Tittle: Vampire Who I Love

Subtitle: Truth & Treat

Genre: VampireAU!, Shape-shifterAU!, Romance, Supernatural, Fantasy, Thriller

Cast(s): All YG Family Artists also possibility of other artists from another label.

Main pairing: BinHwan

Other pairing(s): SongKim, JunByul, BobChan, YunDong, GTOP, possibility of KangNam in the end.

Rated: M/?

Warn!: It's shounen-ai/ boyslove/ yaoi/ or anything you called, also straight! for some characters, plot suck!, possibility of long chapter, death chara, typo(s), etc. DON'T LIKE? DON'T READ!

Disclaimer: The story is MINE, I just lend the characters name. They're belongs to themselves, God and YGEntertainment. DO NOT PLAGIARIZE OR I'LL KILL YOU!

Summary: Seperti bunga mawar merah yang indah dan semerbak harumnya, kau juga memiliki duri tersendiri. Kau memang melukaiku, tetapi aku tetap terpesona dengan keindahanmu dan ingin menjadikanmu sebagai milikku. Meskipun nyawaku taruhannya, aku ingin melindungimu dengan tanganku sendiri. BinHwan, SongKim, JunByul, BobChan, YunDong, GTOP and possibility of KangNam in the end. DON'T LIKE? DON'T READ!

A/N

Sebelumnya aku mau njelasin beberapa hal di sini.

Banyak yang ragu kalo Hanbin itu semenya Jinan or sebaliknya (Jinan semenya Hanbin).

Kan aku udah bilang di awal, di teaser tepatnya, kalo Hanbin itu TETAP SEMENYA Jinhwan, meski AGAK TERDOMINASI karena Jinhwan yang lebih kuat dari dia. Dan fakta itu ngga akan berubah sampe story ini end!

Trus juga ada yang nanya, kenapa Hanbinnya ngga di bikin punya kekuatan super cem Jinan? Kan Hanbin MANUSIA. Dia bukan Vamps/Shape-shifters. Ntar malah kesannya aneh kalo manusia biasa cem Hanbin punya kekuatan cem Jinan.. :3

Di chap 3 ini, aku usahain buat jawab semua pertanyaan di atas supaya kalian lebih mudeng.

Masalah ke'spesial'an Hanbin bakal terjawab di sini. meski mungkin udah ada bbrapa yang bisa nebak.

Makasih buat yang review di chap sebelumnya. Yang belum review, aku harap suatu saat nanti kalian ninggalin jejak kalian.

Gladly, 3rd chapter here~

Enjoy reading!

Setelah berkendara cukup lama, Jinhwan menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran Italia.

Hanbin mengerutkan keningnya bingung. Mengapa ia di bawa ke sini? Bukankah seharusnya Jinhwan mengantarnya pulang?

"Untuk apa kita ke sini?", tanya Hanbin pada Jinhwan yang sudah melepas sabuk pengamannya –hendak keluar.

"Kau pasti belum makan, kan? Ayo turun." Jinhwan tersenyum lalu beranjak keluar dari mobilnya.

Hanbin yang masih kebingungan hanya menuruti apa yang diminta Jinhwan. Faktanya dia memang belum makan malam.

Hanbin mengikuti Jinhwan yang sudah masuk lebih dulu ke dalam restoran tersebut. Saat melangkahkan kakinya, Hanbin bisa mencium wangi khas masakan Italia. Hanbin baru sadar betapa laparnya dia.

Mereka duduk di samping jendela besar yang ada di sisi depan restoran tersebut. Sesaat setelah Hanbin mendudukkan dirinya di depan Jinhwan, seorang pelayan wanita datang menghampiri mereka sambil membawa buku menu.

"Selamat malam, tuan-tuan. Selamat datang di restoran kami. Ada yang bisa saya bantu?", ucap pelayan itu. Lucunya, Hanbin bisa mendengar nada menggoda yang dilontarkan pelayan itu padanya.

Hanbin menatap Jinhwan dengan alis terangkat –meminta pertolongan. Jinhwan hanya terkekeh melihat ekspresi Hanbin.

"Ehm." Jinhwan berdehem. Pandangan pelayan itu teralih pada Jinhwan. Jinhwan tersenyum. "Temanku belum makan malam. Bisa kau rekomendasikan menu yang special untuknya? Aku tidak pesan, jika kau mau bertanya."

'Apa?! Makhluk mungil ini! Bukannya membantu malah menambah penderitaan.', rutuk Hanbin dalam hati.

Pelayan yang kelebihan muatan di dadanya tersebut kembali menatap Hanbin. Lalu tersenyum menggoda –yang dimata Hanbin sangat menjijikan.

"Kami memiliki berapa menu andalan. Diantaranya Spaghetti Ayam Puttanesca, Rigatoni Carbonara dan.."

"Aku mau pesan Tortellini dan Choco-Frappe.", ucap Hanbin menghentikan pelayan itu. Sungguh Hanbin sudah muak mendengar nada menggoda yang dipakai pelayan itu. Menjijikan.

