Tittle: Vampire Who I Love
Subtitle: Closer & Curious
Genre: VampireAU!, Shape-shifterAU!, Romance, Supernatural, Fantasy, Thriller
Cast(s): All YG Family Artists also possibility of other artists from another label.
Main pairing: BinHwan
Other pairing(s): SongKim, JunByul, BobChan, YunDong, GTOP, possibility of KangNam in the end.
Rated: M/?
Warn!: It's shounen-ai/ boyslove/ yaoi/ or anything you called, also straight! for some characters, plot suck!, possibility of long chapter, death chara, typo(s), etc. DON'T LIKE? DON'T READ!
Disclaimer: The story is MINE, I just lend the characters name. They're belongs to themselves, God and YGEntertainment. DO NOT PLAGIARIZE OR I'LL KILL YOU!
Summary: Seperti bunga mawar merah yang indah dan semerbak harumnya, kau juga memiliki duri tersendiri. Kau memang melukaiku, tetapi aku tetap terpesona dengan keindahanmu dan ingin menjadikanmu sebagai milikku. Meskipun nyawaku taruhannya, aku ingin melindungimu dengan tanganku sendiri. BinHwan, SongKim, JunByul, BobChan, YunDong, GTOP and possibility of KangNam in the end. DON'T LIKE? DON'T READ!
A/N
2nd chappie here!
Thanks for all your support at 1st chap.. :3
Enjoy Reading!
"Kau gila?!", teriak Jiwon saat Jinhwan kembali setelah menolong Hanbin. "Kau ingin membongkar rahasia kita, huh?"
"Jiwonnie, sudah.", ucap Jinwoo menenangkan Jiwon sambil mengusap pundak adiknya itu. "Jinny pasti punya alasan mengapa dia melakukan itu. Iya kan, ssaeng?"
"Ne, hyung." Jinhwan berhenti sebentar. "DIA SPESIAL."
Menghasilkan 3 pasang mata yang menatap bingung ke arahnya.
###
Esoknya, Hanbin sama sekali tidak mengharapkan dirinya kembali duduk bersama Jinhwan di kelas kimia. Jinhwan masih menatapnya dengan tajam dan seperti mencoba untuk mengendalikan diri.
Hanbin mendudukkan dirinya, mulai mengeluatkan alat tulis dan buku paket kimianya. Ia mencoba untuk membaca beberapa paragraf sebelum gurunya datang. Mengabaikan Jinhwan yang masih menatapinya.
Ia masih memikirkan kejadian kemarin. Saat di mana Jinhwan menyelamatkannya. Hanbin ingin sekali menanyakan kebenarannya pada Jinhwan, tetapi dirinya terlalu pengecut. Menunggu waktu yang tepat mungkin?
Dari sudut matanya, Hanbin bisa melihat Jinhwan akan membuka suaranya. Entah mengapa, jantungnya berdetak di atas normal. Sesaat sebelum Jinhwan bicara, Mr. Jung, guru biologinya, memasuki ruangan. Membuat Jinhwan mengurungkan niatnya dan tanpa sadar, Hanbin mendesah kecewa.
"Selamat siang, anak-anak.", ucap Mr. Jung.
"Siang, ssaem.", jawab murid-muridnya serempak.
"Siang ini kita akan mencoba untuk melakukan percobaan tengtang laju reaksi. Kalian akan bekerja sama dengan teman di sebelah kalian. Mulailah meneliti, lalu tuliskan dalam buku tugas kalian. Pasangan yang percobaannya berhasil, akan kuberikan reward.", ucap Mr. Jung.
Hanbin mengalihkan pandangannya kepada Jinhwan. Jinhwan tersenyum ke arahnya.
"So? We're partners?", ucap Jinhwan.
"Yeah.", jawab Hanbin. "Kau duluan."
Hanbin memperhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh Jinhwan. Jinhwan menimbang NaOH, menuangkannya dalam gelas kimia dan melarutkannya dengan air dam mengaduknya. Lalu Jinhwan menuangkan larutan tadi dalam labu takar dan mengisinya lagi dengan air.
"Gilirianmu. Kau lakukan percobaan yang kedua.", ucapnya pada Hanbin.
Hanbin hampir terlonjak kaget saat mendengar apa yang diucapkan Jinhwan. Jelas Hanbin sedang melamun.
Dengan tangan sedikit gemetar, Hanbin mengambil 41,7 ml HCl 3 M kedalam gelas ukur. Lalu melakukan seperti apa yang ada dalam kertas yang diberikan Mr. Jung tadi.
