Title: Vampire Who I Love

Subtitle: Case & Change

Genre: VampireAU!, Shape-shifterAU!, Romance, Supernatural, Fantasy, Thriller

Cast(s): All YG Family Artists also possibility of other artists from another label.

Main pairing: BinHwan

Other pairing(s): SongKim, JunByul, BobChan, YunDong, GTOP, possibility of KangNam in the end.

Rated: M/?

Warn!: It's shounen-ai/ boyslove/ yaoi/ or anything you called, also straight! for some characters, plot suck!, possibility of long chapter, death chara, typo(s), etc. DON'T LIKE? DON'T READ!

Disclaimer: The story is MINE, I just lend the characters name. They're belongs to themselves, God and YGEntertainment. DO NOT PLAGIARIZE OR I'LL KILL YOU!

Summary: Seperti bunga mawar merah yang indah dan semerbak harumnya, kau juga memiliki duri tersendiri. Kau memang melukaiku, tetapi aku tetap terpesona dengan keindahanmu dan ingin menjadikanmu sebagai milikku. Meskipun nyawaku taruhannya, aku ingin melindungimu dengan tanganku sendiri. BinHwan, SongKim, JunByul, BobChan, YunDong, GTOP and possibility of KangNam in the end. DON'T LIKE? DON'T READ!

A/N

So, this is the 5th chappie..

June's identity will revealed here. Meskipun aku yakin bbrapa dari kalian ada yang udh nebak June itu siapa..

Stay tune and…

Enjoy Reading!

.

.

.

"Sial! Gawat! Apa yang harus kita lakukan?" Bobby berjalan mengitari ruang keluarga dengan gelisah.

Mereka baru saja melihat tayangan berita pagi itu. Dan tidak ada yang menyangka, bahwa seseorang dari bangsa mereka menyerang bangsa manusia. Entah apa tujuannya, mereka sedang mendiskusikan masalah tersebut.

Hampir sebagian besar bangsa vampire, mengetahui jika hanya keluarga Seunghyun yang menetap dan secara berkala kembali ke Jeju. Dan jika Volturi tahu tentang hal ini, tamatlah keluarga Seunghyun. Mereka akan langsung mendatangi keluarga Seunghyun. Dan kedatangan Volturi adalah hal terakhir yang diinginkan mereka.

"Gunakan kemampuanmu, Jiwon.", ucap Seunghyun yang sedang duduk di sofa. Jiyong duduk tepat di sampingnya, ekspresinya gelisah.

"Hyung, bagaimana jika V.I…" Jiyong bergumam lirih. Menatap Seunghyun.

"Tidak. Pelakunya bukan V.I. Aku yakin itu." Ucapan Jiyong terpotong oleh sanggahan Jinhwan yang sedang duduk di depan grand-piano putih. "V.I. tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini. Dia masih tahu batasan agar hidupnya tidak diakhiri oleh para Volturi. Ia terlalu menyayangi hidupnya."

"Jinny benar. Bukan V.I. yang melakukan ini.", ucap Jinwoo yang sedang berdiri di samping tangga bersama Mino.

"Lalu siapa?", tanya Mino.

Hening sejenak.

"Jiwon, kau punya gambaran?", ucap Seunghyun pada pemuda bergigi kelinci tersebut.

"Hanya sedikit. Itupun tidak terlalu jelas. Aku sedang tidak fokus dan tidak menyangka akan ada kejadian semacam ini." Bobby mengusap wajahnya kasar.

"Kau sibuk dengan manusiamu." Jinhwan berucap sinis.

"Kau sendiripun sama. Shit, Jin. Haruskah kita bertengkar di saat seperti ini?" Bobby menatap Jinhwan. Si mungil hanya mengedikkan bahunya tak acuh.

Semuanya diam. Tidak ada yang bergerak sampai Mino berbicara.

"Siapapun dia, dia berniat untuk menghancurkan kita. Entah hanya seorang atau sekelompok, yang jelas mereka memiliki dendam terhadap keluarga kita."

"Kita bisa mengesampingkan V.I." Jinhwan berdiri dari duduknya. Berjalan menuju dinding kaca di sampingnnya. Menatap ke dalam hutan. "Meskipun dia sakit hati terhadap Daddy…" Tubuh Jiyong menegang mendengar ucapan Jinhwan, Seunghyun mengusap pundak Jiyong begitu menyadari kegelisahan pasangannya tersebut. "Meskipun ia juga sangat marah atas kematian Sehun, dia tidak sebodoh ini. Kasus ini bisa menyebabkannya terekspos ke dunia, dan BAMM dia tamat di tangan Volturi."

"Taehyun.", ucap Jinwoo. Genggaman Mino pada pundak Jinwoo menguat. Mereka saling menatap. Jinwoo mengusap lembut pipi kanan Mino. "Dia juga tidak bodoh. Pengalamanku berteman dengannya… Well, kalian tahu, kan?"

