakan betapa lebih sakit kenyataan dibanding mimpinya.

"Aku kekasih Baekhyun. Dan kami sudah tak bertemu selama 2 tahun."


Sehun dengan tak rela meninggalkan Baekhyun dan Jesper berdua di apartemennya. Karena hari ini sudah menjelang malam, dan ia ditelpon oleh Ibunya agar segera pergi ke mansion, menurut Ibunya Jongin sudah berada disana, karena Jongin pulang dari kampus sore hari dan langsung bergegas ke mansionnya.

Ia ingat bagaimana tadi Baekhyun mengatakan ia bertemu masa lalunya. Sehun langsung bertubi-tubi menanyakan siapa dia, apa yang telah dia perbuat, dia tidak macam-macam kan. Tapi Baekhyun menaruh telunjuknya di bibir dan mengatakan belum siap menceritakan semuanya kepada Sehun.

Sehun pun hanya bisa pasrah dan mengetahui posisinya. Ia hanyalah tetangga Baekhyun yang baru bertemu dengannya beberapa hari. Tapi sialnya, karena Baekhyun, ada perasaan special di hatinya terkhusus untuk lelaki cantik itu. Perasaan yang tumbuh dari benih, dan semakin mekar tanpa hentinya.


Malam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Waktu yang cukup terlambat apabila disebut waktu makan malam. Namun satu keluarga di meja mewah itu belum sama sekali memakan berbagai makanan lezat yang tersaji di hadapan mereka. Seorang wanita cantik paruh baya terlihat sibuk dengan handphone-nya, berusaha mendial nomor seseorang yang sedari tadi tidak mengangkat telponnya.

"Aisshh.. kemana anakku yang satu itu? Kenapa belum pulang-pulang juga? Tidak tahukah Ibu jadi khawatir."

Ibu Chanyeol memandang dua box cupcake yang sudah tersedia di meja makan mereka. Terlihat Jongin dan Sehun yang sudah lahap menghabisi hampir sekotak cupcake itu (Karena Ibunya tidak memperbolehkan makan makanan utama bila Chanyeol belum pulang). Jadilah dua anak itu menyerbu saja kue manis yang ternyata sangat enak itu.

Eomma Park sungguh bingung dengan tindakan anak tertuanya saat ini. Tadi sore, supir Chanyeol datang membawa cupcake pesanannya ke dapur. Namun saat ditanya dimana Chanyeol, sang supir hanya menunduk takut-takut dan mengatakan kalau Chanyeol menyuruh sang supir untuk pulang duluan, ia bilang ada urusan mendadak. Ketika Eomma Park ingin menelpon Chanyeol, sayangnya sang anak tak mengangkatnya dan ia pun hanya pasrah menahan rindunya kepada anak tertuanya itu.

Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar. Para anggota keluarga di meja makan pun tersentak. Dan tiba-tiba saja muncul sosok tinggi rupawan di pintu meja makan dan Eomma Park pun langsung berdiri dan menyambut pria itu dengan pelukan hangatnya.

"Ahh Channie-ku! Kau ini! Bukannya pulang cepat agar segera bisa bertemu Eomma! Kemana saja kau Chanyeol?"

Eomma Park melepas pelukannya dan memegang kedua pipi pria tampannya yang semakin dewasa ini. Eomma Park menyadari rambut anaknya kini sedikit acak-acakan dengan poni hitamnya yang jatuh ke dahinya. Eomma Park bingung, biasanya setelan rambut anaknya tidak begini. Biasanya rambutnya dinaikkan ke atas, lebih rapi dan menunjukkan kewibawaannya. Tapi ia tak terlalu peduli, mungkin itu adalah gaya yang lagi ngetrend saat ini kan.

"Maaf, Eomma. Aku sudah berpesan tadi ada urusan mendadak, kan."

Chanyeol tersenyum dengan tampan sambil mengusap belakang lehernya.

"Aish, si duo bandel ini datang juga ya ternyata."

Chanyeol melirik ke arah Sehun dan Jongin yang mulutnya masih penuh dengan cupcake. Jongin pun memutar bola matanya.

"Syukurlah kau datang juga, Hyung. Perutku sudah lapar merengek minta nasi. Tapi Eomma bersikukuh menunggumu pulang huh. Untung cupcake ini sangat enak bisa mengganjal perutku."