Jinhwan hanya tersenyum melihat tingkah Hanbin.
"Sudah. Lalu, lakukan percobaan ketiga.", ucap Hanbin, lalu tersenyum pada Jinhwan.
Kejadian itu terus berlanjut sampai keduanya menyelesaikan apa yang diperintahkan oleh Mr. Jung.
Satu hal yang Hanbin tahu tentang Jinhwan, dia anak yang cerdas.
###
Hanbin sedang berjalan menyusuri koridor menuju lokernya. Sebenarnya biasa saja, yang aneh adalah keberadaan Jinhwan di sampingnya. Mereka berjalan berdampingan. For God sake?! Bahkan beberapa siswa menatap aneh ke arah mereka.
"Uhmm.. Jinhwan?", ucap Hanbin mencoba mencairkan suasana. Jinhwan hanya menoleh dengan tatapan bertanya. "Apa kau.. Uhh.. Kau.. Aish!"
"Ada apa, Hanbin?"
"No need. Kau mau menyimpan ini?" Hanbin menyodorkan sebuah kotak yang diberikan Mr. Jung, mereka mendapat peringkat pertama di kelas tadi.
"Nope. Kau saja yang simpan."
"Uhh.. okay."
Hanbin berhenti saat sudah sampai di depan lokernya. Perasaannya saja atau memang Jinhwan berdiri di sampingnya?
Saat Hanbin menoleh, memang benar. Jinhwan berdiri tepat di sampingnya. Apa mungkin dia mengikuti aku?
Belum sempat Hanbin menanyakan hal itu pada Jinhwan, pemuda mungil itu membuka loker di samping Hanbin. Tentu sja, bodoh! Lokernya berada di sebelah punyamu! Khayalanmu terlalu tinggi, Kim!
Lalu tiba-tiba Hanbin teringat kejadian kemarin, ia rasa ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan hal itu pada Jinhwan. Benarkah ia yang menyelamatkan Hanbin? Atau hanya halusinasinya saja? Tapi, mengapa terasa begitu nyata?
Lamunan Hanbin buyar saat mendengar Jinhwan menutup pintu lokernya dan hendak melangkah pergi. Refleks, Hanbin meraih pundak Jinhwan. Jinhwan menghadap Hanbin dengan wajah bingung.
"Uhh.. Maaf.", ucap Hanbin sambil menurunkan tangannya. "Aku ingin bertamya sesuatu padamu."
"Tanyakan saja.", ucap Jinhwan.
"Kau. Kemarin, saat pulang sekolah. Apa kau yang menyelamatkan aku?"
"Sebelumnya, kau melihatku, kan?" Hanbin mengangguk. "Jarak kita cukup jauh. Manusia mana yang bisa bergerak secepat itu?"
Hanbin tertegun. Benar juga.
Hanbin menatap mata Jinhwan. Ia menyadari bahwa mata Jinhwan sangat menarik. Warnanya hitam pekat, sepekat malam hari. Mata itu terlihat sangat dalam dan menenggelamkan.
"Tapi, aku melihatmu di sampingku. Kau menarikku untuk menjauh."
"Mungkin itu hanya halusinasimu saja. Faktanya, aku sama sekali tidak bergerak dari tempatku berdiri kemarin. Kau bisa bertanya pada saudara-saudaraku.", ucap Jinhwan. "Sudah ya. Saudara-saudaraku sudah menunggu. Bye, Kim."
Hanbin menatap punggung sempit Jinhwan yang melangkah menjauh.
Ia masih penasaran. Apa benar yang menolongnya itu bukan Jinhwan? Lalu, mengapa kejadian kemarin terasa begitu nyata? Bahkan sentuhan erat tangan Jinhwan di pundaknya. Entahlah. Mungkin memang hanya halusinasinya saja.
Hanbin mengangkat bahunya, lalu melangkah menuju motornya.
###
"Aku pulang.", ucap Hanbin saat memasuki rumahnya.
Dia melempar tasnya ke atas sofa lalu menghentakkan tubuhnya. Huhh.. Lelah sekali.
"Kau sudah pulang?", tanya Daesung dari arah dapur.
"Yeah.", jawab Hanbin lemas.
"Apa kau lelah? Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu untuk mengantar ini ke kediaman keluarga Gu." Daesung menghampirinya sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang.
"Paman ini.." Hanbin merengek. Daesung hanya tersenyum. Lalu mengulurkan kotaknya pada Hanbin.
