Tittle: Vampire Who I Love

Subtitle: Dislike & Dear

Genre: VampireAU!, Shape-shifterAU!, Romance, Supernatural, Fantasy, Thriller

Cast(s): All YG Family Artists also possibility of other artists from another label.

Main pairing: BinHwan

Other pairing(s): SongKim, JunByul, BobChan, YunDong, GTOP, possibility of KangNam in the end.

Rated: M/?

Warn!: It's shounen-ai/ boyslove/ yaoi/ or anything you called, also straight! for some characters, plot suck!, possibility of long chapter, death chara, typo(s), etc. DON'T LIKE? DON'T READ!

Disclaimer: The story is MINE, I just lend the characters name. They're belongs to themselves, God and YGEntertainment. DO NOT PLAGIARIZE OR I'LL KILL YOU!

Summary: Seperti bunga mawar merah yang indah dan semerbak harumnya, kau juga memiliki duri tersendiri. Kau memang melukaiku, tetapi aku tetap terpesona dengan keindahanmu dan ingin menjadikanmu sebagai milikku. Meskipun nyawaku taruhannya, aku ingin melindungimu dengan tanganku sendiri. BinHwan, SongKim, JunByul, BobChan, YunDong, GTOP and possibility of KangNam in the end. DON'T LIKE? DON'T READ!

A/N

Heyyo!

Keu keu keu~ Mian for the long waiting.. :3 (Mian mian jikyeojuji mothae mianhae... -selipin suara June)

Inilah resikonya kalo nulis chaptered.. Mood swingku juga memperparah keadaan.

Anyway, gumau sama yang masih nungguin. Wakakk..

Didaaa~ ini lanjutannya yak..

Mian juga kalo sucks. (-/\-)

Enjoy reading!

.

.

.

Ketiga pemuda itu saling terdiam. Hanbin bingung terhadap sikap Jinhwan dan Junhoe yang saling menatap tajam. Hanbin juga sempat mendengar Jinhwan menggertakkan gigi di sampingnya. Junhoe juga menggenggam buku di tangannya dengan erat, seperti sedang menahan emosi. Lalu beberapa saat kemudian, Hanbin melihat senyum sinis di bibir Jinhwan.

'Sebenarnya ada apa ini?', pikir Hanbin.

"Babe, won't you introduce me to your friend?" Jinhwan bertanya pada Hanbin sambil menekankan kata terakhirnya.

"Uhh.. Yeah~" Hanbin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Astaga! Atmosfir antara Jinhwan dan Junhoe membuat Hanbin gugup. "Jinan-hyung, ini Junhoe. Junhoe, ini Jinan-hyung."

"Gu Junhoe. Tetangga Hanbin.", ucap Junhoe sambil mengulurkan tangannya.

"Kim Jinhwan. Kekasih Hanbin." Jinhwan menjabat tangan Junhoe dan tersenyum melihat ekspresi mengeras pemuda di depannya.

Hanbin semakin merasakan suasana di sekitarnya menghitam. Entahlah, ia merinding melihat Jinhwan tersenyum mengerikan seakan ingin menghisap seluruh darah Junhoe.

"Senang bertemu denganmu, Jinhwan-ssi.", ucap Junhoe. Menarik kembali tangannya dari genggaman makhluk dingin di hadapannya.

"Aku juga.", ucap Jinhwan. Mengalihkan pandangannya pada Hanbin dan tersenyum manis sampai matanya membentuk bulan sabit.

"Aku pulang dulu, babe." Jinhwan mengalungkan kedua lengannya di leher Hanbin. Secara refleks, Hanbin melingkarkan tangan kirinya di pinggang Jinhwan.

"Ehh… Kenapa cepat sekali? Kau bahkan belum masuk ke rumahku." Hanbin heran. Jinhwan tidak seperti ini biasanya.

Junhoe masih berdiri dengan diam. Memperhatikan Jinhwan dengan tatapan tajamnya.

"Aku lupa ada yang harus aku kerjakan. Kalau kau mau berkunjung, besok malam aku jemput."

"Arasseo."

