Tanggal berwarna merah menghiasi kalender di bulan Agustus, belahan bumi bagian selatan sana. Natsu nampak apik dengan kemeja putih bersih, berpadu celana panjang berbahan hitam. Dia mirip sales yang suka menjajakan barang dagangan, berkeliling dari satu ke rumah lain. Memang selera fashion itu tidak buruk untuk kencan, karena si pengajak adalah Lisanna Strauss, maka penampilan harus maksimal keren demi memberi kesan baik.

"Ibu, aku pergi dulu!" seru Natsu beranjak. Sibuk memasang sepatu di depan pintu menunda waktunya sesaat. Di balik tirai situ beliau mengernyut heran, sejak kapan anak pemalas ini suka keluar? Lebih-lebih di hari Minggu, ketika musim panas dan matahari bersinar terik membakar kulit

"Kemana? Apa kamu ingin kencan atau bermain di warnet?!" tanyanya menekan kata terakhir, berisi larangan keras, karena membuat Natsu sering pulang malam. Beliau anti bang toyib, istilah yang membawa seberkas memori pada kejadian sepuluh tahun silam

"Jalan-jalan bersama Lisanna, ibu! Su-sudah ya, aku bisa terlambat"

"Ternyata calon pasanganmu Lisanna Strauss. Lagi pula anak ibu kurang cocok dengan Erza, bisa-bisa kena marah terus jika menikah nanti. Baiklah, bawalah kabar baik oke?"

Setidaknya jangan samakan anakmu seperti pengantar surat, batin Natsu melangkahkan kaki riang, sambil bersiul mengabaikan bola raksasa di atar kepalanya. Mengenakan kemeja dan celana panjang di cuaca sepanas ini, sebagian menganggap 'pemuda berambut pink itu gila'. Sayang, cinta membutakan akal sehatnya yang hanya berpikir, 'akan jadi seperti apa hari ini?'. Setengah jam berjalan tak berarti apa pun bagi Natsu. Suara bel di depan pintu masuk menyambut kedatangan, ditambah hembusan AC yang mendinginkan kulit.

"Selamat datang! Anda mau pesan apa?" tanya pelayan menghampiri meja di dekat jendela. Menyerahkan menu kepada Natsu yang tengah berpikir

"Kopi dingin satu"

"Ada lagi?"

"Tidak" iris onyx tersebut sibuk memandang jam dinding di atas mesin kasir. Pukul sembilan tepat dan belum ada tanda-tanda kehadiran si wanita silver di sini. Mungkin terjebak 'antiran' di tengah jalan, mengingat daerah tempat tinggal Lisanna rawan macet

Sepatu kanannya dihentak-hentakan ke lantai bosan. Terlebih, alunan lagu bernada sedih membuat Natsu semakin kesal, kenapa speaker café suka sekali menyanyikan yang galau? Tidak aliran rock atau jazz? Belum lama menggerutu, seorang wanita berpakaian dress selutut masuk, mengambil kursi tepat di depan sang salam duduk. Kini sepasang netra itu terbelalak, melupakan kemarahannya yang nyaris mencapai puncak.

"Bu-bukankah dia Lucy Heartfilia?! Gray mengajaknya kencan di sini juga?!" gumam Natsu menutup wajah menggunakan menu. Sesekali melirik iseng lalu bersembunyi lagi, jika merasa iris karamel si pirang balas menatap

"Maaf nona, apa yang di belakang itu pacarmu?" tinggal menunggu waktu sampai penyamarannya terbongkar habis. Lucy memiringkan kepala heran, menganggap aneh pria yang sejak tadi seperti penguntit

"Saya tidak mengenalnya. Lagi pula…. Ada seseorang yang ku tunggu untuk berkencan"

Tuhan memberi penyelamatan di saat yang tepat! Meski Natsu tidak boleh senang dulu, karena dia harus menutup mukanya hingga Gray tiba. Lima belas menit berlalu, dan pegal linu mulai menyerang di sekujur saraf tangan. Jangan bilang, mereka berdua sengaja merencanakan kencan berkelompok! Mendadak pikiran polos Natsu diserang oleh hal negatif, kelemahannya adalah paling benci menunggu. Apa lagi Lisanna berkata begini, 'jangan sampai terlambat'. Di akhir justru si pembuat janji yang mengaret.

"Aneh, kenapa Gray lama, ya? Biasanya dia tepat waktu" siapapun pasti jengkel dipaksa menanti. Lebih-lebih untuk janji yang sangat penting bagi salah satu pihak. Lucy melihat jam tangannya sambil menghela nafas panjang, tak terasa setengah jam berlalu

"Kau benar! Sejak kapan pula Lisanna membudayakan kebiasaan terlambat? Dia rajin, selalu masuk pagi dan mengumpulkan PR sebelum ditagih guru!"

