Tittle: Vampire Who I Love
Subtitle: Move and Meet
Genre: VampireAU!, Shape-shifterAU!, Romance, Supernatural, Fantasy, Thriller
Cast(s): All YG Family Artists also possibility of other artists from another label.
Main pairing: BinHwan
Other pairing(s): SongKim, JunByul, BobChan, YunDong, GTOP, possibility of KangNam in the end.
Rated: M/?
Warn!: It's shounen-ai/ boyslove/ yaoi/ or anything you called, also straight! for some characters, plot suck!, possibility of long chapter, death chara, typo(s), etc. DON'T LIKE? DON'T READ!
Disclaimer: The story is MINE, I just lend the characters name. They're belongs to themselves, God and YGEntertainment. DO NOT PLAGIARIZE OR I'LL KILL YOU!
Summary: Seperti bunga mawar merah yang indah dan semerbak harumnya, kau juga memiliki duri tersendiri. Kau memang melukaiku, tetapi aku tetap terpesona dengan keindahanmu dan ingin menjadikanmu sebagai milikku. Meskipun nyawaku taruhannya, aku ingin melindungimu dengan tanganku sendiri. BinHwan, SongKim, JunByul, BobChan, YunDong, GTOP and possibility of KangNam in the end. DON'T LIKE? DON'T READ!
A/N
Thankseu~ buat support kalian…
Gladly, the first chapter is here!
Enjoy Reading!
Saat itu awal musim dingin.
Hanbin sedang mengemasi barang-barang yang akan dibawanya nanti. Ia sedang bersiap untuk pindah ke rumah pamannya –jika kalian ingin tahu. Memasukkan beberapa pakaian dan barang-barang pribadinya ke dalam koper hitamnya yang besar. Tak lupa menyiapkan ransel coklat tuanya untuk membawa notebook, dompet, ponsel dan beberapa barang elektronik miliknya.
Dengan perasaan sedih, ia meraih foto keluarganya dalam sebuah pigura berwarna hitam. Foto itu mereka ambil saat berlibur bersama ke Jeju 4 tahun lalu, saat Hanbin berusia 13 tahun.
Dia dan ayahnya berdiri di tengah sambil memegang ikan yang cukup besar. Ibunya terlihat sangat cantik dengan baju pantai bunga-bunganya dan topi pantai berwarna pink, melindunginya dari sinar matahari. Adiknya, Hanbyul –yang saat itu berusia 10 tahun, terlihat sangat menawan mengenakan kostum dan topi yang sama dengan ibunya. Mereka semua tersenyum lebar menghadap kamera.
Hanbin kembali mengingat masa-masa indah tersebut. Mengingat dengan jelas senyum bangga yang ayahnya berikan saat ia berhasil memenangkan pertarungan sengit dengan ikan tersebut.
Ayahnya. Hanbin merindukan ayahnya.
Ayahnya yang sangat baik dan bijaksana, meninggalkan ia, ibu dan adiknya tiga tahun yang lalu. Saat ayahnya dilarikan ke rumah sakit, ia sedang menjalani lomba menari bersama teman-teman klub dance sekolahnya. Saat ia dinyatakan menang, saat itu pula ia kehilangan ayahnya –orang yang paling disayanginya.
Hanbin merasa sangat terpukul karana tidak bisa menemani ayahnya di saat-saat terakhir beliau. Ia hanya bisa menangis dan menyesal saat ayahnya dimakamkan.
Tapi, itu semua tidak berlangsung lama. Mengingat ayahnya yang sangat menginginkan Hanbin untuk sukses, Hanbin –beserta ibu dan adiknya memuali hidup yang baru.
Awalnya keadaan mereka baik-baik saja. Ibunya masih sanggup mengurusi dan membiayai sekolah Hanbin dengan uang peninggalan ayahnya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, uang tabungan tersebut mulai menipis. Ibunya yang bekerja sebagai pegawai kantoran biasa tidak cukup untuk membiayai sekolah Hanbin yang cukup mahal.
Akhirnya, di sinilah Hanbin. Menatap kamarnya untuk terakhir kali. Kamar yang ia tinggali seumur hidupnya. Tempat ia tidur, mengerjakan PR, membuat musiknya sendiri, dan hal-hal lain yang tersimpan dengan jelas di otaknya. Ia akan menetap secara permanent bersama pamannya, Kang Daesung di Jeju.