Hanbin mengecup sekilas bibir Jinhwan sebelum sang vampire berjalan menuju BMW M4 putihnya yang terparkir di pinggir jalan depan rumah Hanbin. Hanbin tersenyum saat Jinhwan melambaikan tangannya dari kursi kemudi.

"Hanbin. Aku ingin kau menjauhi Jinhwan. Jangan berhubungan lagi dengannya." Adalah apa yang diucapkan Junhoe sebelum berbalik menuju rumahnya. Meninggalkan Hanbin sendiri dengan beribu tanya di kepalanya.

"Hei, Jun!"

BLAMM

Belum sempat Hanbin bertanya, Junhoe sudah menutup pintu rumahnya.

'Ada apa dengan anak itu? Mengapa dia menyuruhku menjauhi Jinhwan? Apa dia mengetahui siapa Jinhwan sebenarnya?'

"Sebenarnya Junhoe itu siapa?"

###

Esoknya, Hanbin baru saja keluar dari pintu rumahnya saat mendapati Jinhwan sedang berdiri dengan anggun di samping motornya, ia tersenyum melihat kedatangan Hanbin.

Sang vampire mengenakan t-shirt biru muda dan jeans putih gading. Kaki mungilnya dibalut sneakers hitam yang kontras dengan tas punggungnya. Surai coklat-kekuningannya ditata ke samping kanan, membuat Hanbin melihat kedua amber milik Jinhwan dengan jelas.

"Morning, babe.", sapa Jinhwan pada Hanbin.

"Pagi juga.", ucap Hanbin. Mengecup sekilas pipi Jinhwan. "Apa yang membuatmu kemari pagi-pagi seperti ini, hyung?"

"Nothin'. Ayo berangkat bersama."

Hanbin terkejut. "Apa?! Kau mau berangkat bersamaku? Yang benar saja. Jangan bercanda, Jin."

"Aniyoo~ Aku ingin berangkat bersama. Kajjaa~" Jinhwan merengek sambil memberikan Hanbin puppy eyes-nya.

Ughh.. Manis sekali~ Apa benar ia ini seorang vampire?

"Aigoo~ Kau melakukan aegyo? Kiyeowoo~", ucap Hanbin sambil mencubit pipi Jinhwan gemas.

"Aish! Ayo cepat. Nanti terlambat. Hayaku hayaku~", ucap Jinhwan sambil menghentakkan kakinya. Astaga! Ini pertama kalinya ia bertingkah seperti ini. Cinta benar-benar bisa merubah kepribadian seseorang. Ckck..

"Aigoo~ Arasseo arasseo.." Hanbin gemas melihat Jinhwan yang bertingkah seperti adiknya.

Hanbin menaiki motornya dan menyalakan mesinnya. Memakai helm full-face hitamnya dan Jinhwan memakai helm putih milik Daesung. Hanbin membuat note di benaknya untuk membeli helm lain jika Jinhwan akan terus berangkat bersamanya seperti ini.

"Kajja!" Jinhwan berseru senang. Memeluk pinggang Hanbin erat.

Mereka meninggalkan pekarangan rumah Daesung tanpa tahu Junhoe yang memandang tajam mereka dari jendela kamarnya. Giginya bergemeletuk dan kedua tangannya mengepal erat. Semenit kemudian, Junhoe keluar dari rumahnya dan mengayuh sepedanya menuju HighGround.

###

Sesampainya di Seoulite, semua siswa yang ada di area parkir memandangi Hanbin dan Jinhwan yang baru saja turun dari motornya.

Ini merupakan kejadian langka. Di mana seorang yang sangat pendiam dan misterius seperti Jinhwan berangkat bersama dengan seseorang yang bukan dari keluarganya. Bahkan saudara-saudara Jinhwan sendiri terkejut melihat Jinhwan bersama Hanbin.

How come?! Dia bahkan menaiki motor bersama sang manusia?

"Jadi ini alasan Jinny tidak mau berangkat bersamaku.", ucap Jinwoo sambil mem-pout-kan bibir plumpnya. Ia bersama dengan Bobby dan Mino sedang berdiri di samping mobil mereka di pojok area parkir.