"A-apa mungkin dia hanya mempermainkanku? Gray, kan, termasuk anggota geng Fairy Tail"

"Jika benar begitu aku pasti menghajarnya besok!"

"Tapi mustahil juga. Gray saja menyelamatkanku dari Lyon dan kawan-kawan, mana mungkin dia berbalik menyerang. Kami pun cukup dekat beberapa waktu terakhir"

"Bagus Lucy, kau mesti optimis. Tunggulah sebentar lagi"

30 menit kemudian…. Pukul 10.01

Satu jam…. Benar-benar di luar toleransi seorang Natsu Dragneel. Berbeda dengan Lucy yang masih duduk manis di bangkunya, memandang lalu-lalang orang lewat kaca jendela. Baiklah, daripada diberi harapan palsu lebih baik memikirkan rencana lain. Ia tengah memikirkan, cara mengagetkan teman barunya bertabur sedikit kejutan. Mungkinkah dengan membuka tutup menu dan berteriak? Bisa-bisa pak satpam menyeretnya keluar sebelum berhasil.

Tap… Tap… Tap….

"Permisi, bolehkah saya duduk di sini? Di-di sana anginnya terlalu kencang" walaupun dalam hati Lucy menolah mentah-mentah, akibat tidak enak dia pun mempersilahkan tempat kosong di sebrang

"Entah kenapa aku curiga, apa kamu Na …."

"BAKIKUKKK! KEJUTAN WEEKEND SPESIAL UNTUK LUCY HEARTFILIA SEORANG!" belum sempat mengambil penutup menu-nya. Ia tersentak kaget duluan, gara-gara disuguhi teriakan cempreng khas Natsu. Ternyata dugaan tersebut benar seratus persen, sedangkan sang pelaku sekadar tersenyum lebar

"Dasar bodoh! Kau nyaris membuat telingaku tuli tau" awalnya Lucy berniat marah, tetapi digantikan tawa renyah yang melenyapkan keinginan semula. Suasana hening sejenak, Natsu memainkan jari-jemari gelisah mencari topik yang enak dibicarakan

"Sedang menunggu Gray, ya? Si-siapa sangka, lokasi kencan kita sama"

"Seperti kebetulan yang disengaja. Aku pikir Gray tidak akan datang, sekarang jam setengah sebelas, dan dia tak kunjung mengabariku lewat SMS" jelas Lucy kecewa berat, ingin menangis pun sampai ditahan Natsu menepuk sebelah bahunya singkat, ia mengerti perasaan wanita itu, yang menaruh banyak harapan namun sebatas kepalsuan belaka

"Awas saja, jika bertemu dengannya aku pasti menghajar dia. Mentang-mentang tampan seenak jidat mempermainkan orang lain"

"Tidak perlu Natsu…. Gray pasti memiliki alasannya tersendiri, kenapa ia mengingkari janji hari ini"

"Yosh! Daripada berdiam diri di café, bagaimana kalau kita berkencan? Aku tidak mau mengecewakan ibu, kasihan beliau padahal menunggu kabar baik dari anaknya. Ideku bagus, bukan?" tangan kanan Natsu terulur bebas ke udara, hendak meraih lengan Lucy yang menggantung bimbang

"Uhm! Nanti ibu dan ayah kecewa, jika aku langsung pulang tanpa kabar apa pun"

Kembali, sengatan sinar matahari menyambut mereka berdua hangat, yang baru saja keluar berbalut semangat membara. Natsu mengajaknya pergi, ke game center di pusat kota Magnolia. Kepadatan pengunjung meningkat pesat, mengingat sekarang hari Minggu di awal bulan Agustus. Mencoba berbagai permainan tanpa mempedulikan waktu, terutama ketika menginjak papan berpanah di area DDR. Tentu menyenangkan, sesaat ingatan mengenai Gray dan Lisanna lenyap seketika.

"Hey! Mau bermain itu?" jari Natsu menunjuk mesin berisi ratusan boneka, dengan capit pengangkut raksasa di atas langit-langitnya. Lucy berjalan mendekat, memperhatikan seksama benda yang ia anggap asing tersebut

"Kamu tau cara memainkannya?"

"Serahkan padaku! Mau boneka yang mana?"

"Yang manapun boleh. Aku pasti menerimanya" jauh dari lubuk hati terdalam, Lucy sumringah bukan kepalang. Hadiah pertama dari teman pasti begitu spesial, ia bisa bercerita sehingga nanti ibu dan ayah merasa senang

Tombol berserta tuas penggeraknya Natsu mainkan perlahan, menunggu kesempatan yang tepat dan HAP! Menangkap dua boneka berukuran kecil untuk dibawa pulang, meskipun dia hanya ingin satu. Iris karamel Lucy bersinar berluap kegembiraan, menerima teddy bear berwarna pink yang amat menggemaskan baginya. Mereka pun memutuskan pulang ke rumah, menilik langit mulai berubah warna melukiskan oranye terang.