Kang Daesung adalah kakak dari ibunya. Pamannya itu seorang perjaka tua. Dia bilang, ia sama sekali tidak ingin terikat yang namanya pernikahan. Lagi pula, pamannya senang hidup dengan bebas. Tak banyak ada yang menuntut. Tetapi, akhir-akhir ini pamannya merasa kesepian. Maka dari itu, pamannya bersedia membiayai dan membiarkan Hanbin tinggal di sana untuk menemani pamannya.
"Bin-ah. Sudah siap?" Suara halus ibunya menyadarkan Hanbin dari lamunannya.
"Ye, eomma. Aku sudah siap.", ucapnya sambil menghadap ibu tersayangnya.
"Bin, aku tau kau merasa sedih. Aku minta maaf atas semua ini.", ucap ibu Hanbin sedih.
"Eomma. Sudah. Tidak apa-apa. Eomma dan Hanbyul masih bisa mengunjungiku di Jeju suatu hari nanti." Hanbin membawa ibunya yang sudah berkepala empat itu ke dalam pelukan hangatnya.
"Jja! Kalau begitu, ayo berangkat. Kau harus memempuh perjalanan yang cukup lama. Jangan sampai tertinggal pesawat."
Dengan begitu, Hanbin dan ibunya berjalan keluar dari kamar Hanbin –mantan kamar. Menuruni tangga di rumahnya dan menemukan Hanbyul yang sudah menunggu di ruang TV. Raut muka Hanbyul terlihat sedih. Tapi, adik tersayangnya ini tetap terlihat cantik.
Perjalanan dari rumah menuju bandara mereka lalui dengan tenang, lebih tepatnya saling mendiamkan diri. Ibunya yang sedang fokus mengendarai mobil, Hanbyul –di sebelah kursi kemudi, yang sibuk dengan ponselnya, dan Hanbin –di kursi belakang, yang melamun memandangi jalan melalui jendela di sebelah kirinya.
Sadar tidak sadar, Hanbin merasakan hal ini.
Pertama, hidupnya akan berubah. Entah perubahan yang seperti apa, yang jelas membuatnya cukup gelisah.
Kedua, jantungnya berdetak sangat cepat. Entahlah, seperti habis berlari puluhan mil atau letihan menari non-stop yang cukup sering dijalaninya.
Dan ketiga, ia merasa nyawanya terancam. Anehnya, ia merasa siap dengan apapun yang akan terjadi nanti.
###
Hanbin berjalan menyusuri koridor kedatangan dengan mata yang sembab. Saat di bandara tadi, ibunya terus menangis meminta maaf.
Dan yang membuat Hanbin tersentuh adalah Hanbyul. Adiknya yang jarang menunjukkan rasa sayangnya pada Hanbin, saat di bandara tadi ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat tubuh kakak tersayangnya. Mengucapkan kata sayang yang jarang diucapkannya dan beberapa permintaan maaf.
Hal tersebut berlanjut sampai tiba waktunya Hanbin untuk take off. Dan mau tidak mau, mereka melepas kepergian Hanbin.
"Kim Hanbin!" Suara lantang seseorang, menyadarkan Hanbin dari lamunannya.
Mengalihkan pandangannya ke asal suara, Hanbin mememukan sosok tegap pamannya sedang tersenyum dan melambaikan tangan kanannya.
Balas tersenyum, Hanbin berjalan menghampiri pamannya. Memeluk pamannya sejenak.
"Astaga! Kau sudah besar. Padahal dulu kau sering aku gendong di punggungku.", ucap pamannya riang.
Hanbin tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Pamannya yang satu ini merupakan paman kesayangannya. Kepribadiannya yang periang dan optimistis membuat Hanbin mengagumi Kang Daesung sebagai pamannya.
"Tentu saja aku tumbuh, paman. Dan sekarang ini tahun kedua ku di sekolah atas."
"Arasseo. Jja! Kau pasti lelah. Ayo ke mobil. kita menuju ke rumahku."
Sepanjang perjalanan, Hanbin dan Daesung saling bercerita tentang apa saja yang mereka lalui selama 4 tahun terakhir bertemu setelah kematian ayah Hanbin. Beberapa saat duka, lalu menyusul berbagai suka yang Daesung lalui, ia ceritakan kepada keponakan tersayangnya ini. Hanbin, tak disangka merespon dengan lebih baik dari yang diharapkannya.
Daesung berharap, semoga saja dengan kepindahan Hanbin ke sini bisa mengobati luka Hanbin dan mengembalikan sosok penuh ketegasan dan pendirian dalam diri Hanbin.