"These make no sense!" Bobby berjalan menjauhi area parkir dengan kesal.

"What happen with that guy?", tanya Jinwoo pada Mino.

"He's jealous, babe. Kajja. Kita masuk kelas. Kita tanyakan soal ini pada Jinhwan nanti.", ucap Mino sambil merangkul Jinwoo. Membawanya menuju kelas mereka.

"Uhmm… Okey dokey." Jinwoo tersenyum lebar pada sang terkasih. Mino balas tersenyum.

Sementara itu, Jinhwan berjalan menjauhi area parkir sambil menggandeng tangan Hanbin. Ditambah ia tersenyum hingga kedua matanya membentuk bulan sabit, membuat siapapun ingin berada di posisi Hanbin.

Hanbin sendiri sebenarnya merasa malu menjadi pusat perhatian seperti ini. Apa lagi tadi ia sempat melihat Bobby pergi dengan ekspresi tidak senangnya. Ia takut jika Bobby tidak menyukainya bersama Jinhwan lalu membunuhnya. Astaga!

"Jinan, ini berlebihan.", bisik Hanbin.

"Aniyoo~ Aku sangat senang. Apa kau tidak suka melihat aku senang, huh?"

"Tidak! Bukan begitu.", sangkal Hanbin. "Hanya saja…"

"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan." Jinhwan meraih tangan Hanbin dan meletakkan lengan kekar itu melingkari bahunya. "You're mine. I'm yours. Aku melakukan ini supaya mereka tahu sampai mana batas mereka bisa mendekatimu."

Hanbin mengeratkan lengannya yang ada di bahu Jinhwan, lalu mengecup puncak kepala sang vampire. "Possessive."

Jinhwan hanya terkikik mendengar perkataan Hanbin. "Only for you."

"Yeah. Make sure of that."

Skip time. Lunch time.

Yunhyeong, Donghyuk dan Chanwoo sedang duduk bersama di kantin. Mereka sedang menikmati makan siang mereka. Saat sedang serius mendiskusikan suatu permasalahan yang dihadapi Chanwoo, Hanbin dan Jinhwan menghampiri mereka. Jinhwan dengan santainya duduk di hapadan Chanwoo.

Yunhyeong dan Donghyuk menatap Hanbin dengan bingung. Sedangkan Hanbin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian duduk disamping Jinhwan.

Di sisi lain ruangan, Jinwoo dan Mino menatap Jinhwan heran. Sedangkan Bobby merasa semakin kesal terhadap apa yang dilakukan Jinhwan.

'Seriously, Jin? Haruskah kau melakukan itu?', pikir Bobby. Jinhwan yang bisa membaca pikiran, mendongak dan tersenyum pada saudaranya. Seakan berkata, 'I'm deadly serious. What's the matter?'

'Fuck.' Jinhwan menyeringai mendengar balasan dari Bobby.

"Jadi… Rumor yang beredar jika kalian bersama itu… Benar?" Donghyuk membuka percakapan tanpa basa-basi.

"How do you think?" Jinhwan jelas sedang menggoda Donghyuk.

"It is.", jawabnya sambil menundukkan kepala. Donghyuk merasa kalau Jinhwan memiliki aura mistis dalam dirinya.

"Then, bagaimana kau dengan Jiwon?" Jinhwan bertanya langsung pada Chanwoo. Di ujung sana, Bobby mengutuk Jinhwan dalam pikirannya keras-keras. Jinhwan hanya tersenyum sinis.

"Uhh… Apa maksudnya, sunbae? Aku tidak mengerti." Chanwoo menjawab dengan pipi yang memerah.

"Ayolah.. Katakan saja. Your friends are curious as well." Jinhwan semakin memojokkan Chanwoo. Yunhyeong, Donghyuk dan Hanbin menatap mereka dengan heran dan perasaan ingin tahu.