"Teman, huh?" Bobby menggoda Jinwoo.

"Diam, Kimbab!" Jinwoo dengan kecepatan kilat menghampiri Bobby dan memukul sekilas kepalanya.

"Yak!"

Semua orang tersenyum. Termasuk Mino. Jinwoo yang melihat itu, menghampiri sang terkasih.

"More often.", bisik Jinwoo pada Mino, ditujukan kepada senyuman sang terkasih. Mino hanya mengecup pipi kiri Jinwoo sayang.

"Euwwhhh.." Jinhwan berpura-pura muntah. "How disgusting."

"Mirror, please." Jinwoo memeletkan lidahnya pada sang adik. Jinhwan hanya bisa mem-pout-kan bibirnya.

Seunghyun dan Jiyong tersenyum satu sama lain. Sependapat betapa indahnya keluarga mereka.

"Sudahlah. Kita lanjutkan diskusi ini nanti.", ucap Seunghyun. "Jiwon, cobalah berkonsentrasi. Lihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Usahakan untuk mengetahui secepat mungkin guna mencegah adanya korban baru. Jinwoo, kau dan Mino coba mencari petunjuk di sekitar tempat kejadian. Kemampuanmu sangat bagus dalam pelacakan. Cari petunjuk mengenai siapa musuh kita. Setelah itu, kita bergantian berpatroli mengelilingi kota. Dan Jinhwan, konsentrasi juga terhadap apa yang bisa kau dengar. Siapa tahu sang pelaku sedang memikirkan strateginya."

Seunghyun memberikan instruksi kepada setiap anaknya. Menatap mereka satu-persatu sambil memberikan perintahnya. Mereka semua mengangguk patuh. Jika sudah seperti ini, cepat atau lambat, vampire pembuat onar ini pasti tertangkap.

###

Malam itu, Hanbin sedang mengerjakan tugas sekolahnya ditemani Jinhwan yang sedang duduk diatas kasurnya.

Hanbin tahu jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran sang vampire. Ia tahu mengenai adanya vampire lain di luar sana yang sudah membunuh beberapa manusia.

Ia mencoba untuk berkonsentrasi mengerjakan tugas sekolahnya. Semakin cepat tugasnya selesai, semakin cepat ia bisa membunuh rasa penasaran yang ada di benaknya. Ia ingin bertanya pada Jinhwan yang sedang menatapinya dari belakang.

"Yosh! Akhirnya selesai juga.", ucap Hanbin. Merenggangkan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk. Jinhwan tersenyum melihat sikap sang terkasih.

"Kau sudah selesai?", tanya si mungil. Hanbin mengangguk. "Kemari." Jinhwan melebarkan kedua tangannya –ingin dipeluk.

Hanbin tersenyum. Setelah selesai memasukkan jadwal pelajaran untuk besok, ia menaiki kasurnya dan memeluk sang terkasih. Mereka berbaring dengan kepala Jinhwan berada di dada Hanbin.

"Sesuatu mengganggumu?", tanya Hanbin sambil mengusap lembut kepala Jinhwan.

"No. Nothing."

"C'mon. Aku tahu ada sesuatu yang mengganggumu, babe."

Jinhwan tersenyum mendengar panggilan sayang dari Hanbin. Ia mendongakkan wajahnya. Hanbin balas menatapnya.

"Wae?"

"Kau tahu berita kemarin, bukan?"

Hanbin mengangguk. "Di luar sana ada vampire selain kalian, kan?"

"Kau tidak mencurigai keluargaku?"

"Nope. Aku tahu mereka semua orang baik. Well, Bobby memang sedikit…"

"Hahaa.. Chill, babe." Jinhwan mencubit lembut pipi Hanbin. Hanbin merengut kesal.

"Yah! Jangan salahkan aku. Saudaramu yang satu itu memang tidak menyukaiku, kok. Tingkahnya juga sedikit… Kau tahu sendiri." Jinhwan hanya terkikik.

"Anyway, kami sudah berusaha mencari siapa si pembuat onar ini. Meskipun Bobby belum melihat ada pergerakan, dari data yang dikumpulkan Jinwoo-hyung, vampire ini adalah seorang wanita. Kata Jinwoo-hyung, ia beberapa kali menemukan namaku disebut oleh si wanita ini. Yet, Jinwoo-hyung tidak mengenali itu suara milik siapa."

"Oohh…" Hanbin mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi, sepertinya ada yang ganjil.

"Hei, kau bilang kau belum menemukan sang pelaku, bagaimana kau bisa tahu jika si pembuat onar ini adalah seorang wanita? Belum lagi kenyataan jika wanita ini menyebutkan namamu. Lalu apa hubungan Bobby dengan pergerakan wanita ini?"

"Owooo.. Easy, boy. Kau cukup cerdas juga. Aku jadi semakin menyukaimu.", ucap Jinhwan. Hanbin merona mendengarnya.

"Jawab saja!", ucap Hanbin.