Mereka menyusuri jalanan yang cukup sepi. Dari apa yang ibunya katakan, pamannya ini tinggal di daerah yang cukup terpencil di pinggir hutan dengan populasi penduduk yang tidak banyak. Dan saat ini, hal itulah yang Hanbin butuhkan. Ketenangan, kensunyian, dan kenyamanan untuk memuali hidupnya yang baru.
Cukup lama berbincang –bagi Daesung, dan melamun –bagi Hanbin, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah minimalis berlantai dua dengan desain yang sangat menggambarkan kepribadian pamannya. Unik.
"Jja! Sudah sampai. Selamat datang di istana kecilku, Hanbin.", ucap Daesung sambil menepuk bahu kiri Hanbin dan melangkah keluar mobil sedan tuanya.
Hanbin mengikuti langkah Daesung, keluar dari mobil sambil meraih tas ransel di bahunya.
Rumah Daesung cukup nyaman. Seperti yang dikatakan Hanbin tadi, unik tapi terlihat nyaman.
Halaman depan rumahnya cukup luas. Dari apa yang Hanbin lihat, Daesung menanam beberapa bunga, dan tanaman hias lainnya. Di sisi kiri rumah, terdapat pohon maple yang cukup besar dan beberapa dahannya mengarah pada seduah jendela di lantai dua. Rumah Daesung dicat warna putih gading, dengan pintu dan jendelanya yang dicat coklat. Beberapa bagin sisi depan rumah tersebut, terdapat lukisan maupun ornamen abstrak yang anehnya terlihat indah.
Hanbin menghirup nafas dalam. Udara di sini benar-benar sejuk dan menyegarkan.
"Hey, kid. Cepat masuk atau kau ingin di situ seharian?", ucap Daesung sambil membawa koper Hanbin masuk ke dalam rumah.
Hanbin tersenyum kikuk. Lalu melangkahkan kakinya memasuki rumah Daesung.
Dan di dalam sini, cukup luas dan sangat menenangkan. Entah apa yang dilakukan benda-benda di ruang tamu di rumah Daesung, yang jelas mereka cukup menarik sekaligus membuat Hanbin penasaran.
Satu set sofa kulit berwarna coklat terletak dengan rapi di tengah ruangan. Lampu hias yang antik menggantung tepat di atas sofa tadi. Beberapa foto dan barang antik seperti vas, miniatur, poster band jaman Daesung muda dan sertifikat yang cukup banyak tertata rapi di seluruh ruang tamu.
"Hey! Jangan melamun. Di sini banyak hantu tahu.", canda Daesung.
"Hahaa… Aku tidak percaya makhluk tak kasat mata seperti itu, paman."
"Suatu saat nanti, kau akan percaya bahwa Vampire dan Werewolf benar-benar ada.", ucap Daesung.
"Sudahlah, paman. Tunjukkan saja di mana kamarku. Aku lelah.", ucap Hanbin tak acuh. Padahal tadi ia cukup merinding mendengar perkataan Daesung.
"Ah iya! Kemari. Kamarmu ada di lantai dua."
Mereka melangkah menuju tangga yang ada di sisi kanan ruang tamu tadi.
"Ibumu bilang kau menyukai warna hitam dan merah, jadi aku mencoba untuk mendesain ulang kamar ini supaya kau nyaman tinggal di sini.", ucap Daesung sambil membukakan pintu kamar yang dicat coklat di sisi kiri mereka. "Aku tidak yankin kau akan menyukainya. Mungkin setelah ini kau boleh mendesain ulang kamarmu. Silahkan masuk."
Hanbin memasuki ruangan yang akan menjadi kamarnya nanti. Dan tentang ia yang tidak menyukai desain Daesung itu salah besar! Ia sangat menyukainya.
Dinding kamarnya berwarna coklat. Double bed dengan cover garis-garis hitam dan merah di sisi kanan tengah ruangan –koper hitamnya tepat di atas kasur, bed side lamp di kedua sisinya. Satu set meja belajar beserta kursi dan komputer di pojok kiri. Lukisan abstrak di atas headboard, jendela yang menghadap ke pohon maple yang tadi diperhatikan Hanbin, dan sebuah pintu di sebelah lemari di sisi kiri yang Hanbin kira sebagai pintu kamar mandi. Semuanya sempurna. Sesuai dengan selera Hanbin.
"Bagaimana? Kau menyukainya?", ucap Daesung.
"Tentu. Aku sangat menyukainya.", balas Hanbin sambil tersenyum.