Belum sempat Chanwoo menjawab, Bobby sudah meraih tangannya dan membawa Chanwoo keluar dari kantin. Bobby benar-benar kesal terhadap perlakuan Jinhwan. Dan Chanwoo hanya bisa mengikuti dengan patuh, meskipun ia sedikit tertatih karena Bobby yang melangkah begitu cepat. Semua orang yang ada di kantin tersebut menatap mereka heran.

"That's it!" Jinhwan berkata.

"Apa itu?", tanya Hanbin.

"Nanti saja. Saat makan malam di tempatku nanti, kau akan tahu."

Hanbin menatap Jinhwan bingung. Yunhyeong dan Donghyuk hanya saling melempar pandangan bertanya.

.

"Huh? Apa yang baru saja terjadi?" Jinwoo bertanya pada Mino.

"Jiwon baru saja menarik manusia itu keluar. Mungkin Jinhwan tahu sesuatu dan menggodanya habis-habisan hingga Jiwon tidak bisa menahan emosinya lagi.", jawab Mino.

"Not only Jinny, babe.", ucap Jinwoo lalu meraba tempat di mana tadi Bobby meletakkan tangannya. "Hihihi… I got something." Jinwoo menatap Mino dengan mata yang berbinar. Mino hanya tersenyum lalu mengusap kepala Jinwoo dengan sayang.

###

Hanbin sedang bercermin di kamarnya saat bell rumahnya berbunyi.

'Jinhwan sudah di sini.', pikirnya.

Hanbin merapikan lagi pakaiannya. Untuk malam ini ia mengenakan kemeja putih, sweater hitam, long coat hitam dan jeans biru tua. Rambut hitam legamnya distyle back up. Menyemprotkan parfum sebagai sentuhan terakhir, Hanbin meraih ponsel dan dompetnya lalu melangkah keluar kamar.

Saat sampai di lantai bawah, Hanbin melihat Jinhwan sedang berbasa-basi dengan pamannya. Sang vampire memakai t-shirt putih, kemeja hitam dan jeans hitam. Rambutnya yang lembut itu dibiarkan menutupi sebagian mata. Meskipun begitu, Hanbin bisa melihat kedua mata itu membentuk bulan sabit saat tersenyum melihat kedatangannya.

"Hey, gorgeous.", sapa Jinhwan.

"Malam, hyung." Hanbin tersenyum.

"Aigoo~ Kau benar-benar akan meninggalkan pamanmu yang kesepian ini, Bin?" Daesung bertanya sambil memasang wajah sedih yang dibuat-buat.

"Jangan berlebihan, paman.", ucap Hanbin. "Ini hanya makan malam. Aku tetap akan pulang kok."

"Well, siapa tahu ada sesuatu," Daesung menggerakkan jarinya membentuk tanda kutip. "yang terjadi, sehingga kau enggan untuk pulang sampai pagi menjelang."

Hanbin merona. Dan seandainya Jinhwan masih memiliki aliran darah, ia tentu akan mengalami hal yang sama.

"Aish! Sudahlah, paman. Aku pergi dulu." Hanbin meraih tangan kanan Jinhwan. "C'mon, Jin."

Jinhwan mengangguk. "Kami pergi dulu, paman."

Dan sepasang manusia dan vampire itupun melangkah menuju BMW M4 milik Jinhwan yang terparkir cantik di halaman rumah Daesung.

"Hey, kid!" Hanbin menoleh saat di panggil Daesung. "Bawa ini." Daesung melemparkan kunci cadangan rumahnya pada Hanbin. "Unless, aku tertidur dan tidak mendengar kau pulang."

"Arasseo. Sampai nanti, paman.", ucap Hanbin.

Hanbin baru saja akan membuka pintu penumpang saat tangan dingin Jinhwan meraih tangan kanannya dan meletakkan sesuatu di telapak tangan Hanbin.

"You drive. Akan kutunjukkan jalannya." Jinhwan mengecup pipi kanan Hanbin.

"Are you serious?" Jinhwan mengangguk. "Okay then."

Hanbin membukakan pintu penumpang untuk Jinhwan, setelah itu, ia baru berjalan memutar menuju pintu kursi kemudi.

Setelah menyalakan mobil, mereka berkendara dengan santai menuju kediaman keluarga Jinhwan.