"Baiklah, baiklah." Jinhwan mengubah posisinya menjadi duduk. Hanbin mengukuti perserakan si mungil. Mereka duduk berhadapan.

"Well, kau tahu jika aku bisa membaca pikiran bukan?" Hanbin mengangguk. "Keluargaku yang lain juga memiliki kemampuan khusus sepertiku."

"Maksudmu?" Hanbin mengerutkan dahinya.

"Well, selama kita menjadi manusia, terkadang, tanpa sadar kita membawa bakat khusus. Dan saat kau kita dirubah menjadi vampire, bakat itu muncul dengan sendirinya. Tidak semua vampire memiliki kemampuan khusus. Contohnya, Appa dan Daddyku.

"Lain halnya dengan aku, Jinwoo-hyung, Mino-hyung dan Bobby. Aku dan Jinwoo-hyung sama-sama membawa bakat untuk membaca pikiran, walau dengan cara yang berbeda. Aku membaca pikiran secara langsung, Jinwoo-hyung harus dengan perantara." Jinhwan mengangkat kedua tangannya dan menggoyangkan jari-jarinya yang mungil. "Jinwoo-hyung membaca pikiran manusia dengan sidik jarinya. Jika kau menyentuh sebuah benda, maka sidik jarimu akan tertinggal. Dari situ, Jinwoo-hyung bisa membaca apa yang kau pikirkan saat kau memegang benda tersebut.

"Mino-hyung. Kemampuannya adalah untuk memanipulasi emosi yang bisa mengakibatkan kau terpengaruh dengan apa yang diinginkannya. Misalnya, kau tidak ingin membunuh, tetapi Mino-hyung ada di sana untuk memanipulasi emosimu dan membuatmu mematuhi keinginannya untuk membunuh.

"Jiwon adalah yang paling spesial di antara kami. Kemampuannya yang paling di cari dan diinginkan oleh semua kelompok vampire. Dia Pembaca masa depan. Tetapi, masa depan bisa berubah tergantung apa yang kau lakukan untuk menghindarinya. Meskipun pengelihatannya tentang masa depan selalu tepat, tidak jarang juga pengelihatannya meleset. Tetapi, setidaknya, dengan mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, kita bisa mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk, kan?"

Jinhwan mengakhiri penjelasannya sambil menangkup wajah Hanbin dengan kedua tangan dinginnnya. Hanbin yang tersadar dari kekagumannya tersenyum sangat lebar kapada Jinhwan.

"Wow! That's cool.", ucapnya.

"Yeah, cool. Tetapi, itu semua hanya membuat kita semakin diawasi oleh Volturi."

"Volturi? Siapa mereka?"

"Penguasa para vampire mungkin? Bisa dibilang begitu. Mereka yang membuat peraturan tentang bangsa vampire. Jika ada yang melanggar, kau mati di tangan mereka."

"Ughhh.. Mengerikan."

"Anyway, sudah larut. Kau harus tidur." Jinhwan membawa tubuh Hanbin untuk berbaring. Hanbin melingkarkan lengan kirinya pada pinggang Jinhwan. Sang vampire semakin membawa tubuhnya mendekati ceruk leher Hanbin. Menghirup wangi darah Hanbin yang memabukkan baginya dang mengecup sekilas pembuluh darah di sana.

"Good night. Sleep tight, baby.", ucap Jinhwan kemudian menggumamkan lullaby untuk Hanbin.

###

Seminggu kemudian…

Hanbin baru saja keluar dari rumahnya untuk berjalan sore saat ia melihat Jinhwan berdiri tak jauh darinya dengan wajah yang terlihat lelah.

Perlahan tapi pasti, Hanbin menghampiri Jinhwan dan memeluk sang kekasih. Segera setelah ia merasakan kehangatan tubuh Hanbin memeluknya, Jinhwan membenamkan wajahnya di ceruk leher Hanbin. Menghirup aroma sang manusia yang menggiurkan.

Jinhwan mengecup sekilas perpotongan leher Hanbin sebelum melepaskan pelukannya. Yet, kedua tangan Hanbin masih melingkar di pinggangnya.

Hanbin membawa tangan kanannya ke kepala Jinhwan dan mengusapnya lembut.

"Kau terlihat lelah.", ucap Hanbin. Menatap mata sang terkasih yang saat ini berwarna gelap. Hanbin meletakkan tangannya di pipi Jinhwan dan Jinhwan memiringkan kepalanya menyandar pada sentuhan tangan Hanbin.

Dengan gerakan cepat, Jinhwan menggenggam pergelangan tangan Hanbin dan menghirup aroma darah Hanbin tepat di nadinya. Hanbin merinding merasakan perlakuan Jinhwan.

Tiba-tiba, Jinhwan membuka matanya yang terpejam. Seakan terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Jinhwan mengambil beberapa langkah menjauhi Hanbin.