"Syukurlah jika kau menyukainya. Istirahatlah sebentar. Dan pastikan kau turun saaat makan malam nanti."
Hanbin hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan. Menutup pintu kamarnya, menurunkan kopernya ke lantai dan merebahkan dirinya. Astaga! Siapa yang menyangka kalu perjalanan Seoul-Jeju bisa semelelahkan ini? Dan Hanbin mulai memejamkan matanya. Tanpa berniat untuk melepas sandal rumah dan coat navy yang dipakainya.
###
Hanbin keluar dari kamarnya setelah istirahat –tidur, dan mandi. Mengenakan sweatpants abu-abu dan kaos putih polos, Hanbin melangkahkan kakinya –yang memakai sandal rumah, menuruni tangga menuju ruang makan yang menyambung dengan dapur.
Melihat Hanbin yang berjalan ke arahnya, Daesung yang sedang memasak memberilan senyuman hangatnya.
"Apa kau sudah lapar? Masakannya siap sebentar lagi.", ucap Daesung.
"Tidak terlalu. Ada yang bisa aku bantu?", tanya Hanbin.
"Oh, tidak ada. Tetapi jika kau memaksa, kau bisa menyiapkan peralatan makan dan nasinya."
"Baiklah."
Setelah semuanya siap, mereka memulai makan dengan tenang. Mereka sama-sama menyelesaikan makannya dengan cepat.
"Bagaimana? Masakanku enak?"
"Rasanya masih sama seperti dulu, paman. Tetap enak."
"Terima kasih.", ucap Daesung. "Oh iya, mulai besok lusa, kau akan memasuk sekolah bukan?"
"Iya , paman."
"Mau kupinjamkan mobilku?"
"Tidak usah. Lagipula besok motorku akan sampai."
"Ah iya! Aku lupa kalau kau juga membawa motormu kemari." Daesung menepuk pelan dahinya. "Baiklah kalau begitu. Besok aku akan pergi awal untuk mengurusi kepindahanmu dan beberapa hal lain. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal?"
"Ye. Aku tidak apa-apa. Lagipula, aku kan sudah besar."
"Arasseo. Setelah ini, kau mau langsung tidur atau…?"
"Aku ingin merapikan beberapa barang-barangku. Sehabis itu, aku akan tidur."
"Butuh bantuan?"
Hanbin menggelengkan kepalanya. "Aniyo. Aku bisa sendiri."
"Baiklah. Kalau begitu, selamat malam."
"Selamat malam, paman. Terima kasih makan malamnya."
###
Esoknya, saat siang hari.
Hanbin bergegas menuju pintu utama saat mendengar suara bell. Membukanya, lalu menyapa seseorang dari jasa pengangkutan barang. Motornya sudah sampai ternyata.
"Ne. Terima kasih.", ucapnya lalu membiarkan petugas tersebut pergi meninggalkannya.
Menghampiri motornya –motor sport hitam-putih kesayangannya, Hanbin tersenyum lebar. Masuk ke dalam rumah untuk mengambil kotak perkakas yang selalu dibawanya –hadiah ulang tahun dari teman klub dance, untuk mengecek motornya. Siapa tahu ada yang rusak, kan?
Saat sedang fokus mengutak-atik motornya sambil mendengarkan lagu dengan headphone putih kesayangannya, tiba-tiba Hanbin dikejutkan dengan seseorang yang menepuk pelan pundaknya.
Menoleh kepada orang tersebut, Hanbin menggantungkan headphone di lehernya.
"Ya. Maaf, ada yang bisa aku bantu?", ucap Hanbin. Pemuda di depannya ini membawa sebuah kotak.
Hanbin memperhatikan pemuda di depannya. Kulitnya agak kecoklatan, rambutnya hitam pekat, matanya yang hitam-kecoklatan berkilat tajam, hidungnya mancung, badannya sedikit lebih tinggi dari Hanbin. Pemuda itu menenakan celana pendek navy dan t-shirt hitam. Well, dia lumayan tampan. Tapi, bukan tipe Hanbin.
"Apa paman Daesung ada?", ucap pemuda itu. Dia memiliki suara yang serak dan dalam.
"Paman Daesung sedang ke Seoulite High School untul mengurusi sesuatu.", jelas Hanbin. "Ada perlu apa?"
"Ibuku membuatkan ini untuknya. Bisa kau berikan padanya nanti?"
"Baiklah."