"Aku tidak bisa mengantarnya sendiri karena masih harus menyelesaikan masakan untuk makan malam. Ini untuk membalas apa yang mereka berikan beberapa hari yang lalu."
"Baiklah, baiklah.. Biarkan aku mengganti bajuku dulu."
Hanbin sudah mengganti bajunya dengan sweatpants hitam dan hoodie abu-abu. Ia melangkah mendekati rumah keluarga Gu. Singkatnya, rumah Junhoe. Huhh.. Hanbin kesal sendiri jika mengingat anak itu.
Tingg tongg~
Hanbin memencet bel rumah berwarna hijau tersebut. Tak berapa lama, pintu di depannya terbuka. Menampakkan sosok wanita paruh baya memakai gaun rumah yang dibalut apron. Wajahnya berkerut bingung.
"Annyeonghaseyo. Kim Hanbin imnida. Aku keponakannya paman Daesung.", ucap Hanbin sopan sambil membungkukkan badannya.
"Ahh… Keponakan Daesung yang dibicarakan Junhoe.", wanita itu tersenyum hangat. "Aku ibunya Junhoe. Mari masuk. Ada yang bisa aku bantu?"
"Anoo.. Ini dari paman Daesung. Dia bilang sebagai pengganti apa yang bibi berikan tempo hari." Hanbin menyodorkan kotak itu pada wanita di depannya.
"Aish! Dia itu benar-benar.", ucap ibu Junhoe kesal. "Selalu merepotkan dirinya."
"Begitulah pamanku."
"Oh, kau mau bertemu Junhoe? Dia ada di dalam kamarnya. Mau kupanggilkan?"
"Tidak usah, bi. Aku mau langsung pulang. Ada tugas sekolah yang harus kukerjakan."
"Baiklah. Ucapkan terima kasih kami pada pamanmu. Lain kali, datang lagi kemari. Akan kubuatkan masakan yang enak-enak."
"Ye. Terima kasih, bibi. Aku pamit dulu."
"Hati-hati."
Hanbin mengangguk, lalu melangkah kembali menuju rumahnya dengan kedua tangan di saku hoodienya.
Yang tidak Hanbin sadari, Junhoe memandang Hanbin dengan tajam dari jendela kamarnya di lantai dua.
###
Esoknya…
Hanbin baru saja keluar dari ruang kelas sejarahnya. Saat ini, ia sedang melangkahkan kakinya menuju kantin sekolah.
Hanbin melihat Donghyuk melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Hanbin balas tersenyum lalu berjalan menuju meja yang sudah ada Yunhyeong dan Chanwoo di sana. Beberapa hari mengenal mereka, Hanbin tahu jika mereka itu teman masa kecil. Jadi sudah sangat dekat satu sama lain.
"Hai.", sapa Hanbin lalu meletakkan tasnya di atas meja.
"Hai.", ucap mereka serempak. Hanbin tersenyum.
"Aku mengambil makan siangku dulu ya. Titip tasku.", ucapnya lalu berjalan menuju buffet makan siang yang sudah tidak terlalu ramai.
Hanbin sedang mengambil buah apel dari keranjang buah saat ia merasakan keberadaan seseorang di sampingnya. Saat Hanbin menoleh, betapa terkejutnya ia karena yang di sampingnya adalah Jinhwan yang sedang tersenyum tipis.
Hanbin sangat terkejut sampai menjatuhkan apel yang dipengangnya. Beruntung Jinhwan menangkapnya dengan ceoat dan angun.
"Hai.", ucap Jinhwan sambil memberikan apelnya pada Hanbin.
"Uhh.. Hai?", ucapnya gugup.
"Kau makan siang?", tanya Jinhwan. Hanbin mengangkat alisnya bingung.
"Tentu saja. Memangnya kau tidak?" Hanbin bertanya balik.
"Nope. Makananku berbeda dari milik kalian." Jawaban Jinhwan semakin membuat Hanbin bingung. Apa maksud anak ini?
Hanbin mengabaikan pernyataan Jinhwan. Ia melanjutkan langkahnya untuk mengambil sekotak juice. Tak sengaja, pandangan Hanbin jatuh kepada ketiga saudara Jinhwan di meja khusus mereka. Saudara-saudara Jinhwan memandangnya dengan tatapan yang sulit di baca.
"Hei." Jinhwan masih ingin bicara ternyata. Hanbin hanya menoleh dan mengangkat alisnya. Non verbal kalau dia bertanya 'ada apa?'. Jinhwan tersenyum. "Apa kau masih berfikir kalau aku yang menyelamatkanmu?"