"Ma… Maaf Hanbin. Maafkan aku." Jinhwan berucap gugup. Bodoh! Ia menyesal! Mengapa ia tidak datang saat malam setelah berburu? Ia hampir membunuh Hanbin tadi.

"Hey, hey." Hanbin meraih salah satu tangan Jinhwan. "It's okay." Hanbin kembali membawa Jinhwan dalam dekapan hangatnya.

"I'm sorry. I almost killed you." Jinhwan bergumam di dadanya.

"Shhh.. Tidak apa-apa, hyung. Aku paham." Hanbin mengusap kepala Jinhwan sayang.

Jinhwan mengeratkan pelukannya pada Hanbin.

"Kau tahu, aku belum berburu selama seminggu sebelum kejadian itu. Saat kasus ini muncul, kami terlalu fokus untuk mencari si pelaku sampai lupa berburu." Jinhwan berucap sambil menatap Hanbin. "Oh God! Aku bisa saja membunuhmu tadi."

"No problem, hyung. Kalau aku bisa memilih bagaimana cara aku mati, aku memilih mati di tanganmu, hyung."

"Bodoh! Mana mungkin aku membiarkan itu terjadi."

Mereka kembali berpelukan untuk waktu yang cukup lama sebelum Hanbin bertanya.

"Hyung, bagaimana si vampire wanita itu? Apa sudah ditemukan?"

Jinhwan melepas pelukannya. Ia menggenggam tangan Hanbin dan memainkan jari-jarinya.

"Aniyo. Dia ternyata cukup pintar. Dia juga kelihatannya mengenal keluargaku dengan baik. Sehingga, Jinwoo-hyung tidak mendapat banyak pentunjuk akhir-akhir ini. Jiwon juga, pandangannya masih kabur. Kami selalu kalah cepat darinya saat melakukan pembunuhan."

"Yeah. Dalam seminggu ini ada 3 mayat yang ditemukan. Dengan mayat yang ditemukan sebelumnya, berarti si vampire ini sudah membunuh 5 manusia."

"He-um. Kau benar. Dan tak ada yang tahu seberapa kuat si vampire ini. Kau tahu, kan. Jika meminum darah manusia, bangsa kami lebih kuat dibanding dengan meminum darah hewan."

Hanbin hanya mengangguk.

Beberapa saat kemudian, mereka mendengar pintu terbuka dan suara berisik beberapa orang berargumen. Dan saat mereka menoleh, ternyata Junhoe baru saja keluar dari rumahnya bersama ketiga temannya, dua laki-laki dan satu perempuan. Hanbin baru melihat mereka setelah lima bulan ia pindah ke rumah Daesung. Anyway, Hanbin juga tidak pernah bertanya siapa saja teman-teman Junhoe.

Mereka berempat dengan segera menatap Hanbin dan Jinhwan tajam. Seorang laki-laki yang berbibir tebal di samping Junhoe, berbisik padanya. Seorang laki-laki bermata sipit dan bertubuh jangkung mencoba untuk ikut mendengar apa yang dibicarakan Junhoe dan temannya. Sementara si perempuan yang memakai jaket bulu dan bermata tajam, terus menatapi pasangan manusia-vampire tersebut.

Hanbin merasakan Jinhwan di sampingnya menggenggam erat tangannya. Saat Hanbin menoleh, sang vampire sedang menatap tajam Junhoe dan teman-temannya.

'Sial! Aku belum berburu. Bagaimana bisa aku menghadapi empat ekor sekaligus?', pikir Jinhwan.

"What's wrong, babe?", tanya Hanbin melihat Jinhwan yang kaku di sampingnya.

"Nothing. Aku hanya lemas karena belum berburu. So, yeah~"

Hanbin tersenyum. Ia mengusap kasar rambut Jinhwan.

Setelah itu, mereka mendengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Saat Hanbin menoleh, ternyata Junhoe yang menghampiri mereka. Teman-temannya yang lain sudah pergi meninggalkan rumah Junhoe. Samar-samar, Hanbin mendengar Jinhwan menghela napas lega. Sebenarnya ada apa ini?

Junhoe berhenti tepat di depan Jinhwan. Ia tersenyum sekilas pada Hanbin.

"Maaf, Hanbin. Bisa aku pinjam kekasihmu sebentar? Aku ingin berbicara dengannya.", ucap Junhoe pada Hanbin. Sebelum Hanbin bisa menjawab, Jinhwan sudah lebih dulu menginterupsi.

"Kenapa tidak di sini saja? Aku yakin, Hanbin juga ingin tahu apa yang ingin kau bicarakan. Iya kan, babe?" Jinhwan menoleh pada Hanbin. Lagi, belum sempat Hanbin menjawab, Junhoe mendahuluinya.

"Aku benar-benar hanya ingin berbicara padamu Jinhwan-ssi. Kau tidak ingin apapun terjadi pada Hanbin jika aku marah bukan?"

Jinhwan terkejut. Anak ini, ia tidak bercanda, kan?