"Oh, iya. Siapa kau? Sepertinya aku baru melihatmu di sini, dan kau punya hubungan apa dengan paman Daesung?", tanya pemuda itu.
"Ah iya! Maaf. Namaku Kim Hanbin. Aku keponakan paman Daesung. Aku baru pindah dan akan melanjutkan sekolahku di sini.", ucap Hanbin sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Gu Junhoe. Aku tetangga paman Daesung. Rumahku yang nomor dua dari sini. yang bercat hijau.", ucap pemuda itu. Menjabat tangan Hanbin, lalu menujukkan jarinya pada salah satu rumah di sebelah kanan rumah pamannya.
"Ooh… Kau cukup dekat dengan pamanku?" Hanbin mencoba untuk berteman dengan pemuda ini.
"Ya. Bisa dibilang begitu. Keluargaku baru pindah ke sini 2 tahun lalu. Dan paman Daesung memperikan banyak bantuan kepada kami.", ucapnya.
"Well, pamanku memang seperti itu."
"Oh iya. Tadi kau bilang paman Daesung sedang ke Seoulite High School, apa kau akan melanjutkan sekolahmu di sana?"
"Iya. Aku akan melanjutkan di sana sebagai siswa tingkat 2.", jawab Hanbin. "Kalau kau?"
"Aku bersekolah di HighGround High School. Aku siswa tingkat 1."
"Ooh… Berarti kau harus memanggilku hyung. Arasseo?"
"Aniya. Kau lebih pendek dari aku."
"Yak! Mana bisa begitu?" Hanbin merasa kesal. Anak ini benar-benar.
"Sudahlah. Aku mau pulang dulu. Ibuku sudah mengunggu. Sampaikan salamku pada paman Daesung ya." Lalu Junhoe pergi begitu saja meninggalkan Hanbin yang masih kesal.
"Awas saja! Kalau sampai bertemu lagi, akan tak kuacuhkan anak itu!"
Hanbin kembali memasang headphone dan mengumpulkan fokusnya untuk kembali memeriksa motornya.
Saat sore…
Hanbin sedang menonton televisi saat pamannya pulang.
"Besok kau mulai sekolah. Kau oleh membawa motormu. Kata mereka, sebelum memasuki kelas kau harus ke ruang tata usaha terlebih dahulu. Kau bisa mengambil jadwal kelasmu di sana.", jelas Daesung sesaat setelah dirinya mendudukkan diri di salah satu sofa.
Hanbin mengangguk paham. Lalu teringat sesuatu.
"Paman, tadi siang ada seorang pemuda yang mencarimu. Ia berkata agar aku memberikan ini untukmu. Katanya ibunya yang membuat ini." Hanbin berkata lalu masuk ke dapur dan keluar lagi sambil membawa kotak yang tadi dititipkan Junhoe.
"Ahh… Pasti dari keluarga Gu. Jadi, kau sudah bertemu dengan Junhoe?", ucap Daesung.
"Ya, seperti itulah."
"Bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Kau tau maksudku."
"Maaf, paman. Aku masih menyukai pemuda cantik. Lagipula dia cukup menyebalkan."
"Kau tahu, kata orang ada pembatas tipis antara cinta dan benci."
"Please, paman. Aku masih 'normal'." Hanbin bersungut kesal. "Sudahlah. Aku mau ke kamarku saja!"
"Come on, Bin. Aku hanya bercanda." Daesung berteriak. Dan setelahnya Hanbin medengar tawa pamannya yang sumbang.
###
Keesokan harinya…
Hanbin sedang memeriksa tampilannya di cermin full body di kamar mandinya.
Rambut kecoklatannya di-style ke atas. T-shirt putih, jacket denim, dan jeans senada dengan jacketnya, membalut tubuh kekar Hanbin. Converse hijau terpasang di kakinya, jam hitam di tangan kirinya, dan jangan lupakan ransel kesayangan Hanbin yang disampirkan di bahu kanannya.
"Swag~ check. Swag~ check.", gumamnya sambil merapikan rambutnya. "Asaa! I'm readeyy!"
Dengan langkah ringan, Hanbin menuruni tangga. Menghampiri pamannya untuk menikmati sarapannya.
"Pagi, paman.", ucap Hanbin.
"Pagi juga, Bin. You look good.", balas Daesung.
"Thanks."
"Milk or coffee?"
"Coffee, please. Aku tidak mau mengantuk di tengah-tengah kelasku nanti."
Mereka menikmati sarapannya dengan tenang.