Pelayan itu terkejut dengan mata membola dan bibir penuh lipstick merah menjijikannya yang terbuka. Apa orang ini –secara tidak langsung, baru saja menolaknya?

"Kau tidak dengar?" Hanbin mulai kesal. Di sisi lain, Jinhwan berusaha menahan tawanya. "Aku pesan Tortellini dan Choco-Frappe."

Pelayan itu tersadar dari keterkejutannya. "Ah.. Uhmm.. Baik, tuan. Mohon tunggu sebentar.", ucap pelayan itu, lalu dengan cepat mencatat pesanan Hanbin, membereskan buku menu yang ada di meja dan berjalan cepat meninggalkan meja Hanbin.

Tak berapa lama, terdengar suara merdu tawa Jinhwan di telinga Hanbin.

"Hahaha.. Kau harus melihat wajahmu, Kim!" Jinhwan semakin terbahak.

"Yah! Teruslah tertawa!" Hanbin tambah kesal dengan sikap Jinhwan. Meskipun dalam hatinya merasakan hal yang berbeda. Seperti ada kupu-kupu di dalam perutnya.

"Okay, okay…" Jinhwan berusaha menghentikan tawanya. "Maafkan aku."

Mereka kembali terdiam.

Hanbin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran. Tempatnya cukup nyaman. Ada beberapa hiasan bertemakan negara Italia, beberapa rangkaian bunga di dinding, dan foto-foto maupun beberapa sertifikat yang sudah diterima restoran ini.

Tempatnya juga cukup ramai. ada beberapa pasangan muda, seseorang pria dewasa tengah menyesap kopinya, dan banyak lagi. Yang paling menarik perhatiannya adalah sekumpulan gadis di pojok sebelah kiri yang terus manatap ke arah mejanya dan Jinhwan. Sesekali, mereka terkikik sampil menujuk-nunjuk meja yang ia tempati. Apa ada yang salah?

Saat Hanbin mengembalikan tatapannya ke pada Jinhwan, si mungil sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit dibaca.

Hanbin mengangkat alisnya –bertanya. Jinhwan tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Anak ini, mengapa sering sekali tersenyum sih?

Beberapa saat kemudian, pelayan yang tadi menanyainya kembali sambil membawa pesanannya.

'Astaga! Kenapa harus dia lagi? Apa dia tidak kapok setelah kejadian tadi?', batin Hanbin kesal.

"Ini pesanan anda, tuan. Maaf lama menunggu. Satu Tortellini dan satu Choco-Frappe.", ucapnya sambil menaruh pesanan Hanbin di meja. "Jika ada hal lain yang tuan butuhkan, panggil saja saya.", lanjutnya lalu meninggalkan Hanbin yang sedikit terganggu dan Jinhwan yang menatap pelayan itu tajam.

Hanbin hanya melemparkan senyumnya selama sepersekian detik sebagai balasan. Bahkan, ia sendiri tidak yakin jika ia tersenyum. Astaga! Pelayan tadi sungguhan menyebalkan.

Saat Hanbin membuka napkin yang membalut sendok dan garpu untuk makan, ia menemukan secarik kertas yang tertulis nama 'Sunkyu' dan beberapa deretan angka.

"Apa-apaan ini?!", ucapnya kesal. Hancur sudah nafsu makannya –meskipun ia masih lapar sebenarnya.

"Memangnya itu apa?", tanya Jinhwan.

"Kau lihat saja sendiri!", jawab Hanbin sambil menghentakkan kertas itu di depan Jinhwan.

Jinhwan mengambil kertas itu. Hanbin memperhatikan gerak-gerik Jinhwan. Selama seersekian detik, setelah melihat apa yang ada di kertas itu, Hanbin melihat ekspresi Jinhwan yang mengeras.

'Beraninya wanita itu! Awas saja kalau dia berani!', batin Jinhwan –yang tidak diketahui Hanbin.

"Mungkin dia memang menyukaimu.", ucap Jinhwan santai –setelah mati-matian mengendalikan emosinya.

"Cih! Yang benar saja!" Hanbin tanbah kesal sambil mengaduk-aduk Tortellininya. "Aku tidak suka wanita. Apalagi yang jenisnya seperti dia. Lebih baik aku melajang seumur hidup."

"Hei, hei… Aku hanya bercanda, oke?"

Hanbin hanya bergumam rendah.

Setelah itu, kembali terjadi keheningan di antara mereka. Hanbin kembali menemukan nafsu makannya dan mulai makan dengan lahap. Sial! Dia benar-banar lapar. Di sisi lain, Jinhwan hanya menatap Hanbin dengan satu tangan di atas meja menyangga kepalanya.

Hanbin yang merasa diperhatikan, mengangkat pandangan dari Tortellini di depannya.

"Apa?", tanya Hanbin pada Jinhwan sambil menyesap Choco-Frappenya.