#

"Belok ke sana. Ikuti jalannya. Setelah itu, barulah kita sampai di rumahku.", ucap Jinhwan memberikan petunjuk pada Hanbin.

Hanbin membelokkan mobil itu ke kiri, menuju sebuah gang yang membawa mereka jauh ke dalam hutan.

Sepanjang jalan yang mereka lalui cukup gelap, mengingat hari sudah menjelang malam. Hanbin merasakan rambut di lehernya meremang. Astaga! Horror sekali.

Setelah kurang-lebih 10 menit berkendara menyusuri hutan tersebut, Hanbin melihat bangunan nan megah berdiri dengan kokoh di atas bukit kecil di tengah hutan.

"Kami butuh bersembunyi agar orang-orang tidak mencurigai siapa kami sebenarnya.", ucap Jinhwan pada Hanbin saat membawa sang manusia menuju pintu depan rumahnya.

Kediaman Jinhwan bisa dibilang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Desain eksterior maupun interiornya tidak terlalu mewah juga tidak terlalu sederhana.

Beberapa dindingnya terbuat dari kaca. ("Cukup tebal dan anti peluru." Jinhwan berkata padanya siang tadi saat mengantar Hanbin pulang.) Warna dinding yang lain pun cukup elegan. Putih, coklat, hitam dan beberapa warna-warni ornamen yang menghiasi dinding ruangan.

"Kajja. Kita masuk." Jinhwan membawa Hanbin memasuki rumahnya.

Betapa gugupnya Hanbin saat ia melihat keluarga Jinhwan sedang menunggunya di balik pintu.

Jinwoo dan Mino berdiri paling belakang di dekat sofa. Mereka mengenakan t-shirt bergaris putih-biru dan putih-pink –couple. Jinwoo melambaikan tangannya dan tersenyum manis pada Hanbin. Mino hanya tersenyum sekilas, itupun jika Hanbin bisa melihatnya.

Hanbin balas tersenyum pada mereka.

Bobby berdiri di anak tangga terakhir di samping ruangan. Tangannya diletakkan di dalam saku. Ia mengenakan t-shirt hitam, kemeja kotak-kotak hitam dan celana hip-hop hitam. Bobby memasang wajah tidak sukanya pada Hanbin.

Kemudian, yang berdiri paling dekat dengan Hanbin adalah kedua ayah Jinhwan.

Tuan Choi –begitu Donghyuk memanggilnya, berperawakan tinggi, berwajah tampan dan tegas, rambutnya yang disisir rapi itu berwarna platina. Jelas sekali beliau merupakan tangan dingin dalam bidang kedokteran. Beliau mengenakan sweater abu-abu sederhana dan trouser coklat, ia tersenyum ramah pada Hanbin. Ayah Jinhwan yang lain bertubuh cukup pendek. Rambutnya berwarna coklat, berwajah sangat cantik dan menawan. Mengenakan t-shirt merah dan celana pendek putih, ayah Jinhwan yang satu ini terlihat mempesona. Ia tersenyum dengan tulus pada Hanbin.

"Appa, Daddy. Ini Kim Hanbin. Manusia yang kuceritakan pada kalian." Jinhwan memperkenalkan Hanbin pada orang tuanya. "Dia kekasihku." Hanbin bisa mendengar Bobby yang berdecak sebal.

Jinhwan dan yang lainnya terlihat tidak memperdulikan perlakuan kurang sopan yang dilakukan Bobby. Malah ia melihat Jinwoo memutar bola matanya malas.

"Bin-ah, Appa dan Daddyku. Choi Seunghyun dan Kwon Jiyong. Kau pasti sudah mengenal dengan tiga orang dibelakang mereka. Jinu-hyung, Mino-hyung dan Bobby."

Hanbin membungkukkan badannya hormat. "Salam kenal, tuan Choi dan tuan Kwon."

"Aigoo~ Jangan terlalu formal begitu." Jiyong berusaha mencairkan suasana. "Kajja, kita ke meja makan."