Hanbin terkejut dengan pertanyaan Jinhwan. Memang sampai sekarang dan mungkin seterusnya –jika Jinhwan tidak memberikan jawaban pasti, maka itu akan menjadi misteri seumur hidup. Hanbin menyadari itu dan ia sudah tidak terlalu memikirkannya.
Tapi, pertanyaan Jinhwan tadi malah semakin meyakinkan Hanbin jika sosok mungil ini yang telah menyelamatkannya.
"Aku sudah bertanya. Dan kau enggan menjawab.", ucap Hanbin. Ada sedikit nada kesal dalam kalimatnya.
"Well, kau tahu jika manusia biasa tidak bisa melakukan hal itu, bukan?"
"Mungkin kau memang bukan manusia biasa.", jawab Hanbin sekenanya.
"Kalau memang iya, aku ini bukan manusia biasa. Lalu kau berfikir aku ini apa?"
Pertanyaan Jinhwan semakin membuat Hanbin bingung.
"Mungkin kau seseorang dari planet lain seperti Superman. Atau kau tergigit serangga seperti Spiderman sehingga kau memiliki semacam kekuatan super. Entahlah."
"Yang kau sebutkan itu pahlawan, orang-orang baik.", ucap Jinhwan lirih. Tetapi, Hanbin masih bisa mendengarnya.
"Maksudmu?"
"Bagaimana jika aku bukan orang baik? Bagaimana jika aku adalah penjahatnya?"
"Mana mungkin. Kau begitu mungil, manis dan lucu. Mana bisa seseorang sepertimu menjadi penjahat?"
Jinhwan tersenyum mendengar jawaban Hanbin.
"Suatu saat jika kau tahu siapa aku, mungkin saat itu juga kau akan menjauhiku.", bisik Jinhwan di telinga kiri Hanbin. Setelahnya, Jinhwan meninggalkan Hanbin yang masih terkejut dengan pernyataan Jinhwan.
Jika aku tahu siapa kau sebenarnya, maka apapun yang terjadi aku akan melindungimu.
"Hey, kau berbicara dengan Jinhwan?", tanya Yunhyeong tepat setelah Hanbin mendudukkan dirinya di samping Chanwoo.
"Yeah. Begitulah. Memangnya kenapa?", jawab Hanbin sebelum memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
"Woaahh. Kau tahu, selama ini tidak ada orang yang berani berbicara dengan Jinhwan maupun saudara-saudaranya yang lain.", ucap Chanwoo. Hanbin mengangkat alisnya bingung.
"Memangnya kenapa? Bukankah mereka itu sama-sama siswa di sini?" Hanbin kembali menyuap nasi dan daging ke dalam mulutnya.
"Oh, man. Kau tidak tahu dengan siapa kau berbicara." Donghyuk menggelengkan kepalanya. "Mereka itu putra tuan Choi."
"Kau sudah mengatakan itu saat hari pertamaku di sini."
"Dan kau masih belum paham siapa itu tuan Choi kan?" Hanbin menggeleng. "Damn! Dia itu orang yang paling kaya di sini." Donghyuk berseru.
"Don! Pelankan suaramu." Yunhyeong mengingatkan.
"Lalu apa masalahnya?" Hanbin mulai kesal karena teman barunya ini mengganggu makan siangnya.
"Nothing.", jawab Donghyuk. Kesal juga dengan sikap Hanbin.
"Ehm." Chanwoo membuka suaranya. Hanbin menatap yang termuda di antara mereka.
"Apa?"
"Anoo.. Apa kau sebelumnya juga pernah berbicara dengan Jinhwan?", tanyanya. Hanbin mengangguk sambil menyeruput juicenya. "Well, itu alasan mengapa seisi sekolah membicarakan kalian."
"Maksudmu?"
"Bukankah Chanwoo sudah mengatakannya tadi." Yunhyeong membuka suaranya. "Tidak ada yang berani mendekati maupun berbicara dengan mereka. Entahlah. Mereka seperti memiliki tameng tersendiri terhadap siswa-siswi yang lain. Beberapa mengatakan kalau mereka itu aneh."
"Hu-uh." Chanwoo mengangguk. "Belum pernah ada yang berbicara dengan mereka selain kau."
"Well, teknisnya. Aku hanya berbicara dengan Jinhwan."