"Tidak." Jinhwan menggeleng. Hanbin memasang wajah bingungnya. Jinhwan terkekeh. Sungguh, makhluk di depannya benar-benar menawan.

"Mereka yang di pojok sana itu mengagumimu.", lanjut Jinhwan sambil menunjuk sekumpulan gadis di pojok ruangan tadi dengan dagunya.

Hanbin menengok ke arah yang ditunjuk Jinhwan. Dan setelahnya, ia melihat gadis-gadis itu tersenyum salah tingkah.

"Bagimana kau bisa tahu?", tanya Hanbin sambil memasukkan subuah Tortellini ke dalam mulutnya.

"Terlihat jelas."

"Jangan berdalih. Aku juga masih penasaran bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di tempat tadi."

"Sudah kubilang. Aku mendengar pikiran mereka tentang dirimu."

"Huh?" Hanbin bingung dengan jawaban Jinhwan.

"Aku bisa membaca pikiran." Ucapan Jinhwan agaknya membuat Hanbin terkejut dan hampir tersedak Tortellini yang sedang dikunyahnya.

"Yang benar saja. Kau pasti bercanda.", ucap Hanbin tidak percaya. "Mana ada hal yang seperti itu."

"Aku benar-benar bisa. Well, memang hanya dalam jarak tertentu. Jika terlalu jauh, aku tidak bisa."

"Buktikan."

"Kau lihat laki-laki yang bersama wanita di sana itu?" Hanbin mengangguk. "Ia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk mengakhiri hubungannya dengan wanita itu."

"Kau pasti bercanda. Jelas-jelas mereka pasangan yang bahagia."

"Terserah. Aku lanjutkan ya?" Hanbin mengangguk sambil memasukkan satu Tortellini lagi dalam mulutnya. "Lihat pria yang sendirian itu? Ia sedang memikirkan tabungannya yang semakin menipis." Hanbin cukup percaya karena pria tersebut memang terlihat murung.

"Oh-oh.", seru Jinhwan bersemangat. "Tiga orang wanita dewasa di sebelah sana sedang membicarakan pengalaman sex mereka bersama suami masing-masing." Kali ini, Hanbin benar-benar tersedak dengan perkataan Jinhwan.

"Seriously?" Jinhwan mengangguk semangat. Astaga! Menggemaskan sekali. "Lalu, bagaimana denganku? Apa yang aku pikirkan?"

"Kau?" Hanbin mengangguk. "Kau kosong."

"Maksudmu?"

"Kau kosong. Aku tidak membaca apapun dalam pikiranmu.", ucap Jinhwan. Setengah dari diri Hanbin merasa senang karena Jinhwan tidak mengetahui perasaannya, setengahnya lagi ia merasa sedih.

Melihat perubahan raut wajah Hanbin, Jinhwan kembali melanjutkan penjelasannya.

"Katakanlah kalau ini semacam gelombang radio. Mereka ada di gelombang FM, dan kau di gelombang AM. Sedangkan aku adalah radio yang hanya bisa menangkap gelombang FM. Itu teori sederhananya."

Hanbin mengangguk mengerti. Tapi, dalam hatinya masih ada perasaan yang mengganjal.

"Apa artinya aku ini aneh?"

"Nope." Jinhwan menggeleng. "Bagiku kau spesial."

Dan perkataan Jinhwan menimbulkan rasa penasaran tersendiri bagi Hanbin.

###

Hanbin sedang berada di atas kasurnya dengan laptop di pangkuannya. Ia hanya mengenakan sweatpants putih dan kaos lengan panjang berwarna abu-abu. Setelah ia selesai makan malam bersama Jinhwan tadi –meskipun teknisnya hanya dia yang makan, Jinhwan mengantarkan Hanbin ke rumah Daesung.

Sehabis mandi, ia langsung menyalakan laptopnya dan mulai mencari informasi tentang vampire. Memang apa yang diceritakan Junhoe seminggu lalu sudah cukup meyakinkan Hanbin tentang siapa Jinhwan sebenarnya. Hanbin hanya ingin memastikan dengan mencari dari berbagai sumber di internet.

Hanbin sudah menjelajah internet selama setengah jam. Beberapa dari situs yang ada membahas vampire dari salah satu film terkenal, mitos di berbagai negara tentang makhluk yang menghisap darah, dan ada pula pengalaman dari seseorang yang mengaku sempat bertemu dengan vampire.

Beberapa hal ini adalah yang ia dapat dari menjelajah di internet.

Abadi, berkulit pucat, dingin, kecepatan yang tidak lazim, kekuatan yang sangat besar, refleks yang sangat baik, sensitifitas yang sangat tinggi, beberapa berwajah menawan, ada yang bisa berubah menjadi kelelawar, dan yang terakhir, meminum darah manusia.

Untuk yang terakhir, Hanbin bisa mengabaikannya. Fakta yang dia ketahui dari Junhoe jika vampire yang menyebut dirinya 'vegetarian' –meminum darah hewan, membuat Hanbin yakin jika Jinhwan dan keluarganya adalah keenam vampire yang diceritakan Junhoe.