"Nini kau jangan memikirkan makanan terus, eoh? Tanyalah kakakmu ini kenapa dia pulang terlambat." Ujar Eomma Park dengan nada keibuannya.

Jongin mendelikkan hidungnya. Tubuhnya bergetar mendengar panggilan sok manis itu.

"Eommaaa.. berhentilah memanggilku Nini. Itu sangat tidak macho!"

"Kenapa Jonginnie? Padahal Nini adalah nama pertama yang kau buat untuk anjing pertamamu kan. Kau bilang Nini itu diambil dari namamu. Dan anjing itu adalah anakmu sendiri. Hummm itu sangat imut bagi Eomma."

"Eomma, itu ketika umurku masih 8 tahun.. Tentu sekarang aku tidak cocok bila dipanggil seperti itu."

Eomma Park hanya mengendikkan bahunya.

"Nini itu imut dan aku Eomma-mu jadi aku berhak memanggilmu apa saja, Jonginnie."

Eomma Park mengalihkan pandangannya ke Chanyeol yang masih berdiri.

"Ah! Chanyeol-ah ayo kita makaaan! Eomma tak sabar bercerita banyak dengan anak-anak Eomma dan makan malam hangat lagi seperti keluarga umumnya!"

Chanyeol memberi senyum tipisnya sambil mengelus punggung sempit Eommanya dengan lembut.

"Eomma makanlah dulu dengan Sehun dan Jongin, nanti aku menyusul. Aku ingin ke kamar tidur dulu untuk mandi dan ganti baju."

"Baiiiklah…"

Eomma Park kembali ke kursinya, menatap Sehun dan Jongin yang sudah berbinar-binar.

"Ayo kita makan, anak-anak. Karena kakakmu sudah pulang, sekarang kalian boleh menghabisi makanannya."

Sehun dan Jongin pun tersenyum ceria dan langsung menyambar nasi dan lauk yang tersedia. Eomma Park pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat nafsu makan dua anak kembarnya ini.

Chanyeol menyingkirkan dirinya sendiri. Ia berjalan ke pintu kamarnya. Begitu pintu kamarnya dibuka, pandangan gembiranya tadi seketika berubah menjadi lebih datar. Ia mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandinya. Melepaskan seluruh pakaiannya, dan menyalakan shower dengan air dingin untuk menjernihkan kepalanya.

Ia menyentuhkan kepalanya ke dinding shower, menatap bagaimana air mengucur menuju kakinya sendiri. Tangannya perlahan merambat ke dinding, semakin lama semakin mengepal erat karena tenaganya sendiri. Chanyeol mulai merasa pikirannya kalang kabut kembali. Apalagi apabila ia mengingat percakapannya dengan pemuda bermata bulat yang ia temui tadi siang.

"Aku Kyungsoo, dan aku sahabat baik Baekhyun."

"Jadi kau sahabat Baekhyun? Berarti kau mengetahui tentangnya, kan!?"

"Ya, aku tahu sekali tentang Baekhyun."

"Katakan dimana dia sekarang!? Dia menghilang sejak aku bertemu dengannya siang tadi. Aku butuh sekali melihatnya. Aku butuh penjelasan. Aku sudah mencarinya seperti orang gila selama 2 tahun ini. Ketika aku bertemu dengannya dia malah bersikap seolah tidak mengenalku."

"Aku…aku tahu dimana dia. Tapi sebelum itu, ada yang ingin kutanyakan padamu.. Apa kau yakin kau kekasih Baekhyun?"

Kyungsoo menatapnya seolah ragu sekali. Chanyeol pun dengan tegas dan tatapan sorot tajamnya itu berusaha meyakinkan Kyungsoo.

"Tentu saja! Kami berpacaran sudah lama dan tiba-tiba ia menghilang dari kehidupanku begitu saja. Kau tahukan bagaimana perasaan seorang kekasih bila setengah jiwamu pergi meninggalkanmu tiba-tiba? Sangat hancur. Itulah yang aku rasakan selama ini, Kyungsoo. Ia meninggalkanku tanpa pesan apapun, dan aku seperti orang sakit saat ditinggalkannya. Bahkan, aku masih merasa sakit hingga sampai saat ini."