Setelah berpikir sesaat, akhirnya Jinhwan menyetujui ajakan Junhoe.

"Baiklah. Kita akan bicara di dalam hutan.", ucap Jinhwan pada Junhoe. Lalu ia menoleh pada Hanbin. "Kau tetap di sini. jangan ikuti kami. Meskipun kau merasa sangat ingin tahu, just don't. Okay?" Hanbin mengangguk.

"Dia benar, Hanbin. Jangan ikuti kami. Kau akan kuberitahu ketika waktunya sudah tepat.", ucap Junhoe.

Setelah itu, Jinhwan dan Junhoe melangkah bersama memasuki hutan belakang rumah Hanbin.

Bukan Hanbin namanya jika ia patuh pada perintah selain dari ibu dan gurunya. Maka dari itu, ia mengikuti Jinhwan dan Junhoe dari belakang.

Ia menjaga jarak dengan mereka sejauh mungkin, tetapi masih bisa melihat pergerakan mereka. Ia mengikuti sang vampire dengan hati-hati. Memastikan dirinya tidak menimbulkan suara yang membuat mereka menoleh.

Setelah berjalan cukup jauh, Jinhwan dan Junhoe berhenti di sebuah padang rumput yang cukup luas di tengah hutan. Di beberapa sisi padang itu, Hanbin bisa melihat bongkahan batu yang cukup besar bertahta dengan kokoh.

Ia mulai memperhatikan Jinhwan dan Junhoe yang sedang berbicara. Meskipun ia tidak bisa mendengar dengan jelas, ia tetap menyembunyikan dirinya di balik sebuah batu besar.

###

"To the point saja." Junhoe menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kau dan keluargamu yang melakukannya, kan?"

"Hello," Jinhwan melambaikan tangan kanannya yang mungil di hadapan Junhoe. "Kau bermimpi atau sudah gila?"

"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Seharusnya kau bersyukur karena aku hanya mengajakmu berbicara."

"Oh! Kalau begitu, terima kasih." Jinhwan tersenyum mengejek.

"Kau terlihat tidak takut." Junhoe memasukkan kedua tangan ke sakunya dengan arogan. "Padahal, dari yang aku ketahui, jika matamu menggelap artinya kau belum menghisap darah."

Jinhwan sedikit kaget. Makhluk ini tahu banyak tentang bangsanya ternyata.

"Well, aku tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga untuk meremukkan tulang-tulang rusukmu."

"Kembali ke masalah awal." Junhoe menegakkan posisi berdirinya. "Benarkah kau dan keluargamu yang melakukannya?"

Jinhwan menghembuskan napasnya kasar. "Bukankan sudah kubilang? Tidak mungkin kami yang melakukannya. Kurasa kakekmu bercerita jika kami hanya meminum darah hewan.

"Dan tidakkah kau lihat mataku yang gelap? Kau sendiri yang mengatakan jika aku belum berburu. Bukankan jika aku yang melakukan itu, warna mataku merah menyala sekarang?", lanjut Jinhwan.

"Well, mungkin kau memang tidak. Tapi keluargamu yang lain? Aku tidak melihat mereka belakangan ini. Benarkan mereka yang melakukannya?" Junhoe tidak mau mengalah walau ia tahu apa yang dikatakan Jinhwan benar.

"Kau benar-benar keras kepala, hm? Apa harus kupatahkan dulu tulang-tulangmu baru kau mengerti?"

"Mungkin." Junhoe menantang Jinhwan yang terlihat sekali sedang lemah. Ia yakin, jika ia melawan vampire di depannya, ia akan menang.

"Sayangnya aku sedang tidak ingin berkelahi." Jinhwan berkata sambil mengibaskan tangannya.

"Bilang saja kau sedang lemah dan kau takut kalah. Aku tahu cara paling ampuh untuk memusnahkan vampire semacam kalian."

"Dengar ya. Aku benar-benar tidak ingin berkelahi. Mungkin aku memang lemah karena belum berburu, tapi mungkin saja kau yang kalah karena aku menghisap darahmu." Jinhwan kembali menolak.

Ia seperti merasakan jika ada Hanbin di sekitar sini. Ia mencium samar bau Hanbin. Ia tidak terlalu yakin karena aroma sesuatu di hadapannya sangat kuat. Ia tidak ingin berkelahi karena ia tidak ingin Hanbin melihat sosok 'asli' temannya.

"Baiklah. Jika itu memang maumu.", ucap Junhoe. "Tetapi, sebagai gantinya, kau tidak boleh berdekatan lagi dengan Hanbin."

Jinhwan menatap Junhoe dengan pandangan terkejut.

"Apa kau menyukai Hanbin?" Jinhwan dengan susah payah menelan perasaan aneh di hatinya.

"Tidak. Tentu saja tidak." Junhoe menumpukan berat badannya di kaki kiri. "Hanbin itu temanku. Salah satu teman manusiaku. Aku hanya tidak ingin dia bergaul dengan makhluk yang dikutuk sepertimu."