Hanbin yakin itu. Jinhwan adalah seorang vampire.

Ia sudah mengantongi kebenaran tentang siapa Jinhwan itu. Selebihnya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini pada Jinhwan.

Seminggu berlalu dengan biasa saja. Bahkan, Natal pun terasa biasa. Ibunya yang masih sibuk bekerja, tidak dapat meluangkan waktunya untuk mengunjungi Hanbin. Hanbyul yang masih belia, menyebabkan ibunya tidak berani melepaskan adiknya ke Jeju sendirian. Kenapa tidak Hanbin saja yang mengunjungi keluarganya? Sayangnya, beberapa guru di sekolahnnya yang 'sangat baik' melimpahkan tugas yang cukup rumit dan banyak untuk para muridnya.

Ia hanya merayakan Natal sederhana bersama keluarga Junhoe dan beberapa tetangga lainnya di sekitar rumah Daesung.

Hanbin benar-benar merasa bosan. Tidak ada yang menarik perhatiannya selama seminggu ini. Yang ada di pikirannya hanya Jinhwan. Ia ingin berbicara dengan Jinhwan. Mengatakan semua yang sejujurnya ada dalam hatinya pada sosok mungil nan menawan itu.

###

Hanbin sedang berjalan menuju lokernya saat ini. Ia baru saja menyelesaikan kelas matematikanya siang ini. Well, hari ini ia berniat untuk berbicara dengan Jinhwan, tetapi si mungil entah ada di mana. Padahal Hanbin sudah mencarinya.

Saat mendongakkan kepalanya –sedari tadi Hanbin menunduk sambil memikirkan Jinhwan, ia melihat si mungil sedang berada di depan lokernya. Tanpa menunggu waktu lama, Hanbin langsung berlari menghampiri Jinhwan.

"Jin.", panggilnya.

Jinhwan menoleh, lalu tersenyum. "Apa? Ada yang bisa kubantu?", ucapnya.

"Tidak. Hanya saja, aku ingin berbicara empat mata denganmu."

Jinhwan mengerutkan dahinya, bingung. Hanbin sebisa mungkin memasang wajah 'aku-sudah-tahu-siapa-kau-sebenarnya' agar Jinhwan mengerti.

Jinhwan menganggukkan kepalanya setelah beberapa saat.

"Temui aku di hutan belakang sekolah saat pulang nanti.", ucapnya lalu pergi meninggalkan Hanbin.

Setelahnya, Hanbin sama sekali tidak bisa fokus di pelajaran berikutnya dan berikutnya lagi. Ia terlalu memikirkan Jinhwan.

Apa reaksi Jinhwan saat Hanbin tahu siapa dia dan keluarganya yang sebenarnya? Apa dia akan membunuh Hanbin untuk menutup mulutnya? Atau yang lebih parah, memanggil semua saudaranya untuk membunuh Hanbin bersama-sama. Tapi, bukankah mereka sudah berjanji pada para werewolf? Jika saja werewolf itu benar-benar ada. Hanbin bahkan tidak tahu siapa di antara teman-temannya yang merupakan werewolf.

Haahh…

Hanbin menghela napasnya. Kelas sudah usai. Dan secepat mungkin, Hanbin membawa langkahnya menuju hutan belakang sekolah.

Sebenarnya hutan itu tidak terlalu mengerikan, hanya saja pohonnya yang cukup rindang dan tinggi membuat sinar matahari susah untuk masuk.

Saat berjalan, Hanbin melihat Jinhwan sedang menatap ke arahnya. Mengisyaratkan untuk mengukutinya dengan mengedikkan kepalanya.

Mereka berjalan cukup lama. Mungkin benar, Jinhwan akan membunuh Hanbin sesaat setelah Hanbin membongkar rahasianya. Menghisap habis darahnya lalu menguburnya dengan dalam di hutan ini.

Hanbin menggelengkan kepalanya keras-keras. Mana mungkin Jiinhwan melakukan hal itu bodoh!

"Kau baik-baik saja?", tanya Jinhwan.

Hanbin terkejut. Ia tersadar dari lamunannya dan melihat Jinhwan telah berhenti sambil menyilangkan kedua tangan di dada dan menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon yang besar.

Sosoknya yang mungil dibalut jeans hitam, t-shirt merah dan hoodie berwarna putih. Kakinya memakai sneakers hitam dan di punggungnya tersampir tas punggung berwarna hitam. Rambutnya yang berwarna pink-kecoklatan menutupi dua mata indah milik Jinhwan. Makhluk ini benar-benar mempesona. Hanbin sama sekali tidak keberatan jika harus mati ditangan Jinhwan atau mati demi Jinhwan.

"Hei. Kau bilang ada sesuatu yang ingin kau bicarakan." Ucapan Jinhwan kembali menyadarkan Hanbin dari lamunannya.