"Aku tidak menjamin rasanya akan sangat enak. Sudah berpuluh-puluh tahun aku tidak pernah memasak. Peralatan di jaman ini juga berbeda pada jamanku dulu. Jadii…"

"Tidak apa-apa, Jiyong-ssi. Aku bukan orang yang terlalu pilih-pilih makanan, kok."

"Cih. Cari muka." Itu suara Bobby. Sedari tadi, Bobby terus menggerutu dan berkata yang tidak-tidak tentang Hanbin dalam pikirannya. Andai saja Bobby bukan saudaranya, sudah pasti Jinhwan akan memenggal kepalanya.

Sayangnya, kali ini Jinhwan sudah tidak bisa menahan emosinya.

"Masalahmu apa, Kim Jiwon?", tanyanya pada Bobby yang sedang bersandar di pintu dapur.

"Masalahku? Masalahku adalah kau membawa manusia ini bersamamu." Bobby berdiri tegak dengan kedua kakinya. "Mungkin dia memang kekasihmu, tapi bagaimana jika nanti dia membongkar semua rahasia kita pada manusia yang lainnya? Kau mau kita terekspos pada dunia?"

"Aku tidak akan melakukan itu, Bobby-ssi." Hanbin mencoba membela diri.

"Nah! Kau bisa mengatakan itu sekarang. Tapi besok?" Bobby semakin menjadi.

"Katakan itu pada dirimu sendiri, Jiwon!" Jinhwan berdiri dari duduknya.

"Maksudmu?"

"Kau juga memiliki manusia. Kau juga menyukai manusia dan manusia itu menyukaimu!"

"Siapa yang kau maksud?!" Bobby mulai panik.

"Jung. Chan. Woo." Hanbin merinding mendengar Jinhwan mengucapkan nama Chanwoo dengan nada menyeramkan seperti itu.

Appa dan Daddy Jinhwan terkejut mendengar apa yang dikatakan putranya. Sedangkan Jinwoo dan Mino tersenyum misterius pada satu sama lain.

"Are you stupid?!" Bobby menyangkal. "Aku tidak benar-benar menyukainya. Mungkin suatu saat nanti aku akan menjadikannya santapanku. Tidak seperti kau yang mencoba untuk memelihara manusia ini!"

Memelihara? Sial! Memangnya Hanbin binatang?

"Cukup, Jiwon!" Seunghyun menggertak putranya.

Bobby memandang semua orang di sana dengan tatapan marahnya.

"Terserah! Jangan salahkan aku jika anak ini mengacau. Aku sudah memperingatkan kalian!" Bobby berkata dengan lantang lalu meninggalkan ruangan tersebut.

"I'll catch him.", ucap Jinwoo. Lalu menyusul Bobby.

"Aku akan ke atas." Giliran Mino yang meninggalkan ruangan.

"Maaf atas ketidaknyamanan ini.", ucap Jiyong.

"Aniya. Justru aku yang seharusnya minta maaf. Akulah penyebab kekacauan ini." Hanbin berkata. Huh.. Nafsu makannya menghilang seketika.

"Bukan salahmu, Bin. Jiwon memang terlalu sensitif. Dia tidak pernah berubah.", ucap Jinhwan.

"Nah, kalau begitu, kami akan meninggalkan kalian berdua di sini." Seunghyun merangkul bahu Jiyong.

"Pastikan kau menghabiskan salad dan nasi gorengnya.", ucap Jiyong sebelum menghilang dari balik pintu. Meninggalkan Hanbin dan Jinhwan dalam suasana canggung.

Karena secara tidak langsung ia telah dipaksa Jiyong, mau tidak mau Hanbin kembali memakan masakan yang ada di hadapannya.

#

"Jiwon-ah.", panggil Jinwoo. Ia mengikuti adiknya menuju teras belakang rumah yang menghadap langsung pada hutan yang gelap.

"Apa, hyung?"

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mengapa kau sampai kehilangan kontrol emosimu?" Jinwoo mengusap lembut pundak Bobby.

"Kau tahu, hyung. Cemburu dan sejenisnya.", jawab Bobby lemah. Jinwoo tersenyum maklum.