"I got the point, man.", ucap Chanwoo. "Yang kita bahas di sini adalah keanehan mereka. Mereka tidak pernah makan siang di kantin, lalu mereka terkesan menutup diri dari yang lain, bahkan ada yang bilang jika rumah mereka itu di tengah hutan."
"Lalu, saat musim panas, they're no where to be found!", ucap Yunhyeong.
"Banyak yang bilang mereka itu pergi berburu atau semacamnya. Entahlah." Chanwoo mengangkat bahunya.
Hanbin terdiam. Dia sedang berfikir tentang apa yang dikatakan Chanwoo.
Mereka tidak pernah makan siang di kantin.
Lalu ia teringat perkataan Jinhwan.
Makananku berbeda dari milik kalian.
Entah ada angina apa, ia teringat juga dengan perkataan pamannya, Daesung.
Suatu saat nanti, kau akan percaya bahwa Vampire dan Werewolf benar-benar ada.
Apa benar makhluk seperti itu ada? Apa Jinhwan dan saudaranya salah satu di antara kedua jenis itu?
###
Sore harinya –Hanbin sendiri tidak tahu bagaimana ceritanya, ia sedang duduk di teras rumah Junhoe dan menanyakan hal ini.
"Jun, apa kau percaya akan adanya Vampire dan Werewolf?"
Hanbin bisa melihat keterkejutan Junhoe atas petanyaannya. Hanbin juga mendapati Junhoe yang menarik napasnya dalam sebelum menjawab pertanyaan Hanbin.
"Well, sejak dulu saat aku masih kecil, keluargaku menceritakan ini secara turun temurun." Junhoe terdiam. Memperhatikan reaksi Hanbin.
"Lanjutkan.", kata Hanbin.
"Setiap dongeng berawal dengan dahulu kala, di sini, di Jeju ini terdapat sebuah suku. Suku ajaib di mana beberapa warganya bisa berubah menjadi serigala. Mereka bekerja sama untuk melindungi desa dan warga yang ada di dalamnya. Selama bertahun-tahun, suku ini hidup tentrem tanpa ada gangguan apapun.
"Sampai suatu saat, salah seorang warga menemukan mayat seorang wanita yang pucat pasi dan tubuhnya dingin. Di lehernya terdapat bekas luka gigitan. Bukan bekas gigitan hewan buas, melainkan bekas deretan rapi gigi milik manusia." Junhoe melihat Hanbin menahan napasnya. Lalu kembali melanjutkan.
"Mereka sedikit waspada dengan memperketat keamanan. Tetapi, mereka kembali menemukan dua mayat wanita dengan kondisi yang sama. Saat itu, sang kepala suku benar-benar marah dan sangat ingin membunuh siapapun yang melukai warganya.
"Singkat cerita, sang kepala suku berhasil menemukan pelaku pembunuhan para warganya. Ia sedang menghisap darah wanita muda yang lain. Ia adalah seorang manusia, laki-laki. Kulitnya pucat, dingin, tanpa cacat seperti porselen, dan matanya merah separti darah. Wajahnya juga sangat tampan untuk ukuran manusia biasa. Sang kepala suku sangat marah, dan dengan bantuan beberapa warganya –karena makhluk ini sangat kuat dan cepat, ia berhasil membunuh manusia berdarah dingin tersebut. Tanpa pikir panjang, mereka membakar tubuh si vampire.
"Esoknya, desa suku itu di serang oleh seorang wanita. Cirri-cirinya sama dengan laki-laki vampire yang mereka bunuh kemarin. Singkatnya, lelaki yang mereka bunuh kemarin adalah kekasih wanita tersebut. Dengan perasaan marah dan membabi buta, wanita itu berhasil membunuh 5 werewolf lelaki dari suku tersebut. Dua di antaranya adalah putra dari sang kepala suku.
"Sang kepala suku marah. Kemudian, ia berubah menjadi werewolf dan menyerang si wanita. Tapi sayang, sang kepala suku juga tidak cukup kuat untuk menangani wanita yang sedang marah karena kekasih yang paling dicintainya terbunuh. Saat itu, sang istri kepala suku menyadari jika satu-satunya cara agar suaminya menang adalah dengan mengalihkan perhatian wanita itu. Dan dengan belati yang ada di sampingnya, ia memotong nadinya sendiri. Membuat darahnya bercucuran.