"Uhmm… Iya. Sesuatu yang sangat penting." Hanbin menarik napasnya dalam mengumpulkan keberaniannya dan mengeluarkan aura dominasinya pada Jinhwan.

Mengangkat kepalanya dan menatap Jinhwan.

Hanbin bisa melihat Jinhwan yang sedikit terkejut dengan perubahan mimic wajahnya. Dan Hanbin cukup bangga akan hal itu.

Inilah Hanbin dalam mode dominasinya. Alter ego yang ia keluarkan hanya pada saat-saat penting seperti sekarang. Hanbin memandang tepat di mata Jinhwan tajam, berjalan mendekatinya dengan tenang.

Jinhwan berusaha menahan senyumnya. Hanbin benar-benar tampan dengan kepercayaandirinya saat ini.

Hanbin berhenti tepat di depan Jinhwan. Jarak mereka bisa dibilang cukup dekat, mengingat Hanbin hanya menyisakan satu atau dua langkah sebagai jarak.

"Kau." Hanbin mulai berbicara. Suaranya lebih rendah dari Hanbin biasanya, dan Jinhwan menyukai itu. "Aku tahu siapa kau yang sebenarnya."

"Hm?" Jinhwan hanya memiringkan kepalanya sebagai respon. Lalu tersenyum menggoda.

"Dari beberapa cerita yang aku dengar dan pengalaman yang kulalui bersamamu, itu menjelaskan semuanya."

"Lalu?" Jinhwan meletakkan kedua tangannya si sisi tubuhnya. Mengepalkan kedua tangan itu erat, menahan dirinya untuk tidak memeluk dan memcium bibir tebal Hanbin di depannya.

"Kau. Berapa usiamu?"

"17 tahun."

"Sudah berapa lama kau berusia 17 tahun?"

"Cukup lama."

"That's it." Hanbin mendekatkan dirinya dan meletakkan tangan kanannya di sebelah kepala Jinhwan. "I know who you are. Specifically, what you are.", bisik Hanbin di telingan kanan Jinhwan.

"Say it, babe.", ucap Jinhwan sambil meletakkan kedua tangannya di bahu lebar milik Hanbin. "Katakan. Katakan dengan lantang."

"Vampire."

Dengan gerakan cepat, Jinhwan membalik keadaan. Kali ini, Hanbin yang bersandar di pohon. Kedua tangan Jinhwan masih ada di bahu Hanbin, mengunci jari-jarinya di belakang leher Hanbin.

Hanbin cukup terkejut dengan perubahan posisi yang tiba-tiba. Namun, ia lebih terkejut lagi saat merasakan dinginnya tangan Jinhwan di tengkuknya.

Jinhwan menatapnya.

"Kau sudah tau kebenarannya. Tidakkah kau ingin menanyakan hal yang paling mendasar bagi kaum kami?" Jinhwan mendekatkan dirinya, dan membisikkan sesuatu di telinga kiri Hanbin. "Apa yang kami makan?"

Kedua tangan Hanbin meraih pinggang ramping Jinhwan.

"Kau tidak akan melukaiku.", ucapnya.

"Try me.", balas Jinhwan menggoda.

"Try me too.", balas Hanbin sambil memasang smirk andalannya.

"Gorgeous, aku tahu kau masih ingin mengatakan sesuatu."

"Apa terlihat jelas?"

"Spit it or I'll leave.", ucap Jinhwan melepaskan rangkulannya dari tengkuk Hanbin.

"Okay, babe. Easy." Hanbin kembali membawa Jinhwan dalam dekapannya.

Jinhwan mem-pout-kan bibirnya. Astaga! Menggemaskan sekali~

Hanbin menarik napas dalam untuk kesekian kalinya. Membawa wajah Jinhwan dengan tangan kiri untuk menatapnya. Mereka saling menatap dalam diam cukup lama. Hanbin kembali membalikkan situasi. Jinhwan kembali bersandar pada pohon besar tadi dengan Hanbin yang semakin menghimpitnya.

"I love you.", ucap Hanbin sambil mengelus pipi kanan Jinhwan, tepatnya di heartshapped-molenya. "Aku menyukaimu. Tidak. Aku mencintaimu. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku langsung menyukaimu. Jinhwan, jadilah kekasihku."

Kemudian Hanbin menempelkan bibirnya pada bibir Jinhwan. Mengecup dalam bibir yang terasa dingin itu. Jinhwan mengalungkan kedua tangannya di tengkuk Hanbin, memperdalam ciuman tersebut saat dirasanya Hanbin menyesap bibir bawahnya. Hanbin semakin mengeratkan pegangannya di pinggang ramping Jinhwan. Menggerakkan bibirnya di atas bibir mungil Jinhwan. Bergantian menghisap bibir bawah dan bibir atasnya.

"Ahm." Jinhwan mendesah saat Hanbin menggigit bibir bawahnya. Desahannya tadi membuat mulutnya terbuka sedikit, dan kesempatan itu digunakan Hanbin untuk memasukkan lidahnya.