"Jiwon-ah, apa kau menyayangi Jinny?" Jinwoo bertanya, Bobby mengangguk.

"Apa kau pernah melihat kehidupannya sebelum ia menjadi vampire?" Bobby menggeleng.

"Well, aku pernah. Kau tahu kalau aku hyung kandungnya, kan?" Bobby hanya mengangguk. Masih enggan membuka suaranya. "Jinny seharusnya adalah anak yang ceria, mudah tersenyum, penyayang dan sangat menggemaskan.

"Tetapi, semenjak Appa mengubah kami menjadi vampire, Jinny berubah. Ia jadi pendiam, penyendiri, dan jadi tidak menggemaskan lagi." Jinwoo mem-pout-kan bibirnya. Bobby tersenyum melihat hyungnya bertingkah lucu. "Aku merindukannya. Aku merindukan Jinnyku yang dulu. Jinny yang penuh semangat dan cinta dalam hidupnya.

"Sayangnya, hal itu sangat sulit diwujudkan. Bahkan aku harus menunggu hingga seratus tahun." Bobby tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Beberapa minggu lalu, Hanbin yang ini datang dan mengubah Jinhwan menjadi Jinnyku lagi."

'That's it!' Bobby berdecak dalam hati.

"Aku ingin kau mencoba untuk menerima Hanbin. Bukan hanya untuk kebahagiaan Jinny, tapi juga untuk kebahagiaanku. Jika aku bahagia, Mino pasti juga bahagia. Semuanya akan lebih mudah bagi Mino."

Bobby terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Jinwoo. Semua akan lebih mudah jika Mino bahagia.

"Arasseo, hyung." Bobby mengeluarkan napasnya kasar. "I'll try."

"That's my dongsaeng!" Jinwoo membawa Bobby dalam pelukannya.

Dari dinding kaca di kanan atas mereka, Mino tersenyum penuh arti.

"Gomawo, Jinu-hyung.", gumamnya.

#

Hening beberapa saat. Jinhwan yang sedari tadi hanya menatapi Hanbin yang sedang makan membuka suaranya.

"Jiwon used to be my soulmate.", ucapnya. Hanbin yang kaget, tersedak nasi yang baru saja disuapkannya.

"You're cute~" Jinhwan mencubit lembut ujung hidung Hanbin.

"Apa yang kau maksud dengan kata 'seharusnya', hyung?" Hanbin bertanya setelah berhasil meredakan batuknya.

"Seperti Mino-hyung dan Jinu-hyung, Appa membawa Jiwon dengan tujuan agar dia bisa menjadi pasanganku. Well, long-short story, aku menolaknya. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Jiwon. Aku hanya tidak menyukainya. Sombong, arogan, possessive, pencemburu, dan beberapa sifat buruk lainnya yang tidak aku sukai." Jinhwan menjelaskan.

"Tapi kemudian, aku mulai menerimanya sebagai saudara. Ia juga teman berburu yang handal. Kami juga sering berlatih bersama. Setelah itu, hubungan kami hanya sebatas saudara. Tidak kurang, tidak lebih. Meskipun pada beberapa waktu, Jiwon menunjukkan ke-possessive-annya padaku."

Sang vampire meraih tangan hangat milik Hanbin yang terasa begitu nyaman baginya. Membawa tangan itu untuk mengusap pipi kirinya.

"But for now, I have you. Aku memilikimu. Aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu. Aku ingin selalu mencintaimu."

Hanbin membawa tubuhnya mendekati Jinhwan. Berlutut di sampingnya, menangkup wajah mungil itu dengan kedua tangannya. Kemudian mengecup lembut dahi sang terkasih.

"Me too. Aku ingin selalu bersamamu, hyung. Mencintainmu setiap hari hingga aku mati. Aku ingin kau menjadi orang terakhir yang aku lihat sebelum tidur, dan orang pertama yang aku lihat saat aku terbangun. I love you. Aku mencintaimu dengan seluruh hatiku."

Kemudian kedua belah bibir itu bertemu dalam ciuman penuh cinta dan kasih sayang.