"Rencananya berhasil. Sang wanita mengalihkan perhatiannya pada sang istri, dan kesempatan itu digunakan oleh suaminya untuk menyerang balik si wanita. Si wanita memang mati, itu kemenangan. Tetapi, istrinya juga mati, dan itu luka terdalam untuk sang kepala suku. Sejak saat itu, sang kepala suku membenci makhluk bertubuh dingin bernama vampire." Junhoe meneguk minuman dingin yang dibuatkan ibunya untuk mereka. Tenggorokannya kering setelah lama bercerita.
Hanbin sendiri masih dalam mode mendengarkannya. Merasa bahwa cerita Junhoe belum selesai.
"Kau tahu kalau ceritaku belum selesai, ya?", tanya Junhoe. Hanbin mengangguk pelan. "Well, kau benar.
"Setelah lama tidak ada ganguan dari para vampire, tiba-tiba mereka datang lagi. Kali ini bukan hanya dua, melainkan enam sekaligus. Sang kepala suku awalnya marah dan ingin kembali membunuh keenam vampire tersebut. Tetapi, salah satu dari keenam vampire tersebut –bisa dibilang pemimpinnya, mengatakan bahwa mereka tidak akan meminum darah manusia. Mereka ini apa yang dikatakan 'vegetarian'. Mereka hanya akan meminum darah hewan sebagai penopang hidup. Warna mata mereka yang kuning keemasan adalah buktinya. Mereka berkata, jika yang memiliki warna mata merah, adalah mereka yang meminum darah manusia.
"Setelah terjadi perundingan yang cukup ketat, akhirnya dibuatlah perjanjian. Memang tidak ada batas wilayah, hanya saja jika para vampire tersebut ditemukan meminum darah manusia, maka sang kepala suku tidak segan-segan untuk membunuh mereka semua.
"Begitulah. Kudengar vampire itu masih ada dan kemari beberapa kali. Jika werewolf, well, pulau ini rumah mereka, kan?" Junhoe mengakhiri ceritanya sambil mengangkat bahunya.
"Apakah itu semua benar?", tanya Hanbin setelah memproses seluruh cerita Junhoe.
"Keputusan di tanganmu, Bin. Kalau kau percaya, itu baik untukmu. Tapi, jika tidak, itu terserah kau."
###
Seminggu setelah percakapannya dengan Junhoe, Hanbin masih memikirkan tentang kebenaran apa yang sebenarnya disembunyikan Jinhwan. Benarkah Jinhwan dan saudara-saudaranya itu seorang vampire? Pasalnya dari cirri-ciri yang dikatakan Junhoe tentang vampire, hampir semuanya mendeskripsikan Jinhwan.
Berbicara tentang Jinhwan, beberapa hari ini Hanbin tidak menjumpainya di dalam kelas biologi maupun kimia. Saudara-saudara Jinhwan memang menghadiri kelas, tapi Hanbin tidak mempunyai cukup keberanian untuk bertanya pada salah satu di antara ketiganya.
Well, mungkin Hanbin bisa bertanya pada Jinwoo, tapi Mino yang selalu di sampingnya dan menatap siapapun dengan tajam, membuatnya mengurungkan niatnya. Bobby? Nope. Bukankah Hanbin sudah pernah bilang jika ia tidak menyukai seseorang yang sombong?
Hanbin baru saja keluar dari sebuah toko kecil di pinggiran kota. Ia habis membeli komik yang cukup sulit didapatkan karena sudah beberapa bulan terbit. Karana sangat menginginkannya, jadilah Hanbin di sana. Ia ke sana naik kendaraan umum karena motornya sedang rusak.
Saat Hanbin sedang berjalan di gang yang cukup sepi, padahal saat ia berangkat tadi, jalannya tidak sesepi ini –jelas saja, sudah menjelang waktu malam, ia merasakan ada yang mengikutinya dari belakang.
Hanbin berusaha untuk tidak menghiraukan keberadaan beberapa orang yang ada di belakangnya. Sialnya, saat Hanbin mengangkat kepalanya, ia melihat dua orang pemuda di depannya. Saat berbalik, dua pemuda lain ada di depanya. Lagi, masing-masing satu pemuda di sisi kanan dan kirinya. Sial! Hanbin dikepung 6 orang sekaligus!
"Hey, kau! Berikan uangmu.", ucap pemuda bertubuh lumayan kekar di depannya.
Hanbin diam.
"Kau bisu atau tuli?! Berikan uangmu atau kau akan menyesal!", ucap pemuda berambut merah di samping pemuda kekar tadi.
Hanbin masih diam dan berdiri lebih tegap. Ia mengumpulkan seluruh keberanian dan kekuatannya bersiap menghadapi enam pemuda ini.