Ciuman ini, entah mengapa, sensasinya berbeda. Teman-teman Hanbin berkata jika French-kiss terasa panas, tapi Hanbin malah merasakan sebaliknya, dingin. Mulut Jinhwan dingin, lidah –yang bertarung dengan lidahnya, juga dingin. Meskipun begitu, Hanbin tetap merasakan tubuhnya memanas.

Mereka berada dalam posisi tersebut cukup lama. Bertarung siapa yang lebih dominan di antara keduanya. Dan Jinhwan menyerah saat ia merasakan tangan hangat Hanbin di dalam bajunya, mengusap lembut punggungnya.

Hanbin melepaskan tautan bibir mereka saat dirasa napasnya mulai menipis. Ia membersihkan saliva yang ada di sudut bibir Jinhwan dengan ibu jarinya. Hanbin tersenyum lembut pada Jinhwan.

"Why?", ucap Jinhwan. "Kenapa? Kenapa kau baru muncul sekarang? Kenapa tidak lebih awal?"

"Shhh… Tenanglah, Jinan. Aku tetap mencintaimu. Apa adanya dirimu." Hanbin membawa Jinhwan dalam dekapannya.

Jinhwan memeluk Hanbin lebih erat lagi. "Kau tahu? Aku menunggumu hampir 100 tahun.", ucap Jinhwan di ceruk leher Hanbin.

Hanbin terkejut. "Se.. Seratus tahun?" Hanbin menatap Jinhwan tak percaya. "Selama itu?"

"Uhm." Jinhwan mengangguk semangat.

"Astaga! Kekasihku adalah seorang kakek tua.", ledek Hanbin.

"Yah! Umurku mungkin sudah tua, tapi aku masih tampan, kan? Lagipula mana ada manusia yang bisa hidup sampai seratus tahun dengan wajah sepertiku."

"Tampan? Kau itu cantik, babe. Yang tampan itu aku."

"Iya, sayang. Kau tampan dan aku cantik.", ucap Jinhwan dengan nada sarkastik. "Puas?"

"Aish! Kenapa kau menggemaskan sekali~", ucap Hanbin sambil mencubit pipi Jinhwan.

"Lepaskan, Kim! Atau aku akan membunuhmu!"

"Kau tak akan berani, babe."

###

Hanbin baru saja keluar dari kamar mandi saat ia melihat Jinhwan sedang berada di atas kasurnya, laptopnya berada di atas pangkuan Jinhwan. Jinhwan menatap Hanbin yang bertelanjang dada dan hanya memakai sweatpants hitam. Mengangkat sedikit sudut kanan bibirnya.

'Uhh… Absnya benar-benar menggoda~', pikir Jinhwan.

"Apa yang sedang kau lakukan?", tanya Hanbin setelah memasang kaos polos berwarna hitam ditubuhnya. Mendudukkan dirinya di samping Jinhwan dan meraih Jinhwan dalam dekapannya dengan tangan kanan.

"Nope. Hanya saja, aku baru tau kalau kau seorang komposer.", ucap Jinhwan sambil menyenderkan tubuhnya di dada Hanbin.

"Hanya hobby, babe. Nothing special about that."

"But this is pretty good. Kau harus menjualnya pada sebuah label. Ini bisa menghasilkan uang tahu."

"Aku melakukannya hanya untuk kesenangan. Hanya untuk menghibur diri saat tidak tahu apa yang mau aku lakukan. Aku tidak mau kalau nantinya mereka mengejar-ngejar aku untuk sebuah lagu baru.", jelas Hanbin sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Jinhwan. Mengecup sekilas permukaan kulit di sana.

"Alright. Alright. I got it." Jinhwan melepaskan dirinya dari kungkungan Hanbin. Turun dari kasur lalu meletakkan laptop Hanbin di meja belajarnya. Hanbin terus menatap gerak-gerik Jinhwan.

"Kau mungkin bisa membunuhku dengan tatapanmu itu.", canda Jinhwan. Lalu kembali melangkah mendekati Hanbin. Mengulurkan kedua tangannya.

Dengan senang hati, Hanbin menyambut kedua tangan itu, menjalin jari-jari mereka dan kembali membawa Jinhwan dalam dekapannya. Kali ini posisi mereka berbaring di atas kasur.

Jinhwan meletakkan kepalanya di bahu kanan Hanbin, tangan kanannya menyentuh dada kiri Hanbin lembut. Menikmati detakan jantung Hanbin yang begitu terasa di bawah telapakannya. Untuk sesaat, Jinhwan memejamkan matanya.

"Apa kau mengantuk?", tanya Hanbin sambil mengelus rambut lembut Jinhwan dengan tangan kanannya. Ia mengecup puncak kepala Jinhwan. Jinhwan tersenyum.

"Aku tidak tidur." Ucapan Jinhwan mendapat tatapan bingung dari Hanbin. "Vampire tidak tidur, Bin. Kami tidak seperti manusia yang membutuhkan hal semacam itu."