Dikutuk? Jinhwan terkutuk? Dia bilang ia terkutuk? Apa Junhoe juga menujukan perkataan itu pada keluarganya? Pada hyung-nya yang seputih malaikat? Jinwoo?

Jinhwan mulai tersulut emosi. Ia menatap Junhoe tajam.

"Hey, dog! Kau boleh saja menghina aku semaumu. Tapi jangan kau coba coba untuk menghina hyung-ku!" Jinhwan mendorong bahu Junhoe kasar.

"Memangnya kenapa? Kalian ini tidak hidup juga tidak mati. Tidak ada yang namanya surga dan neraka untuk makhluk semacam kalian." Junhoe balik mendorong bahu Jinhwan.

"Kau sendiri? Kau bukan manusia juga bukan hewan. Adakah yang lebih terhina dari bangsamu?" Jinhwan kembali mendorong bahu Junhoe. Kali ini dengan dua tangan. Menyebabkan Junhoe terpental jauh dari tempatnya awal berdiri.

"Awas kau ya!" Junhoe mulai tersulut emosi.

###

Hanbin yang sedari tadi melihat Jinhwan dan Junhoe dari kejauhan, waspada saat Jinhwan mulai mendorong bahu Junhoe. Ia menjadi takut saat Junhoe balas mendorong bahu Jinhwan.

Hanbin memang tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Jinhwan dan Junhoe karena jarak yang cukup jauh. Ia hanya bisa melihat ekspresi marah Jinhwan dan Junhoe yang tak kalah marahnya.

'Andai saja Junhoe tahu jika ia berhadapan dengan vampire. Dia pasti tidak seberani itu pada Jinhwan.', pikir Hanbin.

Ia semakin takut saat Jinhwan mendorong bahu Junhoe hingga terlempar puluhan meter. Saat Hanbin bergerak untuk menyelamatkan Junhoe –siapa tahu Junhoe terluka, Hanbin melihat Junhoe berdiri dengan tegap. Seakan dirinya tidak terluka. Padahal ia dilempar cukup jauh oleh Jinhwan.

Untuk manusia normal, pasti sudah mengerang kesakitan karena beberapa tulangnya patah. Dibanding mendengar suara erangan, Hanbin malah mendengar suara geraman samar dari Junhoe. Dan seketika, Hanbin terkejut saat melihat Junhoe melompat, bajunya terrobek-robek, dan berubah menjadi…

Seekor serigala setinggi –kurang lebih, empat setengah kaki. Berbulu hitam pekat.

Badan serigala itu terlihat sangat kekar –mungkin Junhoe merupakan seorang Alpha, dan cakarnya terlihat sangat tajam meskipun dilihat dari jauh.

Hanbin melihat serigala tersebut berlari kencang ke tempat Jinhwan berdiri. Kekasihnya itu terlihat tenang, meskipun Hanbin tahu jika Jinhwan sedang kekurangan tenaga.

Serigala hitam tersebut langsung menubruk Jinhwan, membuat tubuh mungil sang vampire terperangkap di bawah tubuh besar sang serigala. Jinhwan menahan moncong serigala tersebut, mendorongnya menjauhi lehernya. Dan dengan sekuat tenaga, Jinhwan mendorong tubuh serigala tersebut dengan kakinya. Dengan gerakan cepat, Jinhwan berhasil berdiri di belakang serigla tersebut dan mencoba untuk mengalungkan tangannya, mengunci leher sang serigala. Namun Jinhwan yang kekurangan tenaga, membuat cengkramannya tidak sekuat biasanya. Dan dengan sedikit pergerakan, sang serigala berhasil menggigit kaki kanan Jinhwan dan melemparkan sang vampire menuju sebuah batu di sisi padang rumput tersebut.

Hanbin menahan napasnya saat melihat sang terkasih menghantam sebuah batu besar dan menyebabkan batu itu terbelah menjadi dua. Sebagian wajah porcelain Jinhwan retak.

"Aaaarrrggghhh!" Hanbin memejamkan matanya mendengar jeritan Jinhwan.

Bodoh! Apa yang dilakukannya di sini? seharusnya sejak awal ia berlari ke sana dan melindungi Jinhwan. Ia yang paling tahu betapa lemahnya sang vampire saat ini.

Tanpa pikir panjang, Hanbin berlari sekuat tenaga menghampiri Jinhwan. Ia semakin takut kehilangan sang terkasih saat serigala jelmaan Junhoe juga berlari menghampiri Jinhwan. Beruntung, jaraknya dengan Jinhwan lebih dekat –setidaknya untuk manusia. Saat Hanbin sampai di depan Jinhwan ia melihat sekilas wajah seakan pecah milik sang terkasih.

"Jinan. Kau baik-baik saja?" Jinhwan yang melihat Hanbin di depannya tertegun. Ia lebih terkejut lagi saat menyadari Junhoe sama sekali tidak menghentikan pergerakannya. Sepertinya anak itu masih serigala baru. Ia belum bisa mengendalikan emosi manusia dan emosi hewannya.