"Wah, wahh.. Sepertinya dia tidak mau bekerja sama, bos.", ucap pemuda di samping kanannya pada si pemuda kekar.
"Well, memang terlihat begitu.", ucap bos –si pemuda kekar. Lalu si pemuda kekar ini menjentikkan jarinya. Dan dengan cepat, dua orang pemuda sudah memegang erat tangannya. Seorang di belakangnya mengunci badan Hanbin.
"Hei! Apa-apaan kalian! Lepaskan aku!", teriak Hanbin. Menggerakkan badannya, mencoba melepaskan diri. Namun usahanya sia-sia.
Keenam pemuda tersebut tertawa. "Kau sendiri yang tidak mau menyerahkan uangmu secara cuma-cuma. Terpaksa kami memakai cara kasar.", ucap pemuda di samping kirinya.
Sial! Hanbin mengutuk dalam hati.
Pemuda kekar tadi berjalan mendekatinya. Hanbin bisa melihat kepalan tangannya yang pasti terasa sakit jika dihantamkan di wajahnya. Tanpa sadar, Hanbin menutup matanya. Ia menyerah. Well, sebenarnya Hanbin tidak terlalu jago bela diri. Jadi, Hanbin terima saja. Mungkin setelah ini, ia akan mengambil kelas karate di sekolahnya.
Hanbin menunggu. Terus menunggu kapan kepalan itu akan mendarat di wajahnya. Berdoa dalam hati agar rasanya tidak terlalu menyakitkan.
Tiba-tiba, Hanbin mendengar suara decitan ban mobil yang di rem setelah melaju dengan kencang.
Saat membuka matanya, Hanbin melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri. Tak lama, seseorang membuka pintu kemudi mobil tersebut. Hanbin tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu, sampai tubuh mungil itu berjalan mendekat.
Sepatu sneakers hitam, ripped jeans biru pudar, dan hoodie hitam membalut sempurna tubuh mungil yang ternyata adalah Jinhwan. Shit! Jinhwan! Jinhwan melihatnya dalam keadaaan menyedihkan seperti ini?! Mimpi apa Hanbin semalam?!
"Lepaskan dia atau kalian tak akan bertemu matahari esok hari.", ucap Jinhwan dingin. Sangat dingin sampai Hanbin sendiri kurang yakin kalau dia benar-benar Jinhwan.
"Dengan tubuh mengul seperti itu, kau bisa apa?", ucap pemuda berambut merah meremehkan.
"Baiklah. Kalian yang kau yang meminta."
Dengan gerakan cepat, Jinhwan berhasil mengunci tangan pemuda berambut merah tersebut. Dan setelahnya, terdengar bunyi beberapa tulang patah yang cukup nyaring.
"AAARRGGGHHH!", teriak pemuda itu kesakitan.
"Lihat?", ucap Jinhwan lalu melempar tubuh tak berdaya itu ke tanah. Hanbin harus benar-benar memperhatikan pemuda beramput merah itu jika dia masih hidup.
"Lepaskan dia atau kalian bernasib sama dengan dia." Jinhwan menggerakkan tubuh pemuda itu dengan sebelah kakinya.
Hanbin merinding. Jinhwan yang sedang marah benar-benar mengerikan.
Tanpa perlawanan lain, ketiga pemuda yang menguncinya melepaskan Hanbin. Lalu mereka semua lari terbiri-birit menjauhi Hanbin dan Jinhwan. Dua orang pemuda menghampiri si rambut merah dan membawanya menjauh.
"Kau." Jinhwan berucap pada Hanbin. "Masuk ke mobilku."
Tanpa menunggu perintah kedua, Hanbin melangkah mendekati mobil Jinhwan dan duduk di kusri samping kemudi. Ia memperhatikan Jinhwan yang berjalan mondar-mandir –mengendalikan emosi. Entah mengapa, melihat Jinhwan yang berrtingkah seperti itu, membuat dada Hanbin menghanga dan tanpa sadar ia tersenyum.
Lamunan hanbin buyar saat mendengar puntu mobil yang ditutup. Jinhwan sudah berada di dalam mobil, meskipun masih terlihat kaku. Ia menyalakan mobilnya dan perlahan menjauhi tempat itu.
"Pakai sabuk pengamanmu.", ucap Jinhwan. Hanbin menurut. "Apa kau merasa dingin? Mau kunyalakan penghangatnya?"