"Aku selesai. Terima kasih sarapannya.", ucap Hanbin. Meletakkan piringnya dan gelasnya dalam wash basin. "Aku berangkat dulu, paman."
"Ya! Hati-hati."
Setelah beberapa saat, terdengar deru mesin motor meninggalkan rumah Daesung.
Hanbin siap memulai hari barunya. Dan ia tidak tahu apa yang menunggunya di Seoulite High School.
12 a.m. Seoulite High School.
Hanbin sedang berada di kantin sekolahnya. Kelasnya cukup menyenangkan, meski dibeberapa bagian terasa membosankan. Mungkin karena Hanbin belum memiliki teman. Well, salahkan gen kikuk ayahnya yang mengalir dalam darah Hanbin.
Selama ia bersekolah, hal yang paling susah dilakukannya adalah memiliki teman dekat. Not to mention, Hanbin mempunyai beberapa teman disekolahnya terdahulu. Beberapa hanya sekedar mengenal, beberapa hanya sekedar makan siang bersama, dan sisanya cukup dekat dengan Hanbin. Termasuk teman klub dancenya.
Entahlah, Hanbin termasuk orang yang tertutup. Kejadian dengan Junhoe kemarin hanyalah satu dari sekian banyak cara yang coba Hanbin lakukan untuk mendapat teman.
Saat sedang asyik menikmati makan siangnya, Hanbin dikejutkan dengan beberapa pemuda yang menghampiri mejanya. Well, meja yang ia tempati sendirian ini memang cukup besar.
"Hai." Yang paling pendek dari ketiga pemuda yang menghampirinya, menyapa Hanbin. "Boleh kami duduk di sini?"
"Tentu saja. Silahkan.", jawab Hanbin.
"Kau anak baru itu ya?" Yang berambut coklat bertanya padanya.
"Iya. Kim Hanbin imnida. Aku siswa baru dari tingkat 2."
"Kim Donghyuk. Tingkat 1." Seseorang yang tadi pertama kali menyapanya.
"Song Yunhyeong. Tingkat 3." Pemuda dengan rambut coklat.
"Jung Chanwoo. Tingkat 1." Yang paling tinggi dengan pipi chubby.
"Senang berkenalan dengan kalian.", ucap Hanbin sopan.
Perhatian Hanbin tiba-tiba teralihkan oleh 4 siswa yang melewati kantin. Ia memperhatikan mereka dengan seksama.
Dua pemuda yang terlihat sangat bertolak belakang –yang berkulit putih sangat ceria dan yang berkulit pucat-kecoklatan terlihat datar, lalu dibelakang mereka seorang pemuda dengan gigi kelinci dan rahang lancip menengadahkan kepalanya –terlihat sombong menurut Hanbin. Dan yang paling menarik perhatian Hanbin seorang pemuda mungil yang berjalan paling belakang.
Kulitnya pucat, matanya yang lucu, hidung mancungnya, bibir plump yang tipis, dan rambut coklat-kekuningan yang membuatnya semakin menawan.
"Kau sedang melihat apa?" Seseorang membuyarkan lamunan Hanbin. Saat ia menoleh, ternyata Donghyuk yang bertanya.
"Mereka siapa?", tanya Hanbin menunjuk dengan dagunya kepada 4 pemuda yang sedang memasuki kantin.
Ketiga pemuda yang sedang duduk dengan Hanbin mengalihkan pandangannya menuju arah yang dimaksud.
"Mereka itu putra angkat Tuan Choi.", ucap Yunhyeong.
"Siapa itu Tuan Choi?", tanya Hanbin.
"Astaga! Kau tidak tahu Tuan Choi? Atau dokter Choi?" Giliran Donghyuk yang bertanya.
"Well, aku anak baru. Baik di sekolah ini, maupun di daerah ini."
"Oke. Tuan Choi atau dokter Choi adalah salah satu dokter terbaik di pulau Jeju ini. Dia juga lumayan kaya. Dia dan istrinya mengadopsi 4 anak laki-laki. Merekalah keempat anak itu." Yunhyeoung menjelaskan.
"Yang berwajah cantik berambut pink cerah di depan itu Kim Jinwoo, dia di tingkat 3. Pasangannya yang berwajah kaku dan berbadan besar itu Song Minho, ia lebih dikenal dengan nama Mino, dia juga tingkat 3. Yang berahang tegas, sombong dan bergigi kelinci itu Kim Jiwon, sama seperti Mino dia dikenal dengan nama lain, Bobby, anak tingkat 2. Dan yang terakhir yang paling mungil, pendiam dan misterius, Kim Jinhwan, dia di tingkat 2. sama seperti kau dan Bobby.", ucap Donghyuk panjang lebar.