Hanbin yang membelakangi Junhoe sama sekali tidak tahu jika sang serigala masih berlari menuju arah mereka. Ia melihat Jinhwan seperti tersetrum listrik dan dengan seketika pecahan di wajah Jinhwan menghilang. Wajah cantik yang paling Hanbin sukai kembali tanpa cacat.

Kemudian, dengan gerakan cepat, Hanbin merasakan Jinhwan yang menariknya untuk berlindung di belakang Jinhwan dan sang vampire memukul telak rahang bawah sang serigala dengan kepalan tangannya. Membuat sang serigala terpental cukup jauh.

"Tak akan kubiarkan kau melukai Hanbin! Sadarkan dirimu! Kembalikan akal sehatmu!" Jinhwan berteriak marah pada Junhoe.

Sang serigala yang terlempar tersebut tergolek lemah.

'Sial! Pukulannya kuat sekali.' Junhoe berkata dalam benaknya.

"Jangan pernah kau remehkan aku, anjing!" Jinhwan berkata. Junhoe terkejut. Apa vampire ini baru saja membaca pikirannya?

"Benar. Aku membaca pikiranmu."

'Shit'

"Jinan…" Hanbin yang terduduk di belakang Jinhwan, masih shock. Ia meraih tangan kiri sang vampire.

"Kau tidak apa-apa? Apa aku menarikmu terlalu kuat? Bagian tubuh mana yang sakit?" Jinhwan mengecheck seluruh bagian tubuh Hanbin. Tadi ia refleks, makanya ia tidak sempat berpikir untuk mengontrol kekuatannya.

Hanbin hanya diam. Dia masih belum percaya jika serigala di hadapannya ini adalah Junhoe. Ia menggenggam tangan Jinhwan semakin erat.

Jinhwan membawa tubuhnya untuk berlutut di samping Hanbin. Ia memeluk sang terkasih dang mengusap kepalanya.

"It's okay. I'm okay. You don't have to worry.", ucapnya lembut.

"You. You almost died." Hanbin berbisik.

"Tidak." Jinhwan menggelengkan kepalanya. "Kau yang hampir mati tadi. Andai saja aku tidak cepat, mungkin aku akan kehilangan kau."

"We almost lost each others.", lanjut Jinhwan. Sang vampire membenamkan wajahnya pada ceruk leher sang terkasih. Hanbin semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Jinhwan.

Grrr…

Geraman Junhoe menyadarkan mereka bahwa sang serigala masih tergeletak di sana.

Jinhwan hanya tersenyum mengejek pada Junhoe sedangkan Hanbin menatap Junhoe dengan pandangan tidak terbaca.

"He's a wolf.", ucap Jinhwan. Junhoe menggeram. "Okay okay. He's a shape-shifter."

Hanbin menatap Jinhwan bingung.

"Dia akan menjelaskannya sendiri padamu. But first, lend him some clothes. Dia menghancurkan bajunya sendiri tadi." Jinhwan berdecak mengejek.

"And, babe. I gotta leave. Aku harus berburu bersama Jiwon. See you later.", lanjutnya. Kemudian sang vampire mengecup bibir Hanbin dalam sebelum meninggalkan tempat itu dengan kecepatan kilat.

Hening menyelimuti Hanbin dan Junhoe setelah Jinhwan pergi. Well, Junhoe yang masih dalam bentuk serigalanya tidak bisa mengatakan apa-apa pada Hanbin. Hanbin masih bingung dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Semuanya terjadi begitu cepat.

Grrr..

Junhoe kembali menggeram. Hanbin yang sedang melamun, terkejut mendengarnya.

"A… Aku… Aku akan ke rumah dulu. Akan kupinjamkan kau beberapa baju. Tunggu di sini." Hanbin berucap terbata.

Setelah itu, ia berlari menuju rumahnya dan beberapa saat kemudian kembali dengan membawa sweatpants hitam dan hoodie abu-abu. Kemudian, Hanbin menyerahkan pakaian itu pada Junhoe yang sedang duduk di balik batu besar –menyembunyikan tubuh telanjangnya.

###

Mereka terduduk di samping sebuah batu. Junhoe menyandarkan tubuhnya yang masih lelah, Hanbin duduk tepat di depannya. Keheningan yang canggung menyelimuti mereka.

"Ehm.." Hanbin bersuara. "Bukankah ada yang harus kau jelaskan padaku?"

Junhoe menarik napas dalam sebelum mulai berbicara.

"Ingat ceritaku saat kau bertanya tentang vampire dan werewolf?" Hanbin mengangguk. "Itu adalah cerita nyata yang diceritakan turun-temurun dari leluhurku.

"Beberapa keluarga di sini adalah keturunan dari leluhurku. Kau lihat teman-temanku yang tadi? Mereka sama sepertiku."