Andai Jinhwan seorang manusia, atau makhluk yang masih memiliki kerja organ tubuh pada umumnya, ia pasti sudah menangis layaknya Hanbin saat ini.

Di dunia ini, tidak ada yang lebih indah selain cinta yang dirasakan Jinhwan dan Hanbin. Cinta antara dua dunia yang terlarang tetapi terasa begitu benar dan indah.

"Bagaimana dengan Chanwoo? Apa Bobby benar-benar bermaksud melakukan itu padanya?"

"No. Don't worry. Jiwon butuh waktu yang lebih lama untuk meyakinkan perasaannya."

###

Keesokan harinya…

Junhoe sedang bersantai di rumahnya sambil menonton tv.

Ia tidak terlalu memperhatikan acara musik yang sedang ditayangkan di televisinya. Pikirannya melayang jauh saat kemarin Daesung datang berkunjung dan mengatakan jika Hanbin sedang bersama Jinhwan untuk bertemu dengan keluarganya.

Junhoe benar-benar geram. Bagaimana bisa Jinhwan membawa Hanbin ke rumahnya? Ke tempat paling berbahaya untuk manusia seperti Hanbin? Hanbin juga sepertinya tidak mengindahkan peringatan Junhoe. Ia tetap berhubungan dengan Jinhwan.

Sebenarnya apa yang menyebabkan Hanbin masih berhubungan dengan Jinhwan? Apa dia tahu siapa Jinhwan sebenarnya? Kalau iya, mengapa Hanbin tidak menjauhi Jinhwan? Bukankah Jinhwan berbahaya?

Sekilas berita,

Kemarin malam ditemukan sesosok mayat laki-laki. Diperkirakan berumur 18-19 tahun. Mayat tersebut ditemukan di gang sempit dekat Tasty Restaurant. Menurut petugas forensik, kematian mayat tersebut disebabkan oleh kehilangan darah yang cukup drastis.

Junhoe yang sedang meminum jus jeruknya, seketika tersedak.

Yang benar saja? Apa mereka mengingkari perjanjian yang telah dibuat puluhan tahun lalu itu?

Junhoe kembali mendengarkan berita tersebut dengan sekasama.

Polisi masih belum bisa menemukan siapa pelakunya. Karena menurut saksi yang berada di sekitar tempat kejadian, mereka sama sekali tidak memperhatikan pemuda biasa tersebut. Dan lagi, petugas forensic mengatakan, tidak ada luka serius pada korban yang bisa menybabkan kehilangan darah sebanyak itu, juga mereka tidak menemukan jejak maupun noda darah di tubuh mayat.

Menurut wawancara yang kami lakukan bersama kepala kepolisian, terdapat luka aneh berbentuk bulan sabit kembar yang saling berhadapan di leher korban. Dan informasi terakhir mengatakan bahwa kejadian ini bukan hanya terjadi sekali. Dua hari yang lalu juga ditemukan mayat seorang gadis dengan kondisi yang sama di pinggir hutan.

Siapakah pelakunya? Polisi masih melanjutkan penyelidikan terhadap kasus ini.

Sekian berita dari kami. Saksikan berita lainnya pada pukul 12 siang.

Pets!

Junhoe mematikan televisinya.

Benar dugaannya.

Junhoe menggertakkan giginya geram. Ia sangat marah. Pasti Jinhwan yang melakukan hal tersebut. Karena menurut cerita leluhurnya, darah manusia bisa membuat makhluk itu menjadi lebih kuat.

Awas saja. Jika bertemu nanti, akan kucabik-cabik tubuhnya!

.

.

.

Uhuk uhuk… TBC…

A/N

Maaf banget buat keterlambatan chap 4 ini..

Maaf juga kalo pendek.. chap selanjutnya aku panjangin dehh.. :3

Aku ngga nyangka kalo mood nulisku bener-bener macet sampe sejauh ini..

Ngga tau mau ngomong apa lagi, yang jelas makasi buat yang fav/foll. Makasi juga buat yang udah review.

Sekali lagi maaf..

Sampe ketemu di chap 5! #ppyong

Review again juseyoo~