"Dan sebagai informasi untukmu. Mereka itu aneh. Mereka memasuki kantin, tetapi sama sekali tidak makan. Hanya duduk diam dan menunggu sampai jam istirahat selesai.", tambah Chanwoo.
Saat mereka berjalan melewati meja Hanbin, temannya berhenti berbicara dan fokus menyantap makan siang mereka. Sedangkan Hanbin, ia memperhatikan mereka lebih detail lagi satu per satu.
Jinwoo dan Mino terlihat seperti pasangan yang dibuat oleh surga. Mereka terlihat sangat cocok.
Bobby. Well, dia memang keren. Tapi terlihat arogan. Dan Hanbin tidak suka.
Jinhwan. Kim Jinhwan. Entah mengapa, Hanbin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok mungil tersebut. Sangat menawan, cantik, dan menggemaskan.
Entah hanya halusinasinya saja atau memang benar terjadi, Hanbin melihat Jinhwan memerikan senyuman tipis kepadanya. Dan saat itu juga, Hanbin merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sepertinya Hanbin jatuh cinta.
###
Setelah makan siangnya selesai, Hanbin sedang berjalan menuju kelas terakhir yang harus dihadirinya. Biologi. Sungguh, meskipun Hanbin bisa terbilang cerdas, entah mengapa ia membenci pelajaran tersebut.
Berjalan dengan lesu memasuki kelasnya, Hanbin terkejut saat melihat Jinhwan ada di kelas yang sama dengannya. Dan Hanbin merinding saat melihat Jinhwan sedang menatapi dirinya dengan tajam dan berwajah kaku. Seolah sedang menahan sesuatu.
Sebenarnya, Hanbin ingin menghindari Jinhwan dan tatapan tajamnya. Tapi apa daya, bangku kosong yang tersisa berada di sebelah Jinhwan.
Menghirup nafasnya dalam, Hanbin memantapkan langkahnya, dan duduk di sebelah Jinhwan.
Sepanjang pelajaran, Hanbin terus merasakan tatapan Jinhwan yang tertuju padanya. Dan saat Hanbin menoleh, Jinhwan terlihat seperti sedang menahan nafasnya. Apa ia mencium bau yang tidak enak? Tapi Hanbin tidak menciumnya. Apa Jinhwan mencium bau badannya? Hell, dia masih wangi.
Lalu apa?
Saat Hanbin sedang sibuk berfikir, ia merasakan pergerakan pada meja di sampingnya –meja milik Jinhwan. Entah apa yang terjadi, Jinhwan terlihat ingin meninggalkan kelasnya. Ajaibnya, saat Jinhwan keluar dari bangkunya, bell tanda sekolah usai berdering.
Aneh.
Hanbin segera mengemas barang-barangnya dan berjalan menuju ruang tata usaha. Memberikan laporan tentang hari pertamanya di sekolah yang disertai tanda tangan dari masing-masing guru yang mengajarnya tadi.
Sesaat sebelum membuka pintu, Hanbin mendengar suara lembut pemuda yang sedang marah. Sepertinya terjadi masalah dengan orang ini. Menguping sedikit tidak masalah, kan?
"Aku ingin merangkai ulang jadwalku.", ucap pemuda itu.
"Tidak bisa, tuan Kim. Semua sudah terorganisir. Kami tidak ingin mengambil resiko untuk mengacaukan jadwal yang sudah ada." Suara seorang wanita menolak permintaan pemuda itu.
Saat itulah, Hanbin memutuskan untuk memasuki ruangan tersebut. Dan betapa terkejutnya Hanbin saat melihat Jinhwan yang sedang beradu argumen dengan sang petugas wanita.
Hanbin melihat Jinhwan mengalihkan pandangan kepadanya. Ia mendengar Jinhwan berdecak kesal, lalu berlalu begitu saja meninggalkan petugas itu.
"Ada yang bisa saya bantu?", tanya wanita yang tadi menangani Jinhwan.
"Ah! Aku ke sini untuk menyerahkan ini." Hanbin memberikan selembar kertas kepada wanita itu.
Wanita itu bertanya padanya apa ada kesulitan dan kesalahan dalan jadwalnya. Hanbin hanya bisa menggeleng sebagai respon. Pikirannya sedang melayang, mencari alasan mengapa Jinhwan ingin merangkai ulang jadwalnya.