"Ooh… Tapi, mengapa sekitar matamu tidak menghitam? Kau tahu, uhm… panda eyes?"

"Nope, babe. Aku juga tidak tahu mengapa."

Mereka terdiam cukup lama. Hanya menikmati suasana intim berdua.

Entah siapa yang memulai, kedua bibir milik Hanbin dan Jinhwan kembali terjalin. Hanbin mendaratkan kecupan-kecupan ringan di atas bibir Jinhwan, tak ada niat untuk memperdalam ciuman tersebut. Sampai akhirnya, ia merasakan kedua tangan dingin Jinhwan di dadanya. Hanbin kemudain membalik posisi di mana sekarang ia berada di atas tubuh mungil Jinhwan dan memulai ciuman yang lebih dalam.

Menghisap bergantian bibir atas dan bibir bawah Jinhwan, Hanbin merasakan telapak tangan dingin Jinhwan di bahunya. Hanbin menjilat permukaan bibir Jinhwan –meminta izin untuk masuk, dan dengan senang hati, Jinhwan membuka mulutnya.

Lidah mereka bertarung untuk menentukan siapa yang mendominasi. Pertarungan lidah mereka cukup ketat. Hanbin yang merasa dominan, dan Jinhwan yang merasa kalau ia lebih kuat dari Hanbin. Mereka saling menghisap dan membelit, bergantian dalam mulut Hanbin maupun dalam mulut Jinhwan. Sampai akhirnya Jinhwan menarik kuat rambut Hanbin, di situlah Hanbin menemukan kemenangannya.

Hanbin mengeksplorasi mulut dingin Jinhwan dengan lidah panjangnya. Mengabsen setiap gigi rapi Jinhwan dan menjilat langit-langit mulut Jinhwan.

"Ahh…" Jinhwan mendesah saat Hanbin mulai mengusap lembut pinggangnya.

Saat Hanbin meraih ujung kaos yang dikenakan Jinhwan –berniat membukanya, dengan kecepatan kilat, Jinhwan langsung melepaskan dirinya dari dekapan Hanbin.

Hanbin yang terkejut menatap Jinhwan tidak percaya.

"Percayalah, Bin.", ucap Jinhwan lirih. "Percayalah jika aku juga menginginkannya."

"Lalu, mengapa kau melepaskan diri?"

"Aku belum siap. Kau tidak tahu betapa kuatnya kami. Mungkin aku tidak akan membunuhmu, tapi aku tidak berani menjamin jika tulang-tulangmu akan baik-baik saja."

Hanbin menghela napasnya kasar. "Baiklah. Aku akan menunggu. Sekarang, kemari." Hanbin mengulutkan tangan kirinya yang disambut dengan ragu-ragu oleh Jinhwan.

Sesaat setelah tangan Jinhwan berada dalam jangkauannya, Hanbin langsung menarik Jinhwan dalam dekapannya. Merebahkan dirinya di atas kasur bersama Jinhwan di sisi kirinya. Jinhwan menatapnya bingung. Hanbin tersenyum.

"Stay. Stay like this.", ucap Hanbin lembut. "Setidaknya sampai aku tertidur."

Jinhwan mengangguk. Kemudian Hanbin mulai mendengar suara lembut Jinhwan yang menggumamkan nada acak –yang anehnya terdengar indah, sambil mengusap wajahnya.

Lullaby. Hanbin tidak pernah merasakan jika lullaby bisa seindah ini.

###

Hari ini hari minggu. Tepat lima hari setelah kejadian Jinhwan menginap di kamarnya. Meskipun faktanya, Jinhwan menginap tanpa diketahui Daesung –Jinhwan selalu masuk dan keluar menggunakan jendela di kamarnya. Kemarin, mereka hampir saja ketahuan jika saja Jinhwan tidak bisa membaca pikiran Daesung yang sedang berjalan menuju kamar Hanbin. Dan Hanbin tersenyum mengingat kejadian tersebut.

"Kau mulai gila, tuan Kim?" Ucapan Jinhwan di telingan kirinya mengagetkan Hanbin yang sedang mencuci motornya.

Astaga! Hanbin belum terbiasa dengan Jinhwan yang muncul secara tiba-tiba.

"Kau yang gila! Bagaimana jika aku terkena serangan jantung, ha?", ucapnya kesal.

Cup! Jinhwan mengecup pipi kiri Hanbin.

"I'm sorry, babe.", ucap Jinhwan lucu sambil menggoyangkan badannya.

"Aku menerima permintaan maafmu jika kau mencium bibirku."

"Pervert."

"But you love this pervert."

"Yes. I love this pervert so much." Lalu Jinhwan mengalungkan tangannya di leher Hanbin dan mengecup sekilas bibir tebal dihadapannya.

"Oh iya. Kau mau berkunjung ke rumahku?", tanya Jinhwan setelah melepaskan tangannya dari leher Hanbin.

Hanbin terkejut. Berkunjung? Ke rumah Jinhwan?