"Yang perempuan juga?" Hanbin sedikit terkejut.

"Ye. Ayahnya termasuk shape-shifter yang terkuat di antara kami. Sayangnya, istrinya melahirkan seorang putri. Awalnya tidak ada yang menyangka jika gen shape-shifter paman Lee akan menurun pada putrinya. Well, saat dia berusia 17 tahun, dia berubah." Junhoe menjelaskan dengan lebih santai sekarang.

"Lalu, bagaimana dengan kau?", tanya Hanbin.

"Aku baru berubah beberapa bulan lalu. Kami semua berubah saat kami berusia 17 tahun. Semacam pubertas mungkin?"

Hanbin mengangguk mengerti.

"Kau tidak takut?"

"Takut pada apa?"

"Aku? Bangsaku?"

"Tidak. Sama sekali tidak. Aku hanya terlalu terkejut dan bingung beberapa waktu lalu."

"Well, kau cukup berani juga. Tidak salah jika kau berani memiliki kekasih seorang vampire."

"Kau tahu jika Jinan-hyung seorang vampire?", tanya Hanbin. Ia tidak terlalu terkejut sebenarnya. Dari beberapa kesempatan Junhoe melarangnya menjalin hubungan dengan Jinhwan, dan kejadian beberapa minggu lalu saat mereka bertemu, Hanbin sudah curiga pada Junhoe.

"Jika ingin menang, kau harus mengenali musuhmu dengan baik, bukan?"

"Tapi, Jinan-hyung bukan musuh. Bukan dia pelaku kasus ini. Aku juga berani memjamin jika keluarganya juga bukan pelakunya."

"Mereka sudah meracuni otakmu cukup dalam ternyata."

"Apa maksudmu?"

"Jauhi dia, jauhi keluarganya. Hiduplah seperti manusia pada umumnya. Biar dia aku yang urus."

"Apa maksudmu, Junhoe?! Kau mencoba untuk menguliahiku tentang apa yang harus dan apa yang tidak boleh aku lakukan?" Hanbin mulai emosi. Ia berdiri dari duduknya. "Apa hakmu? Kau bahkan tidak punya hubungan darah denganku."

"Listen well, Hanbin. Dia berbahaya. Keluarganya, bangsanya, semua yang berhubungan dengan dia itu berbahaya." Junhoe ikut berdiri.

"Mirror, please. Look at the reality. Kau yang hampir membunuhku tadi dan Jinan yang menyelamatkanku."

"Please, Hanbin. Just stay away from him." Junhoe berucap lebih halus.

"No! Once a no, it's a forever NO!"

Hanbin mulai melangkahkan kakinya menjauhi Junhoe. Ia semakin kesal dengan sikap pemuda itu. Semakin dibiarkan, sikapnya semakin keterlaluan. Dan Hanbin tidak akan membiarkan hal ini menjadi semakin jauh.

"Baiklah. Kau pasti akan menyesal nanti."

Ucapan Junhoe menghentikan langkahnya. Hanbin berbalik lalu berkata.

"I won't regret and I'll take the risk."

.

.

.

TBC juseyooo~

Ini udah panjang kan?

Udah kan? *nodongpakepiso

Maaf kalo actionnya gagal. Aku cuma suka nonton doing. Kalo suruh deskripsiin pake tulisan, aku sucks!

Anyway, ada yang nyadar kalo sifat maupun kekuatannya keluarga Jinan itu aku ambil dr TWILIGHT?

Yep!

Mino itu kek gabungan antara Emmet sama Jasper. Yg paling kuat dan bisa memanipulasi emosi.

Jiwon itu kek Rosalie (sifat) sama kek Alice (bisa liat masa depan). Tp Jiwon ttp semenya Chanumon yaa… anggep aja Bobby lebih tinggi dr Chanu. Ya ngga setinggi itu juga lahh.. :P

Trus kalo Jinu itu sifatnya kek Alice, tp kemampuannya aku ambil dr novel yg pernah aku baca. Judulnya 'Fingerspints' yg artinya sidik jari. Isi ceritanya ya tentang anak cewe yang punya kemampuan kek Jinu gituu.. Itu novel series, dan aku belom baca semuanya. Penasarannya sampe sekarang, vrohh..

Next, aku mention Volturi juga ya? Yang pernah nonton/baca TWILIGHT pasti tau siapa Volturi kan? Yep! Anggep aja ini itu cabangnya cerita Edward sm Bella. Kalo yg ono ada di Seattle, USA, nah yg ini, di Jeju, South Korea.

Itu sekilas info aja sii..

Tp di akhir cerita nanti, mereka ngga berhadapan sm Volturi kek di BREAKING DAWN ya?

Dah, banyak cuap-cuap.

RnR juseyoo~

Review kalian itu penyemangat buat aku nglanjutin ini fict abal.. :3

Gumawoo #tebarkissbarengBinHwan

See you at chappie 6th!