'Apa aku alasannya?', pikir Hanbin. 'Jinhwan ingin menghindariku? Tapi mengapa? Hey, percaya diri sekali kau, Kim. Siapa tahu ada lasan lain. Ya, alasan lain. Ah sudahlah.' Hanbin menggelengkan kepalanya. Pikirannya mulai kacau.
"Kau baik?", tanya petugas wanita tadi. Heran melihat tingkah Hanbin yang bisa dibilang aneh.
"Tidak apa-apa, ssaem.", jawab Hanbin malu. "Terima kasih."
Setelah itu, Hanbin melangkahkan kakinya menuju ke tempat di mana motornya diparkirkan.
Ia melihat Jinhwan dan saudara-saudaranya sedang berkumpul menyandar di sebuah mobil mewah berwarna hitam. Mereka berada di sudut terjaun parkiran mobil. Ia melihat Jinhwan sekilas memperhatikannya.
Hanbin berusaha tak acuh. Melangkah ringan dengan headphone terpasang di kedua telinganya, Hanbin tidak menyadari bahaya yang akan menimpanya.
Para petugas teknik yang sedang memperbaiki papan iklan yang biasanya dipakai untuk mengiklankan kegiatan sekolah, tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan menyebabkan papan kayu berukuran 3x2 meter itu terjatuh.
"Hei kau! Minggir!" Salah satu petugas tersebut berteriak. Sayangnya, Hanbin yang sedang mendengarkan hip-hop dari headphonenya tidak bisa mendengar.
Hanbin terkejut saat merasakan tubuhnya ditarik, dipindahkan dengan sangat cepat. Dan dipaksa berjongkok.
Hanbin menatap Jinhwan yang begitu dekat dihadapanya, melingkarkannya tangan dipundak Hanbin. Hanbin semakin terpesona dengan wajah Jinhwan dari sedekat ini. Ia bisa melihat dengan jelas heartshaped-mole di bawah mata kanan Jinhwan.
Lalu Hanbin mendengar suara berdebum keras dibelakangnya. Hanbin melihat ke belakang.
Betapa terkejutnya ia saat melihat papan kayu berukuran besar hampir saja menimpanya.
Mengembalikan pandangannya ke depan, dan Hanbin kembali dikejutkan dengan Jinhwan yang tidak ada di depannya. Jinhwan sudah kembali bersama dengan saudara-saudaranya.
"Hey, kau baik-baik saja. Kau tidak terluka, kan?"
"Hanbin! Kau baik-baik saja, kan?"
"Hey!"
"Hanbin!"
Hanbin tidak bisa mendengar semua perkataan khawatir beberapa temannya. Yang ada di pikirannya hanyalah Jinhwan.
Sesaat lalu, dia bersama saudara-saudaranya. Lalu menolong Hanbin, kemudian kembali lagi bersama saudara-saudaranya.
Semua terjadi sangat cepat. Cepat sekali.
Bagaimana? Bagaimana bisa seseorang bergerak secepat itu?
Jinhwan itu siapa?
Tidak.
Lebih tepatnya,
Jinhwan itu apa?
A/N
Hello!
HAPPY WHITE DAY!
Chap satu di sini! #tebarconvetti
Eotte? Mirip Twilight ya?
Tapi cuma bbrapa bagian doang kann? Trus juga di situ Jinan itu 4 bersaudara. Bukan 5 bersaudara kek Edward. Emang di beberapa chap depan masih ada adegan yg mirip2 Twilight. Tapi aku jamin! Alurnya bakalan beda. Mungkin buat chap depan kalian udh bisa nebak apa yg bakal terjadi. Aku udh nyiapin beberapa kejutan kok buat chap depan.
Jan protes karena aku suck kalo suruh deskripsiin apa yang ada di otakku ke bentuk tulisan! Tapi, kritik dan saran welcome banget kokk..
Di sini ngga ada JunBin yaa! Pliss, jan ngarepin JunBin karena kalian semua nanti diisep darahnya sama Jinan.. :3
MAKASIH LOH SUPPORTNYA~
maya han, Aiko Vallery, Crazeh People (?), 17Bang Kyung Hoon, Nam627, didydeekim, Jinan, Jinny, yuRhachan, shiningxiu, kimparkshi1.
Sankyuu juga buat yang fav/foll.. #kechupbasyahdariJinan
Gimana? Mau dilanjut chap 2 atau cuma sampe di sini aja?
Review nee~
Matta ne… in possibly chap 2?