"Berkunjung?"

"He-um." Jinhwan menganggukkan kepalanya semangat. "Bertemu dengan Ayah dan Daddy, serta saudara-saudaraku. Saat mereka tahu kalau kau memacari seorang manusia, mereka penasaran seperti apa kau ini."

"Uhmm… Kau serius?", tanya Hanbin sangsi. "Kau akan membawaku ke tempat yang dihuni sekelompok vampire."

"Kau takut?" Hanbin mengangguk pelan –pelan sekali. Jinhwan kembali mengalungkan tangannya di leher Hanbin, lalu mengelus tengkuk Hanbin lembut. "Don't worry, babe. Aku akan menjagamu. Aku tidak akan segan-segan melukai keluargaku sendiri jika mereka melukaimu." Jinhwan tersenyum.

Hanbin mengangguk lalu balas tersenyum.

Hanbin baru saja akan memulai ciuman panas-dingin dengan Jinhwan saat ia mendengar benda terjatuh cukup keras.

Mereka mengalihkan pandangan ke asal suara yang mengganggu tersebut. Dan setelah mereka melihat siapa yang mengganggu mereka, Hanbin dan Jinhwan menghasilkan dua ekspresi berbeda.

Hanbin tersenyum menatap si pengganggu, dan Jinhwan terkejut setengah mati.

Saat Hanbin membuka suaranya untuk menyapa si pengganggu, ia merasakan Jinhwan menarik lembut ujung kaos hijau tuanya. Hanbin mengalihkan pandangannya pada Jinhwan yang berdiri kaku, wajahnya lebih pucat dari biasanya. Dan sesaat kemudian, Hanbin melihat Jinhwan menggertakkan rahangnya keras dan menatap tajam si pengganggu.

"Hai, Hanbin.", sapa si pengganggu setelah membereskan bukunya dan kembali menentengnya mendekati Hanbin dan Jinhwan. Ia tersenyum ke arah dua pemuda tersebut.

"Hai, Junhoe." Hanbin balas tersenyum. Dan ia merasakan Jinhwan menggenggam erat tangannya sambil terus menatap tajam Junhoe.

Sebenarnya dia kenapa?

Ada apa ini?

.

.

.

To be continue~

A/N

Hayoo~ 3rd chapter keutnasseo~!

Maaf kalo banyak typo. Aku udah check bolak-balik, tapi tetep maaf kalo masih ada typo.

Eotteyo? Ada yang bisa nebak kenapa Jinan takut sama June? Pasti banyak.

Tapi rahasia June bakal kebongkar sm Hanbin di 2 chap berikutnya (re: chap 5).

Aku tau kalo di atas sana banyak banget pairingnya, tapi aku nyadar kalo ini BinHwan centric, lebih tepatnya Hanbin centric! Jadi ceritanya bakalan fokus dari sisinya Hanbin. (cem Harry Potter kalo kalian udh pernah baca novelnya.) Meskipun nantinya bakalan ada secuil momentnya mereka dari sisinya Hanbin, tapi tetep aja.. Aku ngerasa ngga enak udah tag banyak banget pairing taunya...

Karena hal tersebut, aku berniat buat bikin side storynya fict ini. Rencananya mau dikasih judul "How We Made Up". Isinya tentang oneshoot/twoshoot yang menceritakan perjalanan cinta masing-masing couple sampe mereka jadian. Eotte? Ada yang setuju?

Oh iya!

HAPPY BIRTHDAY BUAT MR. HUGEBOY, M-I-NO!

Makasi udah sayang sama Jinu. Makasi udah jagain Jinu dan bikin Jinu ketawa. Tetep jagain Jinu, jadi MINO yang disayang sama INCLEs, stay humble, sehat selalu, panjang umur sampe nikah sama Jinu. Makasi udah bikin motivasi dengan lagu FEAR-mu.! #FearlessMinoIs24

HAPPY BIRTHDAY BUAT BANG TWINS (BANGYONGGUK & BANGYOUNGNAM)!

Buat BABYs beloved leader, BYG-ssi. Makasi buat semua lagu-lagu yang udah kamu ciptain. Semuanya ngena banget di hati. Mr. Jepp Blackman who have tiger face but a kitten heart. Your're the true definition of ANGEL! Tolong jagain member B.A.P yang lain. Jaga kesehatanmu juga. Pokoknya tetep jadi leader yang memimpin B.A.P ke jalan yang baik. LOVE YOU LEADER-NIM! #HappyBANGsterDay

HAPPY BIRTHDAY BUAT KIM SASSY BITCHY JUNHOE!

Makasi udah jagain Jinan selama Hanbin lagi selingkuh sama yang lain. Makasi udah sayang sama Jinan meskipun kamu tau kalo Jinan punyanya Hanbin. Pokoknya semoga bahagia selalu, panjang umur sampe nanti Hanbyul gede.! #iKONSexyJuneDay

TERAKHIR!

Review juseyoo~ #pyongg