Kyungsoo menatap mata itu dalam. Ia sebenarnya tahu mata itu tidak berbohong, dan dilihat bagaimana depresi dan kalutnya Chanyeol tadi, bisa disimpulkan Baekhyun memang sangatlah berharga di hidupnya. Ia jadi dilemma, di satu sisi ia ingin menolong Chanyeol tapi di satu sisi ia bingung karena setahunya Chanyeol membuat Baekhyun menangis.

"Apa kau..sudah tahu keadaannya saat ini?"

"Apa maksudmu?"

Chanyeol tertawa menyindir, meratapi nasibnya sendiri.

"Dia sudah pergi meninggalkanku 2 tahun lamanya. Tanpa kabar dan jejak. Aku mencoba menghubungi semuanya, semua nomornya, keluarganya, teman-temannya, tapi tak ada yang mengatakan ia dimana. Bahkan orang suruhanku pun juga anehnya tak dapat menememukannya dimanapun. Seolah-olah mereka semua ingin aku tak mengetahui keberadaannya. Itulah yang membuat aku bingung, apa alasannya meninggalkanku selama ini."

Kyungsoo mengernyitkan keningnya. Ia jadi merasa sedikit kasihan kepada Chanyeol, dan ia jadi tak mengetahui mana pihak salah dan benar disini. Yang pasti disini ia akan meluruskan satu hal.

"Apa kau sudah tahu bahwa…"

Chanyeol mengangkat kepalanya, matanya memandang serius ke arah Kyungsoo. Mendengar kalimat yang seumur hidupnya tak pernah ia bayangkan untuk dengar.

"Baekhyun itu telah menikah, dan ia mempunyai satu anak."

Chanyeol merasa ia salah dengar. Tapi perkataan Kyungsoo terasa begitu jelas menusuk telinganya.

SIAL! Kenapa jadi seperti ini. SIAL SIAL SIAL! BRENGSEK! Ini bukan yang ingin ia dengar!

Chanyeol menonjok dinding showernya begitu mengingat percakapan itu kembali. Kepalan tangannya terasa begitu sakit bertemu dengan kerasnya dinding, tapi tak sepadan sama sekali dengan hatinya yang lebih sakit dari apapun. Rasanya hatinya telah terpendam oleh rasa sakit itu sendiri. Dia benar-benar butuh penjelasan kenapa Baekhyun berbuat sekejam ini padanya.

TBC

A/N: OKEY, silahkan kalian menebak-nebak sendiri sebenarnya apa yang terjadi(?) hehe. Daaann aku minta maaf lagi yah atas keterlambatannya. Walaupun lama seabad tapi aku selalu berusaha kok ngelanjutin ffku ini. Makasih readers tersayang yang masih mau baca ^^ Eniwei, di kotak review itu ada beberapa pertanyaan, dan aku akan jawab disini aja ya.

Q: Chan itu bapaknya Jesper?

A: Hayoo bapa mana bapa mana.. wkwk baca dan ikutin aja terus ya hehe ^^ /sok misterius/

Q: Si Jesper agak aneh 2 tahun udah ngomong segitu thor. Mending gedein ajah jadi 4-5 tahunan thorrr

A: Makasih sarannya sayang. Tapi Jesper disini emang segitu umurnya, trus kan kalo di Korea umurnya 3 tahunan tuh. Ini gapake umur Korea ya wkwk xD Nah dia umurnya se song triplets waktu masuk TROS lah. Triplets kan juga udah mulai pinter ngomong tuh, disini Jesper juga gitu sebenernya. Cuman Jesper lebih cerdas gitu jadinya dia cepet nangkep dan lebih cap cis cus kayak emaknya wkwkwk

Q: Thor minta socmednya dongg

A: Semua socmedku pake identitas asli wkwk. Jadi bahaya kalo kasih tau disini. Tapii kalo yang mau temenan sama aku, mau tanya username instagram sama line, bisa langsung PM aku aja yaa (aku jarang pake WA sayang). Mo ngobrol atau nanya di PM juga boleh, aku ga gigit lol

Q: Fast update dong thorrrr

A: Nah ini :"D I'm not promise but I will always keep trying to update faster... :")

SO! Review again, my lovely readers?