"Boneka yang satu lagi untukmu juga" kata Natsu menyodorkan temannya si beruang pink. Namun Lucy tolak mentah-mentah dengan alasan, 'kita harus memiliki masing-masing satu'. Bagi pola pikir seorang lelaki pernyataan itu tak dapat diterima, tetapi…. Apa salahnya mengabaikan logika dan urat malu?

"Biar kuberikan tanda pengenal, oke? Natsu dan Lucy terdengar cocok, seperti nama kita berdua!"

"E-eh, kenapa harus nama kita? Masih ada banyak di dunia! Misalnya Lady, John, Ai, Kobato atau jika tidak suka, kau bisa mencari di google"

"Karena mirip dengan warna rambut kita berdua. Aku mempunyai boneka Natsu, dan kamu boneka Lucy. Bagaimana, terdengar lucu bukan?"

"Baiklah. Lagi pula pilihanmu tidak buruk"

Sesampainya di rumah, Natsu menerawang Lucy kedua di bawah sinar lampu putih. Mengggulingkan badan ke sana kemari melepas bosan yang mendera. Jika diperhatikan imut juga, pantas wanita terutama anak kecil tergila-gila dengan mainan bernama boneka. Mendadak ibu masuk ke dalam kamar, tanpa mengetuk pintu maupun berkata permisi, seakan memberi kejutan ulang tahun pada putranya yang sudah dewasa.

"Apa yang kamu lihat, hnnn….?" goda sang ibu diselingi tawa kecil, membuat kedua pipi Natsu bersipu merah akibat malu. Ia bersiap membela diri sendiri, naas beliau keburu melancarkan serangan maut dua kali berturut-turut

"Ternyata anak ibu punya sisi feminim. Apa Lisanna yang memberikannya untukmu, supaya mirip pasangan?"

"Hari ini aku tidak kencan dengan Lisanna, dia menghilang tak meninggalkan jejak. SMS beribu-ribu kali pun diabaikan total, menjengkelkan sekali…." ceritanya mengerucutkan bibir sebal. Memainkan tangan beruang Lucy yang lembut dipenuhi bulu nan tebal, secerah matahari dan rambut pirang berikat ponytail itu

"Lalu bersama siapa, wanita ponytail kesayanganmu?"

"Ya…. Kami kebetulan bertemu di café. Jadi, sekalian jalan-jalan daripada pulang dan menganggur di rumah"

"Bersemangatlah dan rebut hatinya, oke? Ibu mendoakanmu supaya kalian cepat pacaran!"

BLAMM!

Merebut hati siapa yang ibu maksud, Lucy atau Lisanna? Natsu pribadi hanya menganggap gadis ponytail sebagai teman baik, kalau merasa cocok… Kenapa tidak mencoba untuk bersahabat? Sekarang status korban maupun pelaku tidak lagi penting, ia lebih memilih mengabaikan semua itu dan membuka diri kepada masyarakat luas. Masuk ke geng Fairy Tail pun terpaksa jika bukan karena masalah…. Ah, tolong lupakan.

Sementara Lucy….

CKLEK!

BLAMMM!

"Aku pulang, ayah, ibu" sapa Lucy menatap intens bingkai foto di depannya, yang telah berpulang ke rumah Bapa tujuh tahun lalu. Ia memperlihatkan boneka Natsu kepada mereka, membentuk senyum simpul di ujung bibir lalu kembali bercerita

"Gray tidak datang, padahal aku menunggunya selama berjam-jam. Tetapi kalian jangan sedih, Natsu menemaniku menghabiskan hari. Kami jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, bermain DDR dan tangkap boneka. Lihat, dia memberikan ini khusus untukku, termasuk kejutan sewaktu di café"

"Meskipun ingkar janji, Gray bukanlah orang jahat karena dia itu pahlawanku. Ayah, ibu, doakan aku terus, ya, di surga sana? Sebentar lagi paman akan melangsungkan pernikahan dan dipercepat, syukurlah Tuhan memberikan rejeki berlimpah kepada beliau. Ketika bulan September tiba, kalian bisa menyaksikannya, peristiwa sakral ini"

Bersambung….

Balasan review :

Fic of Delusion : Sepertinya tidak, mungkin kau salah terka :v Lucy berjuang dengan Natsu kok demi pujaan hati masing-masing, hahaha. Thx udah review!