Hanbin hanya mengangguk. Merasa belum saatnya untuk berbicara.
Saat penghangatnya dinyalakan, Hanbin baru tersadar betapa beku tubuhnya. Benar saja, sekarang kan sudah musim dingin. Beberapa hari lagi Natal. Pantas jika suhu udaranya sangat dingin. Dan Hanbin termasuk orang bodoh karena hanya memakai selembar long coat berwarna cream.
"Apa yang kau lakukan di sana? Kau.. Kalau kau tahu apa yang ada dalam pikiran mereka, mungkin kau akan berlari sebelum itu terjadi." Jinhwan berkata emosi.
"Aku… Aku baru saja pulang dari sebuah toko untuk membeli komik. Mana aku tahu jika akan terjadi hal seperti ini." Hanbin ikut kesal. "Tunggu, kau bagaimana kau bisa tahu aku ada di sana? Bagaimana kau bisa tahu kalau di sana akan terjadi kekerasan?"
"A.. Aku.." Jinhwan terbata.
"Kau apa?"
"Aku mendengar apa yang ada dipikiran mereka! Kau puas? Mereka yang memikirkan ciri-cirimu! Kau yang cukup tampan, ada yang berfikir kau manis dan sebagainya yang membuat aku kehilangan kendaliku dan tanpa sadar aku membuat perjalananku ke sana. Dan benar dugaanku kalau itu kau!" Jinhwan berucap emosi.
"Jinhwan…", ucap Hanbin lembut.
"Diam!", teriaknya. "Diam atau aku akan melakukan hal yang buruk kepadamu!"
Hanbin kehilangan kata-katanya. Ia melihat Jinhwan yang gusar di balik kemudinya. Hanbin hanya ingin menenangkan Jinhwan. Ingin meyakinkan Jinhwan bahwa ia baik-baik saja. Tapi, Jinhwan yang sedang emosi benar-benar mengerikan.
Hanbin terus menatapi Jinhwan dalam diam. Lalu ia menyadarinya. Ia sadar perubahan warna mata Jinhwan. Seminggu lalu warnanya hitam, kan? Lalu, mengapa sekarang warnanya kuning keemasan? Apa.. Apa benar Jinhwan seorang vampire? Salah satu yang diceritakan Junhoe?
Jinhwan mengalihkan tatapannya. Ia melihat wajah Hanbin yang memerah. Apa dia sakit? Atau dia kepanasan dengan suhu dalam mobil?
"Kau sudah merasa cukup hangat?", tanya Jinhwan. Dari suaranya, terdengar kalau dia sudah mengandalikan emosinya.
Hanbin mengangguk. "Sudah."
Dengan saat yang bersamaan, Hanbin dan Jinhwan mengulurkan tangan untuk menurunkan suhu pemanasnya. Tidak sengaja, kulit tangan mereka bersentuhan secara langsung. Dan Jinhwan terasa dingin. Sangat dingin bagi Hanbin. Apa Jinhwan tidak membeku? Tidak merasakan dingin?
Kulitnya pucat, dingin, tanpa cacat seperti porselen.
Hanbin teringat perkataan Junhoe.
Karena makhluk ini sangat kuat dan cepat.
Warna mata mereka yang kuning keemasan adalah buktinya.
Jinhwan. Benarkah ia seorang vampire?
Tubercolusis /salah/ TBC
A/N
Keeuutttt…
Chap 2 selesai yooo~
Maaf kalo jelek. Kesannya maksa banget yaa? Alurnya kecepetanyaa? Karena aku ngga mau kebanyakan chapternya.. :3 mungkin Cuma 10-15 chapter. Jangan bosen bacanya karenra kemungkinan per-chapternya bakalan panjang2 banget.. :p
Itu yang percobaan dikelas kimia aku nyari di internet. Soalnya aku lulusan SMK, jadi ngga tau apa aja yang ada di SMA. ^^V maaf kalo ternyata percobaan itu salah..
Aku ngga tau mau ngomong apalagi selain maaf.. maaf banget updatenya lamaa.. trus chap ini jelek banget masaaa. Maaf juga kalo banyak typo, 'cause ini langsung post tanpa edit. :3
Tauk lahh.. kesannya maksa karena aku sibuk bet.. masya Allah..
Makasi juga buat yang review di chap sebelumnya. Yang fav/foll ini fict abal. Makasi banget.. #deepbow
Udah ah! Banyakan omong.
Review juseyoo~
See you in possibly chap 3 (?)
#pyongg
